Manfaat Filsafat

Aku cinta Rara. Apa manfaat cinta? Tampaknya, cinta tidak bermanfaat. Justru karena saya cinta Rara maka saya banyak berkorban untuk Rara. Saya mengalami banyak kesulitan, rela menanggung derita, demi cinta untuk Rara.

Pertanyaan manfaat adalah pertanyaan filosofis. Aliran utilitarian menempatkan manfaat menjadi paling utama. Sementara, aliran contractarian menempatkan kewajiban sebagai lebih utama. Kita akan membahas manfaat filsafat dengan tuntas di bagian ini.

Manfaat Praktis

Sains dan teknologi bermanfaat memudahkan hidup kita. Mobil mempercepat jarak tempuh dari Jakarta ke Surabaya. Apalagi, pesawat terbang mempercepat jarak tempuh ke luar negeri, yang dulu perlu waktu berbulan-bulan, menjadi hanya 8 jam saja. Internet mempercepat pengiriman informasi ke seluruh dunia hanya dalam beberapa detik saja.

Apakah filsafat bisa bermanfaat secara praktis?

Tampaknya, filsafat tidak membahas hal-hal praktis. Filsafat banyak membahas hal-hal yang bersifat abtrak, universal, dan berputar-putar. Nyatanya, filsafat bermanfaat dalam kehidupan praktis. Lebih besar manfaatnya dari yang dikira orang. Semua teknologi, yang memudahkan hidup kita, dan semua pengetahuan berasal dari filsafat. Ilmu alam berasal dari filsafat alam. Matematika berasal dari filsafat matematika. Ilmu sosial berasal dari filsafat sosial. Dan teknologi berasal dari filsafat teknologi.

Semua kehidupan praktis kita berakar kepada filsafat.

Memang, saat ini, banyak cabang ilmu yang melupakan filsafat. Seakan-akan ilmu tersebut tidak membutuhkan filsafat. Ketika kita belajar matematika, kita sering melupakan filsafat matematika. Kita hanya mempelajari matematika belaka. Begitu juga ketika kita belajar ilmu ekonomi, kita sering melupakan filsafat ekonomi itu sendiri. Akibatnya, kita melupakan manfaat filsafat yang begitu luas.

Ilmu pengetahuan, dan segala kehidupan kita, tetap membutuhkan filsafat. Tanpa filsafat, kita menjadi kehilangan batas-batas. Ilmu ekonomi yang melupakan filsafat terjebak dalam gelimang kekayaan ekonomi, di saat yang sama, hidup mereka tetap hampa. Pertumbuhan ekonomi pun membahayakan alam semesta. Terjadi perusakan lingkungan, krisis iklim, pandemi covid, kebakaran hutan, kekeringan, banjir, dan ancaman lainnya akibat ekonomi serakah yang lupa akan filsafat.

Teknologi yang lupa filsafat bisa sangat bahaya. Teknologi nuklir mengancam seluruh bumi dengan ledakan senjata nuklir sewaktu-waktu. Senjata pemusnah massal kimia bisa menghancurkan bumi hanya dalam hitungan hari. Senjata biologis, dibanding covid jauh lebih sadis, mengancam nyawa setiap manusia. Teknologi digital online mengendalikan pikiran orang di seluruh dunia dengan program propaganda halus, setiap rumah ditembus. Teknologi perlu untuk kembali merangkul filsafat.

Dan, kita masih bisa menyebutkan ratusan manfaat filsafat dalam kehidupan praktis.

Barangkali kita perlu sedikit menyebutkan manfaat filsafat dalam kehidupan personal. Saat pandemi ini, banyak orang frustasi gara-gara situasi yang begitu berat. Diri kita memerlukan filsafat yang mendalam untuk menghadapi hidup yang sedang sulit. Filsafat menerangi pikiran kita untuk hidup bahagia bersama alam semesta. Pandemi covid, secara filosofis, adalah sebuah tanda dari alam raya agar kita merenung. Covid mengingatkan kita untuk mengurangi pemborosan energi sehingga bumi tetap nyaman dihuni. Covid mengajak kita untuk kembali lebih dekat kepada keluarga inti, sepenuh hati, bertabur cinta setiap hari. Filsafat perlu menjadi hidangan pagi setiap hari.

Ketidakpastian

Masalah dari filsafat adalah sifatnya yang tidak jelas, tidak pasti, dan tidak mudah dimengerti. Bagaimana kita bisa memanfaatkan filsafat jika untuk dimengerti saja begitu sulit?

Russell mengakui bahwa filsafat memang membahas ketidakpastian. Bahkan jika suatu pengetahuan menjadi bersifat pasti maka filsafat akan berhenti untuk membahasnya. Bidang kajian tersebut akan menjadi kajian sains, misalnya. Sementara, filsafat akan bergerak ke batas-batas ketidakpastian lagi.

Bagi beberapa orang, karakter filsafat yang tidak pasti ini justru makin menantang. Sementara, bagi sebagian orang yang lain, sifat tidak pasti ini, justru merepotkan. Tidak masalah dengan konsekuensi seperti itu. Apakah kita merasa direpotkan atau merasa tertantang, sampai batas tertentu, kita tetap perlu mengkaji filsafat.

Kita bisa mencoba mencermati sejarah. Ketika Newton menulis buku Principia Mathematica pada abad 17, dia menyebutnya sebagai filsafat ilmu alam. Sementara saat ini, teori Newton menjadi pelajaran ilmu pasti bagi anak-anak di sekolah menengah. Pertama, ketika Newton menulis bukunya, pengetahuan tentang teori gravitasi dipenuhi ketidakpastian. Dan, karena gravitasi adalah fenomena alam maka disebutnya sebagai filsafat ilmu alam – philosopiae naturalis.

Kedua, Newton mengenalkan konsep baru yaitu penerapan matematika untuk ilmu alam. Tentu saja konsep baru ini, pada saat itu, juga bersifat tidak pasti. Sehingga, disebut sebagai filsafat matematika. Konsep matematika yang berkembang itu, kemudian kita kenal sebagai kalkulus. Di mana, Newton berhak sebagai tokoh penemu kalkulus. Di jaman sekarang, kalkulus sudah menjadi ilmu pasti, bagian dari matematika, yang diajarkan kepada anak-anak sejak sekolah menengah.

Ketiga, nyaris semua karya Newton itu yang dulu termasuk kajian filsafat, sekarang, sudah bergeser menjadi kajian sains. Seperti kita sebut sebelumnya, filsafat ilmu alam bergerak ke kajian-kajian baru yang masih menyimpan ketidakpastian. Untuk bidang fisika, lanjutan karya Newton, saat ini berkembang teori quantum dan teori relativitas. Masih ada ketidakpastian dalam menggabungkan teori quantum dan teori relativitas menjadi satu yaitu menjadi teori gravitasi quantum. Sehingga, saat ini, filsafat fisika banyak mengkaji teori gravitasi quantum, yang masih dipenuhi ketidakpastian. Dan seandainya, suatu saat nanti, teori gravitasi quantum sudah bersifat pasti maka akan menjadi kajian sains. Sementara, filsafat akan mengkaji yang lebih jauh lagi.

Filsafat di bidang-bidang lain mengalami pergeseran yang sama. Kajian filsafat manusia berubah menjadi sains psikologi. Kajian filsafat makhluk hidup berubah menjadi biologi. Kajian filsafat tentang benda-benda langit berubah menjadi sains astronomi. Dan masih banyak contoh lainnya. Filsafat, sekali lagi, meninggalkan kajian sains, kemudian bergerak ke wilayah yang dipenuhi ketidakpastian.

Whitehead dan Russell menyebut bahwa filsafat menuntut kita untuk berpikir spekulatif. Yaitu, berpikir yang mempertimbangkan segala sesuatu. Berpikir yang batasan cakupannya tidak ada batas. Mempertimbangkan sesuatu yang sudah bersifat pasti dan mempertimbang sesuatu yang bersifat tidak pasti. Maka secara totalitas akan menghasilkan pemikiran yang, ada sifat, tidak pasti.

Lebih-lebih pada abad 20 dan awal abad 21 ini, filsafat mendapat serangan begitu kuat. Sehingga ketidakpastian dunia filsafat makin terlihat. Pertama, serangan destruksi filsafat dari Heidegger, yang kemudian diperhalus, menjadi destruksi metafisika. Serangan ini menemukan formula matang dalam dekonstruksi Derrida. Bagaimana pun, menjadi begitu jelas sifat tidak pasti dari filsafat.

Kedua, sebelum Heidegger, Nietzsche menghantam filsafat dengan konsep nihilisme. Nietzsche menulis dengan bahasa yang kuat sehingga membawa pengaruh besar kepada bangunan filsafat, makin tidak pasti. Dalam formula matang, nihilisme berkembang menjadi lebih optimis di tangan Vattimo berupa nihilisme hermeneutik. Bagaimana pun, makin banyak ketidakpastian di sini.

Ketiga, pada tahun 1970an, Deleuze mempertahankan filsafat, lebih tepatnya, membela metafisika. Deleuze berhasil membangun sistem metafisika baru yang kokoh di era postmodern. Deleuze menempatkan prinsip metafisika different sebagai paling prioritas. Sementara, prinsip identitas, yang sudah dipegang teguh sejak masa Aristoteles, tergeser ke bawah. Dengan prinsip different, prinsip perbedaan, maka makin banyak perbedaan dalam filsafat. Konsekuensinya, makin banyak ketidakpastian.

Sampai di sini, jelas bagi kita, bahwa ketidakpastian adalah karakter utama dari filsafat itu sendiri. Hal ini bukan merupakan cacat. Justru, manfaat filsafat, adalah membekali kita mampu membahas ketidakpastian secara komprehensif.

Dengan filsafat, kita menyadari ada sesuatu yang tidak pasti, ada sesuatu yang tidak diketahui. Wajar, kesadaran ini, menuntut kita untuk menghilangkan paham dogmatis, paham yang kaku. Selalu ada pengetahuan baru dan yang lebih baru. Kita, terus-menerus, menjaga rasa ingin tahu. Kita menjaga rasa penasaran. Kita bersiap terpesona – selalu ada hal-hal tak terduga.

Obyek Agung

Manfaat praktis, bernilai untuk kehidupan sehari-hari, adalah wajar menjadi pertimbangan kita dalam mengkaji filsafat. Banyak orang bekerja, dari subuh sampai malam hari, demi untuk memenuhi kebutuhan hidup anak dan istri. Bahkan malam hari, kadang lembur sampai pagi lagi. Tentu, kegiatan seperti itu memang perlu. Apakah manusia memang seperti itu? Adakah alternatif lain? Atau, apakah keperluan hidup sehari-hari adalah secuil episode manusia?

Filsafat, kadang, memikirkan masalah kehidupan sehari-hari. Di lain waktu, filsafat mengkaji sesuatu yang jauh dari kehidupan sehari-hari. Filsafat bebas memikirkan apa saja. Filsafat bebas mengajak kita berkontemplasi tentang apa saja. Filsafat menembus semua batas-batas yang ada. Filsafat mengajak kita memikirkan sesuatu yang besar, yang lebih besar dari alam semesta, melintasi seluruh ruang dan waktu. Bahkan filsafat mengajak kita menyelidiki ada apa sebelum waktu, ada apa setelah waktu, ada apa di luar ruang alam raya.

Filsafat menjadi besar bukan karena menemukan semua jawaban atas beragam pertanyaan. Filsafat jadi besar karena mengajukan pertanyaan-pertanyaan yang besar. Suatu pertanyaan yang makin membesar. Badan manusia memang terbatas, bahkan berukuran kecil. Tetapi pikiran manusia bisa menjadi besar dengan memikirkan obyek-obyek yang besar. Manusia, dengan kontemplasi pikirannya, membesar di alam raya. Manusia menjadi bebas dengan merenungkan obyek-obyek yang bebas.

Filsafat bukan apa-apa. Filsafat hanya filsafat. Filsafat menjadi agung karena, orang-orangnya yang, memikirkan tema-tema yang agung. Russell meyakini keagungan filsafat lantaran obyek filsafat yang agung.

Cinta adalah tema agung sepanjang masa.

Manfaat Cinta

Orang, kadang, tidak perlu bertanya tentang manfaat cinta. Karena cinta sudah begitu nyata di depan mata. Tidak ada perlunya lagi membahas cinta. Benarkah begitu? Bila cinta datang menyapa, seluruh dunia berganti rupa, menjadi penuh warna. Sedikit saja, kita mengkaji cinta maka akan lebih banyak tanda tanya dari jawaban yang tersedia.

Di bagian ini, kita akan membahas cinta lebih mendalam. Manfaat cinta, secara langsung atau samar, ikut kita bahas. Pertama, kita akan membahas cinta secara rasional. Kita membahas cinta versi akal, terutama, merujuk kepada konsep cinta dari Immanuel Kant. Cinta memegang peran penting untuk kehidupan bermasyarakat.

Kedua, kita membahas cinta berdasar keyakinan. Dengan lompatan keyakinan, cinta menguatkan manusia untuk menjalankan tugas-tugas yang besar. Bahkan, manusia rela berkorban demi cinta. Kita mengkaji cinta versi keyakinan ini dengan merujuk konsep cinta dari Kierkegaard.

Ketiga, kita membahas cinta suci nan agung. Semua cinta adalah cinta suci. Yang perlu kita waspadai, ada jebakan di sana-sini. Karena itu, kita perlu membahas cinta suci ke inti sari, yang berhias ragam misteri. Dalam membahas cinta suci, kita akan banyak merujuk konsep cinta dari Ibnu Arabi.

Cinta Akal

Russell adalah tokoh pendiri filsafat analitik. Tentu saja, dia orang yang sangat rasional, mengandalkan akal. Russell pernah ditanya tentang jatuh cinta. “Cinta adalah yang paling indah. Aku bersedia menukar hidupku bertahun-tahun dengan hidup satu hari saja yang dipenuhi cinta,” jawab Russell. Sementara, pemikir-pemikir kontinental, tentu, lebih kuat lagi dalam menghargai romantisme terutama cinta.

Untuk memulai analisis cinta rasional, cinta yang masuk akal, kita akan bertamasya ke konsep cinta dari Immanuel Kant. Secara umum, cinta kita kelompokkan menjadi dua yaitu: cinta-memberi dan cinta-menerima. Sesuai namanya, cinta-memberi adalah cinta yang membahagiakan karena seseorang telah memberikan kebaikan kepada yang lain. Seorang bapak memberikan makanan untuk anaknya yang tersayang adalah contoh cinta-memberi. Dengan memberi, kehilangan makanan, bapak itu justru bahagia karena cinta. Sedangkan cinta-menerima adalah arah sebaliknya: bahagia karena menerima sesuatu. Saya cinta bunga mawar, misalnya. Saya menjadi bahagia dengan memiliki bunga mawar. Saya menerima kecantikan dari bunga mawar.

Secara relasi, cinta bisa kita kelompokan menjadi tiga: cinta-natural, cinta-moral, dan cinta-Tuhan. Cinta-natural adalah cinta yang muncul secara alamiah. Saya cinta jeruk. Anda cinta kopi. Tanpa usaha apa pun, cinta itu muncul alamiah begitu saja. Sedangkan cinta-moral adalah cinta yang bernilai moral etis. Barangkali cinta-moral ini perlu dilatih agar muncul. Misal cinta kepada fakir miskin lalu memberi mereka makanan yang dibutuhkan. Dan, cinta-Tuhan adalah cinta kepada Tuhan atau cinta oleh Tuhan kepada manusia.

Dengan pembagian cinta seperti di atas, memberi-menerima dan natural-moral-Tuhan, maka kita bisa menganalisis cinta. Untuk kemudian memetakan cinta kepada diri kita dan masyarakat untuk kebaikan bersama. Kant berargumen bahwa cinta-Tuhan adalah landasan paling penting dari semua moralitas. Sedangkan cinta-moral dan cinta-memberi adalah cinta yang perlu terus kita hidupkan dalam bermasyarakat. Sementara, cinta-menerima dan cinta-natural, umumnya bisa berkembang di masyarakat dengan sendirinya.

Cinta-moral paling penting di masyarakat adalah cinta kepada hukum. Masyarakat bersama-sama menyepakati hukum terbaik – konstitusi. Untuk kemudian, masyarakat cinta kepada hukum, menjalankan hukum demi kebaikan masyarakat luas. Hukum sendiri, dalam masyarakat, bersifat dinamis. Sehingga masyarakat, dengan penuh cinta, merevisi hukum yang berlaku.

Di saat-saat tertentu, kita membutuhkan cinta yang lebih tinggi dari cinta hukum. Kita membutuhkan pengorbanan – melampaui ketentuan hukum. Maka kita perlu membahas cinta dengan lompatan keyakinan.

Cinta Keyakinan

Semua cinta butuh keyakinan – dan pengorbanan. Kita perlu melompat dari cinta rasional ke cinta keyakinan. Benar-benar suatu lompatan.

Lompatan keyakinan mendorong cinta untuk dinamis. Sehubungan dengan dinamika cinta, kita bisa mengelompokkan menjadi tiga: cinta-damai, cinta-nyata, dan cinta-segala. Pertama, cinta-damai adalah cinta yang menciptakan rasa damai bagi semuanya. Kita menyadari, dalam masyarakat atau keluarga, terdapat banyak perbedaan. Bahkan perbedaan ini sering mengantar kepada pertentangan. Cinta memberi kita keyakinan bahwa semua pertentangan ini akan bisa kita lalui dengan baik bersama cinta. Dan, sebagai hasilnya, kedamaian untuk kita bersama.

Kedua, cinta-nyata adalah cinta yang terungkap dengan jelas. Cinta kepada negara dibuktikan dengan membela negara dengan segala pengorbanan. Cinta kepada istri diungkapkan dengan rayuan romantis. Cinta kepada suami diungkapkan dengan senyum manis ketika menghidangkan kopi spesial. Cinta kepada anak diungkapkan dengan apresiasi dan memberikan pendidikan terbaik. Cinta-nyata bukan sekedar cinta yang tersimpan dalam hati. Cinta-nyata adalah cinta yang terungkap nyata, bisa dilihat oleh semua mata. Dampak dari cinta-nyata adalah balasan cinta-nyata yang setara dari pasangan. Saling berbalas cinta-nyata memastikan dinamika dalam cinta.

Ketiga, cinta-segala adalah cinta kepada segala yang ada. Untuk bisa cinta-segala, kita benar-benar memerlukan lompatan keyakinan. Sebuah keyakinan yang meyakini bahwa semua yang ada pantas mendapat cinta dari diri kita. Orang baik, kita beri mereka cinta. Orang jahat, kita beri juga mereka cinta. Meski, tentu, bentuk cinta kepada orang baik berbeda dengan bentuk cinta kepada orang jahat. Orang kaya mendapat cinta kita. Orang miskin mendapat cinta kita. Semua manusia mendapat cinta kita. Binatang mendapat cinta kita. Bunga mendapat cinta kita. Bahkan sebutir pasir pun, mendapat cinta kita. Dalam diri kita ada cinta yaitu cinta-segala.

Kierkegaard (1813 – 1855) menekankan pentingnya lompatan keyakinan dalam cinta. Akal saja, tidak memadai untuk memahami cinta. Kita perlu melompat ke keyakinan. Sebuah keyakinan yang sekilas, kadang, tidak masuk akal. Dari analisis akal, cinta-memberi menjadikan sang pemberi-cinta adalah pihak yang berjasa dan penerima-cinta sebagai pihak yang berhutang budi. Kiekergaard meyakini posisi yang berbeda. Sang penerima-cinta telah berjasa kepada kita, dengan menghadirkan cinta dalam diri kita. Jadi, kita justru yang berhutang budi kepada mereka.

Nabi Ibrahim adalah contoh satria-keyakinan, satria-cinta-keyakinan, idola ideal dari Kierkegaard. Sejak muda, Ibrahim cinta kepada umat manusia. Ibrahim berbuat baik untuk tetangganya. Ibrahim mengajak umatnya untuk saling berbuat baik. Mereka yang menyambut ajakan Ibrahim, mendapat cinta dari Ibrahim. Mereka yang menentang Ibrahim, tetap mendapat cinta Ibrahim. Ibrahim, penuh cinta dan keyakinan, berbuat baik kepada seluruh orang. Ibrahim mengorbankan seluruh hidupnya demi kebaikan sesama. Tetangga, dan umat dari Nabi Ibrahim, telah memunculkan cinta dalam diri Nabi Ibrahim.

Ibrahim mencintai istrinya, Sarah, yang muda dan cantik. Cinta Ibrahim teruji sepanjang waktu. Ketika, Sarah makin tua sampai usia 80 tahun, Ibrahim tetap mencintainya. Meski sampai usia tua seperti itu, Sarah tidak melahirkan seorang anak pun, Ibrahim tetap mencintainya. Bahkan, Ibrahim makin cinta kepada Sarah. Sarah, benar-benar, telah menghadirkan cinta dalam diri Ibrahim.

Di usia tua, di atas usia 80 tahun, akhirnya, Ibrahim mendapat anugerah yang luar biasa: dua orang anak laki-laki yang tampan dan baik hati, Ismail dan Ishak. Bisa kita duga, Ibrahim mencintai anaknya luar biasa. Anak menghadirkan cinta yang tiada tara. Lebih dari itu, anak memberi harapan masa depan bersinar terang. Anak adalah penerus cita-cita Ibrahim yang mulia. Ismail adalah putra Ibrahim dari Hajar dan Ishak adalah putra Ibrahim dari Sarah.

Ujian cinta selalu ada.

Dalam tidurnya, Ibrahim bermimpi. Tuhan memerintahkannya untuk mengorbankan putra tercintanya. Tuhan mencintai Ibrahim dan Ibrahim mencintai Tuhan. Ibrahim telah mempersembahkan seluruh hidupnya untuk Tuhan. Kali ini, Tuhan meminta pengorbanan lebih dari Ibrahim: mengorbankan anak tercinta.

Apa yang harus dilakukan oleh Ibrahim?

Di siang hari, Ibrahim merenungi makna mimpinya. Begitu jelas, Tuhan memerintahkan dirinya untuk mengorbankan sang Putra. Ibrahim tidak cerita kepada siapa-siapa tentang mimpinya itu. Malam berikutnya, mimpi yang sama kembali hadir: Tuhan memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan sang Putra. Mimpi Ibrahim itu berulang makin jelas sampai tiga kali.

Cinta Ibrahim kepada Tuhan di atas segalanya. Meski berat untuk mengorbankan sang Putra tercinta, yang baik hati dan tampan, Ibrahim berniat memenuhi perintah Tuhan. Bagi Ibrahim, mengorbankan diri tidak jadi masalah. Tetapi kali ini, ia berurusan dengan mengorbankan nyawa orang lain, nyawa putra tercintanya sendiri. Maka Ibrahim menawarkan maksud pengorbanan itu.

“Putraku, aku diperintahkan oleh Tuhan, melalui mimpi, untuk mengorbankan dirimu. Bagaimana pendapatmu?” tanya Ibrahim.

Apa yang terlintas dalam pikiran sang Putra? Ayahnya yang dikenal baik itu, pembela kaum lemah, pecinta kemanusiaan, kali ini berniat membunuh putranya sendiri. Dan, untuk membenarkan tindakan itu, ayah berargumen bahwa itu adalah perintah Tuhan melalui mimpi yang jelas. Sang Putra dalam posisi sulit, jawabannya akan menentukan hidup dan matinya.

“Jika itu memang perintah Tuhan maka laksanakanlah. Ayah akan mendapati bahwa saya termasuk orang yang sabar,” jawab anaknya.

Kisah selanjutnya sudah menjadi kisah klasik yang sering kita baca dari beragam media. Ibrahim melaksanakan proses pengorbanan putranya. Dengan beragam perasaan tak menentu, sang Putra mengikuti langkah ayahnya menuju tempat pengorbanan dirinya. Ibrahim bersiap menyembelih putranya. Sangat berat rasanya, bagi Ibrahim. Perintah Tuhan, demi cinta Tuhan, harus ditunaikan.

Sesaat, ketika Ibrahim menghunuskan pedang ke leher sang Putra, Tuhan mengirim perintah ke Ibrahim agar menghentikan niatnya itu. Tuhan melarang Ibrahim yang hendak mengorbankan sang Putra. Tuhan memerintahkan Ibrahim agar menyembelih domba sebagai persembahan untuk kemudian dagingnya dibagikan ke masyarakat yang membutuhkan.

Tuhan mencintai manusia maka Tuhan memerintahkan manusia untuk menjaga kehidupan. Tuhan melarang manusia mengorbankan manusia lainnya, melarang manusia mengorbankan anaknya. Manusia, justru, diperintahkan untuk berkorban demi orang lain. Ibrahim adalah contoh ideal manusia yang rela berkorban apa saja demi kebaikan manusia. Ibrahim adalah contoh kesatria yang cintanya kepada Tuhan penuh keyakinan. Cinta mendorong terjadinya lompatan keyakinan.

Mari kita melompat, dari jaman Ibrahim, ke jaman sekarang yang sedang dilanda pandemi. Beberapa pemikir menilai bahwa cinta sekular, yang memperhitungkan untung rugi, tidak sanggup mendorong umat manusia untuk melakukan pengorbanan demi menyelesaikan pandemi. Negara kaya, dan orang kaya, mendominasi fasilitas kesehatan. Sementara, orang miskin telantar tanpa penanganan. Negara kaya mulai melaksanakan suntik vaksin booster untuk ketiga kalinya. Sementara, negara miskin untuk suntik vaksin satu kali saja betapa sulitnya.

Cinta dalam konteks sekular perlu lompatan keyakinan sehingga pengorbanan satu orang kaya dalam menghemat fasilitas kesehatan, obat atau vaksin, bisa disalurkan untuk digunakan orang miskin. Lompatan keyakinan memang sebuah lompatan. Dalam arti, orang yang tidak mau melompat maka tidak bisa diwajibkan untuk melompat. Orang kaya bisa berdalih mereka membeli obat dan vaksin dengan uang mereka sendiri secara sah dan legal. Mereka menjalankan semua proses tanpa melanggar aturan apa pun. Sementara, orang miskin adalah urusan orang lain. Kita, saat ini, benar-benar membutuhkan satria-cinta, satria-cinta-keyakinan, yang rela berkorban demi kebaikan umat manusia di masa pandemi.

Di sisi lain, cinta-keyakinan bisa dibelokkan oleh orang-orang tertentu mejadi suatu teror. Anak-anak muda yang resah dicuci otaknya. Mereka menjadi cinta berdasar keyakinan buta. Mereka rela mati, berkorban, demi cinta kepada agamanya. Bom bunuh diri terjadi di berbagai negara. Kita perlu solusi untuk menyelamatkan mereka dan orang-orang yang tidak berdosa.

Cinta-keyakinan tidak bisa berdiri sendiri. Cinta-keyakinan tetap perlu bersanding dengan cinta-rasional. Lompatan keyakinan memberi kekuatan kepada manusia untuk melakukan sesuatu di luar batas-batas kebiasaan. Sementara, akal rasional memastikan bahwa yang dilakukan manusia itu bernilai positif bagi kemanusiaan dan alam semesta. Bagaimana kita bisa menyandingkan cinta-keyakinan dan cinta-rasional? Kita memerlukan cinta-suci yang menjadi pembahasan berikut ini.

Cinta Suci

Cinta itu suci, pasti. Di sini hanya ada cinta, di sana juga sama. Di mana-mana hanya ada cinta. Bahagianya cahaya cinta untuk semua manusia dan alam semesta. Cinta suci adalah solusi. Cinta suci adalah realitas sejati.

Manusia menjadi sempurna dengan cinta. Bahkan, manusia adalah cinta. Manusia datang dari cinta, menjalani cinta, dan menuju cinta. Cinta adalah segala. Manusia sempurna adalah manusia cinta. Tuhan adalah Maha Cinta.

Untuk membahas cinta-suci kita akan merujuk ke konsep cinta dari Ibnu Arabi (1165 – 1240) dan Sadra (1572 – 1640). Kita akan mencermati cinta sampai ke metafisika dan ontologi. Bagi teman-teman yang hanya ingin membaca sekilas boleh-boleh saja. Sementara, bagi yang berminat mendalami argumen-argumen lebih detil, kita bahas di sini.

Pertama, kita akan membahas metafisika wujud. Kedua, cinta adalah wujud dengan obyek cinta adalah non-existent. Ketiga, cinta manusia adalah anugerah wujud. Keempat, gradasi cinta adalah gradasi wujud. Kelima, manifestasi cinta adalah manifestasi wujud.

(1) Cinta adalah wujud. Cinta sejati adalah wujud sejati. Selain wujud adalah bukan wujud. Karena bukan wujud adalah tidak wujud maka tidak ada atau non-existent. Sehingga yang ada hanya wujud. Yang ada hanya cinta.

(2) Cinta mencintai dia. Cinta mencintai obyek cinta. Tetapi, selain cinta adalah non-existent. Maka obyek dari cinta adalah non-existent. Obyek dari cinta adalah tidak ada. Yang ada hanya cinta. Non-existent memang tidak ada.

(3) Manusia adalah anugerah cinta. Manusia adalah anugerah wujud. Manusia adalah manifestasi cinta. Manusia adalah intensitas cinta. Cinta manusia adalah wujud cinta. Obyek cinta dari manusia bisa dua hal: wujud atau non-existent. Karena non-existent adalah tidak ada maka obyek cinta adalah wujud itu sendiri, cinta itu sendiri, manifestasi cinta.

(4) Cinta itu cahaya. Wujud itu cahaya. Cinta itu mencerahkan. Cahaya tampak ada yang terang benderang, intensitas kuat. Cahaya ada yang redup, intensitas lemah. Terang benderang atau redup, cahaya tetaplah cahaya. Kuat atau lemah, cinta tetaplah cinta. Dalam segala situasi, cahaya tetap bersinar. Dalam segala situasi, cinta tetap membara. Cinta, dalam dirinya, hanya satu yaitu cinta. Cinta, dalam manifestasinya, beragam gradasi, beragam intensitas. Manusia sempurna adalah manusia cinta. Cahaya yang terang benderang meliputi segala cahaya.

(5) Yang ada hanya cinta dan manifestasi cinta. Selain cinta adalah non-existent, tidak ada. Manusia menjadi sempurna dengan sempurnanya cinta. Manusia hadir di semesta raya untuk menyerap cinta, mengolah cinta, dan menebarkan cinta. Manusia menapaki tangga cinta menuju instensitas cinta sempurna. Manusia ditarik cinta, didorong cinta, dan berjalan bersama cinta.

Cinta begitu mempesona. Cinta itu memabukkan – mabuk cinta. Jiwa manusia selalu rindu, rindu kepada cinta. Jiwa manusia itu sendiri adalah cinta. Cinta rindu kepada cinta.

Dari mabuk cinta, kita perlu kembali terjaga bersama cinta. Kali ini kita akan mendiskusi metafisika-ontologi cinta.

Secara metafisika, cinta adalah realitas paling fundamental. Sehingga segala realitas lainnya disusun oleh cinta. Kita bisa menjelaskan segala realitas yang ada dengan bantuan cinta. Sebaliknya, tidak bisa. Kita tidak bisa mendefinisikan cinta dengan sesuatu yang lain. Karena, sesuatu yang lain itu, justru membutuhkan cinta. Sehingga cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, tidak bisa dengan apa pun. Kita hanya bisa memaknai cinta. Kita hanya bisa meng-interpretasikan cinta. Makna itu sendiri juga manifestasi cinta. Nyatanya, kita hidup dan mati bersama cinta.

Sebagai realitas fundamental, cinta bisa kita bandingkan dengan idea dari Plato, substansi dari Aristoteles – Ibnu Rusyd – Descartes, wujud dari Ibnu Arabi – Sadra, monad dari Leibniz, materi dari Marx, being dari Heidegger, dan will to power dari Nietzsche. Cinta adalah realitas paling fundamental yang paling sederhana, di saat yang sama, meliputi segala yang ada.

Untuk memaknai cinta, kita bisa mendekati dengan dua cara: mata semut-quantum dan mata elang-gravitasi. Semut-quantum, sesuai ukurannya yang kecil, memandang segala sesuatu dengan detil. Partikel demi partikel, atom demi atom, dan elemen demi elemen. Keunggulan semut-quantum adalah semua fenomena yang ditemui, sekecil apa pun, masuk dalam pengamatannya. Wajar, semut-quantum merasa mempunyai pengetahuan paling lengkap. Tetapi semut-quantum terlewat sesuatu. Ada sesuatu yang jauh jaraknya – di luar pengamatannya. Yaitu gravitasi. Dari jarak yang jauh, melintas angkasa luar, gravitasi tetap mempengaruhi.

Kita perlu mata elang-gravitasi. Rembulan mengelilingi bumi. Purnama memanfaatkan gravitasi untuk menarik air laut sampai pasang naik tinggi. Bumi dan planet-planet mengelilingi matahari di tata surya. Seharusnya, planet-planet itu telah terlempar ke mana-mana. Gaya gravitasi menjaga planet-planet agar tetap beredar di orbitnya. Elang-gravitasi mengembangkan pengetahuannya melintas seluruh jagad raya. Wajar, elang-gravitasi merasa dialah yang paling tahu segalanya. Nyatanya, elang-gravitasi tidak tahu atom. Elang-gravitasi terlewatkan pengetahuan tentang elektron, foton, boson, dan lain-lain. Sekali lagi, kita butuh mata elang-gravitasi dan mata semut-quantum.

Semut-quantum dan elang-gravitasi saling menlengkapi dalam memaknai cinta. Cinta suci hadir dalam situasi unik, mata-semut-quantum. Ketika melihat anak kecil kelaparan di pinggir jalan. Hati kita tersentuh. Cinta kasih tumbuh. Kita menolong anak kecil yang kelaparan itu, penuh cinta kasih. Melihat tetangga kesulitan belajar matematika, kita ulurkan tangan membantunya. Cinta sesama tumbuh dalam situasi konteks yang spesifik. Kita berada dalam sistem sosial terbatas. Kita memandang cinta dari mata semut-quantum. Ingatkah ketika jatuh cinta pada pandangan pertama?

Dari sisi yang lain, mata elang-gravitasi menjaga cinta kita agar berdampak positif kepada sesama secara luas. Anak kecil yang kelaparan itu memang anak orang miskin. Dengan bantuan makanan dari kita, anak miskin itu, tertolong untuk kemudian melanjutkan hidupnya yang sulit. Tetangga yang kita bantu belajar matematika melanjutkan ke pendidikan lebih tinggi. Beberapa tahun kemudian menghasilkan kerja nyata. Mata elang-gravitasi juga menjaga diri kita, menjamin bahwa sumber daya yang kita bagi kepada anak miskin dan tetangga itu adalah sumber daya yang sah, halal.

Apa yang terjadi jika kita hanya menggunakan mata semut-quantum? Bisa berbahaya!

Anak-anak muda yang gelisah dicuci otaknya agar jatuh cinta kepada ajaran agama. Lengkap dengan doktrin-doktrin mengorbankan jiwa adalah jaminan surga, menyerang pihak lain adalah perjuangan suci, semua ini adalah panggilan ilahi. Hanya berbekal cinta hasil pandangan mata semut-quantum yang terbatas, anak-anak muda itu, bergerak menyerang berbagai tempat. Korban nyawa dan luka di mana-mana. Dirinya sendiri, anak muda itu, juga tewas di sana. Jatuh cinta hanya dengan pandangan mata semut-quantum, memang, tidak memadai.

Apa yang terjadi jika kita hanya menggunakan mata elang-gravitasi? Bahaya juga!

Kita mencintai kemanusiaan universal, mencintai dunia adil makmur, dan mencintai alam raya yang luas tiada tara. Tapi, cinta universal ini tidak menggerakkan seseorang untuk bekerja keras. Tidak menggerakkan seseorang untuk menemukan solusi unik terhadap masalah kecil. Tidak menggerakkan seseorang memberikan karya nyata. Dia berpikir universal. Sementara, anaknya kelaparan, sekolah tidak terurus, kesehatan tak peduli. Dia mencintai alam semesta. Sementara, istrinya banting tulang untuk mencukupi kebutuhan ekonomi sehari-hari. Dia hanya terbang di awang-awang dengan mata elang-gravitasi. Dia suka berdebat. Bahkan selalu bisa memenangkan setiap perdebatan. Untuk menguatkan posisinya agar tetap di awang-awang.

Kita adalah manusia cinta, yang membutuhkan dua mata, mata semut-quantum dan mata elang-gravitasi. Bergerak cepat dengan solusi unik di masyarakat terdekat. Memandang jauh ke depan menembus seluruh alam raya. Meraih cinta di alam raya, menebar cinta di alam raya.

Apakah dengan pandangan mata semut-quantum dan mata elang-gravitasi maka pengetahuan kita tentang cinta menjadi sempurna? Tidak. Pengetahuan kita tentang cinta tidak pernah sempurna.

Memang, mata semut-quantum saling melengkapi dengan mata elang-gravitasi. Meski begitu, pegetahuan cinta tidak pernah lengkap. Barangkali kita bisa memanfaatkan mata hati, mata jiwa, mata ruhani, dan semua mata untuk melengkapi pengetahuan tentang cinta? Tetap tidak bisa. Pengetahuan cinta tetap tidak bisa lengkap. Meski, seseorang bisa saja mabuk cinta dengan sempurna. Mata semut dan mata elang hanya bisa saling menyempurnakan tanpa henti.

Bahkan proses menyempurnakan ini bersifat sirkular, atau melingkar. Kita terjebak dalam lingkaran cinta yang lebih bermakna dari cinta segitiga.

Lingkaran Cinta

Secara rasional, lingkaran cinta itu rumit. Sedangkan secara makna, lingkaran cinta itu indah. Lingkaran cinta adalah makna cinta secara hermeneutika filosofis.

Mata semut-quantum menghadirkan cinta unik yang bersifat lokal, terbatas, cinta pada pandangan pertama. Mari kita sebut sebagai pengetahuan cinta-lokal. Sedangkan, mata elang-gravitasi menghadirkan cinta yang bersifat umum, misal cinta kemanusiaan, cinta keadilan, cinta keindahan. Mari kita sebut sebagai pengetahuan cinta-global.

Pengetahuan kita tentang cinta-lokal tidak sempurna karena terbatas. Kita perlu pandangan yang lebih luas. Maka kita perlu cinta-global.

Pengetahuan cinta-global kita gunakan untuk menyempurnakan cinta-lokal. Tetapi cinta-global itu tidak sempurna. Karena bersifat umum. Maka kita perlu pengetahuan lebih detil. Untuk menyempurnakan cinta-global kita membutuhkan bantuan cinta-lokal.

Demikian seterusnya membentuk lingkaran cinta. Di mana cinta-lokal membutuhkan cinta-global. Di saat yang sama, cinta-global membutuhkan cinta-lokal. Mereka tidak bisa, sama-sama, sempurna. Mereka hanya saling menyempurnakan, terus-menerus. Maka kita tidak akan pernah menemukan cinta yang berhenti. Tidak ada cinta sempurna. Tidak ada cinta mati. Yang ada cinta hidup, dinamika cinta.

Lebih seru lagi bila lingkaran cinta ini kita terapkan dalam kehidupan sosial – sejauh ini, kita baru membahas cinta personal. Misal cinta antara suami istri yang baik adalah lingkaran cinta. Mengapa suami cinta ke istri? Karena istri cinta ke suami. Mengapa istri cinta ke suami? Karena suami cinta ke istri. Lingkaran cinta ini makin lama makin kuat dengan diiringi dinamika kehidupan nyata.

Lingkaran cinta adalah keunggulan cinta. Sementara, lingkaran rasional, berargumen melingkar memang tidak direkomendasikan banyak orang. Kita bisa menebak bahwa orang yang bercinta dengan pertimbangan rasional akan menemukan banyak kebingungan. Pusing tujuh keliling. Karena cinta, memang, mengajak kita menelusuri lingkaran cinta. Suka-duka dalam sinaran cinta.

Obyek Cinta

Obyek cinta adalah tidak ada. Yang ada adalah subyek cinta, sang pelaku cinta. Untuk membahas ini, kita akan membagi menjadi tiga bagian. Pertama, obyek cinta dari Sang Maha Cinta adalah non-existent atau ketiadaan itu sendiri. Kedua, obyek cinta dari manusia adalah manifestasi cinta. Ketiga, manusia berpartisipasi dalam menifestasi cinta.

Pertama, Sang Maha Cinta mencintai non-existent. Sehingga obyek cinta, yaitu non-existent, adalah tidak ada. Cinta dari Sang Maha Cinta menyinari non-exixstent. Akibatnya, non-existent tersinari menuju eksistensi. Sinar-sinar cinta ini yang menjadi manifestasi cinta. Bagaimana pun, non-existent adalah ketiadaan itu sendiri. Sementara, manifestasi cinta berasal dari cinta Sang Maha Cinta.

Lalu, apa itu Sang Maha Cinta? Hakikat Sang Maha Cinta adalah rahasia yang tak terjangkau oleh akal manusia. Tetapi manusia bisa menjangkau Sang Maha Cinta dengan mengenal karakter, sifat-sifat, Sang Maha Cinta dan tindakan Sang Maha Cinta. Alam raya, dan diri manusia sendiri, merupakan manifestasi sifat dan tindakan Sang Maha Cinta.

Kedua, obyek cinta dari manusia adalah manifestasi cinta. Manusia adalah manifestasi cinta yang, kemudian, bisa jatuh cinta. Ketika mencintai, manusia bisa memilih apa saja yang dia cintai. Dia bisa memilih obyek alam semesta atau non-existent. Karena non-existent memang tidak ada maka sebagai obyek cinta, non-existent, adalah tidak ada. Sehingga obyek cinta yang ada adalah alam semesta. Di mana alam semesta adalah manifestasi cinta. Manusia mencintai manifestasi cinta.

Beberapa orang barangkali mengklaim mencintai Tuhan. Klaim semacam itu bisa diterima secara manusiawi. Dari sudut pandang lain, Tuhan tidak terjangkau kata-kata, maka manusia hanya bisa mencintai manifestasi Tuhan. Manusia, terus-menerus, mendekati Tuhan dengan makin dekat dan lebih dekat.

Alam raya, termasuk manusia, adalah manifestasi cinta dengan gradasi intensitas cinta yang berbeda-beda. Sehingga obyek cinta, dari satu sisi, adalah sama semua yaitu manifestasi cinta. Dari sisi lain, obyek cinta adalah berbeda-beda, yaitu berbeda dalam gradasi intensitas.

Ketiga, dengan jatuh cinta, manusia berpartisipasi dalam menifestasi cinta. Berpatisipasi dalam cinta begitu indah. Jatuh cinta, memang indah, tiada tara. Mabuk cinta sungguh mempesona.

Mengapa kita perlu jatuh cinta? Karena manusia adalah cinta. Manusia menjalani hidup dengan cinta, menuju cinta, dan berasal dari cinta.

Apa yang terjadi jika manusia tidak jatuh cinta? Dia tidak lagi jadi manusia. Dia berhenti menjadi manusia. Dia berhenti menjadi manifestasi cinta. Maka mari sirami cinta tiap hari. Biarkan benih-benih cinta tumbuh tiap pagi. Biarkan bunga-bunga cinta mekar sepanjang hari.

Mari kita analisis secara rasional lagi: obyek cinta. Seperti kita sebut di atas, obyek cinta dari manusia adalah alam raya, termasuk manusia, yang merupakan manifestasi cinta. Tetapi, apa sejatinya manifestasi cinta itu? Yang ada secara nyata adalah Sang Maha Cinta. Sementara, manifestasi cinta adalah sekedar percikan sinar dari Sang Maha Cinta. Dengan demikian, obyek cinta, sejatinya adalah tidak ada.

Maka kita perlu fokus ke cinta itu sendiri bukan ke obyek cinta, yang sejatinya tidak ada. Ketika kita jatuh cinta maka kita sedang menciptakan cinta. Ketika kekasih mencintai pasangannya, kekasih itu sedang menciptakan cinta. Ketika kita mencintai orang miskin, dengan memberinya bantuan, kita sedang menciptakan cinta. Kita sedang menjadi manifestasi cinta. Sebuah manifestasi cinta yang intensitasnya lebih kuat dari sebelumnya. Manifestasi cinta yang terus menyempurna.

Orang yang tidak mencintai orang miskin maka dia tidak menciptakan cinta. Dia berhenti menjadi manifestasi cinta, yang seharusnya terus-menerus menebar cinta. Orang yang tidak mencintai tetangganya, maka dia juga berhenti jadi manifestasi cinta. Tetapi, manusia tidak bisa sepenuhnya berhenti jadi manifestasi cinta. Karena, manusia adalah buah cinta dari manusia-manusia sebelumnya, terutama buah cinta ibu dan bapaknya. Sehingga, berhenti menjadi manifestasi cinta adalah bermakna berhenti menebarkan cinta.

Apa yang terjadi jika cinta kebablasan? Orang cinta makanan, terlalu banyak makan sehingga terserang darah tinggi. Orang yang cinta harta, terlalu banyak mengumpulkan harta dengan cara korupsi atau mencuri sehingga terkunci di balik jeruji. Orang yang terlalu cinta politik, mencalonkan diri sebagai pejabat dengan cara menghalalkan perilaku curang. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang kebablasan.

Cinta itu indah. Cinta itu cantik. Cinta itu adil. Maka siapa saja yang kebablasan, mereka bukanlah cinta. Meski awalnya seperti cinta, itu hanya penampakan belaka. Mereka terjebak dalam tipuan atas nama cinta. Sekali lagi, kita perlu waspada meski jatuh cinta. Gunakan mata-semut-quantum dan mata-elang-gravitasi. Pada bab selanjutnya, kita akan membahas penyelewengan atas nama cinta.

Bagaimana pun, kita adalah manusia cinta. Hidup bersama cinta, menuju cinta, dan berasal dari cinta.

Ringkasan Manfaat

Berikut ini, mari kita ringkas manfaat dari filsafat.

(1) Manfaat praktis. Filsafat bermanfaat dalam kehidupan praktis sehari-hari umat manusia. Dengan filsafat, kita bisa menjalani kehidupan dengan pandangan yang lebih luas dan mendalam. Sehingga, kita, sebagai individu atau masyarakat, bisa menjalani hidup dengan lebih baik.

(2) Filsafat bermanfaat bagi kita untuk menghadapi segalanya yang makin bersifat serba tidak pasti. Filsafat membekali kita wawasan untuk menangani ketidakpastian secara komprehensif.

(3) Filsafat membantu kita menjadi berjiwa besar – berjiwa agung. Kita bisa melepaskan diri, untuk sejenak, dari kesibukan sehari-hari yang beraroma ekonomi. Filsafat mengajak kita bertamasya memikirkan masa lalu, masa depan, dan tentu masa sekarang. Filsafat mengajak kira merenungkan apa yang terjadi sebelum ada jagad raya, sebelum manusia ada, dan setelah manusia meninggal dunia. Filsafat tidak meng-klaim berhasil menjawab semua pertanyaan besar ini. Tetapi, kita menjadi berjiwa besar karena merenungkan pertanyaan besar ini.

Dan, terakhir, filsafat mengundang kita untuk berpartisipasi dalam cinta. Umat manusia hidup bersama cinta, menuju cinta, dan berasal dari cinta.

Lanjut ke Materialisasi Cinta dan Kecantikan
Kembali ke Philosophy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: