Weak Thought Vs Strong Value

Apa saja yang kita pikirkan bisa saja salah. Karena pikiran memang lemah. Tetapi, apa saja yang kita pikirkan pasti bernilai. Karena nilai memang kuat, bahkan sangat kuat.

Pikiran kita tentang baju adat Badui, presiden Jokowi, perang Afganistan, Taliban, US, dan lain-lain bisa saja salah. Meski salah, tetap saja itu bernilai. Apalagi, jika pikiran itu benar, maka benar-benar bernilai tinggi.

Cara 2 Rekayasa Ulang Proses Bisnis : Value Added Assessment

Kali ini, kita akan membahas dua topik utama: weak-thought dan strong-value. Weak-thought adalah konsep yang menyatakan bahwa pikiran kita bersifat lemah. Dalam arti, pikiran kita bisa benar, dan kadang salah. Sedangkan pikiran orang lain, mungkin saja benar, dan bisa juga salah. Dengan demikian, sikap respek antar sesama perlu terus kita kembangkan.

Konsep strong-value menyatakan bahwa segala sesuatu punya nilai. Di mana, nilai segala sesuatu, sejatinya, sangat besar. Hanya saja kemampuan manusia, kemampuan kita, untuk memahami nilai bisa saja terbatas. Bagi orang yang tidak paham, bisa saja, menganggap suatu kejadian sebagai tidak bernilai. Padahal, bagi orang yang paham, kejadian tersebut sangat kuat bernilai tinggi.

Weak Thought Vattimo

Pemikir Itali Vattimo, usia 86 tahun, barangkali adalah orang pertama yang mengenalkan konsep weak-thought pada akhir abad 20. Weak-thought mempertimbangkan realitas pikiran manusia yang terus berkembang, berubah, sepanjang waktu. Dan, mencermati perbedaan antara banyak orang di banyak tempat berbeda. Ditambah lagi, kekuatan media digital yang menyebar dengan cepat ke seluruh dunia, maka masing-masing orang bisa membingkai pikiran sendiri – yang berbeda dan berubah-ubah.

Dengan situasi seperti itu, dinamis dan beragam, maka wajar bila kita menganggap pikiran kita bersifat lemah – bisa benar atau salah.

Lalu, bagaimana kita bisa menentukan suatu kebenaran?

Saya merumuskan pancajati untuk menentukan suatu kebenaran. Sesuai namanya, ada lima karakter dari kebenaran.

Pertama adalah karakter dinamis. Kebenaran bersifat dinamis. Bisa benar di suatu waktu tetapi bisa berbeda di waktu lain. Begitu juga, bisa benar di suatu tempat tetapi berbeda di tempat lain. Maka kita perlu mempertimbangkan syarat dan ketentuan berlaku.

Kedua dan ketiga, karakter kebenaran, adalah tergantung hasil verifikasi dan cakrawala. Kebenaran tidak berdiri secara mandiri. Kebenaran itu tergantung hasil verifikasi. Jika hasil verifikasi positif maka kebenaran bisa diterima. Bila negatif maka kebenaran tersebut bisa ditolak. Dan sistem verifikasi bergantung kepada cakrawala. Cakrawala sains, tentu, berbeda dengan cakrawala bahasa. Cakrawala ekonomi juga berbeda dengan cakrawala ilmu sejarah.

Keempat dan kelima, kebenaran bergantung interpretasi dan pengalaman. Cakrawala kita, misal sains, bergantung kepada pengalaman dan interpretasi. Hasil eksperimen, sebagai pengalaman, akan membentuk cakrawala sains. Kita, secara pribadi, memahami sains juga melibatkan pengalaman kita. Dan, semua eksperimen sains memerlukan interpretasi. Eksperimen menjadi lebih jelas, dan bermakna, dengan interpretasi. Secara pribadi, kita juga selalu melakukan interpretasi terhadap beragam pengalaman pribadi.

Dengan formula pancajati, kita bisa menyikapi kebenaran sebagai dinamis. Karena itu kita perlu terbuka dengan beragam pemikiran, yang mungkin saja, berbeda dengan pikiran kita. Dengan sikap terbuka maka kita bisa saling respek untuk kemudian merumuskan kebenaran yang lebih baik bagi semua.

Misalnya, kita bisa berpikir tentang presiden Jokowi yang mengenakan baju adat Badui sebagai inspirasi bagi banyak orang agar menghadapi pandemi dengan belajar dari pengalaman adat Badui. Di mana, suku Badui adalah yang terbaik dalam hal menghadapi pandemi. Bahkan kasus covid bisa nihil di masyarakat Badui.

Di pihak lain, bisa saja orang berpikir sinis terhadap presiden yang mengenakan baju adat seperti itu. Begitulah realitas pikiran. Beragam, berbeda-beda, dan lemah.

Strong-Value dari Nihilisme

Menjelang abad 20, Nietzsche mewarnai pemikiran dunia dengan konsep nihilisme.

“Nihilism is the belief that all values are baseless and that nothing can be known or communicated. It is often associated with extreme pessimism and a radical skepticism that condemns existence. A true nihilist would believe in nothing, have no loyalties, and no purpose other than, perhaps, an impulse to destroy.” (IEP)

Hampir semua pemikir dunia terpengaruh konsep nihilisme tersebut. Meski ada yang menolak nihilisme, tampaknya, tidak begitu berarti. Kita akan membahas dari beberapa sudut pandang.

Pertama, nihilisme menganggap hampanya value, nilai, dari segala sesuatu. Value hanya sesuatu yang diciptakan oleh manusia, sejatinya hampa. Implikasinya, manusia bertanggung jawab untuk menciptakan nilai itu sendiri. Justru, di situlah, menciptakan value, adalah strong-value dari nihilisme. Ketika nihilisme menolak nilai maka nihilisme justru menciptakan value baru, bahkan strong-value.

Kita bisa pertimbangkan ujung akhir filsafat nihilisme dari Nietzsche adalah will-to-power, kehendak-untuk-berkuasa. Karena semua nilai adalah hampa, maka manusia paling hebat adalah dia yang paling kuat dalam will-to-power, yang paling dominan dari semuanya. Jelas di sini, nihilisme mendorong will-to-power, yang pada gilirannya mendorong manusia untuk terus maju. Jadi, nihilisme punya nilai, strong-value-of-nihilism.

Kedua, nihilisme memandang bahwa nilai hanya hasil rekayasa pikiran manusia saja. Tidak ada nilai obyektif. Di sini, sekali lagi, kemampuan manusia menciptakan nilai adalah strong-value dari manusia. Jika manusia tidak mampu menciptakan nilai, misal seperti batu yang hanya diam, maka value dari manusia tersebut berkurang. Hal ini menunjukkan bahwa manusia mempunyai nilai, yang bisa bertambah atau berkurang.

Ketiga, segala sesuatu punya nilai bahkan strong-value. Tampaknya, nihilisme lebih fokus terhadap penciptaan value oleh manusia. Kita bisa mencoba geser fokus ke batu misalnya. Batu bernilai untuk membangun rumah. Batu bernilai untuk mengeraskan jalan. Batu bernilai untuk bahan peralatan dapur. Dan, segala yang ada di alam semesta memiliki nilai instrinsik masing-masing.

Tentu saja, manusia bisa menolak nilai dari batu. Dalam dirinya sendiri, batu tetap punya nilai. Manusia bisa saja menolak nilai dari cahaya matahari. Dalam dirinya sendiri, cahaya matahari tetap punya nilai. Manusia bisa saja menolak nilai dari seluruh eksistensi. Dalam dirinya sendiri, seluruh eksistensi tetap bernilai. Dan, kita bisa menguatkan nilai lebih tinggi dari biasanya. Batu secara material bernilai sebagai bahan bangunan. Batu secara psikologis bernilai estetis ketika menjadi karya seni patung batu misalnya. Batu bernilai secara spiritual ketika ayat-ayat suci dipahatkan padanya.

Tantangan kita, sebagai manusia, adalah menciptakan, atau meresapi, nilai yang semakin kuat, semakin tinggi.

Kombinasi Weak-Thought Strong-Value

Kita memerlukan keduanya: weak-thought dan strong-value. Terhadap pikiran kita, atau terhadap pikiran orang lain, kita perlu bersikap lemah. Dalam arti, kita membuka peluang bahwa setiap pikiran bisa saja benar dan bisa saja salah. Dengan cara ini, pemikiran kita terus bergerak maju dinamis untuk menemukan pemikiran terbaik.

Sedangkan terhadap nilai segala sesuatu, maka kita perlu memperkuatnya, strong-value. Dalam arti, kita menguatkan nilai positif dari segala sesuatu.

Misal, tentang perang Afganistan atau Taliban. Barangkali ada yang salah dengan perang. Tetap saja kita bisa menciptakan nilai positif dari pengalaman perang. Nilai positifnya adalah kita perlu untuk terus mencegah perang, menghindari perang. Jika perang masih terjadi maka perlu berbagai upaya untuk mengakhiri.

Kepedihan, sakit hati, dan pandemi – bahkan tragedi – sama-sama mempunyai nilai positif bagi manusia dan semesta. Tugas kita untuk menemukannya.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: