Batas-Batas

Aku cinta Rara, tanpa batas. Di mana batas-batas cinta? Cinta memang tidak punya batas. Cinta sejati tanpa batas. Demikian juga, cantik tidak punya batas.

Apakah alam semesta punya batas?

Mari kita berandai-andai menyusuri garis lurus ke utara. Sampai akhirnya ke kutub utara. Lanjutkan ke utara – bukan memutar ke selatan. Ke utara dari kutub utara, barangkali, kita bisa melakukannya dengan terbang. Terbang ke utara terus, tampaknya tanpa batas.

Kita juga bisa berandai-andai berjalan sesuai garis lurus ke selatan, sampai kutub selatan. Lanjut lagi ke selatan dengan terbang. Tampaknya, kita juga tidak akan menemui batas dunia. Dengan eksperimen pikiran ini, kita merasa bahwa alam semesta juga tidak terbatas.

Pada bagian ini kita akan mendiskusikan tentang batas-batas itu. Batas-batas pengetahuan dan batas-batas filsafat. Kita akan mengikuti gaya berpikirnya Russell dengan mempertimbangkan dialektika Hegel dan kritik dari Immanuel Kant. Kita, selanjutnya, akan melengkapi dengan fenomenologi eksistensial Heidegger, hermeneutika Vattimo, dan formula Pancajati. Barangkali, kita perlu mempertimbangkan metafisika different oleh Deleuze.

Dan, tentu saja, kita akan menyelidiki batas-batas cinta dan cantik.

Dialektika Hegel

Kita barangkali sering mendengar istilah dialektika, sebuah proses menyempurna yang menuju kesempurnaan absolut. Hegel, dan kawan-kawan, menyusun proses dialektika ini melalui pertemuan tesis dan anti-tesis sehingga membentuk sintesis baru. Proses dialektika, menurut Hegel, terjadi pada ide kita dan alam semesta.

Pengetahuan manusia, terutama pengetahuan nyata, selalu bersifat fragmentaris, tidak utuh, kita sebut sebagai tesis. Jika pengetahuan ini kita teliti lebih jauh maka kita akan menemukan beragam kontradiksi – karena fragmentaris tersebut. Kontradiksi ini kita sebut sebagai anti-tesis. Selanjutnya tesis berproses dengan anti-tesis maka lahirlah sintesis baru.

Mari kita ambil contoh agar lebih nyata. Misal kita mengetahui jari kita sendiri.

tesis: jari
anti-tesis: bukan jari
sintesis: tangan

Awalnya, kita yakin bahwa kita melihat jari (tesis). Pengamatan lebih lanjut, kita melihat bukan jari (anti-tesis). Termasuk bukan jari adalah telapak, pergelangan dan lain-lain. Maka terpikirlah oleh kita pengetahuan baru, sinstesis, yaitu tangan, misalnya.

Pengetahuan, kita tentang tangan ini, lebih sempurna dari pengetahuan kita tentang jari. Demikianlah hasil dari gerak dialektika. Pada gilirannya, pengetahuan kita tentang tangan itu sendiri menjadi tesis yang baru.

tesis: tangan
anti-tesis: bukan tangan
sintesis: badan

Bukan tangan, sebagai anti-tesis, misalnya kaki, dada, kepala, dan lain-lain. Dialektika antara tangan dan bukan tangan, tesis dan anti-tesis, menghasilkan pengetahuan baru: badan, sebagai sintesis. Dan begitu seterusnya, sampai manusia mencapai pengetahuan mutlak “spirit absolut.”

Di dunia ini, saat ini, tidak ada pengetahuan absolut. Maka semua pengetahuan terus-menerus berproses. Spirit berproses ini banyak mengilhami para murid Hegel. Memang, dialektika memotivasi kita untuk terus bergerak maju. Salah satunya adalah Karl Marx yang menerapkan konsep dialektika untuk sejarah. Kapitalisme, menurut Marx, akan menciptakan kelas kaya para borjuis, sebagai tesis. Maka akan melahirkan anti-tesis yaitu kelas pekerja proletar. Selanjutnya kelas borjuis berdialektika dengan kelas proletar menghasilkan sintesis baru: masyarakat sosial tanpa kelas.

Tentu saja, banyak orang yang tidak setuju dengan ide dialektika Hegel. Salah satunya Bertrand Russell. Pengetahuan kita tentang suatu obyek, sebagai tesis, menurut Russell, tidak mengharuskan pengetahuan tentang yang lain. Pengetahuan kita tentang tesis tidak mengharuskan pengetahuan tentang anti-tesis, menurut Russell.

Kita ambil contoh, pengetahuan kita tentang sakit gigi kita. Sama sekali tidak memerlukan pengetahuan yang lain. Kita merasa sakit secara langsung. Intuisi kita memberitahu kita bahwa kita merasakan sakit gigi itu. Kita juga tidak memerlukan suatu formula tentang sakit gigi. Bahkan dokter gigi, atau orang lain, hanya tahu tentang sakit gigi kita bila kita memberi tahu mereka. Kita mengetahui sakit gigi kita dengan sempurna.

Pengetahuan kita menjadi lebih sempurna, justru, dengan makin telitinya kita meneliti, memeriksa, dan mengkaji obyek tersebut. Dokter gigi bisa memeriksa kondisi gigi yang sakit. Menemukan penyebab sakitnya. Dan menuliskan resep untuk obat sakit gigi itu.

Russell menilai konsep dialektika Hegel tidak bisa dipertahankan. Hegel merumuskan dialektika berdasar pengetahuan a priori yang bersifat metafisika. Pengetahuan a priori ini perlu diuji dengan penelitian di lapangan bila memungkinkan. Dengan contoh sakit gigi, menurut Russell, kita bisa menolak konsep dialektika. Sementara, yang lebih kuat adalah, pengetahuan a priori yang lulus dengan pengujian empiris.

Tampaknya, Russell ingin mengatakan bahwa batas-batas filsafat – dan metafisika – adalah pengujian empiris. Dengan demikian, filsafat dan sains berjalan seiring seirama. Tentu saja, Russell juga sadar ada berbagai macam proposisi metafisika yang tidak dapat diuji secara empiris. Maka di sini, peran filsafat tetap besar, yaitu kajian kritik. Pendekatan Russell ini, selarasnya filsafat dan sains, melahirkan aliran baru dalam filsafat yaitu filsafat analytic.

Kritik Immanuel Kant

Sains terbukti mendorong kemajuan manusia. Di saat yang sama, sains juga sering membuat teori yang ternyata, terbukti, salah. Maka berpikir kritis tetap diperlukan. Di sinilah peran filsafat menjadi dominan.

Whitehead, seniornya Russell, mengatakan tugas filsafat adalah berpikir spekulatif. Yaitu berpikir yang mempertimbangkan segala sesuatunya. Dengan pertimbangan yang luas ini, wajar, bagi filsafat untuk terus mengembangkan tradisi berpikir kritis.

Karya terbesar berpikir kritis sepanjang sejarah adalah, barangkali, trilogi kritik oleh Immanuel Kant. Kritik terhadap akal murni, kritik terhadap akal praktis, dan puncaknya kritik terhadap penilaian. Kritik akal murni dari Kant berhasil mengkritik mereka yang berpegang kepada, hanya, pengetahuan a priori, yaitu para idealis. Di saat yang sama, Kant mengkritik mereka yang hanya berpegang kepada pengetahuan empiris. Solusi dari Kant adalah sintesa antara pengetahuan a priori dengan pengetahuan empiris. Russell setuju dengan pemikiran Kant ini.

Sedangkan kritik terhadap akal praktis menghasilkan berbagai macam pemikiran moral. Kant, setelah mengkritik berbagai macam pemikiran moral, mengajukan kewajiban moral adalah kebajikan yang disetujui oleh setiap orang yang berakal, dapat dilakukan kapan saja, dapat dilakukan di mana saja, dan dapat dilakukan oleh siapa saja. Contohnya, “Jangan mencuri.” Tentu saja, ada kebajikan moral yang hanya memenuhi sebagian dari empat kriteria di atas. Misalnya, “Bantulah orang miskin.” Hanya bisa dilakukan oleh orang yang mampu.

Russell tampaknya tidak sepakat dengan Kant. Russell lebih condong ke moral asas manfaat (utilitarian). Kebajikan moral adalah kebajikan yang memberi manfaat terbesar bagi seluruh umat. Sementara, pemikiran Kant lebih dekat ke kontraktual.

Terakhir, kritik terhadap penilaian menghasilkan ragam penilaian estetik dan teleologis. Kita sudah membahas ini pada tulisan saya yang sebelumnya berkenaan dengan intuisi cinta. Yang menarik, hasil akhir kritik penilaian adalah antinomi atau paradoks. “Saya cinta Rara.” Tapi, “Panca tidak cinta Rara.” Mana yang benar? Saya atau Panca? Cinta atau tidak cinta? Dua penilaian tentang cinta di atas adalah paradoks, atau antinomi, yang tidak bisa disintesiskan.

Lyotard memuji-muji pemikiran antinomi dari Kant ini. Lyotard mengembangkan pemikiran disensus – perbedaan pendapat. Awalnya, Lyotard mengkaji kondisi penduduk asli di Kanada dengan menggunakan pendekatan “language game” dari Wittgenstein. Language game menyatakan bahwa bahasa hanya bisa dipahami, dengan tepat, dalam konteks pemakaiannya (game). Sehingga, menerjemahkan satu bahasa ke bahasa lain pasti ada bagian yang tidak akurat, tidak tepat. Lyotard menyebut perbedaan antara beragam bahasa itu sebagai “different” yang merupakan bentuk dari antinomi.

Ringkasan Batas-Batas

Mari kita ringkas, untuk sementara, batas-batas filsafat. Pertama, Hegel menyatakan bahwa batas filsafat adalah tidak ada. Karena pengetahuan manusia, termasuk filsafat, terus menerus bergerak menuju “pengetahuan absolut.” Kedua, Russell menyatakan batas-batas filsafat adalah uji empiris. Meski demikian, filsafat tetap punya peran besar dengan melakukan kajian kritik. Ketiga, Kant menerapkan kajian kritik yang menemui batas-batas filsafat berupa antinomi atau paradoks. Dengan demikian, kita masih tidak menemukan kata sepakat tentang batas-batas filsafat.

Heidegger melangkah lebih jauh untuk mengatasi antinomi dari Kant dengan cara mendestruksi filsafat, khususnya metafisika. Pendekatan Heidegger adalah fenomenologi eksistensial, yang sampai sekarang, berkembang menjadi pendekatan hermeneutika.

Fenomenologi Eksistensial Heidegger

Heidegger meng-kritik filsafat Barat yang berniat membahas “being” tapi dengan melupakan “being.” Sejak jaman Plato sampai Nietzsche, menurut Heidegger, filsafat telah melupakan being. Filsafat harus kembali membahas being (atau wujud).

Heidegger membedakan being (atau wujud) menjadi dua. Pertama, wujud ontical yang merupakan wujud yang hadir apa adanya. Dan kedua, wujud ontological yang merupakan wujud sejati apa adanya, bagaimana suatu wujud hadir, dan wujud yang menjadi sumber. Kita bisa memikirkan wujud ontical. Sementara, wujud ontological, kita hanya bisa memaknai dan mendekatinya. Selalu ada perbedaan antara wujud ontological dengan wujud ontical. Heidegger menyebut perbedaan ini sebagai “perbedaan ontologis.”

Heidegger memulai analisis fenomenologi eksistensial dengan menciptakan istilah wujud manusia sejati sebagai “dasein.” Manusia sebaga dasein selalu menemukan dirinya sebagai being-in-the-world atau wujud-dalam-dunia. Ke arah mana pun dasein menghadap, dia, selalu berada dalam dunia. Dasein tidak bisa memisahkan diri dari dunia. Percuma saja, kita mengasumsikan, bahwa kita bisa hidup tanpa dunia. Sama percumanya, kita menganalisis dunia yang terpisah dengan dasein (dan dunia lainnya).

Manusia bebas berpikir apa pun. Namun pikiran kita selalu terbatas ada dalam dunia. Sehingga pikiran manusia sejatinya adalah “memaknai” dunia. Semua pikiran manusia selalu melibatkan satu dan lain cara yang merupakan “memaknai” sesuatu. Tidak ada pemikiran yang benar-benar terbebas dari “memaknai.” Fenomenologi yang mengakui adanya ikatan (pikiran) manusia dan dunia ini selanjutnya kita kenal sebagai fenomenologi eksistensial.

Istilah dunia di atas pelu kita maknai secara luas. Dunia bermakna dunia fisik, dunia kerja, dunia komputer, dunia digital, dunia imajinasi, dan dunia lain-lainnya.

Dengan demikian batas-batas filsafat, menurut Heidegger, adalah kemampuan “memaknai” yang tidak terbatas. Dalam memaknai, Heidegger mencatat pentingnya rasa gelisah. Manusia adalah wujud yang senantiasa gelisah dengan masa depan wujudnya. Manusia selalu mengantisipasi masa depan – dengan rasa gelisah. Gelisah untuk memastikan masa depan yang lebih baik. Gelisah memikirkan nasib umat manusia. Gelisah memikirkan ancaman perusakan iklim. Gelisah memikirkan korupsi yang makin menjadi-jadi. Gelisah bermakna negatif dan positif.

Begitu besarnya peran “memaknai” atau interpretasi dalam filsafat pasca Heidegger maka mendorong lahirnya hermeneutika. Sebuah filsafat yang mendalami seluk-beluk interpretasi.

Russell tidak banyak komentar terhadap Heidegger. Padahal mereka hidup sejaman sampai akhir abad 20. Russell hanya sedikit komentar bahwa Heidegger adalah filsuf yang aneh. Filsuf yang mengandalkan analisis terhadap rasa gelisah. Heidegger menimpali dengan menyindir adanya filsuf yang malas untuk berpikir.

Yang menarik dari filsafat adalah mereka bebas saling kritik, bahkan sampai kritik yang sangat pedas. Tetap saja, filsafat generasi berikutnya bisa mengambil pelajaran dari saling kritik mereka.

Sejak jaman Heidegger menerbitkan bukunya di 1927, filsafat mulai bergerak dari fokus metafisika menjadi ontologi. Pergeseran ini mendapat dukungan angin segar dari pemikir postmodern, khususnya Derrida. Metafisika makin terpojok di ruang sempit samar-samar dunia filsafat.

Dunia mendapat kejutan besar ketika salah satu tokoh postmodern, yaitu Deleuze (1925 – 1995), mengatakan, “Saya adalah metafisikawan murni. Apa asyiknya filsafat tanpa metafisika?”

Filsafat Difference Deleuze

Deleuze sangat kreatif. Kemampuannya membaca sejarah filsafat begitu mempesona. Kemudian, Deleuze memodifikasi sejarah filsafat menjadi sistem filsafat yang baru dan orisinal. Deleuze mendefinisikan filsafat sebagai menciptakan konsep-konsep baru. Dan konsep-konsep baru ini, dalam contoh kasus Deleuze, bisa kita peroleh dengan cara membalik konsep-konsep yang sudah ada dalam sejarah filsafat.

Deleuze membalik prioritas “identitas” terhadap “difference.” Sejak awal sejarah, khususnya sejak era Aristoteles, identitas mendapat posisi paling utama. Deleuze membaliknya menjadi difference adalah yang utama, lalu diikuti oleh identitas.

Meja adalah meja. Kursi adalah kursi. Meja memiliki identitas sebagai meja. Sedangkan kursi mempunyai identitas sebagai kursi. Identitas meja, atau kursi, adalah yang paling utama. Karena ada identitas, kemudian, kita menciptakan konsep difference: meja berbeda dengan kursi. Dalam contoh ini, difference muncul karena ada identitas.

Deleuze membalik konsep seperti itu. Yang benar justru karena ada difference maka muncul identitas. Jadi, difference lebih utama dari identitas.

Meja adalah totalitas dari seluruh difference yang bukan meja. Meja adalah totalitas bukan kursi, bukan lantai, bukan dinding, dan bukan lain-lainnya. Seluruh difference inilah yang paling utama, yang kemudian, membentuk identitas meja.

Deleuze lebih memilih simbol difference x adalah dx, bukan negasi x, bukan -x. Sehingga totalitas dari difference adalah, dalam rumus matematika, integral kalkulus dari dx. Dan, proses integrasi ini adalah difference-in-itself atau perbedaan-dalam-diri.

Konsep difference ini, menurut saya, mempunyai beberapa keunggulan dibanding identitas. Pertama, eksistensi bergantung kepada eksistensi yang lain. Kedua, dinamika bersama yang lain menjadi penting. Ketiga, dengan difference ini, sepatutnya kita tidak bersikap egois. Segala yang ada saling terhubung.

Selanjutnya, Deleuze membahas konsep waktu. Pertama, adalah waktu sirkular. Bulan berputar mengelilingi bumi, setiap hari. Matahari terbit kembali, setiap pagi. Waktu berjalan, lalu, kembali seperti ke titik awal lagi. Kedua, konsep waktu sebagai imajinasi. Waktu sejatinya tidak ada. Waktu adalah imajinasi yang diciptakan oleh manusia. Dan, terakhir, konsep waktu yang kreatif. Yaitu, waktu adalah pengulangan dari difference secara abadi. Deleuze menyebutnya sebagai repetition-for-itself atau pengulangan-untuk-diri.

Sampai di sini, kita bisa bertanya di mana batas-batas filsafat? Karena filsafat adalah proses kreatif menciptakan konsep-konsep baru yang berbeda-beda maka batas-batas filsafat adalah tidak ada. Selama ada konsep baru maka selalu ada filsafat. Selama manusia berpikir kreatif maka manusia menghidupkan kembali filsafat.

Heidegger, dan murid-muridnya, yang menggaungkan proyek destruksi metafisika, tidak berhasil menggusur metafisika difference dari Deleuze ini. Karena proyek destruksi itu berdasar pada konsep difference ontological. Sementara, konsep difference dari Deleuze, justru, selaras dengan difference ontological itu. Jadi, metafisika masih tetap berjaya.

Vattimo mengusulkan konsep “weak thought” yang bisa menjadi solusi untuk semua itu.

Weak Thought Vattimo

Pada akhir abad 20, Vattimo menggulirkan konsep “weak-thought” (pikiran-lemah). Apa pun hasil pikiran kita, apa pun konsep kita, apa pun hasil kontemplasi kita tetap ada sisi lemahnya. Meski demikian, sisi lemah ini bukanlah suatu kelemahan. Justru, karena kita yakin ada sisi lemah maka kita akan berjuang untuk terus memperbaiki diri. Sehingga sisi lemah ini, sejatinya, justru menjadi kekuatan dari konsep itu sendiri.

Charles Taylor, pada awal abad 21, mengenalkan konsep struktur-dunia tertutup versus struktur-dunia terbuka. Konsep weak-thought dari Vattimo, tampak, selaras dengan struktur-dunia terbuka. Yaitu struktur dunia yang terbuka dengan konsep-konsep baru. Baik konsep baru tersebut bersifat imanen atau transenden. Dengan demikian, struktur-dunia terbuka mampu untuk terus bergerak maju.

Sementara, struktur-dunia tertutup sudah merasa konsepnya kuat dan sempurna. Sehinga tidak perlu ada dinamika. Masalah makin rumit ketika struktur-dunia tertutup ini berbenturan dengan ragam perbedaan. Resiko terjadi kekerasan menjadi besar.

Vattimo menyusun weak-thought berangkat dari dialektika Hegel dan dialektika-reason Sartre. Ditambah lagi dengan difference ontological dari Heidegger dan dekonstruksi dari Derrida maka wajar saja kita harus menerima konsep weak-thought. Semua pengetahuan kita, konsep kita, tidak pernah berdiri mandiri secara mutlak. Nilai kebenaran dari pengetahuan kita tergantung dari sistem verifikasi. Sedangkan sistem verifikasi kita dipengaruhi oleh pengalaman dan interpretasi kita. Maka suatu pengetahuan dinyatakan benar karena hasil verifikasinya benar. Jika kita menerapkan sistem verifikasi yang berbeda maka, mungkin saja, hasil verifikasinya ikut berbeda. Tentu saja, tugas kita adalah menyempurnakan pengetahuan secara terus-menerus.

Dengan konsep weak-thought maka di mana batas-batas filsafat? Tidak ada batas bagi filsafat. Setiap konsep filsafat adalah weak-thought sehingga masih ada peluang untuk disempurnakan. Dan, ketika, konsep itu sudah sempurna, sejatinya juga merupakan weak-thought. Maka proses penyempurnaan terus berlangsung tanpa henti, tanpa batas.

Dengan karakter konsep filsafat yang dinamis ini saya merumuskan konsep pancajati yang menempatkan karakter dinamis sebagai yang paling utama.

Konsep Pancajati

Lima karakter kebenaran sejati, saya rangkum, menjadi pancajati. Pertama, karakter kebenaran adalah dinamis. Kebenaran konsep filsafat, misalnya, bersifat dinamis. Konsep yang benar untuk hari ini, di tempat ini, bisa berubah berdasar ruang dan waktu. Begitu juga kebenaran sains terus berubah secara dinamis. Klaim kebenaran dogmatis perlu terus diselidiki.

Kedua dan ketiga, karakter kebenaran adalah merupakan hasil verifikasi berdasar cakrawala tertentu. Klaim terhadap suatu kebenaran perlu diverifikasi. Misal kebenaran pernyataan rasional perlu diverifikasi berdasar aturan yang berlaku dalam cakrawala rasional. Begitu juga kebenaran empiris perlu diverifikasi secara empiris dengan standar yang berlaku pada cakrawala sains misalnya.

Tentu saja, hasil verifikasi bisa saja afirmasi atau negatif. Verifikasi dengan standar cakrawala yang berbeda, berpeluang, memberikan hasil yang berbeda. Pernyataan bahwa matahari terbenam setiap 24 jam benar untuk penduduk di bumi. Sedangkan bagi orang yang berada di bulan atau Mars, misalnya, akan memberikan hasil verifikasi yang salah. Hal ini disebabkan oleh konteks cakrawala pembahasan yang berbeda.

Keempat dan kelima, karakter kebenaran bergantung kepada interpretasi dan pengalaman. Verifikasi kebenaran suatu konsep tergantung kepada cakrawala. Sementara, cakrawala itu sendiri berkembang dari pengalaman dan interpretasi masing-masing individu. Karena pengalaman setiap orang adalah dinamis maka kebenaran itu juga dinamis.

Apa jawaban pancajati terhadap pertanyaan batas-batas filsafat? Batas-batas filsafat adalah dinamika itu sendiri. Dengan demikian, batas-batas filsafat adalah tidak ada. Selama manusia terus bergerak dinamis maka filsafat juga ikut dinamis.

Kesimpulan Batas Filsafat

Sebagian besar pembahasan kita tentang batas filsafat menguatkan bahwa batas-batas filsafat adalah tidak ada. Sedikit berbeda adalah Russell. Di satu sisi, Russell setuju bahwa filsafat tidak ada batas dengan melakukan kajian kritik, di sisi lain, filsafat dibatasi oleh penemuan sains yang sudah terkonfirmasi dengan baik.

Russell sendiri adalah pendiri aliran filsafat terbesar di dunia yaitu filsafat analytic yang banyak berkembang di US, UK, Austria, Australia, dan lain-lain. Sehingga, keyakinan bahwa filsafat, di satu sisi, dibatasi oleh empirisme ilmiah, diyakini secara luas. Di era kontemporer ini, filsafat analytic mengembangkan banyak pemikiran spekulatif berdasar hasil riset empiris terbaru. Dengan fakta ini, bahkan kita bisa mengatakan bahwa batas-batas filsafat adalah empirisme sebagai titik berangkat dan sekaligus sebagai titik akhir.

Sains empiris paling maju saat ini, salah satunya, adalah fisika. Mari kita coba mengkaji, salah satu, penemuan paling hebat yaitu fisika quantum atau mekanika quantum. Fisika quantum secara khusus mendalami penelitian tentang partikel-partikel subatomik semisal elektron, kuark, foton, dan lain-lain. Fisika quantum berbeda dengan pendahulunya yaitu fisika klasik Newton. Dalam pandangan fisika klasik, alam semesta ini diatur oleh aturan yang determiistik, semisal hukum Newton. Sementara, fisika quantum justru menyatakan bahwa alam semesta, terutama subatomik, bersifat tidak deterministik.

Sifat tidak deterministik ini membingungkan para peneliti. Terjadi beragam interpretasi terhadap quantum, dan alam semesta. Pertama, interpretasi Copenhagen menyatakan bahwa kita tidak akan pernah bisa memastikan alam quantum. Kita hanya bisa estimasi secara probabilistik – karena benar-benar tidak deterministik.

Kedua, interpretasi hidden-variable, yang didukung Einstein, menyatakan bahwa kita tidak bisa memprediksi quantum secara pasti karena masih ada yang tersembunyi, saat ini. Suatu saat nanti, jika hidden-variable itu sudah terungkap maka kita akan bisa memprediksi quantum dengan tepat. Akhir abad 20, teorema Bell berhasil membuktikan bahwa interpretasi hidden-variable adalah salah. Tetapi, para pendukungnya, tampaknya, masih tetap bersikeras hendak menemukan hidden-variabel itu.

Ketiga, interpretasi multi-world yang menyatakan bahwa sifat tidak deterministik itu hanya karena kita melihatnya di satu dunia ini. Sejatinya, semua prediksi quantum itu terjadi seluruhnya secara deterministik di banyak dunia, multi-world. Hanya saja, bagian mana yang terjadi dunia ini, dan bagian mana yang terjadi di dunia lain tampak tidak deterministik. Jika kita melihat dari seluruh dunia yang ada maka kejadian itu adalah deterministik. Interpretasi multi-world ini tampak menarik. Hanya saja kita sulit verifikasi keabsahannya.

Keempat, interpretasi runtuh-spontan yang menyatakan bahwa terjadi keruntuhan secara spontan. Sehingga, bila kita memprediksi dalam rentang waktu yang cukup lama akan tampak tidak deterministik. Sedangkan bila kita mengetahui kondisi sesaat sebelum “kolaps” maka kita akan bisa memastikan arah “kolaps” tersebut. Karena kolaps itu terjadi spontan maka tidak cukup waktu bagi kita untuk mengamati – apalagi memprediksinya. Bagi para peneliti, dan pengamat, akan tetap tampak tidak deterministik.

Dari uraian di atas, tampak bahwa sains empiris, semisal fisika, tidak punya batas deterministik. Batas penelitian fisika quantum adalah tidak ada batas, tidak deterministik. Apa lagi penelitian sains sosial, lebih luas, dan lebih tidak deterministik lagi.

Sehingga, meski pun Russell membatasi filsafat dengan empirisme, hasil akhirnya, tetap saja, batas-batas filsafat adalah tidak ada.

Lalu, apa manfaatnya kita mengkaji filsafat yang tanpa batas itu? Manfaat filsafat akan kita bahas di bagian berikutnya.

Lanjut ke Manfaat Filsafat
Kembali ke Philosphy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: