Blended Learning: Optimisme Dunia Pendidikan

Dunia pendidikan berjalan dengan memikul beban teramat berat akibat pandemi. Sejatinya, semua sisi kehidupan umat manusia, saat ini, sama-sama terimbas dampak pandemi. Dunia pendidikan adalah salah satu bidang yang amat berat kesulitannya. Untungnya, teknologi digital, saat ini sudah berkembang pesat. Maka kita punya harapan besar untuk bisa membangun kembali dunia pendidikan dengan memanfaatkan teknologi digital dan teknologi online secara bijak. Blended learning menjadi salah satu harapan di dunia pendidikan.

Berikut ini saya sajikan, dalam bentuk tanya-jawab wawancara, beberapa ide tentang blended learning.

Tanya (T): Di saat pandemi ini, banyak siswa dan sekolah yang menyelenggarakan pembelajaran secara daring (online). Paman APIQ sendiri sudah merintis model pembelajaran online lebih dari 20 tahun. Bagaimana tanggapan paman dengan situasi seperti ini? Dan, apakah itu bisa kita sebut sebagai blended learning?

Jawab (J): Benar, saat ini, kita berada dalam situasi sulit pandemi. Di satu sisi, benar-benar menyulitkan bagi siswa, guru, orang tua, sekolah, dan negara. Di sisi lain, kesulitan ini, justru menjadi peluang besar bagi kita untuk melejitkan dunia pendidikan Indonesia.

Saya akan sedikit cerita pengalaman saya bereksperimen dalam blended learning di tahun 2000. Saat itu, internet masih susah. Di sekolah belum ada internet. Di kampus hanya ada internet di tempat-tempat khusus, misal lab komputer. Di dunia bisnis, hanya perusahaan tertentu yang terhubung dengan internet. Dan, tentu saja, handphone (mobile phone) masih terbatas dan mahal.

Dengan keterbatasan teknologi semacam itu, saya mencoba blended learning dengan menggabungkan proses pembelajaran konvensional dan proses pembelajaran memanfaatkan teknologi internet.

Saat itu, saya hanya memanfaatkan email (surel) dan web untuk pembelajaran. Di luar dugaan, siswa begitu antusias bisa belajar melalui internet. Saya perhatikan siswa begitu senang dengan hanya mempunyai akun email. Dan, lebih gembira lagi, email itu bisa mereka manfaatkan untuk belajar.

Situasi berbeda dengan saat ini. Beberapa anak justru ada yang terbebani karena beratnya belajar secara online. Mereka bosan dan lelah. Hasil pembelajaran tidak maksimal. Kita perlu solusi yang tepat untuk situasi ini. Padahal teknologi justru makin canggih dan mudah di masa kini.

T: Dengan pengalaman Paman seperti itu maka apakah blended learning di masa lalu berbeda dengan blended learning di jaman sekarang?

J: Tapat, selalu berbeda antara blended learning masa lalu dan masa kini. Selalu ada dinamika. Bahkan untuk masa depan, blended learning, saya yakin, beda juga. Secara umum, blended learning adalah proses pembelajaran yang menggabungkan proses pembelajaran konvensional dengan pembelajaran berbasis teknologi digital online. Karena terjadi lompatan “disrupsi” teknologi maka juga akan ada lompatan bentuk model blended learning.

T: Kita menyaksikan perubahan teknologi dan perubahan perilaku para siswa, terutama gen milenial. Bagaimana Paman melihat perkembangan blended learning?

J: Pengamatan yang bagus itu: perubahan perilaku siswa. Dalam menentukan pilihan model blended learning, kita perlu menempatkan siswa sebagai yang paling utama. Kemudian, kita mempertimbangkan berbagai pilihan teknologi mutakhir yang tersedia. Dan, tentu saja, kita perlu mendesain kurikulum yang tepat, khususnya di masa pandemi ini. Saya mengusulkan kurikulum yang “sedikit tapi menggigit.”

Perkembangan blended learning, saat ini, menurut saya, kita belum menemukan model yang paling tepat. Perlu kajian lebih mendalam.

Pada tahun 2008an saya mencoba blended learning berbasis video, misal melalui youtube. Meski kita bisa mengakses youtube ternyata kecepatan internet di Indonesia belum memadai waktu itu. Saya bergeser ke web. Dan, tahun 2008, akses web di Indonesia, tepatnya Bandung, sudah bagus. Saya mengajar mahasiswa melalui tatap muka di kelas, dengan bantuan media elektronik tentunya. Mahasiswa berdiskusi dengan saya dan mahasiswa lainnya secara langsung. Mereka, para mahasiswa, presentasi di depan kelas.

Di saat yang sama, saya meminta para mahasiswa mengirimkan semua portofolio mereka ke web saya. Semua tugas kuliah, ujian tengah semester, dan ujian akhir semester, saya minta untuk dikirimkan ke web. Semua berjalan dengan lancar. Saya memberi kemudahan kepada mahasiswa, mereka, bisa memperbaharui (update) tugas-tugas mereka kapan saja. Bagi saya, sebagai dosen, memudahkan untuk mengevaluasi hasil belajar para mahasiswa. Tambahan lagi, hasil belajar mahasiswa ini bisa dibaca oleh seluruh civitas akademika ITB, bahkan oleh siapa pun.

Baru pada tahun 2012, saya perhatikan akses internet untuk media video menjadi mudah diakses di Indonesia, khususnya Bandung.

T: Apakah model blended learning yang sukses di satu tempat bisa diterapkan untuk tempat lain?

J: Saya kira tidak bisa. Misalnya, tahun 2012, di Bandung sudah mudah untuk akses video melalui internet. Sementara, di desa, barangkali masih sulit. Bahkan di tahun ini, 2021, akses internet di desa berbeda jauh dengan akses di kota. Saya pernah mengkaji nilai ketimpangan berbagai wilayah di Indonesia dalam akses internet.

T: Dengan perbedaan setajam itu dalam akses teknologi, bisa disebut sebagai ketimpangan, bagaimana kita bisa menerapkan blended learning dengan sukses dalam skala nasional?

J: Sulit, tapi kita bisa. Saya optimis. Dunia pendidikan Indonesia akan makin maju dengan menerapkan blended learning yang tepat. Ditambah lagi, kita punya menteri pendidikan, Mas Nadiem, yang sangat kuat dalam teknologi digital.

Model-Model Blended Learning

T: Apakah ada model blended learning yang paling tepat untuk Indonesia?

J: Ada banyak model blended learning. Tampaknya, tidak ada kepastian model mana yang paling cocok untuk Indonesia. Agar berhasil, menerapkan blended learning, kita perlu mengkajinya, menyusun strategi, menerapkan, dan kemudian melakukan koreksi secara dinamis.

T: Menurut Paman, model yang mana paling tepat bagi Indonesia?

J: Model yang paling tepat adalah yang paling memberikan hasil terbaik tergantung dengan kondisi siswa, tenaga pendidik, dan sosial budaya. Untuk Indonesia, saya kira, kita perlu membagi Indonesia menjadi 3 wilayah atau lebih. Misal, wilayah A adalah wilayah yang di desa, di mana, sulit akses internet, bahkan mungkin saja sulit mendapat akses energi listrik. Bisa jadi di wilayah tersebut lebih kuat bahasa daerah dari bahasa Indonesia, apa lagi, bahasa Inggris.

Wilayah B adalah wilayah semacam kota kecil semisal kota, kabupaten, atau kecamatan. Umumnya, wilayah B sudah tersedia akses internet. Akses listrik terjamin. Namun masih ada beragam kendala teknis di wilayah B ini.

Sementara wilayah C adalah wilayah kota besar semisal Jakarta, Bandung, Medan, Surabaya dan lainnya. Akses internet sudah mudah dan tersedia banyak layanan. Sumber-sumber pembelajaran juga tersedia dalam jumlah berlimpah di kota besar. Namun, tentu saja, ada masalah khas bagi orang-orang di kota.

Masing-masing dari wilayah di atas akan membutuhkan model blended learning yang bisa saja berbeda-beda.

T: Nah, seperti apa itu lebih detilnya, Paman?

J: Mudahnya, secara prinsip, ada dua model blended learning: utamakan tatap muka (face-to-face-driver) dan utamakan online (online-driver).

Hipotesis awal kita adalah wilayah A, sekolah yang di desa, akan lebih tepat menerapkan model utamakan-tatap-muka. Pembelajaran secara umum, sebagian besar berlangsung tatap muka. Sedangkan hanya sebagian kecil yang belajar melalui online atau media digital.

Sementara wilayah C, kota besar, akan lebih tepat dengan model utamakan-online.

T: Tetapi, sekarang, sedang pandemi, apakah bisa mengutamakan tatap muka?

J: Betul. Pandemi harus menjadi pertimbangan utama. Kita seperti dipaksa untuk menerapkan model utamakan-online. Apakah harus seperti itu? Saya kira tidak. Memang butuh kajian mendalam untuk menjawab lebih tepatnya.

Sebelum itu, mari kita diskusikan dulu beberapa alternatif model blended learning. Rotation (rotasi) di mana siswa berganti jadwal secara periodik antara kelas tatap muka dengan kelas online.

Flex (lentur) di mana sebagian besar dari kurikulum disampaikan secara online dan guru siap sedia bila sewaktu-waktu diperlukan untuk tatap muka atau memberi dukungan tertentu.

Labs di mana sebagian besar kurikulum disampaikan secara online atau digital di ruang laboratorium atau ruang khusus. Biasanya tetap dilaksanakan kelas tatap muka di waktu yang terjadwal.

Self-blend (mandiri) di mana siswa memilih sendiri kebutuhan belajar secara online sesuai tingkat dan kemajuan masing-masing.

Kita bisa juga membuat kombinasi dari model-model di atas sehingga membentuk model yang baru. Bahkan kita juga bisa berkreasi mendesain model blended learning yang baru, yang unik, yang khas dengan wilayah kita sendiri.

Saya sendiri meyakini bahwa konsep blended learning ini bersifat terbuka. Artinya, penggunaan teknologi bisa saja berubah sesuai perkembangan jaman. Termasuk, bila wilayah sekolah dekat dengan hutan, barangkali bisa saja belajar itu di-blend dengan pembelajaran di hutan, pembelajaran di sungai, di sawah, atau lainnya.

Kembali kepada situasi pandemi, apakah kita dipaksa untuk sepenuhnya belajar secara online? Saya melihatnya, kita dipaksa untuk menerapkan blended learning. Dari pengalaman blended learning, yang terpaksa karena pandemi ini, kita memperoleh banyak pelajaran dan pengalaman yang menarik.

T: Pelajaran penting apa saja yang kita peroleh selama menerapkan blended learning di masa pandemi?

J: Pertama, kita jadi tahu bahwa penyebaran teknologi di negara kita memang timpang. Di wilayah kota besar, tersedia hampir semua teknologi yang diperlukan. Sementara, di desa-desa pelosok, sangat terbatas kemampuan akses teknologi. Kedua, teknologi saja tidak cukup menjadi solusi. Ambil contoh di kota, yang teknologinya memadai, proses dan hasil belajar secara online masih banyak masalah. Kita perlu pertimbangan dan strategi yang lebih luas.

Ketiga, budaya digital menjadi modal utama untuk maju. Guru dan orang dewasa banyak yang gagap dengan teknologi digital yang baru. Sementara, anak-anak milenial cenderung lebih mudah beradaptasi. Bagaimana pun ada resiko-resiko baru di dunia digital termasuk penipuan dan bulying. Keempat, kita perlu komitmen kuat untuk menjalankan blended learning. Terutama komitmen anggaran untuk kegiatan belajar mengajar yang masih baru ini. Kelima, kita perlu merenungkan kembali apa makna hakiki dari pendidikan sejati.

Teknologi Blended Learning

T: Barangkali kita fokus, untuk kali ini, ke masalah teknologi. Apa teknologi terbaik untuk blended learning?

J: Semua teknologi adalah baik untuk blended learning dan semua teknologi adalah buruk untuk blended learning. Dalam hal ini, teknologi bagai pedang bermata dua, bisa membantu, di saat yang sama, bisa membuat luka. Sehingga yang terpenting adalah bagai mana kita memanfaatkannya.

T: Bisakah disebutkan teknologi tertentu sebagai contohnya?

J: Kita bisa membagi teknologi menjadi sinkron dan asinkron (tidak sinkron). Sinkron adalah teknologi yang memfasilitas kegiatan belajar mengajar secara sinkron yaitu waktu guru mengajar, harus secara bersamaan, siswa belajar dengan mendengar dan melihatnya. Misal Zoom, Meet, video call termasuk sinkron. Sedangkan asinkron justru waktu guru mengajar tidak serentak dengan waktu belajar siswa. Misal guru membuat rekaman mengajar untuk kemudian di-share ke siswa.

Belajar secara konvensional, tatap muka di kelas, adalah belajar secara sinkron. Maka ketika pandemi, belajar secara online, banyak yang menerapkan secara sinkron juga. Hal ini berdampak kelelahan yang luar biasa. Belajar di kelas selama 2 jam tatap muka terasa baik-baik saja bagi siswa. Sementara, belajar online 2 jam, dengan menatap layar hp, tentu sangat melelahkan.

Kita perlu lebih mendayagunakan kekuatan belajar asinkron. Guru bisa membuat materi lebih awal. untuk kemudian, siswa bisa belajar dengan rentang waktu yang lebih fleksibel.

T: Apakah sekolah, atau kementrian, perlu menciptakan teknologi khusus untuk blended learning?

J: Ide menarik itu. Saya kita perlu kajian khusus untuk menjawabnya. Dugaan saya, kementrian perlu menciptakan teknologi khusus untuk sebagian kecil blended learning. Sementara, sebagian besar blended learning memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia secara umum.

Budaya Digital

T: Ketika teknologi saja tidak memadai sebagai solusi maka apa saja yang harus kita siapkan untuk suksesnya blended learning?

J: Salah satu yang paling penting adalah budaya belajar mengajar di dunia digital. Para siswa, anak-anak milenial, terlahir dalam dunia digital. Sehingga para siswa dengan cepat bisa beradaptasi dengan blended learning. Sementara para guru, terutama yang senior, bisa saja tergagap oleh teknologi baru.

T: Jika anak-anak milenial bisa beradaptasi dengan teknologi, bagaimana mereka bisa bosan dalam belajar online?

J: Pengamatan yang bagus. Kesalahan bukan pada siswa. Tetapi kepada model belajar online itu sendiri. Banyak kejadian, yang menganggap belajar online itu hanya memindahkan model belajar konvensional ke media online digital. Tentu saja itu akan gagal. Kita butuh budaya digital dalam blended learning.

T: Seperti apa budaya digital itu?

J: Pertama, kita, sebagai guru, perlu punya rencana dan strategi untuk suksesnya blended learning. Misal, kita menetapkan, berdasar beberapa kajian, berapa porsi proses belajar sinkron dan asinkron. Perkiraan saya, seharusnya, lebih banyak asinkron. Dengan demikian siswa punya pilihan belajar lebih fleksibel.

Kedua, bagaimana kita bisa mengajar dengan efektif. Bukan hanya memberi pertanyaan atau memberi tugas ke siswa. Banyak yang terjadi adalah guru hanya memberi pertanyaan dan tugas ke siswa. Tentu saja siswa, dan orang tua, merasa terbebani.

Ketiga, bagaimana kita bisa memastikan siswa berhasil mengakses proses pembelajaran. Dan “program promosi” apa yang bisa kita lakukan untuk terus menjaga minat siswa agar aktif dengan pembelajaran online.

Dan masih banyak yang bisa perbaiki. Salah satu yang penting adalah membuka saluran feedback dari siswa dan orang tua – serta masyarakat umum. Dengan feedback ini, kita bisa terus memperbaiki blended learning.

Komitmen Anggaran

T: Mempertimbangkan perlunya proses transformasi budaya dan pengembangan teknologi maka berapa besar anggaran untuk blended learning?

J: Untuk skala lokal atau nasional?

T: Kedua-duanya, lokal dan nasional.

J: Baik, mudah saja untuk menjawab itu. Anggaran yang kita perlukan adalah perlu kajian dulu.

Saya kira, anggarannya memang cukup besar. Bila kita berhasil menerapkan blended learning maka anggaran besar itu tidak masalah. Karena hasil dari blended learning adalah mengantarkan generasi muda ke masa depan cerah. Jauh lebih bernilai dari anggaran yang dikeluarkan.

Lagi pula, blended learning akan berhasil menghemat banyak hal dan memberikan efisiensi yang tinggi. Beberapa lembaga bisnis sudah mecoba menerapkan blended learning dengan baik dan menguntungkan. Memang, untuk layanan umum pendidikan kita perlu lebih cermat lagi. Saya yakin, kita bisa.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: