Pengetahuan, Kesesatan, dan Opini

Pengetahuan, khususnya sains dan teknologi, kini sedang mencapai masa kejayaan. Ledakan teknologi digital merambah ke seluruh dunia. Apakah itu kabar baik? Kabar baik bagi yang diuntungkan. Atau bagi yang sengaja mengeruk keuntungan. Tetapi bisa jadi kabar buruk bagi mereka yang dipinggirkan. Bukankah seharusnya pengetahuan menjadi kabar baik bagi seluruh umat manusia? Benar. Namun pengetahuan bisa terperosok ke kesesatan. Yang membawa manusia ke lembah bencana.

Pengetahuan cinta dan cantik berbeda dengan pengetahuan sains dan teknologi. Pengetahuan cinta, umumnya, selalu bersifat baik. Bahkan kebaikan hidup di alam semesta ini berkah dari cinta. Begitu juga pemandangan alam semesta sudah cantik alami memancarkan cinta. Dari dulu kala.

Pada bagian ini kita akan membahas pengetahuan lengkap dengan bayangan hitamnya berupa kesesatan yang diiringi samar-samar harapan yaitu opini. Dengan mencermatinya, kita berharap bisa terus mendorong kemajuan pengetahuan.

Definisi Pengetahuan

Pengetahuan adalah susunan dari kebenaran-kebenaran. Dengan susunan yang rapi maka kita lebih mudah untuk memahami kebenaran. Dan memungkinkan dilahirkan kebenaran-kebenaran baru. Sehingga, ilmu mempunyai karakter untuk terus mengembangkan diri. Sebagaimana pernah kita bahas, kebenaran-kebenaran meliputi kebenaran aksiomatik, yang terjamin selalu benar, dan kebenaran probabilistik, yang diharapkan bernilai benar.

Kesesatan adalah pengetahuan, yang pada analisis akhir, bukan kebenaran. Kesesatan mirip dengan pengetahuan tetapi sejatinya bukan pengetahuan. Misal, contoh kesesatan, “Rahasia Ilmu Menggandakan Uang.” Sudah pasti itu kesesatan. Ilmu menggandakan uang sudah pasti tidak benar. Pertama, bila berhasil menggandakan uang dengan nomor seri sama persis dengan uang yang sudah ada maka bersalah melanggar hukum, aspek legal. Kedua, bila berhasil menggandakan uang dengan nomor seri yang baru maka itu uang palsu yang melanggar hukum, aspek legal. Ketiga, bila tidak berhasil menggandakan uang maka itu kebohongan yang nyata.

Opini adalah pernyataan yang kebenarannya di tengah-tengah. Level keyakinan sekitar 50%. Opini mungkin saja benar dan mungkin saja salah. Tetapi opini diformulasikan dengan cara yang sama valid sebagaimana ilmu pengetahuan.

Kita akan lebih banyak membahas pengetahuan dan beberapa bagian opini. Sedangkan kesesatan tidak kita bahas secara langsung. Karena kesesatan bisa kita kenali dengan cara mengenali pengetahuan itu sendiri. Pengetahuan yang menyeleweng dari kebenaran itulah kesesatan.

Pengetahuan Aksiomatik selalu Benar

Wajar saja bila kita menghendaki pengetahuan yang bersifat pasti benar. Dengan jaminan pasti benar maka kita bisa meyakini sepenuhnya. Dan, untungnya, memang ada pengetahuan yang selalu bernilai benar, yaitu pengetahuan aksiomatik. Contoh paling nyata pengetahuan aksiomatik adalah matematika, selalu benar.

Proses pengembangankan aksiomatik, salah satu caranya, adalah dengan metode deduksi. Yaitu dari premis-premis dasar yang teruji kebenarannya kemudian ditarik kesimpulan spesifik yang dijamin bernilai benar. Metode yang paling terkenal adalah deduksi dengan metode silogisme.

Misal sudah terbukti bahwa,

A : Setiap bilangan ganjil ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap.

Manusia dengan bantuan teknologi dan komputer makin canggih dalam melakukan perhitungan. Maka bilangan prima terbesar, yang ditemukan manusia, makin bertambah besar. Misalkan bilangan prima tersebut adalah P. Saat ini, tahun 2020, bilangan P terdiri lebih dari 23 juta digit angka. Barangkali tahun 2030 bilangan P terdiri dari 24 juta digit angka. Belum ada yang tahu. Tetapi, dengan deduksi kita bisa memastikan pengetahuan aksiomatik C berikut bernilai benar.

C: Jika P adalah bilangan prima terbesar yang ditemukan pada tahun 2050 maka P ditambah 5 menghasilkan bilangan genap.

Perhatikan kemampuan pengetahuan aksiomatik untuk mengantisipasi kejadian sampai tahun 2050 dan dipastikan benar. Bahkan, saat ini, kita tidak tahu berapakah bilangan P yang ditemukan pada tahun 2050 itu. Tetapi metode deduksi menjamin pengetahuan kita bernilai benar. Silogisme deduksi ini sudah dirumuskan dengan jelas lebih dari 2000 tahun yang lampau misal pada jaman Aristoteles.

A: Setiap bilangan ganjil ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap.
B: P yang merupakan bilangan prima terbesar adalah bilangan ganjil.

Kesimpulan
C: P yang merupakan bilangan ganjil bila ditambah 5 maka menghasilkan bilangan genap. (Sah dan pasti benar).

Pengetahuan agama juga merupakan pengetahuan aksiomatik yang selalu benar, sejauh referensi disepakati. Demikian juga dengan pengetahuan moral, legal, konsensus, dan lain-lain merupakan pengetahuan aksiomatik sejauh referensi disepakati.

A: Setiap orang yang beriman masuk surga.
B: Orang yang beramal adalah termasuk orang yang beriman.

Maka kesimpulan,
C: Orang yang beramal, pasti, masuk surga. (Benar dan sah).

Dengan asumsi bahwa premis A dan B, di atas, adalah benar maka silogisme untuk menarik kesimpulan bernilai sah dan menghasilkan kesimpulan yang benar. Pengetahuan deduktif dalam bidang agama ini dijamin selalu benar. Meski terjamin kita perlu hati-hati dalam menerapkan untuk realitas sehari-hari. Ketka kita hendak menilai seseorang sebagai “orang yang beriman” maka melibatkan proses penilaian intuitif praxis yang tidak terjamin kebenarannya. Artinya, pernyataan “Pak Eko adalah orang yang beramal,” nilai kebenarannya tidak terjamin. Bisa benar, bisa juga salah. Karena pernyataan tersebut bersifat partikular khusus berkenaan kepada kasus Pak Eko.

Kembali bisa kita tegaskan bahwa pengetahuan yang dikembangkan dengan metode deduksi membentuk pengetahuan aksiomatik yang terjamin bernilai selalu benar. Barangkali satu contoh lagi akan memperjelas kepastian kebenaran aksiomatik. Diadakan penelitian kepada seluruh gajah yang ada di seluruh kebon binatang di pulau Jawa. Diperoleh hasil berikut.

A: Semua gajah berkaki empat.
B: Bonita adalah salah satu gajah.

Kesimpulan,
C: Bonita berkaki empat. (Sah dan benar)

Pertanyaan selanjutnya bukan terhadap nilai kebenaran pengetahuan aksiomatik yang selalu benar. Tetapi manfaat pengetahuan aksiomatik diragukan. Misal pada contoh “Bonita adalah salah satu gajah” sudah terkandung informasi jelas bahwa dia adalah gajah yang berkaki empat. Maka tidak ada manfaatnya mengembangkan pengetahuan deduktif semacam itu. Lebih absurd lagi adalah ketika kita melakukan penelitian dan menunjukkan “Semua gajah berkaki empat” maka dalam pernyataan itu sudah terkandung bahwa Bonita berkaki empat.

Benar adanya bahwa pada contoh kasus si gajah Bonita memang pengetahuan aksiomatik secara deduktif tidak menambah manfaat. Tetapi pada kasus yang lain, pengetahuan aksiomatik melalui deduktif banyak bermanfaat. Misalnya bahwa bilangan prima terbesar P pasti tidak genap. Baik pada tahun 2050 atau tahun 3000 nanti tetap benar. Maka pengetahuan aksiomatik ini berguna untuk menguji apakah P benar-benar prima atau tidak prima, karena genap.

Pengetahuan Empiris Probabilistik

Era modern mendorong berkembangnya ilmu pengetahuan empiris yang kebenarannya bersifat probabilistik. Dengan kesadaran bahwa kebenaran ini bersifat sementara, maka sains dan teknologi terus bergerak maju untuk berinovasi. Bertrand Russell percaya bahwa perkembangan sains melalui metode induksi. Sementara Karl Popper, menolak induksi dengan mengajukan falsifikasi. Meski mereka sama-sama hidup di pertengahan abad 20, tampaknya mereka tidak menemukan kata sepakat. Bagaimana pun, semua pemikir serius, pasti menerima kebenaran universal dari pengetahuan aksiomatik melalui deduksi. (Derrida bisa sedikit kita kecualikan karena ide dekonstruksi diterapkan pada konteks yang berbeda).

Aristoteles, lebih dari 2000 tahun lalu, menekankan pentingnya empirisme. Ibnu Sina, 1000 tahun yang lalu, juga menguatkan peran empirisme. Bahkan Francis Bacon, 500 tahun lalu, berkeinginan kuat untuk merumuskan empirisme. Tapi dunia perlu filsuf besar Descartes serta Copernicus, disusul oleh Newton dan kawan-kawan untuk memantapkan fundamental empirisme sains modern – dan teknologi. Kebenaran empiris, yang tidak terjamin itu, justru menjadi keunggulan: inovasi tiada henti.

Berpikir induksi adalah jantung dari sains empiris, menurut Russell. Ketika kita melihat buah apel jatuh dari pohon maka terpikir semua benda yang dilepas dari atas akan jatuh menuju bawah. Dari satu pengamatan “berinduksi” ke seluruh kejadian umum, semua benda jatuh ke bawah. Tetapi pengamatan itu saja tidak cukup, seperti kita bahas pada bagian sebelumnya, kita perlu menemukan kausalitas, hukum sebab-akibat. Benda jatuh adalah sekedar akibat. Penyebabnya adalah gravitasi bumi.

Newton melangkah lebih jauh dengan menciptakan rumus matematika untuk benda jatuh. Hal ini berbeda dengan Aristoteles, Ibnu Sina, mau pun Bacon. Formula matematika yang digunakan Newton menguatkan pengetahuan empiris menjadi pengetahuan eksak. Menjadi ilmu pasti yang nilai kebenarannya juga pasti benar. Meski di era Newton, abad 17, kita bisa meragukan sifat pasti dari ilmu pasti, tetapi di abad 21 ini, ilmu pasti sudah diasumsikan bersifat pasti.

Dengan pembulatan percepatan gravitasi g = 10 (m/s^2) kita bisa memastikan kecepatan benda yang jatuh bebas dari atas.

kecepatan = 10 x waktu

waktu (detik) maka kecepatan (meter/detik)

0 maka kecepatan = 0
1 maka kecepatan = 10
2 maka kecepatan = 20

Jika ada hasil pengukuran yang berbeda dari perhitungan di atas maka kita perlu mencari gangguan-gangguan, bukan meragukan formula Newton. Dan benar saja, gangguan-gangguan tersebut bisa ditemukan misal gesekan udara. Maka formula Newton tetap berlaku sebagai ilmu pasti, dengan melengkapi gangguan gesekan udara.

Terbukti cara mengembangkan pengetahuan di atas, melalui induksi dilengkapi dengan fomula matematika, maju pesat. Peradaban manusia masuk ke era industri dengan pembangungan pabrik industri besar-besaran di seluruh dunia. Masih dengan pendekatan yang serupa peradaban manusia masuk ke era informasi, seperti yang kita alami dengan merebaknya dunia digital saat ini lengkap dengan media sosial dan simulakra.

Metode induksi, bisa kita ringkas, terdiri dari perumusan masalah dan hipotesa, pengujian empiris terbatas, dan menarik kesimpulan umum. Metode induksi di atas menjadi makin kuat bila kita lengkapi dengan formula matematika yang berlaku universal. Sehingga klaim sebagai ilmu pasti menjadi kuat. Tetapi bisa kita tegaskan, sekuat apa pun klaim ilmu pasti itu maka tetap kebenarannya bernilai probabilistik, tidak 100% benar, karena melibatkan kasus partikular.

Falsifikasi Empiris

Karl Popper, filsuf abad 20, menolak klaim metode induksi. Popper mengusulkan falsifikasi. Kebenaran empiris tidak bisa dibuktikan kebenarannya secara universal. Tetapi kita bisa menunjukkan letak kesalahan proposisi empiris untuk kemudian berpegang kepada proposisi yang lebih kuat. Lagi pula para ilmuwan tidak menemukan ide melalui induksi. Ide bisa muncul begitu saja melalui intuisi. Kadang ide muncul dalam mimpi. Kadang juga muncul dari respon terhadap pengetahuan yang sudah ada.

Langkah falsifikasi bisa kita rumuskan dengan menyusun hipotesa (atau teori), men-deduksi dari hipotesa suatu proposisi empiris, menguji secara empiris, menarik kesimpulan. Yang menarik dari falsifikasi adalah tujuan dari pengujian empiris, yaitu untuk menolak hipotesa. Artinya jika pengujian empiris itu berhasil maka kesimpulannya adalah hipotesa ditolak. Tetapi jika pengujian itu gagal maka kesimpulannya adalah hipotesa (teori) diterima. Berbeda dengan induksi, di mana pengujian empiris, digunakan untuk memperkuat hipotesa (teori) bila pengujian berhasil. Falsifikasi justru dengan sengaja merancang eksperimen untuk menolak hipotesa.

Kita bisa mencoba menaganalisis teori gerak Newton. Kecepatan total adalah kecepatan orang pertama ditambah (dikurangi) dengan kecepatan orang kedua, sesuai teori relativitas Newton (dan Galileo).

Adi mengendarai mobil ke utara dengan kecepatan 40 km/jam.
Budi mengendarai motor ke selatan dengan kecepatan 30 km/jam.

Maka kecepatan total antara Adi dan Budi adalah 40 + 30 = 70 km/jam.

Eksperimen menunjukkan kebenaran hipotesa di atas. Secara berulang-ulang konsisten benar. Maka, melalui induksi, terbukti kecepatan total adalah penjumlahan dari masing-masing kecepatan. Teori realtivitas Newton benar.

Enstein mencoba mencari kejadian-kejadian yang menjadikan teori Newton salah, falsifikasi. Enstein mulai dengan eksperimen pikiran. Adi dan Budi bergerak dengan kecepatan mendekati kecepatan cahaya c.

Adi mengendarai mobil dengan kecepatan 0,7 c ke utara.
Budi mengendarai motor dengan kecepatan 0,5 c ke selatan.

Maka kecepatan total mereka, antara Adi dan Budi, adalah 0,7 + 0,5 = 1,2 c. (Salah). Tidak mungkin ada kecepatan gerak yang lebih besar dari kecepatan cahaya. Teori relativitas Newton berhasil dibuktikan salah, berhasil difalsifikasi. Kesimpulannya adalah relativitas Newton tidak berlaku umum. Hanya berlaku pada kasus khusus yaitu bila kecepatan gerak jauh di bawah kecepatan cahaya. Itu pun berlaku hanya sebagai estimasi. Kita memerlukan teori relativitas yang baru yaitu relativitas Einstein. Yang saat ini dianggap benar.

Apakah teori relativitas Einstein pasti benar? Tidak juga. Dengan perspektif falsifikasi, relativitas Einstein dianggap benar karena belum terbukti salah. Bila suatu saat terbukti salah maka teori itu perlu direvisi untuk mendapatkan teori yang lebih valid lagi. Memang begitulah karakteristik sains, berubah, diperbaiki untuk mendapatkan teori yang lebih baik.

Induksi vs Falsifikasi

Mana yang lebih baik, induksi atau falsfikasi? Sebagian besar ilmuwan mendukung pendekatan induksi, semisal Russell. Tetapi Karl Popper lebih mendukung falsifikasi. Tampaknya, secara umum lebih ringan memilih induksi yang berkonotasi menemukan pengetahuan baru. Sedangkan falsifikasi, tampaknya, justru mencari-cari kesalahan dari suatu teori. Nyatanya, kita memerlukan keduanya. Induksi untuk memotivasi inovasi-inovasi baru. Sementara falsifikasi menjamin langkah-langkah inovasi sudah sesuai jalur.

Dalam statistik, kita mengenal uji hipotesis, yang mengakomodasi induksi mau pun falsifikasi. Saya akan menggunakan istilah tesis dan antitesis, agar lebih mirip dialektika Hegel dan menjaga tetap membahas konsep bukan angka-angka. Misal kita hendak membuktikan bahwa,

Tesis: Semua presiden Indonesia adalah orang cerdas.

Secara induksi kita perlu menguji beberapa presiden Indonesia dan memastikan bahwa mereka adalah orang yang cerdas. Sebut saja kita berhasil menguji 5 presiden Indonesia dan semuanya memang cerdas. Maka kita berkesimpulan benar, bahwa, semua presiden Indonesia adalah orang yang cerdas.

Metode di atas mudah diragukan, bagaimana dengan presiden ke 6?

Maka statistik memberi ide menarik dengan cara merumuskan antitesis.

Antitesis: Ada presiden Indonesia yang bukan orang cerdas.

Dengan meneliti 5 presiden maka kita akan mem-falsifikasi tesis. Kita ingin menemukan dari 5 presiden itu ada yang tidak cerdas, sesuai antitesis. Ternyata kita gagal, kita tidak berhasil menemukan ada presiden yang tidak cerdas. Jadi kita gagal membuktikan “antitesis: Ada Presiden Indonesia yang bukan orang cerdas.” Akibatnya, sampai sejauh ini, kita harus menerima “tesis: Semua presiden Indonesia adalah orang cerdas.

Meskipun kedua metode, induksi dan falsifikasi, memberi kesimpulan yang sama tetapi spiritnya berbeda. Induksi, seakan-akan, berhasil membuktikan bahwa semua presiden Indonesia adalah orang cerdas. Sedangkan falsifikasi, lebih rendah hati, sejauh ini tidak berhasil membuktikan ada presiden yang tidak cerdas, maka semua presiden adalah cerdas.

Disayangkan bahwa banyak orang lebih mudah terpengaruh dengan ide-ide induksi. Kurang mendalami falsifikasi. Hal ini bisa berakibat kepada sikap berlebihan dalam membela suatu ide.

Sejatinya, dalam kehidupan nyata, hakim lebih sering memanfaatkan falsifikasi. Dakwaan: Menteri melakukan korupsi. Maka hakim akan mengatakan bahwa terbukti menteri melakukan korupsi maka dihukum setimpal. Atau, alternatifnya, hakim mengatakan bahwa tidak terbukti menteri melakukan korupsi sehingga terbebas dari semua tuntutan.

Dalam hal menteri terbebas dari hukuman, para pendukung mengklaim bahwa menteri terbukti tidak korupsi. Tidak begitu sejatinya. Yang benar, menteri hanya tidak terbukti telah korupsi, untuk kasus tersebut. Hakim hanya mem-falsifikasi dakwaan. Hanya menolak dakwaan. Tidak membuktikan kebersihan diri menteri.

Perlu tetap kita ingat, baik induksi mau pun falsifikasi, menghasilkan pengetahuan probabilistik. Di mana nilai kebenarannya tidak terjamin benar 100%. Tetapi secara terus-menerus bisa direvisi untuk menghasilkan pengetahuan yang lebih bagus.

Pengetahuan Agama selalu Benar

Kita sudah sebutkan di atas bahwa pengetahuan agama bersifat aksiomatik sehingga terjamin benar 100%.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: