Kebenaran dan Kesesatan

Cinta saya kepada Rara adalah cinta sejati. Kebenaran sejati. Tidak ada keraguan sama sekali. Tetapi bila ditanya berapa tinggi badan Rara maka ada keraguan menjawabnya. Di sekolah, tinggi Rara 165 (cm). Waktu Rara tes mengemudi untuk SIM, tingginya 166. Sehingga saya mengira tinggi Rara sekitar 165 – 166. Mengapa kita tidak bisa tahu tinggi Rara yang sebenarnya?

Di masa pandemi covid-19, Presiden dengan konsisten menyatakan bahwa kondisi Indonesia senantiasa baik-baik saja. Awal Desember 2020, tiba-tiba Presiden menyatakan bahwa kondisi Indonesia memburuk, semuanya memburuk. Selang satu hari, Presiden menyatakan lagi bahwa Indonesia sudah baik. Hanya sekitar 5 jam setelah itu, kasus positif terinfeksi virus di Indonesia meledak, memuncak, bertambah lebih dari 8 ribu dalam sehari.

Di antara pernyataan Presiden itu, mana yang benar? Mana yang sesat? Apakah semua bisa dianggap benar? Selalu relatif? Pada bagian ini kita akan membahas dengan tegas mana yang termasuk benar, sebagai kebenaran. Dan tentu saja, juga menentukan mana yang salah, sebagai kesesatan atau kebohongan.

Berbohong dengan statistik adalah paling menarik. Karena bohongnya dilengkapi dengan data, persentase, perbandingan, dan lain-lain membuat masyarakat luas mudah percaya. Bohongnya statistik begitu meyakinkan. Tetapi, sejatinya, dengan data statistik yang sama kita lebih mudah mengungkap kebohongan itu. Hanya saja, data yang bisa mengungkap kebohongan itu, bisa disembunyikan oleh pihak-pihak yang berkepentingan.

Pembahasan kita akan dimulai dengan menyelidiki kebenaran yang bersifat korespondensi. Kebenaran ini dianggap paling sederhana yaitu tinggal dicek dengan fakta. Nyatanya tidak semudah itu karena definisi fakta tidak selalu sama. Kemudian kita akan membahas kebenaran aksiomatik yang bersifat pasti semisal kebenaran matematika dan sains teknologi. Pada bagian akhir kita membahas kebenaran probabilistik yang mencakup hampir seluruh pengetahuan manusia.

Dari arah yang berbeda kita perlu mempertimbangkan kebenaran moral. Meski diliputi beberapa perbedaan sudut pandang, kita perlu membahas kebenaran moral, dan kebenaran fundamental, dengan tuntas. Perbedaan-perbedaan, demi keperluan praktis, dapat diselesaikan dengan konvensi, kesepakatan di antara pihak yang berkepentingan.

Kebenaran Korespondensi

“Tinggi badan Rara adalah 165 cm.”

Pernyataan di atas adalah benar secara korespondensi bila ada fakta yang sesuai. Maka kita bisa mengukur tinggi badan Rara secara langsung. Misal hasil pengukuran menunjukkan bahwa tinggi badan Rara 165 cm. Sehingga kita menyimpulkan pernyataan di atas bernilai benar, sebagai kebenaran. Jika tinggi Rara, dari pengukuran, ternyata tidak 165 cm maka pernyataan di atas dianggap salah, sebagai kesesatan.

Situasi lebih menantang adalah bagaimana jika kita tidak bisa secara langsung mengukur tinggi badan Rara? Misalnya kita pada posisi di luar negeri yang membutuhkan informasi tentang tinggi Rara, bisa diinfokan secara online. Barangkali kita bisa melihat dokumen resmi yang memuat informasi tentang tinggi badan Rara. Di KTP tertulis tinggi badan Rara 165 cm. Tapi di SIM tertulis tinggi badan Rara 166 cm. Mana yang benar?

Di sini kita bisa mengambil sikap bahwa kebenaran korespodensi dihubungkan dengan (1) realitas atau (2) sesuatu yang dianggap benar. Dalam kehidupan sehari-hari, dokumen legal adalah termasuk sesuatu yang dianggap benar. Misal KTP Rara yang menyatakan bahwa tinggi badan Rara 165 cm adalah dianggap benar. Dengan demikian, pernyataan di atas, bahwa tingggi badan Rara adalah 165 cm, bernilai benar.

Tetapi mengacu SIM, tinggi Rara adalah 166 cm. Perbedaan tinggi yang hanya 1 cm, dalam kehidupan sehar-hari, masih dapat diterima. Artinya, kita masih dapat menganggap kedua dokumen di atas sama-sama benar. Barangkali tinggi Rara, sejatinya, memang antara 165 – 166 cm. Sehingga ketika diukur, kadang terbaca, pembualatan, menjadi 165 atau 166 cm. Secara praktis, manusia bersikap toleran. Bisa menerima beberapa perbedaan dengan lapang dada. Dan dalam banyak hal kita memerlukan sikap toleran seperti itu.

Kita masih bisa terus bertanya berapa tinggi Rara sejatinya, secara realitas. Barangkali kita bisa melakukan pengukuran beberapa kali agar lebih yakin. Hasilnya, misalnya dalam satuan cm, seperti berikut:

Pengukuran 1 = 165,4
Pengukuran 2 = 165,49
Pengukuran 3 = 165,499
Pengukuran 4 = 165,4999
Pengukuran 5 = 165,49999

Wajar bila KTP menuliskan 165 sebagai pembulatan ke bawah. Dan bisa dipahami SIM menuliskan 166 sebagai pembulatan ke atas. Sekali lagi, sebagai mahasiswa filsafat kita masih bertanya, berapa tinggi Rara sejatinya? Dari hasil pengukuran di atas, sains dan matematika punya jawaban yang meyakinkan. Misalkan makin teliti (presisi) pengukuran tinggi Rara menghasilkan nilai angka di belakang koma adalah 9 terus menerus. Tanda titik 3 di belakang angka 9 menandakan angka 9 diulang tanpa henti.

R = 165,499999…

Bila R dikali 10 maka akan menghasilkan angka yang sama tapi tanda koma digeser ke kanan. Hasil kali ini juga memiliki angka 9 di belakang koma berulang tanpa henti.

10 x R = 1654,99999…

Karena sama-sama memiliki angka 9 berulang tanpa henti maka bila kita kurangkan, angka 9 tanpa henti ini menjadi saling menghilangkan.

10 x R – R = 1654,99999… – 165,499999… = 1489,50

9 x R = 1489,50

R = 1489,50/9 = 165,5

Jadi, tinggi Rara tepat 165,5 cm setelah dilakukan pengukuran berulang-ulang dan dihitung secara matematika. Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa sah KTP menulis 165 cm, SIM menulis 166 cm, untuk tinggi Rara. Angka tersebut cukup akurat sesuai pengukuran sains yang memberikan hasil lebih presisi yatu 165,5 cm.

Pernyataan yang berkebalikan dengan hasil di atas bisa kita nilai sebagai kesesatan, lawan dari kebenaran. Misal pernyataan “tinggi badan Rara adalah 150 cm” adalah kesesatan. Orang juga sering menyebutkan sebagai kebohongan, yang menyesatkan.

Ketidakpastian Korespondensi

Mahasiswa filsafat masih bisa meniru Socrates yang terus-menerus mempertanyakan keabsahan pengukuran tinggi Rara di atas. Namun demikian, seorang filsuf tetap bisa menjaga diri dalam situasi praktis sehari-hari. Maksudnya, meski angka 165 atau 166 tidak secara tepat menggambarkan tinggi Rara yang sesungguhnya tetapi angka tersebut bisa diterima secara meyakinkan untuk dituliskan dalam dokumen resmi.

Demikian juga ketika ilmuwan menyatakan bahwa tinggi Rara yang lebih presisi adalah 165,5 cm maka kita terima untuk kepentingan sains. Resiko muncul ketika sains mengklaim bahwa angka 165,5 itu benar secara tepat. Meskipun secara matematika bisa dibuktikan bahwa,

R = 165,4999… = 165,5

Tetapi bisa dipastikan bahwa persamaan itu mengandung suatu “error”, yang bisa diterima. Error ini memang kecil tetapi tidak nol. Maka sains melangkah lebih fleksibel dengan memberi rentang toleransi berupa margin dari error. Misalnya, sains menyatakan bahwa tinggi Rara adalah 165,5 dengan toleransi 165 – 166 cm. Maksudnya, sains yakin bahwa tinggi Rara adalah 165,5 tetapi masih bisa menerima jika ada selisih sedikit misal di antara 165 – 166 tersebut.

Lagi, mahasiswa filsafat masih bisa bertanya, sebenarnya bisakah kita mengukur tinggi Rara dengan tepat?

Pertanyaan ini perlu kita tanggapi dengan cermat. Secara filosofis kita hanya bisa mengetahui penampakan Rara saja bukan Rara secara sejati. Sehingga ketika kita mengukur tinggi badan Rara, sejatinya itu hanya penampakan yang bisa kita ukur. Maka bisa kita nyatakan bahwa kita tidak bisa mengukur tinggi Rara dengan tepat. Kita hanya bisa mengukur penampakan belaka. Di sisi alat ukur sendiri, yang bisa diketahui adalah penampakan alat ukur. Bukan alat ukur sejatinya. Jadi, secara filosofis, kita tidak bisa mengukur tinggi Rara secara tepat. Kita hanya bisa melakukan estimasi dengan teliti.

Sains dan teknologi melangkah lebih berani. Dengan menciptakan alat ukur yang lebih canggih, dilengkapi sistem cerdas digital, maka kita memperoleh hasil ukur yang lebih mengagumkan presisi. Alat ukur canggih ini bisa mengarahkan posisi berdiri Rara agar ideal. Hasil pengukuran pun sudah berupa angka digital. Misal dengan kondisi yang sempurna, alat ukur menunjukkan hasil pengukuran,

R = 165,499 999 999 cm

Dengan ketelitian 9 angka di belakang koma. Hasil yang bagus. Sudah mencukupi untuk berbagai keperpeluan baik praktis, ilmiah, atau lainnya. Hanya satu yang belum terjawab: apakah itu benar-benar tinggi Rara sejati?

Seandainya alat ukur itu dibuat lebih hebat lagi dengan bisa menampilkan 1 digit tambahan. Maka digit tambahan itu akan menunjuk angka berapa? Jika menunjuk angka 9 lagi maka pengukuran sebelumnya adalah terlalu kecil dibanding pengukuran yang terakhir. Agar pengukuran awal memberikan hasil yang tepat maka tambahan digit baru harus menghasilkan angka 0. Dan bila ditambah berapa pun digitnya maka digit tambahan ini semuanya harus bernilai 0.

Mudah bagi kita untuk meragukan bahwa tambahan digit selalu menghasilkan 0. Kita lebih yakin bahwa tambahan digit bisa saja menghasilkan angka bukan 0. Sehingga hasil pengukuran itu tidak bisa kita yakini sebagai mengukur tinggi Rara secara sejati.

Barangkali kelemahan terletak pada alat ukur? Jika kita memiliki alat ukur sempurna apakah bisa mengukur tinggi badan Rara dengan sempurna?

Mari kita cermati dengan membayangkan kita memiliki teknologi sangat canggih sehingga bisa mengukur dengan sempurna. Alat ukur canggih ini berhasil mengukur tinggi Rara adalah 165,5 cm dengan satu masalah yaitu ada satu elektron yang kadang berada di atas rambut Rara. Jika elektron ini menyelinap ke bawah rambut maka tinggi Rara tepat 165,5 cm. Tetapi jika elektron ini berada di atas rambut maka tinggi Rara adalah 165,5 cm + d, di mana d adalah diameter elektron.

Panjang diameter elektron sekitar 10 pangkat -14 meter. Ilustrasinya, bila ada 1 trilyun elektron dipasang sambung menyambung maka panjang totalnya adalah 1 cm. Sehingga ukuran diameter elektron adalah terlalu kecil untuk pengalaman kehidupan sehari-hari.

Mari, kembali kita perhatikan hasil ukur alat yang sangat canggih itu. Hanya ada dua kemungkinan tinggi Rara yaitu tepat 165,5 cm atau 165,5 + d. Tampaknya dengan mudah kita bisa menyelesaikan masalah ini. Kita katakan tinggi Rara adalah tepat 165,5 cm ketika tidak ada elektron di atas rambutnya. Dan tinggi Rara jadi 165,5 cm + d ketika ada elektron di atas rambutnya. Solusi ini benar bila kita hanya menerapkan teori fisika klasik Newton. Tetapi, tidak bisa dibuktikan kebenarannya jika kita menerapkan teori mekanika quantum. Dan, sayangnya, urusan elektron adalah wilayah dari mekanika quantum.

Mekanika quantum menyatakan adanya ketidakpastian Heisenberg. Di mana kita tidak bisa mengetahui lokasi elektron secara pasti. Sehingga alat canggih kita tidak pernah tahu pasti apakah elektron sedang ada di atas rambut Rara atau tidak. Akibatnya, alat canggih kita tidak pernah tahu tinggi Rara secara tepat. Alat canggih kita hanya menduga.

Apakah dengan demikian alat ukur itu tidak berguna? Tentu saja berguna. Bahkan sangat berguna. Kita, sebagai manusia, perlu menyikapi hasil alat ukur itu dengan bijak. Pertama, sesuaikan kebutuhan. Jika kita perlu mengukur tinggi badan untuk kepentingan sehari-hari maka beda pengukuran 1 cm adalah wajar dan bisa diterima. Untuk kepentingan laboratorium, barangkali perlu lebih teliti misal selisih tidak boleh lebih dari 1 milimeter.

Kedua, dalam banyak hal kita lebih mementingkan akurasi. Misal menyatakan tinggi Rara 165 cm adalah benar, akurat. Menyatakan tinggi Rara 166 cm juga benar, akurat. Tetapi menyatakan tinggi Rara adalah 255,999 cm adalah salah. Meski presisi sampai 3 angka di belakang koma namun tidak akurat. Jadi kita anggap sebagai salah, atau informasi salah yang menyesatkan.

Ketiga, sehebat apa pun alat ukur kita, sehebat apa pun pengetahuan kita tentang alam eksternal, adalah tetap sebuah estimasi. Di mana estimasi kemungkinan besar akan bernilai benar namun tetap ada kemungkinan, pihak lain memiliki, hasil pengukuran yang berbeda dengan yang kita miliki. Maka di sini sikap respek antara berbagai pihak yang berbeda menjadi penting. Barangkali bisa dicari titik temu antara pihak yang berbeda. Atau paling tidak bisa saling memahami antara semua pihak.

Kebenaran Aksiomatik

Seperti sudah kita nyatakan di awal, kebenaran aksiomatik bersifat pasti bahkan universal. Pernyataan matematika dan sains ideal adalah kebenaran aksiomatik, selalu bersifat benar. Kebenaran moral juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh acuan moral disepakati. Begitu juga kebenaran legal juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh acuan legal disepakati. Dan yang paling mengagumkan adalah kebenaran sistem informasi, digital, juga bersifat aksiomatik, selalu benar, sejauh sistem perform.

Tantangan pertama adalah menemukan formula kebenaran aksiomatik. Misalnya dalam geometri dinyatakan, “jumlah besar ketiga sudut dari segitiga adalah 180 derajat.” Pernyataan geometri ini selalu benar dan universal. Barangkali kita bisa mencoba aneka ragam segitiga. Lalu mengukur sudut-sudutnya dan menjumlahkannya. Memang selalu benar jumlahnya selalu 180 derajat, apa pun bentuk segitiganya.

Kita bisa mengubah pernyataan geometri di atas sebagai logika biimplikasi. (Dengan kalimat yang disederhanakan).

Jika segitiga maka total 180 derajat (dan)
Jika total 180 derajat maka segitiga.

Biimplikasi berlaku dua arah. Artinya, jika kita menemukan bangun datar dan jumlah seluruh sudutnya 180 derajat maka bisa dipastikan bangun datar tersebut adalah segitiga.

Di sisi lain, kita perlu waspada bentuk logika yang mirip biimplikasi tetapi berbeda, yaitu implikasi.

Jika suatu bilangan lebih dari 5 maka bilangan tersebut pasti positif.

Pernyataan di atas selalu benar. Kita bisa ambil contoh bilangan 6, 7, 8 atau berapa pun asal lebih dari 5 maka pasti positif juga. Tetapi implikasi pada arah kebalikannya tidak selalu benar.

Jika suatu bilangan positif maka bilangan tersebut lebih dari 5. (Tidak sah).

Berpikir seperti di atas adalah tidak sah. Dalam arti, logika itu bisa salah. Meskipun dalam kasus tertentu bisa saja benar. Di sini kita perlu waspada. Jika kita ambil contoh bilangan positif adalah 7 maka benar 7 adalah lebih dari 5. Tetapi jika kita ambil contoh bilangan positif adalah 2 maka tidak benar dianggap sebagai lebih dari 5.

Dalam kehidupan sehar-hari banyak contoh bisa kita amati.

Jika dia adalah Jokowi maka dia adalah presiden. (Benar dan sah)
Jika dia adalah presiden maka dia adalah Jokowi. (Tidak sah)

Yang terakhir bisa salah karena presiden bisa saja SBY, Mega, Obama, dan lain-lain. Bagaimana pun dengan mematuhi aturan logika kita bisa menjamin bahwa kebenaran aksiomatik berlaku universal, selalu benar. Apa lagi dengan memanfaatkan teknologi digital maka memudahkan perhitungan, simulasi, dan estimasi. (Dalam berbagai kasus, kita memahami bahasa sesuai language game Wittgenstein bukan dekonstruksi Derrida).

Kebenaran Praxis

Barangkali kita bahagia ada kebenaran universal yang selalu bernilai benar yaitu kebenaran aksiomatik. Nyatanya tidak semudah itu. Karena kebenaran universal berlaku pada syarat dan ketentuan, yang menjadi batasannya. Ketika kita hendak menerapkan ke dunia nyata sering dituntut untuk menerjemahkan yang universal menjadi partikular. Maka kita berhadapan dengan kebenaran praxis: penilaian intuitif kasus partikular dengan merujuk universal.

Mari kita ambil contoh pernyataan matematika “2 + 1 = 3” adalah selalu benar secara universal. Saat akan menerapkan ke dunia nyata kita berhadapan dengan kondisi yang berbeda.

beras 2 kg + beras 1 kg = beras 3 kg

Seharusnya persamaan tentang beras di atas benar sesuai formula matematika “2 + 1 = 3”. Tetapi kita tahu bahwa “beras 2 kg” adalah pernyataan praktis yang menuntut kebenaran korespondensi. Sudah kita bahas di atas, bahwa kita tidak bisa mengetahui dengan tepat beras 2 kg. Yang bisa kita ketahui adalah estimasi beras 2 kg. Barangkali beras 2 kg itu kelebihan 1 butir atau kurang 2 butir, malahan.

Dengan merujuk ketidakpastian Heisenberg, kita bisa menduga barangkali beras 2 kg itu kelebihan 1 elektron atau kurang 1 elektron. Tidak ada yang tahu secara pasti. Sesuai kaidah mekanika quantum tentang ketidakpastian Heisenberg.

Akibatnya, beras 2 kg adalah estimasi, beras 1 kg juga estimasi, dan hasilnya beras 3 kg pasti bersifat estimasi. Hasil estimasi ini sah. Hasil ini berguna dalam kehidupan praktis secara luas. Jika Anda membeli beras 2 kg lalu tambah lagi 1 kg maka Anda wajib membayar untuk total beras 3 kg itu. Tidak ada keraguan dalam hal ini.

Yang perlu diwaspadai adalah, dan perlu selalu diingat, bahwa klaim beras 3 kg adalah sekedar estimasi. Maka kita perlu bersikap toleran seandainya ada pihak lain yang berbeda pandangan. Kita yakin, dengan verifikasi, perbedaan pandangan tentang beras 3 kg akan berakhir dengan kata sepakat. Seperti kita sudah bahas pada bab sebelumnya, kasus beras 3 kg ini, termasuk penilaian intuitif yang memungkinkan persetujuan.

Konsensus Praxis

Habermas barangkali filsuf terbesar dunia yang masih hidup saat ini. Habermas berusia 91 tahun pada 2020. Habermas meyakini bahwa umat manusia akan mampu berhasil membangun peradaban bersama dengan mengedepankan konsensus melalui komunikasi rasional yang aktif. Seperti kita telah bahas dengan contoh di atas, bahwa dalam banyak hal, kita berhasil mencapai konsensus.

Kita bisa ambil contoh lagi untuk konsensus. Saya punya cita-cita mengajarkan matematika kreatif ke seluruh penjuru. Teman saya mempunyai kemampuan membuat program komputer, dan apk mobile. Kami bertemu lalu sepakat membuat kerja sama di bawah konsensus. Masing-masing pihak mempunyai hak dan kewajiban. Saya berkewajiban membuat konten matematika. Dan teman saya berkewajiban membuat program digital. Kerja sama berjalan dengan baik.

Kasus yang lebih serius terjadi pada abad ke 17 di bidang matematika. Siapakah penemu kalkulus? Ilmuwan Inggris mengklaim penemu kalkulus adalah Newton. Tetapi ilmuwan Jerman mengklaim penemu kalkulus adalah Leibniz. Masing-masing memiliki argumen yang sama kuat. Newton terbukti lebih awal mempublikasikan penemuan kalkulusnya. Sedangkan Leibniz terbukti, telah menemukan kalkulus beberapa tahun sebelum Newton, tersimpan dalam catatan pribadi yang belum dipublikasikan.

Sidang penentuan siapa penemu kalkulus digelar. Saat itu dicapai konsensus bahwa penemu kalkulus adalah Newton. Meski pihak Leibniz keberatan, mereka harus menerima konsensus itu. Waktu terus berjalan. Berbagai pihak mengusulkan untuk mengkaji ulang konsensus yang pernah dicapai. Pengkajian lebih mendalam menunjukkan bahwa kalkulus Newton dengan kalkulus Leibniz berbeda tajam dalam hal metode dan notasi-notasinya. Sehingga disimpulkan mereka berdua menemukan kalkulus secara independen. Dan akhirnya dicapai konsensus baru bahwa penemu kalkulus adalah Newton dan Leibniz, yang bekerja secara terpisah.

Habermas mendorong semua pihak untuk berperan dalam menemukan formula konsensus terbaik melalui komunikasi aktif dan rasional. Masing-masing pihak mengungkapkan sudut pandangnya dalam bentuk rasional. Sehingga pihak lain dapat memahami dengan baik, secara rasional. Dengan proses komunikasi aktif ini diharapkan tercapai konsensus terbaik untuk semua pihak.

Habermas menekankan pentingnya mengganti sikap fundamentalis dengan sikap fallibilis. Di mana sikap fundamentalis memandang bahwa sudut pandang dirinya adalah yang paling benar secara fundamental. Tentu sulit mencapai konsensus dengan cara ini. Maka perlu diganti dengan sikap fallibilis, yaitu, sikap terbuka yang meyakini bahwa sudut pandangnya mungkin saja salah. Lalu dicari sudut pandang yang lebih baik. Dengan sikap fallibilis ini maka kita bisa maju mencapai konsensus terbaik.

Tetapi kritik terhadap pendekatan konsensus Habermas ini terjadi dari berbagai sudut pandang. Salah satunya adalah kritik telak dari tokoh posmodern yaitu Lyotard. Mereka, Lyotard dan Habermas, berdebat panjang di akhir abad 20. Di mana, debat mereka akhirnya, tampak tidak berhasil mencapai konsensus.

Kritik terhadap konsensus di antaranya adalah, realitas, bahwa tidak semua pihak bisa aktif berkomunikasi. Juga tidak mudah mengungkapkan pandangan secara rasional. Kadang-kadang pihak yang dominan menemukan cara, meski halus tanpa paksaan, mempengaruhi pihak yang lemah agar menyetujui konsensus. Cara-cara halus ini bisa saja tidak disadari oleh berbagai macam pihak lain, dimanipulasi oleh pihak dominan secara profesional.

Maka Lyotard mengusulkan solusi: dissensus.

Dissensus Praxis

Lyotard mengusulkan dissensus, berbeda pendapat. Bahkan menolak konsensus. Dan melangkah lebih jauh tidak mempercayai metanarasi. Akibatnya, Lyotard dianggap, meruntuhkan legitimasi sains modern. Dia menilai sains hanya mendapatkan legitimasi dari konsensus belaka, yang sejatinya metanarasi, tidak layak dipercaya. Kali ini kita hanya fokus membahas dissensus saja.

Lyotard melihat ada kasus yang tidak mungkin untuk disatukan menjadi konsensus. Khususnya yang melibatkan penilaian intuitif sublim dan penilaian intuitif khusus. Lyotard merujuk situasi seperti ini kepada antinomy yang dirumuskan oleh Kant. Lyotard memuji Kant yang mengijinkan heterogenitas. Di mana realitas memang heterogen. Di sisi lain, Lyotard mengkritik Heidegger, yang mencoba melampaui heterogenitas tersebut dengan sudut pandang eksistensialisme.

Misalnya orang pinggiran, wong cilik, tidak mungkin mampu bernegosiasi dengan pejabat untuk mencapai konsensus. Pihak dominan akan menemukan cara untuk memenangi konsensus. Pada akhirnya menindas wong cilik. Di sini lah Lyotard menuntut dissensus. Pihak dominan wajib menghormati perbedaan. Wajib menghormati suara wong cilik yang tidak bersuara. Kita bisa melihat misi mulia dari dissensus.

Pada situasi pihak-pihak yang berimbang pun dimungkinkan harus dissensus. Misalkan Adi memeluk agama A sedangkan Budi memeluk agama B. Di antara Adi dan Budi tidak mungkin dipaksakan konsensus untuk memeluk agama yang sama. Mereka memiliki keyakinan agama yang berbeda. Mereka dissensus. Untuk kemudian saling menghormati.

Bahkan dalam satu agama yang sama, sering kita jumpai dissensus. Misalnya NU (Nahdhatul Ulama) dan MU (Muhammadiyah) memiliki pendekatan yang berbeda untuk ikut serta mencerdaskan bangsa. Cara menyelenggarakan program pendidikan NU dan MU berbeda. Bahkan tata cara ibadah ada beberapa perbedaan di berbagai situasi. Tidak sepantasnya, kita memaksa NU dan MU untuk bersepakat dalam satu konsensus.

Kita bisa memperhatikan bahwa di suatu kasus tertentu perlu dissensus, sesuai Lyotard. Sementara di kasus lain lebih tepat konsensus, sesuai Habermas. Menariknya, dua orang tokoh posmodern itu berdebat panjang, masing-masing bersiteguh pada pendiriannya. Mereka tidak sepakat, artinya dissensus. Tentu saja, Habermas tidak bisa memaksa Lyotard agar menyetujui konsensus. Hanya saja dalam praktek pengajaran mereka melalui seminar hal sebaliknya yang sering terjadi. Habermas sering memancing ide-ide kreatif dari peserta yang berbeda-beda. Sehingga terjadi dissensus. Sementara Lyotard sering menyampaikan argumen yang jelas sehingga para peserta setuju kepada Lyotard, terbentuk konsensus.

Di sini, kita kembali fokus kepada nilai kebenaran. Baik konsensus atau pun dissensus kedua-duanya adalah penilaian intuitif praxis. Sehingga nilai kebenarannya adalah estimasi, tidak 100%. Karena itu, keduanya, terbuka untuk dilakukan revisi-revisi untuk mendapatkan praxis yang lebih baik. Bukan kebenaran universal.

Kebenaran Probabilistik

Saya kira kebenaran probabilistik adalah buah terbaik dari pemahaman manusia – sains, filsafat, seni, keyakinan, dan lain-lain. Probabilitas (dan statistik) bahkan dengan rendah hati tidak menggunakan istilah “kebenaran” dan menggantinya dengan “keyakinan” (confidence). Ahli matematika bisa saja mengklaim teorinya benar 100%. Tetapi ahli statistik tidak bisa mengklaim keyakinan 100%. Bahkan jika dia yakin 100% itu pun hanya keyakinan bukan kebenaran.

Dua istilah penting dalam statistik adalah “level keyakinan” (confidence level) dan “selang keyakinan” (confidence interval), yang saling terkait. Mari kita kembali ke contoh tinggi Rara yang cantik itu. Ahli statistik melakukan pengukuran tinggi Rara berkali-kali, misal 100 kali. Dan diperoleh kesimpulan berikut,

Tinggi Rara = 165 – 166 cm (selang keyakinan)
Dengan level keyakinan 95%.

Makna kajian statistik ini adalah tinggi Rara terletak antara 165 – 166 cm. Statistik tidak bisa memastikan satu angka pasti di sini. Karena dari 100 kali pengukuran memang hasilnya berbeda-beda. Tetapi yakin bahwa tinggi Rara berada pada selang 165 – 166. Seberapa yakin? Level keyakinannya adalah 95% – tidak 100%. Maka saya menilai kebenaran statistik ini sebagai kebenaran probabilistik, penilaian praxis terbaik manusia.

Apa makna level keyakinan 95%?

Makna 95% tampak dekat dengan peluang atau probabilitas 95%. Meski demikian, sebagian ahli statistik menyatakan bahwa 95% itu bukan peluang tetapi distribusi data. Yaitu bila kita melakukan pengukuran tinggi Rara sebanyak 1000 kali maka diharapkan 95% akan masuk pada selang keyakinan 165 – 166 cm. Kita akan memperoleh 950 data ada pada selang 165 – 166 dan 50 data sisanya barangkali di bawah 165 atau di atas 166.

Bisakah statistik mempunyai level keyakinan 100%? Tidak layak, statistik tidak patut mengejar level keyakinan 100%. Yang lebih baik adalah mendekati 100%. Misalnya 99%. Tetapi berdampak kepada melebarnya selang keyakinan. Misalnya untuk tinggi Rara,

Level keyakinan = 99%
Tinggi Rara = 160 – 170 cm

Bisa kita lihat di atas, informasi tinggi Rara menjadi kurang bermakna karena selang terlalu lebar dari 160 – 170. Meski pun kita lebih yakin dengan level keyakinan 99%.

Kita bisa saja eksperimen lebih lanjut seperti kesimpulan di bawah ini.

Tinggi Rara = 140 – 180 cm
Level keyakinan = 99,999%

Meski pun level keyakinan mendekati 100% tetapi kita kehilangan makna informasi tinggi Rara yang di kisaran 140 – 180 cm. Berapa tinggi Rara sebenarnya? Apakah dia termasuk gadis pendek dengan tinggi badan 140 cm? Atau gadis jangkung dengan tinggi badan 180 cm? Kajian statistik di atas kehilangan arti. Maka statistik mengembangkan solusi untuk memilih selang keyakinan yang bermakna, di saat yang sama, level keyakinan yang memadai.

Jadi, statistik membekali kita cara menemukan kebenaran probabilistik dengan bijak. Kita bisa mendapatkan level keyakinan terukur dengan selang keyakinan yang terukur. Dengan statistik ini terbuka bagi manusia untuk terus memperbaiki ilmu pengetahuan.

Berbohong dengan Statistik

Penyelewengan dengan memanfaatkan statistik memang menarik. Data mudah diperoleh, diolah, untuk kemudian diarahkan sesuai kepentingan tertentu. Para politikus dan pejabat dapat memanfaatkan statistik untuk menguatkan legitimasi. Misal untuk kasus pandemi covid-19, Presiden Trump dan Presiden Jokowi memanfaatkan data statistik.

Trump pernah menyampaikan bahwa covid tidak berbahaya. Covid, virus corona 99,9 % tidak berbahaya sama sekali. Jokowi juga pernah menyampaikan bahwa kondisi pandemi Indonesia baik, lebih baik dari rata-rata dunia. Tentu saja pernyataan seperti di atas didukung oleh data statistik. Tetapi apakah klaimnya benar? Bisa dipertanggungjawabkan? (Besaran angka bisa berbeda sedikit sesuai waktu dan ketelitian, tetapi tetap akurat.)

Trump berhasil meyakinkan bahwa covid tidak berbahaya dengan 99,9% aman di Amerika. Trump tampaknya mengambil data dari jumlah orang meninggal akibat covid, pada Desember 2020 adalah mendekati 300 ribu, dibandingkan dengan jumlah penduduk Amerika yang lebih dari 300 juta jiwa. Maka tingkat kematian di Amerika 300 ribu / 300 juta = 0,001 = 0,1%. Maka sisanya adalah 99,9% diklaim aman oleh Trump.

Tentu saja banyak orang yang tidak setuju dengan klaim Trump. Data yang dipakai memang benar. Tetapi klaimnya bisa salah arah. Misal kita bisa membandingkan dengan jumlah orang yang sembuh adalah sekitar 9 juta. Sehingga yang meninggal dibanding yang sembuh adalah 300 ribu / 9 juta = 1/30 = 0,33 lebih dari 3%. Angka kematian lebih dari 3% adalah tinggi sekali, berbahaya. Jika dibiarkan penyebaran covid sampai menyerang 200 juta penduduk Amerika ada kemungkinan bahwa 6 juta orang di antaranya meninggal dunia. Angka yang sangat besar. Pada akhirnya Trump kalah dalam pemilu presiden Amerika, salah satunya, disebabkan isu covid.

Presiden Jokowi, saya kira, lebih cerdik menggunakan statistik. Presiden menyatakan bahwa pandemi Indonesia lebih baik dari rata-rata dunia. Data yang digunakan adalah persentase kasus aktif. Sayangnya persentase kasus meninggal di Indonesia lebih buruk dari rata-rata dunia. Sekali lagi, klaim presiden tentu didasarkan pada data yang benar. Tetapi apakah klaimnya bahwa Indonesia lebih baik juga benar?

Pertanyaan pertama, apa sah membandingkan kondisi pandemi suatu negara dengan negara lain? Mengingat jumlah penduduk beda, fasilitas tes, fasilitas kesehatan, tingkat ekonomi, dan lain-lain bisa berbeda jauh. Tampaknya sulit membandingkan satu negara dengan negara lainnya. Maka akan lebih baik jika kita menganalisis kondisi pandemi dalam negeri. Membandingkan dengan negara lain hanya untuk studi banding. Bukan untuk klaim lebih baik.

Pertanyaan kedua, apa yang dimaksud dengan rata-rata? Anggap saja bahwa membandingkan antar negara yang berbeda adalah cara yang sah untuk klaim lebih baik atau tidak. Orang memandang rata-rata, umumnya, yang dimaksud adalah nilai pemusatan. Sehingga ada tiga macam rata-rata, nilai pemusatan, yaitu mean, median, dan modus. Sedangkan dalam perhitungan matematika, yang dianggap rata-rata adalah mean.

Sayangnya, menggunakan mean sebagai acuan sering tidak tepat. Misal untuk kasus pandemi ini, kita bisa mencoba mengurutkan total kasus aktif (bukan persen) dari sekitar 200 negara di dunia. Orang akan menebak nilai rata-rata dari 200 negara akan berada di urutan sekitar 100. Tebakan ini benar. Maka yang dimaksud di sini adalah median, sebagai nilai pemusatan. Dengan median kita membagi data menjadi dua kelompok: kelompok A adalah kelompok yang lebih baik dari median, dan kelompok B adalah kelompok yang lebih buruk dari median. Sayangnya, Indonesia adalah urutan negara terburuk ke 20 maka masuk kelompok B, lebih buruk dari median.

Bisa saja dari 200 negara, kita membagi menjadi 5 kelompok A, B, C, D, dan E. Di mana masing-masing kelompok berisi 40 negara. Kelompok A adalah yang terbaik. Kelompok E adalah yang terburuk. Karena Indonesia urutan ke 20 maka masih masuk kelompok E. Sedangkan beberapa negara tetangga masuk kelompok A, kelompok terbaik, di antaranya Brunei, Timor, Laos, Singapura, Vietnam (nilai batas).

Bagaimana pun klaim yang dilakukan Presiden Trump dan Presiden Jokowi sama-sama didukung dengan data yang benar. Meski pihak-pihak tertentu meragukan klaim mereka, tetapi klaim mereka mengandung kebenaran. Justru di sini letak keunggulan statistik: tidak ada klaim mutlak yakin 100%. Sehingga secara alamiah, kebenaran probabilistik, terbuka dengan ragam alternatif klaim interpretasi.

Kiranya bisa kita simpulkan di sini bahwa statistik berguna untuk melakukan banyak analisis. Bahkan ketika kita meragukan klaim tertentu dari analisis statistik maka kita bisa menganalisis kembali dengan berbagai macam sudut pandang. Sehingga, meski pun seseorang bisa saja berbohong dengan statistik, dengan metode yang sama, kebohongan itu bisa diuji.

Kembali perlu kita tegaskan bahwa nilai kebenaran statistik adalah kebenaran probabilistik, tidak 100% sempurna. Di mana masih terbuka untuk menemukan kebenaran-kebenaran baru yang berbeda. Nyatanya, hampir semua pengetahuan kita di dunia nyata bersifat probabilistik. Maka penting bagi kita untuk menyikapi kebenaran probabilistik secara tepat.

Kebenaran Cinta Kreatif

Cinta selalu benar, itulah cinta suci. Cantik juga selalu benar, bersifat universal. Tapi cinta bisa diliputi dusta sehingga tidak lagi benar. Ungkapan cinta bisa juga ke mana-mana. Tidak ada lagi jaminan benar. Kita akan mencoba membahas nilai kebenaran cinta yang bersifat kreatif.

Cinta saya kepada Rara selalu benar. Cinta yang suci. Cinta dari seorang ayah kepada anaknya. Bahkan saya rela berkorban apa saja demi Rara, anak saya. Dalam situasi umum tidak ada masalah cinta ayah ke anaknya. Tetapi situasi yang lebih rumit bisa terjadi.

Seorang ayah yang cinta kepada anak kecilnya iba melihat anaknya menangis karena lapar. Hatinya pedih. Dia sendiri juga menahan lapar. Karena sudah dewasa, ayah bisa memahami pedihnya menahan lapar entah sampai kapan. Sementara, buah hatinya yang masih kecil terus merengek menahan lapar. Demi cintanya kepada anak tercinta, ayah mencari makan yang tidak dia temukan di mana pun. Uang tidak punya. Kerja tidak punya. Air pun tidak punya. Ayah tahu, tidak jauh di luar sana, ada toko swalayan yang pembelinya bebas ambil barang sendiri. Ia pergi ke swalayan. Ambil beberapa potong roti. Lalu pergi tanpa membayarnya. Pulang ke rumah. Menemui buah hatinya yang masih merengek. Ayah memberikan sepotong roti. Buah hatinya sedikit memakannya. Mengubah air mata menjadi tawa bahagia. Ayah memeluk putrinya.

Penjaga toko swalayan bukan tidak tahu apa yang dilakukan ayah. Melalui monitor cctv penjaga tahu bahwa ayah mengambil roti tanpa membayarnya. Penjaga tahu bahwa ayah orang baik meski miskin. Dia menduga ayah pasti punya alasan melakukan itu. Meski penjaga toko beresiko mendapat peringatan dari atasannya karena lalai membiarkan pencurian tapi, meski tidak mudah, dia terima resiko itu.

Sampai di sini kita perlu mengkaji nilai kebenaran cinta. Cinta selalu benar dengan sifatnya yang kreatif. Dalam arti bahwa cinta itu muncul dari dalam diri seseorang. Cinta kreatif muncul dari diri bapak ke anaknya. Cinta muncul dari diri suami ke istrinya. Cinta muncul dari diri pemimpin ke seluruh raknyatnya. Cinta kreatif ini bernilai selalu benar. Sudah kita bahas di bagian sebelumnya juga bahwa cinta ini adalah intuisi transendental.

Ekspresi cinta selanjutnya bisa saja bernilai salah. Misal karena cinta, seorang ayah mencuri roti demi anaknya yang menahan lapar. Tindakan mencuri tetap bernilai salah. Meski cinta kepada putrinya benar tetapi ekspresi dalam bentuk mencuri menyalahi aturan legal, moral, dan agama.

Dusta juga sering terlibat dalam cinta. Seorang laki-laki bisa saja berdusta mengaku cinta kepada perempuan. Merayunya sampai mabuk kepayang. Setelah laki-laki itu mendapatkan segala yang diinginkannya, dengan modal dusta atas nama cinta, lalu ia mencampakkan sang perempuan. Kisah cinta berakhir derita. Padahal bukan cinta tapi dusta. Dan masih banyak contoh nyata yang bisa kita temukan berdusta atas nama cinta.

Sehingga cinta, agar bernilai benar dalam ekspresinya, harus konsisten dengan aturan di luar. Termasuk perlu konsisten dengan aturan legal, moral, agama, dan ilmu pengetahuan secara umum. Lalu bagaimana aturan umum itu semua bisa dibentuk oleh umat manusia? Kita akan membahas pada bagian selanjutnya dengan tema pengetahuan, kesalahan, dan opini.

Penutup

Kiranya perlu kita ringkas kembali pembahasan tentang kebenaran (dan kesesatan) di sini. Pertama, kebenaran yang bersifat pasti. Kebenaran ini didasarkan kepada kebenaran aksiomatik. Semisal kebenaran formula matematika yang dijamin pasti benar bahkan universal. Sejauh proses menarik kesimpulannya konsisten maka kebenaran aksiomatik tetap terjaga. Sedangkan di bagian sebelumnya kita sudah membahas kebenaran yang juga dianggap benar yaitu intuisi indera dan intuisi transendental termasuk intuisi cinta.

Kedua, kebenaran probabilistik. Yaitu kebenaran yang kita harap bernilai benar, sesuai nilai probabilitasnya. Meski demikian, kebenaran probabilistik tidak terjamin untuk selalu bernilai benar. Dalam realitas kehidupan praktis hampir semua masalah yang kita hadapi melibatkan kebenaran probabilistik ini. Sehingga perlu sikap respek dari semua pihak untuk mendorong terbentuk konsensus atau dissensus. Kebenaran korespondensi, yang dianggap banyak orang sebagai bernilai pasti, dalam analisis akhir lebih tepat sebagai kebenaran probabilistik.

Ketiga, kesesatan adalah kebenaran yang, pada analisis akhir, bernilai tidak benar. Kesesatan tidak memenuhi kaidah kebenaran aksiomatik, atau kaidah kebenaran korespondensi, atau pun kaidah kebenaran konsensus. Maka, kesesatan seharusnya ditolak.

Lanjut ke Pengetahuan, Kesalahan, dan Opini
Kembali ke Philosophy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: