Bagian 1: Epistemologi Cinta

Di bagian ini, kita akan menyelidiki apa itu cinta sejati. Epistemologi cinta adalah pendekatan filosofis untuk mengetahui, memahami, dan memaknai cinta. Untuk mengetahui cinta dengan lebih mudah, kita perlu, lebih awal mengetahui apa itu cantik. Tampaknya, cantik lebih jelas di depan mata. Maka di bagian ini, juga, kita akan membahas epistemologi cantik.

The Problems of Philosophy - Life Span Publishers & Distributors

Penyelidikan lebih lanjut, menunjukkan bahwa kita juga perlu mengetahui apa saja penyusun dari suatu obyek cantik, misal wajah yang cantik. Mata bening, pipi lembut, dan alis hitam adalah beberapa materi penyusun wajah cantik. Maka kita perlu menyelidiki pula espistemologi materi, sebagai penyusun obyek cantik, di alam semesta ini.

Pendekatan kita kepada epistemologi cinta, mengantarkan kita untuk meyelidiki epistemologi cantik. Pada gilirannya, mengantar kita ke epistemologi materi alam semesta.

Dengan pertimbangan bahwa materi tampak lebih jelas dari cinta yang lembut maka kita akan membahas espistemologi dengan fokus awal kepada epistemologi materi alam raya, disusul epistemologi cantik, dan terakhir epistemologi cinta. Dalam penyelidikan ini, kita mempertimbangkan perkembangan sains terkini (dan teknologi), filsafat masa lalu (dan masa kini), serta karya seni atau pun pendekatan spiritual.

Pembahasan epistemologi menjadi bagian terbesar dari tulisan ini – dibanding dengan ontologi cinta dan dinamika cinta. Hal ini bersesuaian dengan pandangan Bertrand Russell bahwa problem terbesar dari filsafat adalah epistemologi. Solusi yang memadai untuk epistemologi akan memudahkan kita membahas metafisika (ontologi) dan aksiologi.

Pendekatan kritik filsafat, misal trilogi kritik dari Immanuel Kant, juga memberi porsi besar kepada tema epistemologi. Meski merujuk ke kritik filsafat, saya sendiri lebih cenderung menggunakan pendekatan eklektik, di mana, saya menampilkan berbagai macam sudut pandang para filosof, untuk kemudian, menyusunnya menjadi argumen yang padu. Saya jarang meng-kritik pandangan para filosof secara langsung. Anda bisa memahaminya secara tidak langsung dengan alur tulisan secara utuh.

  1. Cantik Penampakan dan Cinta Sejati
  2. Eksistensi Cinta
  3. Cantik Alami
  4. Idealisme
  5. Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi (+Lampiran Hoax)
  6. Induksi: Cantik Keturunan
  7. Pengetahuan Prinsip Umum
  8. Pengetahuan A Priori
  9. Dunia Universal
  10. Pengetahuan Tentang Universal
  11. Pengetahuan dan Intuisi Cinta
  12. Kebenaran dan Kesesatan
  13. Pengetahuan, Kesesatan, dan Opini

Di bagian awal kita langsung mencoba untuk mengetahui apa itu cinta sejati. Tidak mudah untuk melakukan itu. Kita berhadapan dengan dua jenis cinta yaitu cinta sejati dan cinta penampakan. Bahkan untuk mengetahui cinta-penampakan saja, kita perlu penyelidikan yang mendalam tentang cantik-penampakan dan materi-penampakan.

Dengan “halangan” dunia-penampakan maka kita tidak berhasil mengakses cinta-sejati. Begitu juga cantik-sejati dan materi-sejati masih tersembunyi. Di sisi lain, kita berhasil membuktikan bahwa cinta itu ada, cinta sejati itu ada. Hanya saja, kita tidak bisa langsung mengetahuinya.

Semua pengetahuan kita tentang dunia adalah, sekedar, pengetahuan tentang dunia penampakan. Russell membagi dunia menjadi dunia penampakan dan dunia sejati, tampaknya, mengikuti Immanuel Kant yang membagi dunia menjadi dunia fenomena dan dunia noumena. Dunia fenomena hadir dalam pengetahuan kita sebagai penampakan. Sedangkan dunia noumena tatap tersembunyi dalam dirinya sendiri.

Di bab 4, kita membahas tema idealisme. Menurut Russell, idealisme adalah pandangan yang diremehkan oleh kebanyakan orang. Karena idealisme memandang bahwa alam di dunia luar adalah tidak nyata. Semua yang ada di dunia luar, sejatinya, hanya pikiran kita belaka. Sementara, bagi pengkaji filsafat, idealisme perlu dibahas dengan tuntas. Russell meng-kritik keras pandangan idealisme Berkeley. Bagaimana pun, Russell mengakui bahwa idealisme dogmatis tidak mudah dibantah.

Bab 5, 6, dan 7 membahas karakter dari pengetahuan manusia. Kita mempertimbangkan pengetahuan pengenalan langsung dan pengetahuan deskripsi. Di jaman digital ini, pegetahuan deskripsi berkembang begitu cepat. Sayangnya, pengetahuan deskripsi mudah disusupi oleh informasi hoax. Sehingga kita perlu membekali diri, dan masyarakat, untuk lebih bijak menyikapi hoax.

Dengan beragam keterbatasannya, perkembangan pengetahuan melalui induksi tetap menjadi metode paling utama. Kita perlu mempertimbangkan konsep falsifikasi dari Popper sehingga tetap waspada dengan ragam batas-batas ilmu pengetahuan. Pengembangan pengetahuan melalui induksi menjadi lebih kuat dengan pendekatan matematis sehingga konsisten dengan beragam prinsip umum: identitas, non-kontradiksi, kausalitas, dan lain-lain.

Bab 8, 9, dan 10 membahas pengetahuan apriori dan pengetahuan universal. Russell membela para filosof rasionalis yang meyakini validitas pengetahuan apriori. Bahkan, setiap pengetahuan empiris induktif, agar valid secara universal, perlu bersandar kepada pengetahuan apriori. Pengetahuan universal memberi priotitas lebih utama kepada pengetahuan tentang cinta dan cantik dibanding pengetahuan materi obyektif. Sehingga, pada bab-bab ini, kita mulai kembali mengutamakan epistemologi cinta.

Bagian akhir dari epistemologi cinta, kita membahas nilai kebenaran dari suatu pengetahuan pada bab 11, 12, dan 13. Tentu saja, pengetahuan bisa saja bernilai benar, dan pengetahuan lain bisa bernilai salah. Menariknya, pengetahuan atau intuisi cinta justru selalu bernilai benar. Sementara, bila dihubungkan dengan konteks yang lebih luas, implikasi dari cinta bisa saja bernilai salah.

Pembahasan secara epistemologis selesai sampai di sini. Tetapi masih tersisa banyak pertanyaan tentang cinta, cantik, dan materi alam raya. Kita akan membahasnya lebih mendalam ke tema ontologis: ontologi cinta dan cantik.

Lanjut ke Bagian 2: Ontologi Cinta dan Cantik
Kembali ke Philosophy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: