Anthrocosmos Ethic & Politic Philosophy

Kita bisa membedakan filsafat menjadi dua: mengutamakan metafisika atau mengutamakan moral. Filsafat Barat, misal Yunani Kuno – Aristoteles, Plato, dan Socrates – tampak lebih mengutamakan metafisika. Sementara filsafat Timur lebih dominan mengutamakan moral semisal Gautama, Konghucu, Empu Gandring, dan para Nabi.

Filsafat Timur vs Filsafat Barat - YouTube

Moral dan metafisika, pada akhirnya, bertemu juga. Timur dan Barat sama-sama alam semesta. Mereka adalah kita juga. Mereka saling berjumpa. Di Barat, filsafat moral menjadi utama. Di Timur, filsafat metafisika menjadi dominan juga.

Kali ini, saya akan mencatat filsafat moral dalam istilah anthrocosmos, macrocosmos, dan microcosmos. Di jaman sekarang yang tengah dihantam pandemi, kita benar-benar membutuhkan filsafat moral atau etik. Di berbagai negara terjadi korupsi dana bantuan untuk korban dampak covid. Sementara, distribusi vaksin di dunia sulit untuk dikatakan adil merata.

Etika Makrokosmos – Macrocosmos Ethics

Mudah bagi kita untuk melihat bahwa di luar sana ada roti, ada daging, ada anggur, ada uang, ada sapi, dan ada orang lain. Kebiasaan kita melihat ada sesuatu di luar sana adalah hasil bentukan etika makrokosmos. Kita meyakini ada obyek yang obyektif di luar sana.

Etika Mikrokosmos – Microcosmos Ethics

Etika mikrokosmos mengajarkan ke kita bahwa semua yang ada di luar sana, sejatinya, ada dalam diri kita sendiri. Pisang yang ada di kebun itu, sejatinya, pisang yang ada dalam diri kita. Orang miskin yang ada di pinggir jalan itu, sejatinya, adalah orang miskin yang ada dalam diri kita. Pencuri yang membobol bank itu, sejatinya, pencuri yang ada dalam diri kita. Semua yang terjadi di luar sana, sejatinya, terjadi dalam diri kita sendiri.

Etika Antrokosmos – Anthrocosmos Ethics

Etika antrokosmos merupakan perpaduan. Sepiring nasi yang ada di luar sana, benar-benar nyata, ada di luar sana. Di saat yang sama, sepiring nasi itu memang ada di dalam diri kita. Seorang pahlawan yang harum namanya itu, benar-benar, ada di luar sana. Di saat yang sama, pahlawan yang harum namanya itu memang ada dalam diri kita. Koruptor yang merusak negeri ini ada di luar sana. Di saat yang sama, koruptor yang merusak negeri ini memang ada dalam diri kita. Mereka ada dalam diri kita. Dan diri kita ada dalam diri mereka.

(Bersambung)

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: