Cantik Alami

Gadis desa cantik alami jadi idaman setiap pria. Cantiknya asli. Kepribadiannya murni. Gaya hidup bersahaja. Simbol hidup bahagia.

Di bagian ini kita akan membahas apa itu cantik alami, hakikat cinta, dan hakikat materi itu sendiri. Kembali kita akan menganalisis Rara, gadis cantik yang setia menemani diskusi kita. Kita akan mulai mencermati apa hakikat materi penyusun pipi Rara.

Di bagian sebelumnya, kita sudah menerima, untuk sementara, materi penyususun pipi Rara adalah atom-atom dan partikel lebih fundamental. Tugas sains fisika tuntas sampai di situ. Dan bisa dilanjutkan lebih detil. Tetapi tugas filsafat justru mempertanyakan hasil akhir dari sains fisika itu. Bukan untuk menjatuhkan fisika. Justru untuk membuka jalan baru menemukan kebenaran-kebenaran tersembunyi.

Hakikat Materi

Sains fisika adalah yang paling berhak menentukan apa hakikat dari suatu materi. Tentu itu dari sudut ilmiah. Dari sudut filsafat kita bisa melihat lebih luas. Keunggulan sains adalah setiap teori, preposisi, bisa diuji secara obyektif dengan eksperimen berulang-ulang.

Jhon Dalton adalah ilmuwan yang berhasil membuktikan bahwa setiap materi tersusun oleh partikel-partikel terkecil yaitu atom, yang hanya bisa diamati dengan mikroskop dan rumus ilmiah. Maka terbentuklah teori atom Dalton. Ilmuwan lain dapat menguji kebenaran teori atom ini. Sesuai teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa pipi Rara tersusun oleh partikel-partikel atom. Memang atom penyusun pipi Rara berbeda dengan atom penyusun meja sehingga pipi Rara lebih lembut dari meja. Ada beragam atom di alam semesta.

Sifat obyektif teori atom membuka peluang bagi ilmuwan lain melakukan penelitian lanjutan. Benar saja teori atom Dalton direvisi berkali-kali. Tetapi kita tetap bisa menyatakan prinsip yang mirip dengan teori atom Dalton bahwa hakikat alam semesta adalah tersusun dari partikel-partikel terkecil.

Sekilas, kita perhatikan, perkembangan teori atom direvisi oleh Rutherford yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti dan elektron yang mengelilingi inti atom tersebut – jadi atom bukanlah materi terkecil. Tetapi elektron yang mengelilingi inti akan segera kehabisan energi lalu menempel ke inti, akibat gaya tarik muatan listrik mereka. Bohr menyempurnakan dengan teori bahwa elektron mengelilingi inti dengan lintasan tertentu sehingga tidak kehabisan energi dan berhasil mempertahankan struktur atom. Dan seterusnya teori atom ini berkembang sampai ke mekanika quantum.

Di jaman sekarang ini, seperti saya nyatakan di awal, teori sains fisika ini adalah yang paling dipercaya oleh umat manusia.

Atom Filosifis

Jauh hari, dua ribu tahun, sebelum Dalton menyusun teori atom ilmiah, Demokritus sudah menyusun teori atom filosofis. Demokritus menyatakan bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom. Yaitu partikel terkecil materi yang tidak bisa dibagi lagi. Maka atom Demokritus ini berbeda dengan atom Dalton. Meskipun Dalton, pada awalnya, mengira bahwa atom yang dia temukan adalah atom yang dimaksud oleh Demokritus. Nyatanya bukan.

Persoalan muncul dengan atom filosofis tersebut bentuk geometrinya seperti apa. Aristoteles termasuk yang awal-awal menyadari kesulitan tersebut. Sekilas atom akan lebih mudah berbentuk bulat seperti bola kecil. Tetapi bila atom bulat maka di antara ribuan atom akan banyak ruang kosong. Kita bayangkan di antara ribuan bola bertumpuk pasti banyak rongga kosongnya. Maka para filosof memikirkan bentuk atom haruslah sedemikian hingga dapat mengisi ruangan dengan rapat. Salah satunya adalah bentuk kubus atau bentuk semacam batu bata. Dan masih banyak bentuk lainnya yang mungkin.

Kesulitan filosofis tetap muncul mengenai atom ini. Mengapa atom tidak bisa dibagi lagi? Sehingga menjadi partikel terkecil. Bukankah bila kita membayangkan bentuk atom seperti bola atau kubus maka kita tetap bisa membaginya menjadi dua bagian? Tampaknya sains fisika masa kini, mekanika quantum, mendukung teori atom yang tidak terbagi lagi tersebut. Ada partikel elementer, misal elektron, yang tidak bisa dibagi lagi. Meski pun partikel elementernya bisa beragam sesuai penemuan ilmiah tetapi sifat tidak bisa dibagi lagi memang benar adanya terbukti secara ilmiah, sejauh ini.

Bukan hanya materi yang tersusun oleh partikel terkecil yang tidak bisa dibagi lagi. Awal abad 20, Einstein menyatakan bahwa energi pun tersusun oleh paket-paket energi terkecil yang tidak bisa dibagi lagi. Paket terkecil ini dikenal sebagai quanta – kelak menjadi istilah quantum. Energi yang semula dipandang seperti lembut mengalir ternyata juga terbentuk oleh paket-paket kecil. Tentu saja banyak ilmuwan yang menolak pandangan Einstein. Termasuk Planck, yang teorinya dipakai oleh Einstein, justru menolaknya. Seiring berjalannya waktu teori paket-paket energi terkecil ini terbukti benar.

Sampai di sini kita bisa melihat bahwa benda-benda yang paling haluspun sejatinya tersusun oleh partikel-partikel yang tidak solid satu sama lain. Misal, pipi Rara yang lembut itu, sejatinya tersusun oleh partikel-partikel, fragmented, berdempetan.

Materi Filosofis

Filsafat masih berhak bertanya apakah benar bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom-atom? Apakah benar kita bisa mengetahui atom-atom tersebut, seandainya ada?

Sains menjawab dengan yakin bahwa materi tersusun oleh partikel-partikel elementer. Kita bisa mengetahuinya dengan berbagai macam eksperimen dan rumusan ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang konsisten sepanjang sejarah. Jadi, benar adanya bahwa materi tersusun dari partikel elementer.

Tetapi jawaban sains ini mudah diragukan. Bagaimana sains bisa tahu itu semua? Sains hanya bisa mengamati fenomena alam semesta. Sains hanya mengungkap penampakan dari materi. Bukan materi dalam dirinya sendiri. Hakikat materi tetap tersembunyi. Jadi yang diungkapkan sains dengan teori atom, lengkap dengan mekanika quantum, adalah sekedar penampakan dari materi. Dan sains tetap dipersilakan terus maju mengembangkan teori-teori lanjutan. Namun untuk mengungkap hakikat materi, hakikat alam semesta, ijinkan filsafat kembali mengambil peran.

Atom filosofis. Pandangan filsafat ini, seperti telah diungkapkan di atas, dinyatakan oleh Demokritus. Pandangan atom filosofis sejalan dengan pandangan sains fisika yang terus-menerus mengalami revisi.

Atam nonmateri. Filsafat memiliki cakupan lebih luas dari sains. Salah satunya, filsafat bisa mengkaji sesuatu yang nonmateri. Ghazali, filsuf abad 12, mengusulkan pandangan teori atom nonmateri. Yaitu alam materi tersusun oleh atom-atom yang substansinya bukan materi, nonmateri. Ketika atom nonmateri ini berkumpul dalam jumlah besar, dalam jumlah tertentu, maka terbentuklah materi dari yang paling elementer.

Atom nonmateri ini menyelesaikan beberapa persoalan. Atom nonmateri bersifat lentur sehingga bebas mengambil bentuk geometri apa pun. Atom nonmateri ini pun menjawab mengapa dia tidak bisa dibagi lagi karena atom memang nonmateri. Sedangkan materi elementer, semisal elektron, tetap masih bisa dibagi – setidaknya dalam pikiran. Untuk kemudian elektron bisa dianalisis tersusun oleh substansi nonmateri.

Atom nonmateri ini juga memberi jalan hubungan antara dunia materi dengan dunia nonmateri. Misal jiwa manusia, bersifat nonmateri, bisa menggerakkan atom-atom nonmateri tersebut untuk kemudian menggerakkan badan manusia sesuai perintah kehendak jiwa manusia. Lebih jauh pembahasan tentang ketuhanan juga terbuka dengan atom nonmateri.

Modus Wujud. Sadra, filsuf besar abad 17, menyatakan bahwa materi adalah modus wujud. Materi adalah manifestasi dari wujud. Masih ada modus wujud lainnya misal jiwa dan akal manusia. Materi sendiri merupakan modus wujud paling lemah. Sehingga bila kita menganalisa materi dengan lebih mendalam maka akan mengantar ke modus wujud yang lebih tinggi. Misal mekanika quantum mengantarkan manusia kepada fenomena elektron yang indeterministik – lebih mendekati ke sifat jiwa. Padahal materi dalam skala makrokospik bersifat deterministik sesuai mekanika klasik Newton.

Substansi. Spinoza, filsuf abad 17, menyatakan bahwa hakikat seluruh alam semesta adalah substansi Tuhan. Materi alam eksternal yang kita lihat semisal meja, kursi, pohon, dan lainnya adalah bayang-bayang dari substansi Tuhan. Mereka hanya dipinjami substansi oleh Tuhan. Pandangan Spinoza, yang menganggap segala sesuatu hakikatnya adalah substansi Tuhan, dikenal sebagai pandangan monisme.

Pikiran. Leibniz, filsuf abad 17 dan 18, menyatakan hakikat alam semesta adalah pikiran. Misalnya mengapa ada pohon di depan rumah, itu karena kita memikirkan pohon itu. Orang lain memikirkan pohon itu. Tetapi ketika tidak ada orang memikirkan pohon mengapa masih ada pohon? Karena Tuhan memikirkan pohon tersebut. Jadi, alam semesta adalah pikiran Tuhan. Dan semakin nyata karena makin banyak manusia ikut berpartisipasi memikirkannya.

Kehendak. Schopenhauer, filsuf abad 19, menyatakan hakikat alam semesta adalah kehendak, will. Tentu saja manusia punya kehendak, dan kehendak itulah hakikat jati diri manusia. Sedangkan alam luar, misal batu, juga punya kehendak meski kehendaknya tidak sekuat kehendak manusia.

Radikal Empiris. William James, filsuf abad 20, meyakini bahwa meteri dan pikiran manusia saling menguatkan. Alam eksternal, misal meja, memang ada. Lalu pikiran manusia memikirkan meja itu maka meja akan, sedikit, berubah sesuai pikiran manusia. Meja yang baru mempengaruhi pikiran manusia lagi, mengubah pikiran manusia. Selanjutnya pikiran manusia mempengaruhi meja dan seterusnya. Sehingga realitas alam semesta saling mempengaruhi dengan pikiran manusia.

Gelombang. Schrodinger, ilmuwan abad 20, merumuskan gelombang quantum untuk menjelaskan fenomena quantum. Tetapi gelombang quantum ini membuka cakrawala baru sehingga orang bisa berpikir bahwa alam semesta hakikatnya adalah susunan-susunan gelombang. Nyatanya, partikel elementer elektron terbukti bisa dipandang sebagai gelombang. Sehingga alam makrokospis, sejatinya, terdiri dari tumpukan banyak gelombang.

Equa. Gelombang Schrodinger memunculkan banyak kemungkinan teori baru. Saya menggagas equa. Hakikat alam materi adalah equa, yaitu realitas alam yang bisa didekati, salah satunya, dengan persamaan gelombang quantum. Tetapi equa bukan persamaan itu sendiri melainkan hakikat realitas. Sehingga materi, alam eksternal, adalah manifestasi dari equa. Di satu sisi equa bersifat material dan di sisi lain bersifat nonmaterial.

Ringkasan. Dari berbagai macam pandangan tentang materi tampaknya cara pandang sains adalah yang paling banyak diterima. Yaitu materi alam semesta terdiri dari atom-atom (dan partikel elementer) sesuai dengan hasil penelitian terbaru. Tetapi pandangan materialis seperti ini membatasi cara pandang hanya sebatas materi. Fenomena yang lebih beragam tidak mendapat panggung utama. Maka kita perlu meluaskan cakrawala dengan mempertimbangkan ragam alternatif seperti kita baca di atas.

Cantik Alami

Kita kembali membahas cantik alaminya Rara, setelah panjang lebar mendiskusikan hakikat penyusun pipi Rara dari atom sampai pikiran. Hakikat cantiknya Rara adalah cantik alami itu sendiri.

Seperti kita pernah bahas sebelumnya, hakikat cantik adalah struktur, susunan, hubungan, yang harmonis dari berbagai unsur penyusunnya. Struktur cantik itu sendiri tidak bersifat material melainkan bersifat universal yang hakikatnya ada di alam idea. Ini adalah sintesa pandangan Aristoteles dan Plato.

Sementara Ibnu Arabi menyatakan bahwa cantiknya Rara itu adalah manifestasi dari sifat Tuhan yang Maha Indah, Maha Baik, Maha Kreatif, dan lain-lain.

Kant menyatakan ada dua macam cantik. Pertama adalah cantik bebas. Yaitu cantik dan indah meski sepertinya tidak ada aturan pasti. Misal karya seni abstrak, coretan-coretan bebas yang tampaknya seperti tidak punya aturan. Bisa juga menatap awan senja yang begitu cantik dengan tatanan warni-warni.

Kedua, cantik bertujuan. Yaitu cantik yang punya tujuan tertentu. Misal cantiknya Rara punya tujuan mendukung kehidupan Rara. Mata Rara untuk melihat, alis melindungi mata dari tetesan air, bulu mata melindungi dari debu dan lainnya. Rumus matematika juga cantik dengan tujuan memecahkan suatu masalah tertentu.

Apa hakikat dari cantik alami itu?

Kita akan membahas pada bab-bab berikutnya. Kita masih perlu membahas bab universalia sebagai pendahuluan. Di bagian ini, kita hanya bisa kembali menyatakan bahwa cantik alami itu bersifat universal berada dalam alam idea.

Hakikat Cinta

Hakikat cinta akan tetap menjadi tanda tanya sampai akhir buku ini. Cinta bertanya ke arah mana sumber cinta. Cinta bertanya kepada siapa mencurahkan cinta. Cinta ada di mana-mana.

Filsafat tentu saja gagal mendefinisikan cinta. Definisi adalah membatasi. Cinta itu tak terbatas dan tidak bisa dibatasi. Hakikat cinta tetap tersembunyi. Bukan karena kecil, cinta bisa tersembunyi. Justru karena besar, ada di mana-mana, mata tak sanggup menatapnya. Bagai matahari, begitu terangnya, mata tak sanggup menatapnya. Cukup kiranya berkas-berkas sinar matahari menerangi.

Meski hakikat cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kita bisa merasakan ada, sekedar percikan cinta. Cinta saya kepada Rara adalah nyata, cinta seorang ayah kepada anaknya. Cinta seorang anak kepada ibunya juga nyata. Cinta istri kepada suami dan cinta suami kepada istri nyata bahkan menjaga kelangsungan sejarah umat manusia.

Diskusi

Pertanyaan tentang hakikat segala sesuatu memang sudah menyusahkan para pemikir sepanjang jaman. Filsafat menjawab dengan beragam sudut pandang. Bahkan yang paling meyakikan, secara filosofis, kita hanya bisa mengetahui penampakan segala sesuatu bukan segala sesuatu itu sendiri.

Tetapi sains berhasil melangkah dengan pasti, dilengkapi dengan ilmu pasti yang obyektif. Mengungkap hakikat materi adalah tersusun oleh atom-atom dan partikel elementer sesuai teori quantum. Bila kita coba cermati lebih hati-hati, pendekatan sains ini membatasi diri hanya kepada fenomena materi. Hal itu bagus-bagus saja. Sejatinya kita, manusia, bukan sekedar materi. Maka paradigma sains tidak memadai untuk mewakili seluruh realitas manusia, dan alam sekitar, serta Tuhan.

Di bagian selanjutnya kita akan membahas itu semua, melampaui materi, dengan lebih detil di antaranya pengetahuan universalia, pengetahuan apriori, berpikir induksi, dan sebagainya. Sebelum melangkah ke sana kita akan membahas isu penting dalam filsafat, meski sering diabaikan orang awam, yaitu idealisme.

Lanjut ke Idealisme
Kembali ke Philosophy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: