Cantik Alami

Gadis desa cantik alami jadi idaman setiap pria. Cantiknya asli. Kepribadiannya murni. Gaya hidup bersahaja. Simbol hidup bahagia.

Di bagian ini kita akan membahas apa itu cantik alami, hakikat cinta, dan hakikat materi itu sendiri. Kembali kita akan menganalisis Rara, gadis cantik yang setia menemani diskusi kita. Kita akan mulai mencermati apa hakikat materi penyusun pipi Rara.

1. Hakikat Materi
2. Atom Filosofis
3. Materi Filosofis
4. Cantik Alami
5. Hakikat Cinta
6. Diskusi
6.1 Teori Quantum String
6.2 Teori Relativitas Gravitasi
6.3 Theory of Everything

Di bagian sebelumnya, kita sudah menerima, untuk sementara, materi penyususun pipi Rara adalah atom-atom dan partikel lebih fundamental. Tugas sains fisika tuntas sampai di situ. Dan bisa dilanjutkan lebih detil. Tetapi tugas filsafat justru mempertanyakan hasil akhir dari sains fisika itu. Bukan untuk menjatuhkan fisika. Justru untuk membuka jalan baru menemukan kebenaran-kebenaran tersembunyi.

1. Hakikat Materi

Sains fisika adalah yang paling berhak menentukan apa hakikat dari suatu materi. Tentu itu dari sudut ilmiah. Dari sudut filsafat, kita bisa melihat lebih luas. Keunggulan sains adalah setiap teori, preposisi, bisa diuji secara obyektif dengan eksperimen berulang-ulang.

Jhon Dalton (1766 – 1844) adalah ilmuwan yang berhasil membuktikan bahwa setiap materi tersusun oleh partikel-partikel terkecil yaitu atom, yang hanya bisa diamati dengan mikroskop dan rumus ilmiah. Maka terbentuklah teori atom Dalton. Ilmuwan lain dapat menguji kebenaran teori atom ini. Sesuai teori ini maka kita dapat mengatakan bahwa pipi Rara tersusun oleh partikel-partikel atom. Memang atom penyusun pipi Rara berbeda dengan atom penyusun meja sehingga pipi Rara lebih lembut dari meja. Ada beragam atom di alam semesta.

Sifat obyektif teori atom membuka peluang bagi ilmuwan lain melakukan penelitian lanjutan. Benar saja, teori atom Dalton direvisi berkali-kali. Tetapi kita tetap bisa menyatakan prinsip yang mirip dengan teori atom Dalton bahwa hakikat alam semesta adalah tersusun dari partikel-partikel terkecil.

Sekilas, kita perhatikan, perkembangan teori atom direvisi oleh Rutherford (1871 – 1937) yang menyatakan bahwa atom terdiri dari inti dan elektron yang mengelilingi inti atom tersebut – jadi atom bukanlah materi terkecil. Tetapi elektron yang mengelilingi inti akan segera kehabisan energi lalu menempel ke inti, akibat gaya tarik muatan listrik mereka. Bohr (1885 – 1962) menyempurnakan dengan teori bahwa elektron mengelilingi inti dengan lintasan tertentu sehingga tidak kehabisan energi dan berhasil mempertahankan struktur atom. Dan seterusnya, teori atom ini berkembang sampai ke mekanika quantum.

Di jaman sekarang ini, seperti saya nyatakan di awal, teori sains fisika ini adalah yang paling dipercaya oleh umat manusia.

2. Atom Filosifis

Jauh hari, dua ribu tahun, sebelum Dalton menyusun teori atom ilmiah, Demokritus sudah menyusun teori atom filosofis. Demokritus menyatakan bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom. Yaitu partikel terkecil materi yang tidak bisa dibagi lagi. Maka atom Demokritus ini berbeda dengan atom Dalton. Meskipun Dalton, pada awalnya, mengira bahwa atom yang dia temukan adalah atom yang dimaksud oleh Demokritus. Nyatanya bukan.

Persoalan muncul dengan atom filosofis tersebut bentuk geometrinya seperti apa. Aristoteles termasuk yang awal-awal menyadari kesulitan tersebut. Sekilas atom akan lebih mudah berbentuk bulat seperti bola kecil. Tetapi bila atom bulat maka di antara ribuan atom akan banyak ruang kosong. Kita bayangkan di antara ribuan bola bertumpuk pasti banyak rongga kosongnya. Maka para filosof memikirkan bentuk atom haruslah sedemikian hingga dapat mengisi ruangan dengan rapat. Salah satunya adalah bentuk kubus atau bentuk semacam batu bata. Dan masih banyak bentuk lainnya yang mungkin.

Kesulitan filosofis tetap muncul mengenai atom ini. Mengapa atom tidak bisa dibagi lagi? Sehingga menjadi partikel terkecil. Bukankah bila kita membayangkan bentuk atom seperti bola atau kubus maka kita tetap bisa membaginya menjadi dua bagian? Tampaknya sains fisika masa kini, mekanika quantum, mendukung teori atom yang tidak terbagi lagi tersebut. Ada partikel elementer, misal elektron, yang tidak bisa dibagi lagi. Meski pun partikel elementernya bisa beragam, sesuai penemuan ilmiah, tetapi sifat tidak bisa dibagi lagi memang benar adanya, terbukti secara ilmiah, sejauh ini.

Bukan hanya materi, yang tersusun oleh partikel terkecil, yang tidak bisa dibagi lagi. Awal abad 20, Einstein menyatakan bahwa energi pun tersusun oleh paket-paket energi terkecil yang tidak bisa dibagi lagi. Paket terkecil ini dikenal sebagai quanta – kelak menjadi istilah quantum. Energi yang semula dipandang seperti lembut mengalir ternyata juga terbentuk oleh paket-paket kecil. Tentu saja, banyak ilmuwan yang menolak pandangan Einstein. Termasuk Planck, yang teorinya dipakai oleh Einstein, justru menolaknya. Seiring berjalannya waktu, teori paket-paket energi terkecil ini terbukti benar.

Sampai di sini, kita bisa melihat bahwa benda-benda yang paling haluspun sejatinya tersusun oleh partikel-partikel yang tidak solid satu sama lain. Misal, pipi Rara yang lembut itu, sejatinya tersusun oleh partikel-partikel, fragmented, berdempetan.

3. Materi Filosofis

Filsafat masih berhak bertanya apakah benar bahwa alam semesta ini tersusun oleh atom-atom? Apakah benar kita bisa mengetahui atom-atom tersebut, seandainya ada?

Sains menjawab dengan yakin bahwa materi tersusun oleh partikel-partikel elementer. Kita bisa mengetahuinya dengan berbagai macam eksperimen dan rumusan ilmiah. Hasil penelitian ini menunjukkan hasil yang konsisten sepanjang sejarah. Jadi, benar adanya bahwa materi tersusun dari partikel elementer.

Tetapi jawaban sains ini mudah diragukan. Bagaimana sains bisa tahu itu semua? Sains hanya bisa mengamati fenomena alam semesta. Sains hanya mengungkap penampakan dari materi. Bukan materi dalam dirinya sendiri. Hakikat materi tetap tersembunyi. Jadi, yang diungkapkan sains dengan teori atom, lengkap dengan mekanika quantum, adalah sekedar penampakan dari materi. Dan sains tetap dipersilakan terus maju mengembangkan teori-teori lanjutan. Namun untuk mengungkap hakikat materi, hakikat alam semesta, ijinkan filsafat kembali mengambil peran.

Atom filosofis. Pandangan filsafat ini, seperti telah diungkapkan di atas, dinyatakan oleh Demokritus. Pandangan atom filosofis sejalan dengan pandangan sains fisika yang terus-menerus mengalami revisi.

Atom nonmateri. Filsafat memiliki cakupan lebih luas dari sains. Salah satunya, filsafat bisa mengkaji sesuatu yang nonmateri. Ghazali, filsuf abad 12, mengusulkan pandangan teori atom nonmateri. Yaitu alam materi tersusun oleh atom-atom yang substansinya bukan materi, nonmateri. Ketika atom nonmateri ini berkumpul dalam jumlah besar, dalam jumlah tertentu, maka terbentuklah materi dari yang paling elementer.

Atom nonmateri ini menyelesaikan beberapa persoalan. Atom nonmateri bersifat lentur sehingga bebas mengambil bentuk geometri apa pun. Atom nonmateri ini pun menjawab mengapa dia tidak bisa dibagi lagi karena atom memang nonmateri. Sedangkan materi elementer, semisal elektron, tetap masih bisa dibagi – setidaknya dalam pikiran. Untuk kemudian elektron bisa dianalisis tersusun oleh substansi nonmateri.

Atom nonmateri ini juga memberi jalan hubungan antara dunia materi dengan dunia nonmateri. Misal jiwa manusia, bersifat nonmateri, bisa menggerakkan atom-atom nonmateri tersebut untuk kemudian menggerakkan badan manusia sesuai perintah kehendak jiwa manusia. Lebih jauh, pembahasan tentang ketuhanan juga terbuka dengan atom nonmateri.

Modus Wujud. Sadra, filsuf besar abad 17, menyatakan bahwa materi adalah modus wujud. Materi adalah manifestasi dari wujud. Masih ada modus wujud lainnya misal jiwa dan akal manusia. Materi sendiri merupakan modus wujud paling lemah. Sehingga, bila kita menganalisa materi dengan lebih mendalam maka akan mengantar ke modus wujud yang lebih tinggi. Misal mekanika quantum mengantarkan manusia kepada fenomena elektron yang indeterministik – lebih mendekati ke sifat jiwa. Padahal, materi dalam skala makrokospik bersifat deterministik sesuai mekanika klasik Newton.

Substansi. Spinoza, filsuf abad 17, menyatakan bahwa hakikat seluruh alam semesta adalah substansi Tuhan. Materi alam eksternal yang kita lihat semisal meja, kursi, pohon, dan lainnya adalah bayang-bayang dari substansi Tuhan. Mereka hanya dipinjami substansi oleh Tuhan. Pandangan Spinoza, yang menganggap segala sesuatu hakikatnya adalah substansi Tuhan, dikenal sebagai pandangan monisme.

Pikiran. Berkeley, filsuf abad 17 – 18, menyatakan hakikat alam semesta adalah pikiran. Misalnya mengapa ada pohon di depan rumah, itu karena kita memikirkan pohon itu. Orang lain memikirkan pohon itu. Tetapi ketika tidak ada orang memikirkan pohon mengapa masih ada pohon? Karena Tuhan memikirkan pohon tersebut. Jadi, alam semesta adalah pikiran Tuhan. Dan semakin nyata karena makin banyak manusia ikut berpartisipasi memikirkannya.

Kehendak. Schopenhauer, filsuf abad 19, menyatakan hakikat alam semesta adalah kehendak, will. Tentu saja manusia punya kehendak, dan kehendak itulah hakikat jati diri manusia. Sedangkan alam luar, misal batu, juga punya kehendak meski kehendaknya tidak sekuat kehendak manusia.

Radikal Empiris. William James, filsuf abad 20, meyakini bahwa meteri dan pikiran manusia saling menguatkan. Alam eksternal, misal meja, memang ada. Lalu pikiran manusia memikirkan meja itu maka meja akan, sedikit, berubah sesuai pikiran manusia. Meja yang baru mempengaruhi pikiran manusia lagi, mengubah pikiran manusia. Selanjutnya pikiran manusia mempengaruhi meja dan seterusnya. Sehingga realitas alam semesta saling mempengaruhi dengan pikiran manusia.

Gelombang. Schrodinger, ilmuwan abad 20, merumuskan gelombang quantum untuk menjelaskan fenomena quantum. Tetapi gelombang quantum ini membuka cakrawala baru sehingga orang bisa berpikir bahwa alam semesta hakikatnya adalah susunan-susunan gelombang. Nyatanya, partikel elementer elektron terbukti bisa dipandang sebagai gelombang. Sehingga alam makrokospis, sejatinya, terdiri dari tumpukan banyak gelombang.

Equa. Gelombang Schrodinger memunculkan banyak kemungkinan teori baru. Saya menggagas equa. Hakikat alam materi adalah equa, yaitu realitas alam yang bisa didekati, salah satunya, dengan persamaan gelombang quantum. Tetapi equa bukan persamaan itu sendiri melainkan hakikat realitas. Sehingga materi, alam eksternal, adalah manifestasi dari equa. Di satu sisi equa bersifat material dan di sisi lain bersifat nonmaterial.

Cahaya. Suhrawardi, pemikir abad 11, menyatakan realitas paling fundamental dalah cahaya, tepatnya, cahaya ontologis. Cahaya adalah realitas paling jelas dengan dirinya sendiri. Kita tidak bisa menjelaskan cahaya karena setiap penjelasan, justru, membutuhkan cahaya agar jelas. Hanya cahaya yang bisa menjelaskan realitas lain menjadi lebih jelas. Cahaya ini tunggal, di saat yang sama, bergradasi sesuai intensitas dan bentuknya, sehingga, cahaya beragam.

Barzakh. Suhrawardi dan Ibn Arabi menggunakan istilah barzakh untuk menjelaskan beragam fenomena alam. Barzakh, atau barza, adalah ruang temu antara cahaya dan gelap. Karena, realitas sejati hanya cahaya saja, dan gelap adalah tidak ada cahaya, atau hampa cahaya, maka barza adalah pertemuan antara cahaya dan kehampaan. Akibatnya, barza, sejatinya adalah cahaya itu sendiri. Bagaimana pun, barza tampak seperti pertemuan antara dua realitas yaitu cahaya dan gelap.

Ringkasan. Dari berbagai macam pandangan tentang materi tampaknya cara pandang sains adalah yang paling banyak diterima. Yaitu materi alam semesta terdiri dari atom-atom (dan partikel elementer) sesuai dengan hasil penelitian terbaru. Tetapi pandangan materialis seperti ini membatasi cara pandang hanya sebatas materi. Fenomena yang lebih beragam tidak mendapat panggung utama. Maka kita perlu meluaskan cakrawala dengan mempertimbangkan ragam alternatif seperti kita baca di atas.

4. Cantik Alami

Kita kembali membahas cantik alaminya Rara, setelah panjang lebar mendiskusikan hakikat penyusun pipi Rara dari atom sampai pikiran. Hakikat cantiknya Rara adalah cantik alami itu sendiri.

Seperti kita pernah bahas sebelumnya, hakikat cantik adalah struktur, susunan, hubungan, yang harmonis dari berbagai unsur penyusunnya. Struktur cantik itu sendiri tidak bersifat material melainkan bersifat universal yang hakikatnya ada di alam idea. Ini adalah sintesa pandangan Aristoteles dan Plato.

Sementara Ibnu Arabi menyatakan bahwa cantiknya Rara itu adalah manifestasi dari sifat Tuhan yang Maha Indah, Maha Baik, Maha Kreatif, dan lain-lain.

Kant menyatakan ada dua macam cantik. Pertama adalah cantik bebas. Yaitu cantik dan indah meski sepertinya tidak ada aturan pasti. Misal karya seni abstrak, coretan-coretan bebas yang tampaknya seperti tidak punya aturan. Bisa juga menatap awan senja yang begitu cantik dengan tatanan warni-warni.

Kedua, cantik bertujuan. Yaitu cantik yang punya tujuan tertentu. Misal cantiknya Rara punya tujuan mendukung kehidupan Rara. Mata Rara untuk melihat, alis melindungi mata dari tetesan air, bulu mata melindungi dari debu dan lainnya. Rumus matematika juga cantik dengan tujuan memecahkan suatu masalah tertentu.

Apa hakikat dari cantik alami itu?

Kita akan membahas pada bab-bab berikutnya. Kita masih perlu membahas bab universalia sebagai pendahuluan. Di bagian ini, kita hanya bisa kembali menyatakan bahwa cantik alami itu bersifat universal berada dalam alam idea.

5. Hakikat Cinta

Hakikat cinta akan tetap menjadi tanda tanya sampai akhir buku ini. Cinta bertanya ke arah mana sumber cinta. Cinta bertanya kepada siapa mencurahkan cinta. Cinta ada di mana-mana.

Filsafat tentu saja gagal mendefinisikan cinta. Definisi adalah membatasi. Cinta itu tak terbatas dan tidak bisa dibatasi. Hakikat cinta tetap tersembunyi. Bukan karena kecil, cinta bisa tersembunyi. Justru karena besar, ada di mana-mana, mata tak sanggup menatapnya. Bagai matahari, begitu terangnya, mata tak sanggup menatapnya. Cukup kiranya berkas-berkas sinar matahari menerangi.

Meski hakikat cinta tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata, kita bisa merasakan ada, sekedar percikan cinta. Cinta saya kepada Rara adalah nyata, cinta seorang ayah kepada anaknya. Cinta seorang anak kepada ibunya juga nyata. Cinta istri kepada suami dan cinta suami kepada istri nyata bahkan menjaga kelangsungan sejarah umat manusia. Cinta adalah hakikat manusia. Cinta adalah subyek saya sebagai saya. Cinta adalah saya sebagai kulo.

6. Diskusi

Pertanyaan tentang hakikat segala sesuatu memang sudah menyusahkan para pemikir sepanjang jaman. Filsafat menjawab dengan beragam sudut pandang. Bahkan yang paling meyakikan, secara filosofis, kita hanya bisa mengetahui penampakan segala sesuatu bukan segala sesuatu itu sendiri.

Tetapi sains berhasil melangkah dengan pasti, dilengkapi dengan ilmu pasti yang obyektif. Mengungkap hakikat materi adalah tersusun oleh atom-atom dan partikel elementer sesuai teori quantum. Bila kita coba cermati lebih hati-hati, pendekatan sains ini membatasi diri hanya kepada fenomena materi. Pembatasan seperti ini bisa kita sebut sebagai bald-naturalism atau naturalisme gundul. Hal itu bagus-bagus saja. Sejatinya kita, manusia, bukan sekedar materi. Sehingga, paradigma sains tidak memadai untuk mewakili keseluruhan realitas manusia, alam sekitar, serta Tuhan.

Kita bisa meringkas hakekat realitas adalam materi dan non-materi.

Di bagian diskusi ini, kita akan membahas beberapa teori sains paling maju.

6.1 Teori Quantum String

Teori String adalah salah satu kandidat teori sains paling canggih saat ini, abad 21. Teori String adalah perluasan dari teori quantum dengan beberapa penyempurnaan. Teori quantum terbukti sukses untuk menjelaskan fenomena ukuran sub-atomik semisal elektron, proton, quark, dan lain-lain. Tetapi, quantum tidak berhasil menjelaskan fenomena alam raya dalam ukuran besar, misal, pergerakan bulan dan matahari. Teori string, diharapkan, mampu menjelaskan semua fenomena di alam raya.

String adalah point-like. String mirip dengan titik, tetapi bukan partikel, bukan pula cahaya. String adalah penyusun partikel dan cahaya itu sendiri. Sebuah string tidak akan bisa dideteksi eksistensinya. Karena terlalu lembut. String lebih kecil dari semua detektor, lebih kecil dari semua alat ukur. Ketika string berkumpul dalam jumlah besar maka bisa dideteksi dalam bentuk partikel elektron atau sebagai cahaya foton. Dengan demikian, string konsisten terhadap teori quantum.

Dalam ukuran alam raya, pergerakan matahari dan bulan, kita dapat menganalisis mereka sebagai tersusun oleh jutaan string-string. Hasilnya, dengan teori string, kita bisa menganalisis seluruh fenomena.

Bila kita perhatikan sesakma, string ini mirip dengan atom filosofis Ghazali. Sebuah string dan sebuah atom-filosofis, sama-sama, tidak bisa dideteksi secara materialis, baik sebagai partikel atau gelombang. Sementara, ketika mereka berkumpul dalam jumlah besar, string atau atom-filosofis ini bisa kita ukur secara materialis.

Apakah, dengan demikian, teori string adalah teori yang sempurna untuk menjelaskan seluruh realitas? Tidak juga. Sampai saat ini, teori string belum didukung oleh data empiris yang memadai. Sementara, secara matematis, teori string masih menunjukkan beragam kesulitan yang tak terpecahkan. Lebih rumit lagi, teori string, sejak awal, mengasumsikan sudah berada “di dalam” ruang dan waktu. Bagaimana pun, teori string menjadi kandidat teori sains yang paling canggih.

6.2 Teori Relativitas Gravitasi

Einstein (1879 – 1955) adalah ilmuwan terbesar abad 20. Awal abad 20, Einstein merumuskan teori fotolistrik yang mengantarkannya meraih Nobel. Teori fotolistrik menjadi salah satu dasar teori quantum. Kemudian, Einstein maju ke arah yang berbeda dari teori quantum. Bahkan, Einstein menjadi kritikus paling tajam terhadap teori quantum.

Einstein makin sukses dengan mengembangkan teori relativitas. Relativitas-khusus mengantarkan perkembangan teknologi nuklir berkembang pesat. Tahun 1945, bom nuklir meledak di Hirosima dan Nagasaki mengakhiri perang dunia II. Dengan jatuh korban dalam jumlah ribuan jiwa akibat bom nuklir, dikabarkan, Einstein menyesali penemuannya: teori relativitas-khusus.

Sementara, teori relativitas-umum berkembang makin membesar dengan banyak benturan ide-ide filosofis. Einstein, memang ilmuwan sekaligus filsuf. Pada usia belasan tahun, Einstein telah melahap trilogi kritik dari Immanuel Kant. Berlanjut dengan melahap Schopenhauer. Dengan latar filosofi yang kuat, Einstein menyusun teori sains fundamental: relativitas-umum.

Banyak orang memandang bahwa relativitas umum adalah kelanjutan dari teori gravitasi Newton. Meski pun, Einstein memandang teorinya sebagai kelanjutan teori elektromagnetik dari Maxwell. Bagaimana pun, relativitas-umum memang mengoreksi teori gravitasi Newton.

Massa jenis yang sangat besar mampu membelokkan ruang dan waktu serta menjebak cahaya. Akibatnya, berdasar relativitas-umum, ada peluang gerak waktu berputar ke masa lalu. Dilengkapi dengan lubang-cacing, maka, manusia bisa mundur ke masa lalu. Teori lubang-hitam mengantarkan banyak fisikawan, periode berikutnya, meraih Nobel misal Hawking dan Penrose.

Meski relativitas-umum berhasil dalam fenomena alam raya skala makro, tetapi, tidak bisa menjelaskan fenomena sub-atomik seperti quantum. Sehingga, sampai saat ini, sains fisika terbagi menjadi dua wilayah yang saling mandiri. Relativitas umum valid untuk fenomena alam raya makro. Sedangkan, quantum valid untuk fenomena mikro sub-atomik.

Teori relativitas-gravitasi, misal loop-quantum-gravity, hendak menyatukan sains fisika dengan titik berangkat relativitas umum. Teori relativitas, terbukti, mampu menjelaskan fenomena skala makro alam raya. Tetapi, relativitas mengasumsikan fenomena fisika sebagai kontinyu, bukan diskrit, berbeda dengan quantum. Sehingga, ketika relativitas akan diterapkan ke fenomena mikro menemui banyak kesulitan. Ide dasar relativitas-gravitasi adalah mengubah asumsi fenomena kontinyu menjadi diskrit melalui quantifikasi. Jika berhasil, relativitas-gravitasi akan mampu menjelaskan seluruh fenomena alam raya.

Apakah teori relativitas-gravitasi berhasil?

Sejauh ini, pengamatan empiris belum cukup untuk mendukung relativitas-gravitasi. Secara matematis, juga belum tersedia formulasi yang koheren. Bagaimana pun, banyak pengamat menilai teori relativitas-gravitasi lebih prospek dari teori string.

6.3 Theory of Everything

Toe atau theory -of-everything hadir sebagai implikasi wajar dari perkembangan sains fisika yang maju pesat, khususnya teori quantum dan relativitas. Toe, memang, bermaksud akan menjelaskan segala sesuatu. Lengkap!

Andalan sains fisika, yang dulu, berupa eksperimen mulai digeser oleh formulasi matematika. Para ilmuwan mengembangkan teori matematis untuk kemudian menguji dengan eksperimen. Andalan terhadap matematika ini, terbukti, efisien dan efektif. Menurut Hawking, sepantasnya, toe pasti dalam bentuk formula matematika.

Kabar baik, atau kabar buruk, terjadi pada awal tahun 1930an. Seorang pemuda bernama Godel berhasil menyusun teorema “ketidak-lengkapan” dan “ketidak-konsistenan.” Kelak, kita mengenalnya sebagai teorema Godel, yang menyatakan, setiap sistem formal pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Tentu saja, teorema Godel menjadi pukulan keras bagi toe. Karena, seandainya, kita mampu menemukan formula toe dengan baik, maka, toe pasti tidak lengkap atau tidak konsisten.

Benar saja, sejak terbukti validitas teorema Godel, nama toe mulai memudar. Tampaknya, ilmuwan sepakat bahwa toe memang hanya utopia. Alternatifnya adalah mengembangkan teori dengan nama spesifik semisal teori string atau teori gravitasi.

Di bagian selanjutnya, kita akan membahas lebih banyak, melampaui sains fisika materialis, dengan lebih detil di antaranya pengetahuan universalia, pengetahuan apriori, berpikir induksi, dan sebagainya. Sebelum melangkah ke sana kita akan membahas isu penting dalam filsafat, meski sering diabaikan orang awam, yaitu idealisme.

Lanjut ke Idealisme
Kembali ke Philosophy of Love

Iklan

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: