Membangunkan Manusia

Sejarah panjang manusia menunjukkan aneka ragam sukses dan kehancuran. Saat ini manusia sedang dalam puncak sukses materi tapi dalam ancaman degradasi kemanusiaan. Orang stress tak terhitung jumlahnya padahal kaya. Orang bunuh diri di penjuru dunia padahal artis ternama. Orang muak pesta pora padahal ada kelaparan di tetangga.

Kita perlu bangun kembali. Kita perlu terjaga. Sesaat bersama kesadaran.

Manusia terperosok dalam skizofrenia massal. Berputar-putar di dunia maya. Pusing dengan status. Ditambah debat-debat tanpa akhir di grup. Atau kepo tiada batas. Tak ada beda yang asli atau palsu. Semangat tetap ada untuk copas dari copas. Share dari grup sebelah.

Pagi datang. Fajar segera bersinar. Sudah siapkah kembali sadar?

Saya mengusulkan proyek bersama: polisakral. Di mana kita bersama-sama, di berbagai bidang, membangunkan kembali jiwa suci. Baik Anda yang bos besar, pegawai kecil, petani, buruh, militer, sipil, pengusaha, guru, siswa, dan lain-lain bisa berperan membangunkan kembali jiwa suci: polisakralisasi – polysacralization.

Seyyed Hossein Nasr - Wikipedia
Nasr

Nasr mempromosikan proyek sakralisasi sejak akhir abad 20 sampai sekarang. Proyek ambisius ini sudah menyebar ke seluruh penjuru dunia. Tetapi dunia yang sedang didominasi oleh kapitalisme tidak mudah menerima itu semua. Belum lagi banyak manusia yang masih terlelap tidur dalam simulacra media sosial. Ide sakralisasi ini saya dukung untuk lebih menyebar ke polisakralisasi.

Pencerahan

Renaisans atau pencerahan di Eropa merupakan sejarah besar manusia yang benar-benar mencerahkan. Kita bisa banyak belajar dari pencerahan untuk mendapatkan pencerahan. Perlu kita sadari bahwa puncak keemasan peradaban manusia juga pernah terjadi di masa-masa sebelumnya. Peradaban Mesir kuno, Cina, India, Yunani, Romawi, Arab, dan disusul pencerahan Eropa yang luar biasa itu.

Mari kita coba sedikit fokus ke Descartes, pemikir pecerahan. Konsep paling penting adalah cogito, “Aku berpikir maka ada.” Sangat jelas eksistensi manusia ditentukan oleh kemampuan berpikir. Manusia yang tidak berpikir, yang tidak rasional, diragukan eksistensinya. Tentu saja ini konsep revolusioner.

Umat manusia tidak lagi terkungkung oleh takhayul. Manusia bebas berpikir. Dan sejarah mencatat, sukses Descartes disusul dengan suksesnya fisika Newton, mesin uap James Watt, listrik Edison, dan lain-lain. Manusia berkembang pesat dengan menguasai sains teknologi. Dan kapitalisme menguasai dunia – lengkap dengan plus minusnya.

Teknologi digital melesat di paruh akhir abad 20. Bill Gates menjadi orang terkaya dengan mendominasi industri software – yang semula gratis menjadi berbayar. Steve Jobs konsisten dengan produk-produk Apple yang berkualitas super untuk orang punya uang. Google mendorong internet menjadi lebih cerdas di seluruh jagat raya. Zukerberg memastikan industri media sosial melingkupi seluruh bidang kehidupan manusia.

Dan kita tahu, seperti kita sebut di awal, sukses umat manusia itu berujung menjadi jebakan bagi umat manusia itu sendiri.

Dualisme: Pisau Tajam Peradaban

Konsep berpikir rasional Descartes itu berhasil membuktikan adanya dunia material, badan manusia, alam sekitar, dan lain sebagainya. Cara berpikir yang sama juga berhasil membuktikan eksistensi jiwa manusia, ruh, dan Tuhan. Tetapi Descartes gagal mencari hubungan antara jiwa dan badan manusia. Berbagai macam cara rasional untuk menemukan hubungan itu selalu menemukan jalan buntu. Maka berpikir Descartes ini berujung pada konsep dualisme: jiwa lawan badan.

Gagalnya Descartes menyatukan jiwa dan badan itu justru jadi berkah peradaban manusia menurut Jhon Searle, pemikir asal Amerika aliran analytic. Karena tidak bisa disatukan maka dua bidang itu diatur oleh aturan yang berbeda. Badan, dan materi, diselidiki dan diatur oleh sains, matematika, dan teknologi. Sementara, jiwa dan ruh, diatur dan dipelajari oleh agama dan metafisika.

Dengan demikian umat manusia jadi bebas berpikir di bidang sains tanpa takut berbenturan dengan doktrin agama. Sebelum masa pencerahan, beberapa ilmuwan divonis bersalah karena penemuan sains nya dianggap melanggar agama. Sains sulit berkembang. Tetapi sejak jaman Descartes, ilmuwan bebas berkreasi. Sains dan teknologi membubung tinggi.

Bisa kita duga kisah selanjutnya. Sains dan teknologi mengabdi kepada kepentingan manusia. Hanya segelintir manasuia tepatnya. Mereka yang menguasai sains teknologi berkuasa. Bebas melakukan apa saja. Mengeruk kekayaan di seluruh penjuru dunia. Mendominasi segala yang ada. Kerusakan alam jadi dampaknya. Tetapi mereka tetap punya sains dan teknologi yang digdaya. Terus berkembang bertambah kuasa.

Di sisi lain, lebih banyak orang menderita. Miskin harta bahkan jiwa. Kekayaan alam mengalir ke kota, baik di negara yang sama atau manca. Pendidikan yang diharapkan menjadi pembela. Masih jauh dari sempurna.

Nyatanya yang kaya atau papa sama-sama menderita. Yang papa memang kurang sarana. Yang kaya kehilangan makna. Semua ini adalah masalah bersama, kita semua umat manusia. Perlu menemukan satu dan lain cara. Kembali membangun budaya bersama. Menuju bahagia jiwa raga.

Saya mencatat kekuatan sains teknologi ini, yang didasarkan dualisme raga terpisah dari jiwa, benar-benar bagai pisau bermata dua. Di satu sisi memajukan umat manusia. Di sisi lain menciptakan kesenjangan menganga. Sudah tiba saatnya kita menemukan solusi yang lebih tinggi: polisakralisasi.

Dominasi Narasi Teknologi

Jebakan manusia adalah terkungkung dalam cara pandangnya sendiri. Ketika sains teknologi membubung tinggi maka yang lainnya boleh pergi. Semua yang sesuai sains adalah ilmiah. Semua yang sesuai teknologi terkini adalah kemajuan. Yang berbeda dengan sains boleh dicurigai. Bisa penipuan atau ilusi. Minimal psudo sains atau ilmu palsu. Yang tidak pakai teknologi adalah kuno ketinggalan jaman.

Itu adalah narasi. Bahkan metanarasi.

###

Immanuel Kant, pemikir besar Jerman berikutnya, berhasil menyusun teori yang komprehensif mengenai fisika, sains, dan etika. Sedangkan untuk bidang metafisika (dan agama), Kant berhasil membuktikan adanya paradox untuk sintesa a priori. Konsekuensinya akan ada perbedaan-perbedaan keyakinan berkaitan agama dan metafisika. Di masa postmodern, tema ini diolah dengan penuh semangat oleh Lyotard menjadi dissensus.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: