Idealisme

Cinta ideal menjadi idaman setiap manusia. Keluarga ideal tampak begitu bahagia. Negara ideal sempurna tiada tara.

Sementara, di tempat lain, mahasiswa idealis adalah mahasiswa yang menuntut kebenaran. Mahasiswa idealis kadang tidak peduli dengan nilai kuliahnya, yang penting ia idealis, selalu membela kebenaran. Cowok idealis adalah mereka yang pilih-pilih calon istri dengan kriteria super ketat. Akibatnya, cowok idealis tidak menemukan istri. Bahkan pacar pun dia tidak punya. Cewek idealis bisa bernasib sama.

Tetapi ide idealisme adalah sesuatu yang jauh berbeda dari ideal mau pun idealis di atas. Bertrand Russell mencatat begitu beragamnya penggunaan istilah idealisme. Satu sama lain bisa saja saling bertentangan. Maka di bagian ini saya akan mengacu definisi idealisme dari Russell.

Doktrin Idealisme

Russell memahami idealisme sebagai suatu doktrin yang menyatakan bahwa apa pun yang eksis, atau yang bisa diketahui akan eksis, pasti dalam pengertian tertentu adalah bersifat mental. Dengan bahasa yang lebih sederhana, idealisme menyatakan bahwa dunia luar, alam eksternal, sejatinya tidak ada. Apa yang kita ketahui tentang meja, pohon, Rara yang cantik, dan lain-lain sejatinya adalah hanya pikiran kita – bersifat mental belaka.

Pandangan idealisme itu tampak absurd bagi kita orang awam. Seperti tidak masuk akal. Tetapi secara filosofis, idealisme, dianut secara luas dan punya pengaruh besar. Maka sebelum melangkah lebih lanjut kita, di bagian ini, perlu membahas dengan tuntas idealisme ini.

Pada bagian awal bukunya, Russell menyatakan bahwa idealisme, bagaimana pun, bisa menjadi sebuah sistem filsafat yang koheren. Di bagian selanjutnya, Russell menunjukkan sesatnya idealisme. Argumen Russell, menurut saya, sah di berbagai bagian tetapi perlu hati-hati di bagian lainnya.

Bantahan Argumen Idealisme

Idealisme, umumnya, bersandar kepada epistemologi. Di mana, menurut mereka, manusia diragukan mampu mengetahui dunia alam eksternal. Akibat keraguan ini maka mereka melangkah lebih jauh dengan menyatakan dunia alam eksternal, sejatinya, tidak ada. Yang ada hanya pikiran kita yang bersifat mental. Russell berhasil menunjukkan cara berpikir idealisme ini adalah sesat.

Berkeley, filsuf pendukung idealisme, menyatakan bahwa data-indera kita tidak akan bisa memiliki esksistensi yang mandiri. Artinya data-indera pasti akan hancur jika kita tidak sedang berpikir, melihat, mendengar, merasa, atau menginderanya. Maka data-indera bersifat mental – sebagian atau seluruhnya. Dan tidak ada yang bisa kita ketahui tentang dunia luar kecuali hanya data-indera yang bersifat mental, yang berupa ide kita sendiri. Jika ada sesuatu yang tidak kita pikirkan, misal sebatang pohon, itu pasti karena sedang dipikirkan oleh orang lain, itu adalah ide orang lain. Dalam versi yang lain, benda yang tidak sedang saya pikirkan tapi realitasnya ada dunia luar misal sebatang pohon, itu karena dipikirkan oleh Tuhan – idenya Tuhan.

Argumen Berkeley di atas ada bagian yang valid dan ada yang sesat. Berkeley benar ketika mengatakan bahwa apa yang kita lihat adalah data-indera belaka bukan benda apa adanya, bukan pohon sejati misalnya. Tetapi Berkeley tersesat ketika menyimpulkan tidak pernah ada pohon sejati di alam luar. Dan Berkeley sendiri ragu ketika mengatakan ada pohon lain di luar sana, meskipun buru-buru dia tambahkan itu pasti ada dalam pikiran orang lain.

Keraguan Berkeley dapat kita perluas. Misalnya perhatikan bagian belakang rembulan, yang tidak pernah terlihat dari bumi, karena yang kita lihat selalu bagian depan rembulan. Tetapi bagian belakang rembulan pasti ada meski kita tidak melihatnya dan kita tidak memikirkannya. Berkeley buru-buru menambahkan bahwa bagian belakang rembulan ada karena dipikirkan oleh Tuhan. Sudah cukup kiranya, kita bisa menolak argumen idealisme Berkeley.

Untuk membuktikan bahwa eksistensi pohon benar-benar ada di alam eksternal bisa kita lakukan dengan beragam cara seperti yang sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Misal kita mengajak orang lain mengamati pohon bergantian. Pohon tetap ada ketika kita tidak memikirkannya. Jadi pohon tidak berada dalam pikiran kita. Bisa juga kita memasang kamera yang merekam pohon itu lalu kita tinggalkan. Kemudian kita cek kamera, rekamannya, menunjukkan pohon benar-benar ada. Baik ketika kita sedang memikirkannya atau tidak.

Rancunya Istilah Ide

Russell mencatat ada kerancuan ketika Berkeley menggunakan istilah “ide”. Sehingga Berkeley jadi ragu-ragu.

Pertama, ketika kita melihat pohon di depan rumah maka akan muncul “gambaran” pohon dalam pikiran kita. Berkeley menggunakan istilah “ide” untuk “gambaran” pohon dalam pikiran manusia.

Kedua, ketika kita mengatakan dua pohon ditambah tiga pohon sama dengan lima pohon maka kita memikirkan konsep umum tentang pohon. Bukan pohon tertentu yang ada dalam realitas dunia eksternal. Konsep umum ini juga disebut “ide” oleh Berkeley. Dan benar adanya bahwa ide pohon untuk kasus ini hanya ada dalam pikiran manusia.

Ketiga, karena terbukti pada kasus kedua bahwa ide pohon hanya ada di pikiran manusia maka pada kasus pertama ide pohon juga ada di pikiran manusia. Kesimpulan ini juga valid. Selanjutnya, kesimpulan yang salah, Berkeley meyakini ide pohon hanya ada dalam pikiran dan tidak ada pohon sejati di alam eksternal.

Berkeley boleh menggunakan ide pohon pada kasus kedua dan hanya ada dalam pikiran. Seharusnya, untuk kasus pertama, Berkeley menggunakan istilah lain misal data-indera. Di sini kita sepakat data-indera memang ada dalam pikiran manusia. Tetapi di saat yang sama, data-indera membuktikan, bersesuaian, adanya realitas pohon sejati di alam eksternal – seperti sudah kita tunjukkan di atas.

Ketelitian

Tampaknya Russell begitu bersemangat menolak idealisme, semisal pandangan Berkeley. Menurut saya, Russell melangkah terlalu optimis menyatakan bahwa manusia benar-benar bisa melihat pohon di alam eksternal. Sejatinya kita hanya bisa melihat pohon di alam eksternal hanya dengan estimasi saja. Jadi, kita hanya bisa ada di posisi tengah antara dua ekstrem.

Ekstrem satu adalah pandangan idealisme yang menyatakan tidak ada realitas pohon sejati di alam eksternal karena kita sama sekali tidak bisa melihat alam eksternal. Dan ekstrem kedua adalah pandangan yang menyatakan bahwa kita benar-benar bisa melihat pohon yang ada di alam eksternal. Posisi di tengah, lebih hati-hati dan teliti, adalah kita bisa melihat alam eksternal hanya sebagai pendekatan atau estimasi belaka.

Saya kira, Immanuel Kant, filsuf abad 18-19, yang berhasil meyakinkan bahwa yang kita lihat adalah sekedar penampakan atau fenomena dari hakikat alam. Filsuf selanjutnya menguatkan pandangan Kant tersebut semisal Schopenhauer, Husserl, sampai Sartre. Bahkan sebelum Kant, Sadra filsuf abad 17, lebih tegas dengan menegaskan identitas “yang melihat” dengan “yang dilihat”.

Semua filsuf yang kita sebut di atas menolak idealisme, semisal Barkeley. Meski pengetahuan manusia memiliki batasan tertentu untuk mengenali alam eksternal, mereka dan kita, yakin bahwa alam eksternal eksis secara obyektif. Sifat-sifat lebih detil dari pengetahuan manusia ini akan menjadi bahasan kita di bagian selanjutnya. Di antaranya pengetahuan melalui pengenalan dan pengetahuan melalui deskripsi.

Lanjut ke Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi
Kembali ke Philosophy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: