Pengetahuan Pengenalan dan Deskripsi

Rara gadis cantik itu masih ada di hadapan saya. Pakai baju putih dengan rok warna abu. Matanya bening, alis hitam tebal. Pipinya lembut, bulu mata lentik, dan rambut hitam lebat.

Pengetahuan saya tentang Rara adalah jenis pengetahuan pengenalan, yaitu saya mengetahui Rara langsung dengan melihatnya. Saya langsung mengetahui Rara, obyek eksternal, melalui indera saya. Meski saya melihat langsung, sejatinya, saya hanya mengenali Rara melalui data-indera yang dihubungkan dengan Rara. Saya tetap tidak tahu hakikat Rara. Yang saya ketahui adalah penampakan Rara. Itulah pengetahuan pengenalan oleh manusia.

Tetapi pengetahuan Anda tentang Rara, melalui uraian saya di atas, adalah pengetahuan deskripsi. Anda tidak mengenal Rara. Melalui tulisan saya, Anda jadi mengetahui deskripsi tentang Rara. Pengetahuan deskripsi ini melibatkan suatu kebenaran. Maksudnya pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara bisa benar tapi bisa juga salah. Jika saya menguraikan gambaran tentang Rara dengan benar maka boleh jadi pengetahuan deskripsi Anda juga benar. Sementara, jika saya berbohong tentang gambaran Rara, saya edit beberapa bagian tentang Rara, maka pengetahuan deskripsi Anda tentang Rara adalah salah atau sesat.

Sekilas, membandingkan pengetahuan pengenalan dengan pengetahuan deskripsi, tampaknya, kita lebih percaya kepada pengetahuan pengenalan. Karena pengetahuan pengenalan adalah langsung dan dijamin selalu benar – sejauh data-indera yang dipertimbangkan. Tetapi sejatinya, ilmu pengetahuan manusia berkembang pesat justru melalui pengetahuan deskripsi, yang bersifat tidak langsung. Kita menambah ilmu hampir seluruhnya melalui membaca, mengikuti pelajaran, menonton video, dan lainnya yang merupakan deskripsi. Sehingga kita perlu menaruh perhatian lebih kuat kepada pengetahuan deskripsi.

Pengetahuan Pengenalan Selalu Benar

Dua faktor utama yang membuat pengetahuan pengenalan lebih unggul adalah selalu benar dan sangat mengesankan. Dalam bahasa sehari-hari, pengetahuan pengenalan adalah melihat dengan mata dan kepala sendiri. Dalam proses belajar sains, siswa sering perlu melakukan praktikum agar dapat mengamati secara langsung fenomena alam. Agar memperoleh pengetahuan pengenalan. Saya sendiri membuat permainan berupa benda-benda konkret seperti kubus dan bola, untuk melatih anak-anak belajar berhitung dasar. Anak-anak mengenali secara langsung bahwa 2 bola ditambah 3 bola adalah 5 bola. Hasilnya sangat mengesankan.

Pengetahuan pengenalan, yang diyakini selalu benar, dimanfaatkan oleh persidangan kasus hukum. Mereka biasa memanggil saksi mata agar bersaksi di bawah sumpah. Apa yang disampaikan oleh saksi mata diyakini selalu benar karena dianggap sebagai pengetahuan pengenalan.

Dokter juga sering menanyakan ke pasien apa keluhan yang dirasakan. Pasien bisa menceritakan sakit kaki dan pinggang. Pasien merasakan langsung sakitnya. Itu adalah pengetahuan pengenalan yang diyakini selalu benar. Untuk kemudian dokter melengkapi dengan diagnosa, menambah pengetahuan pengenalan dari prespektif dokter.

Russel juga memasukkan pengetahuan tentang diri, pengenalan tentang kesadaran diri, dalam pengetahuan pengenalan yang diyakini kebenarannya.

Dalam kehidupan sehari-hari orang sering mengatakan, “Saya hanya percaya bila sudah melihat dengan mata dan kepala sendiri.” Menguatkan keyakinan bahwa pengetahuan melalui pengenalan adalah selalu benar.

Namun kita tidak boleh gegabah. Pengetahuan pengenalan adalah selalu benar sejauh data-indera yang diperhatikan. Sedangkan bila kita menyelidiki hakikat obyek, pohon misalnya, pengetahuan pengenalan bisa saja salah. Pohon yang tingginya 2 meter tampak begitu tinggi bila kita melihatnya dari jarak dekat, sedepa misalnya. Tapi bila kita menjauh pada jarak 3000 meter, maka pohon yang sejatinya 2 meter itu tampak hanya setinggi lutut kaki. Untuk mendapatkan pengetahuan yang lebih hakiki kita perlu melangkah melampaui sekedar data-indera.

Fatamorgana: Ilusi Indera

Barangkali kita sudah sangat akrab dengan ungkapan fatamorgana. Mata kita melihat seperti ada air atau gas yang meliuk-liuk ketika cuaca panas terik di jalanan beraspal. Padahal sama sekali tidak ada air di jalan beraspal tersebut. Fatamorgana menunjukkan bahwa pengetahuan pengenalan dari indera kita tidak bisa begitu saja dipercaya. Pengetahuan indera mata bisa salah.

Contoh lain yang lebih mudah kita ulang dengan eksperimen adalah memasukkan sebatang sendok ke gelas yang berisi air setengah penuh. Maka kita bisa melihat sendok dari atas atau samping tampaknya sendok tersebut patah. Ketika sendok kita ambil terlihat sendok tidak patah. Mata kita tertipu oleh pembiasan atau pembelokan cahaya sendok.

Pesulap barangkali memberi contoh yang lebih serius. Dia menunjukkan hanya ada satu bola pingpong di dalam topinya. Lalu mengambil satu-satunya bola itu, melempar ke penonton. Kemudian pesulap itu mengambil satu lagi bola dari topinya, dilemparkan lagi ke penonton. Berulang-ulang pesulap melakukan itu. Kita yakin bahwa yang dilihat mata indera kita adalah ilusi. Kita sedang menghibur diri bersama pesulap. Mana mungkin satu bola bisa diambil berkali-kali? Ada kebenaran yang tersembunyi di balik mata indera kita.

Tugas selanjutnya adalah kita perlu mengungkap kebenaran di balik pengetahuan pengenalan oleh indera. Untuk itu kita perlu memanfaatkan analisis rasional berdasar pengetahuan a priori yang bersifat universal. Misal pesulap yang mengambil satu-satunya bola di dalam topi, pengetahuan a priori memberi tahu pasti tidak ada lagi bola di dalam topi. Bila, ternyata, ada bola lagi maka pasti ada penambahan bola baru dengan satu dan lain cara. Atau pesulap sejatinya tidak mengambil bola sama sekali dari dalam topi. Ia mengambil bola dari tempat lain. Dengan penyelidikan maka kita akan menemukan rahasia tukang sulap dan berhasil mengungkap kebenaran.

Pembahasan lebih detil tentang pengetahuan a priori yang bersifat universal ini akan kita bahas pada bab khusus selanjutnya. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18 – 19 dari Jerman, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

Pengetahuan Deskripsi Tersebar Luas

Seperti tidak masuk akal bahwa ilmu pengetahuan bisa tersebar luas oleh pengetahuan deskriptif, yang bisa bernilai benar atau sesat. Sedangkan pengetahuan pengenalan, yang dijamin selalu benar, justru lambat berkembang. Namun kehebatan penyebaran pengetahuan deskripsi, yang revolusioner ini, memerlukan sumber ilmu dari pengetahuan pengenalan juga.

Revolusi pengetahuan pertama adalah ketika ditemukan teknologi membuat kertas yang baik oleh Cai Lun (Ts’ai Lun) pada abad pertama di negeri Cina. Sebelum jaman Cai Lun, orang sangat sulit untuk membuat catatan karena belum tersedia kertas. Orang harus mengukir di batu, memahat kayu, atau menggores di kulit sapi. Sukses Cai Lun memproduksi kertas memudahkan ilmu dicatat dan disebarkan ke berbagai penjuru.

Revolusi pengetahuan kedua adalah pada abad ke 15 setelah Gutenberg berhasil menemukan mesin cetak yang efektif di Eropa. Bila sebelumnya, orang harus menulis dengan tangan untuk membuat buku, maka setelah ada mesin Gutenberg, buku bisa dicetak dan diperbanyak lebih mudah. Pengetahuan makin melompat tersebar ke seluruh dunia.

Revolusi pengetahuan ketiga terjadi di milenium ketiga, saat ini, di mana teknologi digital sudah tersebar ke sebagian besar penduduk dunia. Pengetahuan mudah dicatat, diproduksi, dan disebarkan hanya dalam hitungan detik. Dengan kekuatan media sosial, penyebaran informasi bagai tidak ada batas lagi. Setiap orang bisa memproduksi pengetahuan di saat yang sama bisa langsung menyebarkannya ke seluruh dunia. Pengetahuan yang diproduksi bisa berupa multimedia, tidak hanya tulisan saja.

Contoh pengetahuan deskripsi adalah, “Kelas APIQ adalah tempat belajar matematika di kota Bandung.” Pengetahuan ini bisa kita uji nilai kebenarannya. Bila di Bandung memang ada kelas APIQ sebagai tempat belajar matematika maka pengetahuan deskripsi di atas bernilai benar. Sedangkan, jika tidak ada kelas APIQ di Bandung maka pengetahuan deskriptif di atas bernilai sesat atau salah.

Seperti contoh di atas, pengetahuan deskripsi, pada analisis akhir, didasarkan pada pengetahuan pengenalan. Saya mengetahui bahwa ada kelas APIQ di Bandung. Ini adalah pengetahuan pengenalan oleh saya. Lalu saya tuliskan pengetahuan pengenalan saya itu di buku atau di internet. Maka menjadi pengetahuan deskripsi bagi banyak orang. Semula hanya satu orang, saya saja, yang mengetahui. Berubah menjadi banyak orang yang mengetahui, melalui pengetahuan deskripsi.

Pengetahuan Deskripsi vs Hoax

Jaman sekarang kita dibanjiri hoax. Sehingga sulit membedakan mana yang pengetahuan dan mana yang kesesatan. Di jaman dulu tidak ada hoax seperti jaman sekarang. Bayangkan masa sebelum Cai Lun menemukan kertas. Betapa sulitnya menulis satu halaman buku. Apa lagi menulis 120 halaman buku? Dengan kesulitan semacam itu maka orang-orang hanya akan menuliskan pengetahuan yang benar-benar bernilai tinggi.

Beda dengan jaman digital sekarang. Orang bisa menulis apa pun di media sosial dan langsung tersebar ke seluruh dunia, saat ini, dalam hitungan detik. Maka tulisan di jaman sekarang bisa saja bernilai tinggi, bisa bernilai rendah, bahkan bisa sesat. Kita terjebak dalam paradoks: terlalu banyak informasi sama artinya tidak ada informasi. Lebih parah lagi, tumpukan informasi bisa jadi bercampur dengan informasi sesat.

Di jaman kuno, dulu, memang mungkin saja membuat pengetahuan sesat atau hoax. Tetapi penyebaran cukup sulit. Sehingga hoax ini, paling bisanya, disebarkan melalui cerita dari mulut ke mulut. Karena sulit itu maka hoax harus menguntungkan pihak tertentu dengan cara merugikan pihak lain. Misalnya hoax seorang raja yang menceritakan bahwa dirinya adalah raja yang adil bijaksana. Agar seluruh warga tunduk hormat kepadanya. Atau hoax seorang raja menyebarkan fitnah untuk menjatuhkan reputasi pesaingnya.

Di jaman milenial, hoax bisa saja sekedar iseng. Hanya untuk seru-seruan saja. Toh, nyaris tidak ada biaya untuk menyebarkan hoax. Namun, hoax tetap bisa juga dimanfaatkan pihak tertentu untuk mengambil keuntungan sepihak dan merugikan pihak lain. Maka kita perlu membentengi diri, dan masyarakat, dari ancaman hoax.

Sejatinya ada ilmu khusus menangani hoax atau memanfaatkan hoax. Semiotika adalah ilmu tentang tanda dan penandaan. Umberto Eco mendefinisikan semiotika sebagai teori tentang dusta. Apa saja yang bisa dipakai untuk berdusta dan apa saja yang bisa melindungi kita dari dusta, lengkap dipelajari dalam semiotika.

Di sini, di bagian lampiran, kita akan sedikit membahas cara sederhana untuk melindungi diri dari hoax dengan memanfaatkan literasi media. Paling utama adalah kenali lalu bedakan bagian fakta dan opini dari suatu pengetahuan, informasi, atau berita.

Berpikir Cepat

Sampai di sini kita sudah mengenal ada dua jenis pengetahuan. Yaitu, pertama, pengetahuan pengenalan yang selalu bersifat benar. Pengetahuan yang bersumber dari melihat dengan mata kepala sendiri. Kedua, pengetahuan deskripsi di mana kita mengetahui sesuatu tidak secara langsung misal melalui buku. Pengetahuan deskripsi bisa saja bernilai benar tapi bisa bernilai salah atau sesat.

Namun dua jenis pengetahuan di atas masih perlu berkembang lebih cepat lagi. Ada cara berpikir yang fleksibel sehingga pengetahuan lebih cepat berkembang yaitu dengan berpikir induktif yang akan menjadi pembahasan utama kita pada bab berikutnya.

Lanjut ke Induksi: Cantik Keturunan
Kembali ke Philosphy of Love

Lampiran: Manajemen Hoax

Hoax menjadi penting untuk kita tangani saat ini karena, setidaknya, tiga hal. Pertama melindungi diri jangan sampai jadi korban hoax. Dan kedua, melindungi diri dan orang-orang sekitar agar tidak menjadi produsen atau distributor hoax. Ketiga, bagi yang berminat, bisa memanfaatkan hoax untuk kepentingan tertentu.

Pertimbangan lebih serius adalah hoax menghancurkan sisi manusiawi kita. Hoax menjadikan manusia lupa dengan dirinya sendiri. Lupa dengan realitas sekitar. Lupa dengan saudara. Yang ada hanya hoax itu sendiri. Hoax itu menuntun orang tersebut bagaimana cara melihat sesuatu, cara menilai sesuatu, dan cara memaknai sesuatu. Dan tentu saja itu semua tipuan belaka dari hoax.

Bahkan, jika media sosial memberikan informasi dengan benar apa adanya maka manusia tetap terjebak dalam bayang-bayang kemanusian. Media sosial yang seharusnya menghubungkan antar manusia berubah menjadi mendominasi manusia. Media sosial mengarahkan cara berpikir, cara merasa, dan cara menjadi manusia. Maka kita perlu mengembalikan media sosial kepada posisi yang tepat: sebagai media yang membantu bersosialisasi – bukan realitas sosial itu sendiri.

Lawan Hoax vs Fakta

Cara pertama melawan hoax adalah membedakan antara fakta dan opini. Fakta misalnya: kemarin saya belajar matematika. Contoh opini: nasi soto itu enak. Kedua hal itu, fakta dan opini, perlu diperlakukan secara berbeda.

Fakta perlu kita uji apakah benar ada data seperti itu. “Kemarin saya belajar matematika” perlu diuji apakah ada orang yang melihat kejadian tersebut. Atau barangkali ada foto atau video yang menunjukkannya. Bila benar ada maka kita terima sebagai fakta. Bila tidak ada maka bisa kita anggap sebagai hoax.

Perhatikan kasus “video panas mirip artis,” apakah hoax?

Pertama, video itu mengarah pada fakta tertentu maka perlu dicek faktanya. Apakah benar terjadi adegan panas itu. Bila ternyata itu hanya editan belaka maka hoax. Bila ternyata itu asli rekaman dari suatu kejadian maka perlu dicek kejadian sebenarnya. Kedua, siapakah yang mirip artis itu? Apakah dia orang lain atau justru artis itu sendiri maka perlu diselidiki. Dengan penelitian yang memadai maka bisa disimpulkan bahwa video itu hoax atau asli.

Dalam beberapa kasus, seseorang tidak punya waktu untuk melakukan penelitian atau pengujian fakta. Maka yang bisa kita lakukan adalah mempertimbangkan sumber data. Apakah sumber data bisa dipercaya? Contoh ada berita, “Kemarin, Paman APIQ mendapat hadiah 100 juta rupiah.”

  1. Jika sumber berita adalah pelaku, saya sendiri, Paman APIQ maka bisa dipercaya. Maksudnya, jika Paman APIQ memberi tahu langsung kepada Anda maka Anda boleh percaya itu adalah fakta. Meski demikian kita tetap perlu waspada apakah Paman APIQ termasuk orang jujur, atau sedang bercanda, atau sedang prank.
  2. Sumber dari “grup sebelah” maka perlu diragukan. Grup sebelah itu jelas-jelas tidak jelas. Grup sebelah tidak punya reputasi untuk menyampaikan fakta. Kemungkinan besar fakta dari grup sebelah adalah hoax. Tetapi jika yang disampaikan adalah “opini” maka Anda masih bisa mempertimbangkannya. Fakta sebaiknya ditolak, setidaknya, diragukan. Tentu saja sharing dari media sosial tanpa menyebutkan sumber yang jelas maka perlu ditolak.
  3. Sumber dari tautan internet maka perlu diragukan. Secara umum tautan internet perlu diragukan. Kita hanya bisa mempercayai, dengan tetap kritis, media internet dari lembaga resmi. Lembaga yang jelas siapa yang bertanggung jawab. Misal kantor berita mestinya bisa dipercaya. Blog pribadi hanya bisa dipercaya sebatas data yang dia miliki. Termasuk sumber dari facebook, twitter, youtube, instagram, wa, dan lain-lain perlu diragukan.

Lawan Hoax vs Opini

Sejatinya tidak ada masalah dengan opini. Tetapi dampak opini bisa lebih bahaya dari hoax fakta. Misal opini, “Jokowi adalah presiden terbaik.” Tidak masalah dengan penilaian Jokowi sebagai presiden terbaik. Bisa benar dan bisa salah. Hal yang wajar. Dampak bagi yang percaya bisa menganggap bahwa Jokowi selalu benar, selalu baik, maka apa pun yang dilakukan Jokowi selalu didukung.

Sementara opini kebalikannya, “Dia adalah presiden terburuk,” juga tidak masalah. Bisa benar bisa salah. Bagi mereka yang percaya bisa menganggap semua yang dilakukan presiden selalu salah, selalu buruk, maka perlu dikritisi – atau nyinyir. Kita perlu waspada, hati-hati, dengan dampak dari opini. Sementara opini itu sendiri hak masing-masing orang untuk berpendapat di negara yang bebas merdeka ini.

  1. Opini bisa benar atau salah. Maka tetap hormati orang lain yang barangkali berlawanan dengan opini yang kita yakini. Ujilah opini kita dengan pandangan yang lebih luas, dengan data-data terbaru. Barangkali opini kita perlu berubah? Bersikaplah terbuka untuk mendapatkan opini yang lebih baik.
  2. Opini yang tidak konsisten maka sisihkan. Misal opini, ” Harun adalah pembaharu akhlak generasi muda,” perlu disisihkan. Barangkali dulu benar bahwa Harun mengajak generasi muda untuk kembali ke akhlak sesuai ajaran agama. Tetapi ketika Harun Yahya dijatuhi vonis 1075 tahun pernjara oleh pengadilan Turki atas dakwaan kekerasan seksual di bawah umur maka terjadi tidak konsisten, sebagai pembaharu akhlak. Opini tidak konsisten semacam ini perlu ditolak atau disisihkan.
  3. Lebih waspada dengan dampak opini. Jika opini itu benar maka perlu menjaga agar dampaknya membawa kebaikan. Apalagi bila opini salah maka dampak buruknya harus benar-benar diantisipasi. Misal opini, “Minyak kayu putih mencegah serangan covid,” bisa bernilai benar tapi bisa juga salah. Dampaknya perlu diwaspadai. Jika yang percaya opini minyak kayu putih lalu merasa aman kumpul-kumpul di berbagai kesempatan maka itu meningkatkan resiko penularan. Harus dicegah dampak opini semacam itu. Tetapi jika yang percaya opini minyak kayu putih jadi lebih tenang dan hati-hati menjaga kesehatan maka dampak itu bagus. Tidak masalah.

Hoax Komplikasi Opini

Bisa kita duga bahwa hoax akan memanfaatkan campuran fakta dan opini. Dengan campuran yang rapi maka pembaca hoax tidak merasa sedang ditipu. Pembaca mengira bahwa semua berita hoax itu sebagai fakta. Pembaca tergugah untuk melakukan tindakan-tindakan yang disarankan oleh berita hoax. Bahkan pembaca langsung share berita hoax itu ke berbagai platform media sosial. Sehingga hoax begitu mudah tersebar.

Solusi untuk mengatasi komplikasi opini ini – campuran fakta, opini, dan kebohongan – adalah dengan memisahkan mana yang fakta dan mana yang opini. Kemudian bisa kita lanjutkan dengan menguji kebenaran masing-masing fakta dan opini dengan langkah-langkah yang kita bahas di atas. Berikut ini beberapa saran praktis yang bagus dari orang-orang yang berpengalaman di dunia media sosial baik sebagai pengguna mau pun produsen penyedia media sosial.

  1. Matikan notifikasi atau kurangi notif. Nikmati hidup Anda dengan ketenangan jiwa, kejernihan berpikir, tanggung jawab pribadi dan sosial. Jangan biarkan notifikasi datang merecoki. Matikan notifikasi berbagai macam aplikasi. Bahkan saya menyarankan matikan sambungan internet Anda. Hidupkan internet ketika Anda membutuhkannnya. Jangan biarkan internet mendikte hidup Anda. Anda 100% memiliki hidup Anda dan mati Anda.
  2. Hapus atau uninstall aplikasi yang menghabiskan waktu Anda. Terutama aplikasi berita sebaiknya hapus saja. Berita jaman sekarang tidak selalu terjamin kualitasnya. Bahkan sering memancing emosi pembaca, untuk terus bersikap kepo. Aplikasi berita juga banyak dicemari dengan berita-berita gosip tak berguna tapi bikin penasaran. Hapus aplikasi berita. Dan buka atau baca berita ketika Anda benar-benar merasa memerlukannya.
  3. Gunakan mesin pencari yang tidak menyimpan histori. Menurut saya ini saran bagus tapi cukup sulit. Mesin menggunakan data histori kita untuk memberikan hasil pencarian yang lebih tepat, lebih relevan. Tetapi hasil yang lebih relevan ini bisa saja hoax dilanjut hoax dan seterusnya hoax. Pun menjadikan pengguna makin ketagihan, terhadap hoax itu. Saran saya, tetaplah konsisten kepada apa yang sedang Anda carai dengan mesin pencari itu. Jangan tergoda dengan rekomendasi-rekomendasi yang menjebak Anda.
  4. Gunakan ekstensi browser untuk mematikan rekomendasi. Sekali lagi, padamkan rekomendasi. Salah satunya gunakan ekstensi browser untuk mematikan rekomendasi. Barangkali Anda biasa mengalami ketika hendak membuka browser, berselancar di internet, sudah tersedia halaman-halaman rekomendasi yang menarik perhatian. Maka Anda membuka halaman rekomendasi itu. Benar, memang seru. Karena rekomendasi itu tepat sesuai dengan yang anda inginkan. Tetapi Anda jadi lupa apa yang awalnya menjadi tujuan Anda membuka internet. Dan lebih parah, Anda bisa terseret ke berita hoax karena rekomendasi itu. Minimal Anda akan rugi waktu karena membaca hal-hal yang tidak penting itu. Maka matikan rekomendasi.
  5. Cek fakta sebelum komen, like, atau sharing. Khususnya bila ada berita yang begitu menarik. Seseorang yang berbuat salah di dunia digital dampaknya bisa abadi. Anda mungkin saja bisa menghapus komen Anda. Lalu hilang komen itu. Tetapi orang lain sudah menyimpan “tangkapan layar” atau “screenshot” dan disebarkan dengan cara tertentu. Anda tidak bisa mengendalikan media sosial dunia digital. Maka bertindaklah hati-hati dengan melakukan cek fakta – caranya seperti sudah kita bahas di atas – sebelum terlambat.
  6. Cari sumber informasi beragam perspektif, bahkan yang berlawanan. Harus jadi kebiasaan dalam diri kita untuk melihat segala hal dari sudut pandang pro dan kontra. Seorang jurnalis profesional biasanya selalu menyampaikan berita dengan mengkonfirmasi sumber yang pro dan kontra. Sehingga pembaca bisa mempertimbang akan memilih yang pro atau memilih yang kontra. Tetapi tidak demikian di dunia digital. Berita hanya akan dari satu sudut pandang. Sudut pandang yang sesuai dengan Anda. Medsos sudah memilihkan yang paling cocok untuk Anda. Maka Anda bisa merasa yang paling benar, padahal bisa jadi Anda salah, sudah jadi korban hoax. Maka selalu pertimbangkan dua sudut pandang, pro dan kontra.
  7. Jangan berikan gawai ke anak. Wajar saja, orang dewasa saja bisa jadi korban hoax, apalagi anak-anak? Jika anak memerlukan akses internet maka dampingi anak Anda selama akses internet agar Anda dapat mengarahkan penggunaan internet dengan tepat. Terlalu ketat dengan melarang sepenuhnya anak tidak boleh akses internet juga bisa merugikan anak Anda, khususnya di masa depan. Anak Anda akan menghadapi dunia yang penuh dengan internet, media sosial, atau yang lebih dahsyat dari itu. Maka anak-anak perlu memanfaatkan internet dengan bijak. Bimbing anak Anda!
  8. Tolaklah rekomendasi video. Makin asyik nonton video yang direkomendasikan oleh aplikasi. Dengan kemampuan AI yang canggih, video rekomendasi itu benar-benar sesuai dengan selera kita. Tanpa terasa kita jadi nonton video bermenit-menit bahkan berjam-jam. Dan peluang terperosok ke dalam video hoax atau video yang meragukan makin besar. Maka tolaklah rekomendasi video. Hanya tonton video sesuai rencana Anda. Hanya tonton yang Anda butuhkan. Itu pun kita masih tetap perlu berpikir kritis.
  9. Hindari clickbait. Judul atau gambar yang bikin penasaran maka hindari. Berita di dunia digital selalu bikin penasaran. Apalagi bila ada gambarnya maka makin penasaran. Itulah clickbait yang perlu kita hindari. Tetapi sulit sekali. Karena, bahkan lembaga resmi pun kadang meramu judul dengan cilckbait. Maka kendali ada di diri kita masing-masing. Makin bikin penasaran, judul dan gambarnya, maka cobalah menghindarinya. Tetap fokus kepada tujuan Anda saja.
  10. Jauhkan gawai dari tempat tidur. Nikmati tidur Anda dengan bahagia. Jangan biarkan media sosial mengacak-acak mood Anda menjelang tidur. Tidurlah dengan bahagia. Barangkali di siang hari, di hari libur, Anda bisa membuka medsos di tempat tidur. Tetapi ketika jadwal tidur malam tiba maka jauhkan hp Anda dari tempat tidur. Lebih tepatnya, jauhkan medsos dari diri Anda ketika menjelang tidur. Medsos bisa menarik Anda, menghapus rasa ngantuk Anda. Medsos bisa membuat Anda kurang tidur. Bisa merusak kualitas tidur Anda. Berbahagialah menjelang tidur, ketika tidur, dan bangun dari tidur – dengan cara menjauhkan hp Anda dari tempat tidur.
  11. Jangan ijinkan anak akses media sosial sampai sekolah menengah. Lagi, media sosial bisa menjerumuskan orang dewasa dalam hoax maka anak-anak kecil bisa lebih rawan lagi menghadapi media sosial. Maka jaga anak Anda dari ancaman media sosial. Dampingi anak Anda jika memang perlu medsos. Bimbing anak Anda menggunakan medsos dengan bijak. Hanya ijinkan anak Anda akses internet setelah mereka sekolah menengah, itu pun dengan syarat Anda yakin anak Anda aman.
  12. Kuasai hidup Anda. Sepenuhnya Anda memiliki hidup Anda. Jangan biarkan medsos menguasai hidup Anda. Jangan biarkan hp merebut hidup Anda. Medsos menyatakan diri mereka sebagai teman Anda. Benar saja, teman Anda menghubungi Anda melalui medsos. Anda terhubung dengan teman lama, dan teman baru. Di balik itu, medsos dengan mesin AI nya yang canggih menguasai Anda, mengendalikan Anda. Termasuk menguasai teman-teman Anda. Kini saatnya, kita kembali menguasai hidup kita. Meraih kebebasan kita. Posisikan medsos hanya sebagai alat bantu belaka. Tinggalkan medsos bila tidak perlu lagi. Mari jalani hidup dengan asli.

Ilmu pengetahuan memang penting bahkan paling penting. Media digital membantu kita memudahkan mengembangkan pengetahuan. Aristoteles, pemikir abad 4 SM, menyatakan bahwa tujuan hidup manusia adalah meraih kebahagian sejati. Dan kebahagiaan sejati adalah kebahagiaan dengan memperoleh pengetahuan sejati.

Sadra, pemikir abad 17, menyatakan bahwa manusia selalu rindu menjadi lebih sempurna. Kesempurnaan manusia adalah melalui penyempurnaan ilmu pengetahuan – sejati. Bahkan kesempurnaan ilmu ini mengantar manusia bahagia hakiki sampai kehidupan setelah mati.

Peduli adalah jati diri manusiawi, menurut Heidegger, pemikir abad 20. Mari kembali peduli pada diri sendiri, kepada lingkungan sekitar, dan kepada sesama manusia. Bersama kita melangkah menuju sempurna, hakikat realitas yang ada.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: