Pengetahuan A Priori

Sikap apriori sering dianggap negatif. Sikap yang keras kepala tidak mau berubah apa pun yang terjadi. Saya menilai setiap gadis yang bernama Rara pasti gadis cantik. Saya terpengaruh oleh anak saya yang bernama Rara dan cantik itu. Ketika saya mendengar orang menyebut nama Rara maka lansung terbayang cantiknya Rara.

Padahal ada 100 Rara yang lain di luar sana. Saya belum pernah bertemu dengan 100 gadis yang semua bernama Rara itu. Tapi saya yakin semua gadis itu cantik-cantik. Sikap keras kepala saya ini didasarkan pada sikap apriori bahwa setiap yang bernama Rara pasti cantik tanpa melihat bukti-bukti lebih dulu.

Sikap apriori saya, tentu saja, bisa salah. Dan barangkali akan sering salah. Karena di antara 100 orang bernama Rara mungkin saja ada yang tidak cantik.

Pengetahuan a priori beda dengan sikap apriori. Pengetahuan a priori justru selalu benar bahkan tanpa melihat bukti-bukti dari pengamatan sekali pun. Namun keduanya, pengetahuan dan sikap, sama-sama apriori. Dalam arti sama-sama sudah mengambil keputusan dulu tanpa melihat bukti pengamatan.

Tampak hebat sekali pengetahuan a priori: selalu benar tanpa harus melakukan pengamatan. Bahkan kebenarannya berlaku umum, universal. Kita banyak berhutang budi kepada Immanuel Kant, pemikir besar abad 18, yang berhasil merumuskan pengetahuan a priori dan a posteriori.

A Priori vs A Posteriori

David Hume, filsuf abad 17, meyakini bahwa setiap pengetahuan memerlukan pengamatan atau pengalaman lebih dulu. Misalnya, pernyataan, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah mangga di depan rumah benar sudah matang. Setelah itu kita baru dapat menilai benar atau salahnya pernyataan buah mangga di depan rumah sudah matang.

Pernyataan di atas adalah contoh pengetahuan a posteriori, pengetahuan belakangan, pengetahuan yang didahului oleh pengamatan. David Hume dan rekan-rekannya meyakini bahwa semua pengetahuan bersifat a posteriori.

Immanuel Kant, di sisi lain, meyakini ada sebagian pengetahuan yang tidak a posteriori. Ada pengetahuan a priori. Yaitu pengetahuan yang mendahului, pengetahuan yang lebih dulu dari pengamatan. Contoh pengetahuan a priori adalah pengetahuan matematika misalnya, 2 + 1 = 3.

Kita tidak perlu melakukan pengamatan lebih dulu tapi bisa menyimpulkan bahwa pengetahuan a priori itu benar, bulan depan, 2 orang penduduk Bandung ditambah 1 orang penduduk Bandung lainnya maka jumlahnya adalah 3 orang penduduk Bandung. Tentu saja, saat ini, kita tidak bisa mengamati kejadian di bulan depan. Tetapi kita bisa mengantisipasi pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah benar di bulan depan. Dan bisa kita lihat nilai kebenarannya pun berlaku umum. Berlaku di masa depan, di masa sekarang, dan di masa lalu. Berlaku di sini, di sana, atau di tempat mana pun.

Di abad 20, Bertrand Russell memutuskan bahwa yang benar adalah pandangan Immanuel Kant. Yakni ada sebagian dari pengetahuan kita bersifat a priori. Dan tentu saja tetap ada pengetahuan a posteriori.

Proses Pengamatan

Meski pengetahuan kita tentang persamaan matematika, 2 + 1 = 3, bersifat apriori tetapi untuk memahaminya kita perlu pengamatan. Maksudnya ketika kita masih bayi belum paham perhitungan. Lalu usia kanak-kanak mulai belajar, mengamati beragam fenomena alam. Baru kemudian kita memahami bahwa 2 + 1 = 3.

Proses belajar berupa pengamatan ini penting. Pengalaman saya dalam mengajar anak bermatematika bahkan kita perlu mengenalkan konsep berhitung dengan media-media yang konkret. Misal saya membuat permainan yang berupa bola-bola kecil. Saya tunjukkan 2 bola, ditambah lagi 1 bola, total seluruhnya terkumpul 3 bola. Anak-anak sebagian langsung paham 2 + 1 = 3. Sementara siswa yang lain perlu mengulang-ulang proses itu baru paham. Minggu depannya, ada yang lupa 2 + 1 = 3. Perlu diulang lagi.

Setelah seorang anak memahami bahwa 2 + 1 = 3 maka anak tersebut tidak perlu pengamatan lagi. Dia bisa meyakini bahwa 2 + 1 = 3 benar, berlaku universal. Di mana saja dan kapan saja, berlaku 2 + 1 = 3. Sifatnya yang umum ini lah yang menyebabkan menjadi pengetahuan a priori. Kita tidak perlu melakukan pengamatan di bulan, misalnya, bahwa 2 bongkah batu di tambah 1 bongkah batu maka terkumpul 3 bongkah batu. Kita yakin, di bulan tetap berlaku benar.

Dalam bidang matematika banyak sekali pengetahuan a priori. “Setiap segiempat dapat dibagi menjadi 2 bagian masing-masing berupa segitiga mengikuti garis diagonal segiempat tersebut.” Awalnya, barangkali kita tidak memahami pernyataan itu. Kita bisa mengambil beberapa contoh agar lebih paham. Misal layar smartphone Anda berbentuk segiempat. Maka bisa dibagi mengikuti garis diagonal, miring, terbentuk dua buah segitiga. Kita juga bisa mengamati ubin di lantai. Lalu membayangkan beberapa ubin yang berbentuk segiempat. Dan selalu bisa membagi ubin segiempat itu menjadi dua buah segitiga. Selanjutnya, pengetahuan kita tentang segiempat ini bersifat universal, pengetahuan a priori.

Proses memahami pengetahuan a priori, barangkali, perlu proses pengamatan. Namun sifat pengetahuan a priori berlaku umum melampaui dari sekedar pengamatan partikular itu sendiri.

Mari kita bandingkan lagi dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga di depan rumah sudah matang. Kita perlu mengamati apakah benar buah mangga sudah matang. Kesimpulannya misal salah, ternyata, buah mangga belum matang. Untuk besok, apakah buah mangga sudah matang? Kita akan perlu pengamatan di waktu yang seusai. Hasil pengamatan bisa memutuskan bahwa mangga benar sudah matang atau belum.

Sejatinya, tujuan sains adalah mendapatkan pengetahuan yang bersifat umum. Berlaku dalam segala situasi. Pengetahuan yang hanya berlaku khusus pada satu kejadian tidak banyak berguna. Hal ini bisa kita kembangkan dengan metode induksi, yang dibahas pada bagian sebelumnya, dilengkapi dengan penelitian yang memadai. Misal untuk kasus matangnya buah mangga di depan rumah diperoleh pengetahuan,

“Buah mangga akan matang setelah 30 hari.”

Dari pengetahuan itu kita tidak perlu tiap hari mengamati apakah buah mangga sudah matang. Kita hanya perlu mengetahui sudah berumur berapa hari buah mangga itu. Kemudian memperkirakan kapan berumur 30 hari. Dan setelah itu kita berharap buah mangga benar-benar matang.

Jika pengetahuan induksi itu diperoleh dengan metode yang memadai maka akan dijamin benar. Maksudnya mangga benar-benar sudah matang setelah 30 hari. Meski demikian, pengetahuan ini tetap bersifat a posteriori. Di mana kita perlu pengamatan untuk memastikan kebenarannya.

Sehingga jelas perbedaan pengetahuan a priori terhadap a posteriori. Pengetahuan 2 + 1 = 3 adalah pengetahuan a priori, pasti benar.

Pengetahuan Analytik vs Sintetik

Meski pengetahuan a priori berlaku universal namun bisa diragukan apakah ada gunanya? Misal, 2 + 1 = 3, memang selalu benar. Lalu buat apa? Bukankah memang selalu begitu?

Bandingkan dengan pengetahuan a posteriori, misal, buah mangga matang setelah 30 hari. Maka kita dapat merencakan kapan waktu yang tepat untuk panen. Jadi pengetahuan a posteriori bermanfaat besar. Meski mungkin saja kadang-kadang pengetahuan ini bernilai salah. Justru karena bisa bernilai salah maka pengetahuan a posteriori yang bersifat benar menjadi berguna.

Selanjutnya, orang bisa saja meremehkan pengetahuan a priori hanya bersifat analitis belaka. Tidak ada pengetahuan baru di situ. Hanya pengetahuan yang sudah ada lalu dipahami.

“Segitiga memiliki 3 sudut.”

Pengetahuan di atas adalah a apriori, selalu benar, berlaku umum. Bersifat analitik. Yaitu ketika kita menyebut segitiga, sejatinya, di situ kita sudah tahu pasti memiliki 3 sudut. Sehingga pengetahuan di atas tidak menambah informasi apa pun, selain hanya menyatakan ulang yang sejatinya sudah diketahui.

Di sini kita perlu membedakan pengetahuan analitik dengan pengetahuan sintetik.

Pengetahuan sintetik diakui semua orang sebagai bermanfaat. Pengetahuan ini gabungan antara pengamatan, data dari alam luar, dengan pengetahuan a priori yang sudah ada dalam diri manusia. Misalnya pengetahuan sintetik bahwa mangga akan matang setelah 30 hari. Pertama kita mengamati buah mangga berhari-hari. Apakah sudah matang atau masih mentah. Kedua, secara serentak kita memanfaatkan pengetahuan a priori misal prinsip non-kontradiksi. Bahwa mangga yang matang berbeda dengan mangga yang tidak matang, sebut saja masih mentah. Ketiga, proses sintesa antara pengamatan dan prinsip apriori. Maka menghasilkan kesimpulan baru, pengetahuan baru yang bersifat sintetik.

Dalam contoh di atas kita melakukan sintesa antara pengetahuan a posteriori dengan pengetahuan a priori. Berikutnya kita akan menunjukkan bahwa memungkinkan dilakukan sintesa antara pengetahuan a priori dengan pengetahuan a priori lainnya.

Perhatikan pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, yang akan kita tunjukkan sebagai sintesa a apriori (dengan a priori). Dalam pengetahuan ini, awalnya, kita tidak tahu bilangan 3. Di mana kita tidak bisa secara analisis menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 2. Pun kita tidak bisa menemukan angka 3 dengan menganalisis angka 1. Angka 3 kita peroleh dengan sintesa angka 2 dengan angka 1 sesuai hukum penjumlahan.

Kita bisa bereksperimen dengan merubah operasi penjumlahan menjadi pembagian, misalnya, 1 : 2 = 0,5. Makin jelas, hasil akhir 0,5 adalah sintesa dari 1 dan 2 dengan aturan pembagian. Bukan sekedar analisis belaka. Jadi sampai di sini kita menunjukkan adanya dua macam sintesa: sintesa a posteriori dengan a priori, dan yang kedua, sinstesa a priori dengan a priori. Sebelum masa Immanuel Kant, semua pengetahuan a priori dianggap sebagai analytic belaka.

Pengetahuan analytic tetap berguna meski tidak menambah informasi baru. Misal segitiga sama sisi adalah segitiga yang memiliki 3 sudut sama besar. Jelas bahwa “memiliki 3 sudut sama besar” sejatinya sudah tersedia ketika kita menyebut “segitiga sama sisi”. Namun demikian, pengetahuan analitik ini tetap berguna misalnya untuk pendidikan kepada pemula. Siswa yang baru mempelajari tentang segitiga barangkali tidak “mengetahui” tentang sudut yang sama besar. Siswa itu hanya tahu segitiga sama sisi memiliki sisi sama panjang. Dengan demikian ketika dia tahu bahwa sudutnya sama besar maka itu menjadi pengetahuan baru, a priori. Dan berguna baginya dalam banyak hal.

Abad 21 ini, bisa dianggap sebagai abad big data. Di mana para ilmuwan terkemuka menaruh hormat kepada istilah analytic. Dengan menggunungnya data yang berlimpah di mana-mana maka kemampuan analytic yang cepat, akurat, dan efisien sangat penting. Menggali data, menambang data, dan menganalisis data bisa lebih penting dari data itu sendiri. Dengan demikian pengetahuan analytic, di abad 21 ini, mendapat tempat yang paling terhormat.

Saya sendiri mengelola canel youtuber paman APIQ merasa sangat terbantu dengan disediakannya analytic oleh youtube. Saya memperoleh wawasan apa saja yang dibutuhkan oleh para penonton saya yang jumlahnya jutaan itu. Saya jadi tahu berapa menit rata-rata video saya yang ditonton ribuan kali itu. Saya juga paham dari kata kunci apa saja penonton bisa tiba ke canel paman APIQ. Semua saya peroleh dari analytic. Sekali lagi, pengetahuan analytic memegang peran amat penting di masa digital ini.

Matematika Sehari-hari

Matematika adalah gudangnya pengetahuan a priori. Sehingga kebenaran matematika bersifat universal. Namun banyak yang meragukan guna matematika dalam kehidupan sehari-hari. Memang untuk hitung dagang kita perlu matematika tapi hanya yang dasar. Itu pun sudah cukup dilakukan oleh kalkulator. Apa guna matematika untuk kehidupan sehari-hari?

Saya sudah sering membahas masalah ini tetapi saya ingin membahas dengan pengalaman kasus terbaru. Matematika benar-benar berguna dalam kehidupan sehari-hari. Rara, yang cantik itu, tentu gemar memanfaatkan matematika. Di jaman serba digital, Rara berpikir memanfaatkan matematika untuk belanja di pasar digital agar mendapatkan harga terbaik. Pengalaman Rara dan kawan-kawan mengagetkan saya.

Belanja digital, online, sudah terbiasa menawarkan diskon dengan syarat tertentu. Misal diskon 10 ribu untuk pembelian minimal 30 ribu. Berlaku lagi diskon 20 ribu untuk pembelian minimal 50 ribu. Tersedia pula vocer belanja mau pun vocer ongkos kirim.

Umumnya, orang akan belanja 60 ribu dapat diskon 20 ribu sehingga cukup membayar 40 ribu. Lumayan, cukup meringankan program diskon itu. Rara tidak puas dengan diskon seperti itu. Rara berpikir cepat, menggunakan matematika, untuk mencari diskon optimal.

Hasil perhitungan Rara, dalam hari tertentu, belanja 110 ribu cukup hanya bayar 5 ribu rupiah saja. Itu diskon optimal.

Jika Rara belanja 120 ribu diskon berubah ia harus membayar 50 ribu. Begitu juga jika Rara belanja 100 ribu ia harus membayar 45 ribu. Titik optimal adalah belanja 110 ribu cukup membayar 5 ribu rupiah saja.

Di hari yang lain, Rara menemukan bila belanja 80 ribu maka gratis. Belanjaan dikirim ke alamat. Bila belanja 70 ribu masih harus bayar 30 ribu. Dan bila belanja 90 ribu harus bayar 40 ribu. Maka Rara mengatur agar belanjaan seharga 80 ribu dan gratis. Hari itu, Rara belanja berkali-kali dengan harga masing-masing 80 ribuan yang berarti gratis. Kemudian tumpukan belanjaan itu dibagi-bagikan ke tetangga yang membutuhkan.

Siapa bilang matematika tidak berguna untuk kehidupan sehari-hari?

Pengetahuan A Priori Kokoh

Pengetahuan a priori berhak mengklaim berlaku universal, tanpa kecuali. Berbeda dengan pengetahuan dari induksi, dari pengamatan yang terbatas, meski berusaha mengklaim berlaku universal, tetapi tetap terbatas. Sewaktu-waktu dapat difalsifikasi, sesuai saran Popper.

Pengetahuan a priori, 2 + 1 = 3, berlaku universal. Dan secara logika matematika kita bisa membuktikan benar. Tanpa harus menguji kasus demi kasus yang jumlahnya tak hingga.

Sementara pengetahuan a posteriori, “Semua orang mati pada waktunya,” meski tampaknya berlaku universal tetapi tidak demikian. Bila masih ada satu orang saja yang tidak mati saat ini, maka pernyataan di atas masih bisa diragukan. Masih mungkin ada orang yang tidak mati, sejauh sampai saat ini. Meski semua orang yakin, tampaknya akan benar, setiap orang akan mati pada waktunya.

Bagaimana pengetahuan a priori bisa klaim berlaku universal, bahkan tanpa menguji kasus demi kasus, akan kita bahas pada bagian selanjutnya: dunia universalia.

Lanjut ke Dunia Universalia
Kembali ke Philosphy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: