Dunia Universalia

Pemahaman kita tentang dunia universalia sangat penting, akan mampu menyelesaikan beragam persoalan sulit. Kita juga akan mampu membahas cantiknya Rara yang sejatinya cantik itu ada di dunia universalia. Begitu juga tentang cinta suci juga ada di dunia universalia.

Sepanjang sejarah, para pemikir besar dunia sudah berusaha membahas panjang lebar tentang dunia unversalia. Tapi, tampaknya, tidak ada kata sepakat di antara mereka. Russell lebih memilih pendekatan Plato dalam membahas alam idea untuk menjelaskan dunia universalia.

Pemikir terdekat Plato, yakni Aristoteles yang juga murid Plato, sudah membantah beragam klaim Plato. Misalnya yang paling terkenal adalah argumen orang ketiga dari Aristoteles, ditulis 2000 tahun yang lalu. Begitu juga Heidegger, filsuf abad 20, menduga bahwa Plato tidak membahas tema ini dengan tuntas. Karl Popper, filsuf sains abad 20, mencurigai Plato sebagai mendukung pemerintahan totaliter. Tetapi Sadra, filsuf abad 17, membela Plato dengan memberikan status modus wujud yang lebih tinggi kepada dunia universal.

Di pembahasan kita, di sini, akan mencoba mengikuti alur argumen Bertrand Russell yang ditulis pada abad 20.

Melampaui Descartes

Barangkali kita sepakat bahwa filsut terbesar sejak jaman modern adalah Descartes. Sukses Descartes membangun sistem filsafat dualisme mendorong kemajuan sains, teknologi, bisnis, politik, dan kemanusiaan mencapai puncaknya. Descartes membagi alam menjadi dua yaitu alam materi dan alam jiwa. Kedua alam ini saling bebas di atur dengan aturan yang berbeda dan tidak terhubung. Alam materi diatur oleh hukum materi, sains, dan rasionalitas. Sedangkan alam jiwa diatur oleh hukum agama dan spiritualisme.

Filsuf setelah Descartes mencoba mencari titik temu jiwa dan materi tetapi tidak berhasil. Salah satu filsuf terbesar berikutnya adalah Immanuel Kant, yang berhasil membuat sintesa antara tesis dan antitesis. Sintesa ini hanya berhasil untuk pengetahuan manusia yaitu sintesa antara pengetahuan empiris dengan pengetahuan a priori, seperti sudah kita bahas pada bab terdahulu. Bahkan, Kant menyisakan beberapa paradoks atau antinomy, yang menantang filsuf selanjutnya untuk mencari solusi.

Russell, filsuf abad 20, menghadirkan kembali dunia universal, yang tidak menyatukan dunia materi dan jiwa, justru menjadikan ada dunia yang ketiga. Maka di sini, kita menegaskan kembali, bahwa dunia universal bukan bagian dari dunia materi, juga bukan bagian dari dunia mental jiwa, tetapi realitas yang mandiri. Bahkan Plato menyarankan agar manusia bergerak dari dunia materi menuju dunia universal yang murni, melalui perenungan.

Bukti Dunia Universalia

Cara paling mudah membuktikan dunia universalia adalah dengan memperhatikan relasi spasial, menurut Russell. Maka mari kita perhatikan lagi wajah Rara yang cantik itu. Alis di atas mata. Mata di atas pipi. Kita juga bisa memperhatikan fenomena alam yang lain. Pohon di atas tanah. Buku di atas meja. Sepatu di atas lantai.

Relasi “di atas” benar-benar ada, nyata. Tetapi relasi ini bukan materi. Ketika kita mengatakan mata Rara di atas pipi Rara maka yang materi adalah mata Rara dan pipi Rara. Sementara relasi “di atas” itu sendiri bukan materi. Perhatikan juga “sepatu di atas lantai.” Sepatu dan lantai bersifat materi. Sementara relasi “di atas” juga bukan materi.

Apakah relasi di atas adalah bersifat mental, dalam pikiran manusia? Dugaan yang masuk akal. Kita perlu memeriksanya.

Sepatu di atas lantai tetap di atas lantai meski saya tidak sedang memikirkannya. Alis Rara tetap di atas mata Rara meski tidak ada orang yang sedang memikirkan itu. Buku tetap di atas meja meski tidak ada seorang pun yang sedang memikirkannya. Maka relasi “di atas” tidak bersifat mental, tidak hanya ada di pikiran manusia.

Karena relasi “di atas” tidak ada di dunia materi, dan tidak ada di dunia alam mental, tetapi benar-benar ada, maka relasi “di atas” ada di dunia tersendiri yaitu di dunia universalia. Dunia universalia ini bersifat universal, kokoh, dan murni. Universal dalam arti bahwa relasi mata dan pipi Rara mengambil relasi dari dunia universalia. Sebagaimana sepatu dan lantai mengambil relasi dari dunia universalia. Alam material yang partikular mengambil relasi dari dunia universalia.

Termasuk dalam dunia universalia adalah relasi waktu, kualitas, kuantitas, dan lain-lain.

Perhatikan, misalnya, display detik pada jam digital. Display itu menunjuk angka 1, 2, 3, 4, … .Kita sadar bahwa 1 muncul sebelum 2, dan 2 sebelum 3, dan seterusnya. Relasi “sebelum” yang merupakan relasi waktu juga ada di dunia universalia.

Contoh kualitas barangkali kita bisa memperhatikan lampu merah, bola merah, baju merah, dan lain-lain. Kualitas warna “merah” bersifat universal dan ada di dunia universal. Tentang kuantitas, misalnya, dua kaki, dua mata, dua mobil, dua orang, dua rumah, dan lain-lain. Kuantitas “dua” adalah universal dan ada di dunia universalia. Ada banyak universalia di dunia universalia, bahkan tak terbatas.

Rara cantik, Rini cantik, Ina cantik, Siti cantik, dan banyak wanita lainnya cantik. Kualitas cantik adalah universal dan ada di dunia universalia yang murni dan sejati.

Penolakan Universalia

Kita perlu mempertimbangkan bahwa beberapa pemikir besar menolak adanya universalia. Kita coba analisis dari Immanuel Kant tentang waktu. Menurut Immanuel Kant, “waktu” adalah sensasi dasar dari pikiran manusia. Jadi, “waktu” hanya bersifat mental dari pikiran manusia. “Waktu” sejatinya tidak ada di alam nyata. Namun konsep “waktu” sangat diperlukan oleh manusia untuk memahami segala fenomena.

Bukti bahwa “waktu” tidak ada bisa kita ringkas sebagai berikut. Bayangkan kita bisa meniti waktu terus-menerus ke masa depan. Maka kita maju terus, dan tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan menemukan ujung akhir dari waktu di masa depan. Kita juga bisa meniti waktu dengan arah sebaliknya, kita meniti waktu mundur ke masa lalu. Berjalan terus-menerus ke masa lalu. Dan kita tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan pernah menemukan ujung awal pada waktu. Sesuatu yang tidak punya awal dan tidak punya akhir mustahil mewujud di dunia ini. Maka terbukti “waktu” tidak ada di dunia ini.

Dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa menganalisis “waktu” dengan membaginya. Perhatikan, misalnya, selang waktu 1 jam dari jam 2 sampai dengan jam 3. Kita bisa membagi selang 1 jam ini menjadi 2 masing-masing 1/2 jam. Kemudian, selang yang 1/2 jam ini bisa kita bagi menjadi 2 lagi. Dan seterusnya kita bisa membagi-bagi sampai tak terhingga. Proses pembagian sampai tak terhingga tanpa akhir ini mustahil terjadi di dunia ini. Jadi terbukti “waktu” adalah tidak ada.

Tentu saja benar bahwa “waktu” memang tidak ada di alam materi mau pun alam mental manusia seperti kita tunjukkan di bagian sebelumnya. Karena “waktu” ada di dunia universal. Jadi, waktu ada di dunia universal.

Menariknya, Russell melangkah lebih jauh. Bukan hanya ruang dimensi tiga dan waktu, yang total menjadi 4 dimensi, matematika dan sains saat ini berhasil menunjukkan realitas 5 dimensi atau yang lebih tinggi. Barangkali, Russell bermaksud merujuk ke Hilbert-space, yang secara matematika berhasil membangun ruang dimensi n, berapa pun. Jadi bukan hanya ruang waktu yang kita pahami ini ada tetapi masih ada lebih banyak ruang waktu yang lainnya.

Heidegger, filsuf abad 20, menempatkan “waktu” pada status realitas yang kuat. Dalam magnum opusnya, “Being and Time” Heidegger justru mengklaim “waktu” adalah hakikat wujud manusia. Namun, Heidegger membahas waktu sebagai bersatunya masa depan, masa lalu, dan masa kini dalam eksistensi manusia. Kata Heidegger, eksistensi manusia berada dalam rangkulan waktu, dari lahir sampai mati. Di masa tua, Heidegger ingin meralat “Being and Time” menjadi “Time and Being” yang barangkali, maksud Heidegger, “waktu” berada dalam rangkulan eksistensi manusia. Terbalik dari ide awal dia.

Cara pandang berbeda, ide paling cemerlang datang dari Sadra, filsuf besar abad 17. Dia memandang eksistensi atau wujud bersifat gradasi dalam intensitasnya. Bayangkan cahaya matahari sebagai satu kesatuan. Tetapi di saat yang sama intensitas cahaya matahari berbeda-beda sesuai lokasi. Di dasar laut, ada cahaya matahari dengan intensitas rendah, hampir gelap. Di bawah permukaan laut ada cahaya matahari intesitas rendah tapi lebih kuat dari yang di dasar laut. Sedangkan di atas permukaan laut intensitas lebih kuat. Dan barangkali di angkasa dekat matahari, intensitas paling kuat. Mereka semua sejatinya tetap cahaya matahari yang sama namun dengan intensitas yang berbeda. Ada yang lemah dan ada yang kuat.

Dengan cara pandang yang mirip cahaya, kita bisa memandang wujud bergradasi intensitasnya. Sehingga modus penampakan wujud bisa beragam. Misal, paling tegas, kita bisa memandang modus wujud alam realitas menjadi tiga: alam materi, alam imajinasi, dan alam akal.

Mengenai universalia, misalnya waktu, memang tidak kita temukan di alam materi. Tetapi universalia waktu ada di modus alam imajinasi. Di alam materi, yang kita temukan sekedar tanda waktu yang ditunjukkan oleh jam atau gerak semu matahari. Di alam imajinasi terdapat universalia waktu di antara unversalia-universalia lainnya semisal universalia ruang.

Namun universalia waktu bila kita analisis lebih mendalam, eksistensinya juga tidak bisa mandiri. Waktu hanya ada karena ada gerak substansial. Yaitu gerak suatu substansi dari satu modus wujud ke modus wujud lain yang lebih tinggi. Gerak ini yang menghasilkan efek universalia waktu.

Maka di sini, saya akan mencoba meringkas pergerakan pemahaman “waktu” dari Heidegger. Bagaimana pun Heidegger mengakui “waktu” sebagai realitas yang kuat, berbeda dengan pandangan Kant. Heidegger muda menyatakan bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan waktu. Manusia eksis dalam “waktu” sejak lahir sampai mati. Dengan demikian, eksistensi “waktu” lebih kuat dari eksistensi manusia. “Waktu” melingkupi manusia.

Tampaknya, Heidegger muda bermaksud merujuk eksistensi manusia yang ada di alam materi dan alam mental. Sehingga benar bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan eksistensi waktu. Namun Heidegger dewasa merubah pandangan itu. Dalam surat kepada temannya, Heidegger dewasa bermaksud mengubah “Being and Time” menjadi “Time and Being”.

Heidegger dewasa mengklaim bahwa “waktu” berada dalam dekapan eksistensi manusia. Tampaknya, Heidegger dewasa kali ini, merujuk eksistensi manusia yang berada di alam materi, alam imajinasi, dan alam akal. Dengan sudut pandang ini, benar adanya bahwa “waktu” ada dalam genggaman manusia.

Mengetahui Universalia

Wajar bila kita bertanya, “Bagaimana cara mengetahui universalia?”

Atau kita bisa bertanya lebih radikal bagaimana manusia bisa mengetahui wujud. Dalam pandangan Sadra, wujud lebih prior dari universalia. Sementara dalam pandangan manusia sehari-hari, bahkan unversalia itu sendiri sudah terlalu tinggi dibanding dengan alam materi dan alam mental manusia.

Wujud, menurut Sadra, hanya bisa diketahui dengan pengetahuan kehadiran. Yaitu ketika wujud hadir dalam jiwa manusia yang dilimpahi cahaya kebenaran. Kita akan membahas pengetahuan kehadiran ini (knowledge by present, ilmu huduri) pada bagian lebih akhir.

Eksistensi, menurut Heidegger, bisa ketahui melalui “sense”. Dan sense yang paling penting adalah rasa gelisah. Perlu kita catat, rasa gelisah yang dimaksud Heidegger adalah dalam arti positif. Misal kita gelisah memikirkan apa arti hidup ini. Kita gelisah memikirkan, mencari solusi, untuk memperbaiki peradaban manusia. Kita gelisah ketika merenung malam hari. Rasa gelisah ini adalah pintu kita mengenal eksistensi sejati.

Eksistensi yang lebih tinggi dari pengamatan sehari-hari, menurut Russell, bisa diketahui melalui intuisi. Universalia dan kebenaran sejati bisa diketahui melalui intuisi. Namun, intuisi manusia apakah selalu benar? Atau sesekali benar, di waktu yang lain salah? Kita akan membahas pengetahuan intuisi, yang diawali dengan pengetahuan universalia, pada bab-bab selanjutnya.

Lanjut ke Pengetahuan Tentang Universal
Kembali ke Philosopy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: