Dunia Universalia

Pemahaman kita tentang dunia universalia sangat penting, akan mampu menyelesaikan beragam persoalan sulit. Kita juga akan mampu membahas cantiknya Rara yang sejatinya cantik itu ada di dunia universalia. Begitu juga tentang cinta suci juga ada di dunia universalia.

Sepanjang sejarah, para pemikir besar dunia sudah berusaha membahas panjang lebar tentang dunia unversalia. Tapi, tampaknya, tidak ada kata sepakat di antara mereka. Russell lebih memilih pendekatan Plato dalam membahas alam idea untuk menjelaskan dunia universalia.

1. Melampaui Descartes
2. Bukti Dunia Universalia
3. Penolakan Universalia
4. Mengetahui Universalia
5. Ringkasan
6. Diskusi
6.1 Plato Aristoteles
6.2 Neo Platonis
6.3 Alam Mitsal Ghazali
6.4 Barzakh Suhrawardi
6.5 Barzakh Ibn Arabi
6.6 Tasykik Sadra
6.7 Noumena Kant
6.8 Spirit Hegel
6.9 Void Zizek

Pemikir terdekat Plato, yakni Aristoteles yang juga murid Plato, sudah membantah beragam klaim Plato. Misalnya yang paling terkenal adalah argumen orang ketiga dari Aristoteles, ditulis 2000 tahun yang lalu. Begitu juga Heidegger, filsuf abad 20, menduga bahwa Plato tidak membahas tema ini dengan tuntas. Karl Popper, filsuf sains abad 20, mencurigai Plato sebagai mendukung pemerintahan totaliter. Tetapi Sadra, filsuf abad 17, membela Plato dengan memberikan status modus wujud yang lebih tinggi kepada dunia universal.

Di pembahasan kita, di sini, akan mencoba mengikuti alur argumen Bertrand Russell yang ditulis pada abad 20.

1. Melampaui Descartes

Barangkali kita sepakat bahwa filsut terbesar sejak jaman modern adalah Descartes. Sukses Descartes membangun sistem filsafat dualisme mendorong kemajuan sains, teknologi, bisnis, politik, dan kemanusiaan mencapai puncaknya. Descartes membagi alam menjadi dua yaitu alam materi dan alam jiwa. Kedua alam ini saling bebas diatur dengan aturan yang berbeda dan tidak terhubung. Alam materi diatur oleh hukum materi, sains, dan rasionalitas. Sedangkan alam jiwa diatur oleh hukum agama dan spiritualisme.

Filsuf setelah Descartes mencoba mencari titik temu jiwa dan materi tetapi tidak berhasil. Salah satu filsuf terbesar berikutnya adalah Immanuel Kant, yang berhasil membuat sintesa antara tesis dan antitesis. Sintesa ini hanya berhasil untuk pengetahuan manusia yaitu sintesa antara pengetahuan empiris dengan pengetahuan a priori, seperti sudah kita bahas pada bab terdahulu. Bahkan, Kant menyisakan beberapa paradoks atau antinomy, yang menantang filsuf selanjutnya untuk mencari solusi.

Russell, filsuf abad 20, menghadirkan kembali dunia universal, yang tidak menyatukan dunia materi dan jiwa, justru menjadikan ada dunia yang ketiga. Maka di sini, kita menegaskan kembali, bahwa dunia universal bukan bagian dari dunia materi, juga bukan bagian dari dunia mental jiwa, tetapi realitas yang mandiri. Bahkan Plato menyarankan agar manusia bergerak dari dunia materi menuju dunia universal yang murni, melalui perenungan.

2. Bukti Dunia Universalia

Cara paling mudah membuktikan dunia universalia adalah dengan memperhatikan relasi spasial, menurut Russell. Maka mari kita perhatikan lagi wajah Rara yang cantik itu. Alis di atas mata. Mata di atas pipi. Kita juga bisa memperhatikan fenomena alam yang lain. Pohon di atas tanah. Buku di atas meja. Sepatu di atas lantai.

Relasi “di atas” benar-benar ada, nyata. Tetapi relasi ini bukan materi. Ketika kita mengatakan mata Rara di atas pipi Rara maka yang materi adalah mata Rara dan pipi Rara. Sementara relasi “di atas” itu sendiri bukan materi. Perhatikan juga “sepatu di atas lantai.” Sepatu dan lantai bersifat materi. Sementara relasi “di atas” juga bukan materi.

Apakah relasi di atas adalah bersifat mental, dalam pikiran manusia? Dugaan yang masuk akal. Kita perlu memeriksanya.

Sepatu di atas lantai tetap di atas lantai meski saya tidak sedang memikirkannya. Alis Rara tetap di atas mata Rara meski tidak ada orang yang sedang memikirkan itu. Buku tetap di atas meja meski tidak ada seorang pun yang sedang memikirkannya. Maka relasi “di atas” tidak bersifat mental, tidak hanya ada di pikiran manusia.

Karena relasi “di atas” tidak ada di dunia materi, dan tidak ada di dunia alam mental, tetapi benar-benar ada, maka relasi “di atas” ada di dunia tersendiri yaitu di dunia universalia. Dunia universalia ini bersifat universal, kokoh, dan murni. Universal dalam arti bahwa relasi mata dan pipi Rara mengambil relasi dari dunia universalia. Sebagaimana sepatu dan lantai mengambil relasi dari dunia universalia. Alam material yang partikular mengambil relasi dari dunia universalia.

Termasuk dalam dunia universalia adalah relasi waktu, kualitas, kuantitas, dan lain-lain.

Perhatikan, misalnya, display detik pada jam digital. Display itu menunjuk angka 1, 2, 3, 4, … .Kita sadar bahwa 1 muncul sebelum 2, dan 2 sebelum 3, dan seterusnya. Relasi “sebelum” yang merupakan relasi waktu juga ada di dunia universalia.

Contoh kualitas barangkali kita bisa memperhatikan lampu merah, bola merah, baju merah, dan lain-lain. Kualitas warna “merah” bersifat universal dan ada di dunia universal. Tentang kuantitas, misalnya, dua kaki, dua mata, dua mobil, dua orang, dua rumah, dan lain-lain. Kuantitas “dua” adalah universal dan ada di dunia universalia. Ada banyak universalia di dunia universalia, bahkan tak terbatas.

Rara cantik, Rini cantik, Ina cantik, Siti cantik, dan banyak wanita lainnya cantik. Kualitas cantik adalah universal dan ada di dunia universalia yang murni dan sejati.

3. Penolakan Universalia

Kita perlu mempertimbangkan bahwa beberapa pemikir besar menolak adanya universalia. Kita coba analisis dari Immanuel Kant tentang waktu. Menurut Immanuel Kant, “waktu” adalah sensasi dasar dari pikiran manusia. Jadi, “waktu” hanya bersifat mental dari pikiran manusia. “Waktu” sejatinya tidak ada di alam nyata. Namun konsep “waktu” sangat diperlukan oleh manusia untuk memahami segala fenomena.

Bukti bahwa “waktu” tidak ada bisa kita ringkas sebagai berikut. Bayangkan kita bisa meniti waktu terus-menerus ke masa depan. Maka kita maju terus, dan tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan menemukan ujung akhir dari waktu di masa depan. Kita juga bisa meniti waktu dengan arah sebaliknya, kita meniti waktu mundur ke masa lalu. Berjalan terus-menerus ke masa lalu. Dan kita tidak akan pernah berhenti. Kita tidak akan pernah menemukan ujung awal pada waktu. Sesuatu yang tidak punya awal dan tidak punya akhir mustahil mewujud di dunia ini. Maka terbukti “waktu” tidak ada di dunia ini.

Dari sudut pandang yang berbeda, kita bisa menganalisis “waktu” dengan membaginya. Perhatikan, misalnya, selang waktu 1 jam dari jam 2 sampai dengan jam 3. Kita bisa membagi selang 1 jam ini menjadi 2 masing-masing 1/2 jam. Kemudian, selang yang 1/2 jam ini bisa kita bagi menjadi 2 lagi. Dan seterusnya kita bisa membagi-bagi sampai tak terhingga. Proses pembagian sampai tak terhingga tanpa akhir ini mustahil terjadi di dunia ini. Jadi terbukti “waktu” adalah tidak ada.

Tentu saja benar bahwa “waktu” memang tidak ada di alam materi mau pun alam mental manusia seperti kita tunjukkan di bagian sebelumnya. Karena “waktu” ada di dunia universal. Jadi, waktu ada di dunia universal.

Konseptualis dan Nominalis

Ruang dan waktu adalah sensasi murni dari imajinasi manusia. Pandangan seperti Kant ini, kita kenal sebagai konseptualis. Mereka memandang ruang dan waktu sebagai tidak ada di alam eksternal. Ruang dan waktu hanya ada dalam konsep pikiran kita. Demikian juga universal lainnya juga tidak ada. Universal, menurut konseptualis, hanya ada dalam konsep pikiran manusia.

Dari arah yang berbeda, nominalis juga menolak eksistensi universal di alam eksternal. Bagi nominalis, yang ada di alam eksternal hanya obyek itu sendiri, tanpa universalia. Bahkan, universalia juga tidak ada dalam pikiran kita.

Meja persegi adalah satu obyek M, misanya. Bukan ada universal meja dan universal persegi, lalu bersatu, membentuk meja persegi. Hanya ada obyek unik M. Demikian juga, ketika kita melihat “bola bulat di atas meja persegi” maka tidak ada universalia sama sekali. Misal N = bola bulat di atas meja persegi, maka, kita melihat N saja. Jadi, bagi nominalis, alam eksternal adalah apa adanya yang ada di alam eksternal itu sendiri.

Dimensi Waktu

Menariknya, Russell melangkah lebih jauh. Bukan hanya ruang dimensi tiga dan waktu, yang total menjadi 4 dimensi, matematika dan sains saat ini berhasil menunjukkan realitas 5 dimensi atau yang lebih tinggi. Barangkali, Russell bermaksud merujuk ke Hilbert-space, yang secara matematika berhasil membangun ruang dimensi n, berapa pun. Jadi bukan hanya ruang waktu yang kita pahami ini ada tetapi masih ada lebih banyak ruang waktu yang lainnya.

Heidegger, filsuf abad 20, menempatkan “waktu” pada status realitas yang kuat. Dalam magnum opusnya, “Being and Time” Heidegger justru mengklaim “waktu” adalah hakikat wujud manusia. Namun, Heidegger membahas waktu sebagai bersatunya masa depan, masa lalu, dan masa kini dalam eksistensi manusia. Kata Heidegger, eksistensi manusia berada dalam rangkulan waktu, dari lahir sampai mati. Di masa tua, Heidegger ingin meralat “Being and Time” menjadi “Time and Being” yang barangkali, maksud Heidegger, “waktu” berada dalam rangkulan eksistensi manusia. Terbalik dari ide awal dia.

Cara pandang berbeda, ide paling cemerlang datang dari Sadra, filsuf besar abad 17. Dia memandang eksistensi atau wujud bersifat gradasi dalam intensitasnya. Bayangkan cahaya matahari sebagai satu kesatuan. Tetapi di saat yang sama intensitas cahaya matahari berbeda-beda sesuai lokasi. Di dasar laut, ada cahaya matahari dengan intensitas rendah, hampir gelap. Di bawah permukaan laut ada cahaya matahari intesitas rendah tapi lebih kuat dari yang di dasar laut. Sedangkan di atas permukaan laut intensitas lebih kuat. Dan barangkali di angkasa dekat matahari, intensitas paling kuat. Mereka semua sejatinya tetap cahaya matahari yang sama namun dengan intensitas yang berbeda. Ada yang lemah dan ada yang kuat.

Dengan cara pandang yang mirip cahaya, kita bisa memandang wujud bergradasi intensitasnya. Sehingga modus penampakan wujud bisa beragam. Misal, paling tegas, kita bisa memandang modus wujud alam realitas menjadi tiga: alam materi, alam imajinasi, dan alam akal.

Mengenai universalia, misalnya waktu, memang tidak kita temukan di alam materi. Tetapi universalia waktu ada di modus alam imajinasi. Di alam materi, yang kita temukan sekedar tanda waktu yang ditunjukkan oleh jam atau gerak semu matahari. Di alam imajinasi terdapat universalia waktu di antara unversalia-universalia lainnya semisal universalia ruang.

Namun universalia waktu bila kita analisis lebih mendalam, eksistensinya juga tidak bisa mandiri. Waktu hanya ada karena ada gerak substansial. Yaitu gerak suatu substansi dari satu modus wujud ke modus wujud lain yang lebih tinggi. Gerak ini yang menghasilkan efek universalia waktu.

Mari kita cermati lagi Heidegger. Maka di sini, saya akan mencoba meringkas pergerakan pemahaman “waktu” dari Heidegger. Bagaimana pun Heidegger mengakui “waktu” sebagai realitas yang kuat, berbeda dengan pandangan Kant. Heidegger muda menyatakan bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan waktu. Manusia eksis dalam “waktu” sejak lahir sampai mati. Dengan demikian, eksistensi “waktu” lebih kuat dari eksistensi manusia. “Waktu” melingkupi manusia.

Tampaknya, Heidegger muda bermaksud merujuk eksistensi manusia yang ada di alam materi dan alam mental. Sehingga benar bahwa eksistensi manusia berada dalam dekapan eksistensi waktu. Namun Heidegger dewasa merubah pandangan itu. Dalam surat kepada temannya, Heidegger dewasa bermaksud mengubah “Being and Time” menjadi “Time and Being”.

Heidegger dewasa mengklaim bahwa “waktu” berada dalam dekapan eksistensi manusia. Tampaknya, Heidegger dewasa kali ini, merujuk eksistensi manusia yang berada di alam materi, alam imajinasi, dan alam akal. Dengan sudut pandang ini, benar adanya bahwa “waktu” ada dalam genggaman manusia.

4. Mengetahui Universalia

Wajar bila kita bertanya, “Bagaimana cara mengetahui universalia?”

Atau kita bisa bertanya lebih radikal bagaimana manusia bisa mengetahui wujud. Dalam pandangan Sadra, wujud lebih prior dari universalia. Sementara dalam pandangan manusia sehari-hari, bahkan unversalia itu sendiri sudah terlalu tinggi dibanding dengan alam materi dan alam mental manusia.

Wujud, menurut Sadra, hanya bisa diketahui dengan pengetahuan kehadiran. Yaitu ketika wujud hadir dalam jiwa manusia yang dilimpahi cahaya kebenaran. Kita akan membahas pengetahuan kehadiran ini (knowledge by present, ilmu huduri) pada bagian lebih akhir.

Eksistensi, menurut Heidegger, bisa ketahui melalui “sense”. Dan sense yang paling penting adalah rasa gelisah. Perlu kita catat, rasa gelisah yang dimaksud Heidegger adalah dalam arti positif dan negatif. Misal kita gelisah memikirkan apa arti hidup ini. Kita gelisah memikirkan, mencari solusi, untuk memperbaiki peradaban manusia. Kita gelisah ketika merenung malam hari. Rasa gelisah ini adalah pintu kita mengenal eksistensi sejati.

Eksistensi yang lebih tinggi dari pengamatan sehari-hari, menurut Russell, bisa diketahui melalui intuisi. Universalia dan kebenaran sejati bisa diketahui melalui intuisi. Namun, intuisi manusia apakah selalu benar? Atau sesekali benar, di waktu yang lain salah? Kita akan membahas pengetahuan intuisi, yang diawali dengan pengetahuan universalia, pada bab-bab selanjutnya.

5. Ringkasan

Pembahasan dunia universalia adalah melampaui dualisme Descartes yang membagi substansi menjadi dua: materi dan jiwa. Bukti eksistensi dunia universalia paling mudah adalah relasi ruang, misal buku “di atas” meja. Relasi “di atas” bukan bersifat materi, juga bukan bersifat jiwa. Relasi “di atas” adalah universalia.

Penolakan universalia terjadi sepanjang sejarah pemikiran. Misal, Kant menganggap “ruang” dan “waktu” adalah imajinasi paling murni dari manusia. Sehingga, ruang dan waktu, sejatinya tidak ada. Bagaimana pun dukungan terhadap universalia terus berkembang pesat. Misal, matematika modern berhasil memproduksi “ruang dimensi tinggi” lebih dari 3 atau 4.

Cara mengetahui universalia bisa melalui: (A) langsung, misal melihat bentuk persegi, (B) melalui deskripsi, misal bangun datar dengan tiga sudut, (C) bukan (A) mau pun (B), misal melalui intuisi.

Kiranya, perlu saya tambahkan bahwa istilah universal biasanya dipakai dalam tiga konteks berbeda.

1. Etika universal, misal, “Menghormati ibu adalah baik.” Etika universal berlaku universal kapan saja, di mana saja, dan untuk siapa saja.

2. Logika universal, misal, “3 lebih besar dari 2.” Logika universal berlaku universal, selalu benar, di seluruh ruang dan waktu – bahkan berlaku di luar ruang dan waktu.

3. Metafisika universal, misal “Buku di atas meja.” Status realitas “di atas” adalah universal. Ada banyak obyek yang memiliki relasi “di atas.”

Kita juga bisa membagi universalia sebagai abstrak atau konkret. Universalia abstrak misalnya adalah persegi dengan contoh meja persegi, lantai persegi, buku persegi, dan lain-lain. Persegi merupakan universalia hasil abstraksi dari meja persegi atau obyek persegi lainnya. Sementara universalia konkret misal manusia dengan contoh Adi, Budi, Cita, dan lainnya. Universalia manusia bersifat konkret.

6. Diskusi

Di bagian ini, kita akan mendiskusikan perkembangan ide universalia sepanjang sejarah filsafat. Anda bisa saja melewati bagian diskusi ini dengan langsung melanjutkan ke bagian berikutnya tanpa mengurangi koherensi pembahasan. Bagi Anda yang berminat diskusi lebih dalam, kita akan membahasnya, secara selektif, sesuai urutan waktu.

6.1 Plato Aristoteles

Plato adalah pemikir pertama yang merumuskan dunia universalia sebagai dunia idea atau dunia form. Aristoteles, murid dari Plato, mengkritik konsep dunia universal ini. Bagaimana pun, kritik dari Aristoteles tidak menolak universalia, tetapi, hanya berbeda prioritas. Bagi Plato, dunia universalia adalah “ante rem” yaitu lebih prior dari dunia materi partikular. Sementara bagi Aristoteles, dunia universalia adalah “in re” yaitu ada bersamaan dengan eksistensi materi partikular.

6.2 Neo Platonis

Plotinus (205 – 270) mengembangkan lebih jauh konsep dari Plato dan Aristoteles. Kelak, konsep dari Plotinus ini, kita kenal sebagai Neo Platonisme yang berkembang sampai ke Timur, misal, sampai ke Farabi dan Ibnu Sina. Plotinus membagi alam raya sebagai: alam intelek, alam jiwa, dan alam materi. Di atas itu semua ada Yang Maha Esa. Masing-masing alam intelek dan alam jiwa ada beragam tingkatannya. Dunia universalia berada dalam alam jiwa. Sehingga, konsep Plotinus ini lebih dekat ke konsep Plato – wajar dikenal sebagai Neo Platonisme.

6.3 Alam Mitsal Ghazali

Ghazali (1058 – 1111) merumuskan dunia universalia sebagai alam mitsal atau dunia imajinasi. Alam mitsal berkonotasi lebih luas dari dunia universalia pada umumnya. Alam mitsal meliputi alam setelah kematian manusia. Setelah manusia mati, maka mereka akan berada dalam alam mitsal dan mengalami kehidupan mirip di dunia materi ini tetapi dengan kadar yang lebih kuat. Alam mitsal ini menghubungkan, dan memisahkan, alam dunia saat ini dengan alam akhirat yang abadi.

6.4 Barzakh Suhrawardi

Suhrawardi (1154 – 1191) merumuskan dunia universalia sebagai barzakh di antara ontologi gradasi cahaya. Realitas sejati adalah cahaya yang beragam dalam gradasi intensitas. Barzakh adalah ruang temu, garis pertemuan, antara cahaya dan gelap. Tetapi, karena gelap sejatinya adalah tidak ada, maka, penyebab eksistensi dari barzakh adalah cahaya itu sendiri. Terdapat banyak barzakh di antara gradasi cahaya yang tak terhingga itu. Di sini, Suhrawardi menempatkan barzakh, atau dunia universalia, dalam posisi vertikal ontologis yang tak terhingga banyaknya. Suhrawardi melangkah lebih jauh dari konsep Neo Platonisme pada jamannya.

6.5 Barzakh Ibn Arabi

Ibn Arabi (1165 – 1240) mengelaborasi konsep dunia universalia dengan canggih. Arabi menggunakan term barzakh secara kreatif dan menegaskan bahwa realitas paling fundamental adalah wujud – atau being atau eksistensi. Barzakh adalah penghubung antara dua realitas, penghubung antara materi dan akal, penghubung antara dunia dan akhirat, penghubung antara ibu dan anak, penghubung antara positif dan negatif dan sebagainya. Barzakh adalah penghubung ontologis secara vertikal mau pun horisontal – atau bahkan diagonal.

Lalu, apa sejatinya barzakh atau dunia universal itu? Barzakh adalah manifestasi dari wujud itu sendiri. Wujud bergradasi secara vertikal, berinteraksi secara horisontal, dan berkolaborasi secara diagonal. Dengan demikian, barzakh berperan besar dalam setiap realitas. Bahkan, barzakh merangkul beragam kontradiksi.

6.6 Tasykik Sadra

Sadra (1571 – 1641) mewarisi filosofi Ibn Arabi, Suhrawardi, dan lainnya. Untuk membahas dunia universalia, kita bisa merujuk konsep tasykik dan gerak substansial dari Sadra. Realitas paling fundamental adalah wujud atau eksistensi bergradasi secara intensitas dan termodulasi bersama esensi – tasykik. Tetapi, karena realitas sejati adalah eksistensi maka modulasi adalah modulasi eksistensi bukan modulasi esensi.

Ketika kita melihat meja persegi di depan kita maka kita tahu ada meja persegi di dunia eksternal dan tercipta impresi meja persegi dalam pikiran. Realitas meja persegi adalah wujud-eksternal dan impresi meja persegi adalah esensi dari meja persegi. Pada analisis akhir, impresi juga mendapat status sebagai wujud yaitu wujud-mental. Wujud-eksternal meja bersifat gradasi. Maksudnya, ada wujud yang lebih kuat dari sekedar wujud penampakan meja eksternal. Dan, meja ini senantiasa bergerak meningkat ke tingkat wujud yang lebih sempurna – gerak substansial.

Demikian juga, wujud-mental juga bergerak ke tingkat wujud yang lebih prior, wujud yang lebih sempurna. Gerak substansial ini berlangsung terus menerus tanpa henti. Bahkan, gerak aksidental, misal perpindahan meja dari satu tempat ke sebelahnya, pada analisis akhir, adalah akibat dari gerak substansial yang terus menyempurna.

Dunia universalia adalah merupakan salah satu mode wujud. Di mana mode wujud ini terus bergerak menyempurna. Dan, terdapat tak hingga mode wujud di alam raya ini.

6.7 Noumena Kant

Immanuel Kant (1720 – 1804) membagi dunia menjadi dua: dunia fenomena dan dunia noumena. Meja persegi yang kita lihat adalah sekedar penampakan dari meja, di mana, penampakan adalah dunia fenomena. Sementara, meja persegi sejati, dunia noumena, tetap tersembunyi dari indera manusia.

Dunia universalia termasuk yang mana? Dunia universalia, semisal meja atau persegi, ada dalam imajinasi manusia. Jadi, dunia universalia bersifat konseptual saja. Dengan kata lain, Kant menolak eksistensi dunia universalia dan menerimanya hanya sebagai konseptual saja. Dunia universalia adalah wujud-mental.

Lalu, apa yang menghubungkan dunia fenomena dengan dunia noumena? Pertanyaan ini tidak terjawab dengan tuntas dan menjadi tugas bagi pemikir-pemikir berikutnya.

6.8 Spirit Hegel

Hegel (1770 – 1831) adalah penerus Kant yang fenomenal. Dunia noumena dari Kant yang tersembunyi dari manusia itu harus terungkap dengan jelas. Hegel merumuskan konsep dialektika untuk mencapai spirit-absolut.

Seluruh pengetahuan kita adalah spirit. Bahkan seluruh alam raya adalah spirit. Sesuatu yang tak terjangkau oleh spirit adalah the Real. Spirit terus bergerak, berdialektika, untuk merangkul the Real. Awalnya, spirit adalah pengetahuan yang terbatas. Kemudian spirit sadar keterbatasannya dan merangkul the Real untuk membentuk spirit yang lebih sempurna. Nyatanya, spirit yang baru ini juga tidak sempurna, banyak keterbatasan. Spirit berlanjut bergerak merangkul the Real untuk lebih sempurna lagi, yang pada akhirnya, meraih spirit-absolut.

Di mana posisi dunia universalia? Dunia universalia merupakan bagian dari spirit. Wujud-mental dan wujud-eksternal, semuanya, adalah bagian dari spirit. Materi adalah spirit yang menampakkan diri. Apakah ada dunia universalia dalam the Real? Kita tidak tahu. Karena the Real adalah rahasia Tuhan. Hanya ketika spirit menjadi absolut, dia, bisa menjawabnya.

6.9 Void Zizek

Di abad 20, Russell menegaskan dukungannya terhadap dunia universalia seperti di atas. Russell mendukung Plato tetapi menolak Hegel. Baru, di abad 21, dukungan terhadap Hegel kembali bermunculan.

Popper (1902 – 1994) sejalan dengan Russell, dalam konsep dunia universalia, merumuskan dunia-3. Dunia-1 adalah dunia obyektif yang ada di depan kita: pohon, meja, batu, dan lain-lain. Dunia-1 adalah wujud-eksternal. Sedangkan, dunia-2 adalah dunia subyektif manusia atau wujud-mental: pemahaman, rasa manis, rasa sakit, dan lain-lain. Dunia-3 adalah dunia “obyektif” yang bukan dunia-1 dan bukan dunia-2. Dunia-3 adalah dunia universalia.

Zizek (lahir 1949) mengembangkan dialektika Hegel kontemporer, tentu, beda dengan Russell mau pun Popper. Zizek membaca Hegel melalui kaca mata meta-psikoanalisis Lacan dan ontologi Schelling. Ditambah dengan materialisme Marx maka menghasilkan sistem filsafat yang beda jauh dari yang pernah ada. Zizek mengaku bahwa dia membaca pikiran para pemikir sebelumnya dengan cara yang berbeda. Zizek meniru cara Deleuze dalam hal ini.

Seluruh realitas, wujud-eksternal dan wujud-mental, adalah spirit. Proses dialektika terus terjadi untuk mencapai spirit-absolut. Pertanyaannya: siapakah subyek dari spirit dan the Real itu?

Hegel dan Lacan tidak berani menjawab dengan terus terang. Sementara, Schelling menjawab dengan cara berlindung diri. The Real adalah Tuhan. Sehingga, kita perlu kembali menjalani hidup dengan tuntunan agama yang benar. Jawaban yang bagus. Tapi, Zizek tidak puas dengan jawaban seperti itu.

Spirit dan the Real saling terhubung melalui subyek: kulo. Hakikat dari subyek kulo adalah void yang beragam atau bergradasi. Peran void, di sini, mirip dengan barzakh dari Ibn Arabi, yang, menjembatani spirit dan the Real. Bagaimana pun, void adalah hampa atau ketiadaan. Tetapi void bukan hampa sebarang hampa. Void adalah hampa yang mengandung segalanya. Void adalah hampa yang sedang hamil besar.

Sedangkan, the Real adalah Nothing atau ketiadaan murni. Akibatnya, spirit pasti gagal total dalam ontologi seperti ini. Gagal itu tidak buruk. Gagal adalah realitas sejati yang perlu kita rangkul dengan riang gembira.

Spirit gagal ketika hendak merangkul dirinya sendiri sebagai subyek kulo. Karena, kulo adalah void, ketiadaan. Maka, spirit tidak akan bisa merangkul sesuatu yang tidak ada. Demikian juga, spirit pasti gagal ketika hendak merangkul the Real karena the Real adalah Nothing – yang tentu tidak akan bisa dirangkul. Meski demikian, spirit terus bergerak maju berdialektika menuju sempurna.

Tentu saja, banyak pemikir yang tidak setuju dengan pandangan Zizek yang negatif ini. Memang, yang menarik dari Zizek adalah tetap riang gembira dalam segala negativitas. Argumen Zizek untuk mendukung sistem filsafat negatif tidak lebih unggul dari argumen filsafat positif. Sehingga, wajar saja, bila banyak pemikir yang tetap mendukung filsafat positif.

Bagaimana dengan dunia universalia? Jelas, dunia universalia adalah bagian dari spirit yang terus bergerak menyempurna untuk meraih spirit-absolut. Plus ada bonus yaitu subyek kulo yang menghubungkan antara spirit dan the Real. Subyek kulo ini mirip dengan konsep barzakh versi Ibn Arabi jika spirit dan the Real, sama-sama, positif. Tetapi, jika subyek kulo menghubungkan antara cahaya dan gelap, antara positif dan negatif, maka lebih mirip dengan konsep barzakh dari Suhrawardi.

Universal Konkret

Kita bisa melanjutkan diskusi dengan fokus ke abstrak vs konkret. Contoh abstrak adalah universal persegi yang kita amati pada meja persegi, ubin persegi, kaca persegi, dan lain-lain. Sementara, universal konkret menjadi kajian menarik karena karakternya yang konkret – dan universal.

Problem dari abstrak adalah bisa saja palsu karena memang tidak konkret. Lebih masalah lagi, universal abstrak bisa menjadi partikular bagi universal lain. Kemudian, kita bisa mengembangkan universal baru yang lebih abstrak lagi tanpa henti. Misal, universal persegi adalah partikular dari universal bangun datar, partikular dari universal bangun, dan seterusnya.

Sementara, universal konkret adalah nyata dan tidak perlu universal yang lebih konkret lagi atau yang lebih asbtrak lagi.

Contoh universal konkret adalah manusia. Adi adalah manusia. Budi adalah manusia. Adi adalah manusia konkret. Bentuk konkret dari universal manusia adalah Adi. Di saat yang sama, Adi berbeda dengan Budi. Meski mereka, Adi dan Budi, sama-sama partikular dari manusia.

Kita tidak perlu membuat universal yang lebih tinggi dari manusia. Misal, kita bisa mengatakan bahwa manusia adalah partikular dari mamalia. Tetapi, mamalia adalah universal abstrak, bukan konkret. Kita membutuhkan universal yang konkret. Karena mamalia adalah abstrak, maka, mamalia bisa saja palsu.

Universal konkret menjadi penting karena bersifat universal dan konkret. Bagaimana kita bisa menemukan, atau merumuskan, universal konkret?

Netral

Universal yang bersifat netral, atau tidak membedakan, di antara anggota-anggota partikular adalah universal netral. Contohnya adalah cogito dari Descartes. Cogito, aku berpikir, adalah karakter universal yang ada pada semua manusia. Cogito tidak membeda-bedakan laki perempuan, muda dewasa, atau lainnya.

Tetapi, cogito ini nyatanya tidak netral. Berpikir dengan standar ilmiah dibedakan dengan yang tidak standar ilmiah. Berpikir dengan bahasa internasional berbeda dengan berpikir memakai bahasa lokal. Universal netral masih belum memenuhi harapan.

Simton

Kemanusiaan adalah universal yang merupakan simton, atau gejala. Semua orang memiliki kemanusiaan yang sama. Tampaknya, kita sepakat. Tetapi, itu hanya simton. Karena hanya ada kemanusiaan tertentu yang dianggap universal. Misal, manusia kulit putih adalah standar universal. Sehingga, semua orang perlu meniru standar manusia kulit putih.

Kelompok aliran tertentu mendefinisikan “amal” sesuai standar kemanusiaan mereka. Siapa saja melakukan “amal” seperti itu maka bermoral tinggi dan masuk surga, universal. Sementara, orang lain perlu meniru “amal” sesuai standar aliran tersebut. Universal semacam itu adalah simton.

Tampaknya, simton belum memenuhi kriteria universal konkret yang kita harapkan.

Hegemoni

Hegemoni adalah universal yang mendominasi. Contohnya kapitalisme. Awalnya, tidak ada apa-apa. Hampa. Lalu, muncul kapitalisme yang menjadi standar universal. Semua negara perlu meniru kapitalisme. Semua perusahaan perlu meniru kapitalisme. Dengan cari itu, kapitalisme mendominasi dunia.

Uang adalah contoh lain standar universal hegemoni. Rumah, makanan, mobil, dan sebagainya, semua bisa dihitung dengan uang. Bahkan, tenaga kerja manusia bisa dihitung dengan uang. Tenaga kerja insinyur adalah 2 kali lipat tenaga tukang, misalnya. Pulsa bisa dihitung dengan uang. Pulsa di daerah terpencil lebih mahal dari kota karena investasi infrastruktur yang lebih mahal. Uang mendominasi seluruh sisi kehidupan.

Di antara banyak universal hegemoni, mana yang paling konkret universal? Kapitalisme, uang, sosialisme, militerisme, teknologi, dan sebagainya, mana yang paling mendominasi?

Mereka, universal-universal itu, muncul dari kehampaan. Kemudian, mereka berjuang untuk bertahan hidup. Bagi yang menang, selanjutnya, akan mendominasi.

Hegemoni berhasil menjelaskan universal konkret sebagai realitas yang ada. Bisa kita lihat, hegemoni bukannya menyelesaikan masalah, tetapi, justru memunculkan masalah baru yang lebih parah.

Pelopor

Pelopor adalah yang memulai hadirnya universalia. Di saat yang sama, pelopor adalah partikular konkret di antara beragam partikular lainnya. Beberapa pemikir menyebut pelopor sebagai constitutive-exception.

WR Supratman menciptakan lagu Indonesia Raya adalah universal pelopor. Sebuah lagu universal yang bisa dinyanyikan oleh siapa saja. Jutaan rakyat Indonesia menyanyikan lagu Indonesia Raya dengan cara yang sama – sekaligus berbeda-beda variasinya. WR Supratman sendiri adalah partikular sama seperti rakyat Indonesia dalam menyanyikan lagu Indonesia Raya. Tetapi, WR Supratman berbeda dengan rakyat Indonesia karena WR Supratman adalah pencipta lagu tersebut.

Saya menciptakan trik-7-detik-matematik. Lalu, ribuan orang menirukan trik-7-detik. Mereka adalah partikular-partikular yang beragam. Saya sendiri, juga, partikular. Tetapi, saya berbeda karena saya adalah pencipta trik-7-detik itu sendiri. Jadi, trik-7-detik adalah universal konkret.

Tampaknya, universal pelopor berhasil menjadi universal konkret. Benarkah demikian?

Benar, dalam contoh Indonesia Raya dan trik-7-detik adalah universal konkret. Karena, mereka menyanyikan lagu Indonesia Raya riang gembira. Mereka menerapkan trik-7-detik dengan senang hati. Mereka menjadi partikular atas dasar kebebasan, atau freedom.

Situasi berubah menjadi hegemoni ketika ada paksaan.

Kapitalisme bisa menjadi universal konkret ketika orang-orang menerapkan kapitalisme berdasar freedom. Tetapi, kapitalisme sering memaksakan standar harga, sistem, kontrak, dan lain-lain kepada pihak lain. Dengan cara itu, kapitalisme adalah hegemoni. Kapitalisme gagal menjadi pelopor universal konkret.

Untuk benar-benar berhasil menjadi universal konkret, pelopor perlu diterapkan dengan freedom. Jadi, bagaimana formula lengkapnya?

Cinta

Cinta adalah universal konkret. Ibn Arabi menyatakan bahwa cinta adalah realitas konkret di seluruh alam raya. Suhrawardi menggunakan istilah cahaya dan Sadra menggunakan istilah wujud untuk padanan realitas konkret.

Hegel (1770 – 1830) kembali mengungkapkan bahwa cinta adalah universal konkret. Hegel menganalisis cinta antara sepasang kekasih. Cinta menyatukan suami dan istri, di saat yang sama, cinta membedakan suami dengan istri. Cinta menyatukan perbedaan dan membedakan dalam kebersamaan.

Cinta hadir karena ada suami dan istri. Jika tidak ada suami maka tidak cinta. Tidak bisa, seorang istri hanya mencintai dirinya sendiri. Itu bukan cinta sejati. Jadi, suami dan istri adalah sebab bagi terbentuknya cinta.

Sebaliknya juga terjadi, suami dan istri tercipta karena cinta. Seorang lelaki dan perempuan yang hidup bersama tanpa cinta maka bukanlah suami dan istri. Karena ada cinta maka lelaki itu jadi suami. Karena ada cinta maka perempuan itu menjadi istri. Jadi, cinta adalah sebab bagi terbentuknya pasangan suami istri.

Cinta itu sendiri terbentuk dengan bebas. Tidak ada paksaan dalam cinta, Justru, cinta selalu memberi kebebasan – dan suatu ikatan.

Cinta berhasil menjadi konkret universal yang kita harapkan. Dari cinta suami istri ini bisa terus berkembang menjadi cinta dalam keluarga. Orang tua mencintai anak-anaknya. Dan anak-anak mencintai orang tuanya. Mereka, anggota keluarga, adalah berbeda tetapi sama. Masing-masing dari mereka unik, tidak ada yang identik, tetapi mereka bersatu dalam cinta.

Universal konkret berupa cinta bisa terus berkembang meluas ke seluruh warga negara dan seluruh warga semesta. Bagaimana caranya? Kita akan membahas di bagian-bagian selanjutnya.

Lanjut ke Pengetahuan Tentang Universal
Kembali ke Philosopy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

3 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: