Pengetahuan Tentang Universal

Cinta itu universal, tidak membedakan kasta. Cinta itu universal, tidak membedakan usia. Cinta itu universal, tidak memandang apa-apa. Cinta itu buta. Buta terhadap materi dunia. Cinta itu menuntun manusia menguak cakrawala.

Saya cinta Rara. Sudah berulang kali saya menyatakan cinta itu. Cinta saya kepada Rara adalah cinta sejati, cinta seorang ayah kepada anaknya. Demi cinta, rela berkorban untuk kebahagiaan anaknya. Tapi bagaimana saya tahu cinta itu? Bagaimana kita bisa tahu cinta universal? Bagaimana kita mengetahui beragam universalia?

Russell mengelompokkan tiga jenis pengetahuan universalia. Pertama, pengetahuan melalui pengenalan. Kedua pengetahuan melalui deskripsi. Dan ketiga pengetahuan tidak melalui pengenalan mau pun deskripsi.

Pengetahuan Pengenalan Universalia

Dalam sehari-hari kita mengenali universalia secara langsung. Misal kita melihat piring bentuk lingkaran, topi bentuk lingkaran, koin bentuk lingkaran, dan benda-benda lain berbentuk lingkaran. Kita langsung mengenali mereka sebagai berbentuk lingkaran. Itu adalah contoh sederhana pengetahuan universalia “lingkaran” melalui pengenalan.

Tetapi ketika kita diminta untuk menjelaskan apa itu lingkaran kadang-kadang tidak mudah. Perlu keterampilan khusus dalam bahasa, geometri, atau bahkan matematika untuk dapat mendeskripsikan universalia “lingkaran”. Padahal kita mengenali bentuk lingkaran secara langsung begitu melihat benda partikular berbentuk lingkaran.

Contoh lain bisa kita pertimbangkan. Kita melihat lampu hijau, pisang hijau, daun hijau, baju hijau, dan benda-benda lain yang berwarna hijau. Lagi, kita langsung mengenali universalia warna “hijau”. Jika kita diminta mendeskripsikan warna hijau, bagaimana caranya? Tidak mudah juga.

Barangkali satu contoh lagi universalia lebih menarik. Kita sering melihat sepeda roda 2, ayam berkaki 2, tangan ada 2, telinga ada 2, dan berbagai macam hal yang menunjukkan kuantitas 2. Dengan mudah kita mengenali kuantitas “2” yang merupakan suatu universalia.

Kita bisa melanjutkan ke contoh pengetahuan melalui pengenalan kepada yang lebih kompleks, misal, “2 + 1 = 3”. Sebagai orang dewasa, kita dengan mudah mengenali bahwa 2 + 1 = 3. Tetapi bayangkan masa kanak-kanak kita, apakah kita bisa mengenali langsung 2 + 1 = 3? Begitu juga anak-anak yang saat ini berusia di bawah 5 tahun barangkali tidak bisa mengenali langsung penjumlahan angka-angka tersebut.

Dari sini, kita menyadari ada proses pengenalan yang sederhana, langsung, dan ada pula yang proses pengenalannya perlu pemahaman. Tentu saja kita bisa mengambil contoh univesalia yang lebih kompleks misal 6 x 7 = 42. Meski, sejatinya, kita bisa mengenali universalia 6 x 7 = 42 secara langsung, namun beberapa orang akan memerlukan proses tambahan yang lebih lama. Teori matematika yang lebih tinggi, misal rumus deret, juga merupakan universalia di mana beberapa orang mampu mengenalinya sedangkan orang yang lain tidak mampu memahaminya.

Pengetahuan Universalia Melalui Deskripsi

Bayangkan ada orang luar negeri yang sudah mahir berbahasa Indonesia, sebut saja namanya Manca. Dia lupa istilah bentuk dalam bahasa Indonesia. Manca memberikan deskripsi, “Apa ya, namanya? Bidang dimensi dua. Terdiri dari 4 garis yang saling berpotongan membentuk 4 sudut yang sama besar.”

Kita ingin membantu Manca. Tapi kita harus memikirkan bentuk apa yang tepat untuk deskripsi dari Manca itu. Beberapa orang akan berhasil mengetahui deskripsi yang dimaksud Manca adalah persegi. Ya, tepat, universalia persegi. Di atas adalah contoh pengetahuan universalia melalui deskripsi.

Pada kesempatan lain, Manca lupa tentang angka, bilangan bulat, “Berapa sih angka setelah 8?” Tentu saja kita mudah menjawab angka yang dimaksud Manca adalah 9. Yang menarik juga bahwa universal “9” merupakan relasi dari beragam universalia dengan cara yang berbeda-beda. Misal 8 + 1, 10 – 1, 3 x 3, 18/2, dan lain-lain semuanya adalah universalia 9.

Dalam contoh di atas kita berhasil mengetahui universalia melalui deksripsi bahasa (dan angka). Dalam banyak hal, bahasa tidak mampu mendeskripsikan universalia. Misalnya bagaimana kita mendeskripsikan “hijau”?

Tentu saja, para ilmuwan dapat mendeskripsikan warna hijau adalah gelombang elektromagnetik pada spektrum panjang gelombang 495 – 570 nm. Dan ilmuwan lain yang tersebar di seluruh dunia memahami yang dimaksud gelombang 495 – 570 nm adalah warna hijau.

Kita punya cara yang lebih mudah dari para ilmuwan dunia itu. Warna hijau adalah warna lampu lalu lintas yang bukan merah dan bukan kuning. Dan semua orang, bukan hanya ilmuwan saja, paham bahwa bukan merah, bukan kuning adalah hijau.

Bisa kita lihat bahwa penjelasan warna hijau di atas akan sulit dipahami oleh orang yang buta sejak lahir. Meski ilmuwan memberi penjelasan terukur bahwa hijau adalah panjang gelombang antara 495 – 570 nm namun orang buta tidak merasakan sensasi seperti orang normal melihat warna hijau. Apa lagi penjelasan warna hijau sebagai warna lampu lalu lintas makin membingungkan orang buta yang tidak pernah melihat lampu lalu lintas sepanjang hidupnya.

Deskripsi bahasa, angka, kode, simbol, atau lainnya tampaknya baru bermanfaat bila dua pihak yang berkomunikasi saling mengenal maknanya melalui pengetahuan pengenalan.

Proses Pengetahuan Universalia

Klaim universal adalah benar, selalu berlaku secara umum. Beda dengan partikular. Beda dengan klaim induksi yang didasarkan pada penelitian empiris, bersifat terbatas.

Pertimbangkan pengetahuan universalia, “Keliling suatu persegi besarnya adalah 4 kali panjang sisinya.”

Selalu benar sejak sebelum masa Pythagoras, sampai masa sekarang, bahkan sampai masa yang akan datang. Bagaimana kita bisa mengetahui sebanyak itu? Tidak mungkin kita melakukan penelitian satu demi satu, mengukur setiap sisi persegi, lalu menghitung keliling persegi tersebut. Jumlah persegi yang, di dunia ini, banyaknya tak terhingga tidak bisa kita amati dengan cara apa pun. Maka kita perlu penjelasannya bagaimana kita bisa memperoleh pengetahuan universalia dengan meyakinkan seperti itu.

Russell, pertama-tama, menegaskan bahwa kita mendapat pengetahuan unversalia melalui pengalaman empiris. Awalnya kita menyelidiki beberapa persegi. Mencoba mencari hubungan antara panjang sisi dan keliling persegi. Beberapa pengamatan menunjukkan bahwa keliling sama dengan 4 kali panjang sisi.

Pengamatan lebih mendalam, keliling sama dengan 4 panjang sisi, adalah berlaku umum. Kita bisa mengelilingi persegi, misal, dengan bergerak ke kanan, atas, kiri, dan bawah. Tepat 4 kali maka kembali ke titik awal. Cara ini berlaku untuk semua persegi. Maka kita menyimpulkan bahwa kesimpulan ini berlaku secara umum, universal. Dan memang selalu benar.

Saya ingin menegaskan lagi bahwa Russell memberi status yang kuat terhadap pengalaman, pengamatan empiris. Tanpa pengalaman tidak akan terbentuk pengetahuan universalia.

Kedua, kita melakukan idealisasi. Bahwa semua persegi berlaku, kelilingnya sama dengan 4 kali panjang sisi. Bila ada suatu bangun yang kelilingnya tidak sama dengan 4 kali panjang sisi maka dipastikan bangun tersebut bukanlah persegi. Maka kita bisa melihat di sini, pengetahuan universalia, merupakan sistem aksiomatik. Sehingga wajar berlaku umum di mana pun, kapan pun.

Proses idealisasi ini eksklusif milik pengetahuan universal. Sementara, pengetahuan empiris melalui induksi, tidak bisa melakukan idealisasi dengan cara yang sama. Misal pernyataan, “Setiap manusia mati pada waktunya,” tetap tidak universal. Meski pun sepanjang sejarah menunjukkan semua manusia pada akhirnya mati tetapi di jaman ini masih ada manusia yang tidak mati. Pikiran kita masih terbuka terhadap kemungkinan ditemukannya suatu obat atau teknologi yang menjadikan manusia tidak mati. Walau peluangnya kecil tapi mungkin saja.

Pengetahuan empiris, misalnya sains, menemukan cara untuk “mengidealisasikan” diri. Caranya adalah dengan mengubah proposisi sains menjadi proposisi matematika. Contoh paling sukses adalah hukum Newton tentang gerak. Misalnya gerak lurus beraturan didefinisikan sebagai gerak lurus yang kecepatannnya konstan. Jika ada gerak yang kecepatannya tidak konstan maka itu bukan gerak lurus beraturan.

Dengan cara idealisasi di atas maka proposisi sain menjadi berlaku universal, karena sejatinya adalah proposisi matematika.

Teori Newton ini berdampak radikal. Mengoreksi pandangan Aristoteles dan pandangan masyarakat awam. Bila ada bola bergerak dengan kecepatan 10 km/jam di jalan yang licin tanpa gangguan maka bola tersebut akan terus bergerak dengan kecepatan tetap selamanya, tidak pernah berhenti.

Aristoteles, dan pandangan masyarakat umum, menduga bola tersebut akan melambat. Dan pada akhirnya bola akan berhenti. Karena, pada bola, tidak ada lagi yang mendorong. Tidak ada lagi sebab yang menyebabkan bola terdorong. Lagi pula, berbagai pengamatan menunjukkan bahwa bola berhenti pada akhirnya. Tidak pernah kita melihat bola terus-menerus bergerak.

Tampaknya, Aristoteles dan masyarakat umum, harus menerima kekalahan. Teori Newton yang benar. Berbagai macam percobaan membuktikan. Bola tidak akan pernah berhenti bila tidak ada gangguan. Misal bola pertama akan berhenti dalam 1 menit. Bola kedua, jalan dibuat lebih licin, berhenti setelah 2 menit. Bola ketiga, jalan dibuat sangat licin, maka bola baru berhenti setelah 10 menit. Dan seterusnya, ketika jalan dibuat licin sempurna, maka bola tidak akan pernah berhenti.

Tetapi bagaimana dengan kenyataan sehari-hari bahwa bola pada akhirnya memang berhenti? Bola berhenti disebabkan adanya gangguan dari luar, berupa jalan tidak licin dan gesekan udara. Jika tidak ada gangguan maka teori Newton tentang gerak lurus beraturan yang benar dan selalu benar secara universal. Namun karena kehidupan sehari-hari ada gangguan, semisal gesekan udara, maka berlaku teori Newton tentang gerak lurus berubah beraturan. Teori Newton ini juga berupa proposisi matematika sehingga berlaku universal. Singkatnya, sains, dengan menggunakan proposisi matematika, maka selalu benar bersifat universal.

Sains Universal

Mudah kita pahami, saat ini, bahwa sains (dan teknologi) benarnya bersifat universal. Dan tentu kita boleh meragukannya. Resiko, meragukan sains, adalah dianggap sebagai tidak ilmiah.

Selama sains berhasil membatasi diri dalam proposisi matematika maka terjamin nilai kebenarannya, semisal teori Newton. Tetapi, ketika sains melangkah lebih luas dari proposisi matematika maka tidak ada jaminan berlaku universal. Paradoksnya, bila sains hanya sah secara matematis maka fenomena empiris tidak bisa dijelaskan oleh sains. Sains tidak punya hak lagi untuk klaim universal.

Karl Popper, filsuf sains abad 20, memberikan ide cerdik untuk falsifikasi kebenaran sains empiris. Kebenaran proposisi sains tidak bisa dibuktikan benar. Hanya bisa dibuktikan salah. Lalu disusun proposisi sains yang lebih bagus. Begitulah perkembangan sains. Kesalahan demi kesalahan membersihkan sains dari dugaan yang salah maka sains makin kuat.

Yang paling terkenal adalah proposisi, “Semua angsa berwarna putih.”

Pengamatan dari ratusan sampai ribuan angsa, semua berwarna putih. Dilanjutkaan pengamatan bertahun-tahun berlalu, semua angsa berwarna putih. Maka wajar bagi kita menyimpulkan bahwa semua angsa berwarna putih. Mudah kita cermati, proposisi ini tidak bersifat universal. Artinya sewaktu-waktu bisa saja kita menemukan angsa tidak berwarna putih.

Maka proposisi di atas tidak bisa kita buktikan kebenarannya. Berjuta-juta angsa yang kita periksa, misalnya, semua berwarna putih maka tetap tidak menjamin kebenarannya. Cara paling tepat adalah menganggap proposisi ini hanya berlaku untuk sementara. Sampai suatu saat ada bukti sebaliknya. Dan benar saja, ditemukan ada satu angsa berwarna hitam. Maka terbukti proposisi di atas salah. Berhasil difalsifikasi.

Pada bagian berikutnya kita akan mendiskusikan ide falsifikasi ini dibandingkan dengan ide induksi untuk mengembangkan sains.

Kritik lebih keras, terhadap sains, berasal dari Lyotard, sang tokoh posmodern. Nilai kebenaran sains hanya berbasis konsensus belaka. Lyotard tidak percaya kepada metanarasi yang “dipaksakan” oleh sains – modern. Lyotard merujuk dasar kritiknya ini kepada Immanuel Kant. Berbeda dengan Popper yang kritiknya justru menguatkan sains, kritik posmodern seakan-akan meruntuhkan sains dari landasan paling dasarnya. Kita juga akan membahas kritik ini pada bagian khusus berikutnya.

Cinta Cantik Universal

Pembahasan kita tampaknya mengarah kepada legitimasi sains. Yang selama ini, masyarakat modern menganggap sains selalu benar, nyatanya masih bisa kita pertanyakan keabsahannya. Sementara cantik dan cinta, yang sering dianggap sekedar subyektif dan tidak ilmiah, justru menguat status ontologisnya.

Cantik itu universal. Maka cantik itu abadi, seperti sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Eksistensi cantik tidak di dunia materi dan tidak di dunia alam mental manusia tapi cantik ada di dunia universalia. Sementara kita perlu mempertimbangkan bahwa cantik hanyalah sebuah kata untuk menunjukkan cantik sejati yang kuantitasnya tak terbatas. Barangkali kita bisa mempertimbangkan beberapa istilah cantik, ayu, manis, anggun, menawan, dan sebagainya. Masing-masing mewakili realitas cantik dalam komposisi yang berbeda. Ada komposisi cantik tak terbatas di dunia universalia. Betapa indahnya hidup di dunia yang penuh kecantikan itu.

Tentang cinta, tidak ada keraguan bahwa cinta lebih utama dari dunia dan isinya. Cinta seperti apa yang dimaksud? Kita masih perlu membahas dulu pengetahuan intuitif agar lebih memudahkan diskusinya.

Pengetahuan Universal Intuitif

Sudah kita bahas ada beberapa cara memperoleh pengetahuan universal yaitu melalui pengenalan dan deskripsi. Kita akan melengkapi lagi cara memperoleh pengetahuan universal melalui pengetahuan intuisi, pengetahuan transenden, pengetahuan inseptual, dan lain-lain. Khususnya pengetahuan intuitif, adalah pokok bahasan kita selanjutnya.

Lanjut ke Pengetahuan dan Intuisi Cinta
Kembali ke Philosphy of Love

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

5 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: