Jokowi: Semua Memburuk

Tidak semperti biasa. Presiden Jokowi menyatakan bahwa semua memburuk. Biasanya, presiden memandang situasi selalu dari sisi positif. Kali ini, presiden menyatakan kondisi memburuk, semua. Tentunya dalam kaitan pandemi corona covid-19 yang tidak mereda.

Apa artinya?

  1. Angka Reproduksi R

Saya rutin sepanjang pandemi di Indonesia menghitung angka reproduksi R dari covid di Indonesia, dan beberapa negara, provinsi, serta kabupaten kota. Hasil perhitungan ini menunjukkan R “selalu” di atas 1 yang bermakna pandemi terus menyebar di Indonesia. Orang boleh mengatakan kondisi Indonesia memang memburuk, sejak Maret sampai Desember 2020.

2. Kasus Aktif

Kasus aktif minggu ini memburuk, kata Presiden. Menurut hitungan saya, memang memburuk sepanjang pandemi. Presiden membandingkan kasus aktif dengan periode minggu lalu dan rata-rata dunia. Saya tidak yakin perbandingan semacam itu adalah fair. Perbandingan dengan model angka reproduksi R akan menghasilkan analisa lebih terpercaya. Demikian juga untuk angka kematian Indonesia yang memburuk.

Kita coba cermati jebakan rata-rata penghasilan 5 keluarga di kampung dengan data: 2 juta + 2 juta + 2 juta + 2 juta + 102 juta.

Rata-rata = (2 + 2 + 2 + 2 + 102)/5 = 110/5 = 20 juta per keluarga

Maka Pak RW bergembira karena rata-rata penghasilan warga kampung meningkat bahkan selama kondisi pandemi. Tahun ini rata-rata 20 juta per bulan tiap keluarga. Sedangkan tahun 2019 lalu penghasilan rata-rata hanya 4 juta per bulan tiap keluarga.

Tentu saja kesimpulan Pak RW tidak tepat. Rata-rata naik karena ada warga baru pindahan dari ibu kota yang penghasilannya 102 juta itu.

3) Jokowi Optimis

Seperti saya sebut di awal, Presiden Jokowi cenderung bersikap optimis dalam berbagai kesempatan. Maka ketika Presiden menyebut buruk tampaknya benar-benar ada sesuatu di balik pernyataan itu. Tentu saja spekulasi bisa liar ke arah mana saja.

Kita masih bisa optimis bahwa dalam waktu dekat vaksin akan menjadi solusi efektif mengatasi pandemi. Bila ini terjadi maka seluruh warga dunia patut bersyukur. Tetapi bila vaksin ternyata tidak efektif, pandemi tidak mereda, kasus terus melonjak, maka apa yang bisa dilakukan kemudian?

Kita bisa memperbaiki, tidak harus menunggu nanti. Saya mengembangkan model mengatasi pandemi dengan fokus kepada manajemen perilaku dan percepatan penyembuhan pasien. Dengan tambahan vaksin maka lebih manjur lagi.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: