Pengetahuan dan Intuisi Cinta

Cinta hadir begitu saja. Kita tidak sadar mengapa cinta hadir. Tiba-tiba saja ada cinta. Barangkali cinta ke pasangan hidup, sedikit banyak, bisa kita cari alasannya. Karena dia cantik, baik hati, pengertian, lalu muncul cinta di antara mereka.

Tapi cinta saya kepada Rara, muncul begitu saja. Ketika Rara tumbuh jadi gadis remaja, aku cinta dia. Ketika Rara masih kanak-kanak, lucu dan imut, saya sudah cinta. Bahkan ketika Rara, masih berada dalam kandungan istriku, aku sudah cinta kepada Rara. Misteri cinta akan menjadi lebih jelas setelah kita bahas di bagian ini, atau malah makin misterius.

Kita membahas, di bagian ini, dengan kerangka pengetahuan intuitif, termasuk pengetahuan cinta.

Sumber Pengetahuan

Sampai di sini, sudah tepat kiranya bila kita membahas sumber pengetahuan manusia. Pengetahuan bisa kita bagi menjadi dua: pengetahuan tentang realitas dan pengetahuan tentang kebenaran. Mengikuti cara Russell dan beberapa modifikasi, saya tampilkan seperti tabel di bawah.

RealitasPengetahuan LangsungPengetahuan InderaPengetahuan Partikular
Pengetahuan universalia
Pengetahuan DeskripsiPengetahuan PrinsipPengetahuan yang Benar
Pengetahuan yang Sesat
KebenaranPengetahuan LangsungPengetahuan IntuitifPenilaian Indera
Penilaian Transendental
Pengetahuan DerivatifPrinsip DeduksiPenilaian Aksiomatik
Induksi – FalsifikasiPenilaian Probabilistik

Untuk mudahnya kita bisa memperhatikan 8 kelompok pengetahuan di bagian paling kanan tabel. Meskipun di antaranya bisa saja saling berbaur tapi kita akan membahasnya masing-masing terpisah.

Pertama, pengetahuan partikular dari indera manusia dianggap selalu benar, sejauh data indera yang diperhatikan. Misalnya, saya sedang melihat sesuatu mirip bola, adalah pasti benar. Meski pun ternyata yang dilihat itu adalah telur tetapi “melihat sesuatu mirip bola” adalah bernilai benar. Yang ada kemungkinan salah adalah “penilaian” dari data-indera. Sementara pengalaman melihat sesuatu selalu dianggap benar.

Kedua, pengetahuan universal dari indera manusia dianggap benar. Misal,”saya melihat persegi” selalu dianggap benar. Pengalaman saya melihat universalia persegi bernilai benar. Meskipun bisa saja ternyata bentuknya tidak persegi, agak melengkung. Penilaian saya di atas bisa salah tetapi pengalaman saya selalu benar.

Dua jenis pengetahuan di atas bersifat segera, atau langsung dari pengalaman kita. Sehingga dijamin benar.

Ketiga, pengetahuan yang benar. Misal, “Paman APIQ adalah guru matematika,” adalah pengetahuan yang benar. Pernyataan di atas sesuai dengan realitas bahwa Paman APIQ memang guru matematika. Kita bisa verifikasi melalui canel youtube paman APIQ yang mengajarkan matematika. Atau kita bisa saja berkunjung ke Bandung untuk melihat langsung Paman APIQ mengajar matematika.

Keempat, pengetahuan yang salah. Misal, “Paman APIQ adalah bukan guru matematika,” adalah salah. Tentu saja dengan mudah kita tahu itu pernyataan salah. Dengan melihat canel youtube paman APIQ kita tahu bahwa Paman APIQ mengajar matematika. Paman APIQ adalah guru matematika.

Jenis pengetahuan ketiga dan keempat di atas adalah pengetahuan derivatif melalui deskripsi maka mungkin saja bernilai salah, dan mungkin bernilai benar. Seluruhnya, pengetahuan pertama sampai keempat, adalah pengetahuan tentang realitas. Sedangkan jenis pengetahuan kelima sampai kedelapan adalah pengetahuan tentang kebenaran.

Kelima, penilaian indera yang bersifat langsung. Penilaian ini bisa saja salah, dan bisa benar. Maka di sini saya menggunakan istilah “penilaian”. Misal, “Saya melihat mobil warna biru.” Bisa bernilai salah bila ternyata warna mobil tersebut adalah hijau. Dan tentu bernilai benar bila warna mobil tersebut adalah, ternyata biru.

Keenam, penilaian transendental yang bersifat langsung. Misal rasa cinta, rindu, takut, cemas, gelisah, dan lain-lain. Penilaian intuitif langsung ini yang akan kita bahas lebih detil di bab ini, baik penilaian transendental mau pun penilaian indera.

Ketujuh, pengetahuan aksiomatik, seharusnya selalu benar. Misal, “setiap persegi memiliki 4 sisi.” Ada kemungkinan salah ketika kita mengambil kesimpulan dengan proses yang salah. Namun dengan ketelitian, kesalahan dapat ditemukan untuk kemudian dikoreksi.

Kedelapan, pengetahuan probabilistik, yang kemungkinan besar bernilai benar. Sebagian besar pengetahuan kita tentang kehidupan praktis adalah masuk kelompok pengetahuan probabilistik. Pengetahuan ketujuh dan kedelapan ini akan menjadi bahasan utama pada bab selanjutnya.

Penilaian Pengetahuan Intuitif

Proses penilaian intuitif kita tampaknya terjadi seketika begitu saja. “Saya melihat pohon.” “Saya melihat pohon lebat.” “Saya melihat pohon lebat dan tinggi.”

Ketika saya mengarahkan pandangan ke pohon di siang hari maka saya dengan segera melihat pohon itu. “Saya melihat pohon.” Proses melihat pohon ini sudah dijelaskan oleh sains – fisika, biologi, dan lain-lain – secara tuntas.

Pohon menerima sinar dari berbagai arah. Sebagian sinar diserap dan sebagian yang lain dipantulkan dengan cara tertentu. Sinar yang dipantulkan pohon ini mengenai mata saya, lalu sinar ini diolah oleh mata menjadi sinyal-sinyal yang bersesuain dikirim ke otak saya melalui sistem syaraf yang komplek. Otak mengolah sinyal-sinyal dan akhirnya pikiran saya memahami bahwa yang di depan saya adalah pohon. Dalam kata-kata, bisa saya katakan, “Saya melihat pohon.”

Mudah kita cermati bahwa penilaian saya tentang “pohon” bisa saja salah. Jika kita ingin lebih yakin barangkali kita bisa mendekati pohon, melihatnya, merabanya, dan menggoyang-goyankan untuk meyakinkan bahwa itu benar-benar pohon sesuai penilaian kita. Bisa saja setelah didekati ternyata itu bukan pohon melainkan cuma hiasan yang mirip pohon.

Pertanyaan yang bersifat filosofis adalah bagaimana gambaran pohon itu bisa muncul secara intuitif di pikiran saya?

Sains menjawab, itu adalah proses refleks sistem tubuh manusia yang dilengkapi dengan sistem indera, sistem syaraf, dan sistem otak. Jawaban ini sudah jelas bagi sains. Bahkan sains bergerak lebih maju dengan menciptakan teknologi tiruan semisal kamera. Dengan prinsip-prinsip yang sama dengan mata, kamera, bisa melihat seperti mata manusia. Kamera bisa melihat dalam bentuk gambar mau pun video bergerak.

Meski sains dan teknologi sudah punya jawaban yang memuaskan, filsafat masih bertanya lebih jauh. Bagaimana proses refleks pada pikiran manusia itu bisa memunculkan gambaran pohon?

Menurut Russell, proses munculnya gambar pohon di otak atau pikiran manusia itu berlangsung secara intuitif dengan seketika. Proses intuitif terbentuk berdasar pengalaman manusia. Tanpa pengalaman maka manusia tidak akan bisa melakukan penilaian apa pun. Sejak kecil manusia belajar melihat alam sekitar. Melakukan penilaian secara intuitif atas berbagai hal. Dan pada masa tertentu kita memiliki kemampuan intuitif ini secara matang. Tidak ada yang misterius dalam kasus ini. Pengalaman empiris sudah menjelaskan semuanya.

Di sisi lain, masih banyak filsuf yang penasaran. Mereka ingin tahu lebih detil bagaimana proses intuitif munculnya gambar pohon dalam pikiran manusia. Salah satunya, pada akhir abad 20, filsuf David Chalmers memunculkan “Hard problem of consciousness.” Salah satu dari problem ini bisa kita nyatakan, “Bagaimana beberapa organisme, misal manusia, menjadi subyek dari suatu pengalaman?” Dalam versi ringannya, adalah seperti yang sedang kita bicarakan, “Bagaimana gambar pohon muncul dalam pikiran manusia?”

Hard problem sudah muncul lebih dari 20 tahunan, sampai kini, belum ada solusi yang memuaskan. Bahkan problem yang ringanpun juga belum ada solusi memuaskan yang disepakati para filsuf dan saintis. John Searle, filsuf abad 21, ikut aktif untuk memecahkan hard problem sejak akhir abad 20. Sampai sekarang juga belum menemukan solusinya.

Imajinasi Transendental Kant

Barangkali kita bisa merujuk Immanuel Kant, filsuf abad 18-19, yang menjelaskan penilaian intuitif manusia melalui skema. Pikiran manusia memiliki pengetahuan a priori murni, kategori, yang terbebas dari kebutuhan pengalaman empiris. Pengetahuan a priori ini sudah tertanam dalam pikiran manusia sejak awal. Sedangkan data-indera diperoleh manusia sesuai pengalaman empiris manusia.

Data-indera, yang berupa sinar-sinar dari pohon, tidak punya arti apa-apa bila menyentuh dinding. Data-indera ini berpeluang dipahami bila menyentuh mata manusia, lalu diolah dikirim ke otak. Terjadi proses dialektika antara data-indera dengan pengetahuan a priori manusia. Sehingga terbentuk sintesa berupa pemahaman oleh pikiran tentang “pohon” melalui kekuatan imajinasi intuitif.

Proses terbentuk sintesa ini dikenal sebagai skema. Lebih lengkap kita bahas di bagian lampiran, di bawah. Pengetahuan a priori murni manusia terdiri dari 4 kelompok: kuantitas, kualitas, relasi, dan modus. Masing-masing 4 kelompok tersebut mempunyai 3 jenis. Sehingga total 4 x 3 = 12 kategori, menurut Immanuel Kant.

Mari kita ambil contoh lagi proses munculnya gambar pohon di pikiran manusia. Ketika data-indera diterima maka secara intuitif pengetahuan a priori bekerja. Pertama, menentukan kuantitas data indera berupa ukuran, panjang, lebar, tinggi, dan lain-lain. Kedua, menentukan kualitas misal daun hijau, batang coklat, kayu padat, dan lain-lain. Ketiga, menentukan relasi, apakah data-indra tersebut substansi-aksiden, sebab-akibat, dan kain-lain. Keempat, menentukan apakah pasti, mustahil, atau mungkin. Ditambah lagi sensasi murni berupa waktu dan ruang maka terbentuklah imajinasi gambar “pohon” sesuai fenomena di alam eksternal.

Menuru saya, uraian Kant ini cukup jelas. Masih ada satu pertanyaan, bagaimana imajinasi gambar “pohon” itu terbentuk? Kant menjawab bahwa gambar pohon itu terbentuk dengan kekuatan imajinasi transendental pikiran manusia.

Proses yang cukup panjang bila diuraikan dengan kata-kata di atas, sejatinya, berlangsung seketika dan intuitif. Kant memastikan kita bisa mengetahui kebenaran penilaian intuitif ini, yang merupakan sintesa data empiris (pengetahuan a posteriori) dan pengetahuan a priori. Maksudnya, dengan cara-cara tertentu, manusia mampu menentukan bahwa apakah yang dilihat itu benar atau salah, berupa pohon. Dengan cara ini sains yang mengandalkan penelitian empiris mendapatkan justifikasi filosofis.

Pengetahuan yang tidak dilengkapi data empiris masih bisa sah dengan mengandalkan sintesa analitik. Misal pengetahuan matematika bahwa 2 + 1 = 3 adalah sintesa analitik yang dapat diakui nilai kebenarannya. Yaitu melibatkan proses pengetahuan a prioi “2” dan “1” serta definisi penjumlahan maka menghasilkan sintesa bernilai “3”.

Tetapi pada kasus pengetahuan umum yang tidak dilengkapi dengan data empiris maka tidak akan bisa dibuat sintesa yang memuaskan. Situasi seperti ini menghasilkan paradoks atau yang disebut dengan antinomy. Misalnya,

tesis: terdapat hukum alam yang pasti sehingga segala yang ada di alam sudah ditentukan, determinisme.

anti tesis: setiap manusia memiliki kehendak bebas, free will.

Antara tesis dan anti tesis di atas saling bertentangan. Dan tidak ada sintesa untuk mempertemukan keduanya. Secara empiris kita tidak bisa menjamin kebenaran tesis mau pun anti tesis. Secara apriori kita juga tidak bisa membuktikannya. Maka Kant membiarkan eksistensi keduanya, sebagai antinomy. Beberapa usulan solusi untuk ini saya sertakan di lampiran, di bawah. Di antaranya dialektika Hegel, keutamaan kehendak Schopenhauer, keutamaan emosi Kierkeegaard, fenomenologi Husserl, keutamaan being Heidegger, dan keutamaan wujud Sadra. Serta dissensus dari Lyotard. Dari arah yang berbeda kita perlu mempertimbangkan psikoanalisa Freud, strukturalisme Saussure, alam al-mitsal Al Ghazali, dan jalan cinta Rumi dan Ibnu Arabi.

Kita bisa meringkas, untuk penilaian intuitif indera, sebagai berikut. Proses ini terjadi intuitif dari pikiran manusia. Penilaian makin matang sesuai dengan pengalaman empiris kita, mengacu pendapat Russell. Sedangkan Kant menjelaskan bahwa penilaian intuitif ini melibatkan sintesa data empiris dan pengetahuan a priori manusia. Dalam proses sintesa ini melibatkan kekuatan imajinasi transendental.

Cantik dan Cinta Transendental

Mari kembali memikirkan cantik dan cinta. Saya bisa membayangkan cantiknya Rara. Anda membayangkan cantiknya siapa saja. Sudah kita bahas bahwa cantik adalah universal. Cantik ada di dunia unversalia yang sempurna. Meski demikian, di sini, kita perlu membahas bagaimana penilaian cantik dan cinta.

Kant memberikan ide yang menarik berkaitan dengan penilaian estetika – berhubungan dengan rasa. Saya akan meminjam ide-ide dari Kant di bagian ini. Proses penilaian ini melibatkan data empiris (pengetahuan a posteriori), pengetahuan a priori, dan imajinasi transendental.

Pertama, penilaian yang diharapkan ada persetujuan. Contoh, saya menilai bahwa rambut Rara adalah lebat. Penilaian saya ini, bisa diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Artinya, orang-orang yang mencermati rambut Rara akan setuju bahwa lebat. Bila ada orang yang tidak setuju maka bisa didiskusikan dan diharapkan akan sepakat pada akhirnya.

Hari ini, sinar matahari terasa panas. Penilaian panas ini juga diharapkan akan disetujui oleh semua orang. Bahkan, sains dan teknologi, menciptakan alat ukur untuk mengukur panas misal termometer. Dari pada saya menilai “panas” maka bisa saya ukur temperatur hari ini misalnya 32 derajat celcius. Penilaian termometer ini lebih terjamin obyektivitasnya. Dengan resiko mengurangi peran saya sebagai subyek yang merasa panas itu.

Rara adalah gadis cantik, adalah penilaian yang diharapkan akan disetujui orang. Saya belum tahu apakah sains dan teknologi sudah membuat alat untuk mengukur kecantikan. Misal ada derajat kecantikan seperti termometer. Barangkali seru juga?

Kedua, penilaian yang bisa tidak ada persetujuan. Misal, sayur masakan ibu adalah yang paling nikmat. Ketika pernyataan ini saya sampaikan ke kakak-kakak dan adik-adik saya, mereka setuju. Sementara bila saya sampaikan kepada orang luar kota yang tidak saya kenal, mereka bisa saja tidak setuju. Dan saya sendiri tidak bisa berharap bahwa orang luar kota itu akan selalu setuju dengan saya.

Iwan Fals adalah penyanyi dengan suara paling merdu. Saya kira penggemar Bang Iwan akan setuju dengan saya. Tapi akan banyak orang yang tidak setuju. Mereka, barangkali, punya pilihan berbeda untuk penyanyi yang memiliki suara paling merdu. Kita tidak perlu berharap kata sepakat untuk jenis penilaian intuitif semacam ini.

Ilmu statistik mempunyai cara tertentu untuk mengukur penilaian ini misal dengan sensus atau survey. Dari seribu orang yang disurvey memilih Iwan Fals sebanyak 45%. Sedangkan 4 penyanyi lain rata-rata dapat dukungan sekitar 10% – 20%. Maka kita bisa menobatkan Iwan Fals sebagai penyanyi dengan suara paling merdu. Sah. Dengan resiko suara mayoritas bisa mendominasi suara minoritas.

Ketiga, penilaian yang bersifat sublim atau suci. Saya terharu melihat perjuangan seorang guru ngaji di kampung. Guru ngaji mengajar dengan tulus setiap sore sampai malam. Dilanjutkan pagi hari setelah subuh. Siswa-siswa tidak membayar apa pun kepada guru ngaji. Bahkan guru ngaji sering memberi buku dan alat tulis kepada siswa-siswanya. Guru ngaji itu juga bukan orang kaya. Dia hidup sederhana dengan bertani di sawahnya yang hanya sepetak.

Saya terharu adalah jenis penilaian intuitif bersifat sublim. Rasa cinta saya kepada Rara adalah sublim, suci. Anda barangkali terpesona oleh indahnya alam pegunungan, adalah perasaan sublim intuitif. Ada juga yang mengagumi deburan ombak menghantam tepian pantai tiada henti.

Banyak sekali momen intuitif sublim, suci, dalam hidup ini. Anda mendengar rintihan bocah kecil dipinggir jalan, hati Anda tersentuh adalah sublim. Lantunan lagu sedih yang menyayat hati Anda adalah sublim. Lukisan tangan seniman yang dipamerkan, meggoreskan rasa mendalam ke hati Anda, adalah sublim. Bacaan kitab suci yang menembus ke dalam hati sanubari, mengajak insyaf diri, adalah sublim. Anda jatuh cinta adalah sublim.

Keempat, penilaian yang bersifat spesial. Pada situasi-situasi tertentu dimungkinkan munculnya penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Saya pernah membaca buku yang bercerita tentang pengalaman hidup Bertrand Russell. Waktu masih remaja, Russell mengalami kebosanan dalam hidup. Lalu ia memanfaatkan waktu bosan itu untuk mempelajari matematika. Tiba-tiba muncul dalam pikiran Russell bahwa dia punya tugas untuk menyebarkan ilmu dan matematika ke seluruh alam semesta. Rasa bosan dalam hidup berubah menjadi rasa bahagia sepanjang hayat. Munculnya pesan khusus bagi Russell adalah proses penilaian intuitif transendental yang bersifat spesial.

Fuller, diceritakan, menjalani hidup yang datar-datar saja. Tidak ada semangat dalam hidup ini. Kemudian Fuller pergi ke pantai menyusun strategi cerdik berenang ke laut. Meski dengan resiko dia bisa saja tidak akan selamat. Ketika akan menjalankan rencananya, muncul suara di dalam diri Fuller yang mengatakan, “Kamu diciptakan di dunia ini bukan untuk dirimu.” Fuller memahami pesan itu sebagai adanya tugas khusus dia di dunia ini. Jalan hidup Fuller berubah total sejak itu menjadi lebih semangat mengabdikan diri untuk sesama.

Seorang pemuda sedang jalan menuju rumahnya pulang dari kampus. Dalam perjalanan santai itu, dia memikirkan sebuah ungkapan, “Tidak pantas bila setiap orang terjun ke dunia praktis. Harus ada sebagian kecil yang mendalami ilmu, teoritis dan praktis, untuk kemudian mengajarkan kepada sesama.” Pemuda itu tersentuh bahwa pesan itu ditujukan khusus untuknya. Kemudian ia lebih semangat mendalami ilmu dan menyebarkan ke seluruh penjuru. Baik melalui media pengajaran langsung tatap muka, menerbitkan buku, mau pun media digital. Momen tersentuhnya jiwa pemuda dengan pesan khusus merupakan penilaian intuitif transendental.

Saat ini, banyak dikembangkan metode-metode khusus untuk mendapatkan momen intuitif transendental. Misalnya dengan berdoa di malam hari ketika sepi. Ada juga dengan menyendiri di goa. Ada lagi dengan cara meditasi.

Mari kembali kita cermati empat macam penilaian intuitif transendental di atas. Meski kita membedakan ada empat macam, sejatinya, pembedaan ini hanya bersifat memudahkan meski pun nyata juga. Karena beberapa penilaian bisa saja masuk ke seluruh empat kelompok di atas. Misalnya penilaian bahwa alam pegunungan Tangkuban Parahu adalah indah. Penilaian ini bisa diharapkan untuk disepakati, mungkin saja tidak ada kata sepakat, bisa juga keindahan pegunungan bersifat sublim. Bagi orang-orang tertentu, indahnya pegunungan Tangkuban Parahu bisa saja memberikan momen transendental yang spesial.

Kebenaran Intuitif

Tiba saatnya kita menyelidiki nilai kebenaran dari pengetahuan intuitif. Di satu sisi kita berharap menemukan nilai kebenaran pengetahuan, di sisi lain, penilaian ini berdampak secara moral. Bahkan dalam arti luas berdampak terhadap nasib peradaban manusia.

Pertama, penilaian intuitif selalu benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ungkapan “saya melihat pohon” selalu bernilai benar. Dalam arti “saya melihat sesuatu”. Bahwa sesuatu itu bisa benar-benar pohon bisa juga bukan pohon masih perlu kita cek dengan langkah selanjutnya.

“Rara adalah cantik” selalu bernilai benar sejauh data-indera atau data-terdekat yang diperhatikan. Ketika saya melihat Rara dan menilainya sebagai cantik maka itu selalu benar. Dalam ungkapan sehari-hari, persepsi saya selalu dianggap benar. Persepsi saya tentang cantik dan pohon sama-sama bernilai benar. Apakah oranglain akan sepakat bahwa Rara memang cantik? Maka hal itu perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

“Saya cinta Rara” juga selalu benar sejauh data-terdekat yang diperhatikan. Artinya saya merasakan cinta untuk Rara adalah benar adanya. Fakta bahwa saya adalah ayahnya Rara makin menguatkan kebenaran cinta saya kepada Rara. Persepsi saya tentang cinta saya selalu benar. Sementara orang lain ada cinta yang penuh dusta maka perlu kita cek dengan langkah lanjutan.

Bisa kita ringkas, penilaian intuitif kita selalu bersifat benar sejauh data-terdekat yang kita perhatikan. Bahkan ketikan kita mengalami mimpi atau halusinasi maka persepsi kita tetap bernilai benar. Tetapi persepsi intuitif ini bisa bernilai salah ketika dibandingkan dengan realitas yang lebih jauh, kita bahas di bagian kedua berikut.

Kedua, penilaian intuitif bisa bernilai benar atau salah ketika dibandingkan dengan realitas luar. “Saya melihat pohon” bernilai benar bila, setelah dicek dengan berbagai macam cara, ternyata benar-benar pohon. Tetapi bernilai salah bila ternyata yang saya lihat itu bukan pohon, misalnya gambar pohon. Cara cek kebenaran intuisi indera ini relatif mudah misal dengan mengamati lebih dekat pohon itu, memegangnya, menggoyang-goyangkannya dan lain-lain.

“Hari ini panas” bisa bernilai benar atau salah. Karena persepsi orang-orang terhadap panas bisa saja berbeda-beda maka perlu dicari titik temu. Sains dan teknologi menciptakan termometer untuk memudahkan kita menyepakati. Misal pernyataan diubah menjadi “Hari ini temperatur 32 derajat celcius.” Dengan melihat termometer maka kita bisa memastikan bahwa penyataan itu benar (atau salah).

Bisa kita lihat di kasus ini, sains membantu untuk memudahkan kesepakatan 32 derajat celcius. Tetapi kita harus tetap ingat bahwa 32 derajat celcius itu bisa dipersepsi panas bagi orang tertentu dan dipersepsi tidak panas oleh orang lain. Maka di sini perlu sikap untuk saling respek kepada perbedaan yang mungkin.

“Rara adalah cantik” bisa bernilai benar atau salah. Karena pengertian “cantik” masing-masing orang bisa berbeda maka kesimpulan akhir bisa beda. Sekali lagi kita perlu respek terhadap perbedaan ini.

Sedangkan penilaian intuitif tentang cinta selalu benar. “Saya cinta Rara” adalah selalu benar. Karena, cinta saya, tidak perlu dibandingkan dengan realitas luar. Justru, cinta saya adalah realitas diri saya. Sehingga, selama saya jujur, cinta saya kepada Rara adalah selalu benar. Tetapi orang bisa berbohong tentang cinta. Karena tidak ada realitas obyektif untuk menentukan cinta maka dusta dengan cinta mudah dilakukan. Misal ungkapan “Saya cinta Sasa” bisa salah jika saya berbohong. Sejatinya saya tidak cinta tapi hanya di bibir saja bilang cinta.

Mirip dengan intuisi cinta, intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu bernilai benar.

Penutup

Sampai di sini kita bisa menyimpulkan bahwa intuisi cinta selalu bernilai benar. Demikian juga intuisi sublim dan intuisi spesial juga selalu benar. Sedangkan intuisi indera selalu benar sejauh data-indera yang diperrhatikan. Penilaian intuisi indera bisa salah (atau benar) bila dibanding dengan realitas luar. Penilaian intuisi estetika, yang melibatkan rasa, bisa saja disepakati dan di kasus lain tidak ada kesepakatan. Perlu sikap saling respek dalam perbedaan.

Lanjut ke Kebenaran dan Kesesatan
Kembali ke Philosophy of Love

Lampiran

Bagian lampiran ini akan membahas lebih detil tentang pengetahuan intuitif. Anda yang berminat dapat mendalami lampiran ini. Sementara yang berminat melompati dan langsung ke bab berikutnya tidak masalah.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: