Jalur Lotere Masuk Universitas

Biaya kuliah makin mahal. Jalur lotere untuk masuk universitas adalah lebih baik dari jalur mandiri. Karena jalur mandiri biayanya mahal. Bahkan jalur lotere masih lebih bagus dari jalur prestasi mau pun jalur tes, jalur ujian.

Bagaimana jalur lotere, atau jalur undian, bisa lebih baik?

Ada 3 jawaban utama.

[1] Jalur lotere lebih adil proporsional.
[2] Jalur lotere menghormati banyak pihak.
[3] Jalur lotere lebih murah biayanya.

Kita akan mengkaji keunggulan jalur lotere. Kemudian, mencoba mengembangkan jalur masuk universitas yang lebih baik dari jalur lotere. Tentu saja, juga lebih baik dari jalur prestasi, tes, mau pun mandiri.

1. Argumen Jalur Lotere
2. Argumen Freedom
3. Solusi Kompetisi Fair

Argumen-argumen dan ide-ide yang kita kembangkan, di sini, terbuka untuk revisi demi kebaikan bersama. Sehingga, jika Anda memiliki ide berbeda maka silakan kembangkan lebih lanjut.

1. Argumen Jalur Lotere

Jalur lotere jelas merupakan jalur yang adil. Pikirkan lotere yang tidak adil, lotere yang curang, maka tidak ada orang yang berminat main lotere tersebut. Asumsi dasar dari lotere adalah adil. Meski peluang menang adalah kecil, misal hanya 1/6 untuk lotere dadu, tetap saja, lotere menjamin situasi adil. Jalur masuk universitas yang adil adalah idaman banyak orang.

Pemenang lotere tidak bisa sombong; karena dia menang hanya faktor keberuntungan. Mahasiswa yang masuk universitas jalur lotere tidak perlu sombong. Karena, masih banyak calon mahasiswa, di luar sana, yang lebih cerdas dan lebih rajin.

Tentu saja, biaya lotere murah saja. Hanya dengan 5 dadu, misalnya, kita sudah bisa seleksi 6^5 calon mahasiswa = 7776 calon mahasiswa. Menghemat banyak anggaran kan?

[1] Jalur lotere lebih adil proporsional.

Fakultas kedokteran dan informatika, saat ini, menjadi primadona calon mahasiswa dan para orang tua. Misalkan ada 5000 calon mahasiswa, sementara, daya tampung fakultas hanya 100 mahasiswa baru. Jadi, ada 4900 calon mahasiswa yang pasti gagal.

Jalur lotere menjamin 100 mahasiwa baru terpilih secara adil dan proporsional.

Asumsikan:

4500 calon mahasiswa adalah miskin (90%)
500 calon mahasiswa adalah kaya (10%)

Dengan melempar 6 dadu, jalur lotere, maka diharapkan akan terpilih:

90% = 90 mahasiswa adalah miskin
10% = 10 mahasiwa adalah kaya

Hasil di atas adalah adil dan proporsional. Bandingkan, misal, dengan hasil jalur mandiri atau tes. Jalur mandiri tentu bisa mempertimbangkan besar sumbangan orang tua kepada kampus. Jalur tes, beberapa calon mahasiswa yang kaya bisa bimbingan belajar tambahan yang mahal.

Misal dengan jalur mandiri diperoleh

40 mahasiswa adalah miskin
60 mahasiswa adalah kaya

Hasil ini tidak adil dan tidak proporsional.

40 mahasiswa miskin dari total 4500 setara dengan = 0,9% atau di bawah 1%.

60 mahasiswa kaya dari total 500 setara dengan = 12%.

Proporsi mahasiswa kaya 12% adalah terlalu besar dibanding dengan mahasiswa miskin 1%. Jadi, jalur mandiri gagal untuk memenuhi prinsip adil dan gagal memenuhi prinsip proporsional. Sementara, jalur lotere behasil mencapai adil dan mencapai proporsional.

Tentu saja, contoh-contoh angka di atas bisa berbeda-beda sesuai situasi nyata. Bagaimana pun, jalur lotere lebih adil dari jalur mandiri mau pun jalur tes.

[2] Jalur lotere menghormati banyak pihak.

Keunggulan jalur lotere, kedua, adalah menghormati semua pihak. Mahasiswa baru yang lulus diterima di fakultas kedokteran atau informatika sadar bahwa dia diterima karena lotere belaka. Dia diterima hanya faktor keberuntungan, faktor kebetulan, atau faktor luck. Karena itu, mahasiswa baru tidak bisa membanggakan diri merasa lebih pintar, lebih kaya, atau lebih khusuk dalam doa. Justru, mahasiswa baru perlu lebih rendah hati, menghormati sesama mahasiswa baru, dan menghormati mereka yang tidak lolos melalui jalur lotere.

Di antara mereka yang tidak lolos bisa saja ada yang lebih pintar, lebih kaya, dan lebih besar komitmennya.

Berbeda dengan mereka yang lolos jalur mandiri. Sebagian menyumbang kampus 200 juta rupiah – sampai 700 juta rupiah. Bahkan, ada yang menyumbang ke kampus sampai orde milyard rupiah. Konsekuensinya, mahasiswa baru jalur mandiri punya alasan untuk sombong sebagai orang kaya, sebagai orang yang berkontribusi membangun kampus, sebagai orang yang berkuasa dan lain-lain.

Ditambah lagi, jalur mandiri juga mempertimbangkan nilai raport mau pun hasil tes. Maka mahasiswa baru jalur mandiri, wajar, merasa sombong bahwa dirinya adalah lebih pintar dari mereka yang tidak lolos.

Lebih dari itu, karena biaya jalur mandiri ratusan juta sampai milyaran rupiah, maka mahasiswa berpikir bagaimana cara untuk balik modal. Saatnya lulus, mereka punya peluang mengeruk keuntungan besar dari sistem sosial yang ada. Bisa halal, bisa haram. Bisa legal, bisa tidak legal.

Sebaliknya, mahasiswa baru hasil jalur lotere tidak perlu sombong juga tidak perlu balik modal. Mereka, mahasiswa hasil lotere, hanya perlu menghormati seluruh orang. Kemudian, setelah lulus, mengabdi demi kepentingan orang banyak yang telah memberi keberuntungan melalui lotere.

[3] Jalur lotere lebih murah biayanya.

Hanya dengan 5 dadu, jalur lotere sudah bisa seleksi 5000 calon mahasiswa atau lebih. Pertama, setiap pendaftar diberi kode urutan mendaftar dari 11.111 sampai dengan 66.666; tentu tidak ada angka 0, 7, 8, dan 9. Kedua, lima dadu dilempar dengan nilai tempat masing-masing, atau dilempar satu demi satu. Ketiga, diperoleh 100 angka unik dinyatakan sebagai mahasiwa yang lulus diterima berdasar jalur lotere. Selesai.

Biaya jalur lotere lebih murah karena tidak perlu membentuk panitia ujian, panitia seleksi, soal ujian, penilaian, pengawasan, dan lain-lain.

Dari calon mahasiswa, dan orang tua, tidak perlu biaya bimbingan belajar tambahan, tidak perlu menghabiskan banyak waktu menghafal rumus-rumus, tidak perlu bertengkar antara orang tua dengan anak karena malas belajar.

Jadi, bisa kita ringkas, jalur lotere lebih bagus dari jalur mandiri, jalur prestasi, mau pun jalur tes. Dengan redaksi negatif, bisa dikatakan, jalur mandiri lebih buruk dari jalur lotere.

Tentu saja, ada argumen yang menyatakan bahwa jalur mandiri lebih baik dari jalur lotere. Tema seperti ini memang perlu dikaji di ruang publik secara transparan. Analisis singkat di atas, sudah cukup membuktikan bahwa jalur lotere lebih bagus.

Di bagian bawah, kita akan membahas beberapa solusi alternatif yang lebih bagus dari jalur lotere.

2. Argumen Freedom

Setiap anak punya hak untuk mengembangkan dirinya masuk kuliah di fakultas yang dia idamkan. Setiap anak memiliki freedom, memiliki kebebasan. Setiap anak adalah bebas untuk mengembangkan kebebasan. Setiap anak adalah merdeka. Saya kira, Mas Menteri Nadiem akan sepakat bahwa setiap anak adalah merdeka.

Tetapi, mengapa calon mahasiswa menjadi tidak merdeka dalam memilih fakultas yang mereka idamkan? Lebih banyak calon mahasiswa ditolak oleh universitas daripada yang diterima.

Tentu saja, alasan penolakan mudah saja: kursi yang tersedia terbatas, terlalu sedikit, dibanding jumlah calon mahasiswa. Alasan ini bertentangan dengan argumen freedom: setiap anak adalah merdeka.

Bukankah itu ironis banget? Ketika anak muda, calon mahasiswa, berniat untuk belajar di universitas, justru ditolak oleh universitas?

Beberapa puluh tahun lalu, setiap anak muda yang berniat kuliah di pesantren selalu bisa diterima. Bahkan, pesantren-pesantren membuka pintu seluas-luasnya bagi setiap anak muda untuk belajar. Mengapa pesantren mampu membuka pintu seluas-luasnya sedangkan universitas menutup pintu rapat-rapat? Ada yang salah dalam sistem pendidikan kita!

Salah satu masalah tersebut adalah paradigma pendidikan masa kini lebih berorientasi ekonomis-materialis. Fakultas favorit, misal kedokteran dan informatika, menjadi rebutan calon mahasiswa lantaran prospek kerja lulusannya bagus untuk keuntungan finansial. Sementara, pesantren menawarkan kualitas hidup dengan akhlak tinggi. Sayangnya, beberapa pesantren masa kini, justru meninggalkan akhlak dan ikut terjebak mengejar keuntungan materialis. Kita perlu membahas tema ini lebih mendalam pada kesempatan yang berbeda. Yang jelas, kita dan pemerintah, seharusnya, mampu menyediakan daya tampung kuliah untuk semua generasi muda yang berminat untuk belajar di universitas.

Andai daya tampung universitas berlimpah sehingga mampu menampung seluruh calon mahasiswa baru, maka, tetap muncul persaingan. Karena, beberapa kampus menjadi idola bagi mahasiswa dan beberapa kampus lain sepi peminat. Kita perlu membahas jalur masuk universitas yang lebih baik dari jalur lotere. Jalur masuk universitas yang selaras dengan argumen freedom. Merdeka!

3. Solusi Kompetisi Fair

Jalur lotere terbukti lebih bagus dari jalur mandiri, jalur tes, mau pun jalur prestasi. Problem jalur lotere: bagaimana jika mahasiswa yang diterima dari jalur lotere, ternyata, tidak mampu menyelesaikan pendidikan sarjana?

Berikut ini adalah beberapa ide solusi untuk menciptakan kompetisi yang fair.

[a] Seleksi Awal

Mudahnya, setiap calon mahasiswa pasti sudah melalui seleksi awal. Dari 5000 calon mahasiswa yang mendaftar ke fakultas kedokteran, atau informatika, mereka telah lulus SMA dan pantas sebagai mahasiswa (eligible). Konsekuensinya, universitas bebas memilih 100 mahasiswa mana pun dari 5000 calon yang tersedia. Banyaknya pilihan sah bagi universitas ini adalah trilyunan pilihan. Sangat banyak.

Ilustrasi, misal, setiap calon mahasiswa mendapat nomor urut dari 1 sampai 5000. Universitas bisa memilih 1 – 100; atau 2 – 101; atau 3 – 102; atau 4901 – 5000. Banyaknya pilihan sah ini adalah sampai trilyunan. Tepatnya, menurut wolframalpha, adalah 212 desimal, atau 212 angka, banyaknya pilihan sah. Dengan kata lain, universitas bisa memilih calon mahasiswa sambil memejamkan mata. Jalur lotere menjadi masuk akal.

Beberapa orang bisa mengajukan keberatan: tidak semua dari 5000 calon mahasiswa itu eligible. Universitas bisa membuat seleksi awal untuk menyingkirkan mereka yang tidak eligible. Misal tersingkir 1000 calon mahasiswa dan tersisa 4000 calon mahasiswa. Jumlah ini masih sangat besar.

Mengapa seleksi awal tidak langsung saja menyingkirkan yang 4900 calon mahasiswa dan menerima 100 calon mahasiswa dengan skor terbaik? Tidak bisa seperti itu. Karena ranking 100 dan 101 memiliki kemampuan yang mirip, sulit dibedakan. Bahkan ranking 1 sampai 4900, sejatinya, kemampuan mereka mirip dan sama-sama berpotensi sukses menyelesaikan program sarjana di fakultas kedokteran atau informatika.

Alternatif yang lebih menarik dari seleksi awal oleh universitas adalah SKN = Sensus Kompetensi Nasional.

[b] Sensus Kompetensi Nasional

Menteri pendidikan tahun 2014 – 2015, Anies Baswedan, menghapus UN (ujian nasional) untuk tingkat SMA. Mas Menteri Nadiem menghapus total UN untuk seluruh jenjang pendidikan pada tahun 2020. Di tahun 2023 ini, menghapus kewajiban skripsi, tesis, dan disertasi. Secara umum, kebijakan menteri seperti ini berdampak bagus untuk mendukung generasi muda yang merdeka. Tetapi, apa ukuran keberhasilan pendidikan nasional?

Sensus Kompetensi Nasional (SKN) menjadi ukuran keberhasilan pendidikan nasional – salah satu ukuran penting. Secara personal, bagi masing-masing siswa, skor SKN adalah bekal untuk melanjutkan pengembangan diri. SKN tidak menghukum siswa mau pun sekolah penyelenggara pendidikan.

SKN adalah sensus kepada setiap siswa. Beda dengan survey atau assessment yang cukup dengan beberapa sample. SKN menguji kemampuan matematika dasar dan bahasa Indonesia – fokus numerasi dan literasi.

[1] SKN dilaksanakan setiap tahun bagi seluruh siswa kelas 3, 6, 9, dan 12 secara gratis – dibiayai APBN.

[2] Skor minimal SKN adalah 500 dan maksimal 1500 poin. Tidak ada hukuman apa pun bagi siswa atau sekolah yang memperoleh skor rendah SKN. Karena itu tidak perlu curang bagi siswa atau pihak mana pun. Meski, tindakan curang dapat diancam pidana dan lain-lain.

[3] Bagi yang memperoleh skor SKN tinggi, mereka bisa memanfaatkan skor SKN untuk melamar kerja, melanjutkan kuliah, melamar beasiswa, melanjutkan sekolah, dan lain-lain.

Misal skor rata-rata SKN adalah 900 – atau median. Kita bisa mengkaji dengan teliti skor SKN yang diperlukan untuk bisa menyelesaikan program sarjana fakultas kedokteran, atau informatika, diperoleh skor SKN minimal 925. Jadi, 5000 calon mahasiswa yang mendaftar memiliki skor minimal 925. Universitas bebas memilih siapa saja di antara mereka melalui jalur lotere atau analisis proporsional seperti di bagian bawah ini.

Mari sedikit kita bahas manfaat SKN terhadap pendidikan nasional.

Sejak UN dihapus, kita tidak memiliki ukuran obyektif terhadap keberhasilan pendidikan. Asesmen Nasional, PISA, TIMSS, dan lain-lain cukup membantu tetapi tidak memadai. Andai UN dipertahankan, tetap tidak memadai. Terjadi kecurangan UN secara meluas. Serta, UN tidak fair bagi beberapa siswa di pelosok.

SKN adalah solusi. Setiap siswa berkesempatan mengikuti SKN 4 kali yaitu kelas 3, 6, 9, dan 12. Dengan demikian, siswa bisa belajar dari pengalaman. Dari sisi konten, SKN sengaja bersih dari “beban muatan” dan fokus kepada “proses berpikir”. “Beban muatan” dipercayakan kepada masing-masing lembaga pendidikan. Sementara, kematangan “proses berpikir” adalah fokus utama SKN dan menjadi ukuran kematangan pendidikan yang cukup fair. Tentu saja, lembaga pendidikan juga mengembangkan “proses berpikir.”

Lebih lanjut, skor SKN bisa menggantikan kriteria radius dalam konsep zonasi penerimaan peserta didik baru (PPDB). Sehingga, konsep zonasi benar-benar menjadi zonasi bukan suatu radiusi.

[c] Analisis Proporsional dan Terbuka

Dengan SKN, kita memiliki justifikasi yang kuat untuk memilih mahasiswa baru baik menggunakan jalur lotere atau pun jalur alternatif.

[1] Analisis Proporsional

Saya pikir analisis proporsional adalah bagian tugas paling penting.

Diskusi Lanjut

[1] Kapasitas Cukup

[2] Leaderness

[3] Kebaikan Berdasar Keadilan

Siklus Pemimpin: Leadership – Leaderless – Leaderness

Presiden Jokowi akan lengser 2024 secara konstitusional. Begitulah hebatnya demokrasi. Siklus pemimpin terjadi secara wajar. Tidak perlu kudeta. Tidak perlu pemakzulan. Tidak perlu protes. Tahun 2024, masa jabatan presiden habis maka presiden Jokowi lengser dari jabatan presiden untuk digantikan oleh presiden terpilih.

Rakyat Indonesia berpesta demokrasi 2024 untuk memilih pemimpin baru. Ada beberapa nama yang sudah mulai muncul: Anies, Ganjar, dan Prabowo. Biaya trilyunan rupiah disediakan untuk proses pemilu yang diharapkan jujur dan adil. Seberapa pentingkah pemilihan pemimpin?

Sangat penting. Memilih pemimpin yang jujur adil adalah sangat penting. Sayangnya, kita sering terjebak melihat pemimpin hanya melalui kaca mata leadership. Kita perlu menambah teleskop dan mikroskop untuk melihat pemimpin melalui lensa leaderless dan leaderness.

1. Leadership
2. Leaderless
3. Leaderness
4. Apa Perlu Ada Presiden atau Raja?
5. Sembilan Solusi
6. Siklus Lengkap Leaderness
7. Diskusi Lanjutan

Soekarno dengan penuh karisma membawa Indonesia merdeka. Mendengar pidato Soekarno, rakyat Indonesia terinspirasi untuk berjuang merebut kemerdekaan. Bahkan pencopet, misal Nagabonar, rela mempersembahkan jiwa raga demi Indonesia merdeka ketika mendengar pidato Soekarno. Leadership Soekarno adalah gaya kepemimpinan karismatik. Bagaimana dengan leaderless dan leaderness? Kita perlu mengkajinya.

1. Leadership

Ketika kita menyebut pemimpin maka pikiran kita memaknainya sebagai leader dan leadership. Makna ini sudah tertanam secara kuat dalam masyarakat. Sehingga, secara alamiah, kita menganggap makna itu sudah benar. Bahkan, kadang, kita merasa makna itu, leader dan leadership, sebagai satu-satunya yang benar.

Leader, atau pemimpin, adalah orang yang bisa mempengaruhi orang lain, yaitu, pengikut atau anggota atau rakyat atau follower. Sedangkan leadership, atau kepemimpinan, adalah segala sesuatu yang berhubungan dengan pemimpin. Akibatnya, kajian leadership akan fokus kepada proses dan hasil bagaimana menghadirkan kepemimpinan yang efektif.

Ada pertanyaan yang belum dijawab. Bahkan belum diajukan.

(1) Apakah kepemimpinan atau leadership itu benar? Apakah valid? Apakah sah?

(2) Jika ada leadership yang sah maka bagaimana justifikasinya, bagaimana menguji keabsahannya, validitasnya?

(3) Bagaimana bentuk leadership terbaik? Bagaimana mengujinya?

Pertanyaan-pertanyaan di atas mengajak kita untuk memikirkan siklus pemimpin melalui leadership – leaderless – leaderness.

2. Leaderless

Tanpa pemimpin atau leaderless adalah situasi tanpa ada pemimpin. Bukankah itu lebih alamiah?

Ketika siswa baru di SMP berkumpul di kelas 7 maka tercipta leaderless, yaitu, kelompok tanpa pemimpin. Kemudian, seorang guru datang. Guru meng-klaim dirinya sebagai leader. Berlanjut, di antara siswa, seseorang menjadi ketua kelas atau sebagai leader.

Partai politik, awalnya, terdiri dari beberapa orang tanpa pemimpin, leaderless. Diskusi antara mereka, kemudian, memilih seorang ketua parpol sebagai leader. Kita mengenal pernyataan umum yang bagus, “Jika ada tiga orang keluar untuk bepergian, hendaknya mereka mengangkat seorang dari mereka sebagai pemimpin.”

Kita masih bisa menambahkan beragam contoh di banyak bidang. Leaderless mendahului leadership secara alamiah. Bagaimana pun, situasi leaderless akan memicu leaderness untuk menghasilkan leadership. Siklus leader, pemimpin, menjadi lengkap sebagai lingkaran sempurna.

Karena leaderless mendahului leadership, maka, apakah leaderless lebih utama dari leadership?

3. Leaderness

Leaderness, atau pemimpinan, adalah dinamika pemimpin dalam situasi leaderless. Jadi, leaderness adalah awal terbentuknya seorang pemimpin. Setelah tercipta leaderness, berikutnya, pemimpin baru bisa menerapkan leadership. Dengan demikian, pada posisi ini, kita bisa mulai menjawab pertanyaan awal.

(1) Apakah kepemimpinan atau leadership itu benar? Apakah valid? Apakah sah?

Jawab: bisa benar dan bisa salah. Dengan demikian, leadership bisa ditolak pada situasi tertentu. Dan bisa diterima pada situasi yang lain.

(2) Jika ada leadership yang sah maka bagaimana justifikasinya, bagaimana menguji keabsahannya, validitasnya?

Jawab: kita bisa menguji validitas leadership dari sudut pandang “korban.” Karena leader bebas menerapkan atau mencegah leadership. Tetapi, “korban” tidak punya pilihan untuk menolak kekuatan leadership.

Ilustrasi, Anda sedang jalan-jalan bersama anak Anda yang masih kanak-kanak. Tiba-tiba, Anda menarik tangan anak Anda dengan kuat lalu memeluknya. Apakah tindakan Anda bisa dibenarkan? Kita analisa dengan siklus pemimpin: leaderless-leaderness-leadership.

(a) Awalnya, leaderless, tidak ada pemimpin. Anda jalan santai dengan anak tanpa ada klaim pemimpin salah satunya – dalam situasi wajar.

(b) Berikutnya, leaderness, Anda mengambil inisiatif menjadi pemimpin.

(c) Terakhir, leadership, Anda menerapkan peran pemimpin dengan “memaksa” merangkul anak secara tiba-tiba. Mengapa? Karena Anda melihat ada mobil melaju dengan kencang dari belakang. Dengan menarik dan merangkul anak, Anda menyelamatkan jiwanya. Leadership Anda mendapat justifikasi yang valid.

Tetapi, jika tidak ada mobil kencang, tidak ada ancaman apa pun, maka leadership Anda tidak valid. Leadership Anda salah.

Leader berkewajiban untuk membuktikan justifikasinya sebagai leader; apakah valid. Tanpa justifikasi, kita perlu kembali ke situasi dinamis leaderless menuju leaderness.

(3) Bagaimana bentuk leadership terbaik? Bagaimana mengujinya?

Jawab: Ada beragam bentuk leadership sehingga tersedia beragam cara untuk mengujinya. Karena itu, siklus leadership adalah dinamika abadi tanpa henti. Lengkap dengan beragam dilema. Kita bisa mengembangkan aneka teori dan model leadership yang bersifat univesal. Realitasnya, leadership bersifat partikular konkret sesuai situasi masing-masing. Sehingga justifikasi bentuk leadership terbaik akan melibatkan justifikasi partikular.

4. Apa Perlu Ada Presiden atau Raja?

Tidak perlu. Jawaban singkat: tidak perlu ada presiden; tidak perlu ada raja. Terutama jika makna presiden dan makna raja adalah seperti yang dipahami secara umum. Kita tidak memerlukan presiden atau raja. Andai tetap memerlukan presiden atau raja, maka, kita perlu makna baru tentang presiden dan raja. Demikian juga, tidak perlu gubernur; tidak perlu bupati; tidak perlu direksi. Bukankah akan menjadi anarkis?

Tepat, itu yang perlu kita kaji: anarkisme. Istilah anarkis tampak ngeri dan negatif. Tetapi, makna anarkis seperti itu tidak selalu tepat. Karena anarkis adalah tidak ada leader atau setara dengan situasi leaderless. Kita tahu, situasi leaderless bisa lebih bagus dari leadership yang banyak korupsi.

Munculnya pemimpin, melalui leaderness, perlu justifikasi. Hanya jika leader memberi manfaat terbaik kepada “korban” atau kepada “rakyat” maka leader bisa diterima. Jika tidak memberi manfaat maka leader ditolak dan kembali ke situasi leaderless. Apa lagi, leader korupsi, justru harus dibersihkan.

Pemandu Wisata

Pemimpin adalah pemandu; pemimpin adalah pemberi arah; pemandu wisata atau tour guide adalah contoh peran leader yang baik.

Adi, Budi, dan Cita hendak wisata ke kota Bandung dengan memilih Pak Pandu sebagai pemandu wisata. Pandu adalah pemimpin dalam contoh kita ini. Pandu memberi arahan kepada “rakyat” tentang potensi wisata di Bandung: Cihampelas, Sukajadi, Lembang, Pangalengan, dan lain-lain. Pengetahuan dan pengalaman Pandu menjadi sangat penting untuk mendukung peran sebagai pemimpin. Tujuan Pandu adalah memberikan pengalaman wisata terbaik kepada “rakyat” yaitu Adi, Budi, dan Cita. Tanpa Pandu, tanpa leader, pengalaman wisata terbaik itu sulit dicapai atau bahkan tidak bisa dicapai.

Kedaulatan pemimpin ada pada “rakyat” yaitu pada Adi, Budi, dan Cita. Pandu, sebagai pemimpin, mengajukan alternatif kunjungan pertama antara Sukajadi atau Lembang. Rakyat berdiskusi, termasuk diskusi bersama pemimpin, untuk menetapkan kunjungan pertama. Misal, rakyat sepakat bahwa kunjungan pertama adalah Lembang. Kemudian, Pandu mengarahkan perjalanan menuju Lembang. Kedaulatan ada pada “rakyat” kemudian pemimpin menjalankan kedaulatan “rakyat” untuk “rakyat”.

Situasi lebih menantang karena rakyat kadang sepakat dan kadang tidak sepakat.

[1] Konsensus adalah situasi di mana rakyat sepakat dalam menetapkan suatu keputusan. Selanjutnya, pemimpin mengarahkan seluruh daya untuk menjalankan konsensus tersebut dengan baik.

[2] Dissensus adalah situasi di mana rakyat tidak sepakat; atau rakyat sepakat untuk tidak sepakat. Misal, Adi ingin ke Lembang; Budi dan Cita ingin ke Sukajadi. Selanjutnya, sebagai pemimpin, Pandu menyediakan motor bagi Adi untuk ke Lembang; dan menyediakan mobil bagi Budi dan Cita untuk ke Sukajadi. Situasi dissensus lebih kompleks dari konsensus. Secara umum, kita akan sering menjumpai dissensus.

[3] Giliran adalah tidak tercapai konsensus mau pun dissensus. Hanya tersedia satu mobil saja; Adi ingin ke Lembang; tetapi Budi dan Cita ingin Sukajadi. Pandu, sebagai pemimpin, mengarahkan agar disepakati giliran: mengantar ke Sukajadi lalu ke Lembang atau, dibalik, ke Lembang lalu ke Sukajadi.

Bagaimana pun, akan terus terjadi dinamika konsensus, dissensus, giliran, dan beragam alternatif lainnya. Pemimpin otoriter bisa tergoda untuk memaksakan satu konsensus tertentu agar lebih efisien. Tetapi, kita tahu bahwa demokrasi lebih bernilai tinggi. Jadi, bersiaplah menghadapi dinamika abadi.

Pemimpin Doa

Dalam suatu acara, biasa, kita meminta salah satu orang untuk memimpin doa bersama. Selesai doa, kembali normal, tidak ada lagi pemimpin; leaderless, seperti sebelumnya.

Pemimpin doa adalah contoh pemimpin yang baik. Peran pemimpin adalah situasional; konkret; disesuaikan kebutuhan; bersifat sementara saja. Pemimpin memberi kebaikan kepada rakyat.

Perkembangan sains dan teknologi membuka peluang terbentuknya pemimpin terbaik: [1] pemimpin memberi arahan; dan kedaulatan ada pada rakyat; serta [2] pemimpin bersifat situasional, konkret, dan sementara.

Kita tidak perlu presiden; kita tidak perlu raja; kita tidak perlu pemimpin; kecuali pemimpin terbaik yang memberi kebaikan kepada rakyat seperti pemandu wisata dan pemimpin doa.

5. Sembilan Solusi

Apa yang bisa kita lakukan untuk memilih leader yang memberi manfaat kepada umat, khususnya, manfaat terbesar kepada rakyat, kepada para “korban”? Saya kira 9 ide dari Carne Ross (lahir 1966) patut kita kaji secara mendalam.

(a) Locate your convictions / Temukan Keyakinan Anda

Temukan apa keyakinan Anda yang sangat kuat. Temukan pemimpin terbaik versi Anda, melalui leaderness. Jika leader terbaik itu tidak ada, maka, seberapa yakin Anda kepada situasi leaderless? Temukan situasi leaderless yang paling kuat Anda yakini. Lebih khusus lagi, tetapkan bidang apa yang Anda pilih untuk memberi kontribusi terbaik kepada umat. Bidang ekonomi? Teknologi? Pendidikan? Hukum? Politik? Temukan keyakinan yang sangat kuat sehingga tidak ada apa pun yang bisa menggoyahkan keyakinan Anda. Bahkan, segala yang ada justru menguatkan keyakinan Anda.

Sayangnya, hanya Anda sendiri yang bisa menemukan keyakinan Anda. Maka temukan keyakinan itu. Orang lain, tentu saja, bisa membantu Anda.

Leader bukan hanya orang yang jauh di sana. Diri Anda sendiri adalah seorang leader. Konsekuensinya, Anda harus menjamin untuk memberi manfaat terbaik kepada para “korban” yaitu kepada “rakyat.” Jadi, tetapkan satu bidang atau beberapa bidang yang Anda penuh keyakinan; melalui bidang tersebut Anda akan memberi kontribusi terbaik; Anda bisa saja sebagai leader atau sebagai rakyat atau dalam situasi leaderless.

(b) Who’s got the money, who’s got the gun? / Siapa Pengendali Uang dan Senjata?

Sebelum bertindak, kaji secara mendalam siapa yang menguasai uang dan senjata?

Dengan internet, kita lebih mudah menemukan informasi tersebut – penguasa uang dan senjata. Anda perlu waspada, bahkan hati-hati, kepada mereka. Karena usaha Anda untuk mendukung leader yang baik bisa saja mengganggu aliran uang dan senjata mereka. Lebih dari itu, mereka bisa menyerang siapa saja dengan tangan mereka tetap bersih. Masih ingatkah Anda dengan kasus pembunuhan sang pejuang kemanusiaan almarhum Munir?

Susun strategi Anda dengan baik. Perjalanan Anda masih panjang – terutama jika melihat situasi awal abad 21 ini.

(c) Act as if the means are the end / Cara = Tujuan

Metode adalah tujuan itu sendiri. Cara Anda bertindak adalah tujuan itu sendiri.

Tujuan baik harus dicapai dengan cara yang baik. Tidak dibenarkan menghalalkan segala cara. Tujuan baik tidak boleh diraih dengan cara yang buruk. Karena suatu cara hanya sebuah metode bagi Anda; tetapi, suatu cara itu bisa menjadi tujuan banyak orang.

Lebih rumit lagi: jika ada orang, dengan cara jahat, berhasil melengserkan leader jahat, kemudian, memilih leader baru yang baik, maka, apa yang menjamin leader baru adalah baik? Sebelum berkuasa saja, leader baru menggunakan cara jahat, bagaimana jika sudah berkuasa?

Pastikan Anda punya tujuan baik dan mengejarnya dengan cara yang baik pula.

(d) Refer to the Cosmopolitan Criterion / Kriteria Warga Semesta

Kriteria kosmopolitan adalah kriteria yang bisa diterima oleh seluruh warga semesta. “Menghormati ibu” adalah kosmopolitan. Semua orang akan setuju bahwa “menghormati ibu” adalah baik. “Jangan korupsi” juga termasuk kosmopolitan. Semua orang akan sepakat tentang “jangan korupsi.”

“Naik jabatan” bukan kosmopolitan. “Menambah pendapatan” juga bukan kosmopolitan. Banyak orang yang tidak setuju. Karena, banyak orang bisa menjadi “korban.” Anda perlu justifikasi lebih hati-hati.

Ketika Anda “naik jabatan” misal menjadi direktur maka teman Anda menjadi tidak bisa menjabat direktur. Anda mengalahkan teman dalam kompetisi jabatan. Apakah Anda bisa menjamin hal itu berdampak baik kepada “korban”?

Jumlah uang beredar adalah konstan dalam rentang waktu tertentu yang relatif pendek. “Menambah pendapatan” berkonsekuensi mengurangi pendapatan orang lain. Bisa saja para pembesar sepakat menaikkan pendapatan melalui undang-undang atau lainnya. Bisa saja pemimpin menaikkan gaji pegawai negeri atau swasta semena-mena. Apakah itu baik bagi “korban”? Apakah itu baik bagi rakyat kecil?

Mudah sekali, bagi kita, untuk mengenali kriteria kosmopolitan. Situasi menjadi sulit bila ada pihak menyembunyikan kepentingan tertentu. Lebih sulit lagi bila pihak yang menyembunyikan kepentingan itu adalah diri kita sendiri. Solusinya adalah fokus kepada kebaikan untuk “korban.”

(e) Address those suffering the most / Perhatian Lebih Bagi Korban

Setiap orang, apa lagi pejabat, selalu punya dalih untuk setiap tindakan mereka. Mereka berdalih “menambah pendapatan” adalah agar bisa lebih baik melayani rakyat. “Menambah pendapatan” memang benar terjadi. Tetapi, “melayani rakyat” tidak terjadi.

Urutan berpikir perlu dibalik. Pastikan untuk “melayani rakyat” dengan lebih baik. Meski pun terjadi “menambah pendapatan” atau tidak; bagi pribadi Anda .

Kasus zonasi untuk menentukan sekolah SMP atau SMA merupakan contoh jelas para pemimpin gagal berbuat baik kepada “korban.” Dalih siswa terdekat mendapat sekolah terdekat sehingga hemat biaya serta mencegah polusi berkonsekuensi ribuan siswa sampai jutaan siswa tercabut hak mereka untuk sekolah dengan layak. Jutaan siswa menjadi “korban” zonasi. Pemimpin, dan kita, perlu lebih banyak peduli kepada “korban.”

(f) Consult and negotiate

Musyawarah dan negosiasi tetap menjadi solusi. Dialog adalah jalan keluar. Bahkan dialog adalah solusi itu sendiri. Semua pihak perlu dialog dari hati ke hati.

Dialog menambah kemampuan untuk saling memahami. Barangkali, kita salah sangka. Bisa juga, mereka salah sangka. Dialog bisa untuk klarifikasi. Memang, dialog menuntut sabar bagi semua pihak. Bukankah sabar itu baik?

(g) “Big picture, small deeds.” / Gambaran Besar Tindakan Kecil

Gambaran besar adalah wajib. Kita merencanakan masa depan cemerlang bagi seluruh semesta. Banyak kerikil-kerikil tajam dan tanjakan terjal di perjalanan adalah wajar. Kita tetap semangat menuju masa depan berbekal gambaran besar.

Tindakan kecil sama pentingnya. Sejatinya, semua tindakan kita adalah tindakan kecil. Ukuran badan kita adalah sangat kecil dibanding ukuran bumi, bulan, matahari, dan galaksi bimasakti. Sebaliknya, tindakan besar justru resiko besar. Karena, tindakan besar bisa berakibat buruk kepada banyak “korban.” Ingatkah Anda dengan bom atom yang jatuh di Nagasaki Hirosima pada tahun 1945?

(h) Use nonviolence / Hindari Kekerasan

Jelas: hindari kekerasan. Tujuan kebaikan perlu ditempuh dengan cara kebaikan juga. Kekerasan perlu dihindari. Karena, kekerasan hampir pasti merugikan “korban.” Sementara, tujuan leadership, yang berlandas leaderness, adalah untuk memberi kebaikan kepada “korban.”

Leadership bisa saja mendorong revolusi dalam beragam bentuk. Tetapi, leaderness hanya bisa mendorong revolusi tanpa kekerasan; Diawali dengan revolusi hati nurani.

(i) Kill the King! / Matikan Raja

Tujuan permainan catur adalah jelas: matikan raja lawan. Semua atraksi catur adalah bunga-bunga indah permainan. Gagal atau sukses suatu permainan catur ditentukan oleh “mematikan raja lawan.”

Tujuan utama leaderness adalah membantu “korban.” Ribuan cara adalah hanya metode. Jangan sampai Anda terlalu sibuk dengan metode lalu lupa dengan tujuan untuk membantu “korban.” Semua cara, tentu tanpa kekerasan, diukur efektifitasnya berdasar seberapa besar membantu “korban.”

Siapakah yang dimaksud dengan “korban?” Di jaman digital yang serba terhubung ini, siapa pun Anda pasti pernah menjadi “korban”. Sehingga, kita semua perlu membantu diri kita sendiri untuk menyadari bahwa kita punya misi untuk membantu “korban.” Dan, orang-orang di sekitar kita, mereka juga korban. Kita perlu membantu orang-orang di sekitar kita.

6. Siklus Lengkap Leaderness

Poin utama dari siklus pemimpin adalah proses dinamis leaderness; transisi dari leaderless ke leadership. Hanya fokus kepada leadership resiko memperparah “korban.” Bertahan terlalu lama di situasi leaderless juga resiko kekacauan, chaos. Kita butuh melengkapinya dengan leaderness: memastikan setiap leader memberi kebaikan kepada “korban.”

7. Diskusi Lanjutan

Masih banyak tema yang perlu kita kaji lebih lanjut. Bagaimana bentuk leadership yang bisa selaras dengan leaderness? Saya mengusulkan bentuk minori, yaitu, setiap organisasi berukuran minor atau berukuran kecil. Organisasi terbaik terbatas hanya maksimal 150 orang. Jika terpaksa harus lebih besar maka maksimal 500 orang.

Ketika perlu lebih besar lagi maka mengarah kepada antar-organisasi. Tentu saja relasi antar-organisasi adalah relasi yang lemah sekedar koordinasi, komunikasi, arbitrasi, atau sejenisnya. Karena ukuran negara hampir dipastikan berpenduduk ribuan atau jutaan orang, maka, relasi negara kepada warga seharusnya relasi yang lemah. Dalam arti, negara seharusnya tidak punya kuasa menindas warganya. Atau, seharusnya, negara tidak kuasa menjadikan warga sebagai “korban”-nya. Apakah cita-cita seperti itu bisa diwujudkan? Tentu saja bisa.

Kita sadar bahwa setiap manusia adalah pemimpin. “Ketahuilah setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawabannya atas yang dipimpin.”

Bagaimana menurut Anda?

Metode Praktis: Leadership Soft Skills on Workplace

Leadership berperan penting dalam setiap organisasi. Baik organisasi swasta mau pun pemerintahan, sama-sama, membutuhkan pemimpin yang efektif. Tantangan sosial budaya, termasuk teknologi digital, mempersulit organisasi untuk bertahan. Kabar baiknya, siapa pun Anda bisa menjadi pemimpin yang efektif: mengantarkan organisasi produktif dan tempat kerja penuh makna.

Leader mengokohkan fondasi organisasi: (1) produktif menghasilkan manfaat bagi masyarakat sehingga profit; (2) mampu bertahan, dan berkembang, dalam jangka panjang; setidaknya, organisasi terus bertumbuh dalam 5 tahun ke depan; (3) organisasi bisa diterima masyarakat karena bukan kriminal, bukan kejahatan, dan bukan merugikan siapa saja.

Lebih lanjut, leader bersama seluruh anggota mengantarkan organisasi menjadi unggul: (1) Serasi antara tujuan organisasi dan tujuan masing-masing pribadi; (2) Saling peduli antar setiap anggota dan leader; (3) Organisasi memastikan setiap pribadi makin berkembang secara profesional dan personal.

Masing-masing tugas leadership dan organisasi dijabarkan menjadi 76 strategi praktis “Leadership Soft Skills on Workplace.”

Untuk info lebih lengkap dan kerja sama silakan kontak APIQ Centre di

WA 0818 22 0898

Sukses selalu untuk kita semua,,,!

Galileo Aljabar

Gali Lebih Optimal Angka Aljabar

Setiap anak berbakat matematika. Anak Anda pasti berbakat matematika. Dengan syarat kita mengajarkan matematika dengan tepat, maka anak-anak pasti cinta matematika.

Berikut adalah 3 langkah memanfaatkan buku “Galileo Aljabar” untuk mencerdaskan putra-putri Anda.

(1) Baca langsung buku “Galileo Aljabar” oleh anak Anda atau didampingi orang tua. Buku ini bisa langsung dicoret-coret atau dituliskan jawabannya.

(2) Bantu dengan menghitung bola. Misal angka 2, terdapat 2 bola di pojok-pojoknya. Jadi, anak akan paham maksud 2 adalah ada 2 bola. Demikian juga ketika 2 + 1 = 3 terdapat bola-bola pada setiap pojoknya yang bersesuaian.

(3) Utamakan pemahaman anak. Halus dan rapinya tulisan anak adalah tugas berikutnya bisa di waktu yang berbeda. Bergembiralah dengan mengutamakan pemahaman anak.

Semoga buku “Galileo Aljabar” ini bermanfaat dan membantu anak-anak lebih mudah memahami matematika. Meski setiap anak berbakat dalam matematika tetapi derajat bakat masing-masing anak bisa berbeda-beda. Sehingga, kita perlu untuk selalu memberi apresiasi kepada anak-anak yang bersedia belajar matematika.

Pengguna

Pembaca buku “Galileo Aljabar” adalah siswa, guru, dan orang tua.

(1) Pembaca utama adalah siswa TK dan usia dini. Siswa TK, atau yang lebih muda, bisa membaca langsung melalui gambar-gambar yang ada pada buku. Kemudian, siswa mengikuti petunjuk untuk menghubungkan garis-garis putus membentuk angka. Di setiap pojok angka, tersedia gambar bola kecil. Sehingga, siswa TK menjadi paham maksud angka 1, 2, dan seterusnya.

(2) Siswa SD kelas 1 sangat bagus menggunakan buku “Galileo Aljabar” ini. Untuk siswa SD kelas 2 dan yang lebih tinggi, buku “Galileo Aljabar” akan membantu menguatkan pemahaman konsep berhitung matematika.

(3) Guru dan orang tua siswa bisa memanfaatkan buku “Galjabar” sebagai bahan ajar matematika yang kreatif dan menyenangkan.

Nama Galileo Aljabar

Aljabar (780 – 850) adalah tokoh matematika yang menemukan bidang kajian aljabar. Dengan aljabar, kita bisa mengembangkan teori matematika tingkat tinggi memanfaatkan variabel x dan y misalnya. Sehingga, teori matematika makin berkembang pesat.

Aljabar adalah tokoh pertama yang mengembangkan penggunaan angka 0 setelah angka 9 sehingga membentuk angka 10. Bandingkan dengan angka Romawi 10 = X; 100 = C; dan 1000 = M. Angka Romawi akan membutuhkan banyak huruf-huruf untuk angka-angka yang berbeda. Sedangkan Aljabar mengembangkan Angka Arab cukup memanfaatkan angka 0.

Kontribusi Aljabar berikutnya adalah memudahkan berhitung cepat misal 21 + 63. Bandingkan dengan angka Romawi XXI + LXIII. Perbandingan lebih tajam untuk perkalian 42 x 3 dengan XLII x III.

Galileo (1564 – 1562) adalah tokoh matematika yang menerapkan matematika untuk sains. Dengan landasan matematika termasuk alajabar, sains berkembang makin kokoh sampai mendorong kemajuan teknologi di jaman digital ini.

Judul buku “Galileo Aljabar” bisa kita singkat menjadi “Galjabar.”

Informasi lebih lengkap tentang program APIQ dan buku “Galileo Aljabar” silakan kontak kami di,

WA 0818 22 0898
http://www.pamanAPIQ.com

Salam hangat,,,

Innovative Leadership for Future

Inovasi adalah pasti. Setiap organisasi perlu inovasi. Negara perlu inovasi. Setiap individu, diri kita secara personal, juga perlu inovasi. Hanya inovasi yang menjamin organisasi tetap memiliki eksistensi. Tanpa inovasi, cepat atau lambat, organisasi akan mati.

“Innovative Leadeship for Future” adalah program yang membekali Anda dan organisasi untuk mampu terus-menerus berinovasi. Baik inovasi berupa kreativitas masing-masing individu mau pun inovasi sebagai budaya organisasi.

Kami menawarkan kerja sama untuk menyelenggarakan program “Innovative Leadership” di lembaga Anda. Silakan kontak:

WA 0818 22 0898

Info lebih lengkap silakan merujuk ke file pdf berikut. Sukses selalu untuk kita semua!

Galileo Matematika Merdeka

Merdeka. Bebas merdeka. Kita sudah bebas merdeka. Tetapi, apakah anak-anak sudah merdeka dari matematika? Apakah guru-guru sudah merdeka dari matematika? Apakah orang dewasa merdeka matematika?

Seharusnya, matematika membantu kita untuk menjadi merdeka. Matematika menyediakan formula bagi kita untuk menjelajah seluruh semesta. Jadi, kita butuh matematika untuk menjadi lebih merdeka.

“Galileo: Gali Lebih Optimal” adalah program belajar matematika tingkat dasar. Galileo membantu siswa mengenal angka, berhitung cepat, dan menguasai matematika kreatif.

Galileo berupa buku cetak, pelatihan, dan media digital.

1. Galileo Fondasi

Galileo fondasi berupa buku matematika kreatif untuk tingkat paling dasar. Anak-anak SD dan TK mampu mengenali angka 1, 2, 3, dan seterusnya. Lebih dari itu, Galileo membantu anak-anak mengenali makna 2 adalah dua dan makna 3 adalah tiga. Jadi, anak SD hafal angka plus makna.

Dengan memahami makna angka, anak SD menjadi paham “3 + 2 = 5,” bukan hanya hafal. Anak-anak memahami seperti 3 bola ditambah 2 bola menjadi 5 bola.

2. Galileo Mastery

Galileo mastery membahas matematika kreatif SD untuk kelas 3, 4, 5, dan 6. Termasuk mastery adalah berhitung cepat perkalian, berhitung cepat pembagian, berhitung cepat kuadrat dan akar, berhitung cepat FPB KPK, dan lain-lain.

3. Pelatihan dan Buku

Anda bisa memperoleh program Galileo dalam bentuk buku cetak, pelatihan tatap muka, atau media digital.

Sukses selalu untuk kita semua,,,!

Leader for Future

Kita adalah pemimpin. Anda adalah pemimpin. Setiap dari kita adalah pemimpin. Kita bertanggung jawab terhadap kepemimpinan secara luas: pemimpin diri, pemimpin keluarga, pemimpin rumah tangga, pemimpin sosial, pemimpin kantor, pemimpin bisnis, pemimpin politik, dan lain-lain.

Sayangnya, banyak orang gagal menjadi pemimpin. Hanya sedikit orang yang sukses jadi pemimpin. Lebih parah lagi, mereka yang gagal, bukan karena mereka gagal menjalankan tugas sebagai pemimpin, tetapi karena mereka tidak pernah mencoba jadi pemimpin. Padahal, selalu ada kesempatan bagi kita untuk menjadi pemimpin yang sukses. Memang, sejatinya, tugas setiap manusia adalah untuk menjadi pemimpin. Tepatnya, menjadi pemimpin masa depan.

Apakah Anda sudah siap menjadi pemimpin masa depan?

Kami menawarkan peluang kerja sama menyelenggarakan seminar “Leader for Future” di lokasi Anda.

Garis besar silabus materi utama “Leader for Future” adalah:

1. Pendahuluan: Menjadi Pemimpin Masa Depan Bermakna

2. Logika Pemimpin Masa Depan: Profesional dan Personal

3. Tantangan Kepimpinan: Teknologi dan Makna Manusia

4. Menyikapi Tugas Utama Pemimpin: Berpikir sebagai Warga Semesta

5. Penutup: Merangkul Semesta

Lebih lengkap silakan file pdf berikut.

Kenali Waktu

Bagian 1: Kenali Waktu
1.1 Lahir sampai Mati
1.2 Dinamika Waktu
1.3 Waktu Abadi

Mengenali waktu adalah tugas yang mudah karena setiap saat kita hidup bersama waktu. Tetapi, mengungkapkan apa itu waktu adalah tugas yang sangat sulit. Demikian juga, mengenali detil-detil dari waktu, sama sulitnya. Pada bagian ini, kita akan mengenali waktu dari perspektif yang mudah kemudian berusaha memanfaatkannya dengan baik.

1.1 Lahir sampai Mati

Kita, secara intuisi langsung, mengenali bahwa waktu kita di dunia adalah terbatas sejak lahir sampai mati. Tidak kurang, tidak lebih. Apa saja yang Anda kerjakan selama hidup di dunia itu? Apakah menjadikan Anda beruntung? Atau, menjadi rugi?

(a) Orang rugi. Saya tidak percaya bahwa waktu cepat berlalu. Ketika saya remaja, usia belasan atau 20an tahun, saya merasa bebas mau melakukan apa saja. Tersedia waktu yang begitu longgar. Mau melakukan apa saja, saya ada waktu. Mau main-main bisa. Mau jalan-jalan bisa. Mau sekedar nongkrong dengan teman-teman di pinggir jalan juga bisa. Berapa usia Anda?

Ketika usia saya 50 tahunan atau menuju 60 tahun, semua menjadi beda. Waktu terasa cepat berlalu. Rasanya, baru kemarin hari Senin, kok sudah mau Senin lagi? Pandemi, rasanya, baru beberapa bulan yang lalu, nyatanya, sudah 4 tahun berlalu, 2019-2023. Makin tua usia Anda, makin terasa waktu cepat berlalu. Sementara, anak muda merasa waktu selalu tersedia.

Orang rugi adalah orang yang membiarkan waktu berlalu begitu saja. Tiba-tiba, dia sudah tua. Lalu, meninggal begitu saja.

Lebih rugi lagi bila dia mati dalam situasi dosa. Mungkin dia sedang dalam rencana dan proses untuk korupsi lalu mati. Sungguh rugi. Bahkan, bisa saja, ketika masa hidup puluhan tahun dia jadi orang biasa atau orang baik. Ketika tua entah karena apa lalu frustasi. Kemudian mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sangat rugi. Semoga kita terhindar dari yang seperti ini.

(b) Orang beruntung. Ketika muda, dia biasa-biasa saja atau kadang foya-foya. Menikmati hidup, mencicipi dunia, kadang berdosa. Ketika tua, dia hidup bersama anak dan cucunya. Anak-anaknya sudah bekerja dengan mapan. Sehingga, anak-anak bisa membantu menopang kehidupan. Dia yang makin tua sadar hidupnya tak akan lama. Dia memutuskan untuk tobat. Dia menempuh jalan tobat, sempat beberapa saat. Lalu, meninggal dunia dengan tenang ketika dalam ibadat. Masuk surga.

Mudah banget untuk menjadi orang beruntung? Hanya perlu tobat ketika wafat? Tidak mudah. Contoh di atas, memang kebetulan, dia sedang beruntung. Tetapi, banyak kejadian tidak seperti itu. Ajal kematian bisa datang sewaktu-waktu. Ketika foya-foya dalam dosa ajal tiba. Kasihan, dia terjerumus dalam neraka. Setiap saat, kita perlu waspada.

(c) Orang wajar. Kadang kita berbuat baik. Kadang kita berdosa. Lalu, kita bertobat untuk memperbaiki segala yang ada. Memang begitulah kehidupan orang sewajarnya. Hati-hati, ajal bisa datang tiba-tiba.

Untuk menjadi orang beruntung, demi waktu, kita perlu berjuang. Tidak cukup mengandalkan keajaiban. Kita perlu waspada agar tidak terpeleset dalam dosa. Kita perlu menetapkan cita-cita akhir hayat yang mulia, husnul khatimah, akhiran baik. Kemudian, penuh komitmen, mengejar cita-cita akhiran baik di setiap langkah hidup kita.

Tiga syarat bagi kita untuk menjadi beruntung. Isilah waktu sepanjang hayat kita dengan tiga syarat ini, maka, menjadi orang yang beruntung.

(1) Memiliki keyakinan kuat dan komitmen tinggi. Keyakinan yang kuat kepada Tuhan dan kebenaran abadi. Setiap kebaikan berbalas kebaikan. Setiap keburukan mendapat balasan setimpal. Kebenaran abadi ini terjaga, tetap berlaku, dari masa lalu sampai masa depan nanti.

Tetangga saya, sebut saja Bu Yati, adalah penjual nasi pecel tiap pagi. Dalam satu hari, Bu Yati menjual nasi sekitar 100 porsi. Tidak mahal, bahkan terhitung murah. Berapa untungnya tiap hari? “Lumayan, cukup untuk numpang makan hari ini,” jawab Bu Yati. Bu Yati berbuat baik dengan menyediakan sarapan untuk masyarakat sekitar berupa nasi pecel murah. Bu Yati mendapat balasan kebaikan berupa bisa ikut makan hari itu dan rasa bahagia hidup bersama tetangga.

Suatu ketika, orang kota datang. Dia sangat suka dengan nasi pecel Bu Yati. Esok hari, orang kota itu datang lagi. Dia hendak memborong seluruh nasi pecel 100 porsi. Bu Yati menolak pembelian itu. Orang kota menawarkan dengan harga dua kali lipat. Bu Yati tetap menolak. Karena, tujuan Bu Yati adalah menyediakan sarapan sehat dan murah untuk masyarakat sekitar dan, barangkali, untuk orang yang kebetulan sedang melintas. Jika semua diborong maka bagaimana masyarakat sekitar akan sarapan pagi itu? Bu Yati adalah orang baik; tidak tergoda oleh keuntungan uang yang lebih besar. Dia orang baik di dunia ini dan, kebaikannya, abadi sampai di kehidupan nanti.

Sebaliknya, orang jahat, koruptor si pencuri licik mendapat balasan setimpal. Koruptor memang bisa tertawa terbahak-bahak di dunia ini. Tetapi, serangan jantung dan beragam ancaman penyakit bersarang di badannya. Ditambah ancaman kurungan penjara selalu ada. Keluarganya terpecah belah saling bertengkar. Di kehidupan nanti, koruptor menghadapi api neraka yang menyala membara.

Godaan selalu datang. Kita perlu komitmen tinggi di jalan kebaikan dan kebenaran abadi. Komitmen ini kita buktikan berupa suatu kerja dan karya nyata.

(2) Bekerja, berkarya, dan mengejar maha karya. Hidup manusia memang untuk bekerja. Apa artinya jadi manusia bila tanpa kerja?

Ikan tercipta untuk berenang. Burung tercipta untuk terbang. Apa jadinya bila ikan tidak boleh berenang? Apa jadinya burung tidak boleh terbang? Hanya terkurung dalam sangkar. Meski sangkar emas, tetap saja, menjadi siksa.

Manusia bekerja adalah amal sholeh, yaitu, memberi kebaikan kepada sesama dan alam sekitarnya. Setiap orang pasti bisa bekerja; pasti bisa memberi kebaikan. Penjual nasi sarapan adalah bekerja. Tukang kayu adalah bekerja. Pegawai adalah bekerja. Pejabat adalah bekerja. Pengusaha adalah bekerja. Mereka semua memberi kebaikan. Apa kerja Anda? Apa kebaikan yang Anda bagikan?

Selanjutnya, bekerja perlu diiringi dengan sentuhan hati maka menghasilkan karya; sebuah pekerjaan yang unik oleh Anda. Kerja dan karya adalah kebaikan abadi yang tetap terjaga sampai hidup dunia nanti. Tukang membuat kursi dari bahan kayu adalah kebaikan. Kemudian, kursi itu dimanfaatkan untuk duduk siswa belajar matematika. Kebaikan tukang berlanjut kebaikan oleh siswa. Kebaikan ini terjadi di dunia ini dan abadi sampai dunia nanti. Kebaikan tukang dalam membuat kursi menjadi kebaikan di surga nanti. Begitu juga, semua kebaikan Anda di dunia ini adalah abadi menjadi kebaikan di surga nanti.

Dari kerja dan karya, Anda bisa berlanjut dengan mempersembahkan maha karya.

(3) Bersedia berbagi, menerima dan memberi, tentang (a) kebenaran dan (b) kesabaran.

Berbagi kebenaran adalah kebaikan itu sendiri. Kita bisa berbagi melalui media digital. Sayangnya, media sosial justru sering digunakan untuk berbagi hoax atau fitnah. Demi waktu, hoax adalah merugikan. Ditambah lagi, AI juga ikut-ikutan memproduksi hoax.

Di tahun politik jelang pemilu 2024, seperti saat ini, produksi hoax makin gencar. Masing-masing pihak membuat citra diri sebagai orang baik sambil menyebarkan fitnah kepada orang lain. Bisa secara langsung atau memanfaatkan buzzer. Bahaya hoax, yang ditopang AI, bisa lebih berbahaya dari bom atom yang pernah menghancurkan Hirosima dan Nagasaki. Masalahnya, banyak orang ingin mendengar berita bohong dari pada berita benar.

Dunia kita saat ini, termasuk dunia digital, terlalu banyak bullshit, omong kosong, idle-talk, atau gombal. Urutan besar bahayanya: (a) bom atom sangat bahaya karena sudah membunuh ratusan ribu jiwa dan melukai jutaan orang lainnya melalui radiasinya; (b) hoax digital, yang didukung AI, lebih bahaya dari bom atom; ratusan juta orang, bahkan milyaran orang teracuni hoax digital; (c) Gombal, misal bullshit dan omong kosong politik, lebih bahaya lagi dari hoax digital. Gombal adalah racun yang bikin candu dan, di saat yang sama, korban tanpa sadar menularkan racun ke seluruh penjuru.

Gombal politik lebih bahaya dari hoax karena hoax tahu bahwa dirinya salah. Sementara, gombal tidak peduli benar atau salah. Gombal hanya peduli dengan gombal dan nafsu politik belaka. Tentu, gombal ekonomi, gombal pendidikan, dan gombal-gombal lainnya sama bahayanya.

Jadi, syarat ketiga untuk menjadi orang beruntung, yaitu berbagi (a) kebenaran dan (b) kesabaran, adalah syarat yang berat. Di sini, kita memerlukan keduanya. Tidak cukup hanya kebenaran. Tetapi, harus lengkap dengan kesabaran. Kebenaran sudah jelas menjadi poin penting. Tanpa kesabaran, nilai penting dari kebenaran bisa luntur. Kita akan membahas lebih lengkap tema ini di bagian bawah. Bagaimana pun, kita perlu sadar bahwa waktu kita terbatas. Kita paling hanya 70an tahun hidup di bumi. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung.

1.2 Dinamika Waktu

Waktu terus bergerak tanpa henti. Diri kita ikut terbawa bergerak juga tanpa henti. Bahkan, ketika mati, kita masih terus melanjutkan perjalanan jauh yang abadi.

Dinamika waktu tampak dalam beragam kesadaran kita.

(a) Waktu bergerak dinamis dari masa lalu ke masa kini, lanjut, ke masa depan. Kita belajar dari pengalaman masa lalu melalui sejarah, cerita, atau refleksi. Kita belajar tentang masa depan dari proyeksi masa depan dan rencana-rencana, prediksi, atau cerita fiksi. Sementara itu, masa kini terus bergerak maju menjauh dari masa lalu. Dan, masa depan, satu demi satu, menjadi masa kini kemudian berlalu.

(b) Pengamatan lebih mendalam menyadarkan kita bahwa masa kini yang nyata. Masa lalu sudah berlalu hanya tinggal kenangan. Masa depan tak kunjung datang. Andai datang, dia berubah menjadi masa kini. Jadi, dinamika waktu adalah masa kini yang terus bergulir.

(c) Pengamatan lebih mendalam lagi, justru, memunculkan pertanyaan apakah waktu benar-benar ada? Atau hanya pikiran manusia semata? Sambil memikirkan jawaban yang mungkin benar, waktu terus bergulir bersama diri kita. Kita akan membahas khusus di bagian bawah untuk pertanyaan ini.

Semua waktu adalah sama-sama berharga. Tetapi mana yang paling utama: masa lalu, masa kini, atau masa depan? Umumnya, orang akan membuat prioritas: (1) maka kini; (2) masa depan; (3) masa lalu.

(1) Masa kini utama. Orang yang mengutamakan masa kini berpeluang besar untuk hidup bahagia; menikmati hidup momen demi momen; kita nikmati yang ada; the power of now; presentisme.

Kita bisa hidup mengalir bagai air. Bening, tenang, akhirnya sampai tujuan. Hidup di hari ini. Orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Pengalaman masa lalu menjadi penuh hikmah ketika direnungkan hari ini. Bahkan, pengalaman pahit masa lalu, pengalaman berat hidup di masa lalu, tetap menjadi kenangan indah di hari ini. Cita-cita masa depan bisa kita uraikan menjadi bertahap hingga jelas apa yang perlu dilakukan di masa kini. Remaja yang cita-cita ingin jadi dokter, maka, masa kini perlu belajar dengan baik di bangku SMA.

Hidup memang indah dengan fokus masa kini. Tampaknya, tidak banyak orang yang berhasil mengutamakan masa kini. Sebagian orang dihantui masa lalu dan gelisah tentang masa depan. Kita perlu berlatih disiplin untuk bisa mengutamakan masa kini.

(2) Masa depan utama. Mengutamakan masa depan adalah baik; logika futurisitik; antisipatif. “Sungguh masa depan itu lebih baik bagimu dari masa lalu.” “Sebaiknya, kamu memperhatikan apa yang sudah kamu lakukan untuk masa depan.” “Menyongsong masa depan cemerlang.”

Kita mudah paham bahwa masa depan adalah paling utama. Demi menggapai cita-cita masa depan bahagia, kita rela berkorban apa saja. Demi mendapat nilai bagus ketika ujian nanti, kita rela rajin belajar hari ini. Demi menyelesaikan proyek dua bulan lagi, kita perlu disiplin kerja hari ini. Demi masa depan maka semua perkerjaan hari ini menjadi punya arti.

Resiko dari mengutamakan masa depan adalah orang bisa terlalu tegang pikirannya sehingga dia lupa untuk bahagia. Setiap hari, dia banting tulang penuh derita berkorban demi masa depan yang belum tentu akan datang. Resiko ini mudah kita atasi. Yaitu, menempatkan masa depan sebagai rujukan makna yang memberi arti bagi setiap langkah hari ini. Bila hari ini terasa berat maka itu penuh arti demi kemajuan cita-cita hari nanti. Bagaimana pun, hari ini perlu kita nikmati karena kita butuh bahagia dalam menyongsong masa depan.

Masa depan membuka posibilitas luas, freedom yang membebaskan, dan menuntut komitmen kepada semua pihak.

(3) Masa lalu utama. Jarang sekali orang yang mengutamakan masa lalu. Tetapi, dalam realitas sehari-hari, justru banyak yang mengutamakan masa lalu. Memang masa lalu hanya perlu disikapi dengan tepat tetapi tidak harus diutamakan. Sikap yang tepat adalah bersyukur atas semua karunia dan bersabar atas semua musibah. Dari semua pengalaman masa lalu, termasuk dari sejarah panjang, kita perlu mengambil hikmah.

Dalam realitas, masa lalu sering menjadi paling utama. Tentu saja, hal ini kurang baik. Banyak masalah timbul sebagai dampaknya.

Karena dia terlahir sebagai bangsawan, di masa lalu, maka dia punya hak istimewa. Karena dia terlahir dari keluarga kaya, tentu di masa lalu, maka dia berhak mewarisi rumah tanah super luas meski tanpa kerja. Karena dia terlahir dari keluarga miskin maka tidak berhak mendapat warisan apa pun. Bagaimana masa lalu bisa berpengaruh begitu besar?

Karena orang tuanya beli rumah yang nempel, dekat banget, dengan SMA favorit 3 tahun lalu, maka, dia langsung bisa sekolah di SMA favorit tanpa tes cukup dengan zonasi. Karena orang tuanya tinggal di pinggiran kota atau di kaki gunung, maka, dia tidak berhak sekolah di SMA favorit melalui jalur zonasi dan radiusi. Akibatnya, dia tidak bisa kuliah di universitas idaman. Masa depannya suram karena ditentukan oleh masa lalu. Bagaimana bisa begitu?

Karena sejak bertahun-tahun lalu, dia adalah buruh kasar, maka, gajinya tidak boleh besar. Cukup upah minimum sekitar 2 juta rupiah per bulan. Sekeras atau secerdas apa pun dia bekerja tidak ada pengaruhnya. Karena dia, sejak beberapa tahun lalu, adalah direktur, maka tunjangan gajinya harus lebih dari 100 juta rupiah per bulan. Tidak masalah dia jarang masuk kantor. Tidak masalah perusahaan sedang tekor. Tidak masalah rakyat kecil gigit jari. Direktur tetap bergaji tinggi. Apa yang salah? Salahnya adalah terlalu mengutamakan kekuatan masa lalu. Apa solusinya?

Solusinya adalah kita hanya bisa memilih (1) masa kini atau (2) masa depan sebagai paling utama. Sedangkan, masa lalu hanya perlu disikapi dengan baik yaitu dengan syukur dan sabar.

Kita perlu tetap fokus kepada tiga syarat utama untuk menjadi manusia beruntung dalam menyikapi dinamika waktu.

(1) Keyakinan yang kuat terhadap kebenaran abadi: utamakan masa kini dan masa depan; ambil hikmah masa lalu. Jangan tergoda untuk mengutamakan masa lalu; jebakan yang merugikan; jaga komitmen untuk kebaikan abadi.

(2) Bekerja dan berkarya untuk prestasi hari ini dan hari nanti. Jangan hanya membanggakan masa lalu. Bersiaplah memeras keringat dan otak demi kemajuan masa kini dan masa depan.

(3) Saling berbagi (a) kebenaran cita-cita masa depan bersama dan karya nyata hari ini. Dan saling mengingatkan (b) kesabaran dalam perjalanan menuju masa depan dan mengambil hikmah masa lalu.

Sampai kapan waktu terus bergerak dinamis? Di depan masa depan ada masa depan lagi. Di belakang masa lalu ada masa lalu lagi. Jadi, kita tidak akan pernah berhenti meniti waktu. Memang, waktu kita di bumi ini terbatas dari lahir sampai mati. Setelah itu, kita akan menghadapi dunia abadi.

1.3 Waktu Abadi

“Cintaku padamu abadi, tak lekang oleh waktu.” Cinta abadi adalah cinta yang bertahan, tetap suci, sampai mati. Jadi, makna abadi adalah tetap bertahan sampai mati. Makna abadi yang lebih umum adalah bertahan dalam waktu yang lama, misal satu abad yaitu 100 tahun. Anggap harapan hidup adalah 70 tahun maka 100 tahun memang lebih dari seumur hidup sehingga abadi.

Lebih jauh lagi, abadi juga bermakna berada di luar waktu hidup di dunia ini. Orang yang sudah mati disebut kembali ke alam abadi. Bayi yang belum lahir dianggap masih berada di alam abadi. Dengan demikian, manusia berasal dari alam abadi kemudian kembali ke alam abadi lagi. Sangkan paraning dumadi.

(1) Abadi adalah eternalisme. Waktu sudah ditetapkan abadi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seluruh masa adalah nyata. Ketika bayi lahir, sudah ditetapkan misal umurnya adalah sampai 70 tahun. Tepat. Tidak kurang, tidak lebih. Ketetapan ini bersifat abadi.

Pandangan eternalisme ini beragam konsekuensi. Pertama, karena segala sesuatu sudah ditetapkan sejak awal, secara abadi, maka kita tinggal menjalani hidup ini dengan baik. Cukup berusaha dengan wajar, tidak perlu terlalu memaksa. Cukup berbuat baik saja, tidak perlu sampai jahat. Cukup damai bahagia saja, tidak perlu marah-marah. Semua sudah diatur dengan baik.

Kedua, eternalisme berkonsekuensi kepada fatalisme. Buat apa berusaha? Toh, semua sudah dipastikan secara abadi. Fatalisme ini, harusnya, bisa diatasi. Karena, seseorang akan berusaha atau tidak berusaha, toh, itulah yang menjadi ketetapan baginya. Lebih baik, berusaha selayaknya.

(2) Abadi Dinamis. Waktu adalah abadi dalam dinamika. Atau, dinamika yang abadi. Abadi dalam arti di depan masa depan masih ada masa depan lagi. Kita mudah memahami ini. Ketika kakek meninggal, maka ada bapak. Kemudian, ketika bapak meninggal, ada diri kita. Selanjutnya, ada anak cucu dan seterusnya.

Arah sebaliknya, yaitu masa lalu, sama dinamisnya. Di belakang masa lalu masih ada masa lalu lagi. Jadi, waktu bergerak terus-menerus dalam dua arah tanpa henti. Masa depan dan masa lalu.

Secara pribadi, setelah kita mati, jiwa kita masih terus hidup di alam kubur dan alam akhirat yang abadi. Waktu di dunia nanti, dunia setelah mati, adalah abadi berbeda dengan waktu di sini. Ketika Anda “memberi makan anak yatim” di dunia ini, anak yatim itu bahagia dan Anda ikut bahagia. Sebulan berlalu, Anda bisa saja lupa peristiwa itu. Di dunia nanti, “memberi makan anak yatim” adalah kebahagian sejati bagi Anda berupa kehidupan surga. Kebahagiaan di surga adalah abadi berbulan-bulan bahkan lebih berabad-abad. Sejatinya, kebaikan “memberi makan anak yatim” sudah menjadi surga sejak awal yang abadi. Hanya saja, di dunia ini banyak penghalang material sehingga kita sulit melihat langsung.

Perilaku jahat lebih mengerikan lagi. Koruptor pencuri yang mencuri uang rakyat itu sedang menciptakan api neraka abadi buat dirinya sendiri. Koruptor terbakar panas di dunia ini dan dunia nanti. Semoga bisa tobat dengan mengembalikan seluruh uang rakyat dan melakukan penebusan.

(3) Persegi Dinamis. Waktu eternal adalah terbentang, misal umur Aji adalah dari lahir sampai 70 tahun. Jika bentangan 70 tahun ini ditumpuk sebanyak 70 batang maka membentuk gambar persegi sempurna. Persegi dinamis adalah modifikasi dari persegi sempurna ini.

Aji lahir maka terbentang umur sampai 70 tahun. Ketika umur 10 tahun, Aji jatuh dari motor. Momen ini menghirup bentangan 70 tahun umur Aji menjadi 1 titik momen, kemudian, Aji menghembuskan menjadi bentangan 10 tahun masa lalu + 50 tahun masa depan. Jadi, umur Aji berubah hanya sampai 60 tahun. Pada umur 20 tahun, Aji menjalani pola hidup sehat. Momen ini menghirup bentangan umur Aji yang 60 tahun menjadi 1 titik momen, kemudian, menghembuskan menjadi bentangan 20 tahun masa lalu + 55 tahun masa depan. Jadi, umur Aji bertambah sampai 75 tahun. Demikian seterusnya membentuk persegi dinamis.

Waktu abadi dalam bentuk persegi dinamis berkonsekuensi banyak hal. (a) Setiap momen kehidupan adalah berperan aktif menentukan nasib masa depan Anda dan makna masa lalu Anda. (b) Peran dari setiap momen ini bersifat abadi sampai akhir hayat Anda. Setiap keputusan Anda berdampak kepada seluruh hidup Anda dan berdampak kepada masyarakat. (c) Dampak abadi berlanjut sampai ke dunia nanti, yaitu, ke dunia setelah mati.

Kita bisa kembali fokus kepada tiga syarat untuk menjadi manusia beruntung. Demi waktu yang abadi, kita perlu berjuang untuk menjadi manusia yang beruntung.

(1) Keyakinan kuat bahwa setiap momen waktu adalah kebenaran abadi. Kebaikan Anda kepada anak yatim adalah kebaikan yang abadi sampai akhir nanti; menjadi surga abadi di sini dan di sana.

(2) Kerja dan karya kita berdampak abadi. Semua kerja kita mendapat dukungan dari sejarah masa lalu yang abadi. Kemudian, kerja baik kita berdampak abadi kepada generasi nanti dan kepada hidup diri kita pribadi setelah mati.

(3) Kita perlu konsisten untuk berbagi dan saling menasehati berkenaan (a) kebenaran abadi dan (b) kesabaran abadi.

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Lanjut ke: Manfaat Waktu
Kembali ke: Demi Waktu

Demi Waktu

Misteri Keberuntungan Manusia

Waktu pasti berlalu. Sebagian orang beruntung. Sebagian yang lain merugi. Waktu menjadi saksi. Anda termasuk beruntung atau merugi?

Anda termasuk yang beruntung. Bila memenuhi beberapa syarat. Banyak orang terpeleset menjadi merugi. Tiga syarat bagi Anda untuk menjadi beruntung.

(1) Memiliki keyakinan kuat dan komitmen tinggi.

(2) Bekerja, berkarya, dan mengejar maha karya.

(3) Bersedia berbagi, menerima dan memberi, tentang (a) kebenaran dan (b) kesabaran.

Anda yang memenuhi tiga syarat di atas pasti beruntung. Sementara, mereka yang gagal memenuhi syarat, sayang sekali, menjadi jatuh rugi. Bagaimana cara memenuhi tiga syarat tersebut? Kenali waktu, manfaatkan waktu, dan bersahabat dengan waktu.

Bagian 1: Kenali Waktu
1.1 Lahir sampai Mati
1.2 Dinamika Waktu
1.3 Waktu Abadi

Bagian 2: Manfaat Waktu
2.1 Daya Masa Depan
2.2 Hikmah Masa Lalu
2.3 Modifikasi Masa Kini

Bagian 3: Sahabat Waktu
3.1 Membentuk Karakter
3.2 Teladan Karakter
3.3 Merangkul Waktu

Kita akan membahas tema waktu secara bertahap dengan pendekatan praktis. Sehingga, lebih mudah dipahami untuk kemudian implementasi. Selamat menapaki waktu.