Leader for Future

Kita adalah pemimpin. Anda adalah pemimpin. Setiap dari kita adalah pemimpin. Kita bertanggung jawab terhadap kepemimpinan secara luas: pemimpin diri, pemimpin keluarga, pemimpin rumah tangga, pemimpin sosial, pemimpin kantor, pemimpin bisnis, pemimpin politik, dan lain-lain.

Sayangnya, banyak orang gagal menjadi pemimpin. Hanya sedikit orang yang sukses jadi pemimpin. Lebih parah lagi, mereka yang gagal, bukan karena mereka gagal menjalankan tugas sebagai pemimpin, tetapi karena mereka tidak pernah mencoba jadi pemimpin. Padahal, selalu ada kesempatan bagi kita untuk menjadi pemimpin yang sukses. Memang, sejatinya, tugas setiap manusia adalah untuk menjadi pemimpin. Tepatnya, menjadi pemimpin masa depan.

Apakah Anda sudah siap menjadi pemimpin masa depan?

Kami menawarkan peluang kerja sama menyelenggarakan seminar “Leader for Future” di lokasi Anda.

Garis besar silabus materi utama “Leader for Future” adalah:

1. Pendahuluan: Menjadi Pemimpin Masa Depan Bermakna

2. Logika Pemimpin Masa Depan: Profesional dan Personal

3. Tantangan Kepimpinan: Teknologi dan Makna Manusia

4. Menyikapi Tugas Utama Pemimpin: Berpikir sebagai Warga Semesta

5. Penutup: Merangkul Semesta

Lebih lengkap silakan file pdf berikut.

Kenali Waktu

Bagian 1: Kenali Waktu
1.1 Lahir sampai Mati
1.2 Dinamika Waktu
1.3 Waktu Abadi

Mengenali waktu adalah tugas yang mudah karena setiap saat kita hidup bersama waktu. Tetapi, mengungkapkan apa itu waktu adalah tugas yang sangat sulit. Demikian juga, mengenali detil-detil dari waktu, sama sulitnya. Pada bagian ini, kita akan mengenali waktu dari perspektif yang mudah kemudian berusaha memanfaatkannya dengan baik.

1.1 Lahir sampai Mati

Kita, secara intuisi langsung, mengenali bahwa waktu kita di dunia adalah terbatas sejak lahir sampai mati. Tidak kurang, tidak lebih. Apa saja yang Anda kerjakan selama hidup di dunia itu? Apakah menjadikan Anda beruntung? Atau, menjadi rugi?

(a) Orang rugi. Saya tidak percaya bahwa waktu cepat berlalu. Ketika saya remaja, usia belasan atau 20an tahun, saya merasa bebas mau melakukan apa saja. Tersedia waktu yang begitu longgar. Mau melakukan apa saja, saya ada waktu. Mau main-main bisa. Mau jalan-jalan bisa. Mau sekedar nongkrong dengan teman-teman di pinggir jalan juga bisa. Berapa usia Anda?

Ketika usia saya 50 tahunan atau menuju 60 tahun, semua menjadi beda. Waktu terasa cepat berlalu. Rasanya, baru kemarin hari Senin, kok sudah mau Senin lagi? Pandemi, rasanya, baru beberapa bulan yang lalu, nyatanya, sudah 4 tahun berlalu, 2019-2023. Makin tua usia Anda, makin terasa waktu cepat berlalu. Sementara, anak muda merasa waktu selalu tersedia.

Orang rugi adalah orang yang membiarkan waktu berlalu begitu saja. Tiba-tiba, dia sudah tua. Lalu, meninggal begitu saja.

Lebih rugi lagi bila dia mati dalam situasi dosa. Mungkin dia sedang dalam rencana dan proses untuk korupsi lalu mati. Sungguh rugi. Bahkan, bisa saja, ketika masa hidup puluhan tahun dia jadi orang biasa atau orang baik. Ketika tua entah karena apa lalu frustasi. Kemudian mengakhiri hidup dengan bunuh diri. Sangat rugi. Semoga kita terhindar dari yang seperti ini.

(b) Orang beruntung. Ketika muda, dia biasa-biasa saja atau kadang foya-foya. Menikmati hidup, mencicipi dunia, kadang berdosa. Ketika tua, dia hidup bersama anak dan cucunya. Anak-anaknya sudah bekerja dengan mapan. Sehingga, anak-anak bisa membantu menopang kehidupan. Dia yang makin tua sadar hidupnya tak akan lama. Dia memutuskan untuk tobat. Dia menempuh jalan tobat, sempat beberapa saat. Lalu, meninggal dunia dengan tenang ketika dalam ibadat. Masuk surga.

Mudah banget untuk menjadi orang beruntung? Hanya perlu tobat ketika wafat? Tidak mudah. Contoh di atas, memang kebetulan, dia sedang beruntung. Tetapi, banyak kejadian tidak seperti itu. Ajal kematian bisa datang sewaktu-waktu. Ketika foya-foya dalam dosa ajal tiba. Kasihan, dia terjerumus dalam neraka. Setiap saat, kita perlu waspada.

(c) Orang wajar. Kadang kita berbuat baik. Kadang kita berdosa. Lalu, kita bertobat untuk memperbaiki segala yang ada. Memang begitulah kehidupan orang sewajarnya. Hati-hati, ajal bisa datang tiba-tiba.

Untuk menjadi orang beruntung, demi waktu, kita perlu berjuang. Tidak cukup mengandalkan keajaiban. Kita perlu waspada agar tidak terpeleset dalam dosa. Kita perlu menetapkan cita-cita akhir hayat yang mulia, husnul khatimah, akhiran baik. Kemudian, penuh komitmen, mengejar cita-cita akhiran baik di setiap langkah hidup kita.

Tiga syarat bagi kita untuk menjadi beruntung. Isilah waktu sepanjang hayat kita dengan tiga syarat ini, maka, menjadi orang yang beruntung.

(1) Memiliki keyakinan kuat dan komitmen tinggi. Keyakinan yang kuat kepada Tuhan dan kebenaran abadi. Setiap kebaikan berbalas kebaikan. Setiap keburukan mendapat balasan setimpal. Kebenaran abadi ini terjaga, tetap berlaku, dari masa lalu sampai masa depan nanti.

Tetangga saya, sebut saja Bu Yati, adalah penjual nasi pecel tiap pagi. Dalam satu hari, Bu Yati menjual nasi sekitar 100 porsi. Tidak mahal, bahkan terhitung murah. Berapa untungnya tiap hari? “Lumayan, cukup untuk numpang makan hari ini,” jawab Bu Yati. Bu Yati berbuat baik dengan menyediakan sarapan untuk masyarakat sekitar berupa nasi pecel murah. Bu Yati mendapat balasan kebaikan berupa bisa ikut makan hari itu dan rasa bahagia hidup bersama tetangga.

Suatu ketika, orang kota datang. Dia sangat suka dengan nasi pecel Bu Yati. Esok hari, orang kota itu datang lagi. Dia hendak memborong seluruh nasi pecel 100 porsi. Bu Yati menolak pembelian itu. Orang kota menawarkan dengan harga dua kali lipat. Bu Yati tetap menolak. Karena, tujuan Bu Yati adalah menyediakan sarapan sehat dan murah untuk masyarakat sekitar dan, barangkali, untuk orang yang kebetulan sedang melintas. Jika semua diborong maka bagaimana masyarakat sekitar akan sarapan pagi itu? Bu Yati adalah orang baik; tidak tergoda oleh keuntungan uang yang lebih besar. Dia orang baik di dunia ini dan, kebaikannya, abadi sampai di kehidupan nanti.

Sebaliknya, orang jahat, koruptor si pencuri licik mendapat balasan setimpal. Koruptor memang bisa tertawa terbahak-bahak di dunia ini. Tetapi, serangan jantung dan beragam ancaman penyakit bersarang di badannya. Ditambah ancaman kurungan penjara selalu ada. Keluarganya terpecah belah saling bertengkar. Di kehidupan nanti, koruptor menghadapi api neraka yang menyala membara.

Godaan selalu datang. Kita perlu komitmen tinggi di jalan kebaikan dan kebenaran abadi. Komitmen ini kita buktikan berupa suatu kerja dan karya nyata.

(2) Bekerja, berkarya, dan mengejar maha karya. Hidup manusia memang untuk bekerja. Apa artinya jadi manusia bila tanpa kerja?

Ikan tercipta untuk berenang. Burung tercipta untuk terbang. Apa jadinya bila ikan tidak boleh berenang? Apa jadinya burung tidak boleh terbang? Hanya terkurung dalam sangkar. Meski sangkar emas, tetap saja, menjadi siksa.

Manusia bekerja adalah amal sholeh, yaitu, memberi kebaikan kepada sesama dan alam sekitarnya. Setiap orang pasti bisa bekerja; pasti bisa memberi kebaikan. Penjual nasi sarapan adalah bekerja. Tukang kayu adalah bekerja. Pegawai adalah bekerja. Pejabat adalah bekerja. Pengusaha adalah bekerja. Mereka semua memberi kebaikan. Apa kerja Anda? Apa kebaikan yang Anda bagikan?

Selanjutnya, bekerja perlu diiringi dengan sentuhan hati maka menghasilkan karya; sebuah pekerjaan yang unik oleh Anda. Kerja dan karya adalah kebaikan abadi yang tetap terjaga sampai hidup dunia nanti. Tukang membuat kursi dari bahan kayu adalah kebaikan. Kemudian, kursi itu dimanfaatkan untuk duduk siswa belajar matematika. Kebaikan tukang berlanjut kebaikan oleh siswa. Kebaikan ini terjadi di dunia ini dan abadi sampai dunia nanti. Kebaikan tukang dalam membuat kursi menjadi kebaikan di surga nanti. Begitu juga, semua kebaikan Anda di dunia ini adalah abadi menjadi kebaikan di surga nanti.

Dari kerja dan karya, Anda bisa berlanjut dengan mempersembahkan maha karya.

(3) Bersedia berbagi, menerima dan memberi, tentang (a) kebenaran dan (b) kesabaran.

Berbagi kebenaran adalah kebaikan itu sendiri. Kita bisa berbagi melalui media digital. Sayangnya, media sosial justru sering digunakan untuk berbagi hoax atau fitnah. Demi waktu, hoax adalah merugikan. Ditambah lagi, AI juga ikut-ikutan memproduksi hoax.

Di tahun politik jelang pemilu 2024, seperti saat ini, produksi hoax makin gencar. Masing-masing pihak membuat citra diri sebagai orang baik sambil menyebarkan fitnah kepada orang lain. Bisa secara langsung atau memanfaatkan buzzer. Bahaya hoax, yang ditopang AI, bisa lebih berbahaya dari bom atom yang pernah menghancurkan Hirosima dan Nagasaki. Masalahnya, banyak orang ingin mendengar berita bohong dari pada berita benar.

Dunia kita saat ini, termasuk dunia digital, terlalu banyak bullshit, omong kosong, idle-talk, atau gombal. Urutan besar bahayanya: (a) bom atom sangat bahaya karena sudah membunuh ratusan ribu jiwa dan melukai jutaan orang lainnya melalui radiasinya; (b) hoax digital, yang didukung AI, lebih bahaya dari bom atom; ratusan juta orang, bahkan milyaran orang teracuni hoax digital; (c) Gombal, misal bullshit dan omong kosong politik, lebih bahaya lagi dari hoax digital. Gombal adalah racun yang bikin candu dan, di saat yang sama, korban tanpa sadar menularkan racun ke seluruh penjuru.

Gombal politik lebih bahaya dari hoax karena hoax tahu bahwa dirinya salah. Sementara, gombal tidak peduli benar atau salah. Gombal hanya peduli dengan gombal dan nafsu politik belaka. Tentu, gombal ekonomi, gombal pendidikan, dan gombal-gombal lainnya sama bahayanya.

Jadi, syarat ketiga untuk menjadi orang beruntung, yaitu berbagi (a) kebenaran dan (b) kesabaran, adalah syarat yang berat. Di sini, kita memerlukan keduanya. Tidak cukup hanya kebenaran. Tetapi, harus lengkap dengan kesabaran. Kebenaran sudah jelas menjadi poin penting. Tanpa kesabaran, nilai penting dari kebenaran bisa luntur. Kita akan membahas lebih lengkap tema ini di bagian bawah. Bagaimana pun, kita perlu sadar bahwa waktu kita terbatas. Kita paling hanya 70an tahun hidup di bumi. Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung.

1.2 Dinamika Waktu

Waktu terus bergerak tanpa henti. Diri kita ikut terbawa bergerak juga tanpa henti. Bahkan, ketika mati, kita masih terus melanjutkan perjalanan jauh yang abadi.

Dinamika waktu tampak dalam beragam kesadaran kita.

(a) Waktu bergerak dinamis dari masa lalu ke masa kini, lanjut, ke masa depan. Kita belajar dari pengalaman masa lalu melalui sejarah, cerita, atau refleksi. Kita belajar tentang masa depan dari proyeksi masa depan dan rencana-rencana, prediksi, atau cerita fiksi. Sementara itu, masa kini terus bergerak maju menjauh dari masa lalu. Dan, masa depan, satu demi satu, menjadi masa kini kemudian berlalu.

(b) Pengamatan lebih mendalam menyadarkan kita bahwa masa kini yang nyata. Masa lalu sudah berlalu hanya tinggal kenangan. Masa depan tak kunjung datang. Andai datang, dia berubah menjadi masa kini. Jadi, dinamika waktu adalah masa kini yang terus bergulir.

(c) Pengamatan lebih mendalam lagi, justru, memunculkan pertanyaan apakah waktu benar-benar ada? Atau hanya pikiran manusia semata? Sambil memikirkan jawaban yang mungkin benar, waktu terus bergulir bersama diri kita. Kita akan membahas khusus di bagian bawah untuk pertanyaan ini.

Semua waktu adalah sama-sama berharga. Tetapi mana yang paling utama: masa lalu, masa kini, atau masa depan? Umumnya, orang akan membuat prioritas: (1) maka kini; (2) masa depan; (3) masa lalu.

(1) Masa kini utama. Orang yang mengutamakan masa kini berpeluang besar untuk hidup bahagia; menikmati hidup momen demi momen; kita nikmati yang ada; the power of now; presentisme.

Kita bisa hidup mengalir bagai air. Bening, tenang, akhirnya sampai tujuan. Hidup di hari ini. Orang yang hari ini lebih baik dari kemarin adalah orang yang beruntung. Pengalaman masa lalu menjadi penuh hikmah ketika direnungkan hari ini. Bahkan, pengalaman pahit masa lalu, pengalaman berat hidup di masa lalu, tetap menjadi kenangan indah di hari ini. Cita-cita masa depan bisa kita uraikan menjadi bertahap hingga jelas apa yang perlu dilakukan di masa kini. Remaja yang cita-cita ingin jadi dokter, maka, masa kini perlu belajar dengan baik di bangku SMA.

Hidup memang indah dengan fokus masa kini. Tampaknya, tidak banyak orang yang berhasil mengutamakan masa kini. Sebagian orang dihantui masa lalu dan gelisah tentang masa depan. Kita perlu berlatih disiplin untuk bisa mengutamakan masa kini.

(2) Masa depan utama. Mengutamakan masa depan adalah baik; logika futurisitik; antisipatif. “Sungguh masa depan itu lebih baik bagimu dari masa lalu.” “Sebaiknya, kamu memperhatikan apa yang sudah kamu lakukan untuk masa depan.” “Menyongsong masa depan cemerlang.”

Kita mudah paham bahwa masa depan adalah paling utama. Demi menggapai cita-cita masa depan bahagia, kita rela berkorban apa saja. Demi mendapat nilai bagus ketika ujian nanti, kita rela rajin belajar hari ini. Demi menyelesaikan proyek dua bulan lagi, kita perlu disiplin kerja hari ini. Demi masa depan maka semua perkerjaan hari ini menjadi punya arti.

Resiko dari mengutamakan masa depan adalah orang bisa terlalu tegang pikirannya sehingga dia lupa untuk bahagia. Setiap hari, dia banting tulang penuh derita berkorban demi masa depan yang belum tentu akan datang. Resiko ini mudah kita atasi. Yaitu, menempatkan masa depan sebagai rujukan makna yang memberi arti bagi setiap langkah hari ini. Bila hari ini terasa berat maka itu penuh arti demi kemajuan cita-cita hari nanti. Bagaimana pun, hari ini perlu kita nikmati karena kita butuh bahagia dalam menyongsong masa depan.

Masa depan membuka posibilitas luas, freedom yang membebaskan, dan menuntut komitmen kepada semua pihak.

(3) Masa lalu utama. Jarang sekali orang yang mengutamakan masa lalu. Tetapi, dalam realitas sehari-hari, justru banyak yang mengutamakan masa lalu. Memang masa lalu hanya perlu disikapi dengan tepat tetapi tidak harus diutamakan. Sikap yang tepat adalah bersyukur atas semua karunia dan bersabar atas semua musibah. Dari semua pengalaman masa lalu, termasuk dari sejarah panjang, kita perlu mengambil hikmah.

Dalam realitas, masa lalu sering menjadi paling utama. Tentu saja, hal ini kurang baik. Banyak masalah timbul sebagai dampaknya.

Karena dia terlahir sebagai bangsawan, di masa lalu, maka dia punya hak istimewa. Karena dia terlahir dari keluarga kaya, tentu di masa lalu, maka dia berhak mewarisi rumah tanah super luas meski tanpa kerja. Karena dia terlahir dari keluarga miskin maka tidak berhak mendapat warisan apa pun. Bagaimana masa lalu bisa berpengaruh begitu besar?

Karena orang tuanya beli rumah yang nempel, dekat banget, dengan SMA favorit 3 tahun lalu, maka, dia langsung bisa sekolah di SMA favorit tanpa tes cukup dengan zonasi. Karena orang tuanya tinggal di pinggiran kota atau di kaki gunung, maka, dia tidak berhak sekolah di SMA favorit melalui jalur zonasi dan radiusi. Akibatnya, dia tidak bisa kuliah di universitas idaman. Masa depannya suram karena ditentukan oleh masa lalu. Bagaimana bisa begitu?

Karena sejak bertahun-tahun lalu, dia adalah buruh kasar, maka, gajinya tidak boleh besar. Cukup upah minimum sekitar 2 juta rupiah per bulan. Sekeras atau secerdas apa pun dia bekerja tidak ada pengaruhnya. Karena dia, sejak beberapa tahun lalu, adalah direktur, maka tunjangan gajinya harus lebih dari 100 juta rupiah per bulan. Tidak masalah dia jarang masuk kantor. Tidak masalah perusahaan sedang tekor. Tidak masalah rakyat kecil gigit jari. Direktur tetap bergaji tinggi. Apa yang salah? Salahnya adalah terlalu mengutamakan kekuatan masa lalu. Apa solusinya?

Solusinya adalah kita hanya bisa memilih (1) masa kini atau (2) masa depan sebagai paling utama. Sedangkan, masa lalu hanya perlu disikapi dengan baik yaitu dengan syukur dan sabar.

Kita perlu tetap fokus kepada tiga syarat utama untuk menjadi manusia beruntung dalam menyikapi dinamika waktu.

(1) Keyakinan yang kuat terhadap kebenaran abadi: utamakan masa kini dan masa depan; ambil hikmah masa lalu. Jangan tergoda untuk mengutamakan masa lalu; jebakan yang merugikan; jaga komitmen untuk kebaikan abadi.

(2) Bekerja dan berkarya untuk prestasi hari ini dan hari nanti. Jangan hanya membanggakan masa lalu. Bersiaplah memeras keringat dan otak demi kemajuan masa kini dan masa depan.

(3) Saling berbagi (a) kebenaran cita-cita masa depan bersama dan karya nyata hari ini. Dan saling mengingatkan (b) kesabaran dalam perjalanan menuju masa depan dan mengambil hikmah masa lalu.

Sampai kapan waktu terus bergerak dinamis? Di depan masa depan ada masa depan lagi. Di belakang masa lalu ada masa lalu lagi. Jadi, kita tidak akan pernah berhenti meniti waktu. Memang, waktu kita di bumi ini terbatas dari lahir sampai mati. Setelah itu, kita akan menghadapi dunia abadi.

1.3 Waktu Abadi

“Cintaku padamu abadi, tak lekang oleh waktu.” Cinta abadi adalah cinta yang bertahan, tetap suci, sampai mati. Jadi, makna abadi adalah tetap bertahan sampai mati. Makna abadi yang lebih umum adalah bertahan dalam waktu yang lama, misal satu abad yaitu 100 tahun. Anggap harapan hidup adalah 70 tahun maka 100 tahun memang lebih dari seumur hidup sehingga abadi.

Lebih jauh lagi, abadi juga bermakna berada di luar waktu hidup di dunia ini. Orang yang sudah mati disebut kembali ke alam abadi. Bayi yang belum lahir dianggap masih berada di alam abadi. Dengan demikian, manusia berasal dari alam abadi kemudian kembali ke alam abadi lagi. Sangkan paraning dumadi.

(1) Abadi adalah eternalisme. Waktu sudah ditetapkan abadi masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seluruh masa adalah nyata. Ketika bayi lahir, sudah ditetapkan misal umurnya adalah sampai 70 tahun. Tepat. Tidak kurang, tidak lebih. Ketetapan ini bersifat abadi.

Pandangan eternalisme ini beragam konsekuensi. Pertama, karena segala sesuatu sudah ditetapkan sejak awal, secara abadi, maka kita tinggal menjalani hidup ini dengan baik. Cukup berusaha dengan wajar, tidak perlu terlalu memaksa. Cukup berbuat baik saja, tidak perlu sampai jahat. Cukup damai bahagia saja, tidak perlu marah-marah. Semua sudah diatur dengan baik.

Kedua, eternalisme berkonsekuensi kepada fatalisme. Buat apa berusaha? Toh, semua sudah dipastikan secara abadi. Fatalisme ini, harusnya, bisa diatasi. Karena, seseorang akan berusaha atau tidak berusaha, toh, itulah yang menjadi ketetapan baginya. Lebih baik, berusaha selayaknya.

(2) Abadi Dinamis. Waktu adalah abadi dalam dinamika. Atau, dinamika yang abadi. Abadi dalam arti di depan masa depan masih ada masa depan lagi. Kita mudah memahami ini. Ketika kakek meninggal, maka ada bapak. Kemudian, ketika bapak meninggal, ada diri kita. Selanjutnya, ada anak cucu dan seterusnya.

Arah sebaliknya, yaitu masa lalu, sama dinamisnya. Di belakang masa lalu masih ada masa lalu lagi. Jadi, waktu bergerak terus-menerus dalam dua arah tanpa henti. Masa depan dan masa lalu.

Secara pribadi, setelah kita mati, jiwa kita masih terus hidup di alam kubur dan alam akhirat yang abadi. Waktu di dunia nanti, dunia setelah mati, adalah abadi berbeda dengan waktu di sini. Ketika Anda “memberi makan anak yatim” di dunia ini, anak yatim itu bahagia dan Anda ikut bahagia. Sebulan berlalu, Anda bisa saja lupa peristiwa itu. Di dunia nanti, “memberi makan anak yatim” adalah kebahagian sejati bagi Anda berupa kehidupan surga. Kebahagiaan di surga adalah abadi berbulan-bulan bahkan lebih berabad-abad. Sejatinya, kebaikan “memberi makan anak yatim” sudah menjadi surga sejak awal yang abadi. Hanya saja, di dunia ini banyak penghalang material sehingga kita sulit melihat langsung.

Perilaku jahat lebih mengerikan lagi. Koruptor pencuri yang mencuri uang rakyat itu sedang menciptakan api neraka abadi buat dirinya sendiri. Koruptor terbakar panas di dunia ini dan dunia nanti. Semoga bisa tobat dengan mengembalikan seluruh uang rakyat dan melakukan penebusan.

(3) Persegi Dinamis. Waktu eternal adalah terbentang, misal umur Aji adalah dari lahir sampai 70 tahun. Jika bentangan 70 tahun ini ditumpuk sebanyak 70 batang maka membentuk gambar persegi sempurna. Persegi dinamis adalah modifikasi dari persegi sempurna ini.

Aji lahir maka terbentang umur sampai 70 tahun. Ketika umur 10 tahun, Aji jatuh dari motor. Momen ini menghirup bentangan 70 tahun umur Aji menjadi 1 titik momen, kemudian, Aji menghembuskan menjadi bentangan 10 tahun masa lalu + 50 tahun masa depan. Jadi, umur Aji berubah hanya sampai 60 tahun. Pada umur 20 tahun, Aji menjalani pola hidup sehat. Momen ini menghirup bentangan umur Aji yang 60 tahun menjadi 1 titik momen, kemudian, menghembuskan menjadi bentangan 20 tahun masa lalu + 55 tahun masa depan. Jadi, umur Aji bertambah sampai 75 tahun. Demikian seterusnya membentuk persegi dinamis.

Waktu abadi dalam bentuk persegi dinamis berkonsekuensi banyak hal. (a) Setiap momen kehidupan adalah berperan aktif menentukan nasib masa depan Anda dan makna masa lalu Anda. (b) Peran dari setiap momen ini bersifat abadi sampai akhir hayat Anda. Setiap keputusan Anda berdampak kepada seluruh hidup Anda dan berdampak kepada masyarakat. (c) Dampak abadi berlanjut sampai ke dunia nanti, yaitu, ke dunia setelah mati.

Kita bisa kembali fokus kepada tiga syarat untuk menjadi manusia beruntung. Demi waktu yang abadi, kita perlu berjuang untuk menjadi manusia yang beruntung.

(1) Keyakinan kuat bahwa setiap momen waktu adalah kebenaran abadi. Kebaikan Anda kepada anak yatim adalah kebaikan yang abadi sampai akhir nanti; menjadi surga abadi di sini dan di sana.

(2) Kerja dan karya kita berdampak abadi. Semua kerja kita mendapat dukungan dari sejarah masa lalu yang abadi. Kemudian, kerja baik kita berdampak abadi kepada generasi nanti dan kepada hidup diri kita pribadi setelah mati.

(3) Kita perlu konsisten untuk berbagi dan saling menasehati berkenaan (a) kebenaran abadi dan (b) kesabaran abadi.

Semoga kita termasuk orang-orang yang beruntung.

Lanjut ke: Manfaat Waktu
Kembali ke: Demi Waktu

Demi Waktu

Misteri Keberuntungan Manusia

Waktu pasti berlalu. Sebagian orang beruntung. Sebagian yang lain merugi. Waktu menjadi saksi. Anda termasuk beruntung atau merugi?

Anda termasuk yang beruntung. Bila memenuhi beberapa syarat. Banyak orang terpeleset menjadi merugi. Tiga syarat bagi Anda untuk menjadi beruntung.

(1) Memiliki keyakinan kuat dan komitmen tinggi.

(2) Bekerja, berkarya, dan mengejar maha karya.

(3) Bersedia berbagi, menerima dan memberi, tentang (a) kebenaran dan (b) kesabaran.

Anda yang memenuhi tiga syarat di atas pasti beruntung. Sementara, mereka yang gagal memenuhi syarat, sayang sekali, menjadi jatuh rugi. Bagaimana cara memenuhi tiga syarat tersebut? Kenali waktu, manfaatkan waktu, dan bersahabat dengan waktu.

Bagian 1: Kenali Waktu
1.1 Lahir sampai Mati
1.2 Dinamika Waktu
1.3 Waktu Abadi

Bagian 2: Manfaat Waktu
2.1 Daya Masa Depan
2.2 Hikmah Masa Lalu
2.3 Modifikasi Masa Kini

Bagian 3: Sahabat Waktu
3.1 Membentuk Karakter
3.2 Teladan Karakter
3.3 Merangkul Waktu

Kita akan membahas tema waktu secara bertahap dengan pendekatan praktis. Sehingga, lebih mudah dipahami untuk kemudian implementasi. Selamat menapaki waktu.

Waktu: Persegi Dinamis

Problema waktu selalu muncul dari waktu ke waktu. Apa makna waktu? (1) Waktu adalah ukuran dari gerak. Atau, (2) waktu adalah penyebab dari gerak.

Bagaimana aliran waktu? (1) Presentisme: waktu adalah present, atau sekarang, yang terus bergulir. Atau, (2) eternalisme: waktu adalah abadi dari masa lalu, masa sekarang, dan masa datang. Atau, (3) waktu adalah 4 dimensi: potongan 3 dimensi tertentu [ruang-waktu] yang bergulir terus-menerus. Atau, (4) waktu adalah persegi dinamis: waktu adalah abadi yang setiap saat disedot masa kini lalu dibentangkan abadi lagi.

1. Eternal
2. Persegi Sempurna
3. Persegi Dinamis
4. Bigbang Persegi
5. Freedom

Tulisan kali ini fokus waktu dengan perspektif terakhir: persegi dinamis.

1. Eternalisme

Konsep waktu sebagai eternal sering bermakna spiritual. Budi lahir tahun ini, misalnya. Ketika lahir itu, Budi sudah ditetapkan umurnya sampai 70 tahun. Apa pun yang terjadi, Budi akan menyusuri waktu sejak lahir sampai usia 70 tahun kemudian wafat.

2. Persegi Sempurna

Waktu sebagai persegi sempurna memodifikasi eternalisme menjadi lebih dinamis, meski sedikit.

Ketika lahir, Budi ditetapkan umurnya akan sampai 70 tahun.
Umur 10 tahun, Budi sakit kemudian sembuh maka umurnya akan sampai 70 tahun.
Umur 20 tahun, Budi jatuh dari motor, terluka, sembuh lagi maka umurnya akan sampai 70 tahun.
Dan seterusnya, Budi wafat pada usia 70 tahun.

Ilustrasi tentang Budi di atas, bila kita gambarkan akan membentuk persegi sempurna 70 x 70. Horisontal adalah umur Budi dari 0 sampai 70. Vertikal, bisa ke atas atau ke bawah, adalah kejadian-kejadian penting 0 sampai 70 tahun.

3. Persegi Dinamis

Dari persegi sempurna, kita bisa modifikasi lebih jauh menjadi persegi dinamis.

Budi lahir, ditetapkan sesuai situasi, umurnya akan sampai 70 tahun.

Umur 10 tahun, Budi sakit. Saat itu, Budi menyedot 10 tahun masa lalu ditambah 60 tahun sisa umurnya menjadi hanya 1 titik masa kini. Kemudian, Budi membentangkan titik waktu itu ke masa lalu 10 tahun ditambah ke masa depan, misal, 50 tahun. Jadi, Budi akan meninggal pada usia 10 + 50 = 60 tahun. Peristiwa sakit mengurangi usia Budi.

Umur 20 tahun, Budi menjalani pola hidup sehat. Saat itu, Budi menyedot masa lalu 20 tahun ditambah 40 tahun sisa umurnya menjadi hanya 1 titik waktu. Kemudian, Budi membentangkan titik waktu itu ke masa lalu pasti 20 tahun ditambah ke masa depan, misal, 55 tahun. Jadi, Budi akan meninggal pada usia 75 tahun.

Bila kita menggambarkan perjalanan umur Budi maka akan membentuk persegi dinamis. Awalnya, seperti persegi. Tetapi persegi ini kadang berubah ukuran sehingga dinamis.

Di satu sisi, waktu adalah abadi: sudah ditetapkan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Di sisi lain, waktu adalah dinamis: setiap saat bentangan waktu disedot menjadi 1 titik, kemudian, dibentangkan lagi. Terbuka peluang untuk freedom.

4. Bigbang Persegi

Teori Bigbang menyatakan bahwa alam semesta bermula dari ledakan besar sekitar 14 milyard tahun yang lalu. Mari kita coba menerapkan waktu-persegi-dinamis terhadap alam semesta sesuai teori bigbang.

Bigbang terjadi, alam muncul akan bertahan sampai 100 milyard tahun.

Umur 10 M, alam evolusi: menyedot 10 M dari masa lalu ditambah 90 M masa depan. Dihembuskan lagi menjadi 10 M masa lalu dan 90 M masa depan. Evolusi wajar.

Umur 15 M, terjadi perang nuklir: menyedot 15 M masa lalu dan 85 M masa depan. Dihembuskan menjadi 15 M masa lalu dan 5 M masa depan. Kiamat makin dekat: 5 M lagi.

Umur 16 M, terjadi perdamaian nuklir: menyedot 16 M masa lalu dan 4 M masa depan. Dihembuskan menjadi 16 M masa lalu dan 14 M masa depan. Kiamat sedikit tertunda.

Waktu bersifat obyektif ketika kita menerapkan kepada bigbang. Waktu bersifat subyektif ketika kita menghubungkan dengan pengalaman personal. Secara total, waktu adalah obyektif dan subyektif. Waktu adalah reality-in-the-world. Atau sebaliknya, reality-in-the-time.

5. Freedom

Persegi dinamis mengakui bahwa nasib alam semesta sudah ditetapkan sejak awal. Umur manusia juga sudah dipastikan sejak awal. Barangkali, jodoh juga sudah ditetapkan.

Persegi bagaikan nafas yang mampu menyedot dan menghembuskan lagi. Menyedot seluruh masa lalu dan masa depan menjadi 1 titik kritis. Kemudian dihembuskan.

(a) Hembusan masa lalu relatif konstan, sama dengan sedotan. Meski demikian, hembusan masa lalu bisa saja memiliki makna jauh berbeda setelah disatukan dengan masa depan. [Ilustrasi warna merah].

(b) Hembusan masa depan bersifat terbuka. Bisa lebih besar dari semula yang bermakna lebih berumur panjang. Bisa juga lebih kecil. [Ilustrasi warna hijau].

(c) Masa kini adalah dinamika menghirup masa lalu dan masa depan. Persatuan menjadi 1 titik dari bentangan waktu. Kemudian, menghembuskan 1 titik menjadi bentangan waktu: masa depan, masa lalu, dan masa kini. [Ilustrasi warna kuning].

Dinamika waktu adalah freedom bagi alam raya dan umat manusia. Freedom, sudah pasti, menuntut tanggung jawab kita.

Bagaimana menurut Anda?

Buku Logika Futuristik Pesan Online

Silakan, Anda bisa memesan buku Logika Futuristik online melalui Sophee atau WA 0818 22 0898.

Klik tautan Sophee Logika Futuristik di sini.

Saya menjual Buku Logika Futuristik seharga Rp90.000. Ayo beli di Shopee! https://shp.ee/9h7r5ez

Logika-futuristik diyakini oleh penulisnya akan membantu Anda memenuhi harapan menjadi sukses, bahagia, dan bermakna. Apapun profesi dan situasi yang sedang Anda alami, gunakan logika-futuristik untuk menaiki tangga keberhasilan. Lebih dari itu, logika-futuristik sangat bebas bergerak sehingga memastikan Anda untuk hidup bahagia; dan terpenting, mengarahkan Anda menjalani hidup penuh makna.

Buku Logika Futuristik menandai babak baru pemikiran penulisnya sebagai kristalisasi perjalanan hidup, kajian filsafat (Timur dan Barat), kajian sains-math-teknologi, dan situasi kontemporer; mengkaji pemikiran filosofis lebih luas dan mendalam. Dalam pemikirannya, logika-futuristik pada gilirannya mengambil alih logika-objektif dan logika- subjektif sampai titik terjauhnya.

Masa Depan Jiwa

Kapital Jiwa: Mutiara Kehidupan dari Filsafat Mulla Sadra

Masa depan jiwa: bayi, anak-anak, remaja, lalu tua. Kemudian apa? Kita perlu mengkaji masa tua dan nasib jiwa setelah tidak berada di dunia. Kita perlu membahas masa depan jiwa.

1. Pendahuluan

2. Problema Waktu

3. Wacana Masa Depan Jiwa
Wacana 3.1: Keragaman Dunia
Wacana 3.2: Mati adalah Sempurna
Wacana 3.3: Kreativitas Tersembunyi
Wacana 3.4: Karakter adalah Masa Depan
Wacana 3.5: Masa Depan Terbuka

4 Wacana Analisa
4.1 Modus Dunia
4.2 Ragam Definisi
4.3 Makna Kematian
4.4 Disrupsi
4.5 Etika Karakter dan Rasa Peka
4.6 Masa Metafora: Akumulasi Futuristik
4.7 Tanda Tanya

1. Pendahuluan

Tentu saja, kita peduli akan nasib masa depan jiwa kita. Apa yang akan terjadi esok hari pada diri ini? Bagaimana nasib diri setelah mati?

Tidak ada orang yang pernah mati lalu hidup lagi untuk menceritakan pengalaman setelah dia mati. Andai ada orang yang seperti itu, kita dan semua orang berhak untuk tidak percaya cerita dari dia. Memang rumitkan? Sementara, pengalaman orang yang pernah mati suri atau pernah dekat mati juga beragam. Kadang saling bertentangan. Ada yang melihat cahaya begitu membahagiakan. Orang memaknai pengalaman seperti itu sebagai pengalaman spiritual. Ada juga yang mengalami gelap saja. Hilang saja. Tidak ada apa-apa. Istirahat dengan tenang saja. Bahkan, untuk satu pengalaman yang sama tentang kematian, masing-masing orang bisa memberi makna berbeda-beda.

Di bagian 3 ini, kita akan membahas tema masa depan, termasuk eksistensi setelah mati, dengan hati-hati.

2. Problema Waktu

Waktu begitu jelas mengalir setiap saat. Tetapi, apa itu waktu sebenarnya? Tidak mudah menjawabnya. Kita bisa melihat gerak jarum jam menunjukkan waktu 1 detik. Kita bisa melihat matahari terbit dan besok terbit lagi menunjukkan waktu 1 hari. Kita bisa melihat bulan purnama lagi menunjukkan waktu 1 bulan. Bagaimana pun, waktu masih tersembunyi dari peristiwa-peristiwa yang menunjukkan waktu.

Ada waktu yang kita anggap jelas yaitu masa kini. Sementara, masa lalu dan masa depan tampak hanya samar-samar. Waktu membentang dari masa depan, masa lalu, dan masa kini. Kita akan membahas problema waktu di bagian “Wacana Analisa.”

3. Wacana Masa Depan Jiwa

Kita membahas tema masa depan jiwa dalam lima wacana.

Wacana 3.1: Keragaman Dunia

Dunia memang beragam, bahkan, banyak ragam. Tetapi, rumah eksistensi hanya satu. Anda tetap bisa mengenali Ibu Anda adalah satu orang yang sama. Meski ibu berganti-ganti seribu baju. Meski ibu membacakan puluhan buku. Meski ibu mengolah ratusan bumbu. Dia adalah satu orang yang sama: Ibu Anda. Eksistensi Ibu Anda adalah satu itu. Rumah eksistensi ibu hanya satu yaitu Ibu Anda yang nyata sebagai seorang individu.

(319) The worlds and instantiations (nashaʾāt) are many, but the house of existence (dār al-wujūd) is one because although the worlds are many, they are enclosed by each other and all of them are subsumed into three instantiations: [ (1) material, (2) intermediate, (3) intellectual. ]

(319) Dunia dan model-modelnya adalah banyak, tetapi rumah eksistensi adalah satu karena meski dunia beragam, mereka saling membungkus diri dan masuk dalam tiga model: [ (1) dunia material, (2) dunia tengah, (3) dunia intelektual].

Kita bisa mengelompokkan keragaman dunia menjadi hanya tiga model atau tiga tingkat: (1) dunia material, (2) dunia tengah atau dunia imajinasi, (3) dunia intelektual.

(319)

[1.] The lowest is this material world which transforms and decays and has places and conditions. This world is the world of contradiction and competition, and it must disappear and come to an end. The same is true of everything that exists in it or has a connection with it; namely, it is followed by disappearance, disintegration, and an end.
[2.] The intermediate world is the world of extended forms (ʿālam al-ṣuwar al-miqdāriyya) that are separated from matter, [but] they are receptive of contraries and they are the carriers of possibilities and potentialities.
[3.] The highest of these worlds is the world of the intellectual forms (ṣuwar ʿaqliyya) and the divine forms (muthul ilāhiyya)

(319)

[1] Yang terendah adalah dunia material ini yang [1] berubah dan rusak dan [2] perlu tempat dan syarat. Dunia ini adalah dunia kontradiksi dan kompetisi dan pasti lenyap dan sampai ke ujung akhir. Hal yang sama juga terjadi pada yang eksis di dalamnya atau yang berhubungan dengannya, yaitu, ikut lenyap, runtuh, dan berakhir.

[2] Yang tengah adalah dunia forma extended yang terlepas dari materi, [tetapi] mereka reseptif terhadap kontradiksi dan mereka adalah pembawa posibilitas dan potensialitas.

[3] Yang tertinggi dari dunia-dunia ini adalah dunia forma intelektual dan forma ilahiah.

Dunia tengah memiliki peran penting: membawa posibilitas dan potensialitas.

(320) The first world is this material world which has neither stability nor endurance (baqāʾ). The last two worlds are both enduring and have neither disappearance nor an end. One of them is divided into (two realms): (The first is) the paradise of the blissful people who are the righteous, and (the second is) the hell of the damned who are the “companions of the left hand.” (Q 56: 9). The other world is the holy world, which is the paradise of those who are the foremost in faith and the proximate to God, and it is the goal of the archetypal angels.

(320) Dunia yang pertama adalah dunia material yang tidak stabil tidak pula abadi. Dua dunia lainnya adalah abadi dan [1] tidak musnah dan [2] tidak berakhir. Satu dari mereka terbagi menjadi (dua): [1] surga bagi orang-orang yang bahagia yaitu mereka yang benar, dan [2] neraka terkutuk bagi mereka “golongan kiri.” (Q 56: 9). Dunia yang lain adalah [3] dunia suci, surga bagi mereka yang kuat iman dan dekat dengan Tuhan, dan ini adalah tujuan para malaikat tertinggi.

Dunia tertinggi adalah bagi mereka yang paling teguh iman dan dekat dengan Tuhan.

Wacana 3.2: Mati adalah Sempurna

Pada waktunya, kita pasti mati. Apa yang Anda siapkan ketika mati? Bagaimana nasib Anda setelah mati? Tetapi, apa sejatinya mati?

(321) It must be known that the meaning of the necessity of death and its being a natural (event) is not as the materialists and the physicians have asserted; that is, since the bodily powers are limited in their actions and reactions, annihilation must take place. For it is possible that a bodily power continues performing unlimited activities through renewal of the Divine assistance. This answer is applied too for other proofs that are based on the necessity of depletion of the (bodily) power and its expiration. Rather, the cause of death is the soul’s gradual perfection and its (becoming) independent in existence.

(321) Harus dipahami bahwa makna niscaya kematian dan kejadian alaminya bukanlah seperti yang dinyatakan oleh materialis atau fisikawan; yaitu, [menurut mereka] karena kemampuan badan terbatas dalam aksi dan reaksi, maka, pasti akan terjadi kemusnahan [kematian]. Karena mungkin saja badan tetap memiliki kemampuan aksi tak terbatas yang senantiasa diperbarui dengan bantuan Yang Maha Kuasa. Jawaban ini juga bisa diterapkan sebagai bukti tambahan [terhadap argumen] yang didasarkan pada keniscayaan pelemahan dan usangnya kemampuan badan. Yang lebih benar, penyebab kematian adalah [1] proses penyempurnaan jiwa secara gradual [2] dan (menjadi) eksistensi yang mandiri [dari badan].

Mati adalah proses penyempurnaan jiwa. Ketika jiwa makin maju lebih sempurna maka jiwa lebih bebas, lebih terbebas, dari ikatan dunia materi. Sampai suatu saat, jiwa benar-benar tidak memerlukan materi, atau materi tidak lagi memadai bagi jiwa, maka jiwa meninggalkan materi atau badan. Peristiwa itulah disebut sebagai kematian. Setelah itu, jiwa melanjutkan perjalanan yang masih panjang.

(321) The soul through its (substantial) motion and its natural endeavor moves toward another world, and when it gradually becomes stronger and its existence becomes another mode of existence, its connection with this (physical) body is severed and is replaced by another body that is acquired in accordance with its moral conduct and its psychic state. Thus, what first essentially occurs to it is a second life that accidentally causes the disappearance of the first (material) life. Thus, death occurs accidentally, not essentially; otherwise, it has no point since it entails that nothingness is something natural, whereas [in fact], everything is moving toward perfection and is travelling toward the active principle. But those who end their journey at the ultimate goal are but a few individuals and they are only from among human species; not from other species (i.e., plants and animals). If it is supposed that some other species arrived through its laborious and continuous movement at the Divine Realm (al-ḥaḍra al-ilāhiyya), then it must necessarily arrive first at the gate of humanity and then from it (move) toward the Holy Realm (al-ḥaḍra al-qudsiyya). This is because the reality of the human being is God’s gate through which He is approached.

(321) Melalui gerak (substansial) dan kecenderungan alamiah, jiwa menuju ke dunia yang lain, dan ketika bertahap makin kuat dan mode eksistensinya berganti dengan yang lain, ikatannya dengan badan (fisikal) ini terputus dan digantikan dengan badan lain yang bersesuaian dengan kondisi moral dan psikisnya. Jadi, kejadian [1] paling esensial adalah pada kehidupan kedua yang menjadi sebab [2] kerusakan material, secara aksidental, terhadap kehidupan pertama. Sehingga, kematian terjadi secara aksidental, bukan esensial; bila tidak demikian, berkonsekuensi bahwa ketiadaan menjadi sesuatu yang alamiah, padahal [faktanya], segala sesuatu menuju penyempurnaan dan bergerak maju sesuai prinsip aktif. Tetapi hanya sedikit, mereka yang berhasil meraih tujuan tertinggi, dan mereka hanya dari spesies manusia; bukan dari spesies lain (tumbuhan atau binatang). Jika diasumsikan spesies lain bisa meraih melalui kerja keras dan gerak terus menerus di Hadirat Ilahi, maka mereka harus mencapai tingkat kemanusiaan dulu kemudian menuju Hadirat Suci. Karena manusia adalah gerbang Tuhan, yang melaluinya, Dia mendekat.

Hanya manusia yang mampu meraih tujuan tertinggi. Itu pun, hanya sedikit manusia yang berhasil.

(322) Generally speaking, since a human being, from the start of its origination and becoming, is in (a states of) existential renewal, substantial intensity, and innate orientation toward the hereafter, and then toward the Holy Realm, it is necessary that it, through the essential transformation and substantial intensity, arrive at a degree of existence in which it detaches itself from the worldly natural body and becomes free and sufficient by itself with no need for that [body] to occupy all or part of its faculties. Thus, the individual’s existence is transformed into the hereafter existence (wujūd ukhrawī) since the relation of this life to the hereafter is the [same as] the relation of deficiency to perfection, and the relation of a child to an adult. A human being as long as it is a material being is like a child who needs, due to the weakness of its existence and the deficiency of its substance, a cradle which is the body, and to a place which is temporal world (dunyā), and to a carrier (dābba) which is time. When it reached its substantial limit and arrived at its utmost formal hereafter intensity, it departs this house to the house of stability.

(322) Secara umum, karena manusia, sejak awal dan penciptaannya, adalah dalam (keadaan) [1] pembaharuan ekistensial, [2] intensifikasi substansial, [3] kecenderungan bawaan menuju akhirat, [4] dan menuju Hadirat Suci, niscaya, melalui [1] transformasi esensial dan [2] intensifikasi substansial, akan tiba ke derajat eksistensi yang [1] terlepas dari materi dan bebas dan [2] mandiri dari [badan] untuk mencakup semua dan bagian dari fakultas-fakultas. Jadi, eksistensi individual bertansformasi menjadi eksistensi akhirat karena relasi hidup ini dengan kehidupan akhirat adalah mirip relasi antara kekurangan dengan kesempurnaan atau relasi antara anak-anak dengan dewasa. Seorang manusia selama dalam dunia material mirip dengan seorang anak yang bergantung pada, karena lemahnya eksistensi dan kekurangan substansial, sebuah [1] sandaran badan, [2] pemberi tempat dunia temporal, [3] pembawa waktu. Ketika dia mencapai batas substansial dan tiba pada puncak intensitas formal hari nanti, maka dia meninggalkan rumah ini menuju rumah stabilitas.

Kapasitas dunia material terbatas untuk menampung kemajuan eksistensi manusia. Manusia perlu kapasitas yang lebih luas yaitu akhirat sebagai rumah stabilitas.

(322) This degree of substantiality, actuality, and independence is common to the believer and nonbeliever, to the monotheist and polytheist, the one who denies God’s attributes, and many animals that have the faculty of imagination in actuality. There is no contradiction between the existential perfection and substantial independency and the misery and punishment in hell fire, the painful chastisement, the eating from the tree of “zaqqūm” (Q37: 62; 44:43; 56: 52), and drinking the boiling water (Q6: 70; 10:4; 38: 57). Rather, it confirms it because the strength of existence and its intensification and departing from material bodies certainly cause intensification of perceiving the agony and the suffering from the psychological diseases that had been forgotten due to the numbness of nature and the veil on the insight (baṣīra). When the veil is lifted, chastisement arrives. And “in the morning the travelers would appreciate their night journey”.

(322) Derajat [1] susbtansialitas, [2] aktualitas, dan [3] kemandirian ini adalah wajar bagi orang beriman atau tidak beriman, monotheis atau politheis, penolak sifat-sifat Tuhan, dan beragam binatang yang memiliki fakultas imajinasi dalam aktualitas. Tidak ada kontradiksi antara [1] penyempurnaan eksistensi dan kemandirian substansi dengan [2] derita dan hukuman di neraka, pedih tiada tara, makan dari pohon “zaqqum” (Q37: 62; 44:43; 56: 52), dan minum dari air yang mendidih (Q6: 70; 10:4; 38: 57). Lebih tepatnya, hal ini menguatkan bahwa karena [1] kekuatan eksistensi, dan [2] intensifikasinya, dan [3] pembebasan dari badan materi niscaya menyebabkan intensifikasi kepekaan terhadap sakit dan derita dari penyakit psikologis yang selama ini mereka lupakan akibat dari [1] bebal alami dan [2] terhalangnya pandangan. Ketika penghalang disingkirkan, hukuman datang. Dan “di pagi hari, para pelancong akan mengapresiasi perjalanan malam mereka.”

Penyempurnaan eksistensi bisa saja berupa siksa pedih bagi seseorang. Tidak ada kontradiksi di sini. Hanya terjadi, terbukanya realitas sebenarnya. Selama di dunia materi, seseorang bisa terjebak dalam ilusi atau delusi.

(322) The ancient philosophers mentioned that the definition of human being is: “the substance that senses, speaks, and dies.” They have regarded death as the part that completes the definition of human being. The meaning of death here is not nothingness; rather, its meaning is part of the returning motion toward the final goal—I mean, the transference from this life to the hereafter. Thus, in this sense death is a natural event that necessitates the annihilation of the material body. This is because every mover, unless it passes all the supposed limits that exist between the beginning and the end of the road, cannot reach the end and the ultimate goal. The human being, unless he departs from this life and passes all the natural limits, and then the psychic limits, will not reach the vicinity of God, and he will not deserve the station of servitude. Death is the first station of the hereafter and the last degree of the material life. Death is like an isthmus (barzakh) between two poles and a barrier between two houses: the house of the material life and the house of the hereafter. Perhaps a human being after departing this life will become prisoned in one of the intermediary worlds for a long or short time. He might ascend quickly through the light of knowledge, the power of pious deeds, the divine attraction, or intercession of the intercessors. The last who will intercedes is the most merciful, as it is narrated in the tradition.

(322) Pemikir kuno menyebutkan definisi manusia adalah: “substansi yang mengindera, berbicara, dan mati.” Mereka memasukkan kematian sebagai bagian lengkap dari manusia. Makna kematian di sini bukanlah kemusnahan; tetapi, adalah bagian dari gerak kembali menuju tujuan akhir; maksudnya, perpindahan dari hidup di sini menjadi hidup di hari nanti. Jadi, dengan makna ini, kematian adalah kejadian alami yang pasti untuk melepaskan ikatan badan material. Hal ini karena setiap pejalan, kecuali melampaui batas yang ada antara awal dan akhir jalan, tidak akan mencapai ujung dan tujuan akhirnya. Manusia, kecuali [1] melepaskan ikatan hidup ini dan melampaui batasan alami, dan [2] kemudian melampaui batasan psikis, tidak akan meraih kedekatan dengan Tuhan, dan tidak layak berada pada posisi pengabdian. Kematian adalah tahap pertama kehidupan nanti dan derajat akhir kehidupan alam materi ini. Kematian adalah mirip itsmus (barzakh) antara dua kutub dan jembatan antara dua rumah: rumah kehidupan material dan rumah akhirat. Bisa jadi, manusia setelah lepas dari hidup ini tertahan di dunia tengah dalam [1] waktu yang lama atau [2] singkat saja. Dia naik dengan cepat melalui [1] ilmu pengetahuan, [2] kekuatan amal, [3] keterpikatan ruhaniah, atau [4] tingkatan demi tingkatan. Dia yang sampai tingkatan terakhir adalah paling penuh pesona, sebagaimana dikisahkan dalam riwayat.

Kematian adalah bagian alami dari setiap manusia. Mati bukan berarti musnah. Mati adalah melanjutkan perjalanan ke kehidupan baru.

(323) These are principles and laws which we have explained and discussed detail and that we have firmly established by luminous demonstrations and by conclusive evidences in our books, especially in “The Four Journeys.” A person who deeply contemplates them and has a pure nature devoid of deviation from that which is right, rejecting envy, stubbornness, and obstinacy, will have no doubt concerning the issue of the Return and the belief that this body itself will be resurrected in the hereafter in the form of the bodies.

(323) Prinsip-prinsip dan hukum-hukum ini sudah kami jelaskan dan kami bahas detail dan kami buktikan dengan jelas dan meyakinkan dalam buku kami, khususnya “Asfar” [atau “Empat Perjalanan.”] Seseorang yang merenunginya secara mendalam dan bersih dari penyimpangan kebenaran dan menolak [1] iri dengki, [2] keras kepala, dan [3] dungu akan mengkaji, tanpa ragu, tema “Kembali” dan keyakinan bahwa badan ini akan dibangkitkan kembali di hari akhir dalam forma badan-badan.

Kita bisa merujuk ke buku “Asfar” untuk memperoleh argumen dan bukti yang lebih lengkap dan meyakinkan mengenai tema “Kembali” ini.

(323) This topic (The Return) is the best of knowledge in rank and the greatest in quality and its path is the most subtle. I have spent many years of my life in exercising meticulous thought and deep insight, abandoning the company of people, occupying myself with the invocation of God, thinking deeply about His book, and contemplating many prophetic traditions that reached us through the household of the prophet—peace be upon him who declares those traditions and upon his household—until the issue becomes clear, the truth arrives, and the decree of God and His light and proof became clear without relying on a teacher’s instruction or reading a book. This is because I have not seen on earth any person who has a (worthy) idea about the science of the Return (ʿilm al-maʿād), nor did I find a book in which there is a demonstrative explanation and a conclusive opinion and belief concerning the resurrection of the bodies and corpses. I also did not find in the heritage of the famous philosophers or in the books of ancient philosophers an opinion about this issue that cures the sick and quenches the one who is thirsty. Nor did I find in the fabrications of the modern philosophers and the theologians (anything) except conjectures and guesses, or just imitations of others, narrating the traditions, and relying on the sensible. Since belief is a light that God throws in the heart of the believer, it cannot be acquired by senses, and cannot be obtained from narration, from writing, from hearing, or from testimony. “This is the grace of God which He grants to whomever He wills, and God is the possessor of a great grace.” (Q57: 21)

(323) Topik ini (Kembali) adalah [1] pengetahuan dengan derajat terbaik dan [2] kualitas terhebat dan [3] paling lembut jalurnya. Saya [Sadra] telah menghabiskan waktu bertahun-tahun [1] mengkaji beragam pemikiran dan wawasan mendalam, [2] memisahkan diri dari keramaian orang, [3] memenuhi diri dengan perintah Tuhan, [4] mendalami kitab suci-Nya, [5] merenungi banyak hadis Nabi dan mendekatinya melalui keluarga Nabi – salam untuk beliau dan yang meriwayatkan dan atas keluarga beliau – sampai [a] semua masalah menjadi jelas, [b] kebenaran datang, [c] dan kuasa Tuhan dan cahaya-Nya dan bukti menjadi jelas tanpa bersandar pada [1] arahan guru atau [2] membaca buku. Hal ini disebabkan oleh karena [1] saya tidak menemukan seorang pun di muka bumi ini yang memiliki ide (memadai) tentang ilmu Kembali, atau tidak pula [2] saya menemukan buku yang di dalamnya menjelaskan dan berisi bukti yang jelas dan kesimpulan meyakinkan berkenaan kebangkitan kembali badan dan orang mati. [3] Saya tidak pula menemukan warisan dari filsuf ternama atau [4] buku dari filsuf kuno suatu opini tentang isu ini yang aman dari kelemahan dan memuaskan orang yang dahaga. [5] Tidak pula saya menemukan dalam karya filsuf modern dan teolog kecuali perkiraan dan dugaan, atau imitasi dari yang lain, narasi dari tradisi, atau sekedar bersandar pengamatan. Karena iman adalah cahaya yang Tuhan limpahkan ke hati orang yang beriman, iman tidak bisa diperoleh dari indera, tidak bisa dari cerita, dari tulisan, dari pendengaran, dari testimoni. “Itulah karunia Allah, yang diberikan kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah pemilik karunia yang agung.” (Q57: 21)

Tema Kembali, atau Hari Kembali, adalah pembahasan teramat penting dan paling lembut. Kita membutuhkan komitmen intelektual dan komitmen moral yang tinggi.

(323) The essay was completed by the hand of one who is in need of the mercy of the Eternal God, Muhammad b. Ibrāhīm who is known as “Ṣadr al-Shīrāzī,” may God gives them their book in their right hands. I wrote this in a state of praising God, venerating His greatness, and glorifying Him, and offering my prayer to His prophet and his family, asking forgiveness for my sins and wrong doings.

(323) Karya ini diselesaikan oleh tangan seseorang yang membutuhkan karunia Tuhan Maha Abadi, Muhammad bin Ibrahim yang dikenal sebagai “Sadra al Shirazi,” semoga Tuhan menganugerahi buku mereka pada tangan kanan. Saya menulis ini dalam suasana memuji Tuhan, mengagungkan kebesaran Nya, dan memuja Nya, dan menyampaikan salamku kepada Nabi Nya dan keluarganya, memohon ampunan atas dosa dan kesalahanku.

Seluruh wacana, dari Wacana 1.1 sampai Wacana 3.2, bersumber dari karya Sadra berjudul “Zaad Musafir” atau “Bekal Pengembara.” Wacana berikutnya tetap bersumber dari karya Sadra tetapi dari buku yang berbeda.

Wacana 3.3: Kreativitas Tersembunyi

Kita mengalami hidup di dunia ini secara langsung. Kita bukan hidup melalui representasi, bukan melalui pencitraan, dan bukan melalui aksi interpretasi. Kita benar-benar hidup secara langsung: kita benar-benar bahagia, kita benar-benar berduka, kita benar-benar minum air segar, kita benar-benar luka tertusuk duri, kita benar-benar terpesona oleh cinta.

Pengalaman hidup nyata di alam eksternal itu, di saat yang sama, semua tersembunyi berada dalam eksistensi diri kita sendiri. Semua yang eksis di alam eksternal itu juga eksis dalam wujud kita sendiri. Semua kebaikan Anda kepada tetangga adalah kebaikan kepada diri sendiri. Semua bakti Anda kepada negara adalah bakti kepada diri sendiri. Orang yang jahat mencuri dan korupsi adalah merusak diri mereka sendiri. Semua amal kebaikan Anda adalah, juga, kebaikan kepada eksistensi diri sendiri.

(323) All that man actually conceives or perceives—whether through intellection or sensation, and whether in this world or in the hereafter—are not things separate from his reality and different from his being. Rather, that which he perceives exists in his being, not in something else.

(323) Semua yang orang pahami dan persepsi – apakah melalui intelek atau indera, dan apakah di dunia ini atau dunia nanti – bukanlah sesuatu yang [1] terpisah dari realitas dirinya dan [2] berbeda dari wujud dirinya. Yang lebih benar, apa yang dia persepsi eksis di dalam wujud dirinya, bukan dalam sesuatu yang lain.

Bahkan, semua rahasia kehidupan setelah mati juga ada dalam diri kita sendiri. Dengan demikian, diri kita menyimpan seluruh khazanah semesta. Kita memiliki bekal kreativitas tanpa batas. Atau, kreativitas selalu mampu menerobos setiap batas. Tugas kita adalah mengungkapkan kreativitas menjadi karya-karya penuh kualitas.

Wacana 3.4: Karakter adalah Masa Depan

Kita memiliki masa depan. Manusia memiliki masa depan. Atau, manusia adalah milik masa depan. Masa depan seperti apa yang menjadi cita-cita?

(324) The conceptions, habits, and firmly rooted psychological dispositions cause external effects. This happens quite frequently, as in the blushing of an embarrassed person, the pallor of someone who is frightened, and the excitement of the sexual organ simply by the conception of intercourse, or nocturnal emissions during sleep.

(324) [1] Pemahaman, [2] kebiasaan, dan [3] watak psikologis yang mengakar kuat memiliki efek nyata di dunia eksternal. Hal ini sering terjadi, misal wajah memerah pada orang yang malu, pucatnya orang yang ketakutan, organ seksual yang bergairah hanya karena membayangkan hubungan, atau ejakulasi ketika tidur.

Tabur benih, tuai padi. Tabur ilmu, tuai amal. Tabur amal, tuai kebiasaan. Tabur kebiasaan, tuai karakter. Tabur karakter, tuai takdir masa depan.

Ilmu dan amal ada dalam genggaman kita. Konsekuensinya, takdir masa depan juga ada bersama diri kita.

Wacana 3.5: Masa Depan Terbuka

Jiwa kita memang satu sebagai individu. Tetapi, mode-eksistensi kita terbentang luas. Kita bisa menjelajah dari ujung timur sampai ujung barat. Kita bisa menelusuri waktu dari masa depan, masa lalu, dan masa kini. Eksistensi alam raya terbuka luas.

(325) The individual unity of everything, which is its own existence, is not according to one manner and of one degree. It is like existence which is not of one mode. The individual unity of that which is extended in space and whose parts are connected (i.e., material bodies) is its own extension and connection. And (the individual unity) of things that are extended in time and move in existence is its own renewal and termination.

(325) Kesatuan individual segala sesuatu, yang merupakan milik eksistensi, bukanlah milik satu keadaan atau satu tingkat tertentu. Demikian halnya, eksistensi bukan hanya memiliki satu mode. Kesatuan individual yang [1] membentang dalam ruang dan bagian-bagiannya terhubung (yaitu badan materi) adalah milik [individual] bentangan dan hubungannya sendiri. Dan (kesatuan individual) sesuatu yang [2] membentang dalam waktu dan bergerak dalam eksistensi adalah milik [individual] pembaharuan dan perhentiannya sendiri.

Bentangan alam raya, bentangan masa, adalah bentangan eksistensi jiwa kita. Masa depan alam raya terbuka untuk setiap jiwa yang bersedia bersikap terbuka.

(325) In number, is its own actual multiplicity, and of natural bodies is its own being potentially multiple. But the unity of the immaterial substances is different from that of the material substances. This is because it is impossible for a single material body to become a subject of contradicting attributes such as blackness and whiteness … this is because of its deficient existence … which cannot contain contradicting things. This is indicated by the fact that the location of the organ of vision in the human body is separated from that of hearing, and the location of smelling is separated from that of tasting. But the human soul, although it is one, contains the forms of blackness and whiteness and other contradictory things … what explains this matter and clarifies it is the fact that what perceives by all senses, imagination, and intellection and that which executes all natural, animalistic, and human activities is his managing soul. It is capable of descending to the degree of the senses and material faculty, and at the same time it is capable of ascending to the active intellect and what is beyond it. This is because its existence is more comprehensive.

(325) Dalam [1] bilangan, memiliki keragaman aktualnya sendiri, dan dalam [2] badan alamiah adalah memiliki keragaman potensialnya sendiri. Tetapi kesatuan substansi immaterial berbeda dari substansi material. Hal ini karena tidak mungkin dalam satu badan material menampung sifat yang berkontradiksi misal hitam dan putih… karena kelemahan eksistensinya… yang tidak mampu menampung sesuatu yang kontradiksi. Hal ini ditunjukkan oleh fakta bahwa [1] lokasi organ penglihatan pada badan manusia terpisah dari organ pendengaran, [2] lokasi organ penciuman terpisah dengan pengecap rasa. Tetapi jiwa manusia, meski hanya satu, bisa menampung [1] forma putih dan hitam dan [2] sesuatu lain yang kontradiksi… yang menjelaskan masalah ini dan menerangkannya fakta bahwa yang mem-persepsi semua [1] indera, [2] imajinasi, [3] inteleksi dan yang menjalankan semua [1] alami, [2] hewani, [3] manusiawi adalah managing-soul (jiwa-pengaturnya). [Jiwa] ini mampu [1] turun ke derajat indera dan fakultas material, dan di saat yang sama, [2] mampu naik ke derajat Akal Aktif dan [3] yang melampauinya. Hal ini karena eksistensinya lebih komprehensif [sempurna].

4. Wacana Analisa

Makin jauh kita melakukan analisa maka makin banyak tanda tanya. Memang demikianlah manusia. Kita sejak masa kanak-kanak suka mengajukan pertanyaan. Setiap anak-anak adalah filsuf. Meskipun, akhirnya, ketika dewasa tinggal sedikit manusia yang terus bertanya. Anda termasuk yang mana?

4.1 Modus Dunia
4.2 Ragam Definisi
4.3 Makna Kematian
4.4 Disrupsi
4.5 Etika Karakter dan Rasa Peka
4.6 Masa Metafora: Akumulasi Futuristik
4.7 Tanda Tanya

Analisa kita akan mulai dengan modus dunia dan diakhiri dengan tanda tanya.

4.1 Modus Dunia

Ada tiga modus dunia: (1) material; (2) imajinal; (3) intelektual. Apa istimewanya dengan tiga modus dunia seperti itu? Bukankah itu hal yang logis belaka?

Pembagian 3 modus dunia menjadi istimewa karena dilengkapi dengan prinsip-prinsip realitas. (1) Keragaman wujud adalah identik dan identitas wujud adalah beragam. Meski ada tiga rumah eksistensi, yaitu tiga modus dunia, tetapi semua itu adalah wujud tunggal. Mereka semua dalam naungan wujud tunggal. Meski wujud adalah tunggal, wujud bermanifestasi menjadi tiga rumah eksistensi. Masing-masing rumah dihuni lebih banyak dan beragam eksistensi individuasi. Ada batu ini dan pohon itu. Ada kucing ini dan singa yang itu. Ada laki-laki tetangga sebelah rumah dan ada wanita penyiram bunga itu. Wujud tunggal bermanifestasi dalam keragaman.

(2) Prinsip wujud bergradasi sistematis. Setiap wujud yang lemah membutuhkan wujud yang lebih kuat. Dan wujud yang kuat merangkul wujud lemah secara langsung. Modus material, misal tangan Anda, membutuhkan modus imajinal, misal jiwa Anda. Karena Anda punya jiwa maka tangan Anda memang menjadi tangan. Tetapi, jika jiwa sudah pergi dari badan, misal pada orang yang meninggal, maka tangan berubah menjadi hanya tulang dan daging belaka. Sebaliknya tidak terjadi. Jiwa tidak harus membutuhkan tangan. Jiwa seorang manusia tetap menjadi jiwa seutuhnya meski pun orang tersebut, misal, tidak memiliki tangan.

Prinsip gradasi ini menjadi solusi terhadap makna kematian, kita bahas di bagian bawah lebih detil. Ketika seseorang mati, maka badannya dan termasuk tangannya ditinggal di bumi. Badan tetap berada pada modus material dan terus berproses sesuai hukum material di bumi, dikubur, terurai oleh bakteri, dan lain-lain. Tetapi, jiwa orang tersebut tetap eksis di dunia modus imajinal sebagai individu yang sama. Jiwa individu itu memiliki badan yang baru dan, termasuk, memiliki tangan yang baru dalam modus imajinal. Orang tersebut melanjutkan karir dalam dunia imajinal.

Perlu kita catat bahwa dunia imajinal bersifat subyektif dan obyektif. Subyektif karena forma-forma imajinal diciptakan dan bersesuaian dengan subyek. Obyektif karena eksis forma-forma imajinal yang mandiri dari subyek. Jadi modus imajinal adalah mirip dengan modus material. Hanya saja, modus imajinal lebih terang-benderang karena tidak ada halangan material lagi. Setiap nikmat terasa lebih nikmat. Demikian juga kepedihan.

(3) Prinsip gerak substansial selalu menuju kesempurnaan. Modus material selalu bergerak untuk lebih sempurna menuju modus imajinal, kemudian, modus intelektual. Masa kanak-kanak Anda lebih sempurna dari bayi. Masa tua Anda lebih sempurna dari masa remaja. Tentu, kematian seseorang adalah lebih sempurna dari masa hidup di dunia. Seperti tidak logis. Terlalu optimis. Tetapi, kita bisa memahami prinsip ini dengan baik. Karena segala sesuatu selalu bergerak lebih sempurna maka sikap paling tepat adalah kita selalu bersyukur.

Realitas memang selalu makin sempurna tetapi tersedia pilihan untuk menentukan yang paling sempurna.

Sekolah SMA Anda pasti lebih sempurna dari sekolah SMP. Karena, ketika Anda SMA pasti Anda sudah lulus SMP. Pertanyaannya: lebih sempurna SMA 1 atau SMA 2? Anda perlu melakukan analisis mendalam untuk menentukan pilihan. SMA 1 dibanding SMA 2 banyak faktor saling bersaing. Apa pun pilihan Anda, SMA 1 atau SMA 2, tetap saja lebih sempurna dari SMP.

Menteri yang divonis korupsi apakah lebih sempurna dibanding dia, menteri itu, sebelum korupsi? Benar.

Tetapi, awalnya, menteri itu bisa memilih korupsi atau tidak. Tentu saja, memilih tidak korupsi adalah lebih baik dan lebih sempurna. Jika dia milih korupsi maka vonis adalah sempurna.

Neo Platonis

Pemikir Neo Platonis semisal Plotinus, dan muridnya bernama Porphyry (234 – 305), sudah mengembangkan modus wujud seperti di atas. Terdapat dua modus: (1) sensible dan (2) intelligible. Modus sensible adalah modus material. Sedangkan modus intelligible terbagi tiga: (a) jiwa, (b) intellect, dan (c) The One. Jiwa adalah modus imajinal, intellect adalah modus intelektual, dan The One adalah Tuhan Yang Maha Esa.

Banyak orang memahami neo Platonis seperti di atas sebagai dogmatis. Sementara, modus wujud dari Sadra jelas-jelas dinamis karena ada gerak substansial, salah satunya. Pemikir Barat kontemporer tidak tertarik dengan konsep neo Platonis karena anggapan mereka sebagai dogmatis. Perlu perjalanan intelektual panjang untuk bisa menjadi dinamis.

Ibnu Sina (980 – 1037) mengenalkan konsep wujud-mumkin. Bahwa eksistensi material bersifat mumkin, posible, sehingga bisa eksis atau tidak eksis. Perlu suatu dinamika untuk memastikan eksistensi material agar benar-benar eksis.

Suhrawardi (1154 – 1191) mengenalkan konsep most-noble-contingency atau imkanur ashraf (IA). Jika wujud dengan posibilitas rendah eksis maka wujud dengan posibilitas lebih tinggi, yang meliputi lebih rendah, pasti sudah eksis. IA menjamin wujud rendah perlu hadir dalam rangkulan wujud lebih tinggi.

Ibnu Arabi (1165 – 1240) menyatakan bahwa seluruh alam raya adalah manifestasi dari wujud Tuhan. Seluruh alam rindu untuk mendekat kembali kepada Yang Maha Sempurna. Wujud alam bergerak menuju Wujud Sempurna.

Sadra (1572 – 1640) membuat sintesa kreatif neo Platonis, Ibnu Sina, Suhrawardi, dan Ibnu Arabi menghasilkan konsep prioritas wujud dengan tiga modus wujud di atas.

Problem Sains Empiris

Beberapa saintis menolak semua modus wujud kecuali modus material atau modus sensible. Sehingga, sains bersifat materialis. Konsekuensinya terjadi banyak problem dalam sains.

Atas dasar argumen apa bahwa materialisme adalah valid? Argumen tersebut pasti melibatkan argumen rasional, langsung atau tidak. Argumen rasional adalah modus imajinal atau modus intelektual. Dan sekuat apa pun bukti empiris tidak akan mampu membatalkan eksistensi modus imajinal dan intelektual.

Kita bahas lagi hard problem atau easy problem: bagaimana kesadaran bisa muncul dari materi otak manusia?

Misal ditemukan bahwa dari materi A, dalam otak, muncul kesadaran. Kita masih bisa bertanya: bagaimana dari materi A bisa muncul kesadaran? Karena materi A melakukan proses B. Bagaimana dari proses B bisa muncul kesadaran? Selalu ada pertanyaan tertentu yang tidak bisa dijawab oleh materialisme. Karena, materialisme terjebak dalam falasi petitio-principii atau begging-question.

Untung saja beberapa saintis atau filsuf sains berpikir terbuka. Karl Popper (1902 – 1994) yang terkenal dengan konsep falsifikasi mengenalkan konsep tiga dunia. (1) Dunia alam eksternal obyektif, (2) dunia subyektif, (3) dunia obyektif non material.

Russell (1874 – 1972) menyatakan bahwa konsep dunia forma atau dunia idea dari Plato, yang bersifat non materi, adalah konsep terbaik yang harus diterima oleh sains.

Saat ini, sains mengarah kepada ontologi fundamental berupa hampa quantum (non materi). Atau, medan gravitasi yang non materi juga.

Saintis yang serius memang perlu berpikir terbuka terhadap non materi.

4.2 Ragam Definisi

Apa definisi jiwa?

Jiwa adalah spirit. Jiwa adalah ruh. Jiwa adalah batin. Jiwa adalah sisi non-materi manusia yang berpasangan dengan badan. Jiwa adalah substansi non-materi yang bekerja melalui materi badan. Jiwa adalah kehidupan. Jiwa adalah forma badan. Jiwa adalah diferensia badan. Jiwa adalah manusia. Jiwa adalah akal. Jiwa adalah rasional. Jiwa adalah pemersatu persepsi. Jiwa adalah akumulasi persepsi.

Kita masih bisa menambah definisi jiwa lebih banyak lagi. Bagaimana pun, definisi jiwa tidak pernah tuntas. Definisi hanya berguna sebagai petunjuk awal untuk mengkaji jiwa. Karena, jiwa adalah eksistensi realitas.

Berbeda halnya dengan esensi bilangan, misalnya, kita bisa mendefinisikan bilangan ganjil.

Bilangan ganjil adalah yang sisa 1 bila dibagi 2.

Definisi bilangan ganjil di atas benar-benar jelas. Bilangan 5 adalah ganjil karena sisa 1 bila dibagi 2. Sedangkan, bilangan 6 tidak ganjil karena tidak sisa 1.

Jiwa adalah manusia. Definisi seperti ini hanya berguna sebagai kajian awal. Jika jiwa adalah manusia maka apa manusia itu? Akal adalah yang paling menentukan dari manusia. Jadi, jiwa adalah akal. Bagaimana pun, kita perlu deskripsi lebih lengkap dari jiwa sebagai akal.

(1) Jiwa adalah rasional. Akal yang mampu berpikir rasional adalah penentu jiwa. Untuk bisa berpikir rasional, manusia perlu sikap reseptif, terbuka, terhadap beragam data. Kemudian, menerapkan konsep-konsep pikiran rasional secara bebas untuk menentukan sikap atau penilaian.

Konsekuensinya, jiwa memiliki freedom untuk menentukan pilihan dan harus bertanggung jawab atas pilihan itu. Jiwa manusia, berkembang secara sosial, mengembangkan beragam budaya yang diwariskan turun-temurun.

Tentu saja, untuk bisa berpikir rasional, jiwa perlu mempertahankan diri dengan nutrisi, reproduksi, dan perlindungan badan.

(2) Jiwa adalah ruh yang mengendarai badan. Jiwa, sebagai ruh, adalah mirip dengan pilot dan badan adalah pesawat. Jiwa mengarahkan badan sesuai keperluan jiwa. Setelah cukup perjalanan, jiwa meninggalkan badan.

(3) Jiwa adalah tidak ada atau nothingness. Beberapa saintis materialis mengkaji kesadaran jiwa di sel-sel otak manusia. Mereka tidak menemukan eksistensi jiwa. Mereka menyimpulkan bahwa jiwa adalah nothingness. Istilah jiwa, seperti pada umumnya, adalah sekedar untuk memudahkan pembicaraan belaka. Psikologi modern tampaknya banyak yang sepakat dengan pandangan materialis.

Sartre (1905 – 1980) barangkali filsuf paling terkenal dengan konsep kesadaran jiwa adalah nothingness. Kesadaran adalah being-for yang selalu me-negasikan diri sendiri, “Saya bukan ini dan ini bukan saya.” Karena negasi, maka bebas tidak bisa diikat oleh apa pun. Freedom. Being-for selalu menolak terhadap ikatan dan memang tidak bisa diikat. Karena being-for memang nothingness. Bagaimana bisa mengikat nothingness?

Konsep jiwa sebagai freedom banyak mempengaruhi pikiran orang kala itu. Sehingga, rakyat bangkit untuk memperjuangkan freedom mereka. Secara sosial berdampak besar. Sedangkan secara filosofis masih ada perdebatan panjang.

(4) Jiwa adalah persepsi. Jiwa adalah akumulasi persepsi. Hume (1711 – 1776) adalah pemikir pertama yang dengan tegas menyatakan bahwa jiwa adalah sekedar akumulasi persepsi. Sejatinya, jiwa itu tidak ada. Hanya saja karena manusia punya persepsi terhadap alam sekitar, dan persepsi sebagai pengamat, maka untuk menyatukan semua persepsi, kita menyebutnya sebagai jiwa. Pandangan seperti ini menjadi kontroversi sampai kini. Jiwa runtuh menjadi sekedar persepsi.

Derek Parfit (1942 – 2017) mengembangkan lebih banyak argumen. Eksperimen pikiran fiksi ilmiah menjadi makin menarik berkenaan teleportasi. Anda masuk ke ruang khusus di Jakarta. Hanya dalam 1 detik Anda sudah terkirim sampai London, misalnya. Teleportasi bukan seperti Anda naik pesawat super cepat dari Jakarta sampai London. Tetapi, badan Anda di Jakarta dimusnahkan, di saat yang sama, dirangkai badan baru di London yang sama persis dengan badan Anda. Karena secara material sama persis, maka Anda yang di London memiliki memori dan persepsi yang sama dengan Anda. Konsekuensinya, yang di London itu memang Anda karena jiwanya sama juga dengan Anda.

Tentu saja, bisa terjadi kesalahan teknis. Badan Anda di Jakarta batal dihancurkan. Sementara, badan Anda di London sudah terlanjur diproduksi. Jadi ada dua orang sebagai Anda. Anda bingung. Istri Anda lebih bingung lagi: bagaimana bisa punya dua suami yang sama persis? Apakah Anda akan bertengkar dengan kembaran atau malah bersahabat?

(5) Jiwa adalah substansi ilahiah. Beberapa agama meyakini bahwa jiwa manusia adalah substansi spesial karunia dari Tuhan. Manusia adalah makhluk pilihan Tuhan dengan misi suci di bumi.

Kita masih bisa menambah keragaman definisi jiwa. Berikutnya, kita mencoba menerapkan konsep jiwa ke selain manusia. Apakah mereka juga punya jiwa? Hewan, tumbuhan, jin, malaikat, elektron?

(1) Jiwa hewan. Umumnya, para pemikir setuju bahwa hewan punya jiwa. Tetapi jiwa hewan tidak sampai ke taraf rasional. Akibatnya, hewan tidak memiliki freedom, tidak punya tanggung jawab moral, dan tidak bisa berdosa. Jiwa hewan, misal kucing, mampu melakukan persepsi dan imajinasi, menggerakkan badan dengan bebas, mendekati kenikmatan dan menjauhi ancaman, mampu nutrisi, reproduksi dan lain-lain.

Meski hewan memiliki kebebasan bergerak tetapi tidak sanggup memahami konsep moral. Sehingga tidak ada hewan jahat, tidak ada hewan bejat, tidak ada hewan penipu sesat. Jiwa hewan memang begitu adanya. Baik-baik saja.

(2) Jiwa tumbuhan. Secara umum, para pemikir sepakat bahwa tumbuhan memiliki jiwa. Tanpa rasional dan tanpa imajinasi. Jiwa tumbuhan mampu reseptif, terbuka, untuk merespon lingkungan. Mampu organisasi diri, nutrisi, dan reproduksi. Tentu saja, jiwa tumbuhan tidak pernah berdosa.

(3) Jiwa jin atau setan atau iblis. Pandangan umum, jin mirip dengan manusia hanya berbeda badan materi mereka. Badan mereka tersusun oleh api atau energi panas. Bila demikian, jin memiliki jiwa rasional sehingga bertanggung jawab atas perilaku moral mereka.

(4) Jiwa malaikat. Pandangan umum, malaikat adalah ruh murni, cahaya sejati, sehingga malaikat tidak memiliki jiwa. Malaikat adalah ruh suci.

(5) Jiwa elektron atau unsur. Pandangan umum, unsur tidak memiliki jiwa. Unsur, termasuk partikel sub-atomik, hanya memiliki besaran massa materi atau energi. Mereka tidak mampu organisasi diri mau pun reproduksi. Mereka hanya mampu interaksi, aksi dan reaksi, berdasar hukum alam.

Dengan perluasan jiwa pada hewan dan tumbuhan maka memiliki jiwa menjadi sinonim dengan, sebagai, makhluk hidup yang dikaji melalui biologi.

Kembali kepada kajian kita, akan lebih mudah bila kita memilih definisi jiwa adalah diferensia dari badan materi. Sebutir biji kacang tidak memiliki jiwa. Petani menanam biji kacang itu; interaksi dengan alam sekitar; biji tumbuh menjadi benih; sempurna sebagai pohon kacang yang memiliki jiwa tumbuhan. Awalnya, biji kacang terikat oleh materi biji tersebut. Akhirnya, jiwa pohon kacang lebih menentukan sebagai diferensia. Daun boleh berganti, batang boleh berganti, berbuah biji kacang boleh dipetik, selama dia pohon kacang maka tetap sebagai pohon yang sama.

Telur ayam tidak memiliki jiwa, awalnya. Induk ayam mengerami telur itu. Beberapa pekan kemudian, telur menetas menjadi anak ayam sempurna dengan jiwa hewan. Anak ayam tumbuh menjadi ayam besar. Bulu ayam boleh berganti, ujung paruh ayam bisa patah sebagian, ujung kuku bisa berganti, tetapi dia tetap menjadi ayam yang sama; ayam dengan jiwa hewan yang sama. Ayam itu tidak lagi tergantung oleh materi badannya. Selama masih hidup, masih punya jiwa, dia tetap ayam. Jika jiwa telah pergi maka badan ayam itu berubah menjadi daging ayam. Jadi, diferensia jiwa lebih konkret dari genus badan.

Sel telur di rahim ibu adalah tidak memiliki jiwa. Tanpa pembuahan, sel telur akan dibuang, dibersihkan. Sel sperma dari ayah juga tidak berjiwa. Jika tercecer di kasur, perlu dibersihkan. Suatu saat, sel sperma membuahi sel telur. Janin tumbuh penuh kasih sayang di rahim ibu. Lalu lahir sebagai seorang bayi sempurna memiliki jiwa manusia. Tumbuh kembang sebagai kanak-kanak, remaja, dan manusia dewasa. Rambut manusia boleh dicukur, kuku dipotong, bahkan alis atau kumis kadang dicukur habis, dia tetap menjadi manusia yang sama. Selama jiwa dikandung badan maka tetap sebagai manusia. Jadi, jiwa lebih menentukan.

Bagaimana jika jiwa manusia tetap sama, sedangkan seluruh anggota badan diganti dengan badan lain? Apakah jiwa itu tetap menjadi jiwa individu yang sama? Benar. Ketika manusia mati, jiwanya tetap eksis dengan mengembangkan badan baru berupa badan imajinal. Kita akan membahas makna kematian berikut ini.

4.3 Makna Kematian

Masing-masing orang bisa memaknai kematian dengan cara berbeda-beda. Kematian adalah proses jiwa berpindah dari mode material ke mode imajinal sampai mode intelektual. Untuk membahas ini, kita perlu mempertimbangkan paradoks perahu Theseus dari mitos Yunani Kuno.

(1) Paradoks Perahu Theseus

Terdapat banyak versi paradoks. Perahu Theseus terdiri dari 100 papan. Setiap hari, kita mengganti 1 papan dengan 1 papan baru lainnya. Setelah 100 hari, seluruh badan perahu sudah diganti dengan papan yang baru. Apakah itu tetap perahu Theseus yang sama? Atau perahu yang berbeda? Jika berbeda, sejak pergantian papan hari ke berapa menjadi perahu berbeda?

Alternatif paradoks bisa berupa dua perahu. Perahu Timur di sebelah timur dan perahu Barat di sebelah barat. Setiap hari, kita menukar 1 papan perahu Timur dengan 1 papan perahu Barat. Setelah 100 hari, seluruh papan, pada kedua perahu, sudah tertukar. Apakah yang di sebelah timur tetap perahu Timur? Atau menjadi perahu Barat? Bila berubah, sejak hari ke berapa?

Heraclitus (500 SM) menyatakan paradoks sungai. “Anda tidak pernah bisa menyeberangi sungai yang sama dua kali.” Ketika Anda menyeberangi sungai kedua kali, air sungai sudah berganti. Dan, Anda sendiri sudah berubah, bertambah umur beberapa menit. Tetapi, ketika di kampung, saya sering menyeberangi sungai yang sama sampai 3 kali. Mau 5 kali juga bisa. Jadi, apa yang sebenarnya terjadi?

Yang sebenarnya terjadi adalah jiwa sebagai penentu realitas individu. Jika Anda mengatakan perahu telah berubah maka Anda sudah berkata benar. Jika Anda mengatakan perahu tidak berubah, perahu tetap sama, maka Anda sudah berkata benar. Begitu juga tentang sungai. Anda mengatakan sungai sudah berubah atau masih tetap maka Anda sudah berkata benar. Bagi mereka yang tidak memiliki jiwa, bagi perahu dan sungai, Anda bebas memberi penilaian: sudah berubah atau masih tetap sama.

Tetapi bagi diri Anda, yang sudah bertambah tua 2 menit untuk menyeberangi sungai kedua kalinya, adalah tetap diri Anda yang sama. Jiwa Anda tetap jiwa Anda. Penambahan usia 2 menit, atau 2 bulan, atau 2 tahun, hanya menambah jiwa Anda makin sempurna.

Ketika Anda kredit motor 2 tahun, sambil membayar angsuran pertama, Anda membawa pulang motor. Bulan kedua Anda wajib membayar cicilan. Anda yang bertambah umur satu bulan ini, yang wajib bayar cicilan, adalah tetap sama dengan Anda yang membawa pulang motor bulan lalu. Anda tetap sama secara hukum, secara ekonomi, dan secara realitas eksistensi individu. Jadi, jiwa Anda tetap sebagai individu yang sama, bahkan makin sempurna.

Suatu saat akan tiba, kita akan mati. Jiwa kita tetap sama dengan diri kita. Yang merasakan nikmat kubur atau siksa kubur adalah tetap jiwa kita yang ini. Semoga kita berada di jalan terang-benderang.

(2) Kematian Fisik

Kematian bukanlah mati sebenarnya. Kematian fisik material adalah perpindahan jiwa dari mode material menuju mode imajinal yang terlepas dari halangan material. Sains materialis menghadapi kesulitan di sini. Karena mereka hanya percaya mode material maka setelah kematian hilang segalanya.

Hawking (1942 – 2018), fisikawan terkenal, pernah mengatakan bahwa setelah kematian adalah gelap semata. Asumsikan itu benar maka kita tidak bisa generalisasi. Kita tidak bisa menyimpulkan bahwa semua kematian adalah gelap semata. Barangkali, ketika meninggal, Hawking mengalami gelap. Satu tahun setelah meninggal, bisa saja dia mengalami cahaya terang. Bahkan, kita dan Hawking tidak tahu apa yang dialami neneknya setelah meninggal: gelap atau cahaya.

Sains materialis tidak berhak mengatakan apa pun tentang nasib jiwa setelah kematian badan. Karena materialis tidak mengakui mode imajinal dan mode intelektual. Mereka hanya boleh klaim, “Kami tidak tahu.”

Sementara itu sains rasionalis, filsafat, agama, dan lain-lain masih boleh terus mengkaji kehidupan setelah kematian badan material. Kematian adalah proses perpindahan jiwa dari dunia material ke dunia imajinal.

(3) Gelisah Menghadapi Mati

Siapa pun orangnya, pernah gelisah menghadapi kematian. Anda merasa gelisah menghadapi kematian Anda. Bayangkan ajal Anda tiba. Apa yang akan terjadi? Bagaimana sakitnya? Sangat menakutkan. Bagaimana nasib Anda setelah mati? Bagaimana nasib anak cucu Anda? Gelisah menghadapi kematian diri.

Ada banyak cara merespon gelisah menghadapi kematian.

[1] Menyibukkan diri dalam kehidupan sehari-hari. Bekerja dari pagi sampai sore. Lanjut dengan kegiatan malam sampai jelang tidur. Bangun tidur pagi hari lalu berangkat kerja lagi. Kita bisa lupa akan kematian. Gelisah hilang karena kita sibuk setiap hari. Tetapi, di sela-sela kesibukan, tiba-tiba gelisah datang juga.

[2] Menyibukkan diri dengan hobi yang membuat Anda benar-benar menyelam di dalamnya. Barangkali hobi seni dan olah raga bisa membuat Anda menikmati flow, mengalir dalam pesona. Bagaimana pun, gelisah ingat mati akan datang sewaktu-waktu.

[3] Beberapa orang menggunakan obat penenang agar tidak gelisah. Hati-hati karena resiko tinggi. Sebaiknya dihindari. Gelisah tetap datang lagi.

[4] Mendalami praktek agama atau meditasi bisa membuat hati tenang. Merenungi kitab suci, membaca doa dini hari, dan ibadah jasmani mau pun ruhani. Keunggulan agama adalah mampu membimbing umat untuk menghadapi kematian dan menerangi jalan setelah mati. Sesekali, gelisah akan mampir lagi.

[5] Menerima gelisah itu sendiri. Kemudian, memaknai gelisah dengan baik. Setiap gelisah datang, maknanya adalah sedang ada ketukan ke dalam diri. Ada panggilan nurani untuk menciptakan arti bagi dunia dan semua yang ada baik di masa depan, masa lalu, mau pun masa kini. Respon ini, berupa siap menerima gelisah, adalah respon yang otentik.

Heidegger (1889 – 1976) banyak membahas tema gelisah menghadapi kematian. Kita pasti akan mati. Lebih dari itu, kita memang butuh mati. Dengan mati, semua perjalanan hidup menjadi ada arti. Mati adalah yang memberi arti kepada setiap detik diri Anda. Mati adalah titik akhir yang menjadi referensi. Mati menjadikan diri kita utuh sempurna.

Tanpa kematian maka semua kehilangan makna. Anda bisa merevisi semua kerja Anda di masa depan, kapan saja, karena tidak akan mati. Semua tak ada guna. Atau, misal, setiap orang bisa mati kemudian bisa hidup lagi maka semua makna juga sirna. Seperti main game, setiap mati boleh mulai lagi. Hidup ini jadi sekedar game belaka. Justru karena Anda pasti akan mati maka hidup ini menjadi penuh arti. Dan, mati itu sendiri penuh arti. Hidup cukup satu kali, berarti, lalu mati.

Mati adalah niscaya dan kita perlu menerimanya dengan memberi makna. Kita bisa memaknai ajal dalam tiga tahap: pra-ajal, ketika-ajal, dan pasca-ajal.

Tahap (1): pra-ajal. Ajal adalah referensi bagi seluruh kehidupan. Seluruh kehidupan pra-ajal mengacu kepada ajal. Makna bisa beragam. Tetapi ajal adalah pasti bagi setiap orang. Sehingga, ajal adalah referensi paling pasti.

Orang yang tiba ajalnya, mati, sebagai pahlawan maka dia adalah pahlawan. Meski dalam hidupnya, dia pernah jadi pecundang, pernah jadi penjahat, pernah berbuat dosa, itu semua adalah pengantar bagi dirinya untuk menjadi pahlawan. Kita menyebut orang yang mati dengan baik sebagai husnul khatimah atau akhiran baik. Kita seharusnya mengejar cita-cita untuk meraih akhiran baik.

Kita perlu waspada terhadap ilusi masa lalu dan menggantinya dengan logika futuristik. Karena masa lalu, dia adalah orang baik maka saat ini dia adalah orang baik. Bisa hanya ilusi itu. Atau, karena di masa lalu, dia adalah orang jahat maka dia adalah orang jahat. Bisa ilusi juga ini. Sebaliknya dari masa lalu, kita perlu berpikir masa depan: logika futuristik. Karena dia sedang mengejar masa depan yang baik, misal husnul khatimah, maka dia adalah orang baik. Kesimpulan yang tepat tetapi belum tentu benar. Mengapa?

Jawabannya: karena kita tidak tahu masa depan yang dia kejar apakah benar-benar baik. Jadi, penilaian kita terhadap dia besifat fallible, bisa saja salah. Justru, karena fallible maka kita perlu lebih teliti. Kita berpikir dengan sikap terbuka terhadap masa depan. Dalam beberapa kasus, kita perlu musyawarah dan demokrasi untuk bisa menentukan masa depan orang atau masa depan masyarakat. Meski demikian, hasil musyawarah tetap fallible dan, diharapkan, bisa lebih baik.

Untuk kepentingan penilaian pribadi, logika futuristik lebih efektif. Anda bisa menetapkan bahwa tujuan Anda ketika ajal adalah akhiran baik. Karena itu, Anda saat ini menjadi orang baik. Karena ajal bisa datang 10 tahun lagi atau hari ini, maka kita perlu bersikap baik kapan pun. Target futuristik bisa kita buat secara bertahap: 7 tahun lagi saya akan menjadi pengusaha sukses; 4 tahun lagi saya lulus sarjana; 1 tahun lagi saya menyelesaikan proyek besar; 1 bulan lagi saya membuat ringkasan buku Logika Futuristik; 1 hari lagi saya memenuhi janji; dan saat ini saya sedang menuju masa depan itu.

Masa depan menarik diri kita untuk menuju masa depan. Masa lalu hanya menyiapkan diri kita agar kita bisa maju menuju masa depan. Jadi, masa depan adalah yang paling berarti setiap hari. Bersiaplah untuk meraih akhiran yang baik. Masa depan bisa saja tidak pasti. Tetapi, mati adalah pasti.

Ringkasnya, makna mati bagi kehidupan pra-ajal adalah sebagai kekuatan maha dahsyat yang menarik semua kehidupan individu untuk mendekatinya dan memeluknya. Sekaligus, mati adalah referensi bagi semua arti dalam hidup ini. Ingat selalu, kita pasti akan mati. Mati adalah sempurna.

Tahap (2): ketika-ajal. Ajal terjadi ketika mode imajinal begitu kuat sehingga mode material tidak lagi memadai. Umumnya, orang mati karena sudah tua. Badannya jadi lemah. Akhirnya, mati. Atau, orang muda bisa saja tiba-tiba mati: karena serangan jantung; karena kecelakaan; karena diserang lawan.

Orang menduga kematian disebabkan oleh tubuh yang gagal berfungsi, misal, gagal jantung. Karena jantung tidak bisa lagi mengalirkan darah ke seluruh tubuh maka orang tersebut menjadi mati. Bila demikian, kondisi hidup seseorang ditentukan oleh badannya. Kondisi diferensia, yaitu jiwa, ditentukan oleh genus, yaitu badan misal jantung. Asumsi seperti ini salah. Karena diferensia adalah realitas eksistensi konkret yaitu jiwa. Jadi, seharusnya dan memang, jiwa adalah yang menentukan seseorang sebagai hidup atau sudah mati.

Pandangan yang lebih benar adalah ajal terjadi ketika jiwa terus bergerak menyempurna sehingga realitas eksistensi jiwa makin tinggi dan intensifikasi substansialitasnya makin kuat. Konsekuensinya, jiwa menjadi mandiri dari badan material dan badan material tidak sanggup lagi mengikuti kemajuan jiwa. Mereka, jiwa dan badan, terpisah: terjadilah kematian. Dengan demikian, mati adalah pasti, niscaya, karena gerak substansial menyempurna adalah niscaya. Jiwa melanjutkan karir untuk gerak lebih sempurna. Badan berubah menjadi daging dan tulang, tanpa jiwa, kemudian melanjutkan siklus alamiah: dikubur, diurai oleh mikroba, dan seterusnya.

Bagaimana rasanya ketika jiwa berpisah dengan badan? Banyak sudut pandang untuk menjawab ini. Tentu saja, jawaban ini bersifat spesial. Mereka yang pernah mengalami tidak bisa bersaksi. Sedangkan, mereka yang bersaksi pasti belum berpengalaman. Bagaimana pun, kita bisa analisis rasional dan mengembangkan interpretasi.

Orang jahat akan merasakan kematian dengan rasa sakit dan derita. Sementara, orang baik akan merasakan kematian sebagai proses yang lembut. Kematian adalah proses bagi jiwa berpindah dari mode material ke mode imajinal; menuju mode eksistensi yang sepenuhnya terbebas dari mode material; atau memiliki badan yang berbeda dengan mode material.

Tahap (3): pasca-ajal. Karir jiwa kita di alam setelah kematian. Pembahasan tema ini makin spesial. Kita membutuhkan rujukan ke ajaran agama dan filsafat.

[1] Plato, Aristo, dan pemikir kuno tampak mudah saja membahas filsafat dan agama. Kisah dewa-dewa Yunani bisa saling berhubungan dengan konsep filsafat. Mereka baik-baik saja.

[2] Farabi (870 – 950) meyakini bahwa filsafat dan agama mengajarkan hakekat kebenaran yang sama. Hanya saja, pendekatan berbeda. Agama menggunakan bahasa perlambang. Sementara, filsafat menggunakan bahasa rasional. Tentu saja, sering terjadi titik temu bahasa perlambang dan rasional pada agama dan filsafat.

[3] Hegel (1770 – 1830) meyakini filsafat dan agama seiring sejalan. Hanya saja, proses dialektika terus berlanjut. Filsafat adalah proses dialektika paling matang.

[4] Sadra (1572 – 1640) meyakini agama dan filsafat adalah sama-sama kebenaran tertinggi. Para tokoh agama memiliki karunia kemampuan “membaca” perlambang dan menuangkan ke bentuk ajaran yang lebih jelas. Sementara, tokoh filsafat “membaca” perlambang dengan kemampuan rasional maksimal. Pada gilirannya, filsafat tetap membutuhkan bimbingan agama. Bagaimana pun, kita tetap perlu waspada karena ajaran agama sering dibelokkan pihak tertentu untuk kepentingan yang tidak layak.

[5] Charles Taylor (1931 – ) melihat bahwa sekularisasi telah memisahkan agama dari beragam sisi kehidupan manusia. Termasuk memisahkan agama dengan filsafat. Tetapi, pemisahan ini tidak selalu berhasil. Atau, sekularisasi tetap saja bisa bersanding dengan agama secara baik. Jadi, saat ini, kita tetap membutuhkan agama. Bahkan, kita makin membutuhkan agama.

Pasca-ajal, jiwa melanjutkan karir ke masa depan yang panjang. Bahkan, masa depan abadi. Pasca-ajal adalah mode imajinal dan mode intelektual yang lebih tinggi dari ruang dan waktu. Sehingga, ketika kita melibatkan ruang waktu maka hanya perlambang.

[a] Mode material. Sesaat setelah kematian, jiwa kita masih sama persis dengan ketika masih hidup di mode material. Jiwa memiliki memori yang kuat sebagai mode material. Jiwa memiliki badan, tangan, dan kaki yang sama seperti semula. Jiwa kita ingat akan anak, cucu, tetangga, sahabat, dan semua yang berhubungan dengannya.

[b] Pembersihan material. Seiring waktu, jiwa membersihkan diri dari ikatan-ikatan material. Mode imajinal makin menguat. Ilusi-ilusi material mulai tersingkap. Salah terlihat salah. Benar terlihat benar.

[c] Mode imajinal. Persepsi jiwa makin bening. Tak ada lagi penghalang material. Jiwa sepenuhnya dalam mode imajinal dengan badan imajinal yang bersesuaian. Jiwa kita memiliki badan yang sama dengan ketika di bumi. Hanya saja, badan imajinal lebih sempurna.

Ketika di bumi, dulu, Anda pernah memberi makan anak yatim yang miskin. Dalam mode imajinal, Anda melihat peristiwa itu dengan lebih bening. Anak yatim tersenyum bahagia memberi salam ke Anda. Anda makin bahagia. Peristiwa itu menjelma menjadi surga yang indah. Anda bisa makan, minum, dan menikmati apa saja yang Anda inginkan. Bahagia tiada tara.

Sebaliknya, pencuri yang korupsi uang sambil terbahak-terbahak melihat peristiwa korupsi itu lebih bening. Korupsi adalah api neraka. Pencuri itu tersiksa dalam kobaran api neraka yang dia buat sendiri ketika di bumi. Derita yang teramat pedih.

Kita berpikir dari bumi, di sini, masih ada problem dalam mode imajinal. Bagaimana jika suami berada di surga sedangkan istrinya ada di neraka?

Tentu saja, suami bisa hidup di surga penuh bahagia dikelilingi bidadari yang lebih cantik dari semua wanita di bumi. Suami itu sudah bisa melupakan istrinya yang di neraka. Lagi pula, istri masuk neraka karena bandel tetap berbuat dosa padahal sudah dinasehati oleh suami. Bagaimana pun, cinta suami kepada istri membuat suami rindu kepada istrinya. Puluhan bidadari bahkan ratusan bidadari tak sanggup menjadi ganti. Apa yang bisa dilakukan oleh sang suami?

Problem sebaliknya lebih rumit. Istri berada di surga sedangkan suami ada di neraka. Istri hidup bahagia tetapi suami dalam derita. Istri ditemani bidadara (bidadari pria) yang lebih tampan dari seluruh pria di dunia. Tetapi, istri tidak bisa jatuh cinta kepada bidadara. Cintanya hanya satu, untuk suami yang sedang di neraka. Andai bidadara itu dibuat sama persis dengan suaminya, tetap saja, istri itu hanya rindu kepada suami. Apa yang bisa dilakukan oleh sang istri?

Kita, yang di bumi ini, tidak mampu menemukan solusi. Bagaimana pun, mereka yang di mode imajinal menemukan solusinya sendiri.

[d] Mode intelektual. Sedikit orang melanjutkan perjalanan mendapat karunia menjadi penduduk mode intelektual. Bagi sebagian besar orang, hidup bahagia di surga mode imajinal adalah sudah lebih dari cukup. Memang benar, lebih dari cukup. Semua kebahagiaan dan kenikmatan ada di mode imajinal lebih nikmat dari seluruh kenikmatan dunia.

[e] Insan Kamil, atau Kamil adalah penduduk mode intelektual. Kamil adalah surga tertinggi paling dekat dengan Tuhan. Hanya manusia sempurna, Kamil saja, yang bisa sampai singgasana di sana. Kamil merangkul seluruh semesta untuk menghadap Tuhan. Dari satu sisi, Kamil adalah pemimpin bijak bagi semesta. Dari sisi lain, Kamil adalah manifestasi Nama Indah Tuhan.

Kamil sudah hadir di bumi ini. Kamil berada dalam mode intelektual yang melindungi mode imajinal dan mode material. Kamil adalah penjaga bumi dan alam raya ini. Dalam hidup dan mati, kamil terus-menerus berkontribusi. Kamil menebarkan legasi. Kita perlu untuk terus peduli tentang legasi. Di bagian selanjutnya, kita akan membahas lebih detil lagi.

4.4 Disrupsi

Semua, yang ada di dunia, ada juga dalam jiwa manusia. Makros identik dengan mikros. Hanya saja, apakah kita sudah mengenali jiwa kita?

Kita butuh bekal untuk mengenali jiwa. Di saat yang sama, jiwa itu sendiri adalah bekal paling utama. Jiwa adalah modal dan kapital untuk pengembaraan jiwa. Dua bagian terakhir pembahasan berikut ini akan fokus kepada kapital jiwa.

Respon

Jiwa mampu merespon lingkungan. Jiwa membuka diri untuk interaksi dengan alam eksternal. Dan, alam eksternal membuka diri untuk dikenali oleh jiwa. Secara alamiah, jiwa akan mendekati yang nikmat dan menjauhi yang tidak nikmat. Kapasitas jiwa seperti ini, dalam merespon lingkungan, dimiliki oleh semua jiwa dari tumbuhan, hewan, dan manusia. Sehingga, jika ada manusia hanya mengejar nikmat dan menjauhi derita maka tidak beda jauh dengan hewan. Hanya saja, hewan tidak pernah dosa melakukan itu semua. Manusia bisa penuh dosa bila seperti itu.

Konseptual

Pemahaman konseptual adalah unik bagi jiwa manusia – binatang dan tumbuhan tidak memiliki pemahaman konseptual. Bahkan, seluruh realitas adalah konseptual bagi manusia, dari sudut pandang tertentu. Konsekuensinya, manusia memiliki tanggung jawab dan kebebasan konseptual.

John McDowell (1942 – ) berusaha menyelesaikan paradoks hukum alam dan freedom manusia. Bagaimana, di antara realitas alam yang semua taat hukum alam, bisa muncul jiwa manusia yang bebas? Karena bebas, freedom, manusia bisa mengikuti hukum alam atau melawannya dengan satu dan lain cara.

Berdasar hukum alam, seharusnya, hubungan aksi dan reaksi adalah cukup jelas. Hubungan stimulus dan respon cukup jelas. Jika Anda melempar bola ke atas, sesuai hukum gravitasi, bola akan bergerak ke atas sampai titik tertentu kemudian bola jatuh ke bawah. Kucing yang diancam siraman air dingin maka kucing tersebut akan menjauhi ancaman.

Manusia berbeda. Ketika akan dilempar ke atas, dia bisa melawan mencari pegangan atau lainnya. Ketika diancam dengan siraman air dingin, manusia bisa lari atau malah menyerang sang pengancam atau lainnya. Mengapa manusia bisa freedom seperti itu?

Karena berpikir secara konseptual, terutama, melalui bahasa. Ketika melihat dua ekor kucing, manusia berpikir konseptual. Kucing pertama lebih besar dari kucing kedua. Kucing pertama lebih terang warna bulunya, dan lain-lain. Kemudian, manusia bisa melakukan penilaian konseptual. Aku lebih suka kucing yang pertama. Aku ingin mengusir kucing yang kedua.

Lebih dari itu, konsep bahasa membekali manusia mampu berpikir fiksional. Bima berbadan kuat. Arjuna adalah pemanah ulung. Arjuna dan Bima adalah adik dan kakak yang sama-sama jagoan perang. Lebih hebat lagi, dengan konsep bahasa, manusia mampu membuat penilaian moral. Menghormati ibu adalah kebajikan moral. Menipu orang adalah kejahatan moral. Dan, memilih kebajikan moral adalah kebajikan moral. Mencegah kejahatan adalah kebaikan.

Seluruh realitas, bagi manusia, adalah konseptual. Meski, kadang tidak mudah membuat konsep dari suatu realitas. Tetapi, manusia bisa membuat konsep untuk mendekatinya. Alunan lagu A lebih menyentuh hati dari alunan lagu B. “Alunan lagu” adalah konsep abstrak. “Menyentuh hati” adalah konsep yang lebih abstrak lagi.

Seorang bayi, perlu proses untuk berpartisipasi dalam dunia “konsep” manusia. Sejak awal, bayi belajar bahasa manusia. Tidak berarti bayi langsung memahami konsep bahasa dan konsep realitas seperti di atas. Bayi, sejak masa awal, bisa menggunakan bahasa dan memahami bahasa. Umumnya, anak manusia baru memahami konsep ketika remaja. Ketika dia mulai sadar dengan kata dosa, salah, pelanggaran, atau sejenisnya. Dan remaja itu sadar bahwa dia bisa berbuat dosa serta bertanggung jawab atas perbuatannya. Sejak itu, dia resmi menjadi anggota umat manusia yang memahami konsep.

Kreatif

Pemahaman konsep menjadi bekal penting bagi manusia. Bahasa adalah perlambang yang kaya akan makna. Realitas tampak hanya apa yang bisa dijangkau oleh mata dan indera. Realitas menonjolkan masa kini, menjadikan masa lalu abu-abu, menjadikan masa depan remang-remang. Bahasa menjadikan masa kini penuh arti, masa lalu tetap diburu, dan masa depan menjadi terang-benderang.

Gadamer (1900 – 2002) mengakui bahwa bahasa memang alat komunikasi, alat untuk saling mengerti, alat untuk berpikir logis. Lebih dari itu, bahasa adalah gudang histori, gudang budaya, gudang segala makna. Realitas menciptakan bahasa dan bahasa menciptakan realitas.

Mikros identik dengan makros. Mikrokosmos identik dengan makrokosmos. Semua kebaikan yang kita berikan kepada makros, sejatinya, adalah kebaikan kepada mikros. Kebaikan kepada diri sendiri. Demikian juga kejahatan. Hanya saja, mikros membuka peluang kreativitas tanpa batas. Karena kita bisa menulusuri masa lalu, yang jauh, dalam mikros. Kita bisa menyongsong masa depan, yang jauh, dalam mikros. Kemudian, membawa masa depan dan masa lalu ke masa kini. Proyeksi masa depan mikros ke realitas makros. Dan, membawa realitas makros masa kini menuju masa depan mikros. Semua dengan bantuan bahasa perlambang yang kreatif. Bahasa adalah sumber kreativitas.

Disrupsi

Kreatif bermakna positif. Ide cemerlang menciptakan bola lampu sebagai penerang dalam mikros. Kemudian, teknolog melakukan beragam eksperimen di dunia makros. Terciptalah bola lampu listrik pertama, waktu itu. Kreativitas di mikros menjadi realitas dalam makros. Dunia malam menjadi sama terang dengan dunia siang.

Nadiem (1984 – ) terjebak macet kota Jakarta hampir setiap saat. Hanya ojek yang mampu menerobos macetnya Jakarta. Ojek itu misterius. Tersedia banyak ojek di jalanan. Ketika dibutuhkan, mengapa menjadi tidak ada ojek? Lebih misterius lagi tarif ojek. Berapa tarif ojek untuk mengantarkan ke suatu tempat? Tidak ada yang tahu. Hanya tukang ojek saja dan Tuhan yang tahu jawabannya.

Nadiem terpikir untuk menciptakan layanan ojek online yang mudah, murah, dan nyaman, berawal dari mikros. Singkat cerita, lahir dan sukses perusahaan Gojek berpusat di Jakarta. Mikros menjadi realitas makros. Kemudian, Gojek bergabung dengan Tokopedia yang mengantarkan Nadiem menjadi salah satu menteri terkaya di era presiden Jokowi.

Kisah kreatif bagai kisah prestasi. Di balik itu, kisah kreatif adalah kisah disrupsi. Kisah penghancuran. Siapa yang harus bertanggung jawab atas penghancuran itu?

Ketika Gojek makin sukses maka puluhan sampai ribuan tukang ojek pangkalan menjadi miskin. Tukang ojek tidak punya lagi penumpang. Para penumpang berpindah ke Gojek lantaran banyak diskon sampai gratis karena program “bakar uang.” Tukang ojek tidak bisa mendapat upah. Anak istri kelaparan terpaksa harus utang.

Lebih dari itu, persatuan sopir taksi sempat demo ke gedung DPR karena taksi menjadi tidak laku akibat taksi online dan lain-lain. Tetap saja, sopir taksi kehilangan pekerjaan, anak istri kelaparan, perusahaan taksi gulung tikar. Siapa yang harus tanggung jawab dampak disrupsi?

Penemuan bola lampu pertama sama juga; menyebabkan perusahaan lilin dan pekerja obor kehilangan nafkah. Era digital lebih ngeri. Kemajuan telepon seluler menghancurkan telepon rumah dan surat-menyurat. Kamajuan WA menghancurkan BBM dan SMS. Dan, masih banyak contoh lain: setiap kreasi berdampak disrupsi atau penghancuran.

Eksepsi

Eksepsi adalah pengecualian. Setiap kreasi melibatkan eksepsi, pada gilirannya, berdampak disrupsi. Penghancuran kepada pihak tertentu dan menguntungkan segelintir orang.

Agamben (1942 – ) secara tegas mencermati konsep negara darurat. Atau, lebih tepatnya, setiap negara adalah darurat. Eksepsi memiliki pembenaran karena ada situasi darurat. Pandemi covid yang melanda dunia sejak 2019 – 2023 adalah contoh darurat. Pada situasi darurat, negara memiliki pembenaran untuk membatasi warga bekerja, sekolah, wisata, dan sebagainya. Lebih dari itu, negara bisa mewajibkan warga untuk membeli tes PCR, membeli masker, atau membeli vaksin. Sebaliknya, negara sendiri adalah pengecualian atau eksepsi. Negara bisa membatasi rakyat tetapi rakyat tidak bisa membatasi negara.

Perang Rusia-Ukrania menjadi pembenaran berbagai macam hal. Pedagang kaya boleh menaikkan harga-harga barang karena imbas perang. Presiden mengajukan RUU dan DPR menyetujui karena imbas perang juga.

Eksepsi paling jelas barangkali adalah aturan zonasi sekolah yang diterapkan Nadiem dan ditetapkan oleh Muhadjir. Siswa yang rumahnya dekat sekolah bisa diterima di SMA favorit. Sementara, siswa yang rumahnya agak dekat, apa lagi jauh dari sekolah, tidak bisa diterima di sekolah favorit. Tentu, bagi siswa yang diterima di SMA favorit bisa gembira. Tetapi, bagi siswa yang tidak bisa diterima bagaimana? Beberapa siswa yang rumahnya jauh bahkan, dikabarkan, sampai putus asa. Buat apa sekolah, buat apa belajar? Sudah pasti tidak bisa lanjut ke SMA favorit. Konsekuensinya, tidak bisa kuliah di universitas idaman. Cita-cita tinggal angan-angan.

Dari kreasi, lanjut eksepsi, dan akhirnya disrupsi. Apa yang harus dilakukan?

Kreasi adalah suatu keharusan bagi manusia. Setiap manusia adalah kreatif dengan eksplorasi dunia mikros, utamanya, memanfaatkan bahasa konsep. Makhluk lain, binatang dan tumbuhan, tidak bisa kreatif seperti manusia. Atau, kreativitas mereka terbatas sesuai bakat. Jadi, setiap manusia wajib mengembangkan kreativitas dirinya.

Eksepsi jarang disadari. Setiap kreasi berkonsekuensi eksepsi, pengecualian, meski kecil. Anda mendirikan tenda di tanah lapang maka Anda sudah mengecualikan orang lain. Orang lain tidak boleh mendirikan tenda di lokasi yang sama. Apa hak Anda bisa melarang orang lain? Ketika Anda menyewa rumah maka orang lain tidak boleh lagi masuk rumah tersebut. Tampak wajar. Tetapi apakah berdampak baik? Jangan-jangan orang lain itu sedang butuh berteduh. Ketika menteri menetapkan peraturan maka rakyat tidak boleh melanggar. Apakah berdampak baik? Bagaimana jika peraturan tersebut merugikan rakyat banyak dan menguntungkan segelintir orang?

Disrupsi. Korban eksepsi menderita kehancuran. Segelintir pihak diuntungkan oleh eksepsi menjadi super makmur. Korban eksepsi, kemudian korban disrupsi, tidak bisa berbuat apa-apa. Karena pihak yang kuat tampaknya mengerjakan segala sesuatu sudah sesuai peraturan yang ditetapkan, yang baru diciptakan. Korban disrupsi perlu mencari cara untuk membela diri. Memang tidak mudah. Di antara anggota masyarakat, seharusnya, ada yang peduli kepada korban destruksi kemudian ikut membela mereka.

Jadi solusinya apa? Solusinya adalah etika sejati. Hukum tidak mampu. Politik juga lumpuh. Karena, penerapan eksepsi adalah sudah sesuai hukum, politik, dan norma. Bahkan etika prosedural normatif juga tidak mampu jadi solusi. Kita butuh etika sejati.

Etika sejati perlu berpikir futuristik, memulai dari akhir, membentuk siklus: disrupsi-eksepsi-kreasi.

Mari kita ambil studi kasus peraturan zonasi sekolah. Istilah yang digunakan adalah zonasi. Prakteknya berupa radiusi, yaitu, seleksi didasarkan radius atau jarak terdekat sekolah dengan rumah siswa.

Disrupsi. Siapa korban disrupsi? Jelas korbannya adalah mereka yang jaraknya agak jauh dari sekolah, misal lebih 900 meter, maka tidak diterima di sekolah mana pun. Memang ada jalur prestasi atau lainnya tetapi tidak signifikan. Sebagian besar siswa terdestruksi hak mereka, terdisrupsi masa depan mereka, tersisihkan begitu saja. Mereka memang, sebagian besar, tinggal di pinggiran.

Apa solusi bagi mereka yang kena disrupsi? Barangkali mereka bisa mendapat kompensasi berupa pendidikan tambahan dengan kualitas yang lebih baik dari sekolah, atau mendapat kompensasi kursus keterampilan kerja, atau mendapat kompensasi uang tunai. Jenis kompensasi seperti ini akan memberatkan anggaran pendidikan. Jadi, akan ditolak oleh pejabat. Akibatnya, tidak ada solusi selain batalkan peraturan zonasi sekolah dan diganti dengan zonasi siswa atau lainnya.

Eksepsi adalah paling lembut. Dalam kasus zonasi sekolah, eksepsi cukup jelas yaitu mereka yang di luar zonasi tidak boleh mendaftar. Tetapi, eksepsi ini menjadi remang-remang, lembut, karena tumpang tindih dengan mereka yang berada dalam zonasi. Siswa diuntungkan karena mendapat sekolah terdekat. Sekolah diuntungkan, orang tua diuntungkan, lingkungan diuntungkan karena jarak rumah dan sekolah adalah dekat dalam zonasi. Kita jadi lupa bahwa sebenarnya lebih banyak siswa, dan masyarakat, yang dirugikan yaitu mereka yang di luar zonasi.

Siapa paling diuntungkan? Mereka yang rumahnya menempel, sangat dekat, dengan sekolah favorit. Tentu saja, sekolah favorit adalah di tengah kota. Mereka yang punya rumah di tengah kota juga biasanya kelas kaya atau penguasa. Atau, pihak tertentu yang mampu, dan mau, memanipulasi data kartu keluarga.

Siapa paling dirugikan? Sebagian besar siswa dan masyarakat adalah paling rugi. Khususnya, mereka yang rumahnya lebih dari 900 meter dari sekolah favorit. Dan, memang, rakyat biasa, rumah mereka lebih dari 900 meter dari sekolah favorit. Apa solusinya? Solusinya adalah mengganti zona sekolah dengan zona siswa.

Kreasi. Dalam proses kreasi, pembuatan, peraturan zonasi para pihak tentu paham manfaat dari zonasi. Mereka yakin dengan kontribusi positif zonasi: mendekatkan jarak rumah dengan sekolah. Justru di sini masalahnya, kita terjebak kepada manfaat positif. Kita lupa dengan dampak negatif atau disrupsi yang begitu besar. Sedikit catatan tambahan: karena praktek zonasi sekolah menjadi radiusi sekolah maka berubah menjadi zonasi buta. Asal radius terdekat maka diterima. Sempat, siswa baru yang diterima adalah anak kebutuhan khusus dengan problem mental. Tentu, guru SMP tidak mampu mengajar anak dengan problem mental yang berat seperti itu. Jika problem fisik, misal hanya memiliki satu tangan atau satu kaki, barangkali guru SMP masih mampu menanganinya.

Solusinya, kita perlu proses siklus kreasi: (1) kreasi; (2) eksepsi; (3) disrupsi; kembali berputar ke (1). Hipotesis saya, siklus ini akan mengantar pergantian zonasi sekolah menjadi zonasi siswa.

Kapan siklus kreasi ini berhenti? Harus berhenti. Karena kita perlu mengambil keputusan kemudian eksekusi dan revisi. Jawaban kapan berhenti adalah problem etika sejati, lagi.

Kedaulatan

Inti dari kedaulatan adalah kemampuan untuk melakukan eksepsi. Pihak yang berdaulat adalah pihak yang mampu melakukan eksepsi. Menteri pendidikan adalah pihak berdaulat dalam contoh kasus zonasi sekolah. Menteri berdaulat untuk menyatakan pihak lain wajib mematuhi aturan zonasi dan menteri berdaulat, sewaktu-waktu, membatalkan aturan zonasi.

Seorang menteri, misalnya, bisa mengatakan ke kepala sekolah, “Tolong cucu saya ini diterima sebagai siswa baru SMA 2029 Jakarta.” Kepala sekolah mematuhi perintah menteri; dinas pendidikan mematuhi; dan semua pejabat tidak ada yang merasa berat. Padahal cucu itu tidak memenuhi peraturan zonasi; cucu itu melanggar peraturan zonasi. Menteri itu telah melakukan eksepsi dan menteri itu memang berdaulat dalam situasi seperti ini. Menteri boleh menaati aturan mau pun melanggar aturan zonasi.

Eksepsi yang lebih dalam adalah: menteri bisa (a) membiarkan aturan zonasi tetap berlaku; atau (b) membatalkan aturan zonasi itu; kemudian menggantinya dengan peraturan menteri yang baru; atau membiarkan situasi darurat tanpa aturan jelas sehingga menteri bebas melakukan apa saja. Eksepsi inilah inti dari kedaulatan.

Apa tanggung jawab menteri atas kebebasan kedaulatan yang ia miliki? Besar sekali tanggung jawabnya secara moral dan politik. Jika keputusan menteri, misal berupa peraturan menteri, bermanfaat bagi seluruh warga atau meringankan beban warga miskin maka menteri tersebut mendapat pahala besar. Sebaliknya, jika keputusan menteri merugikan warga dan apalagi menguntungkan pihak kaya maka menteri tersebut menanggung dosa besar.

Secara politis, warga negara berhak menuntut tanggung jawab terhadap keputusan menteri, warga bisa berdemo; atau mereka bisa musyawarah. Menteri bisa juga melakuka riset secara independen untuk mengukur dampak aturan zonasi. Ketika dampak zonasi adalah negatif yaitu merugikan banyak warga maka menteri bisa membatalkan peraturan zonasi dan menggantinya dengan peraturan yang lebih baik.

Problem pergantian aturan adalah problem pelik karena melibatkan kepentingan politik, moral, ekonomi, agama, dan lain-lain.

4.5 Etika Karakter dan Rasa Peka

Problem etika adalah problem abadi dari kajian filsafat. Di saat yang sama, kajian etika adalah sangat penting karena berdampak langsung terhadap kehidupan praktis sehari-hari.

Derrida (1930 – 2004) terkenal dengan konsep dekonstruksi dan tulisan yang kriptik: sangat sulit dipahami. Karena, bagi Derrida, filsafat memang sulit dipahami khususnya filsafat etika. Jika Anda tidak kesulitan memahami etika, itu tandanya Anda masih kurang mendalami etika. Setiap pilihan, sikap etis, akan menghadapi dilema seperti Nabi Ibrahim: menuruti perintah Tuhan untuk menyembelih putranya atau melanggar perintah Tuhan?

Butuh waktu berhari-hari bagi kita untuk merenung. Bahkan, berbulan-bulan. Tetapi, saya mencoba menanyakan problem etika seperti itu kepada robot AI, dalam hal ini chatGPT, menjawab kurang dari 1 menit. Tepatnya, hanya beberapa detik saja. Karena, AI memang tidak punya tanggung jawab moral. Kita, manusia, memiliki tanggung jawab moral. Jika seorang anak manusia hanya berpikir prosedural, menjalankan tugas, menjalankan perintah, maka dia tidak lebih baik dari robot. Bahkan bisa lebih buruk dari robot.

Kita bisa mengkaji etika dan moral dari tiga pendekatan: (1) utilitarianisme atau asas manfaat; (2) deontologi; kewajiban sampai kontraktual; (3) karakter atau pribadi atau virtue ethic.

(1) Utilitarianisme

Utilitarianisme selaras dengan asas manfaat, selaras dengan pragmatisme. Kebaikan etika atau moral adalah kebaikan yang memberi manfaat sebesar-besarnya.

Asas manfaat selaras dengan prinsip, “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat kepada manusia.”

Asas manfaat begitu mudah kita pahami. Sebenarnya, cukup mudah juga bagi umat manusia untuk menerapkannya. Hanya saja, kadang, ada godaan yang membelokkan manusia dari asas manfaat. Misal, seorang pejabat bisa saja tergoda untuk korupsi dengan mencuri uang rakyat. Jabatannya menjadi tidak bermanfaat, malah, membahayakan umat.

Bentham (1748 – 1832) adalah pemikir pertama yang merumuskan dengan tegas, “Memberikan manfaat terbesar kepada sebanyak-banyaknya orang adalah ukuran sesuatu sebagai benar atau salah.” Selanjutnya, Bentham mengembangkan beragam cara untuk menghitung dan mengukur suatu manfaat. Dengan demikian, kita menjadi lebih fokus dengan meningkatkan manfaat yang lebih besar banyak orang. Dalam kehidupan sehari-hari, kita punya perasaan bahwa sesuatu itu bermanfaat atau tidak. Jika bermanfaat maka lakukan. Jika tidak bermanfaat maka tinggalkan. Berpikir praktis dengan asas manfaat memang praktis.

John Mill (1806 – 1873) adalah murid dari Bentham yang mengembangkan konsep asas manfaat lebih jauh lagi. Menurut Mill, ukuran suatu manfaat tidak sesederhana yang dipikirkan oleh Bentham. Manfaat, sudah tentu, bisa diukur secara ekonomi, misal kenaikan pendapatan. Atau, kita memberi uang kepada orang miskin, jelas, bermanfaat. Sesuatu yang lebih abstrak, misal membahagiakan orang lain, juga termasuk manfaat. Begitu juga mencerdaskan masyarakat dengan membekali mereka keterampilan kerja juga bernilai manfaat tinggi. Singkatnya, ukuran manfaat menjadi lebih luas lagi.

Karl Popper (1902 – 1994) mendukung konsep asas manfaat negatif. Apa yang kita bahas di atas adalah asas manfaat positif. Yaitu, memberikan manfaat positif kepada masyarakat: meningkatkan pendapatan, memberi ilmu, membuka lapangan kerja. Asas manfaat negatif, lebih penting lagi, yaitu mencegah kerugian atau kejahatan. Contoh mencegah korupsi, mencegah kecelakaan, mencegah penindasan, menghapus kecurangan, melawan kesewenang-wenangan, dan lain-lain. Bagi negara sangat penting mengutamakan asas manfaat negatif. Bagi kita, secara personal, juga penting. Ketika kecurangan dan kejahatan sudah dihapus, maka, dengan sendirinya umat manusia akan mengembangkan asas manfaat positif.

Sekali lagi, berpikir praktis ini bagi kita, sebenarnya memang praktis. Kita hanya perlu meningkatkan manfaat dan mencegah kejahatan. Itu saja. “Tebarkan manfaat dan cegah kerusakan.” “Mengajak kepada kebaikan, mencegah keburukan.”

Benarkah semudah itu? Masih ada tantangan berikutnya. Apa itu manfaat? Apa itu kejahatan? Siapa yang menentukan sesuatu sebagai bermanfaat atau jahat? Kita, memang, bisa menentukan manfaat secara idealis saklek. Tetapi, realitas tidak se-ideal itu. Mikros seharusnya identik dengan makros. Bagaimana mikros menjadi berbeda dengan makros?

(2) Deontologi

Deontologi menyatakan bahwa kebaikan moral bukan karena manfaatnya tetapi karena kebaikan itu memang baik. Sehingga, kebaikan moral adalah kewajiban atau categorial imperative.

Immanuel Kant (1720 – 1804) pemikir awal yang mengajukan categorial imperative (CI). Kebaikan moral adalah kewajiban yang harus dilakukan oleh semua orang. Kadang kala, kebaikan itu justru membebani dan, lebih seringnya, bermanfaat juga. “Menghormati ibu” adalah CI yang bernilai moral. “Membela kebenaran” adalah CI – bermanfaat atau tidak, maka, tetap wajib dilakukan.

Dengan demikian, cakupan CI menjadi lebih luas dari asas manfaat. Asas kewajiban lebih besar dari asas manfaat.

Bagaimana cara menentukan CI atau bukan? CI ditentukan oleh 4 kriteria: [a] disetujui semua orang; [b] bisa dilakukan semua orang; [c] berlaku di mana saja; [d] berlaku kapan saja. Maksud “semua orang” bisa saja hipotetis. Karena CI bersifat universal seperti di atas, maka, CI lebih mudah bersifat negatif misal: dilarang mencuri; dilarang membunuh; dilarang melukai.

Bagaimana pun ada kebaikan moral yang tidak memenuhi sebagian kriteria di atas; disebut sebagai HI: hipothetycal imperative. Contoh HI adalah “menolong orang kelaparan” perlu ada kondisi yaitu ada orang lapar.

Kita bisa membayangkan betapa sulitnya mencapai CI secara positif karena melibatkan “semua orang.” Akibatnya, deontologi akan bergeser ke kontraktual – kebaikan moral adalah kebaikan yang disepakati oleh semua pihak. Kontraktual tampak lebih ringan dan praktis. Resiko kontraktual adalah terlewatkan untuk memperhatikan disrupsi. Semua pihak sepakat dalam kontrak tetapi ada pihak yang, jauh lokasinya, menanggung disrupsi.

Tim Scanlon (1940 – ) mengusulkan pendekatan hak veto bagi deontologi. Kebaikan moral adalah kebaikan yang lulus dari hak veto sebanyak-banyaknya pihak. Dalam contoh zonasi sekolah, siswa pinggiran bisa mengajukan veto maka zonasi sekolah dibatalkan. Pendekatan veto Scanlon ini menjadi jalan tengah yang bagus bagi deontologi.

(3) Karakter

Etika karakter justru paling awal berkembang secara filosofis. Socrates mengatakan, “Menjalani hidup tanpa cobaan adalah hidup yang tidak layak dijalani.” Kemudian, Plato merumuskan empat kebajikan utama. Dan, lebih jauh, Aristo mengembangkan empat kebajikan utama menjadi sistematis: (1) moderate; (2) berani; (3) adil; (4) bijak.

Dari filsafat Timur, kita mengenal nama-nama pemikir besar yang mengembangkan etika karakter: Ghazali, Suhrawardi, Ibnu Arabi, dan tentu Sadra. Dengan tegas, Sadra menyatakan bahwa karakter manusia akan mengelompok menjadi empat spesies, atau diferensia akhir: (1) binatang serakah; (2) binatang buas; (3) setan licik; (4) malaikat mulia. Kita akan membahas lebih detil di bawah. Dari negara kita, Indonesia, Kalijaga mengembangkan etika karakter dengan simbol warna jiwa: merah, hitam, kuning, dan bening.

Di jaman kita sekarang, kita mengenal etika karakter melalui buku populer Stoicisme atau filosofi Teras. Di satu sisi, buku populer ini membantu generasi muda lebih dekat dengan etika karakter dan mengenal prinsip-prinsip filosofis. Di sisi lain, generasi muda bisa mereduksi etika karakter menjadi sekedar tool untuk pragmatisme kepentingan ekonomi. Pemberitaan tentang Silicon Valley, akhir-akhir ini, menunjukkan gejala reduksionisme. Kabar gembira yang, sekaligus, memprihatinkan.

Epicurus (341 – 270 SM) sudah melakukan kritik terhadap Stoic sejak awal kemunculan Stoic itu sendiri. Karena Stoic terlalu fokus kepada lingkaran kendali, yaitu, segala sesuatu yang ada dalam kendali diri kita. Sementara, terhadap sesuatu yang di luar lingkar kendali bisa diikhlaskan. Epicu mengusulkan untuk mengembangkan etika karakter, manusia perlu fokus mengembangkan kemampuan rasa, peduli, estetik, dan asketik. Rasa gembira, rasa bahagia, empati, simpati, menikmati makanan sekedarnya, menikmati seni, menikmati ilmu pengetahuan, dan menghindari sakit adalah praktek etika yang penting. Kita bisa melakukan itu semua dengan cara paling mudah, yaitu menurut Epicu, merasa bahagia dengan cara membantu teman agar bahagia; Berbahagia dengan menjadi teman bagi sesama; Teman adalah orang yang merasa bahagia dengan membahagiakan teman; Jadilah teman bagi banyak orang.

Penekanan Stoic untuk membentuk karakter yang kuat melalui lingkar kendali adalah beresiko: orang menjadi kehilangan rasa. Resiko ini memang terjadi. Orang menjadi rasionalis belaka. Tetapi, itu bukan salah Stoic. Yang salah adalah mereka membelokkan ajaran Stoic. Ajaran Epicu, di saat ini pun, juga banyak disalah-pahami. Epicu menyebut cara hidup bahagia dengan menikmati segala yang ada, melalui asketisme hidup sederhana, adalah sebagai hedonisme. Anda pasti tahu apa makna hedonisme di jaman sekarang.

Keunggulan etika karakter adalah lebih luas dan lebih mendalam dari etika asas manfaat atau asas kewajiban. Atau, asas manfaat menjadi bernilai moral etis hanya jika menguatkan karakter utama. Asas kewajiban, CI, bernilai moral etis hanya jika menguatkan karakter utama. Di era digital, mungkin saja robot AI memberi manfaat sesuai asas manfaat, atau AI menjalankan kewajiban sesuai program yang ditetapkan. Tetapi robot AI tidak akan mampu bersikap moral etis yang menguatkan karakter jiwanya. Karena, AI tidak pernah memiliki jiwa sampai saat ini. Bagaimana pun, di banyak sisi, terjadi titik temu antara semua pandangan etika: manfaat, kewajiban, dan karakter.

Mari lebih detil membahas karakter utama.

[1] Binatang serakah. Perilaku manusia yang seperti binatang serakah adalah tidak etis. Tetapi binatang serakah yang berperilaku sebagai binatang serakah adalah alamiah belaka. Tidak ada isu moral sama sekali. Contoh binatang serakah adalah babi. Manusia yang perilaku seperti babi, yaitu, hanya makan, minum, dan berkembang biak adalah tidak bermoral.

Termasuk serakah, di antaranya: banyak tidur, banyak ngumpulin harta, cuek ke sekitar, mengambil harta tetangga, mengambil hak rakyat, main-main belaka.

Karakter serakah terjadi di bumi ini dalam mode material. Di saat yang sama, terjadi di mode imajinal. Orang serakah, di bumi ini, hanya tampak dari perilaku tetapi tidak tampak dari badan material mereka. Setelah kematian, tampak jelas, badan dan perilaku mereka memang sebagai binatang serakah. Mereka berada di neraka, entah sampai berapa lama. Sejatinya, di bumi ini, mereka juga tersiksa oleh karakter serakah mereka sendiri.

Moderate atau hidup sederhana adalah solusi etika karakter. Kalijaga menyebut karakter serakah sebagai jiwa yang dikuasai nafsu merah. Mereka terlena karena berlebih-lebihan. Mereka perlu berpuasa agar hidup sederhana dan kembali bahagia dalam naungan etika.

[2] Binatang buas. Manusia yang berperilaku seperti binatang buas adalah melanggar etika. Manusia buas ini sering menyerang pihak lain, merebut hak orang lain, menindas rakyat kecil, sampai membunuh segala. Contoh binatang buas adalah singa. Tetapi, tidak ada masalah dengan singa yang buas karena alamiah belaka.

Karakter buas ini terjadi, di bumi, dalam mode material dan, di saat yang sama, terjadi di mode imajinal yang makin jelas setelah kematian. Kalijaga menyebut karakter buas sebagai jiwa yang dikuasai nafsu hitam yang perlu dibersihkan. Solusinya adalah mengganti sikap buas menjadi sikap berani yang mempertimbangkan beragam situasi.

[3] Setan licik. Manusia yang berperilaku licik, bagai setan, adalah tidak bermoral. Setan tahu bahwa serakah dan buas adalah salah. Tetapi, setan bisa berdalih bahwa dirinya tidak salah. Dirinya tidak serakah. Dirinya tidak buas. Setan membela diri sebagai benar meski tahu dirinya sejatinya salah.

Kalijaga menyebut kelicikan ini sebagai jebakan jiwa oleh nafsu kuning. Sangat berbahaya. Solusi terhadap sikap licik adalah dengan membangun sikap adil. Tetap sulit. Karena setan meng-klaim dirinya adalah adil. Barangkali, para politikus lebih pengalaman tentang licik dan adil ini.

Frankfurt (1929 – 2023) menyebut bahwa manusia memiliki kehendak-tingkat-2. Binatang serakah makan berlebih adalah kehendak-tingkat-1. Demikian juga, binatang buas menerkam mangsa merupakan kehendak-tingkat-1. Mereka berbuat atas kehendak mereka.

Kehendak-tingkat-2 adalah kehendak terhadap kehendak-tingkat-1. Seseorang ingin mengurangi sikap serakah agar jadi orang baik adalah satu contoh. Atau, seseorang ingin tetap bisa menikmati sikap serakah dengan mengembangkan banyak dalih adalah contoh kehendak-tingkat-2. Jadi, kelicikan adalah kehendak-tingkat-2 sehingga lebih sulit untuk ditangani.

Apakah seseorang bisa mengembangkan kehendak-tingkat-3 atau tingkat yang lebih tinggi? Tentu saja, terbuka peluang itu. Tetapi, Frankfurt tampak tidak berminat membahasnya. Padahal, pertanyaan ini akan mengantar kajian yang lebih maju.

Solusi terhadap sikap licik adalah orang tersebut harus memiliki kemauan kuat mengganti licik dengan sikap adil. Kemauan kuat ini adalah jenis kehendak-tingkat-2. Sehingga, perlu perjuangan ekstra keras.

Tiga karakter di atas, serakah-buas-licik, adalah penghuni neraka di dunia imajinal nanti. Di mode material, di bumi ini, sama saja: mereka juga hidup dalam neraka dunia. Umat manusia perlu berjuang menuju karakter malaikat mulia.

[4] Malaikat mulia. Karakter malaikat memang mulia: taat kepada perintah Tuhan, mengerjakan kebaikan, dan menjauhi larangan. Lebih mulia lagi ketika pelakunya adalah manusia. Karena manusia berada dalam godaan nafsu serakah, buas, dan licik. Kemudian, manusia membersihkan diri untuk mencapai karakter mulia. Kalijaga menyebut karakter mulia sebagai jiwa berwarna bening. Itu adalah warna asli jiwa manusia. Kita sering menyebut karakter mulia sebagai kamil atau insan kamil.

Kamil adalah karakter yang merangkul seluruh semesta di bumi dan alam raya dalam rangkulan kebaikan untuk bersama-sama menghadap Yang Maha Baik. Kamil adalah pemimpin alam raya; formal atau non formal. Di saat yang sama, kamil adalah manifestasi dari Nama Indah Tuhan. Dalam diri seorang kamil, mikros identik dengan makros.

Tuhan adalah Maha Adil. Kamil adalah orang adil. Tuhan adalah Maha Pengasih. Kamil adalah orang pengasih. Tuhan adalah Maha Bijak. Kamil adalah orang bijak. Kamil adalah penghuni surga tertinggi. Orang Timur menyebut kamil sebagai ahli hikmah, yaitu, orang yang memiliki hikmah tertinggi. Orang kuno menyebut kamil sebagai philosopher, yaitu, orang yang cinta wisdom, cinta bijak.

Tentu saja, kamil ada di dunia ini, di bumi ini, dan ada di dunia nanti, di surga tertinggi.

Apa keunggulan etika karakter Sadra terhadap etika karakter yang lain?

Keunggulannya adalah komprehensif dan dinamis. Komprehensif karena etika karakter berlaku untuk kehidupan di dunia ini mau pun di dunia nanti. Dinamis karena setiap orang, termasuk diri kita, mampu bergerak dinamis menuju karakter tertinggi yaitu karakter mulia sebagai kamil.

Tentu saja, masih banyak tanda tanya bagi kita. Apa batas-batas serakah, buas, dan licik? Atau, apa definisi kamil yang mulia itu?

Di dalam kelas serakah terdapat keragaman. Demikian juga kelas buas, licik, dan kamil. Kita mengenal binatang serakah misal babi, tikus, sapi, domba, dan lain-lain. Sehingga, batas-batas serakah juga beragam. Situasi khusus, terindividuasi, akan ikut menentukan batasan serakah. Ada baiknya, kita mempertimbangkan asas manfaat, asas kewajiban – kontraktual sampai veto, dan potensi konsensus-dissensus dalam menentukan batas serakah-buas-licik.

Seorang lelaki yang memiliki istri satu adalah tidak serakah. Lelaki yang punya istri 2 atau sampai 4 orang adalah tidak serakah di jaman dulu. Karena, di jaman dulu, sering terjadi perang dan bencana sehingga jumlah lelaki lebih sedikit dari jumlah wanita. Konsekuensinya, poligami adalah tidak serakah. Bagaimana dengan kondisi saat ini? Penduduk dunia lebih banyak lelaki dari wanita. Penduduk Indonesia, mirip juga, lebih banyak lelaki dari wanita. Jadi, poligami termasuk serakah dalam situasi terkini. Karena dalam situasi monogami sempurna saja, setiap lelaki berpasangan dengan satu istri, masih tersisa jutaan lelaki tanpa istri. Jutaan lelaki tidak kebagian pasangan wanita untuk jadi istri. Jika ada lelaki poligami maka akan membuat lebih banyak lagi lelaki lain tanpa istri. Tentu saja, di masa depan, situasi bisa berganti.

Perang Rusia-Ukraina merupakan contoh karakter buas anak manusia. Siapa yang buas? Rusia buas. Ukraina buas. Bisa jadi mereka tidak setuju disebut sebagai buas. Para politikus di seluruh penjuru, dengan cerdik, menunjukkan bahwa mereka adil. Rusia dan Ukraina, masing-masing, mengklaim punya justifikasi. Secara umum, orang menilai bahwa perang adalah tanda kebuasan anak manusia.

Penilaian serakah dan buas adalah dinamis sesuai realitas eksistensi individuasi. Dengan situasi ini, manusia bisa bersikap (1) cerdik licik atau berjuang untuk bersikap (2) bijak menjadi kamil. Tetapi, hanya sedikit orang yang berhasil menjadi kamil. Kita bisa mengajukan pertanyan lanjutan.

Adakah karakter serakah yang menjadi penduduk surga?

Surga tertinggi adalah karunia khusus kepada kamil. Surga yang bukan tertinggi, atau misal surga biasa, dihuni oleh siapa? Penduduk surga adalah orang dengan karakter yang berbeda-beda. Orang serakah atau buas dalam kadar moderat, barangkali, punya peluang. Orang serakah lalu tobat. Orang buas lalu tobat. Mereka bolak-balik dosa lalu tobat. Barangkali ada peluang bagi mereka. Sebagian besar manusia, bukankah memang seperti itu? Surga banyak penduduknya. Surga mode imajinal. Sementara, surga tertinggi spesial hanya untuk kamil. Surga mode intelektual.

Bagaimana caranya agar kita sukses dengan etika karakter; meraih karakter baik atau karakter mulia?

(1) Ilmu. Mempelajari ilmu tentang etika dan karakter. Anda membaca tulisan ini adalah contoh memperkuat karakter melalui ilmu. Dan, masih banyak ilmu lainnya.

(2) Amal. Moral. Praktek mengerjakan kebaikan moral, sudah pasti, menguatkan karakter Anda. Menolong fakir miskin, membantu teman, berbagi ilmu adalah beberapa contoh di antaranya.

Dua poin di atas, ilmu dan amal, berhasil menguatkan karakter siapa saja. Secara umum, dua poin di atas sudah mencukupi. Untuk perjalanan yang lebih tinggi, silakan berikut ini.

(3) Pesona ruhani. Sebagian orang mengalami pesona ruhani, atau pesona spiritual, atau pesona intelektual. Di antara yang mengalami, sebagian benar-benar terpesona. Sebagian yang lain, biasa-biasa saja atau bahkan cuek.

Pesona intelektual adalah pintu untuk menuju kamil. Orang yang bertekad menjadi kamil perlu melewatinya. Bagi yang tidak berminat, tidak menjadi masalah. Tersedia bagi mereka kebahagiaan dalam mode material dan mode imajinal. Sementara, kamil justru membatasi diri dalam mode material dan imajinal. Kamil akses material dan imajinal hanya sekedarnya saja dan digunakan untuk membantu sesama atau semesta. Kamil lebih banyak aktivitas dalam pesona intelektual. Tentu, sambil merangkul material dan imajinal.

(4) Karunia Ilahi. Karakter tertinggi adalah karunia Ilahi. Tidak ada karunia apa pun kecuali karunia Ilahi. Ilmu, amal, dan intelektual adalah karunia Ilahi. Ketetapan takdir adalah karunia Ilahi. Freedom adalah karunia Ilahi. Tugas merangkul alam raya adalah karunia Ilahi. Menerima Nama Indah Tuhan adalah karunia Ilahi.

Sampai di sini, kita bisa menyimpulkan bahwa masa depan jiwa akan membentuk klasifikasi empat spesies: serakah, buas, licik, dan mulia. Kita bebas untuk memilih menjadi salah satu diantara empat itu. Untuk menjadi karakter terbaik bagi diri Anda, bisa dengan meningkatkan (1) ilmu dan (2) amal. Jika ingin lebih tinggi lagi, perjalanan mengarungi diri, silakan jelajahi (3) pesona intelektual dan (4) karunia Ilahi.

Apakah masa depan jiwa terkait dengan masa depan waktu?

4.6 Masa Metafora: Akumulasi Futuristik

Problem masa tak lekang oleh masa. Pembahasan tentang waktu bisa dihubungkan dengan realitas gerak.

(1) Waktu adalah ukuran dari gerak. Umumnya, ukuran dari gerak aksidental: gerak jarum jam, gerak matahari dari terbit sampai terbit kembali, gerak rembulan dari purnama sampai kembali purnama.

Kita bisa memperluas sampai gerak substansial. Waktu adalah ukuran gerak substansi dari satu tingkat substansi ke tingkat substansi yang lebih kuat. Sementara, gerak aksidental adalah efek dari gerak substansial. Sudut pandang ini menempatkan waktu sebagai posterior atau derivatif terhadap eksistensi.

(2) Waktu adalah sebab dari gerak itu sendiri. Waktu adalah horison bagi eksistensi. Waktu yang memberi waktu agar eksistensi menjadi hadir; eksistensi di masa kini. Waktu juga yang menyembunyikan eksistensi; menyembunyikan eksistensi masa lalu dan masa depan. Sudut pandang ini menempatkan waktu sebagai prior atau lebih utama dari eksistensi.

Waktu absolut adalah waktu yang bisa independent terhadap realitas. Sedangkan horison waktu selalu bersatu dengan realitas.

(3) Waktu adalah gerak itu sendiri. Waktu adalah eksistensi. Waktu adalah akumulasi realitas secara intensif. Waktu adalah durasi. Kesatuan yang beragam dan keragaman yang satu.

Bagaimana topologi waktu? Umumnya, kita memandang waktu bergerak secara lurus dari masa lalu, masa kini, dan menuju masa depan.

(a) Presentisme: waktu adalah present yang bergulir dari masa lalu menuju masa kini sampai masa depan. Masa lalu telah berlalu. Masa depan tak kunjung datang. Masa kini adalah yang paling berarti.

(b) Eternalisme: waktu adalah abadi terbentang dari masa lalu, masa kini, dan masa depan. Semua waktu adalah sama-sama nyata.

(c) Blok-berkembang: masa lalu dan masa kini adalah yang nyata. Masa kini ditambahkan terus-menerus sehingga membentuk blok-berkembang. Masa depan tidak nyata.

(d) Spotlight: semua waktu adalah nyata; masa lalu, masa kini, dan masa depan. Kita hanya mampu menerangi waktu dengan cahaya sebatas kemampuan cahaya, yaitu, spotlight. Masa kini adalah realitas paling jelas dalam sinaran spotlight yang bergerak dari masa lalu menuju masa depan. Kita bisa menyebut juga waktu sebagai dimensi 4.

(e) Persegi-dinamis: waktu adalah bentangan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Setiap saat, masa kini menghirup seluruh masa lalu dan masa depan menjadi hanya satu titik. Kemudian, menghembuskan kembali menjadi bentangan masa lalu, masa kini, dan masa depan. Bentangan masa lalu, umumnya, konstan meski bisa berbeda makna. Sedangkan, bentangan masa depan adalah posibilitas. Jika bentangan waktu bernilai konstan maka terbentuk persegi-sempurna. Tetapi karena terdapat posibilitas maka persegi-dinamis adalah lebih tepat.

Waktu adalah satu kata yang memiliki berjuta makna. Waktu adalah metafora. Bahkan ketika kita berusaha mendefinisikan waktu secara ketat, tetap saja, mengandung metafora.

Aristo, Ibnu Sina, Suhrawardi, Leibniz, Hegel, dan masyarakat pada umumnya menganggap waktu sebagai bergerak lurus, linear, presentisme dan merupakan ukuran dari suatu gerak misal gerak matahari.

Sadra sepakat bahwa waktu adalah ukuran gerak. Lebih lanjut, Sadra menambahkan bahwa gerak adalah gerak substansial yang berdampak pada gerak aksidental. Meski demikian, waktu eksis secara nyata sebagai eksistensi derivatif.

Immanuel Kant, Taggart, dan para nominalis menolak eksistensi waktu dengan argumen yang beragam. Bagi Kant, waktu bisa memanjang ke masa depan dan ke masa lalu tanpa batas, serta, setiap selang waktu bisa dibagi menjadi bagian kecil tanpa batas maka waktu mustahil eksis. Bagi Taggart, waktu bisa berupa seri A atau seri B. Seri A adalah masa lalu, masa kini, dan masa depan. Seri B adalah hari Senin mendahului hari Selasa. Karena seri A dan seri B saling kontradiksi maka waktu mustahil eksis. Bagi nominalis, realitas yang eksis adalah apa yang benar-benar ada di depan kita. Istilah waktu hanya untuk kemudahan saja tanpa eksis secara nyata.

Newton mengakui waktu sebagai ukuran gerak. Sehingga, waktu adalah relasi. Lebih jauh, Newton meng-klaim eksistensi waktu absolut yang akan menjadi rujukan absolut bagi seluruh alam raya.

Plato meyakini eksistensi waktu absolut sebagai “media” bagi seluruh alam semesta berubah dan bergerak. Waktu absolut itu sendiri tidak dipengaruhi oleh perubahan mau pun oleh gerak alam. Waktu adalah gerak falak.

Einstein meyakini waktu sebagai relatif, bahkan, relatif terhadap kerangka acuan masing-masing. Ketika kita menyebut selang waktu 3 jam bermakna relatif terhadap kita yang diam di atas permukaan bumi. Bagi astronot yang sedang di dalam roket melaju kencang bisa saja selang waktu tersebut hanya 2 jam.

Heidegger, awalnya, memandang waktu sebagai horison bagi realitas. Waktu yang menjadikan realitas hadir, yaitu, realitas masa kini. Waktu juga yang menjadikan realitas tersembunyi, yaitu, realitas masa lalu dan masa depan. Pada masa tuanya, Heidegger menyebut waktu dan being saling apropriasi. Waktu memberi waktu kepada being sehingga being punya waktu untuk eksis. Dan, being bersedia menerima pemberian waktu sehingga waktu eksis melalui being.

Bergson memandang waktu sebagai durasi intensifikasi. Waktu adalah gerak intensitas itu sendiri. Waktu bukan kuantitas tetapi kualitas. Waktu adalah eksistensi tunggal yang beragam dan beragam dalam ketunggalan.

Kajian tentang waktu akan tetap menarik sepanjang waktu.

Saya mengusulkan model topologi waktu sebagai persegi-dinamis. Secara ontologis, persegi-dinamis terbuka untuk menerima waktu sebagai (1) ukuran gerak, (2) penyebab gerak, dan (3) identik dengan gerak.

Untuk prioritas past, present, dan future, saya mengusulkan future sebagai paling prior sehingga futuristik. Tentu saja, past dan present tetap sama penting. Dengan futuristik, kita membuka lebih luas posibilitas, lebih banyak freedom, dan menuntut komitmen semua pihak.

Pembahasan tentang makna waktu, sementara, kita cukupkan seperti di atas. Barangkali sudah memadai untuk memancing diskusi lebih lanjut di tempat lain. Tentu, masih banyak tanda tanya.

4.7 Tanda Tanya

Filsafat adalah kajian atas pertanyaan fundamental untuk menghasilkan solusi fundamental. Kemudian, memunculkan pertanyaan fundamental baru.

Kita semua adalah filsuf ketika masih kanak-kanak. Kita bergembira bertanya tentang apa pun. Kita bertanya tentang pertanyaan fundamental. Siapa pencipta alam semesta? Dari mana asal mula kita? Ke mana tujuan akhir kita?

Kita perlu menambah lebih banyak tanda tanya. Apa makna-realitas? Apa makna-jiwa? Apa makna-kapital-jiwa? Apa makna-being? Apa makna-ada? Apa makna-bertanya?

Kita sudah membahas kapital jiwa. Giliran kita untuk menikmati perjalanan jiwa. Sangkan Paraning Dumadi.

Mutiara Filsafat Sadra

Mengkaji filsafat Sadra, kita bagaikan memperoleh berlian berkilau. Bahkan, kita memperoleh bongkahan-bongkahan berlian. Makin dalam kita kaji, maka makin banyak berlian kita temui.

Kajian kita hanya memilih 15 wacana yang berhubungan dengan tema jiwa. Kutipan yang bersumber asli dari Sadra, barangkali, hanya terdiri dari 10 halaman. Tetapi, makna yang dikandungnya bagai menyelami samudera.

Konsep jiwa menjadi solusi untuk banyak problem masa kini. Perkembangan AI, misal chatGPT, menuai kontroversi. Dengan menerapkan konsep jiwa, kita berhasil merumuskan beberapa solusi bagi AI.

(1) AI mampu memberi solusi atau rekomendasi berupa bahasa, atau konsep, yang mirip dengan bahasa manusia. Akibatnya, secara intuitif, kita mengira kapasitas AI adalah sama dengan kapasitas manusia. Atau, bahkan, AI lebih unggul dari manusia.

(2) AI mampu mem-produksi, atau berkarya, seperti manusia misal menghasilkan puisi, cerpen, lukisan, atau lainnya.

(3) AI mampu belajar secara kreatif dan otonom serta menyerap informasi dalam jumlah nyaris tak terbatas.

Apakah AI setara dengan manusia? Apakah AI lebih cerdas dari Einstein? Apakah AI bisa menangis?

[Salah] Menganggap AI sebagai mirip manusia adalah salah. Apalagi, menganggap AI lebih dari manusia adalah salah. Kendaraan otomatis, kendali sopir diganti AI, adalah salah. Karena AI tidak memiliki jiwa maka AI tidak mirip dengan manusia. AI tidak memiliki tanggung jawab moral. Bahkan, AI tidak mampu memahami apa pun. Agar AI mampu memahami, dalam arti sebenarnya, maka AI perlu memiliki jiwa.

[Benar] AI adalah teknologi. AI adalah buah perkembangan budaya manusia. Sehingga, AI adalah teman bagi manusia untuk hidup bersama, yaitu, bersama AI, bersama alam, dan bersama sesama manusia. Karena AI tidak berjiwa maka penggunaan AI adalah bagian dari perluasan jiwa manusia. Jadi, jiwa manusia tetap bertanggung jawab penuh atas proses dan hasil dari AI.

Ketika (a) seorang suami memberi hadiah kepada istri berupa mobil listrik, maka, kita yakin kejadian tersebut adalah tindakan oleh suami. Semua sepakat. Tetapi, ketika (b) seorang suami membeli mobil listrik atas saran dari AI, maka, orang salah kira kejadian tersebut atas “saran dari AI.” Yang benar adalah kejadian tersebut karena “suami memutuskan untuk membeli mobil listrik” bisa jadi memang terpengaruh saran dari AI. Jadi, tanggung jawab tetap berada pada seorang suami, pada jiwa manusia.

Demikian juga, ketika dampak AI menyebabkan orang-orang tertentu menjadi kaya raya, orang-orang lain kehilangan pekerjaan, lebih banyak orang makin tertindas, ketimpangan ekononomi makin ganas, dan lain-lain, maka itu semua adalah tanggung jawab manusia. Tanggung jawab umat yang memiliki jiwa. Apakah AI, suatu saat, akan memiliki jiwa? Itu adalah tanda tanya bagi kita.

Kita bisa menjawab tanda tanya itu dengan memandang eksistensi sebagai posibilitas konkret. Sadra mengembangkan kaidah posibilitas maksimum (imkan ashraf) dari Suhrawardi dan mengembangkan kaidah posibilitas minimum (imkan akhass).

Kasus Kucing Putih. Pertimbangkan kucing putih lahir, tumbuh besar, sampai mati pada usia 7 tahun. Posibilitas minimum adalah badan kucing lahir dan posibilitas maksimum adalah kucing mati pada usia 7 tahun. Realitas kucing adalah bentangan posibilitas tersebut; linier mau pun non linier.

Suatu saat Anda melihat kucing putih itu yang lucu: berapa usia kucing putih itu?

P(3) = kucing itu berusia 0 sampai 3 tahun; posibilitas kecil; mendekati minimum.
P(5) = kucing itu berusia 0 sampai 5 tahun; posibilitas besar; mendekati maksimum.

Kaidah posibilitas maksimum: Jika P(3) benar maka membutuhkan P(5) pasti benar; misal usia 2 tahun; Jika P(5) benar maka tidak dipaksa agar P(3) benar; misal usia kucing 4 tahun. Perhatikan kita sedang membahas posibilitas konkret yang sangat dinamis; bukan substansi material yang beku.

Kaidah posibilitas minimum: Jika P(5) benar maka pernah mengalami P(3) benar. Misal ketika kucing usia 4 tahun (P(5) benar) maka pernah usia 2 tahun (P(3) benar).

Posibilitas minimum manusia adalah lahir sebagai badan materi dan posibilitas maksimum manusia adalah mati kemudian meniti sejarah di dunia ini atau dunia nanti. Sehingga bentangan posibilitas manusia adalah sangat luas. Sedangkan posibilitas minimum AI adalah algoritma (lebih tinggi dari badan materi) dan posibilitas maksimum AI adalah “upgrade” kemudian hilang. Sehingga bentangan posibilitas AI adalah terlalu sempit dibanding manusia. Konsekuensinya, AI tidak akan bisa memiliki jiwa sebagaimana jiwa manusia; setidaknya untuk model AI yang berkembang sampai tahun 2026 ini.

Lebih lanjut, kita bisa menyatakan jiwa adalah perkembangan dari materi; yaitu jiwa berupa forma sempurna dari materi atau diferensia dari materi. Sebagai diferensia dari materi maka jiwa mengambil alih dominasi materi. Nasib seorang anak manusia bergantung kepada jiwanya, bukan lagi bergantung materi saja. Rambut seseorang bisa saja berganti warna, tetapi, jiwa orang tersebut tetap sama maka dia adalah orang yang sama.

Etika menjadi bernilai penting untuk menentukan nasib masa depan manusia. Karena jiwa mengambil alih dominasi materi, maka, perbuatan moral etis seseorang berdampak abadi kepada jiwanya. Jiwa manusia abadi dan selamat dari kematian badan. Masa depan jiwa manusia adalah sebagai karakter serakah, buas, licik, atau bijak. Anda bebas memilih satu di antaranya.

Analisa kita, pada setiap akhir bagian, terhadap pemikiran masa lalu dan pemikiran mutakhir, justru menunjukkan lebih banyak mutiara kehidupan dari filsafat Sadra. Saya kira pandangan Austin (1911 – 1960) patut menjadi pertimbangan. Setiap kata adalah kata pertama bukan kata terakhir. Karena itu, dari kata pertama, kita bisa lebih banyak mengembangkan karya-karya kreatif yang baru. Demikian juga karya Sadra adalah karya-pertama yang menjadi karunia bagi generasi-generasi masa depan. Kita bisa mengembangkan, lebih kaya lagi, maha karya.

Setiap wacana adalah wacana pertama. Wacana utama adalah wacana pertama.

Kembali ke: Kapital Jiwa

Prinsip-Prinsip Jiwa

Kapital Jiwa: Mutiara Kehidupan dari Filsafat Mulla Sadra

Prinsip-prinsip jiwa. Psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Seharusnya, kita bisa memanfaatkan sains psikologi untuk kapital jiwa. Kita membutuhkan kapital lebih dari itu.

1. Pendahuluan: Psikologi

2. Wacana Jiwa
Wacana 2.1: Jiwa adalah Penentu
Wacana 2.2: Kekuatan Imajinasi Melebihi Materi
Wacana 2.3: Imajinasi sebagai Dinamika Jiwa
Wacana 2.4: Visi adalah Kreativitas
Wacana 2.5: Perubahan Status Jiwa

3. Wacana Analisa
3.1 Alternatif Awal Mula Jiwa
3.2 Dari Materi Melebihi Materi
3.3 Organ-Organ Jiwa
3.4 Imajinasi adalah Pusat
3.5 Visi Eksistensial
3.6 Dialektika Futuristik
3.7 Lingkaran Status Jiwa

Kita akan membahas prinsip-prinsip jiwa dalam lima wacana. Kita tetap mendasarkan pembahasan kepada prinsip-prinsip realitas – yang sudah kita bahas di bagian sebelumnya. Dari prinsip-prinsip jiwa, kita akan berlanjut membahas lebih mendalam tentang masa depan jiwa.

1. Pendahuluan: Psikologi

Kajian tentang jiwa, kita kenal sebagai psikologi atau ilmu jiwa. Psikologi sudah berkembang sejak awal peradaban umat manusia. Hanya saja, di masa kini, pendekatan psikologi berbeda dengan era kuno. Saat ini, psikologi cenderung bersifat materialis. Fenomena psikologi dianalisis berdasar cara kerja sel-sel di otak. Pada gilirannya, cara kerja sel-sel otak, materi otak, bisa dikendalikan oleh obat-obat kimia. Ada yang menyindir bahwa psikologi lupa mengkaji jiwa. Psikologi jadi mengkaji fisika.

Sementara, psikologi kuno lebih terbuka dengan kajian jiwa secara luas. Bahkan barangkali melibatkan mitos-mitos dan dewa-dewa. Bagaimana pun, kita bisa bersikap terbuka terhadap kajian jiwa sejauh dapat dipertimbangkan secara rasional: materialis mau pun spiritualis. Jadi, kajian jiwa kita lebih bersifat rasional dalam makna luas.

2. Wacana Jiwa

Jiwa adalah diri kita sendiri. Sehingga, mengkaji jiwa adalah mengkaji diri kita sendiri. Kita perlu berpikir reflektif.

“Wacana 2.1: Jiwa adalah Penentu” membahas peran besar jiwa sebagai penentu kemanusiaan, jiwa sebagai penentu sejati manusia, atau manusia adalah jiwa. Jiwa tulus menjadikan orang tersebut jadi tulus. Jiwa pengasih menjadikan orang tersebut pengasih. Sebaliknya juga benar. Jiwa jahat menjadikan orang tersebut jahat. Jadi, jiwa adalah penentu hakikat manusia. Sementara, badan manusia mirip-mirip semua. Badan penjahat mirip saja dengan badan orang jujur. Badan mereka sama-sama tersusun oleh materi biologis, kimia, dan reaksi beragam energi.

(316) The being of the body and its individuation is by its soul, not by its material mass ( jirmuhu). For example, Zayd is Zayd by his soul, not by his body. Therefore, the existence and individuation of the body continue as long as the soul remains and exists in it despite the fact that its parts have been replaced and its concomitants such as its place, quantity, quality, and time have all changed during its life span.

(316) Jiwa adalah penentu wujud dari badan dan individuasinya, bukan materinya. Sebagai contoh, Zayd adalah Zayd karena jiwanya, bukan karena badannya. Karena itu, eksistensi dan individuasi badan terus berlanjut selama jiwa terjaga dan eksis padanya, bahkan, ketika [1] anggota-anggota badan diganti dan [2] dampak ikutan juga diganti misal tempat, jumlah, kualitas, dan waktu seluruhnya berubah selama perjalanan kehidupan.

Jiwa saya tetap jiwa saya. Jiwa Anda tetap jiwa Anda. Meski rambut Anda berganti dengan rambut yang baru, meski kuku Anda berganti dengan kuku yang baru, meski Anda berniat operasi plastik, Anda adalah tetap Anda. Karena jiwa Anda menjaga kesatuan diri Anda dari awal sampai akhir dan sampai masa depan.

(316) The same is true if its material form changed
into a celestial form (ṣūra barzakhiyya), such as in sleep (dream), and in the grave until the day of resurrection, or it is changed into a hereafter form (ṣūraʾukhrawiyya) in the hereafter. The human being is the same in all these changes and transformations because these changes take place in a continuous unified manner. This is because the specific modes of its existence and its degrees along the path [of development] are not significant [for its individuation and identity]. What is significant for its subsistence is the subsistence of its soul because the soul is its perfective form (ṣūratuhu al-tamāmiyya) which is the principle of its being, the locus of its essence, the source of its powers, and the locus and the sustainer of its mixture and organs as long as (the individual) is a natural being.

(316) Tetap benar ketika bentuk material badan berganti menjadi [1] bentuk barzakh, misal ketika tidur (mimpi), dan ketika di alam kubur sampai hari kebangkitan, atau berganti menjadi [2] bentuk ukhrawi ketika di akhirat. Seorang manusia tetap sama dalam seluruh perubahan dan transformasi tersebut karena perubahan tetap dalam kesatuan kontinyu [individu itu]. Hal ini karena perubahan mode eksistensi dan derajat eksistensi tertentu itu [sepanjang perjalanan] tidak signifikan [terhadap individuasi dan identitas seseorang]. Yang signifikan bagi keberadaan adalah keberadaan jiwanya karena jiwa adalah forma sempurna sebagai wujud alami. Jiwa adalah [1] prinsip wujud, [2] lokus esensi, [3] sumber kekuatan, [4] lokus dan pemersatu organ-organ selama [sebagai individu] alami.

Secara gradual, materi badan akan berganti dari materi fisik menjadi materi spiritual atau intelektual. Demikian juga, organ-organ materi fisik akan berganti.

(316) [The soul then] gradually replaces the natural material organs with spiritual organs and so on until these organs become intellectual and simple. For example, if one asks: Is Zayd’s body the same body at youth, childhood, and old age? The answer from both aspects of negation and affirmation is true according to two considerations: [The first is that] it is not the same body if the body is considered to mean the material body. [The second is that] it is the same body if the body is considered to mean a body as genus. But if one ask: Whether Zayd the youth is he who was a child and then he became an adult and then an old man, or not? The answer is one: Yes.

(316) [Kemudian jiwa] mengganti organ material alamiah dengan organ spiritual, secara gradual, sampai organ-oragan menjadi intelektual dan sederhana. Sebagai contoh, jika ditanya: Apakah badan Zayd tetap sama ketika kanak-kanak, remaja, dan tua? Dua macam jawaban sama benar baik negasi atau afirmasi sesuai pertimbangan: [1] badan itu tidak sama jika maksud badan adalah materi badan; [2] badan itu tetap sama jika maksud badan adalah genus. Tetapi jika ditanya: Apakah orangnya sama Zayd muda, dengan yang dulu kanak-kanak, kemudian dewasa, dan menjadi tua, atau berbeda? Jawabannya hanya satu: Ya. [Tetap Zayd yang sama]

Diri kita adalah tetap orang yang sama sejak bayi, kanak-kanak, remaja, dewasa, dan menjadi tua. Materi badan bisa saja berganti. Rambut hitam diganti rambut putih. Kadang ada yang diganti dengan mengkilap tanpa rambut. Tetapi, badan itu tetap badan kita. Apalagi, jiwa kita benar-benar tetap jiwa kita, diri kita sendiri.

(317) The difference between matter and genus is mentioned in books of logic and in the investigation of essence in first philosophy. This difference is just like the difference between essence that is considered absolutely (lā bi-sharṭ), regardless whether it is mixed or abstracted, and essence that is considered as abstracted. The same is true regarding the difference between species, form, genus, subject, accident and the accidental, self and the essential, and part and particular. All these are predicated of the thing in accordance with the first consideration but not according to the second consideration.

(317) Perbedaan antara materi dan genus sudah dibahas dalam buku logika dan dalam penyelidikan esensi dalam filsafat utama. Perbedaannya adalah sekedar mirip esensi apakah [1] esensi sebagai absolut, tak peduli campuran atau abstraksi, atau [2] esensi sebagai abstraksi saja. Perbedaan semacam ini juga berlaku pada spesies, forma, genus, subyek, aksiden dan aksidental, diri dan esensial, bagian dan partikular. Semua predikasi terhadap sesuatu adalah bersesuaian dengan pertimbangan yang pertama [1] dan bukan yang kedua [2].

Pembedaan materi dan genus dari badan mengajak kita mempertimbangkan perbedaan esensi sebagai [1] absolut, bisa campuran atau abstraksi atau [2] abstraksi saja.

“Wacana 2.2: Kekuatan Imajinasi Melebihi Materi” membahas kekuatan imajinasi melebihi materi. Kita berada di dunia materi. Tetapi, jiwa kita memiliki kemampuan imajinasi yang kreatif melampaui batasan-batasan materi. Imajinasi seorang sastrawan mendorongnya menulis puisi yang menyentuh hati. Imajinasi seorang musisi mendorongnya menciptakan musik yang begitu merdu. Imajinasi seorang teknolog mendorongnya menciptakan inovasi teknologi yang canggih.

(317) The imaginative faculty is a substance that does not subsist by the body or by any of its organs, and it does not exist in any place in this natural material world. Rather, it is an immaterial being. It exists in an intermediary world between two worlds: the intellectual immaterial world and the material world, which is the subject of corruption. We have proved this subject in our books by clear demonstrative reasoning and by conclusive evidences. One who wishes to know them must consult these books.

(317) Fakultas imajinasi adalah substansi yang [1] tidak berada pada badan atau organ, dan [2] tidak berada di suatu tempat di alam materi ini. Tetapi, imajinasi adalah wujud imaterial. Imajinasi eksis di dunia tengah antara dua dunia: [1] dunia intelektual immaterial dan [2] dunia material, yang bisa rusak. Kami telah membahas tema ini di buku kami dengan bukti analisis yang kuat dan kesimpulan yang terbukti jelas. Bagi yang berminat silakan merujuk ke buku-buku tersebut.

“Wacana 2.3: Imajinasi sebagai Dinamika Jiwa” membahas imajinasi yang dinamis adalah dinamika jiwa. Jiwa selalu bergerak dinamis menuju kepada yang lebih baik. Karena itu, imajinasi selalu dinamis. Dinamika ini mengajak jiwa untuk meraih kebahagiaan, prestasi, dan kebaikan. Sayangnya, di perjalanan ada beberapa godaan yang bisa menjerat jiwa. Kita perlu kembali membersihkan jiwa agar bisa bergerak dinamis di jalan lurus.

(317) The imaginative form (al-ṣūra al-khayāliyya) does not inhere in the soul. Rather, the imaginative form subsists by the soul just like the subsistence of the act by the agent, not like the subsistence of that which is received by the receiver.

(317) Bentuk-bentuk imajinasi bukan sudah ada pada jiwa. Tetapi, bentuk imajinasi baru ada karena tindakan jiwa seperti adanya perbuatan karena pelaku berbuat sesuatu, bukan seperti diterimanya sebuah paket oleh penerima.

“Wacana 2.4: Visi adalah Kreativitas” membahas bahwa aktivitas mata adalah aktivitas kreatif oleh jiwa dan imajinasi. Visi, atau penglihatan, bukanlah pasif saja. Bukan karena ada sinar masuk ke mata. Bukan pula karena ada sinar keluar dari mata. Kita melihat kebun teh yang indah adalah proses kreatif jiwa berinteraksi dengan obyek kebun teh kemudian menciptakan pengalaman langsung “kebun teh yang indah.”

(318) Vision does not take place by imprinting the visible image in an organ such as the cornea or something like that, as the materialists believe. And it is not by a light coming out [of the eye], as the mathematicians believes, nor does the soul acquire illuminative relation (ʾiḍāfa ishrāqiyya) to that which exists out side when certain conditions are fulfilled. All of these opinions are futile, as has been made clear in its place. Rather vision occurs by creating a form that is identical to the external form.

(318) Visi, penglihatan, bukan terjadi dengan [1] menempelkan citra pada organ seperti kornea atau sejenisnya, sebagaimana keyakinan materialis. Dan bukan juga karena [2] cahaya keluar [dari mata] sebagaimana keyakinan matematikawan, tidak juga karena [3] jiwa berhasil membuat relasi iluminasi terhadap obyek luar ketika kondisi terpenuhi. Semua pendapat seperti itu gagal, sebagaimana sudah dijelaskan di tempat lain. Yang lebih tepat, visi terjadi karena penciptaan forma yang identik dengan forma eksternal.

Ketika kita interaksi, pengalaman langsung, dengan “kebun teh yang indah” maka, saat itu juga, jiwa menciptakan forma “kebun teh yang indah” secara identik.

(318) [This created form] does not exist in a place or
in this world; rather, it exists in the soul, and the soul has creative and illuminative relations to this form. This is the relation that deserves to be called illuminative relation, not that which is so called by the master of the Illumintionists (Suhrawardī) since the soul do not have any relation to the external material objects except through its connection with (its) natural material body. Every relation that takes place through this aspect (i.e., its relation to the material body) is a materialistic relation and is bounded by a place; it is not perceptive and illuminative relation. Therefore, our opinion about the relation is better and is more proper to be called an “illuminative relation.” Moreover, we have demonstrated that the material form cannot be perceived as a material form. This was a matter of disagreement between the prestigious philosophers (muʿtabarī al-falāsifa), and therefore they have mentioned that every perception takes place by a kind of abstraction (tajrīd).

(318) [Forma yang diciptakan jiwa] ini tidak berada di suatu tempat di dunia ini. Lebih tepatnya, berada pada jiwa, dan jiwa memiliki relasi kreatif dan iluminatif dengan forma ini. Relasi ini tepat disebut sebagai relasi iluminatif, bukan relasi yang disebut Master Iluminasi (Suhrawardi) karena jiwa tidak memiliki relasi dengan obyek material selain hubungan [jiwa] dengan badan alamiahnya sendiri. Setiap relasi yang melaui aspek ini (yakni badan material) adalah relasi materialistik dan terikat pada tempat; yang demikian bukan relasi persepsi dan iluminasi. Karena itu, pendapat kami tentang relasi adalah lebih baik dan lebih pantas disebut “relasi iluminatif.” Lebih dari itu, kami sudah menunjukkan bahwa forma material tidak bisa dipersepsi sebagai forma material. Para filsuf besar berbeda pendapat tentang masalah ini, dan mereka menyebut setiap persepsi sebagai sejenis abstraksi.

Kita menghadapi kompleksitas di sini. Kita mengalami langsung, pengalaman individuasi, melihat “kebun teh yang indah,” di saat yang sama, jiwa menciptakan forma imajinatif “kebun teh yang indah” yang identik dengan forma realitas eksternal. Bagaimana pun, forma imajinatif ini bisa saja salah, dalam arti, tidak sesuai dengan forma realitas eksternal. Kita perlu waspada terhadap fenomena delusi atau ilusi.

(319) Know that the soul’s vision and all its senses, as long it is in this world, are something other than its imagination because in vision and sensing the soul needs external matter and special conditions, but in imagination it does not need that. Moreover, imagination here in this life is not a vision except some times when it sees the imaginative forms, but when the soul departs the body’s dust and when it peels itself from this shell (the body) as the snake peels off its skin, then there is no difference between vision and imagination since the imaginative faculty, which is the reservoir of the senses, becomes strong, weakness and deficiency having removed from it. The veil is removed, and all faculties united, then the soul does by the faculty of imagination what it does by other [faculties], it sees by the eye of imagination what it saw by the sensible eye, and its power, knowledge, and desires become one thing. Its perception of the desirable things is its ability to present them to itself. In other words, there is nothing in paradise except that which the soul desires, as the Exalted said: “In it (the paradise) all that the souls desire and the eyes delight in” (Q 43:71).

(319) Perhatikan bahwa penglihatan oleh jiwa [visi] dan seluruh indera, selama berada dalam dunia ini, adalah sesuatu yang berbeda dengan imajinasi karena, dalam visi dan indera, jiwa membutuhkan materi eksternal dan kondisi tertentu, tetapi imajinasi tidak membutuhkan itu. Lebih jauh, imajinasi di dunia ini bukanlah visi kecuali ketika [1] melihat forma imajinatif, tetapi ketika jiwa meninggalkan badan dan melepaskan kulitnya (badannya) seperti ular melepaskan kulitnya, maka [2] tidak ada perbedaan antara visi dan imajinasi karena fakultas imajinasi, yang merupakan sumber dari indera, menjadi kuat, kelemahan dan kekurangan sudah dibersihkan darinya. Penghalang dihilangkan, fakultas menyatu, dan jiwa melakukan semua dengan fakultas imajinasi apa yang sebelumnya dilakukan oleh [fakultas] lain, jiwa melihat dengan mata imajinasi terdahap apa yang dilihat dengan indera [1] mata, dan [2] kekuatan, [3] pengetahuan, dan [4] kehendak menjadi satu. Persepsi jiwa terhadap sesuatu yang dikehendaki merupakan kemampuan jiwa menghadirkan sesuatu itu kepada jiwa. Dengan kata lain, di surga, tidak ada apa pun kecuali yang dikehendaki oleh jiwa sebagai mana Yang Maha Tinggi berfirman: “Di sana (di surga) adalah semua yang diinginkan oleh jiwa dan indah di mata.” (Q 43:71).

Kompleksitas di atas (forma imajinatif oleh jiwa yang identik dengan realitas eksternal) membekali kita untuk mampu membahas nasib masa depan jiwa setelah kematian badan. Jiwa kita tetap kaya akan forma imajinatif meski jiwa sudah meninggalkan badan material. Justru, jiwa makin bening dalam memahami setiap forma imajinatif karena terbebas dari materi. Bahkan, persepsi jiwa adalah menjadi realitas itu sendiri. Di dunia kita saat ini, realitas “kebun teh yang indah” kemudian menjadi persepsi “kebun teh yang indah.” Di dunia sana, persepsi oleh jiwa tentang “kebun teh yang indah,” serentak menjadi realitas “kebun teh yang indah.”

Bagaimana pun, kita perlu waspada terhadap ilusi di dunia ini. Korupsi mencuri uang rakyat trilyunan rupiah tampak nikmat terbahak-bahak di dunia ini. Forma imajinasi dari korupsi, ketika di dunia sana, adalah realitas api neraka membara yang membakar jiwa mereka. Sementara, orang-orang yang beramal kebaikan telah berhasil membentuk forma imajinatif yang indah dan membahagiakan.

(319) In the holy tradition (ḥadīth qudsī) concerning the people of paradise, says: “The angel comes and, after he greets them, he hands them a letter from God, in which [it is written]: From the Living and the Sustainer to the living and the sustainer: Now, I say to the thing “be” and it is, and I have made you to say to the thing “be” and it is.” Then, the prophet, peace be upon him and upon his family, said: “Whenever a person from the inhabitants of paradise says to a thing “be”, this thing becomes being.”

(319) Dalam hadis qudsi, berkenaan dengan penduduk surga, dijelaskan: “Malaikat datang, mengucap salam kepada mereka, dan memberikan surat dari Tuhan kepada mereka, yang [tertulis dalam surat]: Dari Yang Maha Hidup dan Maha Kukuh kepada yang hidup dan kukuh: Sekarang, Saya katakan kepada sesuatu “Jadilah” maka “Menjadilah,” dan Saya telah menjadikan kamu untuk mengatakan kepada sesuatu “Jadilah” maka “Menjadilah.” Kemudian, Nabi, salam untuknya dan keluarganya, bersabda, “Kapan saja seorang penduduk surga mengatakan sesuatu “Jadilah” maka sesuatu itu menjadi kenyataan.”

Kekuatan jiwa adalah realitas eksistensi.

“Wacana 2.5: Perubahan Status Jiwa” membahas bahwa jiwa bisa berubah secara ekstrem. Jiwa seorang manusia bisa menjadi pejuang keadilan, kemudian beberapa jam, berubah menjadi koruptor. Bisa juga berubah ekstrem sebaliknya. Jiwa penjahat kelas kakap bisa tobat dalam sekejap menjadi jiwa yang suci. Secara umum, perubahan status jiwa terjadi secara perlahan dan lembut. Sehingga, kita bisa mengarahkan perubahan menuju ke arah yang positif.

(319) The human being, among many types of creatures, is peculiar in that it is possible for one of its members to have many instantiations one before the other, but in spite of that his individuality remains the same. A single human being has at the beginning of his childhood a material being according to which he is a human being, and then his (material) existence gradually moves and becomes pure and subtle until he acquires a hereafter psychic being (kawn ukhrawī nafsānī) in which he possesses psychic organs. This is the second human being.

(319) Manusia adalah spesial, di antara makhluk lain, karena memungkinkan untuk menjadi anggota satu model berubah ke anggota model lain, tetapi tetap menjadi individu yang sama. Seorang manusia, ketika lahir sebagai bayi, adalah anggota dari [1] model materi. Kemudian, eksistensi material ini bergerak dan menjadi murni sampai meraih [2] model wujud psikis di masa nanti, di mana, memiliki organ-organ psikis. Dia menjadi manusia tingkat kedua.

Perubahan status jiwa manusia dari model material menjadi model psikis berlangsung secara lembut gradual. Tetapi, hasil akhir bisa saja terlihat perbedaan ekstrem dari yang semula. Bagaimana pun, orang itu tetap menjadi pribadi yang sama, pribadi yang satu.

(319) Then, it is possible that he moves from this (psychic) being and acquires an intellectual being according to which he is an intellectual human being (insān ʿaqlī) that possesses intellectual organs. This is called the third human being, as the master of the philosophers (i.e., Aristotle) mentioned in the book of Theology (Uthūlūjiā.)

(319) Kemudian, mungkin saja, dia bergerak dari eksistensi (psikis) dan meraih suatu eksistensi intelektual yang bersesuaian; dia adalah [3] manusia intelektual yang memiliki organ intelektual. Yang demikian disebut sebagai manusia tingkat tiga, sebagaimana master filsuf (yakni Aristo) menyebutnya dalam buku Teologi.

Tiga tingkat mode-eksistensi manusia: (1) mode-eksistensi material yaitu manusia di alam ini; (2) mode-eksistensi psikis yaitu manusia memiliki organ psikis yang lebih kuat; (3) mode-eksistensi intelektual yaitu manusia paling sempurna.

(319) Know that although a human being acquires these two worlds (the psychic and intellectual worlds) after being a material being, these two worlds were in his possession before this origination (ḥudūth). Plato affirmed that the human soul has intellectual instantiation before the origination of this body. It also has been established in our true religion that for human individuals there is a particular and distinguished existence (kaynūna juzʾiyya mutamayyiza) before their material existence, as the Exalted said: “When your Lord took from the Children of Adam their descendants from their loins and made them bear witness over themselves, [He Said to them:] Am I not your Lord? They said ‘Yes indeed! We bear witness. [This, ] lest you should say on the Day of Rising, ‘indeed we were unaware of this” (Q7: 172).

(319) Ketahuilah meski manusia meraih dua dunia (psikis dan intelektual) setelah melalui menjadi wujud material, dua dunia ini sudah [pernah] menjadi milik manusia sebelum lahir [di dunia ini]. [1] Plato menyatakan bahwa jiwa manusia memiliki mode-intelektual sebelum lahir ke badan ini. Hal ini juga dikuatkan oleh [2] ajaran agama sejati kami yang menyatakan bahwa individu manusia memiliki eksistensi partikular dan tertentu sebelum lahir ke badan material ini, sebagai mana Yang Maha Suci berfirman: “Ketika Tuhan mengambil Anak Adam dan ketuturunannya dari sulbi mereka dan menjadikan saksi atas mereka, [Tuhan berkata kepada mereka]: Bukankah Aku adalah Tuhan kalian? Mereka menjawab, “Ya, benar. Kami bersaksi.” [Yang demikian,] jangan sampai kalian mengatakan di Hari Kebangkitan, “Kami tidak tahu hal ini.” “(Q7: 172)

Manusia berhasil meraih mode-psikis dan mode-intelektual setelah melalui mode-material di dunia ini. Meski demikian, manusia sudah pernah berada pada dua mode di atas (psikis dan intelektual) sebelum lahir di dunia material ini.

(321) And there are many traditions from our Imams, peace is upon them, that point to this understanding. These traditions point to the fact that the Imams’ souls were created from the sublime clay (ṭīnat ʿlliyīn) before the creation of heaven and earth, and that their bodies were created from clay that is lower in rank than that one. In the same manner, the souls of their followers were created from the clay of Imams’ bodies, and the hearts of their opponents were created from clay of sijjīn and the hearts of their followers were created from the clay of their bodies. This tradition, and other similar to it, is explicit in pointing to the fact that there is a previous instantiation of the human being before the material instantiation.

(321) Dan terdapat banyak riwayat dari Imam kita, salam atasnya, yang menunjukkan pemahaman ini. Riwayat-riwayat ini menyatakan bahwa jiwa Imam tercipta dari tanah suci sebelum penciptaan langit dan bumi, dan mereka yang badannya tercipta dari tanah dengan derajat lebih rendah. Dengan cara yang sama, jiwa para pembela tercipta dari badan tanahnya Imam, dan hati para musuh tercipta dari tanah sijjiin [terendah] dan hati para pengikut mereka tercipta dari tanahnya badan mereka. Riwayat ini, dan yang serupa, menunjukkan bahwa ada mode eksistensi yang lebih awal dari mode material manusia.

3. Wacana Analisa

Kekuatan jiwa manusia lebih besar dari yang disangka. Jiwa mampu berpikir kreatif, mengembangkan imajinasi kreatif, menembus batas-batas. Lebih dari itu, jiwa manusia masih terus eksis ketika badan manusia mati. Awalnya, jiwa berkembang dari materi, bekerja melalui badan, akhirnya transenden lebih tinggi dari badan.

3.1 Alternatif Awal Mula Jiwa

Untuk memudahkan analisa, ada baiknya, kita survey beberapa pandangan tentang asal mula jiwa. Berikut saya kutipkan tulisan saya yang waktu itu membahas filsafat jiwa dari Suhrawardi.

Problem asal mula jiwa sudah menjadi tanda tanya abadi sampai masa kini. Pendekatan materialisme murni, atau bald naturalism, sulit menemukan solusi. Andai naturalisme berhasil menjawab asal mula jiwa, tetapi, sulit menjelaskan mengapa jiwa bisa bersikap spontan atau freedom? Cahaya sejati akan menjadi solusi. Bagaimana pun, peran materi atau badan manusia memang tetap penting untuk menghadirkan jiwa manusia.

Mari kita coba perhatikan beberapa alternatif solusi asal mula jiwa.

(a) Alam ideal Plato menyatakan bahwa jiwa sudah eksis di alam ideal. Kemudian, jiwa ini masuk ke badan manusia, mengendarai badan, tiba waktunya, meninggalkan badan untuk melanjutkan perjalanan abadi. Jiwa bagai seorang pilot. Badan bagai sebuah pesawat. Pilot dari luar masuk ke dalam pesawat, kemudian mengendarai pesawat. Setelah cukup perjalanan bersama pesawat, kemudian, pilot meninggalkan pesawat.

(b) Naturalisme atau sains menyatakan bahwa jiwa adalah gejala dari alam materi. Yang benar-benar nyata adalah materi atau sebut saja sains fisika. Jiwa muncul akibat dari interaksi materi-materi sel otak dengan materi-materi lainnya. Kita bisa mempelajari asal mula kesadaran jiwa dengan mempelajari cara kerja sel otak manusia. Psikologi, ilmu jiwa, perlu mempelajari cara kerja otak mekanis dihubungkan dengan reaksi bahan-bahan obat kimia. Dengan itu semua, kita bisa memahami jiwa. Lebih dari itu, kita bisa mengendalikan jiwa. Dari mana asal mula jiwa pada manusia pertama? Kita bisa mempelajarinya berdasar teori evolusi. Kita tahu bahwa teori evolusi juga mengalami evolusi.

Kita perhatikan, naturalisme sains tampak berlawanan dengan idealisme Plato. Wajar saja, banyak pemikir yang mengajukan jalan tengah di antara mereka. Bahkan, Aristo, murid Plato, sudah mengajukan solusi jalan tengah. Jiwa adalah bentuk penyempurnaan badan.

(c) Jiwa adalah enteleki (penyempurnaan) badan. Awalnya adalah badan. Kemudian badan bergerak, berubah, dan menyempurna. Hasil penyempurnaan ini adalah jiwa manusia. Selanjutnya, jiwa itu sendiri terus bergerak menyempurna – dengan merenung dan perilaku moral, misalnya. Sampai tingkat penyempurnaan tinggi, jiwa mampu hidup terbebas dari badan. Jiwa menjadi abadi setelah kematian badan.

(d) Teori emergent menyatakan bahwa jiwa muncul “emerge” begitu saja dari interaksi, relasi, dan koordinasi bagian-bagian yang berupa materi. Meski bagian-bagian dari jiwa adalah materi-materi badan, tetapi, sifat-sifat jiwa tidak bisa direduksi menjadi sifat-sifat materi. Misal, jiwa yang berpikir kreatif tidak bisa direduksi menjadi materi-materi sel otak. Sifat “emerge” dari jiwa adalah baru dan berbeda dari sifat penyusunnya yang materi. Seperti mobil adalah alat transportasi yang nyaman. Tidak bisa mobil ini direduksi menjadi roda, tempat duduk, bensin, dan kemudi. Menjumlahkan roda dengan bensin tidak akan menghasilkan transportasi. Kemampuan transportasi adalah sifat baru yang muncul “emerge” dari komponen-komponennya. Demikian juga dengan jiwa.

(e) Jiwa konseptual lahir ketika manusia mampu berpartisipasi secara konseptual. Ketika masih bayi, atau janin, jiwa manusia masih bersifat potensial. Jiwa baru menjadi jiwa seutuhnya ketika mampu berpartisipasi di alam konseptual, terutama, berupa bahasa. Awalnya, jiwa adalah anggota alam biasa sebagaimana batu, tumbuhan, dan hewan lainnya. Seiring perjalanan sejarah, seorang bocah belajar bahasa, kemudian memahami beragam konsep: adil, baik, buruk, bagus, jahat, salah, benar, dan lain-lain. Saat itu, seorang bocah mulai memiliki jiwa seutuhnya. Dengan demikian, jiwa manusia adalah anggota alam raya yang merupakan produk kompleks dari perjalanan sejarah. Bagaimana pun, alam konseptual jiwa berbeda dengan alam materi. Alam jiwa adalah alam normatif yang bebas untuk menentukan baik dan buruk. Sedangkan, alam materi adalah alam yang tunduk dengan aturan hukum alam.

Beberapa alternatif teori di atas membantu kita memahami asal mula jiwa, khususnya jiwa manusia, dengan pendekatan cahaya sejati berikut ini.

Asal mula jiwa adalah cahaya sejati tetapi penentunya adalah alam materi. Akibatnya, jiwa berasal dari materi. Kemudian, jiwa menjalani karir bersama materi. Sampai, akhirnya, jiwa kembali ke cahaya sejati menjadi abadi terbebas dari ikatan materi.

Dinamika cahaya sejati terjadi antara dominating-light dan managing-light. Pada tahap akhir, managing-light berperan besar mengatur dinamika cahaya. Semetara, dominating-light terus-menerus memancarkan kekuatan cahaya. Managing-light bermaksud mengatur materi melalui cahayanya. Tetapi, pengaturan semacam itu tidak bisa terjadi. Perlu relasi yang sesuai antara managing-light dengan materi. Kita tahu, bahwa sudah ada jiwa manusia sebelum jiwa diri kita, yaitu jiwa ibu dan bapak kita. Dengan demikian, managing-light meliputi cahaya proto-humanity secara universal. Untuk kasus manusia pertama, cahaya proto-humanity bersifat murni. Bagaimana pun, managing-light berhasil mewakili seluruh kompleksitas dinamika cahaya sejati.

Dari sisi materi, perlu kapasitas yang tepat untuk menghadirkan jiwa manusia yang baru. Sel sperma dari ayah cukup dekat dengan karakter dominating-light tetapi tidak memadai untuk menghasilkan jiwa. Sel telor dari ibu lebih sempurna karena bersifat managing-light. Bagaimana pun, sel telor belum siap menghadirkan jiwa.

Materi masih perlu terus bergerak, lebih sempurna, agar memiliki kapasitas menghadirkan jiwa. Sel sperma bertemu sel telur membentuk janin awal. Pertemuan karakter dominating dengan managing, pada akhirnya, menghasilkan karakter managing-light pada janin. Hal ini lebih tepat. Janin bertumbuh kembang di rahim ibu.

Perkembangan janin membuatnya siap untuk menghadirkan jiwa. Managing-light datang untuk mengatur, management, janin. Tetapi, managing-light tidak berhasil membangun relasi dengan janin. Pihak janin terus mengembangkan kapasitas untuk lebih berkembang. Janin berhasil membangun relasi dengan managing -light. Relasi ini adalah commanding-light yaitu awal dari jiwa manusia. Jadi, di tahap ini, janin material berhasil menghadirkan jiwa manusia.

Mari kita ringkas proses awal mula jiwa manusia dengan solusi cahaya sejati.

(a) Cahaya sejati berinteraksi dinamis dari Cahaya Maha Cahaya, dominating-light, sampai managing-light. Semua dinamika ini menjadi persiapan untuk menghadirkan jiwa.

(b) Alam materi bergerak menyempurna dengan mempertemukan sel sperma dan sel telor membentuk janin. Perkembangan kapasitas janin berhasil membangun relasi dengan managing-light yaitu jiwa manusia berupa commanding-light.

(c) Jiwa manusia adalah perkembangan dari janin material sebagai relasi dengan managing-light sampai Cahaya Maha Cahaya. Jadi, jiwa memiliki relasi yang kuat dengan materi dan cahaya sejati.

Jiwa memiliki kapasitas reseptif, imajinatif, dan rasional. Kapasitas reseptif memungkinkan jiwa berinteraksi dengan alam sekitar. Kapasitas rasional bebas menerapkan kemampuan freedom miliknya. Interaksi ini menghasil konsep-konsep imajinatif oleh jiwa.

3.2 Dari Materi Melebihi Materi

Sadra sepakat dengan Aristo dan Suhrawardi bahwa asal mula jiwa adalah penyempurnaan dari materi. Awalnya, jiwa adalah forma dari badan janin. Selanjutnya, jiwa adalah diferensia bagi genus badan manusia. Pergeseran dari forma menjadi diferensia berlangsung lembut.

Sebagai forma dari badan, jiwa selalu menyatu dengan badan. Forma tidak bisa terpisah dari materi badan manusia. Sebagai diferensia, jiwa adalah pembeda dari badan-badan manusia yang bersifat umum. Lebih dari itu, diferensia adalah penentu bagi genus. Diferensia meliputi genus. Genus, yaitu badan, bisa eksis karena ada diferensia, yaitu jiwa. Gradasi eksistensi dan gerak substansial menjadi dasar ini semua. Eksistensi yang lemah, yaitu genus badan, membutuhkan eksistensi yang kuat, yaitu diferensia jiwa. Tetapi tidak berlaku sebaliknya. Sementara, gerak substansial menjamin bahwa gerak badan, dan gerak jiwa, selalu menuju ke tingkat eksistensi yang lebih tinggi.

Konsekuensi logis lanjutan adalah jiwa manusia tetap hidup dengan matinya badan manusia. Karena jiwa adalah diferensia bukan sekedar forma. Tentu saja, pemikir besar sejak jaman dulu, misal Plato dan Aristo sampai Farabi dan Suhrawardi, yakin bahwa jiwa tetap abadi setelah kematian badan. Tetapi, argumen Sadra memang paling istimewa.

Argumen Suhrawardi termasuk yang terbaik. Jiwa tetap eksis setelah kematian badan karena sebab eksistensi jiwa adalah Tuhan Sang Cahaya Maha Cahaya. Badan bukanlah sebab bagi eksistensi jiwa. Karena Tuhan tetap eksis, maka akibatnya tetap eksis, yaitu jiwa manusia tetap eksis.

Immanuel Kant perlu argumen moral untuk membuktikan keabadian jiwa setelah kematian badan. Tuhan Maha Adil. Di dunia ini, kita melihat banyak yang tidak adil. Orang-orang yang baik banyak yang hidupnya miskin. Sebaliknya, beberapa orang jahat justru hidup pesta pora berfoya-foya. Jika jiwa manusia hancur setelah matinya badan maka tidak adil. Jadi harus ditolak ide hancurnya jiwa. Kesimpulannya, jiwa pasti abadi setelah badan mati agar dapat memperoleh keadilan yang murni.

Tentu saja, Sadra juga yakin terhadap eksistensi dan Maha Adilnya Tuhan. Tetapi, cukup dengan argumen Sadra di atas kita bisa membuktikan keabadian jiwa: (1) gradasi eksistensi; (2) gerak substansial; (3) penyempurnaan forma menuju diferensia.

3.3 Organ-Organ Jiwa

Jiwa, sebagai diferensia, mengambil alih dominasi badan. Langkah ini menyelesaikan banyak problem sulit, termasuk, problem dari filosofi pikiran.

Sains naturalis menganggap mata adalah organ penglihatan bagi badan. Kita perlu merevisinya. Mata adalah organ penglihatan bagi jiwa. Badan adalah media bagi jiwa. Demikian juga seluruh organ-organ lain. Semua organ bukanlah organ dari badan. Semua organ adalah organ bagi jiwa.

David Chalmers(1966 – ) mengajukan dua problem bagi filosofi pikiran. (1) Hard problem: bagaimana kita bisa mengalami kesadaran sebagai subyek; bagaimana kita bisa sadar saya ini adalah saya? (2) Easy problem: bagaimana otak bisa mengolah data-data yang masuk melalui mata, kemudian, muncul citra atau impresi obyek eksternal; bagaimana otak memunculkan citra pohon ketika kita melihat pohon di depan rumah?

Problem itu sudah berlalu lebih dari 25 tahun. Sampai sekarang, tidak ada solusi yang memadai. Tentu saja, tidak akan pernah tercapai solusi yang memadai. Karena filosofi pikiran berasumsi bahwa mata adalah organ bagi badan. Mereka perlu mengubah asumsi, yaitu, asumsinya menjadi mata adalah organ bagi jiwa. Kita akan membahas lebih detil tema visi di bagian bawah: visi eksistensial.

3.4 Imajinasi adalah Pusat

Dari seluruh kekuatan jiwa, fakultas imajinasi adalah paling utama. Kita bisa menganalisis ini dari naturalisme sains mau pun dari eksistensialisme.

Sains menunjukkan bahwa cahaya dari obyek eksternal, misal pohon, masuk ke mata, diolah sistem syaraf. Kemudian, otak memunculkan imajinasi citra pohon. Jiwa memahami citra pohon, dalam imajinasi itu, sebagai ada pohon di alam eksternal. Pengenalan obyek suara, atau lainnya, secara prinsip sama saja. Gelombang suara masuk ke telinga, lalu, diolah oleh otak. Otak memunculkan citra atau sinyal suara. Kemudian, jiwa mengenali sinyal imajinasi itu sebagai suara. Jadi, fakultas imajinasi adalah paling utama.

Eksistensialisme juga menempatkan imajinasi sebagai paling utama. Ada subyek yaitu jiwa kita. Ada obyek, misal pohon di depan kita. Ada konteks, atau latar, atau situasi, yang saling berhubungan. Terjadi individuasi eksistensi di antara mereka. Fakultas imajinasi dari subyek menciptakan imajinasi pohon. Kita memahami imajinasi tersebut adalah pohon.

Kant mengusulkan pendekatan sintesa yang juga mengutamakan kekuatan imajinasi. Organ reseptor, misal mata, menerima sinyal-sinyal yang bersesuaian dari alam sekitar. Berdasar sinyal ini, fakultas imajinasi menciptakan sebuah citra, misal citra pohon. Akal, atau jiwa manusia, menerapkan konsep-konsep kepada citra pohon itu dan, akhirnya, akal memahami bahwa obyek tersebut adalah sebuah pohon.

Pendekatan sintesa dari Kant dan eksistensialisme meyakini bahwa kekuatan imajinasi adalah transendent(al) terhadap materi. Sementara, sains naturalisme meyakini bahwa imajinasi adalah efek dari materi. Bagaimana pun mereka sepakat bahwa fakultas imajinasi adalah paling penting.

Kita bisa melanjutkan analisis bahwa jiwa adalah diferensia dari badan sehingga fakultas imajinasi, fakultas jiwa, memiliki mode eksistensi yang lebih tinggi dari materi. Konsekuensinya, ketika jiwa terpisah dari badan, kematian badan, maka kekuatan imajinasi makin jernih. Imajinasi mampu menciptakan realitas secara kreatif tanpa halangan materi. Fakultas imajinasi menjadi kunci penghubung antara mode eksistensi material, di alam ini, dengan mode eksistensi yang lebih tinggi yaitu mode psikis dan intelektual.

3.5 Visi Eksistensial

Kali ini, kita akan mengambil kasus khusus yaitu penglihatan oleh kita atau visi.

(a) Visi adalah realitas eksistensial yang terindividuasi secara konkret. “Saya melihat pohon” adalah realitas nyata.

(b) Visi adalah aktivitas jiwa bukan aktivitas materi. Materi diperlukan hanya sebagai kondisi.

(c) Ketika terjadi visi “Saya melihat pohon” maka, saat itu juga, jiwa menciptakan imajinasi “Saya melihat pohon”.

(d) Ketika “Saya melihat pohon” memang benar saya melihat pohon yang ada di alam eksternal. Asumsikan sebagai kasus visi sejati, bukan ilusi atau delusi. Jadi, eksistensi konkret.

(e) Tetapi, jiwa menciptakan dan melihat imajinasi “Saya melihat pohon.”

(f) Kita berada dalam kompleksitas makrokosmos, makros, “Saya melihat pohon” di alam eksternal dan mikrokosmos, mikros, “Saya melihat pohon” di alam internal imajinasi.

(g) Mikros identik dengan makros.

Beberapa orang sepakat dan menerima pernyataan (g) mikros identik dengan makros. Beberapa orang lainnya, misal Fazlur Rahman, masih penasaran: “Bagaimana hubungan mikros dengan makros? Bagaimana hubungan imajinasi dengan realitas?”

Sadra menjawab, “Hubungan tersebut adalah aksidental.”

Rahman kecewa dengan jawaban tersebut. Rahman menyebut Sadra sebagai realis idealis. Realis karena mengakui alam eksternal sebagai eksistensi obyektif. Sadra dan murid-muridnya akan setuju ini. Idealis karena yang diketahui adalah imajinasi, atau mikros. Murid-murid Sadra bisa saja keberatan.

Lalu, jawaban apa yang diharapkan oleh Rahman? Relasi substansial? Relasi esensial? Relasi eksistensial? Saya tidak menemukan rekomendasi dari Rahman.

Solusi Sadra berupa relasi aksidental memberi keuntungan. Karena hanya aksidental maka mikros bisa melepaskan makros bila diperlukan. Ketika mikros sudah berkembang baik, makros tidak penting lagi. Jiwa bisa hidup di dunia mikros yang sudah berkembang itu. Hal ini terjadi ketika jiwa meninggalkan badan dalam peristiwa kematian badan. Jiwa terus maju bersama mikros dalam mode-psikis dan mode-intelektual. Jiwa bisa hidup di surga tanpa terbatasi oleh alam materi.

Rahman, barangkali, bisa mengusulkan solusi berupa relasi eksistensial sebagai mana konsep dasein dari Heidegger. Dasein, atau manusia ontologis, selalu peduli sebagai being-in-the-world. Manusia tidak bisa hidup hanya dengan dirinya sendiri. Manusia selalu berada dalam dunia. Andai manusia bisa lepas dari dunia ini, maka, dia akan berada dalam dunia yang lain. Relasi mikros dan makros adalah relasi eksistensial yang bersifat niscaya. Apakah Sadra akan setuju?

Kita akan mempertimbangkan solusi Hegel, dulu, berupa dialektika.

3.6 Dialektika Futuristik

Murid-murid Sadra, tampaknya, tidak setuju dengan Hegel. Lantaran Hegel menggunakan istilah kontradiksi sebagai landasan ontologi. Sementara, murid-murid Sadra lebih mendukung konsep non-kontradiksi sesuai logika Aristo. Andai, kita bersedia mendalami dialektika Hegel, maka, akan menemukan banyak ide menarik.

Tesis berdialektika dengan anti-tesis menghasilkan sintesis. Gambaran dialektika sintesis, seperti di atas, sering dikenal umum meski tidak tepat untuk menggambarkan dialektika Hegel. Di sini, saya juga akan memodifikasi dialektika Hegel agar lebih tepat menggambarkan relasi antara mikros dan makros adalah relasi dialektika.

(1) Realitas eksistensi adalah “Saya melihat pohon”. Eksistensi ini terindividuasi secara konkret lengkap dengan subyek, obyek, dan konteks. Makros. Selanjutnya, manusia berpikir.

(2) Esensi adalah yang paling utama dari realitas eksistensi di atas. Banyak aspek-aspek aksidental dari realitas perlu dibersihkan agar tersisa aspek esensial saja. Mikros. Terjadi pertentangan, Hegel menyebutnya kontradiksi, antara mikros dan makros.

(3) Becoming. Dialektika antara mikros yang kembali kepada makros menghasilkan sintesis baru yang merangkul mikros dan makros yaitu becoming. Tetapi, becoming ini adalah realitas eksistensi pada level yang lebih tinggi. Jadi, becoming adalah eksistensi itu sendiri. Proses kembali ke (1) realitas eksistensi.

Jadi relasi antara imajinasi dan realitas, antara esensi dan eksistensi, antara mikros dan makros, adalah relasi dialektika. Jika kita memulai dialektika dengan mengutamakan realitas eksistensi seperti di atas, maka, relasi dialektika adalah relasi eksistensial. Beberapa tulisan Hegel selaras dengan pandangan ini.

Tetapi, sebagian besar karya Hegel justru menunjukkan dialektika dimulai dari spirit, dimulai dari mikros. Spirit menemui anti-spirit, mereka berdialektika menghasilkan sintesis becoming yang merupakan spirit-baru. Dialektika berlanjut terus menuju spirit absolut. Dalam perspektif ini, spirit adalah esensi. Dengan demikian, kita bisa membaca relasi dialektika sebagai relasi esensial – dan relasi eksistensial.

Mikros adalah identik dengan makros. Relasi esensial, atau pun relasi eksistensial, antara mikros dan makros adalah relasi identitas atau relasi transparansi diri sendiri. Sehingga, kontradiksi hanya terjadi dari status mikros sebagai esensi dengan makros sebagai eksistensi. Di masa lebih awal, Porphyry (234 – 305) mengklaim identitas antara subyek akal dan obyek akal. Intellect identik dengan intelligible. Sadra setuju dengan konsep identitas ini.

Selanjutnya, kita akan membahas dasein dari Heidegger yang dengan tegas menyatakan relasi mikros dan makros adalah relasi eksistensial. Hanya saja, relasi eksistensial bisa dalam mode otentik atau mode tidak otentik.

Dasein adalah eksistensi yang peduli dengan eksistensi dirinya selalu dalam dunia, being-in-the-world, dan dalam rangkulan masa depan, masa lalu, dan masa kini. Dengan demikian, manusia ontologis memiliki relasi eksistensial yang sangat kuat dengan dunia dan waktu. Kesadaran diri seseorang sebagai subyek, yang berbeda dengan obyek eksternal, adalah reduksi yang tidak memadai terhadap dasein, being-in-the-world.

(a) Realitas adalah being atau eksistensi terindividuasi secara konkret. Tetapi, kita perlu bertanya apa makna-realitas? Apa makna-being? Apa makna-konkret? Apa makna-eksistensi? Apa makna-ada?

(b) Kita perlu memilih kajian awal terhadap realitas eksistensi. Eksistensi mana yang bisa menjadi awal kajian? Kita memilih dasein yaitu eksistensi yang bertanya tentang makna-eksistensi. Dan spesies manusia adalah eksistensi yang bisa bertanya tentang eksistensi. Jadi, manusia adalah dasein. Awal kajian kita adalah dasein sebagai manusia ontologis.

(c) Dasein sudah ada dalam dunia, being-in-the-world. Dasein, termasuk diri kita, tidak bisa membuktikan eksistensi dunia. Karena dunia sudah selalu mendahului bukti yang kita ajukan. Atau, setiap bukti justru membutuhkan eksistensi dunia. Tugas kita adalah memaknai dunia dan memaknai semua yang ada.

(d) Dasein memandang dunia sebagai (1) ready-at-hand yang bermakna bagi dasein. Kemudian, dasein memikirkan dunia sebagai (2) present-at-hand sebagai konsep umum. “Saya melihat pohon” adalah eksistensi konkret yang menghasilkan buah-buahan bagi saya. Dalam kasus ini, pohon adalah (1) ready-at-hand. Kemudian saya berpikir pohon adalah sejenis tumbuh-tumbuhan yang beda dengan binatang. Konsep pohon sebagai tumbuhan adalah (2) present-at-hand.

(e) Dasein memiliki relasi eksistensial dengan (1) ready-at-hand. Sementara, dengan (2) present-at-hand dasein terhubung secara aksidental.

(f) Dasein memaknai dunia berdasar horison waktu – masa depan, masa lalu, dan masa kini. Masa kini memaparkan suatu eksistensi dan menyembunyikan eksistensi lain – masa depan dan masa lalu. Bagaimana pun semua eksistensi memang eksis baik eksistensi masa kini, masa depan, mau pun masa lalu. Untuk menekankan nilai penting masa depan, saya menyebut dasein berorientasi futuristik.

(g) Mikros adalah dasein dan makros adalah dunia. Mikros terhubung dengan makros secara eksistensial bila makros adalah ready-at-hand; (1) mode otentik . Tetapi, hanya terhubung aksidental jika makros adalah present-at-hand; (2) mode tidak otentik.

Kesimpulan kita: relasi antara imajinasi yang identik dengan realitas adalah relasi eksistensial. Relasi antara mikros yang identik dengan makros adalah relasi eksistensial. Relasi antara esensi wujud mental yang identik dengan eksistensi konkret adalah relasi eksistensial. Hanya saja, manusia bisa memilih relasi aksidental terhadap dunia. Mereka terfokus, tergoda, kepada realitas-realitas aksidental. Kita akan membahas tema ini lebih detil pada “Bagian 3: Masa Depan Jiwa.”

Kita perlu mencatat perbedaan antara (1) dunia dan (2) lingkungan. Dunia melibatkan peran manusia meliputi alam dan budaya. Sedangkan lingkungan adalah alam secara alamiah. Kucing tidak eksis dalam dunia tetapi eksis dalam lingkungan. Hanya manusia yang hidup dalam dunia, dalam arti, sepenuhnya. Manusia menciptakan bahasa, matematika, seni, hukum, teknologi, politik, dan budaya secara luas, kemudian, manusia hidup di dalamnya, bersamanya.

Imajinasi Sains Modern

Sains modern menghadapi masalah serius tentang imajinasi visi atau penglihatan ini. Kita akan mencoba membahasnya. Ketika relasi antara mikros dan makros adalah relasi identitas maka selesai semua problem. Tetapi sains modern tidak bisa menerima relasi identitas karena dualisme mikros dan makros; dualisme jiwa dan materi. Bagaimana relasi pikiran dengan badan? Secara bertahap adalah berikut.

(a) Makros adalah realitas konkret: “Saya melihat pohon jambu itu.”

(b) Mikros adalah imajinasi, saya sadar, bahwa: “Saya melihat pohon jambu itu.”

(c) Problem relasi pikiran dan badan: bagaimana hubungan mikros dan makros? Atau, bagaimana hubungan antara imajinasi saya dengan sel syaraf otak saya?

Descartes menjawab, “Aku berpikir maka saya ada.” Karena diri kita berpikir maka mikros ada. Karena mikros ada maka terbukti makros juga ada. Bagaimana relasi mikros dan makros? Masalah relasi justru makin membesar.

Sains fisika menjawab. Perspektif makros: “pohon jambu itu” memancarkan cahaya yang diterima oleh mata; diolah oleh sistem syaraf; lalu dipahami “melihat pohon jambu itu” di dalam imajinasi pikiran oleh saya sebagai pengamat. Atau, mikros menciptakan imajinasi dalam pikiran. Yang saya lihat, menurut sains, adalah imajinasi pohon itu bukan “pohon jambu itu” dalam realitas. Bagaimana hubungan imajinasi itu dengan pohon jambu di alam eksternal? Atau, bagaimana hubungan imajinasi dengan sel syaraf di otak? Sampai sekarang belum ada solusi.

Kita membuat revisi berikut sebagai solusi.

(p) Makros: “saya melihat pohon jambu itu.”

(q) Mikros: “saya melihat pohon jambu itu.”

(r) Makros = mikros. Identitas makros = mikros berlaku saat terjadi peristiwa konkret “saya melihat pohon jambu itu.”

(s) Hanya ada makros secara ontologis; mikros hanya epistemologis.

(t) Makros berbeda dengan mikros pada momen yang berbeda. Setelah “saya melihat pohon jambu itu” maka pohon jambu makin tumbuh tinggi secara makros. Tetapi, secara mikros, “saya melihat pohon jambu itu” menjadi memori imajinasi. Dalam mikros, imajinasi bisa berubah-ubah sesuai pikiran saya sebagai subyek berpikir dan tidak lagi terikat obyek pohon jambu di alam eksternal. Sedangkan pohon jambu di alam eksternal bisa tumbuh makin tinggi, secara makros, tidak lagi terikat oleh imajinasi pikiran saya.

Problem selesai. Relasi mikros dan makros adalah identitas ketika terjadi proses visi penglihatan; relasi imajinasi dan badan alam eksternal adalah identitas ketika terjadi visi.

Tetapi sains bisa terus bertanya: bagaimana relasi identitas itu?

Jawabannya adalah pembahasan kita dari p sampai t di atas. Bila ingin penjelasan tambahan kita bisa mempertimbangkan: (a) wujud ittisal dan ittihad dari Sadra; (b) vorhanden dan zuhanden dari Heidegger; (c) fermion dan boson dari kuantum standar.

(a) Ittisal dan ittihad.

Ittisal adalah terhubung atau tersambung secara kontinyu. Pohon jambu itu tersambung dengan mata saya sebagai pengamat melalui partikel-partikel udara. Maksudnya, pohon jambu disentuh udara; udara bersentuhan dengan udara di dekatnya; sampai udara itu menyentuh mata saya. Jadi, mata saya tersambung oleh partikel-partikel udara sampai ke pohon jambu.

Ittihad adalah kesatuan utuh tanpa sambungan karena memang sudah menyatu. Sains fisika tingkat SMA saya adalah menyatu dengan sains fisika SMP saya; tanpa sambungan karena fisika SMA sudah mencakup fisika SMP secara utuh. Ketika anak SD bisa berhitung 5 + 1 = 6 maka mencakup kemampuan dia ketika TK berhitung 2 + 1 = 3; tidak perlu ada sambungan antara 5 + 1 = 6 dengan 2 + 1 = 3 karena 5 + 1 = 6 sudah mencakupnya. Dalam kerangka ittihad, “saya melihat pohon jambu itu” adalah kesatuan utuh yang tidak perlu penyambung antara saya dan pohon; karena memang sudah menyatu.

Problem saintis adalah mereka berpikir dalam mode-ittisal; sehingga meski ada penghubung antara pohon dan mata tetapi selalu ada pemisah juga (secara prinsip dalam pikiran). Andai bersedia berpikir dalam mode-ittihad maka relasi itu sudah terjadi karena saling meliputi. Problem selesai.

(b) Vorhanden dan zuhanden.

Vorhanden, atau present-at-hand, adalah konsep dari realitas. Konsep mata terhubung dengan konsep pohon itu melalui konsep udara di antara mereka. Akhirnya, mata memang terhubung dengan pohon melalui udara. Bagaimana pun, di antara hubungan-hubungan ini tetap ada jarak pemisah (meski berupa konsep secara prinsip).

Zuhanden, atau ready-at-hand, adalah mode realitas yang utuh menyatu. Ketika “saya melihat pohon jambu itu” maka saya memang menyatu utuh dengan pohon jambu (sesuai kapasitasnya); bahkan menyatu dengan masa depan dan masa lalu. Saya terpikir untuk merawat pohon jambu itu agar esok tumbuh subur dan bumi menjadi ramah untuk kita semua. Mode zuhanden tidak perlu penghubung karena memang sudah menyatu secara utuh.

Saintis sering berpikir dalam mode vorhanden sehingga meski ada penghubung antara mata dan pohon itu maka selalu ada jarak yang bisa memisahkan (meski berupa konsep). Andai saintis berpikir dalam mode zuhanden maka kesatuan yang utuh itu adalah realitasnya.

(c) Fermion dan boson.

Fermion dan boson adalah dua kategori partikel dasar dalam fisika, tetapi mereka memiliki sifat yang sangat berbeda. Fermion, seperti elektron, proton, dan neutron, mengikuti prinsip pengecualian Pauli, yang berarti dua fermion identik tidak bisa menempati keadaan kuantum yang sama pada saat yang bersamaan. Sifat ini membuat fermion membentuk materi yang kita kenal: atom, molekul, dan benda padat, karena elektron dalam atom tersusun dalam orbital yang terpisah dan tidak bisa saling tumpang tindih. Secara sederhana, fermion adalah “blok bangunan” materi yang memberi bentuk dan struktur pada alam semesta.

Boson, di sisi lain, seperti foton dan gluon, tidak mengikuti prinsip pengecualian Pauli dan bisa berada dalam keadaan kuantum yang sama secara bersamaan. Sifat ini memungkinkan boson menjadi pembawa gaya dalam alam semesta: foton membawa gaya elektromagnetik, gluon membawa gaya nuklir kuat, dan partikel Higgs memberikan massa. Karena boson bisa “menumpuk” dalam satu keadaan, mereka juga memungkinkan fenomena unik seperti kondensat Bose-Einstein, di mana banyak partikel bertingkah laku seperti satu kesatuan kuantum. Dengan kata lain, boson adalah “jembatan gaya” yang memungkinkan partikel materi berinteraksi, sedangkan fermion adalah materi itu sendiri.

Ketika saintis berpikir dalam mode fermion maka selalu ada pemisah dalam setiap relasi. Tetapi bila saintis berpikir dalam mode boson maka tidak perlu penghubung karena boson merupakan satu kesatuan yang utuh (dalam suatu perspektif valid).

Jadi solusi itu sudah tersedia. Tetapi komitmen mode wujud mana yang akan Anda pilih untuk analisis?

3.7 Lingkaran Status Jiwa

Umumnya, kita memahami, jiwa manusia hadir di dunia ketika badan janin sudah siap secara sempurna.

(1) Mode eksistensi material. Jiwa manusia hadir di dunia material seperti kita saat ini. Jiwa memanfaatkan kekuatan badan untuk berhubungan dengan dunia material eksternal. Jiwa merasakan berbagai kekurangan, lapar, lemah, bodoh, derita, dan lain-lain, kemudian berjuang untuk meraih kesempurnaan.

(2) Mode eksistensi psikis. Mode psikis merupakan eksistensi yang lebih tinggi dari eksistensi material. Pengetahuan dan imajinasi berada dalam mode psikis. Tetapi, karena kita masih berada di alam material maka alam material adalah penghalang dan, sekaligus, sarana untuk kesempurnaan mode psikis. Suatu saat nanti, ketika jiwa sudah terbebas dari ikatan material maka mode psikis menjadi terang-benderang.

(3) Mode eksistensi intelektual. Jiwa meraih kesempurnaan tertinggi dalam mode intelektual.

Menariknya, Sadra meyakini bahwa jiwa manusia sebelum berada di mode (1) material, jiwa sudah pernah berada di mode (2) psikis dan mode (3) intelektual. Sadra mendasarkan argumen dengan membuat interpretasi terhadap Plato dan ajaran agama. Dengan demikian, status mode jiwa manusia bersifat melingkar. (a) Pre-eksistensi, yang berada, dalam mode psikis dan intelektual. (b) Kemudian, lahir ke dunia, gerak masuk ke mode eksistensi material. (c) Dan akhirnya, meninggal dunia, kembali ke mode eksistensi psikis dan intelektual. Kalijaga mengajarkan konsep “Sangkan Paraning Dumadi.” Kita berasal dari Tuhan dan sedang menempuh perjalanan menuju Tuhan.

Lanjut ke: Bagian 3: Masa Depan Jiwa
Kembali ke: Kapital Jiwa

Prinsip-Prinsip Realitas

Kapital Jiwa: Mutiara Kehidupan dari Filsafat Mulla Sadra

Prinsip-prinsip realitas. Kita perlu memahami dengan baik apa realitas sebenarnya yang sedang kita hadapi. Dengan demikian, jiwa bisa mempersiapkan diri.

Bagian 1: Prinsip-Prinsip Realitas
Wacana 1.1: Realitas adalah Eksistensi
Wacana 1.2: Individuasi adalah Eksistensi
Wacana 1.3: Gradasi Realitas
Wacana 1.4: Intensitas Realitas dan Gerak Substansi
Wacana 1.5: Form adalah Prinsip Realitas

Wacana Analisa
1. Eksistensi vs Esensi
2. Resiko Eksistensi
3. Posisi Esensi
4. Pengalaman Individuasi
5. Ukuran Gradasi
6. Gerak Substansial
7. Forma Penentu

Kita membahas prinsip-prinsip realitas dalam lima wacana.

Wacana 1.1: Realitas adalah Eksistensi membahas realitas paling nyata adalah realitas konkret yang nyata apa adanya. Sementara, konsep abstrak dari realitas kita sebut sebagai esensi, yang biasanya bersifat ideal. Esensi adalah idealisasi dari realitas. Jadi, esensi hanya ada dalam pikiran manusia. Sedangkan, realitas yang benar-benar nyata adalah eksistensi. Karena itu, kita akan membahas lebih banyak tentang eksistensi.

(314) The reality of everything is its own specific mode of existence, not its essence. What objectively exists of each thing is its mode of existence, not its thingness (shayʾiyya).

(314) Realitas segala sesuatu adalah milik khusus dari mode-wujud, bukan milik esensi. Apa yang ada secara obyektif dari segala sesuatu adalah mode-wujud atau mode-eksistensinya, bukan sesuatu-nya.

Realitas obyektif adalah mode-eksistensi. Anda bahagia bermakna eksis secara obyektif “Anda bahagia”. Bukan sebuah sesuatu berupa “Anda bahagia”. Bukan pula sesuatu berupa “Anda” dan sesuatu lain berupa “bahagia” kemudian mereka bergabung. Hasilnya, sesuatu yang baru yaitu “Anda bahagia.” Bukan seperti itu. Yang benar adalah “Anda bahagia” memang ada secara obyektif. Ada mode-eksistensi itulah “Anda bahagia” secara nyata.

Eksistensi: “Anda bahagia” ada secara nyata.
Esensi: “Anda bahagia” adalah konsep dari sesuatu.

Eksistensi adalah nyata. Beda dengan esensi yang hanya ada dalam pikiran saja.

Lebih penting eksistensi atau esensi?

Pertanyaan yang menarik. Pertama, yang paling penting adalah memahami ada perbedaan antara eksistensi dan esensi itu sendiri. Sementara, istilah eksistensi versus esensi bisa saja berbeda-beda atau, bahkan, bertentangan.

Kedua, yang penting adalah menyikapi eksistensi sebagai eksistensi dan menyikapi esensi sebagai esensi. Dengan demikian, kita perlu mengkaji mereka dengan teliti.

Ketiga, eksistensi lebih utama dari esensi karena eksistensi adalah konkret di dunia ini dan dunia nanti. Bagaimana pun, esensi juga eksis, yaitu, di pikiran manusia. Jadi, esensi adalah eksistensi yang bersifat mental. Karena itu, mengkaji esensi juga penting. Kita bisa menciptakan konsep esensi berupa desain mobil, kemudian, memproduksi mobil tersebut secara nyata. Bukankah konsep desain mobil menjadi sangat penting? Bukankah, di era digital, inovasi-inovasi konsep esensial abstrak menjadi andalan utama?

(314) Existence is not, as it has been mistakenly thought, one of the second intelligibles (al-maʿqūlāt al-thāniyya) or it is one of the abstract concepts that do not correspond to something outside the mind. Rather, the truth is that Existence is an objective reality and, there is nothing in the mind that corresponds to it.

(314) Eksistensi bukanlah sejenis inteligible kedua atau eksistensi [bukan juga] merupakan sebuah konsep abstrak yang tidak berhubungan dengan obyek luar pikiran – yang demikian adalah salah paham. Yang benar itu eksistensi adalah realitas obyektif dan, tidak ada sesuatu pun dalam pikiran yang berhubungan dengannya.

Kita tidak bisa memikirkan eksistensi karena eksistensi adalah realitas obyektif di alam eksternal yang berbeda dengan pikiran. Tetapi, kita bisa mengenali eksistensi realitas eksternal itu. Kita bisa mengalami langsung realitas obyektif. Pada pembahasan tahap ini, sementara, kita cukup memahami bahwa eksistensi berbeda dengan esensi.

Wacana 1.2: Individuasi adalah Eksistensi membahas realitas sebagai eksistensi unik yang nyata dalam masing-masing individu. “F: gadis cantik” adalah pernyataan yang tidak mewakili realitas sehingga tidak nyata. “G: gadis ini cantik” adalah pernyataan individu dari realitas yang nyata. Eksistensi individu seperti G adalah nyata. Bedakan dengan pernyataan umum F yang tidak nyata di atas.

(314) The individuality of each thing—I mean also its own specific being—is exactly its existence. The existence and individuation are essentially one, but they are different in respect of naming and [mental] consideration (ʿitibār).

(314) Segala yang bersifat individual – yaitu wujud khusus tertentu yang unik – adalah eksistensi nyata. Eksistensi dan individuasi sejatinya sama saja, hanya beda nama dan pertimbangan mental.

“Anda bahagia melihat senyum manis anak sulung Anda pagi tadi” adalah eksistensi nyata yang unik. “Anda, hari ini, bekerja 10 jam untuk menafkahi keluarga” adalah aktivitas sepesifik sehingga eksistensi sejati. “Kepala negara berjanji menciptakan negara adil makmur” bukan eksistensi nyata, bukan sesuatu yang real. Adil makmur adalah konsep umum sehingga bukan realitas. Demikian juga, kepala negara juga konsep umum belaka bukan eksistensi sejati. “Presiden Jokowi berbagi bingkisan lebaran tahun 2022 lalu” adalah realitas nyata dari eksistensi.

Tentu saja, contoh-contoh yang kita bahas di atas hanya kata-kata yang memicu makna dalam pikiran. Sehingga, contoh-contoh di atas hanya konsep bukan eksistensi nyata. Tetapi, kita paham bahwa maksud dari “Anda bekerja 10 jam hari ini tadi” adalah realitas eksistensi sejati secara individual. Itulah keunggulan manusia: bisa membedakan maksud dari bahasa sebagai eksistensi realitas atau esensi belaka.

(315) As for those that are named by the philosophers as “individuating accidents” (al-ʿawāriḍ al-mushakhkhiṣa,) they are only concomitants and signs of the individual being. [These accidents] endure not as they are; rather, they remain the same as they are changing. For each of these accidents there is a wide range of degrees from one limit to another similar to the wide range of the variation of the temperament (mizāj.) It is possible for that which is completely changed [i.e., the accident] to disappear and the individual remains the same individual, as is the case of the members of human being.


(315) Beberapa filsuf menyebut istilah “aksiden individuasi”, mereka hanya konsekuensi dan tanda dari wujud individual. [Aksiden-aksiden ini] bertahan tidak sebagaimana mereka; lebih tepatnya, mereka tetap sama ketika mereka berubah. Untuk masing-masing aksiden terdapat jangkauan derajat yang lebar dari satu batas ke jangkauan derajat lain yang lebar pula – mirip variasi temperamen. Mungkin saja perubahan [pada aksiden] benar-benar menjadikan [aksiden] tidak tampak dan masing-masing individu tetap individual yang sama, sebagaimana kasus anggota umat manusia.

Individu adalah eksistensi unik yang nyata, bahkan, ketika penampakan aksiden mereka tampak sama. Tetangga saya memiliki anak kembar yang sama persis – menurut pandangan umumnya orang – bernama Budi dan Hadi. Ketika kanak-kanak, Budi dan Hadi sering memakai seragam sekolah yang sama persis. Dari penampakan, Budi dan Hadi tidak bisa dibedakan. Tetapi, Budi dan Hadi memang berbeda sebagai individu, yang nyata, masing-masing mereka. Ibu bisa membedakan mereka, secara individual, dengan pasti. Meski baju seragam mereka adalah sama persis. Perlu kita catat bahwa individuasi adalah eksistensi realitas sejati. Sedangkan, individuasi aksiden adalah sekedar dampak atau tanda yang tampak.

“Wacana 1.3: Gradasi Realitas” membahas realitas sebagai gradasi dari eksistensi. Pandangan gradasi ini memberi banyak keunggulan bagi kita. Karena gradasi, maka eksistensi adalah tunggal. Di saat yang sama, karena gradasi maka eksistensi adalah beragam. Identitas wujud adalah beragam. Dan keragaman wujud adalah identik.

Kita mengakui realitas memang beragam. Masing-masing individu adalah unik. Anda berbeda dengan saya dan tetangga. Tetapi, kita semua adalah sama. Kita adalah sama-sama realitas eksistensi sebagai seorang manusia.

(315) Existence essentially admits of being stronger and weaker—that is, its reality is one, simple and has neither genus nor differentia, nor composition, whether mentally or extra—mentally. There is no difference between its members in virtue of essential or accidental differentia, or by an individualizing factor that is added to it. There is no difference between its members except in virtue of priority and posteriority, and strength and weakness.


(315) Secara hakiki, eksistensi ada yang lebih kuat dan lebih lemah – yaitu, realitas eksistensi adalah [1] tunggal, [2] sederhana, dan [3] tidak memiliki genus diferensia, [4] tidak ada komposisi, apakah mental atau eksternal. Tidak ada perbedaan antar anggota secara esensial atau diferensia aksidental, atau oleh faktor individual yang ditambahkan kepadanya. Tidak ada perbedaan antar anggota kecuali dalam hal [1] prioritas dan posterioritas, dan [2] kekuatan dan kelemahan.

Tidak ada perbedaan dalam realitas eksistensi. Hanya ada perbedaan antara prior (utama) dengan posterior (burit) atau antara kuat dan lemah. Semua manusia adalah sama-sama manusia. Hanya ada perbedaan kuat-manusiawinya atau lemah-manusiawinya. Yang kuat-manusiawi adalah mereka yang suka menolong orang lain, berbuat kebajikan, dan saling menasehati dalam kebenaran. Mereka yang lemah-manusiawi kadang ingkar janji, kadang mencuri, atau kadang korupsi. Bagaimana pun, mereka tetap sama-sama manusia yang berbeda gradasi.

(315) I mean, they differ in virtue of perfection and deficiency [in their existences]. But the concepts that are true of them [the individuals], which are abstracted from their different levels of strength and weakness, are different. These concepts are called “essences” (māhiyyāt.) That is why it is said: “the levels of strength and weakness of existence are different species.”

(315) Maksud saya, mereka berbeda dalam hal kesempurnaan dan kekurangan [dalam eksistensi mereka]. Tetapi memang benar bahwa konsep tentang hakikat mereka [individu-individu] adalah berbeda – karena merupakan abstraksi dari level kekuatan dan kelemahan eksistensi yang berbeda pula. Konsep semacam ini disebut sebagai “esensi.” Karena itu dikatakan: “tingkat kekuatan dan kelemahan eksistensi sebagai spesies yang berbeda.”

Tentu saja, kita sadar bahwa kita memiliki kebebasan memilih. Kita bebas memilih menjadi orang baik yang kuat-manusiawi. Orang lain juga bebas memilih atau tergoda menjadi orang jahat yang lemah-manusiawi. Jadi, kuat dan lemahnya realitas eksistensi manusia ada di tangan kita. Selanjutnya, kita bisa mengembangkan konsep orang baik adalah mereka yang kuat-manusiawi. Sedangkan orang jahat adalah mereka yang lemah-manusiawi. Konsep orang baik dan konsep orang jahat memang dua konsep yang berbeda. Esensi mereka berbeda.

Wacana 1.4: Intensitas Realita dan Gerak Substansi
membahas struktur realitas eksistensi yang terus-menerus bergerak dinamis. Karakter dinamis ini sudah menjadi karakter asli dari setiap realitas. Jika tidak dinamis maka pasti bukan realitas sejati, bisa jadi hanya ilusi. Kabar baiknya lagi, setiap gerak adalah perubahan menuju ke tingkat eksistensi yang lebih tinggi, eksistensi dengan intensitas lebih kuat. Tidak ada gerak mundur ke arah eksistensi yang melemah. Setiap perubahan selalu menuju realitas yang lebih sempurna.

(315) Existence is receptive to intensity and weakness, and the substance in its substantiality is receptive to essential transformation and substantial motion. It is known that the parts and limits of one motion do not actually exist separated from each other. Rather, the whole is one existence, and none of these essences, which correspond to the existing levels, actually exists in a differentiated aspect. Rather, they exist indifferently, just like the parts of definition, as I have explained it in its place.

(315) Eksistensi terbuka terhadap penguatan intensitas dan kelemahan. Dan substansi, dalam substansialitasnya, terbuka terhadap transformasi esensial dan gerak substansial. Masing-masing bagian dan batas suatu gerak tidak eksis terpisah secara aktual. Lebih tepatnya, seluruhnya adalah satu eksistensi, tanpa esensi, yang berhubungan dengan suatu level eksistensi tertentu, secara aktual eksis dalam aspek yang berbeda. Mereka eksis seperti biasanya, sebagaimana bagian dari suatu definisi, yang sudah saya bahas pada tempatnya.

Wacana 1.5: Form adalah Prinsip Realitas” membahas keutamaan bentuk dalam realitas.

Form atau bentuk adalah yang menentukan realitas. Materi yang sama, bila bentuk berbeda maka menjadi realitas yang berbeda. Bahan bisa sama-sama kayu. Bentuk bisa beda menjadi meja, kursi, lemari, dan lain-lain. Begitu juga, setiap orang bisa sama-sama sebagai manusia. Tetapi bentuk mereka bisa beda-beda. Ada manusia berbentuk pegawai, pengusaha, guru, petani, dan dokter. Di sisi lain, ada juga bentuk penipu, pencuri, dan sampai koruptur. Realitas ditentukan oleh bentuknya – form.

(315) The form in every composite thing is the principle of its reality by which it is what it is. Matter and its motions are dependent on form [in existence]. This is also true in case of the final differentia (al-faṣl al-akhīr) of everything that has genus and differentia, whether it is simple essence or compound.

(315) Bentuk adalah prinsip dari realitas yang dengannya terbentuk sesuatu dari setiap sesuatu yang komposit. Materi dan gerak tergantung pada bentuk [dalam eksistensi]. Hal ini juga benar dalam kasus diferensia akhir segala sesuatu bahwa memiliki genus dan diferensia, baik esensi sederhana atau tersusun.

Diferensia akhir adalah contoh bentuk yang paling menentukan realitas.

Diferensia akhir: Budi adalah siswa SMA pada tahun 2020.
Genus terdekat: Budi adalah siswa SMP pada tahun 2017.
Genus jauh: Budi adalah siswa SD pada tahun 2014.

Diferensia akhir “siswa SMA” adalah yang membentuk realitas Budi secara konkret di tahun 2020. Sebagai “siswa SMA”, kita memastikan bahwa Budi pernah jadi “siswa SMP” (genus terdekat) dan pernah “siswa SD” (genus jauh). Dan, kita masih bisa menganalisis genus-genus lebih jauh lagi. Bagaimana pun, diferensia akhir sudah memadai untuk menentukan realitas Budi.

Wacana Analisa

Di bagian bawah ini, kita akan membahas analisa dari setiap wacana. Seluruhnya, wacana di atas, adalah bersumber dari karya Mulla Sadra (1572 – 1640) yang berjudul Zaad Musafir atau Bekal Pengembara. Karena pelaku pengembara adalah setiap jiwa, termasuk jiwa kita, maka saya menyebutnya sebagai Kapital Jiwa.

Sadra menegaskan bahwa realitas adalah wujud. Realitas adalah eksistensi. Konsekuensi lanjutan dari eksistensi sebagai realitas adalah: (1) obyektif, (2) unik, (3) langsung, (4) gradasi, (5) tunggal, (6) prinsip, (7) jiwa.

Esensi, sebagai kebalikan dari eksistensi, bersifat: (1) subyektif, (2) universal, (3) asbtraksi, (4) diskrit, (5) beragam, (6) derivatif, (7) materi.

1. Eksistensi vs Esensi

Histori memberi banyak inspirasi. Sejenak, kita akan memperhatikan perdebatan eksistensi versus esensi sepanjang sejarah.

(a) Aristoteles (384 – 322 SM) adalah pemikir pertama yang membedakan eksistensi versus esensi. Konsep “kuda hitam” adalah esensi. Ketika kita berpikir esensi kuda hitam, maka, bisa saja kuda itu memang eksis. Tetapi, bisa juga kuda tidak eksis. Sehingga, esensi kuda hitam hanya ada dalam pikiran. Dalam realitas kuda hitam, esensi dan eksistensi menyatu. Aristo, tampak, tidak melanjutkan kajian mana lebih prior antara eksistensi atau esensi.

(b) Plato (427 – 347 SM) adalah guru dari Aristo. Plato adalah pendukung esensialis, umumnya pandangan. Esensi kuda hitam adalah yang utama. Sementara, eksistensi hanya semacam tambahan kepada esensi sehingga kuda hitam menjadi ada di dunia nyata atau tidak ada di dunia nyata (bila tanpa tambahan eksistensi). Bagaimana pun, Plato tidak mengkaji secara mendalam perbedaan eksistensi dan esensi. Tetapi ajaran-ajaran Plato, umumnya, dimaknai sebagai esensialis.

(c) Ibnu Sina (980 – 1037) atau Avicena adalah pemikir pertama yang dengan tegas membedakan eksistensi dengan esensi. Semua realitas adalah gabungan dari eksistensi dan esensi. Kuda hitam yang pernah Anda lihat, misalnya, adalah esensi kuda hitam yang eksis. Atau eksistensi yang memiliki esensi kuda hitam. Hanya ada satu realitas yang bukan gabungan antara eksistensi dan esensi. Dia adalah tunggal. Dia adalah Tuhan yang eksistensiNya identik dengan esensiNya. Sementara, realitas lain adalah gabungan eksistensi dan esensi.

Mana lebih prior antara eksistensi dan esensi?

(1) Eksistensi lebih prior atau lebih utama. Umumnya, pendukung Ibnu Sina menyatakan bahwa eksistensi lebih utama. Esensi kuda hitam, misalnya, akan menggantung antara ada dan tiada selamanya. Dari sisi lain, eksistensi mendorong esensi kuda hitam menjadi eksis di dunia nyata. Jadi, eksistensi lebih utama karena eksistensi menjadi sebab bagi esensi agar menjadi eksis di dunia nyata.

(2) Esensi lebih prior. Sedikit pengkaji memaknai bahwa Ibnu Sina lebih mengutamakan esensi. Awalnya, hanya esensi kuda hitam. Kemudian ditambahkan eksistensi atau tidak ditambahkan. Jadi, eksistensi sekedar semacam aksidental bagi esensi.

Bagi Ibnu Sina, eksistensi dan esensi adalah sama-sama nyata. Hanya saja, pandangan umumnya menyatakan, eksistensi lebih utama dari esensi. Pandangan Ibnu Sina ini memicu kajian lebih mendalam di Timur mau pun di Barat.

(d) Suhrawardi (1154 – 1191) menolak pandangan Ibnu Sina karena hanya bersifat mental. Eksistensi mau pun esensi hanya merupakan penilaian mental manusia terhadap realitas. Karena itu, untuk mengkaji realitas sejati, Suhrawardi mengembangkan ontologi cahaya sejati yang mengelaborasi metafisika dan ontologi dengan bahasa simbolis cahaya immateri.

Meski bersifat mental, bukan realitas, Suhrawardi menempatkan esensi lebih utama dari eksistensi. Karena esensi itu sendiri sudah meliputi eksistensi. Atau, eksistensi membutuhkan esensi untuk bisa dipahami. Sebaliknya, jika esensi membutuhkan eksistensi maka absurd. Harus ditolak. Asumsikan esensi membutuhkan eksistensi. Selanjutnya, mereka membutuhkan suatu relasi yang menghubungkan esensi dan eksistensi. Tetapi, relasi itu sendiri membutuhkan eksistensi dan seterusnya tanpa henti. Asumsi perlu ditolak.

(e) Ibnu Rushd (1126 – 1198) mendukung eksistensi lebih prior. Kelak, pandangan Ibnu Rushd berkembang pesat di Barat mempengaruhi Thomas Aquinas dan Descartes. Ibnu Rushd mengkritik Ibnu Sina karena Ibnu Sina menganggap eksistensi sebagai aksiden atau tambahan belaka. Padahal, eksistensi adalah paling utama.

(f) Ibnu Arabi (1165 – 1240) mendukung eksistensi lebih prior. Wujud adalah realitas utama. Esensi hanya bersifat mental. Meski bersifat mental, esensi memiliki peran penting dalam realitas. Dzat Tuhan, Realitas Sejati Tuhan, tidak boleh dipelajari. Tetapi, sifat-sifat Tuhan, nama-nama Tuhan, dan tindakan Tuhan harus dikaji dengan baik. Wujud Tuhan adalah paling utama. Seluruh realitas adalah manifestasi dari Wujud atau Eksistensi.

Istilah Eksistensi diterapkan kepada Tuhan dan realitas umum lainnya. Eksistensi murni hanya milik Tuhan. Sementara, realitas lain mendapat limpahan eksistensi dari Tuhan. Seluruh realitas, terus-menerus, bergerak menuju realitas yang lebih tinggi, yang sejatinya, menuju kepada Eksistensi Murni.

(g) Thomas Aquinas (1225 – 1274) mendukung eksistensi sebagai prior sebagaimana Ibnu Rushd. Mengikuti Ibnu Rushd, Aquinas juga mengkritik Ibnu Sina karena Ibnu Sina menilai eksistensi sebagai aksiden belaka. Pemikiran Aquinas ini berhasil menggulirkan kebangkitan kembali filsafat di dunia Barat dari tidur panjangnya.

(h) Sunan Kalijaga (1450 – 1513) mendukung eksistensi sebagai prior sebagaimana Ibnu Arabi. “Sangkan paraning dumadi” misalnya mengajarkan perjalanan wujud manusia dari awal sampai akhir sebagai realitas paling nyata.

(i) Mulla Sadra (1572 – 1640) mengambil alih semua ajaran filsafat yang ada, waktu itu, menjadi sistem filsafat yang kreatif: prioritas eksistensi. Eksistensi, atau wujud, adalah yang paling utama. Lebih dari itu, bahkan realitas sejati hanya wujud itu sendiri. Esensi semacam bayangan dari eksistensi belaka.

Kita akan bahas lebih lanjut di bawah, dan beberapa kutipan di atas, Sadra tidak hanya menempatkan eksistensi sebagai paling utama. Tetapi, Sadra menambahkan beragam kekuatan ontologis super kaya kepada eksistensi. Eksistensi menjadi realitas ontologis paling fundamental, paling kongkret, di saat yang sama, paling sederhana. Wujud munbasith kull syai. Eksistensi sederhana adalah segalanya. Identitas wujud adalah beragam. Dan keragaman wujud adalah identik. Seperti ada kontradiksi di sini. Wujud bersifat tasykik: ambigu sistematis. Konsekuensinya, setiap esensi bergerak, berubah, secara substansial berkat dari wujud. Kita perlu membahas filsafat wujud dengan cermat. Karena istilah yang dipakai Sadra bisa saja sudah bergeser makna di jaman kita saat ini. Sadra sendiri sering menulis ulang argumen-argumennya sehingga lebih tepat sasaran.

Sejenak, mari kita lanjut diskusi ke era setelah Sadra.

(j) Descartes (1596 – 1650) merupakan titik balik perdebatan eksistensi dan esensi. Cogito ergo sum. Aku berpikir maka aku ada. Awalnya, Descartes tampak mendukung eksistensi sebagai prior dengan menyatakan “Aku ada.” Tahap selanjutnya, terdapat dua esensi yang saling bebas: substansi jiwa dan substansi materi. Kajian selanjutnya lebih banyak membahas dua macam substansi tersebut. Dengan demikian, esensi menjadi lebih prior.

(k) Immanuel Kant (1720 – 1804), secara tegas, menolak pembahasan eksistensi. Realitas adalah eksistensi itu sendiri dan sudah jelas. Sehingga, tidak perlu pembahasan lebih lanjut. Kant lebih banyak membahas: (1) fenomena, thing-for-us, dunia penampakan dan (2) noumena, thing-in-itself, realitas dalam diri mereka sendiri. Seakan-akan, Kant menghormati eksistensi sebagai paling tinggi. Tetapi, pembahasan dia lebih banyak tentang esensi. Jadi, esensi lebih prior.

(l) Hegel (1770 – 1830) mengembangkan idealisme absolut yang mengutamakan esensi. Realitas manusia adalah spirit. Alam eksternal adalah spirit yang menampakkan diri. Spirit-diri berdialektika dengan spirit-eksternal menjadi spirit-baru yang merangkul mereka berdua. Spirit-baru adalah spirit-diri yang lebih sempurna. Karena itu, proses dialektika berlangsung lagi, terus-menerus, sampai mencapai spirit absolut. Dalam konteks ini, spirit adalah esensi.

(m) Kierkegaard (1813 – 1855) adalah tokoh utama eksistensialisme Barat. Tentu saja, eksistensi lebih prior. Eksistensi manusia yang konkret beserta konteks masalah yang melingkupinya adalah realitas paling prior. Dialektika versi Hegel adalah abstraksi belaka. Sementara, kegelisahan eksistensial seorang anak manusia untuk menghadapi hidup dan mati adalah realitas utama. Kierkegaard memberi contoh kisah Nabi Ibrahim yang harus mengambil keputusan penting dalam dilema antara mengorbankan hidup putranya atau melanggar perintah Tuhan. Manusia berada dalam dilema eksistensial yang nyata.

(n) Nietzsche (1844 – 1900) adalah titik temu eksistensialisme dan postmodernisme. Tentu saja, eksistensi adalah prior. Manusia adalah eksistensi yang menaklukkan segala kesulitan dengan bertabur suka mau pun duka. Bahkan, eksistensi manusia melampaui eksistensi nilai-nilai moral. Manusia adalah yang mewujudkan nilai-nilai moral tersebut. Bagaimana pun, sulit sekali memaknai karya Nietzsche secara koheren. Karena pilihan diksinya sangat kuat dan penuh pesan metaforis.

(o) Heidegger (1889 – 1976) adalah tokoh eksistensialisme Barat sejati. Bahkan, ungkapan eksistensi atau being atau sein tidak akan memadai untuk kajian eksistensialisme yang teramat penting ini. Heidegger memilih istilah dasein atau being-there atau eksistensi-konkret sebagai fokus kajian. Dasein adalah eksistensi yang, dengan peduli, mempertanyakan eksistensi dirinya sendiri. Maha karya Heidegger berjudul “Eksistensi dan Waktu” atau “Being and Time” atau “Sein und Zeit”

Yang paling unik dari eksistensialisme Heidegger adalah menempatkan nilai penting kepada pertanyaan itu sendiri. Apa makna-eksistensi? Apa makna-wujud? Apa makna-being? Ada pohon. Ada manusia. Ada Tuhan. Tetapi, apa makna-ada?

(p) Sartre (1905 -1980) adalah pemikir eksistensialisme yang berhasil menjadikan eksistensialisme menjadi gerakan filsafat dan gerakan kemanusiaan secara luas. Sartre membedakan dua jenis eksistensi: (1) being-in dan (2) being-for.

Being-in adalah eksistensi yang meng-afirmasi diri mereka sendiri. Pohon, misalnya, meng-afirmasi, “Saya adalah pohon.” Dengan demikian, eksistensi pohon bersifat stabil. Berbeda dengan being-for yaitu eksistensi yang me-negasi diri mereka sendiri. Manusia menyatakan, “Saya bukan manusia yang seperti ini.” Dengan demikian, being-for selalu berubah. Being-for adalah freedom itu sendiri.

(q) Deleuze (1920 – 1995) adalah pemikir post-strukturalis atau post-modern atau posmo. Umumnya, pemikir posmo tidak peduli terhadap perdebatan eksistensi versus esensi. Tetapi, kita bisa melakukan analisis proyeksi. Realitas adalah chaos.

Umpamakan, hujan deras adalah chaos. Kita berlindung menggunakan payung di bawah guyuran derasnya hujan. Sains adalah menjulurkan tangan ke luar payung untuk mendapatkan beberapa titik air. Kemudian, sains menganalisis air terdiri dari H20 lengkap dengan sifat-sifatnya. Sains membatasi chaos dari realitas sehingga mudah dipahami dan mudah dikendalikan.

Seni menjulurkan tangan seperti sains. Kemudian, seni mengekspresikan air dengan ekspresi yang lebih kuat dari sekedar beberapa titik air. Seni menyadarkan kita bahwa ada realitas chaos yang jauh lebih dahsyat dari sekedar beberapa titik air, yaitu, hujan lebat yang deras.

Filsafat beda dengan seni mau pun sains. Filsafat tidak menjulurkan tangan. Filsafat justru melubangi payung. Terjadi kerusakan pada payung. Hujan deras itu menerobos payung melalui lubang filsafat. Realitas chaos menerobos diri manusia melalui lubang filsafat. Atau, manusia mengintip realitas chaos melalui lubang filsafat. Filsafat mengkaji realitas sebagaimana adanya realitas. Hanya saja, sebatas kemampuan manusia belaka.

Dengan memandang realitas sebagai chaos, posmo lebih dekat ke eksistensialis dari pada esensialis.

(r) Badiou (1937 – ) mengakui bahwa kajian filsafat harus dimulai dari pertanyaan apa makna-being seperti usul Heidegger. Eksistensialis. Kemudian, Badiou menjawab makna-being sebagai being qua being adalah matematika – lebih tepatnya teori himpunan. Matematika menyediakan “media” yang tepat untuk membahas realitas infinity (himpunan infinity) sampai realitas absolut (kelas absolut). Realitas absolut ini mengantarkan Badiou ke idealisme absolut ala Hegel atau Plato yang esensialis. Jadi, Badiou mengawali kajian sebagai eksistensialis dan berakhir sebagai esensialis.

Mencermati perdebatan eksistensi versus esensi seperti catatan ringkas sejarah di atas, kita menemukan keragaman kajian filsafat yang penuh makna. Mengapa kita tidak membuat definisi yang tegas tentang eksistensi dan esensi? Sehingga kita lebih mudah untuk mengkaji? Mari kita coba membuat definisi.

Eksistensi adalah aspek realitas paling konkret.
Esensi adalah aspek realitas paling utama.
Bilangan prima adalah bilangan bulat positif yang tepat memiliki dua faktor berbeda.

Definisi bilangan prima di atas sangat jelas. Bilangan 5 adalah prima karena memiliki dua faktor yaitu 1 dan 5. Bilangan 6 adalah bukan prima karena memiliki faktor lebih dari dua yaitu 1, 2, 3, dan 6. Tetapi bagaimana dengan definisi eksistensi dan esensi?

Definisi eksistensi gagal, yaitu, tidak bisa sejelas definisi bilangan prima. Karena melibatkan “realitas” dan “konkret”. Di mana, realitas itu sendiri akan membutuhkan definisi lanjutan tanpa henti. Jadi, pilihan terbaik bagi kita adalah mengkaji makna-eksistensi dan belajar dari histori.

2. Resiko Eksistensi

Tidak ada masalah tentang ontologi wujud atau metafisika wujud dari Sadra. Resiko muncul dari murid-murid Sadra yang salah paham terhadap ontologi eksistensi.

Morris mencatat 3 level dalam memahami ontologi eksistensi.

(1) Ajaran agama selaras dengan ontologi eksistensi. Tahap ini cukup sulit. Murid-murid Sadra perlu mengkaji ontologi eksistensi dengan teliti. Kemudian membandingkan dengan ajaran agama. Dalam hal ini, agama Islam khususnya madhab Syiah.

(2) Ajaran agama lebih tinggi dari ontologi eksistensi. Tahap ini sudah melampaui kesulitan sehingga murid Sadra menemukan kemudahan, yaitu, ontologi eksistensi berhasil membuktikan validitas ajaran agama. Bahkan ajaran agama saya, kitab suci dan hadis, lebih tinggi dari ontologi eksistensi. Agama orang lain tidak mengenal ontologi eksistensi sehingga agama orang lain, atau sistem filsafat orang lain, adalah salah. Mereka perlu ditolak.

Tahap dua ini resiko tinggi. Karena murid-murid tidak perlu repot-repot mengkaji ontologi eksistensi. Mereka hanya perlu mengkaji kitab suci dan hadis Nabi serta keluarga Nabi. Semua mudah saja.

(3) Ajaran agama saya benar dan jajaran agama lain juga bisa benar. Filsafat orang lain juga bisa sama benar. Saya perlu menghormati mereka. Saya perlu belajar banyak dari mereka. Murid Sadra yang mengkaji ontologi eksistensi lebih dalam, menyadari bahwa eksistensi adalah individuasi realitas konkret. Sehingga, di belahan bumi lain, pasti ada individuasi unik dari eksistensi yang berbeda dengan eksistensi di sini. Meski mereka berbeda-beda, semua sama-sama benar. Tahap tiga ini mengantar kita untuk berpikir terbuka.

Tantangan bagi murid-murid Sadra adalah melampaui tahap 2 untuk berlanjut sampai tahap 3. Tantangan ini, tampaknya, memang sulit diatasi. Dalam sejarah, penerus Sadra berhasil menghadirkan pemikir-pemikir besar misal Mulla Hadi Sabzivari, Allamah Thabathabai, Sayid Muthahhari, sampai Mehdi Haeri Yazdi. Pemikir-pemikir besar ini kadang berbeda pandangan dengan Sadra dalam persoalan detil. Apa respon murid Sadra? Mereka mengusulkan agar kembali merujuk ke pandangan Sadra yang asli. Jika penerus Sadra saja sulit berbeda pandangan, maka, bagaimana dengan pandangan agama lain dan sistem filsafat lain?

Sadra adalah pemikir inovatif yang brilian. Sejak muda, Sadra mendalami agama. Kemudian, Sadra memaknai ontologi Suhrawardi dengan cara berbeda. Sadra memaknai konsep wujud dari Ibnu Arabi dengan cara baru. Selanjutnya, Sadra menerapkan itu semua ke dalam sistem filsafat Ibnu Sina dan menghasilkan maha karya original filsafat wujud.

Murid-murid Sadra akan berhasil melompat jauh ke depan ketika meneladani kreativitas Sadra. Apakah Anda siap menerima tantangan?

3. Posisi Esensi

Eksistensi adalah prinsip. Esensi hanya turunan, hanya derivasi. Di mana tepatnya posisi esensi dalam filsafat wujud?

Posisi esensi adalah sangat tinggi. Bahkan, hampir sama tinggi dengan eksistensi. Mana mungkin?

Benar bahwa Sadra menolak esensi secara ontologis. Tetapi, Sadra memberi posisi penting kepada esensi ketika membahas epistemologi dan aksiologi. Berikut adalah beberapa posisi penting dari esensi yang perlu kita kaji.

(1) Esensi Tuhan adalah identik dengan Eksistensi Tuhan. Karena Tuhan adalah tunggal maka esensi menjadi sama saja dengan eksistensi.

(2) Esensi paling matang adalah diferensia akhir yang merupakan nama lain dari eksistensi individual. Definisi esensial terdiri dari genus dan diferensia.

genus = materi
diferensia = bertumbuh

Definisi tumbuhan adalah materi yang mampu bertumbuh misalnya dengan kemampuan nutrisi, organisasi diri, dan reproduksi.

genus = tumbuhan
diferensia = persepsi

Definisi hewan adalah tumbuhan yang mampu persepsi. Hewan mampu merespon situasi dengan bebas bergerak mendekati yang disukai atau menjauhi yang berbahaya. Seluruh kemampuan yang ada pada tumbuhan ada juga pada hewan: nutrisi, organisasi diri, reproduksi, dan lain-lain.

Kucing jantan di rumah Anda, misalnya, adalah spesies dengan diferensia akhir berupa hewan. Kucing jantan tersebut adalah eksistensi individual dan sekaligus diferensia akhir. Dalam kasus nyata “kucing jantan” di rumah Anda, esensi setara dengan eksistensi. Esensi dan eksistensi berada pada titik yang sama.

Tetapi, kita perlu hati-hati karena esensi kucing jantan bersifat stabil. Sedangkan, eksistensi kucing jantan lebih dinamis. Ketika kita membahas kucing jantan di rumah Anda, bisa jadi, dia masih bujang. Beberapa hari kemudian, kucing jantan itu mengawini kucing betina tetangga. Beberapa bulan kemudian, kucing itu beranak-pinak. Esensi kucing jantan yang sudah beranak pinak dianggap tetap sama dengan esensi kucing jantan yang masih bujang. Tetapi, eksistensi mereka sejatinya sudah berbeda. Dalam kasus ini, seharusnya, kita mengubah makna-esensi kucing jantan agar selaras dengan eksistensinya.

(3) Esensi manusia sempurna adalah diferensia akhir manusia. Manusia sempurna atau insan kamil, atau kamil saja, adalah diferensia akhir dari manusia. Jadi, kamil adalah esensi yang setara dengan eksistensi.

Diferensia akhir dari spesies manusia adalah rasional. Diferensia akhir ini, rasional, meliputi genus-genus sebelumnya. Akal rasional manusia sudah pasti mampu persepsi sebagaimana hewan. Sudah pasti mampu organisasi diri sebagaimana tumbuhan. Lebih dari itu, spesies manusia masih bisa melanjutkan individuasi misal menjadi kamil. Sudah pasti, kamil meliputi akal rasional.

Kamil adalah manusia yang mampu merangkul seluruh alam semesta untuk menghadap Tuhan. Dari sisi alam, kamil adalah pemimpin alam raya yang peduli dengan nasib seluruh alam, menjaga alam, dan membela alam. Dari sisi Tuhan, kamil adalah manifestasi dari sifat-sifat dan Nama-Nama Indah Tuhan. Salah satu kamil adalah manifestasi Nama Tuhan Yang Maha Berilmu. Kamil ini memiliki ilmu yang luas dan mendalam. Kamil membimbing umat manusia menjadi masyarakat berilmu. Kamil merenungi esensi dirinya sebagai manifestasi Tuhan Maha Berilmu dan bermanifestasi menjadi eksistensi berupa mendidik umat menjadi masyarakat berilmu secara nyata.

Konsep kamil barangkali terlalu idealis. Mari kita ambil contoh manusia menengah. Kamil kita ganti dengan menteri pendidikan di suatu negara – Indonesia atau mana pun. Menteri merenungi esensi dirinya berupa konsep zonasi. Kemudian, menteri menetapkan peraturan zonasi. Siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah maka cukup bermalas-malasan dia diterima di SMA favorit. Sementara, siswa yang rumahnya jauh dari sekolah, dia tidak bisa sekolah di SMA favorit atau bahkan SMA negeri mana pun. Esensi pikiran subyektif seorang menteri, tentang zonasi, berproses menjadi realitas nyata zonasi yang merugikan banyak pihak – dan menguntungkan segelintir orang.

Dalam kasus pribadi, Anda bisa saja punya cita-cita menjadi dokter ketika dewasa nanti. Esensi cita-cita Anda adalah menjadi dokter yang berguna dengan menolong menyelamatkan banyak orang. Kemudian, Anda berproses meraih cita-cita Anda. Terbukti cita-cita, yang semula esensi pikiran subyektif, menjadi eksistensi nyata sebagai seorang dokter.

Mari kita ringkas. Sadra memang menolak esensi secara ontologis karena lebih mengutamakan eksistensi. Tetapi, Sadra menempatkan esensi pada posisi penting secara epistemologis dan aksiologis. Kita, dalam kehidupan nyata, perlu menempatkan esensi pada posisi yang tepat.

4. Pengalaman Individuasi

Eksistensi tidak bisa dipikirkan. Esensi bisa dipikirkan. Tetapi, kita bisa mengalami eksistensi secara langsung. Bahkan, pengalaman eksistensi yang bersifat individual.

Eksistensi adalah individuasi. Dan individuasi adalah eksistensi. Mereka adalah realitas yang sama, hanya beda nama. Kesamaan yang sederhana ini jelas tetapi bisa membingungkan bila dipikirkan. Karena, individuasi memang tidak bisa dipikirkan. Hanya bisa dialami, dikenali, dirasakan, di-intuisi.

Pengalaman Anda bahagia menatap senyum manis anak pertama waktu itu adalah eksistensi nyata individual. Anda bahagia sebagai subyek, senyum anak sebagai obyek, dan lengkap dengan seluruh konteks. Anda tidak bisa memikirkan ulang pengalaman bahagia itu. Maksudnya, ketika Anda memikirkannya maka Anda hanya akses esensi bahagia. Sementara, pengalaman Anda waktu itu adalah eksistensi bahagia yang nyata. Bagaimana pun, esensi bahagia adalah kebaikan juga.

Jika hanya esensi yang bisa dipikirkan maka hasil pemikiran para saintis dan filsuf jaman dulu adalah suatu esensi? Bukan eksistensi?

Benar. Hasil pikiran ilmuwan jaman dulu adalah esensi. Persamaan Pythagoras adalah esensi dari ukuran sisi-sisi segitiga siku. Persamaan Aljabar adalah esensi dari problem aritmetika. Jika seseorang menyikapi Pythagoras dan Aljabar secara esensial maka memang tetap menjadi esensi. Tetapi, kita bisa menyikapi secara eksistensial. Saya merancang tiang dengan ketinggian 5 meter kemudian saya pasang tali-tali miring dari bagian atas tiang sampai menancap ke tanah sesuai Aljabar Pythagoras. Pengalaman individuasi saya itu adalah eksistensi yang nyata.

Kita bisa mengajukan pertanyaan: jika setiap pengalaman individuasi adalah eksistensi yang nyata maka apa yang membedakan individuasi kejahatan dengan individuasi kebaikan moral? Sangat berbeda. Dan, kita bebas untuk memilih individuasi kebaikan moral. Kita akan membahasnya, kebaikan moral, di bagian “Prinsip-Prinsip Jiwa” dan “Masa Depan Jiwa”.

Kita berada dalam situasi dinamis eksistensi dan esensi. Eksistensi individuasi adalah sumber gerak dinamika. Sedangkan esensi adalah subyek yang bergerak. Gerak ke arah mana?

5. Ukuran Gradasi

Eksistensi bergradasi dari lemah sampai kuat. Barangkali kita bisa membayangkan gradasi seperti gradasi cahaya. Ada cahaya dengan intensitas kuat dan ada cahaya dengan intensitas lemah. Cahaya lampu 20 W lebih kuat dari cahaya 10 W. Kita bisa menggabungkan mereka menjadi 30 W. Gabungan ini menjadi kesatuan tunggal 30 W. Gradasi ini, kita anggap, bersifat kontinyu bukan diskrit. Di antara 20 dan 30 W ada 21, 22, 23, dan seterusnya. Begitu juga di antara 20 dan 21 ada 20, 1 W; 20,2 W; 20,3 W dan seterus kontinyu tanpa henti.

Ilustrasi yang beda bisa membantu memahami gradasi eksistensi. Sebuah lampu menyala terang benderang. Pada jarak 1 meter dari lampu kita memasang papan yang luasnya 1 meter persegi. Papan itu menerima sinaran cahaya misal S(1) = 100 derajat. Kita bisa menggeser posisi papan menjauh menjadi 2 meter dari lampu. Berdasar sains, kita bisa menghitung, papan menerima sinaran S(2) = 25 derajat. Jika jarak 5 meter maka S(5) = 4 derajat.

S(1) = 100
S(2) = 25
S(3) = 4

Kita bisa mengatakan S(1) paling kuat, S(3) paling lemah, dan S(2) di tengah-tengah.

Kita masih perlu melanjutkan ilustrasi dengan cara mengganti papan dengan kaca-kaca yang transparan. Dan memasang kaca-kaca itu serentak bersamaan. Dengan cara ini, kita bisa menjelaskan hubungan kausalitas atau hubungan sebab-akibat.

S(2) = 25 adalah lebih kuat dari S(5) = 4 karena S(2) adalah sebab bagi S(5). Atau, S(5) adalah akibat dari S(2).

Jika kita berhasil mengamati S(5) = 4 maka kita tahu karena ada SEBAB yaitu S(2) = 25. Misal S(2) diganti dengan papan hitam tak tembus cahaya maka tidak ada cahaya S(2) dan, akibatnya, tidak ada S(5) juga. Jadi, S(5) yang lemah membutuhkan sebab yang lebih kuat yaitu S(2).

Tetapi S(2) yang kuat tidak membutuhkan S(5). Ketika benar ada S(2) = 25 maka kita tidak bisa memastikan apakah ada S(5)? Karena bisa saja dipasang penghalang antara mereka. Sehingga cahaya tidak sampai ke S(5).

Kembali ke gradasi eksistensi adalah eksistensi yang lemah membutuhkan eksistensi yang lebih kuat. Jika eksistensi yang lemah eksis maka itu karena ada SEBAB yaitu eksistensi yang lebih kuat. Puncak gradasi adalah eksistensi murni, eksistensi paling kuat, yaitu Tuhan Maha Sempurna.

6. Gerak Substansial

Umumnya, gerak adalah gerak aksidental. Gerak benda dari satu tempat ke tempat lain. Gerak substansial adalah substansinya yang berubah, substansinya yang bergerak. Gerak substansial adalah konsep baru dan orisinal dari Sadra.

Gerak aksidental tentu ada sebabnya, yaitu, gerak substansial. Lalu, apa sebab dari gerak substansial? Sebab dari gerak adalah wujud. Karakter wujud adalah dinamis. Wujud, atau eksistensi, yang kuat memancarkan cahaya kepada wujud yang lemah. Eksistensi yang lemah mengharapkan, dan merindukan, pancaran cahaya dari eksistensi yang lebih kuat. Pada gilirannya, aktivitas eksistensi menghasilkan gerak substansial dan aksidental.

(1) Gerak Aksidental dan Gravitasi

Apel jatuh dari pohon menuju tanah adalah contoh gerak aksidental, gerak perpindahan lokasi. Mengapa bisa terjadi? Karena ada gravitasi bumi. Gravitasi menarik setiap benda agar menempel, menuju pusat, bumi. Mengapa gravitasi bisa menggerakkan apel jatuh ke bawah? Fisika Newton sulit menjawab itu. Karena gravitasi adalah gaya fundamental. Sudah seperti itu adanya.

Einstein menjawab bahwa benda yang bermassa besar, misal bumi, bisa melengkungkan ruang. Ruang di dekat bumi melengkung menuju pusat bumi. Sehingga apel akan bergerak sesuai lengkungan ruang, yaitu, jatuh menuju bumi. Mengapa benda, misal bumi, bisa melengkungkan ruang? Kita, termasuk Einstein, sulit menjawab ini. Karena logika sebaliknya juga bisa valid. Ruang yang melengkung bisa menjerat materi atau, bahkan, cahaya.

Untuk keperluan kajian kita, cukup kita nyatakan bahwa sebab dari gerak aksidental bisa jadi bukan aksidental. Sebabnya bisa jadi suatu substansi semisal materi atau gravitasi.

(2) Gerak Nuklir

Reaksi nuklir barangkali bisa menjadi contoh nyata gerak substansial. Substansi Uranium terbelah menjadi dua substansi lain yang lebih ringan, misal, Sr dan Xe serta menghasilkan energi. Pembangkit listrik nuklir dan bom atom memanfaatkan perubahan substansi, gerak substansial, ini. Lebih dari itu, sebagian substansi materi bahkan berubah menjadi substansi energi. Kemudian, energi ini bisa digunakan untuk gerak aksidental, misal memutar baling-baling kipas angin.

(3) Bigbang

Bigbang adalah teori sains. Belum tentu benar. Tetapi diyakini banyak orang sebagai benar. Bigbang adalah ledakan besar dari “hampa” kemudian menghasilkan alam semesta ini. Bigbang adalah contoh tegas dari gerak substansial. Dari substansi “hampa” berubah menjadi substansi “awal”, kemudian, substansi “menengah”, sampai substansi “akhir” seperti alam raya sekarang ini. Substansi “awal” alam raya berbeda jauh dengan substansi alam raya masa kini. Telah terjadi perubahan substansial.

(4) Entropi

Alam raya terus-menerus bergerak menuju entropi yang lebih besar. Entropi adalah ukuran keacakan. Makin acak maka makin besar entropi. Jadi, alam semesta terus-menerus makin acak. Sampai, suatu saat, mencapai acak maksimal. Akibatnya, tidak bisa lagi lebih acak. Tidak bisa lagi ada gerak perubahan. Tetapi, saat ini, entropi masih jauh dari nilai maksimal. Estimasi perlu waktu lebih dari jutaan tahun agar entropi menjadi maksimal. Jadi, entropi terus bertambah. Alam raya terus berubah, bergerak, substansial dan aksidental.

Sedikit ilustrasi tentang entropi barangkali bisa membantu. Misalkan, kita memiliki 5 bata yang bisa ditumpuk vertikal saja.

5 bata tersusun; tidak ada acak; entropi = 0.
4 bata tersusun; 1 bata teracak; entropi = 1.
0 bata tersusun; 5 bata teracak; entropi = 5.

Pada posisi tertata rapi, 5 bata tersusun, tak ada bata acak, maka entropi = 0. Tidak bisa lebih rapi lagi. Entropi tidak bisa negatif. Tentu, entropi bisa positif. Misal 1 bata teracak jatuh maka entropi = 1. Bahkan bisa bertambah acak dengan 2 bata terjatuh. Entropi menjadi = 2.

Fenomena alam menunjukkan selalu terjadi penambahan entropi. Alam makin acak. Bisakah seseorang datang, kemudian, menata kembali semua bata? Sehingga, entropi kembali = 0? Tidak bisa. Karena ilustrasi kita di atas dengan asumsi hanya ada 5 bata tanpa ada manusia.

Asumsikan ada manusia sehingga bisa membuat entropi = 0 pada susunan bata. Dengan menata bata, manusia perlu energi. Manusia merusak struktur energi dengan satu dan lain cara. Sehingga, total entropi, bata dan manusia serta lingkungan, akan tetap naik. Bisa jadi, entropi total naik menjadi 100 atau lebih.

Perhatikan kasus mobil listrik di abad 21 ini. Beberapa pihak mengklaim mobil listrik ramah lingkungan. Mobil listrik tidak menghasilkan polusi udara. Mobil listrik tidak menambah entropi lingkungan. Benarkah? Jika kita mengamati lingkungan terdekat pemakai mobil listrik, barangkali, memang benar. Dari mana mobil listrik memperoleh energi listrik? Dari pembangkit listrik. Konsumsi mobil listrik mengakibatkan pembangkit listrik lebih banyak mengotori lingkungan. Secara total, entropi lingkungan tetap bertambah.

Kembali ke ilustrasi bata, bukankah kita bisa membuat semen beton pada bata sehingga bata tidak akan acak lagi? Semen beton hanya akan menunda 10 tahun, 100 tahun, atau 1000 tahun. Pada waktunya, semen beton akan hancur dan entropi tetap bertambah.

Yang lebih menarik lagi, kita bisa menghitung entropi seluruh alam semesta sebagai satu kesatuan. Hal ini, justru, selaras dengan ontologi eksistensi sebagai satu kesatuan yang utuh bergradasi. Entropi terus bertambah. Demikian juga, gerak substansial terus menuju ke mode-eksistensi yang lebih tinggi.

Penambahan entropi semesta berlaku umum kepada seluruh obyek, aksiden mau pun substansi. Akibatnya, gerak terjadi secara aksidental dan substansial. Tentu saja, gerak substansial lebih prior dari gerak aksidental.

(5) Karakter

Gerak substansial makin jelas ketika kita menyelidiki karakter jiwa manusia. Karakter kita berubah secara substansial.

Karakter(0) = tidak punya pengetahuan
Karakter(5) = punya sedikit pengetahuan
Karakter(9) = punya beragam pengetahuan

Ketika lahir, kita tidak punya pengetahuan sama sekali atau nyaris tidak punya. Karakter(0). Kemudian, kita tumbuh sampai usia 5 tahun, karakter(5). Kita mulai mengenal sedikit pengetahuan. Sebagai kanak-kanak, kita mengenal keluarga terdekat, mengenal bahasa ibu, mengenali rasa lapar dan makanan nikmat, serta takut hantu atau ancaman. Pada usia 9 tahun, karakter(9), kita mulai memiliki beragam pengetahuan. Barangkali, kita duduk di kelas 3 atau 4 SD. Mengenal huruf untuk membaca dan menulis, mengenal matematika, mengenal teman-teman jauh, mengenal bahasa nasional dan, kadang, belajar bahasa internasional.

Karakter kita bergerak secara substansial dari karakter(0), menuju karakter(5), sampai karakter(9). Semua gerak substansial ini menuju ke derajat eksistensi yang lebih tinggi. Karakter(9) meliputi, dan mencakup, derajat eksistensi yang lebih rendah yaitu karakter(5), karakter(0), dan lain-lain. Karakter(9) tidak menolak karakter(5). Karakter(9) justru menguatkan dan melindungi karakter(5).

(6) Proses Gerak Substansial

Untuk memahami proses gerak substansial, kita kembali menggunakan ilustrasi cahaya di bagian atas. S(5) hanya menerima 4 derajat cahaya eksistensi karena berjarak 5 meter dari sumber. Sedangkan, S(2) menerima 25 derajat eksistensi karena berjarak 2 meter dari sumber. Sehingga, [1] dengan bergerak mendekat ke sumber cahaya maka kita bisa menerima cahaya eksistensi dengan derajat lebih tinggi. Perubahan ini, pada gilirannya, kita pahami sebagai gerak substansial dari substansi S(5) menjadi substansi S(2).

Tetapi, eksistensi lebih prior dari ruang dan waktu. Jadi, eksistensi tidak bisa bergerak lebih dekat menuju sumber cahaya. Karena, sumber cahaya itu sendiri, sejatinya tidak terpisah dengan masing-masing eksistensi yang terindividuasi. Gerak mendekat, di sini, bermakna metaforis.

Alternatif kedua [2] adalah dengan meluaskan kapasitas eksistensi S(5) – alternatif pertama adalah mendekat ke sumber. Luas semula 1 meter persegi, misal, diubah menjad 2 meter persegi. Memang benar meluaskan kapasitas menyebabkan lebih banyak cahaya yang diterima. Tetapi, intensitas cahaya tidak bertambah. Karena cahaya yang lebih banyak itu akan dibagi oleh luas yang lebih besar. Akibatnya, intensitas akhir akan sama saja.

Analogi dalam realitas kehidupan: menambah harta tidak membuat derajat eksistensi seseorang menjadi naik. Demikian juga, kecilnya kepemilikan harta tidak menjadikan derajat eksistensi menjadi turun. Menambah kekuasaan, menambah jabatan, menambah emas berlian dan lain-lain tidak menjadikan derajat eksistensi menjadi bertambah. Kita membutuhkan cara lain untuk meningkatkan derajat eksistensi.

Alternatif ketiga [3] adalah dengan membersihkan halangan antara eksistensi kita dengan sumber cahaya. Bila ada halangan, S(5) bisa jadi hanya menerima intensitas cahaya kurang dari 4 derajat. Dengan membersihkan semua halangan, maka eksistensi S(5) bisa mencapai 4 derajat atau sampai maksimal. Dalam eksistensi, apa saja yang bisa menjadi halangan? Tidak ada yang bisa menjadi halangan bagi eksistensi. Halangan hanya bisa terjadi berupa eksistensi tertentu yang bersifat aksidental belaka. Kita perlu membersihkan diri dari aksiden-aksiden ini.

Analogi dalam realitas kehidupan: kita bisa meningkatkan derajat cahaya eksistensi diri kita dengan cara membersihkan diri dari godaan-godaan kenikmatan sementara – godaan aksidental. Beberapa contoh godaan yang perlu dibersihkan adalah: menumpuk harta, berebut kekuasaan politik, berebut jabatan, makan minum berlebihan, bergunjing, menyebar fitnah, bebal terhadap penderitaan rakyat, dan lain-lain.

Alternatif keempat [4] adalah dengan menghadapkan eksistensi diri ke arah yang tepat kepada sumber cahaya. Jika S(5) membelakangi, atau miring horisontal, terhadap sumber cahaya maka S(5) bisa kehilangan seluruh cahaya. Atau, S(5) hanya sedikit sekali menerima cahaya – jauh di bawah 4 derajat. Dalam eksistensi, arah bermakna sikap eksistensi. S(5) bisa saja mengarahkan eksistensi ke cahaya aksidental. Padahal, kita perlu menatap arah yang tepat, yaitu, ke arah sumber cahaya.

Analogi dalam realitas kehidupan: kita bisa meningkatkan derajat cahaya eksistensi dengan cara meluruskan niat hanya kepada sumber cahaya. Sikap tulus ikhlas menjadi paling utama.

7. Forma Penentu

Bentuk, atau form atau forma, adalah penentu suatu realitas. Penentu realitas bukan materi penyusun mereka.

Materi bahan bisa sama-sama kayu. Bentuk bisa beda-beda: meja, kursi, lemari, dan lain-lain. Kayu adalah potensi, atau bahan, untuk membuat kursi. Kursi adalah bentuk aktual dan real dari bahan yang semula kayu.

Lalu, apa yang dimaksud dengan bentuk? Bentuk adalah eksistensi itu sendiri. Bentuk adalah realitas individuasi. Bentuk terhadap materi adalah sama dengan diferensia terhadap genus. Bentuk adalah individuasi dari general.

Konsekuensinya, kita tidak bisa mendefinisikan bentuk atau forma. Tetapi, kita bisa mengenali bentuk secara langsung. Ini meja. Itu kursi. Kamu baik. Mereka tadi jahat kepadamu. Kamu memaafkan mereka semua adalah bentuk kebaikan. Kita merasakan bentuk. Kita meng-intuisi bentuk. Kita memahami bentuk.

Tentu saja, kita bisa menggambarkan bentuk. Kursi adalah tempat duduk, terdiri dari 4 kaki, dan ada papan datar sebagai bidang pertemuan kaki-kakinya. Yang demikian itu adalah definisi bentuk kursi. Bentuk adalah realitas yang kita kenali sebagaimana adanya. Yang demikian adalah definisi yang melibatkan logika melingkar.

Jiwa adalah bentuk bagi badan manusia. Semua badan manusia tersusun oleh bahan materi yang sama tetapi dalam bentuk yang berbeda. Jiwa setiap manusia berbeda-beda secara individual. Meski pun ketika jatuh cinta, Anda bisa mengatakan sebagai satu jiwa dengan pasangan.

Jiwa manusia adalah yang menentukan perubahan substansi manusia. Jiwa menentukan badan. Jiwa adalah bentuk kesempurnaan dari badan. Jiwa adalah penggerak badan. Kita akan membahas “Prinsip-Prinsip Jiwa” pada bagian selanjutnya. Karena jiwa manusia adalah bebas maka kita bebas membentuk diri kita sendiri akan seperti apa.

Lanjut ke: Bagian 2: Prinsip-Prinsip Jiwa
Kembali ke: Kapital Jiwa

Manusia Neosadrian

Menjadi Manusia Sempurna dengan Filsafat Mulla Sadra

Kita sedang dalam perjalanan. Termasuk Anda, saat ini, pasti sedang dalam perjalanan. Apakah Anda punya modal? Apakah Anda cukup kapital? Apakah Anda sudah siap dengan beragam situasi?

Tetapi, perjalanan apa yang sedang Anda lakukan? Anda pasti sedang berjalan menuju masa depan. Anda akan menyongsong bulan depan. Menyongsong tahun depan. Menyongsong 10 tahun atau 20 tahun ke depan. Kita pasti akan mati pada suatu saat. Itu masa depan yang pasti. Kapital paling penting adalah kapital jiwa.

Tulisan ini, berjudul Manusia Neosadrian, akan membahas kapital jiwa dalam tiga bagian utama melalui perspektif Neosadrian. (1) Prinsip-prinsip realitas. Kita perlu memahami dengan baik apa realitas sebenarnya yang sedang kita hadapi. Dengan demikian, jiwa bisa mempersiapkan diri.

(2) Prinsip-prinsip jiwa. Psikologi adalah ilmu tentang jiwa. Seharusnya, kita bisa memanfaatkan sains psikologi untuk kapital jiwa. Kita membutuhkan kapital lebih dari itu.

(3) Masa depan jiwa. Bayi, anak-anak, remaja, lalu tua. Kemudian apa? Kita perlu mengkaji masa tua dan nasib jiwa setelah tidak berada di dunia.

Bagian 1: Prinsip-Prinsip Realitas
Wacana 1.1: Realitas adalah Eksistensi
Wacana 1.2: Individuasi adalah Eksistensi
Wacana 1.3: Gradasi Realitas
Wacana 1.4: Intensitas Realitas dan Gerak Substansi
Wacana 1.5: Forma adalah Prinsip Realitas

Bagian 2: Prinsip-Prinsip Jiwa
Wacana 2.1: Jiwa adalah Penentu
Wacana 2.2: Kekuatan Imajinasi Melebihi Materi
Wacana 2.3: Imajinasi sebagai Dinamika Jiwa
Wacana 2.4: Visi adalah Kreativitas
Wacana 2.5: Perubahan Status Jiwa

Bagian 3: Masa Depan Jiwa
Wacana 3.1: Keragaman Dunia
Wacana 3.2: Mati adalah Sempurna
Wacana 3.3: Kreativitas Tersembunyi
Wacana 3.4: Karakter adalah Masa Depan
Wacana 3.5: Masa Depan Terbuka

Penjelasan lebih lengkap silakan klik tautan masing-masing di atas.

Wacana 1.1 sampai wacana 3.2 bersumber dari karya Mulla Sadra berjudul “Zaad Musafir” atau “Bekal Pengembara” yang menjadi judul tulisan ini juga yaitu “Kapital Jiwa.” Wacana 3.3 dan wacana 3.4 bersumber dari Hikmah Arsyiah. Dan wacana 3.5 bersumber dari Maha Karya Mulla Sadra yaitu “Asfar.”

Dalam setiap wacana, saya sengaja membiarkan Sadra berbicara langsung kepada Anda. Yaitu, saya hanya mengutipkan tulisan Sadra dalam [terjemahan] bahasa Inggris, kemudian, saya menerjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Saya sedikit menambahkan pengantar atau penghubung antara beberapa kalimat. Dalam kalimat yang panjang, saya menambahkan angka [1] atau [2] dan seterusnya dengan tujuan memudahkan mendapat poin-poin penting. Di bagian awal setiap kutipan, saya menambahkan angka dalam kurung, misal (314), menunjukkan halaman, misal halaman 314, dari terjemahan karya Mulla Sadra oleh Al Kutubi.

Saya mengelompokkan setiap lima wacana menjadi satu bagian. Sehingga, kita peroleh tiga bagian: Bagian [1]: Prinsip-Prinsip Realitas; Bagian [2]: Prinsip-Prinsip Jiwa; Bagian [3]: Masa Depan Jiwa. Pada setiap akhir bagian, saya menambahkan wacana analisa. Anda boleh melewatkan wacana analisa ini dan tetap memperoleh “Mutiara Kehidupan dari Filsafat Mulla Sadra.” Tetapi, bila Anda berminat mengkaji “wacana analisa” maka Anda akan menikmati petualangan yang seru. Saya menganalisa filsafat Sadra dengan membandingkan dengan filsafat Yunani-Romawi Kuno, filsafat Islam, filsafat Barat, dan filsafat masa kini.

Saya berharap, dan saya yakin, generasi masa kini akan memperoleh banyak mutiara kehidupan dengan mengkaji karya-karya filsafat Mulla Sadra.

Mutiara Filsafat Sadra

Mengkaji filsafat Sadra, kita bagaikan memperoleh berlian berkilau. Bahkan, kita memperoleh bongkahan-bongkahan berlian. Makin dalam kita kaji, maka makin banyak berlian kita temui.

Kajian kita hanya memilih 15 wacana yang berhubungan dengan tema jiwa. Kutipan yang bersumber asli dari Sadra, barangkali, hanya terdiri dari 10 halaman. Tetapi, makna yang dikandungnya bagai menyelami samudera.

Bagian 1
Bagian 2 Bagian 3

Note: Untuk versi pdf silakan berikut ini.