Dadu Milenium APIQ: Edu Kreatif

Saya mendapat pertanyaan, “Bagaimana cara mengajarkan matematika asyik pakai dadu APIQ?”

Saya jawab, “Mudah, mainkan saja bersama siswa sambil gembira. Bisa tebak-tebakan seperti sulap membaca angka dadu yang tersembunyi di bawah.”

1. Edukasi Matematika Asyik
2. Asal Mula Dadu
3. Judi Dadu
4. Mengapa Seru
5. Diskusi

Siswa TK dan SD mendadak jadi pintar matematika dengan memainkan dadu milenium. Seru banget kan?

1. Edukasi Matematika Asyik

Dadu Millennium Paman Apiq adalah sebuah produk permainan edukasi matematika yang dikembangkan oleh Paman Apiq, seorang kreator konten YouTube yang fokus pada pembelajaran matematika. Produk ini dirancang untuk membantu anak-anak belajar matematika dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. 

Dadu Millennium Paman Apiq biasanya digunakan dalam konteks pembelajaran matematika, terutama untuk membantu anak-anak memahami konsep dasar dan menyelesaikan masalah matematika. Permainan ini dapat digunakan di rumah atau di kelas untuk menambah variasi pembelajaran dan membuat pelajaran matematika lebih menarik. 

Selain Dadu Millennium, Paman Apiq juga dikenal dengan berbagai macam konten edukasi matematika lainnya, seperti video-video tutorial, worksheet, dan berbagai permainan edukasi matematika lainnya. Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang Dadu Millennium Paman Apiq atau konten edukasi matematika lainnya dari Paman Apiq, Anda bisa mengunjungi kanal YouTube-nya. 

2. Asal Mula Dadu

Dadu = Adadu = hitungan = matematika

Asal mula kata dadu adalah dari bahasa Arab “adadu” yang bermakna hitungan, angka, atau matematika. Jadi prinsip dari dadu adalah berhitung yaitu matematika. Sehingga, sangat tepat bila kita belajar matematika memakai dadu.

“possibly from Classical Arabic أَعْدَاد (ʔaʕdād, “numbers”), or from Latin datum.”

Dadu = datum

Dari bahasa Latin datum yang bermakna data atau info atau pengetahuan. Jadi, dadu memberi pengetahuan berupa data-data angka sehingga kita bisa melakukan perhitungan. Makna yang mirip dari bahasa Prancis “die” yang bermakna data. Atau variasi lain “dice”.

Dadu = dika

Yunani Kuno “dika” bermakna tepat, benar, atau adil.

3. Judi Dadu

Mengapa dadu sering dipakai untuk judi?

Karena dadu itu adil, sesuai ilmu, data-data bisa dipercaya, hitungan-hitungannya sesuai matematika. Orang judi tidak mau ditipu; maka mereka perlu dadu; meski penjudi sering jadi korban tipu.

Dadu bukan milik penjudi. Dadu itu justru miliknya matematika. Dadu itu miliknya petualangan anak-anak manusia.

4. Mengapa Seru

Mengapa belajar matematika pakai dadu itu seru?

Karena dadu memunculkan surprise, kejutan, seperti sulap. Ditambah lagi, titik-titik pada dadu mudah dihitung oleh anak TK dan SD. Anak TK juga bisa lansung hitung pada dadu misal 2 titik + 3 titik = 5 titik.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Pemiskinan Menuju Makmur: Negara Lintah Darat

Bagaimana cara mengentaskan kemiskinan di Indonesia? Mudah saja. Mengentaskan kemiskinan di dunia? Mudah juga. Bagaimana caranya? Biarkan saja orang miskin itu bekerja maka mereka jadi makmur dengan syarat negaranya memang adil; jadilah negara adil makmur. Beres semua urusan kemiskinan.

Bagaimana caranya menjadikan negara adil makmur? Mau cara yang mudah atau sulit?

Cara mudahnya adalah biarkan saja; negara adil makmur akan tetap adil makmur dalam rentang waktu puluhan tahun. Cara sulit adalah mengubah negara lintah darat untuk menjadi adil makmur. Apa pun usaha Anda maka lintah darat akan mengembalikan ke situasi negara lintah darat; negara yang menghisap darah rakyat jelata; atas nama demokrasi, atas nama hukum, atas nama agama, atas nama pembangunan, atau apa pun untuk menghisap darah rakyat semua.

Cara sulit itu adalah: konflik politik.

Benar, konflik politik adalah cara mengubah negara lintah darat menjadi negara adil makmur; dan sebaliknya, mengubah negara adil makmur menjadi lintah darat.

1. Contoh Nyata
2. Ekonomi Politik
3. Diskusi
3.1 Reformasi 98
3.2 Konflik 99
3.3 Solusi Adil Makmur

Kita akan coba diskusikan beberapa alternatif cara untuk mengubah Indonesia menuju adil makmur. Apakah Indonesia tidak adil makmur? Apakah Indonesia adalah lintah darat? Jika angka 100 adalah adil makmur; dan angka 1 adalah lintah darat; maka Indonesia, tampaknya, di bawah angka 50.

1. Contoh Nyata

Kita akan mengambil kisah nyata negara lintah darat dibanding adil makmur yang dipotret oleh Acemoglu, pemenang Nobel 2024 bidang ekonomi.

Acemoglu mengawali buku Why Nation Fail dengan kisah nyata sebuah kota yang terbelah utara dan selatan. Meski belahan kota ini mirip dalam banyak aspek tetapi kehidupan warga mereka berbeda secara ekstrem.

“KOTA NOGALES terbelah dua oleh pagar. Jika Anda berdiri di dekatnya dan melihat ke utara, Anda akan melihat Nogales, Arizona, yang terletak di Santa Cruz County. Pendapatan rata-rata rumah tangga di sana sekitar $30.000 setahun (sekitar 35 juta rupiah per bulan). Sebagian besar remaja masih sekolah, dan mayoritas orang dewasa adalah lulusan sekolah menengah atas. Terlepas dari semua argumen yang dibuat orang tentang betapa buruknya sistem perawatan kesehatan AS, penduduknya relatif sehat, dengan harapan hidup yang tinggi menurut standar global. Banyak penduduk berusia di atas enam puluh lima tahun dan memiliki akses ke Medicare. Itu hanyalah salah satu dari banyak layanan yang disediakan pemerintah yang dianggap remeh oleh sebagian besar orang, seperti listrik, telepon, sistem pembuangan limbah, kesehatan masyarakat, jaringan jalan yang menghubungkan mereka dengan kota-kota lain di daerah tersebut dan ke seluruh Amerika Serikat, dan, yang terakhir, hukum dan ketertiban. Warga Nogales, Arizona, dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa takut akan keselamatan atau nyawa mereka dan tidak terus-menerus takut akan pencurian, perampasan, atau hal-hal lain yang dapat membahayakan investasi mereka dalam bisnis dan rumah mereka. Yang sama pentingnya, warga Nogales, Arizona, menganggap bahwa, dengan segala inefisiensi dan korupsi yang terjadi, pemerintah adalah agen mereka. Mereka dapat memilih untuk mengganti wali kota, anggota kongres, dan senator mereka; mereka memilih dalam pemilihan presiden yang menentukan siapa yang akan memimpin negara mereka. Demokrasi adalah sifat alami bagi mereka.

Kehidupan di selatan pagar, hanya beberapa kaki jauhnya, agak berbeda.

Sementara penduduk Nogales, Sonora, tinggal di bagian Meksiko yang relatif makmur, pendapatan rata-rata rumah tangga di sana sekitar sepertiga dari pendapatan di Nogales, Arizona. Sebagian besar orang dewasa di Nogales, Sonora, tidak memiliki ijazah sekolah menengah atas, dan banyak remaja tidak bersekolah. Para ibu harus khawatir tentang tingginya angka kematian bayi. Kondisi kesehatan masyarakat yang buruk membuat tidak mengherankan bahwa penduduk Nogales, Sonora, tidak berumur panjang seperti tetangga mereka di utara. Mereka juga tidak memiliki akses ke banyak fasilitas umum. Jalan-jalan dalam kondisi buruk di selatan pagar. Hukum dan ketertiban dalam kondisi yang lebih buruk.

Kejahatan tinggi, dan membuka usaha adalah kegiatan yang berisiko. Anda tidak hanya berisiko dirampok, tetapi mendapatkan semua izin dan menyuap semua orang hanya untuk membuka usaha bukanlah usaha yang mudah. ​​Penduduk Nogales, Sonora, hidup dengan korupsi dan ketidakmampuan politisi setiap hari. Berbeda dengan tetangga mereka di utara, demokrasi merupakan pengalaman yang sangat baru bagi mereka. Hingga reformasi politik tahun 2000, Nogales, Sonora, seperti wilayah Meksiko lainnya, berada di bawah kendali korup Partai Revolusioner Institusional, atau Partido Revolucionario Institucional (PRI).

Bagaimana mungkin dua bagian dari kota yang pada dasarnya sama bisa begitu berbeda? Tidak ada perbedaan dalam geografi, iklim, atau jenis penyakit yang umum di daerah tersebut, karena kuman tidak menghadapi batasan apa pun untuk berpindah-pindah antara Amerika Serikat dan Meksiko. Tentu saja, kondisi kesehatan sangat berbeda, tetapi ini tidak ada hubungannya dengan lingkungan penyakit; ini karena orang-orang di selatan perbatasan hidup dengan kondisi sanitasi yang buruk dan tidak memiliki perawatan kesehatan yang layak.” (Acemoglu; 2012).

Tentu saja, ada penjelasan yang sangat sederhana dan jelas untuk perbedaan antara dua bagian Nogales yang mungkin sudah lama Anda duga: perbatasan yang membatasi kedua bagian tersebut. Nogales, Arizona, berada di Amerika Serikat. Penduduknya memiliki akses ke lembaga ekonomi Amerika Serikat, yang memungkinkan mereka memilih pekerjaan dengan bebas, memperoleh pendidikan dan keterampilan, serta mendorong pemberi kerja mereka untuk berinvestasi dalam teknologi terbaik, yang menghasilkan upah yang lebih tinggi bagi mereka. Mereka juga memiliki akses ke lembaga politik yang memungkinkan mereka untuk mengambil bagian dalam proses demokrasi, memilih wakil mereka, dan menggantinya jika mereka berperilaku buruk. Akibatnya, politisi menyediakan layanan dasar (mulai dari kesehatan masyarakat hingga jalan raya hingga hukum dan ketertiban) yang dituntut oleh warga.

Penduduk Nogales, Sonora, tidak seberuntung itu. Mereka hidup di dunia yang berbeda yang dibentuk oleh lembaga yang berbeda. Lembaga-lembaga yang berbeda ini menciptakan insentif yang sangat berbeda bagi penduduk kedua Nogalese dan bagi para pengusaha dan bisnis yang ingin berinvestasi di sana.

Insentif yang diciptakan oleh berbagai lembaga di Nogalese dan negara-negara tempat mereka berada merupakan alasan utama perbedaan kemakmuran ekonomi di kedua sisi perbatasan. Mengapa lembaga-lembaga Amerika Serikat jauh lebih kondusif bagi keberhasilan ekonomi daripada lembaga-lembaga di Meksiko atau, dalam hal ini, negara-negara Amerika Latin lainnya? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada cara masyarakat yang berbeda terbentuk selama periode kolonial awal. Perbedaan kelembagaan terjadi saat itu, dengan implikasi yang bertahan hingga saat ini. Untuk memahami perbedaan ini, kita harus mulai dari dasar koloni-koloni di Amerika Utara dan Amerika Latin.

Negara yang sukses, misal Nogales utara, adalah Negara inklusif; yaitu Negara yang terbuka dan membuka potensi warganya untuk maju. Negara yang gagal, misal Nogales selatan, adalah Negara ekstraktif; yaitu Negara yang menyedot dan menindas warga mereka. Institusi Negara ini membentuk putaran yang makin menguatkan seiring waktu; Negara sukses akan makin sukses; Negara miskin makin miskin. Jarang sekali, atau sulit sekali, terjadi perubahan mendadak.

Untuk bisa menjawab bagaimana posibilitas masa depan peradaban manusia, kita perlu mencermati ciri-ciri Negara inklusif yang sukses. Negara yang sukses adil makmur. Secara singkat kita akan memperhatikan tiga poin berikut.

(a) Kemakmuran dan kemiskinan ditentukan oleh insentif yang diciptakan oleh lembaga, dan politik menentukan lembaga apa yang dimiliki suatu negara. Lembaga ekonomi berperan secara konkret. Warga yang berbuat baik maka memperoleh keuntungan ekonomi. Warga yang berbuat buruk maka memperoleh kesulitan ekonomi. Konsekuensinya, warga bersemangat untuk berbuat baik dan memajukan kepentingan bersama. Tetapi lembaga ekonomi ini ditentukan oleh lembaga politik. Bila pemain politik jahat maka lembaga ekonomi jadi buruk. Agar lembaga ekonomi baik maka dibutuhkan lembaga politik yang baik juga. Bagaimana pun lembaga ekonomi dan politik memiliki relasi timbal balik.

(b) Lembaga berubah melalui konflik politik dan bagaimana masa lalu membentuk masa kini. Konflik politik justru menjadi harapan untuk perubahan. Tentu saja, perubahan ini bisa mengarah kepada lebih baik atau, sebaliknya, lebih buruk. Pengalaman masa lalu ikut menentukan dan wawasan masa depan memberi harapan.

(c) Lembaga yang mendorong kemakmuran menciptakan lingkaran umpan balik positif yang mencegah upaya elit untuk melemahkannya. Lembaga yang sukses, ekonomi atau politik, akan cenderung makin sukses seiring waktu bergulir. Warga secara umum berpendidikan cukup bagus sehingga bila ada pihak elit yang mengganggu lembaga maka warga akan berjuang untuk mencegah mereka dan berusaha memperbaiki lembaga tersebut.   


2. Ekonomi Politik

Bagaimana sistem ekonomi politik di Indonesia? Adil makmur atau lintah darat? Inklusif adalah adil makmur terbuka bagi setiap warga untuk berjuang menjadi orang sukses. Ekstraktif adalah lintah darat yaitu negara dan penguasa-pengusaha menghisap darah rakyat sampai rakyat jatuh miskin.

Sebagai ilustrasi, Finlandia adalah negara inklusif adil makmur dengan angka 90; Brunei adil makmur dengan nilai 81; Indonesia tidak adil makmur karena angka di bawah 50.

Di Finlandia, seorang ibu bekerja di kantin sekolah: menyiapkan makanan dan bersih-bersih serta pembukuan mendapat gaji 60 juta rupiah per bulan. Setelah potong pajak dan mempertimbangkan daya beli di Finlandia; barangkali gaji ibu itu setara dengan 20 juta rupiah bila di Indonesia; sebuah gaji yang besar. Suami dari ibu itu bekerja secara profesional gaji 30 juta rupiah per bulan; sudah potong pajak dan pertimbangan daya beli. Jadi mereka total penghasilan 50 juta per bulan. Gaji yang sangat besar untuk Indonesia atau di mana pun. Lebih dari itu, setiap warga bisa mendapat gaji yang mirip juga asal mereka mau bekerja.

Bagaimana situasi Indonesia? Berjubel pengangguran. Jutaan orang cari kerja, dengan gaji UMR yang hanya 3 juta rupiah per bulan saja, susah. Karena Indonesia bukan negara adil makmur; angka Indonesia di bawah 50. Sedangkan Finlandia adil makmur dengan angka 90. Tentu saja, di Finlandia ada orang yang sakit, cacat, atau lanjut usia. Mereka tidak bisa bekerja; mereka perlu ditolong. Ada juga orang yang malas tidak mau bekerja; mereka juga perlu ditolong. Hanya saja, sebagian besar orang mau bekerja sehingga memperoleh gaji yang memadai, lebih dari cukup, dan adil makmur.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Perlu konflik politik untuk mengubah negara lintah darat menjadi adil makmur. Indonesia pernah konflik politik dengan baik; tanpa pertumpahan darah. Kita perlu waspada bahwa konflik politik jangan sampai menjadi perang pertumpahan darah.

3.1 Reformasi 98

Reformasi 1998 adalah konflik politik damai tanpa pertumpahan darah. Terjadi kerusuhan di beberapa tempat tetapi itu ulah provokator. Sementara, reformasi 1998 berjalan dengan damai. Di satu sisi, mahasiswa dan tokoh reformasi mengajukan tuntutan politik damai. Di sisi lain, presiden Soeharto bersedia lengser dari kursi presiden dengan damai juga.

3.2 Konflik 99

1998 – 1999: presiden Habibie menjaga transisi reformasi damai.

1999 – 2001: konflik politik membuahkan presiden baru Gusdur; peluang mengubah negara lintah darat menjadi adil makmur.

2001 – 2004: konflik politik membuahkan Mega jadi presiden menggantikan Gusdur; peluang mengubah lintah darat menjadi negara adil makmur.

Tentu, hampir mustahil, hanya dalam waktu 6 tahun bisa mengubah negara lintah darat orba menjadi negara adil makmur reformasi. Jadi, di tahun 2004, Indonesia belum adil makmur; barangkali sedang dalam proses menuju adil makmur. Indonesia masih membutuhkan lebih banyak konflik politik bukan sekedar dinamika politik.

Sayangnya, 2004 sampai 2025, tidak pernah ada konflik politik sehingga kita masih belum adil makmur; angka masih di bawah 50.

Era SBY, Jokowi, dan Prabowo tidak mengalami konflik politik tetapi hanya dinamika politik.

2019 berpotensi terjadi konflik politik tetapi batal karena setelah Jokowi menang, Jokowi merangkul Prabowo jadi menteri. Bagaimana bisa ada konflik? Bahkan Rieke, politikus PDIP, pernah cerita bahwa Jokowi mengatakan tidak perlu bahas ideologi; yang penting kerja. Tanpa diskusi ideologi maka tidak ada konflik politik. Lintah darat tidak akan berubah jadi adil makmur.

2024 berpeluang terjadi konflik politik tetapi hanya dinamika politik. Apalagi Prabowo, di 2025, bersikap merangkul semua pihak untuk Persatuan Indonesia.

Apakah kasus dugaan ijazah palsu Jokowi bisa menjadi konflik politik? Sulit sekali. Tampaknya akan menjadi sekadar dinamika.

3.3 Solusi Menuju Adil Makmur

Konflik politik 1998 yang damai perlu diulang berkali-kali untuk mengubah lintah darat mejadi negara adil makmur Indonesia. Konflik memuncak 1999 dengan damai; dan konflik lagi 2001 dengan damai. Jadi, Indonesia cukup berpengalaman dengan baik menghadapi konflik politik secara damai.

Konflik politik terbaik adalah konflik intelektual penuh respek. Indonesia perlu menyuburkan pertumbuhan intelektual bagi seluruh warga; memberikan fasilitas gratis, sepenuhnya tanpa biaya, bagi setiap warga untuk menempuh pendidikan berkualitas sampai tingkat sarjana/diploma. Wajib belajar cukup sampai SMA saja. Tetapi beasiswa sampai sarjana bagi warga yang berminat.

Ketika generasi Indonesia cerdas secara intelektual dan moral (saling respek dengan hikmah kebijaksanaan) maka mereka menggulirkan konflik politik untuk mengubah lintah darat menjadi Indonesia adil makmur. Masih menunggu bertahun-tahun dong? Ya, hasilnya menunggu beberapa puluh tahun tetapi prosesnya mulai hari ini, di sini, oleh saya yang membaca ini, yang menyongsong masa depan: logika futuristik.

Bagaimana menurut Anda?

Sejarah Obyektif: Tidak Lagi Penting?

Apakah sejarah itu penting? Benar.
Apakah sejarah itu obyektif? Tidak.
Apakah Indonesia dijajah Belanda 350 tahun? Tidak.

“Salah tujuan tidak bisa diperbaiki dengan menambah kecepatan. Lalu?”

Menteri Budaya akan mengoreksi sejarah Indonesia. Pak Menteri yakin bahwa Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun; barangkali hanya dijajah 150 tahun. Kemudian, anggota dewan yang terhormat mengingatkan agar koreksi sejarah itu bersifat obyektif sehingga tidak menimbulkan polemik.

1. Apa Makna Obyektif
2. Cara Membaca Sejarah
3. Posibilitas Sejarah
4. Diskusi
5. Ringkasan

Kita akan membahas apa makna-obyektif bagi sejarah; dan apakah obyektif itu penting? Kemudian, kita akan membahas posibilitas sejarah secara lebih luas.

1. Apa Makna Obyektif

Sejarah yang obyektif itu pasti mengandung kontradiksi. Jadi, sederhananya, kita akan gagal untuk menyusun sejarah yang obyektif. Atau, tidak pernah ada sejarah yang obyektif.

Apa gunanya jika sejarah tidak obyektif? Justru sangat berguna. Karena sejarah itu tidak obyektif maka Menbud wajib tanggung jawab atas revisi sejarah yang dilakukannya. Andai tidak ada revisi pun, Menbud tetap bertanggung jawab atas sejarah Indonesia. Demikian juga, setiap individu, termasuk kita, wajib tanggung jawab atas interpretasi sejarah yang kita pilih.

2. Cara Membaca Sejarah

Cara membaca sejarah terbaik adalah dengan menguatkan perspektif masa depan: sejarah futuristik. Saya telah menulis buku Trilogi Futuristik; silakan membacanya. Akan sangat menarik membaca sejarah Indonesia dengan kacamata trilogi Futuristik

3. Posibilitas Sejarah

Apa makna posibilitas? Mari kita ringkas makna posibilitas berdasar analisis eksistensial terhadap wujud konkret dari dasein.

Makna posibilitas adalah (a) selalu terkait dengan manfaat. Sesuatu yang tidak bermanfaat maka tidak memiliki posibilitas atau posibilitasnya tidak bermakna. Manfaat itu sendiri, bagi dasein, selalu terkait dengan cakrawala dunia dan proyek masa depan, masa lalu, serta masa kini.

Makna posibilitas adalah (b) gerak dari posibilitas satu ke posibilitas berikutnya tanpa henti.

Makna posibilitas adalah (c) sejarah masa depan yang melimpahkan dirinya ke masa lalu untuk menyusuri sejarah masa kini.

Makna posibilitas kematian adalah (d) posibilitas special yang tidak bisa diakses; berubah menjadi posibilitas yang bisa diakses melalui kematian.

Makna posibilitas adalah (e) anugerah tersembunyi yang melimpahkan keandalan.

Apakah posibilitas bersifat subyektif atau obyektif?

Analisis eksistensial menyodorkan tiga struktur posibilitas. Lapisan (a) presentasi atau vorhandenheit terdiri dari (a1) posibilitas obyektif dan (a2) posibilitas subyektif. Wujud dibatasi atau dipisahkan dari dunia konkret mau pun bentangan waktu. Sehingga menghasilkan wujud obyektif dan wujud subyektif; pada analisis akhir, menghasilkan jenis probabilitas obyektif dan probabilitas subyektif.

Lapisan (b) readiness atau zuhandenheit atau manfaat di mana wujud selalu bersama cakrawala dunia; bersama bentangan waktu masa depan, masa lalu, dan masa kini. Pada lapisan readiness ini tidak ada posibilitas obyektif mau pun subyektif. Dengan kata lain, lapisan readiness tidak bisa direduksi menjadi obyektif-subyektif.

Lapisan (c) keandalan atau Verlässlichkeit yang melimpahkan anugerah tersembunyi posibilitas.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

5. Ringkasan

Sejarah tidak pernah obyektif; tidak pernah pula subyektif. Sejarah itu lebih tinggi dari kategori obyektif-subyektif. Sejarah adalah dinamika realitas nyata yang terbentang sepanjang waktu: masa depan, masa lalu, dan masa kini.

Reduksi sejarah menjadi obyektif atau subyektif akan memicu kontradiksi tanpa henti; memicu polemik yang sulit dihadapi. Lebih bijak bila kita bersikap terbuka untuk dialog interpretasi terhadap sejarah.

Kulminasi Ganda sampai Profetik

Peradaban Barat mengalami kulminasi ganda: Plato sampai Hegel; dan Parmenides sampai Severino. Mereka perlu mencari solusi dari problem dua kulminasi ini. Sementara peradadaban Timur mengalami profetik dari ajaran para Nabi sampai kepada para wali. Para Nabi dan para wali saling menguatkan ajaran-ajaran mereka; demikianlah profetik. Sedangkan jalur kulminasi, pemikir masa kini mengkritik pemikir masa lalu; tiba gilirannya, pemikir masa kini juga menjadi sasaran kritik oleh pemikir masa depan. Mengapa demikian?

1. Plato sampai Hegel
2. Parmenides sampai Severino
3. Ibnu Arabi dan Ibnu Rusyd
4. Pragmatisme Profetik
5. Diskusi

Jalur kulminasi pertama adalah dari Plato (429 – 347 SM) sampai memuncak di Hegel (1770 – 1831). Perjalanan dimulai dari bumi; yaitu manusia yang mampu berpikir ingin menggapai langit melalui pikirannya. Seperti kita tahu bahwa pikiran manusia tidak sempurna; selalu ada kritik dari pemikiran yang lebih baru. Sampai tiba puncaknya di Hegel bahwa semua kritik, semua kontradiksi, dirangkul oleh spirit absolut yang terbang ke langit. Kita mencapai kulminasi bersama Hegel.

Kulminasi kedua mulai dari Parmenides (abad 6 SM) sampai berpuncak di Severino (1929 – 2020). Perjalanan dimulai dari langit; hanya ada realitas Esa yaitu Wujud sejati. Kemudian Wujud ini bermanifestasi, atau tajalli, dalam realitas bumi. Tentu saja, realitas bumi sering terjadi perubahan; datang dan pergi; terjadi saling kritik. Puncaknya, Severino menyatakan tidak ada yang datang mau pun pergi. Wujud adalah abadi. Datang dan pergi itu hanya ilusi; sekedar penampakan belaka.

Di Timur, termasuk Indonesia, kita mengenal para wali misal Walisongo. Dan masih banyak wali-wali lain yang ajaran mereka saling menguatkan. Ibnu Arabi bertanya: mengapa para filsuf saling mengkritik sedangkan para wali saling menguatkan? Para wali adalah penerus para Nabi: profetik.

1. Plato sampai Hegel

Dari Plato sampai Hegel terpisah jarak sekitar 2200 tahun. Umat manusia saling belajar, saling kritik secara rasional, untuk mencapai kulminasi. Ketika tiba di puncak kulminasi maka apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kesadaran bahwa kulminasi rasional itu penting tetapi tidak cukup. Lalu, apa yang kita perlukan?

1.1 Kulminasi Hegel

SEP meringkas inti pemikiran Hegel dengan sangat baik:

“This epistemological account presented in the Phenomenology of how the very possibility of discursive/conceptual knowledge is based in an original identity of opposites or a subject-object unity/identity becomes metaphysical/ontological implications because of the conviction Hegel shares with the other post-Kantian idealists that knowledge is a real relation. By this he and his idealistic allies mean (a) that knowledge is a relation between real relata and (b) that knowledge is real only if the relata are real. This conviction puts constraints on how to conceive of this unity/identity when it comes to its content (in a metaphorically analogous way in which, say, in propositional logic a semantics puts constraints on the interpretation of its syntax). This unity/identity established as the basis of knowledge has to meet (at least) two conditions. First of all it has to be such that the subject-object split can be grounded in it and secondly it must allow for an interpretation according to which it is real or has being (Sein). These conditions function as constraints on how to conceive of subject-object-unity/identity because they specify what can count as an acceptable interpretation (a semantics) of an otherwise purely structural item (a syntactic feature). Without meeting these two conditions all we have by now (i.e., at the end of the Phenomenology) is a claim as to the grounding function of a unity/identity of subject and object structure (a syntactic item) that is still lacking an interpretation as to the content (the semantic element) of all the terms involved in that structure.

It is by providing an interpretation to the unity/identity structure that Hegel arrives at a defense of idealism in a non-oppositional sense. Put somewhat distant from his terminology but relying heavily on his own preliminary remarks on the question “With What must the Beginning of Science be made?” in the Science of Logic, his line of thought can be sketched roughly thus: the Phenomenology has demonstrated that knowledge can only be realized if it establishes a relation between real items. These items have to be structurally identical. Realized or “real” knowledge (wahres Wissen) in contradistinction to opinion/defective knowledge (what Hegel calls “false knowledge”) is a discursive/conceptual relation that can only be established by thinking. Hence if there is knowledge thinking must be real, must have being (Sein haben). Now, thinking is an objective, a real activity in the sense that it gives rise to determinations that constitute both the subject and the object. Because it is a discursive/conceptual activity its reality/objectivity implies that what is constituted by it, i.e., the subject and the object have to be conceived of as discursive/conceptual structures whose reality/being just consists in nothing else than their being thought—not their being the object of thought. Conceived of that way thinking not only fulfills the two conditions mentioned above (i.e., it grounds the subject-object divide and it is real, has being), it is at the same time the only candidate to satisfy them (because there is no other discursive/conceptual activity available). Therefore, in order to account for a discursive/conceptual model of reality one has to start from the identity of thinking and being or from the fact that only thinking is real.

From this argument as to the sole reality of thinking, it is easy to derive a new conception of idealism that is not subject to the objections mentioned above that Hegel raised against (what were, in his eyes) the one-sided attempts by his fellow post-Kantians, in particular Fichte and Schelling.”

“Pandangan epistemologis yang dikemukakan dalam Phenomenology menunjukkan bahwa kemungkinan pengetahuan diskursif atau konseptual bergantung pada adanya kesatuan antara subjek dan objek, atau identitas dari hal-hal yang tampaknya berlawanan. Pandangan ini lalu berkembang menjadi implikasi metafisis atau ontologis karena keyakinan Hegel—yang ia bagikan dengan para filsuf idealis pasca-Kant lainnya—bahwa pengetahuan adalah suatu relasi yang nyata.

Yang dimaksud dengan “relasi yang nyata” adalah dua hal:

  1. Pengetahuan adalah hubungan antara dua hal nyata.
  2. Pengetahuan hanya benar-benar ada jika hal-hal yang terlibat dalam hubungan itu juga nyata; termasuk hubungan itu sendiri harus nyata.

Keyakinan ini memberi batasan pada bagaimana kita bisa memahami kesatuan antara subjek dan objek, mirip seperti bagaimana dalam logika proposisional, makna (semantik) membatasi bagaimana simbol (sintaks) dapat ditafsirkan.

Kesatuan atau identitas subjek-objek yang menjadi dasar pengetahuan harus memenuhi dua syarat:

(1) Ia harus bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang nyata atau memiliki keberadaan (Sein).

(2) Ia harus dapat menjelaskan bagaimana perbedaan antara subjek dan objek bisa muncul darinya.

Kedua syarat ini menjadi batasan penting dalam memahami kesatuan subjek-objek karena keduanya menentukan apakah penafsiran tersebut dapat diterima. Jika kedua syarat ini tidak terpenuhi, maka yang kita miliki hanyalah sebuah klaim bahwa kesatuan itu menjadi dasar struktur pengetahuan, tanpa adanya isi atau makna yang menjelaskan bagaimana struktur tersebut bekerja.

Dengan memberikan penafsiran terhadap struktur kesatuan subjek-objek ini, Hegel sampai pada pembelaan terhadap idealisme dalam bentuk yang tidak bersifat oposisional (tidak memperlawankan subjek dan objek).

Meskipun agak berbeda dari istilah aslinya, dengan merujuk pada pendahuluan Hegel dalam Science of Logic (“Dengan Apa Ilmu Harus Dimulai?”), alur pemikirannya dapat diringkas sebagai berikut:

Phenomenology telah menunjukkan bahwa pengetahuan hanya bisa diwujudkan jika ada hubungan antara hal-hal yang nyata, dan hal-hal ini harus memiliki struktur yang sama atau identik. Pengetahuan yang sejati (wahres Wissen), berbeda dengan pendapat atau pengetahuan yang keliru (false knowledge), adalah hubungan diskursif/konseptual yang hanya bisa dibentuk melalui aktivitas berpikir.

Oleh karena itu, jika pengetahuan memang ada, maka berpikir haruslah sesuatu yang nyata—berpikir harus memiliki keberadaan (Sein haben).

Berpikir adalah aktivitas objektif yang nyata karena ia membentuk penentuan-penentuan (determinations) yang menjadi dasar bagi keberadaan subjek dan objek. Karena ia adalah aktivitas diskursif/konseptual, maka realitas dari subjek dan objek juga harus dipahami sebagai struktur diskursif/konseptual yang keberadaannya tidak lain adalah karena mereka dipikirkan—bukan sekadar menjadi objek dari pikiran.

Dengan cara memahami berpikir seperti ini, berpikir tidak hanya memenuhi dua syarat tadi (yakni, sebagai dasar perbedaan subjek-objek dan sebagai sesuatu yang nyata), tetapi juga menjadi satu-satunya hal yang bisa memenuhinya, karena tidak ada aktivitas diskursif/konseptual lain yang tersedia.

Oleh karena itu, untuk menjelaskan model realitas yang bersifat konseptual/diskursif, kita harus mulai dari identitas antara berpikir dan keberadaan—yaitu bahwa hanya berpikirlah yang benar-benar nyata.

Dari argumen ini mengenai kenyataan berpikir sebagai satu-satunya realitas, kita dapat menyusun suatu bentuk idealisme baru, yang tidak lagi rentan terhadap kritik yang sebelumnya Hegel tujukan kepada para idealis pasca-Kant lainnya, terutama Fichte dan Schelling, yang menurut Hegel masih satu sisi dan belum utuh.”

1.2 Kritik Kulminasi

Pippin menganalisis Hegel berdasar pemikiran Heidegger dalam buku The Culmination:

“Heidegger’s interpretation and critique of Hegel’s Science of Logic in his Identity and Difference was partly an attempt to explain why he thinks that project, which for many readers remains one of the most baffling and unusual texts in philosophy, actually successfully represents the core of the rationalist enterprise in philosophy and shows us its culmination. He means both that it is the most consistent and so successful realization of that “core”— a science of pure thinking that is a science of being— and by being that reveals what has always been “unthought,” what cannot be thought within that tradition, the meaning of Being, the most important issue in metaphysics and forever unavailable to any form of discursive rationality. One of the main issues was the idea of the finitude of pure thinking— or, in Hegel’s case, the denial of finitude for pure thinking (the beginning of the Logic is supposed to be presuppositionless). As emphasized before, throughout his various treatments Heidegger clearly does not mean by such an appeal to fi nitude and so to the limitations of pure thinking to open any doors to an empirical- psychological or neurological or historical materialist interpretation of that fi nitude. Th at is not the dependence and finitude he wants to illuminate. Heidegger clearly agrees with what Hegel would say: that even that sort of appeal must fall within Hegel’s attempted account of the conceptual moments of possible determinacy, cannot coherently be conceived “outside” it. (Materialism is a philosophical not an empirical claim; it is another moment of logos.) And they are all also simply further examples of the thoughtless assumption that the meaning of being is standing presence. Th is is the same claim Kant made about the pure concepts of understanding and the pure forms of intuition. Th ey are not subject to empirical disconfirmation, and our main contrast with Hegel was Heidegger’s Kant interpretation. Besides exploring the dimensions of any claim to articulate the role of pure thinking in the possible availability of beings, we did this in order to begin to discuss the issue always raised when he discusses German Idealism, finitude, and the priority of logic. Having seen the details of that interpretation, we can now raise further questions about Heidegger’s critique of Hegel.”

“Penafsiran dan kritik Heidegger terhadap karya Hegel Science of Logic, yang ia sampaikan dalam tulisannya Identity and Difference, sebagian merupakan upaya untuk menjelaskan mengapa ia berpandangan bahwa proyek Hegel tersebut—yang bagi banyak pembaca merupakan salah satu teks paling membingungkan dan tidak biasa dalam filsafat—sebenarnya justru secara berhasil mewakili inti dari proyek rasionalisme dalam filsafat, dan sekaligus menunjukkan titik puncaknya.

Menurut Heidegger, Science of Logic adalah bentuk realisasi yang paling konsisten dan berhasil dari inti proyek tersebut, yakni: sebuah ilmu tentang pemikiran murni yang sekaligus adalah ilmu tentang ada (being). Dan justru karena itulah, karya tersebut sekaligus juga memperlihatkan kepada kita apa yang selama ini belum pernah dipikirkan (yang “tak terpikirkan”) dalam tradisi itu—yakni makna Being itu sendiri, persoalan paling mendasar dalam metafisika, yang tetap tidak bisa dijangkau oleh bentuk rasionalitas diskursif apa pun.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah soal keterbatasan (finitas) dari pemikiran murni—atau dalam kasus Hegel, penolakan terhadap keterbatasan tersebut. Hegel memulai Logic dengan klaim bahwa pemikirannya tidak memiliki prasangka atau asumsi awal (presuppositionless). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Heidegger tidak bermaksud, melalui penekanannya pada keterbatasan pemikiran murni, untuk membuka ruang bagi pendekatan empiris seperti psikologi, neurologi, atau materialisme historis. Bukan jenis keterbatasan itu yang ingin ia soroti.

Heidegger justru setuju dengan Hegel bahwa pendekatan-pendekatan tersebut pun, jika mau dikaji secara filosofis, tetap harus berada dalam kerangka pemikiran konseptual yang dibangun Hegel. Pendekatan tersebut tidak bisa secara koheren dipahami sebagai sesuatu yang berada “di luar” kerangka itu. (Materialisme sendiri, dalam pandangan ini, bukan klaim empiris, melainkan klaim filosofis; ia hanyalah salah satu momen lain dari logos).

Menurut Heidegger, semua pendekatan yang disebutkan di atas hanya menunjukkan asumsi yang tidak dipertanyakan bahwa makna being adalah “kehadiran” atau “keberadaan yang berdiri tetap” (standing presence). Ini sama seperti yang dikritik oleh Kant terhadap konsep-konsep murni dari pemahaman dan bentuk-bentuk intuisi murni: mereka tidak tunduk pada penolakan melalui data empiris. Perbedaan utama antara Hegel dan Heidegger dalam hal ini terletak pada bagaimana Heidegger menafsirkan Kant.

Dalam upaya memahami bagaimana pemikiran murni berperan dalam membuat being dapat dipahami, Heidegger ingin memperjelas persoalan-persoalan yang selalu muncul ketika ia membahas Idealism Jerman, keterbatasan (finitas), dan prioritas logika. Setelah memahami rincian dari penafsiran Heidegger terhadap Hegel, kini kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut mengenai kritik Heidegger terhadap Hegel.”


2. Parmenides sampai Severino

Parmenides adalah orang bijak yang sudah sangat tua ketika Socrates yang sangat muda menemuinya. Terbentang waktu sekitar 2500 tahun dari Parmenides sampai Severino. Sejatinya, Parmenides selalu bertahan di posisi kulminasi dengan keyakinan bahwa hanya Wujud Sejati Esa yang Maha Abadi. Tetapi Plato, dan Aristo, menunjukkan beragam keragaman nyata di bumi ini. Murid Parmenides tidak mudah merespon tantangan Plato. Sampai akhirnya, Severino menjawab semua problem Plato di abad 20 dengan tuntas. Apa yang ditemukan di puncak kulminasi? Kulminasi rasional memang tidak cukup meski kita membutuhkannya.


3. Ibnu Arabi dan Ibnu Rusyd

Ibnu Arabi muda (1165 – 1240) bertemu dengan Ibnu Rusyd tua (1126 – 1998) yang bijak dan sudah sangat terkenal. Ibnu Rusyd adalah teman dari ayahnya Ibnu Arabi. Ibnu Rusyd mendengar bahwa Ibnu Arabi muda telah mengalami pencerahan ruhani; sehingga telah menemukan ilmu yang sempurna.

Ibnu Rusyd dengan nada gemetar bertanya, “Apakah jalan rasional bisa mengantar manusia kepada kesempurnaan?”
Ibnu Arabi menjawab, “Tidak bisa.”

Ibnu Rusyd merasa makin berat beban yang ada dalam dirinya yang sudah tua itu. Ibnu Arabi mendekatinya dan memeluknya, “Bisa mengantar kepada kesempurnaan bagi orang-orang tertentu.” Ibnu Rusyd tersenyum bahagia.

Arabi menempuh jalur profetik dengan mengikuti jalur hikmah para nabi dan para wali. Jalur profetik bukan saling mengkritik tetapi saling menguatkan. Profetik adalah mengutamakan hikmah kebijaksanaan. Pancasila menempatkan hikmah kebijaksanaan sebagai pemimpin di sila 4. Profetik adalah membela rakyat, menguatkan rakyat jelata secara ekonomi politik, menguatkan bersama hikmah kebijaksanaan.


4. Pragmatisme Profetik

Profetik tidak pernah mencapai puncak kulminasi; atau profetik itu selalu kulminasi karena profetik terus-menerus bergerak melingkar. Pragmatisme profetik adalah salah satu pendekatan profetik yang bersifat pragmatis.


5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tiga Pemikir Paling Sulit

Saya sering membaca buku yang sulit sekali untuk dipahami. Wajar saja hal itu kadang terjadi. Saya mencoba mengulang sampai 3 kali; sampai 5 kali tetap saja sulit mengerti. Mengapa lanjut membaca? Karena buku itu, buku yang sulit banget itu, mengklaim sesuatu yang sangat penting. Apa benar?

Akhirnya, setelah berjuang berkali-kali; berhari-hari; kadang berbulan-bulan, saya bisa mengerti. Meski hanya sedikit mengerti. Saya berharap tidak salah mengerti.

1. Pengalaman
2. Kebenaran Abadi
2.1 Parmenides Kembali Abadi
2.2 Penampakan Proses Perubahan
2.3 Nihilisme dan Freedom
3. Sang Esa
4. Realitas Sejati
5. Diskusi

Saya akan mencoba mengingat beberapa buku sulit yang pernah saya pelajari; mencoba membandingkan dengan sejarah lain. Kemudian saya akan berbagi beberapa ide penting dari 3 pemikir paling sulit di dunia kala itu.

1. Pengalaman

Pengalaman saya pertama membaca buku sulit adalah sekitar 30 tahun lalu: The 7 Habits karya Stephen Covey. Meski sulit, buku Covey ini masih dalam tingkat menengah. Anda membaca 2 atau 3 kali akan memahaminya. Buku yang sulit lagi adalah karya Aristoteles misal Etika Nikomacian. Bagaimana pun, buku Aristoteles masih tingkat menengah juga dalam kesulitannya. Buku Plato lebih menarik karena banyak kisah-kisah.

Buku Ibnu Arabi juga sulit, Futuh maupun Fusus. Tetapi, Arabi menyediakan puisi dan kisah-kisah untuk memudahkan kita memahaminya. Buku Rumi cenderung lebih mudah bila kita membaca dengan hati yang ikhlas; bila membaca dengan buru-buru, buku Rumi seperti kencang berlari menjauhi.

Dalam sejarah, buku sulit dimulai oleh trilogi Kritik karya Kant (1724 – 1804). Karena Kant bukan membahas realitas yang ada tetapi membahas “kondisi” yang memungkinkan adanya realitas. Saya cenderung setuju dengan pandangan bahwa Kant adalah pelopor menulis buku sulit. Lebih parahnya, Hegel (1770 – 1831) melanjutkan menulis buku yang lebih sulit dari Kant itu sendiri. Karena Hegel membahas Kant, mengkritik Kant, dan merevisi pandangannya.

Buku matematika tingkat tinggi tentu juga sulit. Saya tidak memasukkan buku matematika sebagai buku sulit karena matematika menggunakan bahasa teknis yang berbeda yaitu berupa rumus-rumus angka. Demikian juga, saya tidak memasukkan buku rekayasa sebagai sulit.

Tiga pemikir sulit yang akan kita bahas adalah lebih sulit dari Hegel mau pun Kant. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari yang mirip bahasa kita tetapi maknanya entah harus kita cari ada di mana.

2. Kebenaran Abadi

Wujud atau being adalah abadi. Karena Anda saat ini ada; Anda adalah wujud; maka Anda sejatinya selalu abadi. Anda tidak akan musnah; Anda tidak pernah musnah. Berbahagialah, bersyukurlah, karena kebahagiaan Anda adalah abadi. Itulah salah satu inti pemikiran Emanuelle Severino (1929 – 2020) yang amat sulit untuk kita pahami.

2.1 Parmenides Kembali Abadi

Parmenides (515 SM) adalah tokoh pertama yang menyatakan hanya ada satu realitas nyata yaitu wujud, being, atau eksistensi. Selain wujud adalah tidak ada atau hampa. Karena hampa maka kita tidak bisa memikirkannya. Bahkan pikiran kita tentang hampa itu sendiri adalah wujud yaitu wujud dalam pikiran. Sedangkan hampa adalah benar-benar tidak ada. Seluruhnya adalah wujud dan wujud adalah seluruhnya.

“In ‘Returning to Parmenides’ (1964) and in the ‘Postscript’ (1965),
Severino sets forth the most challenging implication of the originary structure of the truth of being: the eternity of all beings. Since becoming — the being-other of what is — contradicts the truth of being, every being must be eternal. Every being — this firewood, these ashes, this thought, this fear — is eternal; to be means to be eternal. The becoming of beings cannot appear; what experience attests to is the appearing and disappearing of the eternal beings.”

“Dalam ‘Returning to Parmenides’ (1964) dan dalam ‘Postscript’ (1965), Severino menegaskan implikasi yang paling menantang dari struktur-asal kebenaran wujud: keabadian semua wujud. Karena menjadi — wujud-yang lain dari wujud-apa-adanya — bertentangan dengan kebenaran wujud, setiap wujud pastilah abadi. Setiap wujud — kayu bakar ini, abu ini, pikiran ini, ketakutan ini — adalah abadi; ada wujud berarti ada abadi. Kejadian wujud tidak dapat muncul (dari ketiadaan); apa yang dibuktikan oleh pengalaman adalah tampak dan sembunyinya wujud abadi.”

(a) Wujud adalah abadi; wujud dari dulu sampai masa depan selamanya. Ketika Anda bahagia bersyukur saat ini maka, sejatinya, Anda bahagia dari dulu dan bahagia selamanya. Hanya saja, wujud setelah kematian adalah kebahagiaan hakiki: Joy sejati.

(b) Proses becoming adalah tidak mungkin; proses menjadi adalah tidak mungkin. Proses menjadi dipahami: bayi lahir adalah wujud; sebelum lahir adalah tidak-wujud. Bagaimana tidak-wujud bisa berubah jadi wujud? Tidak mungkin. Proses menjadi mati juga tidak mungkin: bayi hidup adalah wujud; bayi setelah mati adalah tidak-wujud. Bagaimana wujud berubah menjadi tidak-wujud? Tidak mungkin.

(c) Proses perubahan menjadi adalah penampakan saja.

2.2 Penampakan Proses Perubahan

“For indeed, appearing does not attest to the opposite of what is
demanded by the logos. The logos demands the immutability of being
— it demands, that is, that being not be nothing, and thus not issue from
and not return to nothingness — and appearing, in its truth, does not
attest that being does so. […] The becoming that appears is not the birth
and death of being, but rather its appearing and disappearing. Becoming is the process of the revelation of the immutable beings.”

“Sebab, sesungguhnya, kemunculan tidak membuktikan kebalikan dari apa yang dituntut oleh logos. Logos menuntut kekekalan keberadaan—ia menuntut, yaitu, bahwa keberadaan bukanlah ketiadaan, dan dengan demikian tidak berasal dari dan tidak kembali ke ketiadaan—dan kemunculan, dalam kebenarannya, tidak membuktikan bahwa keberadaan melakukan hal itu. […] Proses kejadian yang muncul bukanlah kelahiran dan kematian keberadaan, melainkan kemunculan dan ketersembunyian. Kejadian adalah proses pewahyuan keberadaan yang tidak berubah.”

(a) Wujud adalah abadi; tidak berubah.

(b) Tampak dan tersembunyi; bila Anda melihat wujud secara isolasi, secara terbatas, maka sebagian wujud adalah tampak; dan sebagian wujud lain adalah tersembunyi.

(c) Penampakan adalah proses terungkapnya wujud-yang-tampak terhadap seorang pengamat. Ada resiko bahwa penampakan adalah sekedar ilusi bila tidak bersumber dari wujud. Penampakan sejati besumber dari wujud abadi, tampak sebagai wujud terisolasi, terjadi penampakan wujud.

2.3 Nihilisme dan Freedom

Nihilisme telah melanda seluruh dunia menebarkan bahaya. Esensi nihilisme adalah hampa; kosong; ketiadaan. Segala sesuatu pernah tidak ada ketika belum lahir; kemudian menjadi ada untuk sementara; akhirnya kembali tidak ada ketika mati. Solusi bagi nihilisme adalah kebenaran abadi: seluruh wujud adalah abadi. Manusia, termasuk kita, adalah abadi.

Resiko dari nihilisme sangat bahaya: orang-orang bersaing untuk saling dominasi; terutama dominasi teknologi.

Apakah manusia punya kebebasan? Freedom? Free will?

Bagi Severino, pembahasan freedom mau pun determinisme adalah salah alamat. Karena mereka membahas freedom dan determinisme dalam kerangka nihilisme. Freedom adalah bebas menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Determinisme adalah sudah pasti menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Pandangan nihilisme seperti itu adalah ilusi belaka. Karena freedom seperti itu adalah penampakan belaka. Sedangkan realitas sejati adalah kepastian yang abadi. Realitas itu bisa menampakkan diri melalui jalur freedom mau pun determinisme.

“If everything pre-exist (and is preserved) in the god, the act of untying from nothingness and from being on the part of the beings [their original readiness to being and not-being] is impossible; but this unlinking is the «evidence»; so the «evidence» of freedom requires the inexistence of god and of every immutable thing that predetermines and anticipates the concrete historical becoming of things. […]. Since what is still a nothing […] is predestined to the truth of the being, it is not a nothing, but instead it already is, and cannot come from nothingness; and since the being comes from nothingness, it does not come from the already existing predestination to the truth of the being, and therefore is not already captured by the truth of the being. If then an incontrovertible knowledge of the being as a being exists – and therefore of the totality of the being – , the being cannot come from nothingness; if the being comes from nothingness, an incontrovertible knowledge of the totality of the being cannot exist.

Severino, Destiny of the necessity (Destino della necessità), Adelphi, Milan 1980, pp. 35-47.”

“Jika segala sesuatu sudah ada sebelumnya (dan dilestarikan) dalam Tuhan, tindakan melepaskan diri dari ketiadaan dan dari keberadaan pada bagian dari makhluk [kesiapan asli mereka untuk ada dan tidak ada] adalah mustahil; tetapi pelepasan ini adalah «bukti»; jadi «bukti» kebebasan membutuhkan ketidakberadaan Tuhan dan setiap hal yang tidak berubah yang menentukan sebelumnya dan mengantisipasi keberadaan historis konkret dari segala sesuatu. […]. Karena apa yang masih berupa ketiadaan […] ditakdirkan untuk kebenaran keberadaan nantinya, itu bukanlah ketiadaan, tetapi sebaliknya itu sudah ada, dan tidak dapat datang dari ketiadaan; dan karena (jika) keberadaan datang dari ketiadaan, itu tidak datang dari predestinasi yang sudah ada untuk kebenaran keberadaan, dan karena itu tidak dirangkul oleh kebenaran keberadaan. Jika kemudian pengetahuan yang tidak dapat disangkal tentang keberadaan sebagai keberadaan ada – dan karena itu dari totalitas keberadaan -, keberadaan tidak dapat datang dari ketiadaan; jika keberadaan berasal dari ketiadaan, pengetahuan yang tak terbantahkan tentang totalitas keberadaan tidak akan ada.

Severino, Destiny of the necessity (Destino della necessità), Adelphi, Milan 1980, hlm. 35-47″

Severino tampak menganalisis segala sesuatu dia hadapkan langsung kepada Tuhan yang Maha Abadi dan Maha Esa. Beberapa alternatif atau revisi berikut adalah lebih baik.

(a) Di hadapan Tuhan maka kita berserah diri; tawakal. “Apa yang kamu minta wahai manusia?” Tuhan berfirman. “Kami tidak minta apa pun, Tuhan. Kami bersyukur dan ikhlas atas semua anugerah Mu,” jawab kita sebagai manusia.

Meski Tuhan memberi freedom kepada manusia, kita tidak menunjukkan freedom itu di hadapan Tuhan; kita justru ikhlas.

(b) Kepada Tuhan, kita mengabdi; kita beribadah. Lagi, meski Tuhan melimpahkan freedom kepada manusia maka freedom itu kita gunakan ikhlas ibadah.

(c) Kepada alam semesta, kita adalah wakil Tuhan; kita adalah pemimpin. Bagaimana cara memimpin alam semesta?

(c1) Memimpin dengan cara menyempurnakan akhlak mulia; akhlak mulia kepada sesama; sabar dan saling menasehati dalam kebenaran.

(c2) Memimpin dengan menebarkan kasih sayang kepada seluruh semesta.

Untuk menjadi pemimpin, akhlak mulia dan menebar kasih sayang, kita butuh menerapkan freedom dan beragam daya: daya karsa, rasa, cipta, karya, dan cinta. Freedom dan daya ini adalah nyata karena anugerah dari Tuhan Maha Abadi. Sebaliknya, jika freedom hanya penampakan maka itu adalah ilusi; karena tidak berdasar kepada anugerah Tuhan. Jadi, freedom sejati adalah anugerah dari Tuhan Maha Abadi.

3. Sang Esa

Problem umat manusia muncul karena manusia lupa kepada Yang Esa. Problem ekonomi, problem politik, problem teknologi dan lain-lain adalah dampak dari kita lupa kepada Esa. Itulah salah satu inti dari pemikiran Francois Laruelle (1937 – 2024) yang sulit dipahami.

Problem lanjutan: bagaimana cara memahami Yang Esa?

Osofi mengenalkan konsep dualitas-unilateral atau dwi-tunggal. Esa tetap Esa. Bukan membandingkan Esa-Lian tetapi Esa-dalam-Esa; One-in-One. Terjadi transformasi dari Esa sebagai obyek filosofi menjadi Vision-in-One.

Transformasi kedua adalah mengubah bahasa filosofi yang swa-referensi menjadi aksiomatis dan teorematis. Pernyataan tentang Yang Esa adalah aksiomatis dan teorematis yang menyempurna secara gradual; di satu sisi. Dan di sisi lain, terhubung kepada Sang Nyata membentuk eksistensi filosofi. Konsekuensinya, transformasi ini membentuk identitas dwi-tunggal. Apakah Yang Esa itu Identitas?

Dari One ke Vision-in-One

Yang Esa selalu hadir imanen; sehingga tidak bisa dipahami secara transenden saja. Kita perlu melangkah ke Vision-in-One.

“3.1.1. Immanence. The One is immanence and is not thinkable on the terrain of transcendence (ekstasis, scission, nothingness, objectivation, alterity, alienation, meta or epekeina). Corollary: the philosophies of immanence (Spinoza, Deleuze) posit immanence in a transcendent fashion. Even Henry posits in a quasi-transcendent fashion the unekstatic immanence he objectifies.”

“3.1.1. Imanensi. Yang Esa adalah imanensi dan tidak dapat dipikirkan di medan transendensi (ekstasis, pemisahan, ketiadaan, objektivasi, alteritas, alienasi, meta atau epekeina). Akibatnya: filsafat imanensi (Spinoza, Deleuze) menempatkan imanensi dalam cara yang transenden. Bahkan Henry menempatkan imanensi yang tidak ekstatik yang diobjektifkannya dalam cara yang hampir transenden.”

Alternatif nama dari Yang Esa: Identitas, Ego, dan Sang Nyata. Identitas bukan sifat dan bukan pelaku. Ego bukan subyek; subyek adalah kloning dari Ego. Sang Nyata adalah Nyata radikal; tidak ada yang setara dengan Sang Nyata.

4. Realitas Sejati

Ada komputer, ada meja, ada rumah, ada kamu. Tampaknya sudah jelas semua yang ada. Tapi apa makna-ada? Umat manusia mengalami beragam masalah besar karena lupa bertanya: apa makna-ada? Itulah salah satu inti pemikiran Heidegger yang sulit dipahami.

Segala sesuatu adalah ada atau being atau wujud. Being mana yang perlu kita pelajari? Mengapa tidak seluruh being? Apa bisa? Kita perlu memilih being paling spesial yaitu being yang mempertanyakan being; wujud yang mempertanyakan wujud; eksistensi yang mempertanyakan eksistensi; being-there; wujud-itu; dasein. Jadi, kita akan memulai kajian dari dasein.

Apa makna-ada? Makna-ada adalah dasein yaitu eksistensi yang mempertanyakan eksistensi. Untung saja, sebagian manusia adalah eksistensi yang mempertanyakan eksistensi. Sehingga, kita mulai mengkaji dari manusia otentik. Karakter utama dari dasein adalah being-in-the-world; wujud-dalam-dunia. Kita selalu berada dalam dunia.

Tuhan Maha Akhir

Dari kajian dasein muncul beragam problem yang sulit untuk ditangani: Only a God can cave us; Hanya Tuhan yang bisa selamatkan kita.

Kapan dan bagaimana laku manusia beresonansi dengan Tuhan secara kreatif? Pertanyaan eksak tentang resonansi adalah salah paham. Diam lebih baik dari hiruk-pikuk pencapaian tujuan perayaan agama.

However, it cannot ‘historically’ be said whether, when, and for which hearts be-ing positions itself between the alienated gods and the disturbed human beings and allows the sway of gods and the ownmost of man to resonate in a creative mutual beholding. Indeed, to cling to such questions means mis-cognizing already the fundamental knowing-awareness.

The name “gods” should be ‘said’ only in order to raise the silent reticence of the question-worthiness of gods to a foundational attitude. Whoever turns a deaf ear to this ‘saying’ nonetheless often attests [G249] to a more genuine questioning attitude than those who are concerned with “satisfying” “religious needs”. (Mindfulness, 219)

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda? Benar-benar sulitkan? Atau perlu diperpanjang contoh sulitnya?

Bagaimana urutan dari paling sulit di antara tiga pemikir? Saya mengurutkan paling sulit adalah Laruelle, kemudian Severino, dan akhirnya Heidegger.

Heidegger adalah paling mudah karena dia mulai membahas segala sesuatu yang dekat dengan manusia yaitu dasein. Heidegger sulit karena dia satu langkah lebih dalam dari pengalaman kita sehari-hari lalu lebih dalam lagi dan lagi; kadang melompat terbang tinggi.

Severino lebih sulit dari Heidegger karena Severino menolak pengalaman kita sehari-hari sebagai nyata apa-adanya; yang benar, pengalaman kita adalah penampakan dari wujud nyata; atau tersembunyinya dari wujud nyata.

Laruelle paling sulit karena membahas Esa dari Esa itu sendiri: Vision-in-One. Sementara, kita membahas segalanya dari perspektif manusia. Bagaimana kita bisa membahas yang Esa dari Esa?

Bagaimana menurut Anda?

Severino: Kebenaran Abadi bukan Ilusi

Pada usia 18 tahun, Severino (di tahun 1947) menulis disertasi tentang Heidegger dan Metafisika. Sejak itu, Severino menjadi filsuf hebat asal Itali. Heidegger sendiri sampai membahas pemikiran Severino yang merespon konsep dasein.

Heidegger menunjukkan bahwa manusia gelisah karena akan menghadapi kematian yang pasti. Severino meyakinkan bahwa manusia yang baik adalah abadi; manusia tidak hilang akibat mati; manusia itu abadi.

1. Nihilisme
2. Wujud Abadi
3. Being – Appear – Appearing/Ilusi
4. Diskusi

Severino (1929 – 2020) sepakat dengan Heidegger (1889 – 1976) bahwa problem dari umat manusia adalah nihilisme: kehampaan yang mendera. Teknologi dan sains mengantar kepada nihilisme; kekayaan dan foya-foya adalah nihilisme; mabuk dan korupsi adalah nihilisme. Manusia perlu menangani nihilisme dengan baik agar menjadi kebenaran abadi; sejatinya, manusia dan alam adalah limpahan kebenaran sejati yang abadi.

“The concrete appearing of truth therefore implies the concrete appearing of error, not simply an abstract representation of error.

In its essence, error is the isolation of the earth from the destiny of truth.

If the salvation of truth (i.e., the supersession of the concreteness of error) is destined to occur, then, for salvation to occur, the occurrence of the alienation of truth—the earth’s isolation and nihilism—is Necessity.”

1. Nihilisme

Kehampaan yang mendera manusia modern adalah nihilisme. Cara hidup kita, terutama sains dan teknologi, memaksa kita terjerat nihilisme. Dulu kita tidak ada, sesaat menjadi ada, akhirnya kembali tidak ada: itulah esensi nihilisme.

Kemarin tidak ada jabatan, kemudian punya jabatan, lalu hilang jabatan: nihilisme juga. Dulu tidak punya uang, lalu punya uang, akhirnya habis semua uang: sama juga nihilisme. Dulu tidak punya pasangan, lalu punya pasangan, kemudian pasangan hilang: nihilisme juga kawan.

Nihilisme adalah suatu kesalahan yang perlu diperbaiki menurut Severino.

2. Wujud Abadi

Wujud sejati adalah abadi: dari dulu, kini, dan masa depan. Solusi dari nihilisme adalah kembali kepada wujud sejati yang abadi: jalan kebenaran dan keteguhan hati.

Bagi Severino, wujud adalah wujud abadi. Jika Anda hari ini punya wujud, yaitu ada-Anda, maka Anda selalu wujud. Anda selalu ada; tidak pernah hilang. Andai wujud bisa hilang maka hilang ke mana? Apa yang bisa menghilangkan wujud? Wujud tidak bisa hilang; wujud hanya bisa tidak-tampak bagi orang tertentu; tetapi wujud selalu ada secara abadi.

Ketika Anda berbuat kebaikan, misal menolong orang miskin, maka kebaikan Anda itu abadi bersama Anda.

3. Being – Appear – Appearing/Ilusi

Being atau wujud adalah abadi. Being bisa tampak (appear) bisa juga sembunyi (disappear). Penampakan (appearing) memang niscaya merupakan percikan cahaya wujud; tapi bisa juga hanya ilusi suatu penampakan. Bagaimana mengenalinya?

Mari kita coba membuat semacam struktur untuk memahami wujud abadi versi Severino.

(a) Being adalah wujud abadi. Semua yang ada adalah Being; dan Being adalah semua yang ada.

(b) Appear vs diasppear (tampak vs tidak-tampak). Wujud itu sebagian tampak bagi kita (appear) misal tangan kanan Anda adalah tampak. Sebagian wujud yang lain tidak tampak bagi kita (disappear) misal wajah rembulan yang membelakangi bumi; misal lagi, kakek dari nenek dari nenek Anda yang mungkin beda usia dengan Anda 100 tahun adalah tidak tampak.

Wujud yang tampak maka jelas ada; wujud yang tidak-tampak bagaimana pun tetap ada; hanya saja kita tidak bisa melihatnya.

Kakek dari nenek Anda yang sudah meninggal itu tetap ada bersama amal kebaikannya. Hanya saja kita tidak bisa melihatnya.

(c) Appearing vs Illusion (penampakan vs ilusi). Bagi wujud yang tampak maka kita bisa melihat penampakannya; misal penampakan tangan Anda. Tetapi, ada risiko bahwa penampakan itu hanya ilusi karena Anda sedang tidur dan bermimpi melihat tangan Anda.

Penampakan ilusi ini perlu kita waspadai. Mencuri atau korupsi menjadi penampakan yang menguntungkan. Tuan Jahat, misal, korupsi uang 100 juta. Tentu uang 100 juta itu menampakkan kenikmatan duniawi; bisa untuk beli makanan lezat, bisa untuk cek-in hotel mewah lengkap dengan fasilitasnya yang cantik menggoda, dan lain-lain. Tetapi penampakan uang 100 juta seperti itu hanya ilusi. Karena korupsi 100 juta adalah bencana besar bagi Tuan Jahat sendiri. Korupsi adalah merusak diri sendiri yang berselimut ilusi nafsu birahi.

Kita perlu waspada membedakan antara ilusi dengan penampakan yang benar. Caranya? Dengan kembali kepada Being Sang Wujud Abadi. Kita perlu berteguh hati untuk meniti jalan kebenaran. Terimalah dengan hati terbuka bimbingan Sang Wujud Sejati.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Kulminasi Teknologi AI: Hegel sampai Pippin

Siang itu, anak saya dengan gembira berkata, “Ayah lihat ini, dengar ini, bagus sekali!”

Ia menyodorkan hp yang memutar video lagu dengan sangat lembut dan indah. Suara vokalis perempuan begitu merdu. Tampilan teks pada layar menunjukkan bait-bait puisi menyentuh hati.

“Lagu ini bikinan aku menggunakan AI,” ia melanjutkan.
“Hebat banget,” sahut saya, “kalau lirik syairnya bikinan siapa?”
“Liriknya sih, tulisan aku asli.”

Barangkali, kurang dari 15 menit, anak saya bisa menciptakan lagu yang indah dan merdu dengan bantuan AI. Apakah AI membawa kebaikan bagi umat manusia? Bagi alam raya? Yang jelas, AI adalah kulminasi teknologi; AI adalah puncak kemajuan teknologi.

Apakah saya benar-benar terkesan oleh lagu dan musik ciptaan AI? Saya lebih terkesan dengan lirik syairnya yang indah tulisan anak saya itu. Sedangkan dengan nada-nada dan alunan musiknya yang ciptaan AI, saya kagum. Apakah menyentuh hati? Dalam tulisan ini, kita akan diskusi AI sebagai kulminasi teknologi; dan teknologi adalah kulminasi dari pemikiran rasional umat manusia. Tentu, kita akan membahas plus dan minus nya.

1. Makna Teknologi
2. Kulminasi Histori
3. Puisi
4. Futuristik
5. Diskusi

Heidegger (1889 – 1976) adalah pemikir besar pertama yang mengkaji makna teknologi. Esensi teknologi adalah enframing atau pencitraan yang berbahaya. Apakah AI juga berbahaya? Hegel (1770 – 1831) adalah pemikir besar dengan konsep idealisme absolut yang menjadi kulminasi dari pemikiran rasional umat manusia. Bagaimana manusia bisa berpikir rasional absolut? Hegel menjawab, “Dengan dialektika.” Pippin (1949 – ) adalah ilmuwan pengkaji pemikiran Hegel sampai sekarang. Pippin berusaha menghadirkan pemikiran Hegel agar hidup di masa kini. Tahun lalu, Pippin menulis buku berjudul “The Culmination.” Buku The Culmination ini menjadi titik belok tajam Pippin dari, semula, murid Hegel menjadi murid Heidegger. Dalam buku Futuristik 2 yang berjudul “Pintu Anugerah,” saya membahas teknologi secara khusus di bab 4 secara detil. Teknologi memang amat penting.

1. Makna Teknologi

Apa makna teknologi? Apa hakikat teknologi? Apakah teknologi bermanfaat?

Teknologi adalah alat bagi manusia. Gunakan teknologi secara tepat maka semua bermanfaat dan mencegah mudharat; mencegah bahaya. Semua masalah selesai.

Memaknai teknologi sebagai alat adalah cara paling lemah memaknai teknologi; alat adalah makna paling basic bagi teknologi. Teknologi lebih dari sekedar alat. AI lebih dari sekedar alat. Manusia perlu membuka mata lebih lebar untuk memandang AI bukan sekedar alat semata. Teknologi adalah ideologi; teknologi adalah teman hati; teknologi adalah enframing.

Teknologi memang ada manfaatnya tetapi jauh lebih besar bahayanya. Kita perlu waspada. Bagaimana caranya?

2. Kulminasi Histori

Histori terus bergulir dari sejarah kuno sampai era kita sekarang ini. Saya menikmati kisah-kisah kuno tentang para dewa. Petualangan Hercules sang putra Dewa Zeus itu selalu seru. Kisah wayang dari Jawa dan India senantiasa mempesona.

Auguste Comte muda (1798 – 1857) paling terkenal dengan formula sejarah umat manusia terdiri tiga era. Pertama era mitologi: manusia berpikir melalui mitologi para dewa. Kisah para nabi dan kisah agama-agama sering dimasukkan pada era pertama ini.

Kedua era metafisika: manusia berpikir secara rasional spekulasi. Pemikir Yunani Kuno semisal Plato dan Aristo adalah tokoh-tokoh pemikir metafisika. Manusia mulai berpikir secara rasional. Sejarah makin berkembang. Metafisika lebih maju dari mitologi.

Ketiga era ilmiah: manusia berpikir secara ilmiah atau saintifik dengan mengembangkan sains dan teknologi. Era ilmiah adalah kulminasi dari sejarah manusia. Era ilmiah menggantikan era mitologi mau pun metafisika. Tentu saja, ilmuwan semisal Newton dan Einstein adalah tokoh utama di era sains dan teknologi ini. Era ilmiah berkembang sampai abad 21 ini. Teknologi, misal AI, adalah kulminasi.

Hegel

Dua atau tiga dekade lebih awal dari Comte, Hegel telah merumuskan kulminasi sejarah pemikiran umat manusia. Hegel menggunakan pendekatan filosofis idealisme absolut berbeda dengan Comte. Sehingga, klaim oleh Hegel ini juga bersifat absolut. Jadi, Hegel adalah kulminasi sejati secara absolut. Apakah klaim ini benar? Klaim idealisme absolut Hegel berupa: spirit absolut atau rasionalisme absolut. Dengan kata lain, seluruh alam raya mencapai kulminasi dengan menjadi rasional absolut; atau akal absolut.

Comte melakukan klaim secara histori sosiologis. Data histori sosiologi sewaktu-waktu bisa berubah. Akibatnya klaim Comte bisa berubah sesuai data dan teori. Kenyataannya, Comte memang berubah pikiran di usia tua. Di usia 40an, Comte adalah seorang duda berkenalan dengan janda muda yang cantik jelita. Comte jatuh cinta. Mereka tidak bisa menikah karena aturan agama menyatakan sang janda belum sepenuhnya resmi menjadi janda. Tidak lama dari jatuh cinta itu, sang janda meninggal dunia. Comte berduka bersama cinta.

Peristiwa itu berpengaruh kepada pandangan Comte: semula mitologi – metafisika – sains; berubah menjadi sains – metafisika – spiritual. Atau, ketiganya berpadu di era sekarang ini; mereka sejajar. Bahkan ada kecenderungan, Comte tua menempatkan agama/spiritual lebih tinggi dari metafisika mau pun sains.

Berbeda dengan Comte, klaim absolut oleh Hegel tidak bisa berubah. Atau, setiap perubahan sudah dirangkul oleh idealisme absolut Hegel. Jadi, rasionalisme absolut adalah kulminasi dari seluruh sejarah alam raya; puncak absolut.

Bagaimana rasionalisme atau akal bisa menjadi kulminasi? Melalui proses dialektika. Akal berlawanan dengan alam; akal merangkul alam; terjadi sintesis akal dan alam terbentuk spirit lebih tinggi. Sejatinya, spirit lebih tinggi adalah akal lebih tinggi. Selanjutnya, akal berlawanan dengan alam lagi. Berulang sampai mencapai akal absolut atau spirit absolut.

Jalur dialektika bisa saja berbeda. Sains berlawanan dengan bukan-sains; misal sains berlawanan dengan seni; sains merangkul seni; terbentuk sintesa sains yang lebih tinggi berupa filosofi. Tetapi, filosofi ini adalah sains itu sendiri. Selanjutnya sains berdialektika sampai terbentuk filosofi absolut. Filosofi absolut adalah akal absolut atau rasionalisme absolut itu sendiri.

Kita bisa menyusun dialektika yang beragam misal agama lawan politik; bisnis lawan hukum; rakyat lawan negara; orang miskin lawan orang kaya; dan lain-lain. Semua dialektika ini akan mengantar kepada, akhirnya, rasionalisme absolut atau akal absolut.

Yang menarik dari dialektika adalah mereka saling merangkul untuk meraih akal yang lebih tinggi; mereka saling membutuhkan; meski tampak saling berlawanan; sejatinya, dialektika hanya bisa terjadi karena ada perbedaan yang menciptakan ketegangan kemudian saling merangkul.

Pippin

Pippin mendukung dialektiga Hegel sejak Pippin muda sampai tua. Karena dialektika merangkul segala perbedaan; merangkul segala ketegangan; maka dialektika mengantar kepada puncak kulminasi. Dalam realitas nyata, kulminasi itu berupa teknologi.

Di usia tua, sekitar 70an tahun, Pippin melihat dari puncak kulminasi Hegel bahwa kulminasi ini cacat; rasionalisme absolut adalah cacat. Kita membutuhkan penawar dari kulminasi Hegel. Apa penawar itu?

3. Puisi

Puisi adalah penawar kulminasi. Puisi mengubah kulminasi menjadi inspirasi. Puisi menebarkan, membangunkan, dan menumbuhkan suara hati.

Teman-teman Pippin kecewa. Mereka adalah murid-murid Hegel di abad 21 ini. Karena akal absolut adalah kulminasi maka mereka, pendukung rasionalisme absolut, adalah orang-orang rasional paling cerdas dalam sejarah. Mereka memberi kritik tajam kepada Pippin agar Pippin kembali mendukung kulminasi Hegel.

Pippin menjawab bahwa kulminasi Hegel kita perlukan untuk menyadari bahwa kulminasi itu hanya ilusi.

4. Futuristik

Bagaimana masa depan saya? Masa depan orang-orang di sekitar saya? Masa depan lingkungan saya? Pertanyaan futuristik adalah pertanyaan otentik.

Hegel salah; bukan sekadar kulminasi adalah jawaban yang salah. Tetapi, masalah utamanya, Hegel tidak pernah bertanya; tidak pernah mengajukan pertanyaan yang tepat. Kita perlu mengajukan pertanyaan paling penting: apa yang paling penting? Mengapa penting? Bagaimana itu penting? Mengapa penting untuk mengajukan pertanyaan? Apa makna-penting? Apa makna itu semua?

Pertanyaan ini akan mengarahkan kita untuk membuka posibilitas futuristik. Anda penting karena Anda memiliki masa depan. Tanpa masa depan maka tidak ada yang penting. Anda membaca tulisan ini adalah penting karena masa depan Anda terkait dengan tulisan ini.

Apakah AI itu penting? Mengapa AI penting? Apa yang lebih penting dari AI? Bagaimana dunia ini menjadi lebih baik tanpa AI? Mengapa menolak AI adalah sikap paling penting? Mengapa AI harus dibuang?

Mengapa kita harus bertanya? Keutamaan manusia adalah mampu untuk bertanya. Manusia memiliki posibilitas untuk mengajukan pertanyaan. Kucing yang Anda temui di dekat rumah itu tidak akan bertanya: apa pentingnya AI? Kucing memang bisa meminta makanan ke Anda. Tetapi kucing tidak bertanya dari mana Anda mendapat makanan kucing itu. Jadi, posibilitas untuk mengajukan pertanyaan adalah posibilitas penting bagi manusia. Setiap pertanyaan akan memantik masa depan.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Teknologi adalah kulminasi; yang mengekang manusia dalam jeruji; alam raya sama juga terpenjara teknologi. Sudah tersedia solusi: berteman dengan teknologi untuk serasi menulis puisi; membaca puisi; mengalun serasi; menjadi puisi. Apakah puisi menjadi kulminasi?

5.1 Kulminasi Teknologi

Teknologi adalah kulminasi dari seluruh histori umat manusia; dari perspektif rasional. Apakah itu kabar baik?

5.2 Solusi Puisi

Berpikir puitis adalah solusi bagi manusia untuk mengalami realitas konkrit. Apakah puisi bisa menjadi solusi?

5.3 Masa Depan Konkrit

Bukan angan-angan; bukan abstraksi; kita menghadapi masa depan yang konkrit di sini dan di sana.

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Probabilitas AI dan Kuantum: Masa Depan Umat Manusia

AI mengguncang dunia sejak akhir tahun 2022 dengan sukses besar peluncuran chatGPT. Awal tahun 2025, China menggoyahkan dominasi Amerika di bidang AI (akal amitasi / artificial intelligence) dengan meluncurkan AI berupa Deepseek, Qwen, dan lain-lain. Bagaimana persaingan dunia AI di masa depan? Bagaimana nasib masa depan umat manusia? Karena AI bisa lebih bahaya dari bom atom maka apakah AI akan berbahaya bagi kehidupan di bumi?

Mungkin saja manusia akan musnah akibat dari AI. Mungkin saja bumi menjadi tidak layak dihuni akibat dari persaingan pengembangan AI. Mungkin juga masa depan manusia menjadi sejahtera, adil, dan makmur berkat perkembangan AI. Semua kemungkinan itu adalah probalitas; adalah posibilitas. Apa makna probalitas? Makna posibilitas? Makna masa depan umat manusia?

I. Episode Sejarah Sains Teknologi
1. Filsafat Yunani sampai Aljabar
2. Revolusi Copernicus sampai Newton
3. Teknologi Alchemi sampai Kimia
4. Evolusi Darwin sampai Big Bang
5. Psikologi sampai Neurosains
6. Komputer sampai Super Intelligence
7. Singularitas AI Masa Depan

II. Kemunculan Probabilitas
8. Parmenides: Konsep Probabilitas Opini
9. Ibnu Sina: Konsep Probabilitas Eksistensi
10. Al Ghazali: Probabilitas Okasionalisme
11. Berkeley: Eviden sebagai Probabilitas
12. Hume: Menuju Probabilitas Ontologi
13. Hacking: Probabilitas dan Statistik Kontemporer
14. Kuantum: Probabilitas Realitas Sains Teknologi

III. AI Masa Depan
15. Pelopor AI
# Komputer Universal Mesin Turing
# Optimisme AI oleh McCharthy
# Kebangkitan AI:
Mesin Pembelajaran, Algoritma Mesin Pencarian, Media Sosial
16. Kompetisi AI
# Open AI Meluncurkan ChatGPT
# Meta, Gemini, dan Grok Masuk Kompetisi
# Deepseek, Qwen, dan Manus Menantang Dominasi
17. Tantangan Masa Depan
# Narasi AI: Optimis, Kritis, dan Alternatif
# Membangun AI sebagai Jembatan Peradaban
# Menimbang Pembatasan AI sebagaimana Senjata Nuklir

IV. Kuantum Masa Depan
18. Pelopor-Pelopor Kuantum
# Terobosan: Planck, Einstein, dan Bohr
# Ketidakpastian: Heisenberg, Schrodinger, dan Dirac
# Ketidaktahuan: Feynman, Bell, dan Higgs
19. Enigma Kuantum
# Gelombang: de Broglie dan Bohm
# Orkestra Penrose
# Teori String dan QLG
20. Komputer Kuantum
# Komputer Klasik
# Superposisi dan Qubit
# Kecepatan dan Belitan
21. Tantangan Kuantum
# Sinergi Kuantum dan AI
# Bisakah Realisasi?
# Dunia Baru

V. Dialog Peradaban
22. Era Yunani Kuno
23. Era Romawi Kuno
24. Era Keemasan Islam
25. Era Pencerahan
26. Era Kontemporer

VI. Masa Depan Umat Manusia
27. Siapa Manusia?
28. Institusi Negara Bangsa dan Aternatif
29. Kosmopolitan dan Bumi Pertiwi

VII. Refleksi
30. Keragaman Solusi Refleksi
31. Memperkuat Pertahanan Lokal bukan Serangan
32. Menyemai Berpikir Puitis
33. Berharap Hanya kepada Tuhan

Masa depan umat manusia akan dipenuhi masalah-masalah besar. Tetapi, sepanjang sejarah, manusia berhasil menemukan solusi dari beragam masalah-masalah itu atau membiarkan masalah itu untuk berlalu. Tentu, kita berkomitmen untuk meraih posibilitas masa depan terbaik bagi umat manusia. Bagaimana caranya? Kita akan belajar dari hikmah sejarah masa lalu dan memotret anugerah masa depan.

I. Episode Sejarah Sains Teknologi

Sains berkembang sejak awal peradaban manusia sampai saat ini dengan berkembangnya mekanika kuantum dan teori relativitas Einstein. Teknologi lebih awal berkembang dari sains sesuai kebutuhan manusia kuno dan berkembang, saat ini, melompat lebih depan dari sains itu sendiri semisal AI. Di bagian ini, kita akan mengkaji sejarah sains teknologi sepanjang sejarah dengan tujuan untuk lebih memahami peran AI, kuantum, dan probabilitas.

II. Kemunculan Probabilitas

Probabilitas muncul “emerge” dengan cara yang unik berbeda dengan sains mau pun teknologi; meski probabilitas menjalin hubungan kuat dengan sains dan teknologi. Probabilitas sebagai epistemologi (pengetahuan) sudah berkembang sejak awal peradaban kuno. Sementara, probabilitas sebagai ontologi (sebagai realitas) baru berkembang di era Hume (1711 – 1776); makin berkembang dengan mekanika kuantum dan makin nyata dengan AI. Di bagian ini, kita lebih fokus menelusuri tema probabilitas secara epistemologi dan ontologi yang berkonsekuensi kepada aksiologi (etika).

III. AI Masa Depan

AI menjadi harapan masa depan karena memiliki “kecerdasan” istimewa. Problem-problem sulit yang tidak bisa diselesaikan oleh manusia – ekonomi, politik, perang, dan lain-lain – adalah akibat dari keterbatasan kecerdasan manusia. Karena AI “sangat cerdas” maka AI akan mampu menyelesaikan semua problem sulit itu dengan baik. Sampai saat ini, tahun 2025, harapan indah ini baru sekedar posibilitas belaka. Kita belum menemukan realitas nyata dari “kecerdasan” AI. Akankah di masa depan, AI menjadi realitas yang indah? Kita akan membahasnya di bagian ini.

IV. Kuantum Masa Depan

Sains kuantum, misal mekanika kuantum, telah berhasil melakukan inovasi besar terhadap sains klasik, misal mekanika Newton. Lebih dari itu, kuantum berhasil memberi manfaat secara praktis di bidang kesehatan, teknologi elektronik, bidang komputer, dan lain-lain. Tetapi, komputer kuantum masih dalam tahap riset di tahun 2025 ini. Bila komputer kuantum berhasil diproduksi maka akan menjadi kemajuan besar. Akankah komputer kuantum, dan teknologi kuantum secara umum, akan berhasil membawa kemajuan di masa depan?

V. Dialog Peradaban

Seharusnya, terjadi dialog peradaban. Sayangnya, catatan sejarah menunjukkan sering terjadi perang peradaban. Awal April 2025, Trump mengumumkan perang dagang terhadap China dengan menetapkan tarif ekspor-impor sangat tinggi. China membalas serangan Trump dengan menetapkan tarif sama tinggi. Beberapa pekan kemudian, Trump mengusulkan agar terjadi dialog dengan China ketimbang perang dagang. Bisakah perang peradaban seperti ini untuk selalu kita geser menjadi dialog peradaban? Kita akan membahasnya di bagian ini.

6. Masa Depan Umat Manusia

Kita yakin bahwa AI dan kuantum membuka posibilitas yang luas bagi masa depan umat manusia. Di saat yang sama, kita ragu apakah posibilitas itu ke arah kebaikan atau justru kehancuran umat manusia? Teknologi cangkul bermanfaat “sedikit” bagi manusia tetapi lebih aman; cangkul tidak bisa merusak bumi. Teknologi nuklir bermanfaat “besar” bagi manusia tetapi resiko lebih besar pula; bom atom bisa menghancurkan bumi dan meracuni semua. Teknologi nuklir seperti itu bersifat anthropocene. Di masa depan ada posibilitas berkembang anthropocene lebih banyak; AI dan kuantum memiliki posibilitas anthropocene. Bagaimana nasib masa depan umat manusia?

7. Refleksi

Apa yang harus kita lakukan? Apa solusi yang tersedia? Apa saja posibilitas kebaikan yang perlu kita kembangkan? Kita perlu berpikir mendalam, refleksi, untuk memahami segala sesuatunya. Kemudian, kita mencoba mengajukan beberapa solusi.

1. Memperbanyak refleksi

2. Memperkuat pertahanan bukan serangan

3. Berharap kepada Tuhan

Catatan awal:

  • Pengantar memberikan gambaran umum tentang hubungan probabilitas dengan AI, kuantum, dan masa depan.
  • Bagian I membahas dasar probabilitas sebagai fondasi untuk memahami topik berikutnya.
  • Bagian II fokus pada AI, mengeksplorasi bagaimana probabilitas mendorong pembelajaran mesin dan tantangan etisnya.
  • Bagian III menyelami dunia kuantum, menyoroti probabilitas sebagai inti mekanika dan komputasi kuantum.
  • Bagian IV mengintegrasikan semua tema, membahas konvergensi teknologi dan implikasinya bagi umat manusia, termasuk isu keberlanjutan dan filosofis.
  • Penutup merangkum wawasan dan memberikan pandangan optimistis namun realistis.

Daftar isi ini dirancang untuk menyeimbangkan aspek teknis dan narasi yang relevan bagi pembaca umum maupun yang memiliki minat mendalam pada sains dan teknologi. Jika Anda ingin penyesuaian (misalnya, menambahkan bab tertentu atau mengubah fokus), silakan beri tahu!

Daftar Isi

Pengantar

  1. Mengapa Probabilitas Menentukan Masa Depan
    • Menyingkap Ketidakpastian dalam Sains dan Kehidupan
    • Hubungan Probabilitas dengan AI dan Kuantum

Bagian I: Fondasi Probabilitas
2. Dasar-Dasar Probabilitas

  • Definisi dan Konsep Inti
  • Probabilitas Klasik vs. Bayesian
  • Aplikasi dalam Pengambilan Keputusan
  1. Probabilitas di Era Digital
    • Data Besar dan Ketidakpastian
    • Model Probabilistik dalam Algoritma Modern

Bagian II: Kecerdasan Buatan dan Probabilitas
4. AI: Mesin yang Belajar dari Ketidakpastian

  • Pembelajaran Mesin dan Model Probabilistik
  • Jaringan Saraf, Entropi, dan Prediksi
  • Studi Kasus: AI dalam Kehidupan Sehari-hari
  1. Etika dan Risiko AI
    • Probabilitas Bias dan Kesalahan AI
    • AI Generatif: Peluang dan Ancaman
    • Mengelola Ketidakpastian dalam Pengembangan AI

Bagian III: Kuantum dan Ketidakpastian
6. Mekanika Kuantum: Dunia Probabilitas Murni

  • Prinsip Superposisi dan Belitan
  • Pengukuran dan Ketidakpastian Heisenberg
  • Peran Probabilitas dalam Fisika Kuantum
  1. Komputasi Kuantum: Melampaui Batas Klasik
    • Algoritma Kuantum dan Probabilitas
    • Aplikasi Komputasi Kuantum: Kriptografi, Simulasi, dan AI
    • Tantangan dalam Skalabilitas Kuantum

Bagian IV: Masa Depan Umat Manusia
8. Konvergensi AI dan Kuantum

  • Sinergi Teknologi: AI Kuantum
  • Dampak pada Sains, Ekonomi, dan Masyarakat
  • Skenario Masa Depan: Utopia atau Distopia?
  1. Probabilitas dan Keberlanjutan Manusia
    • Prediksi Perubahan Iklim dengan Model Probabilistik
    • AI dan Kuantum untuk Solusi Global
    • Menavigasi Risiko Eksistensial
  2. Manusia di Tengah Ketidakpastian
    • Redefinisi Identitas di Era Teknologi
    • Filosofi Probabilitas: Kebebasan vs. Determinisme
    • Membangun Masa Depan yang Tangguh

Penutup
11. Merangkul Ketidakpastian

  • Pelajaran dari AI, Kuantum, dan Probabilitas
  • Langkah Menuju Masa Depan yang Lebih Baik

Lampiran

  • Glosarium Istilah Teknis
  • Daftar Pustaka dan Sumber
  • Catatan dan Referensi

Indeks


Mengapa Matematika Tidak Penting

“Tidak ada ujian nasional bertahun-tahun. Matematika menjadi tidak penting,” kata seorang siswa SMP.
“Kamu melanjutkan ke SMA bukannya perlu belajar matematika?”
“Tidak perlu. Aku lanjut masuk SMA pakai jalur zonasi; katanya ganti nama jalur domisili. Untuk kuliah nanti, Aku pakai jalur prestasi.”

Benarkah matematika memang menjadi tidak penting lagi?

Waktu itu, menteri pendidikan mengatakan bahwa presiden Prabowo ingin matematika diajarkan sejak siswa TK karena matematika sangat penting. Memang benar belajar matematika itu penting sejak usia dini; bahkan ketika bayi baru lahir; ketika masih dalam kandungan, ibu perlu membacakan dongeng-dongeng matematika. Bagaimana cara belajar matematika sejak usia dini?

1. Matematika Penting
2. Tidak Penting
3. Penting Karena Tidak Penting
4. Diskusi
4.1 Matematika Trump
4.2 Matematika Bukan Utama
4.3 Pendidikan Matematika
5. Ringkasan

Kita bisa menduga terjadi pro kontra: matematika penting vs tidak penting. Lebih dari itu, kita ingin tahu alasan masing-masing sehingga kita bisa memahami mereka. Kesimpulan saya: matematika penting karena matematika bisa menunjukkan bahwa sebenarnya matematika tidak penting. Lho, jadi rumit begitu?

1. Matematika Penting

Wijaksono adalah anak desa yang terlahir berbakat matematika. Anda bisa memanggilnya Wija atau Wi saja. Ketika duduk di bangku SD, Wija bertanya pada diri sendiri, “Mengapa teman-teman sekelas sulit sekali belajar matematika padahal matematika sangat mudah?”

Pertanyaan itu dan pertanyaan “mengapa” lainnya lagi terus menggelitik pikiran Wija kecil, remaja, sampai dewasa.

Lulus dari SD kampung, Wija melanjutkan ke SMP terbaik yang ada di kabupaten itu. Meski dari SD kampung, Wija berhasil masuk SMP favorit karena untuk masuk SMP harus melalui ujian. Penentu nilai ujian paling penting adalah ujian matematika. Wija beruntung karena berbakat dan mahir matematika sejak kecil. Andai untuk masuk SMP harus pakai zonasi barangkali Wija tidak bisa masuk SMP karena jarak rumah ke SMP sekitar 3 km. Ujian matematika dan ujian bidang lain adalah kegemaran Wija.

Singkat cerita, Wija lanjut ke SMA terbaik kemudian kuliah di ITB – salah satu universitas terbaik di Indonesia. Semua berbekal bakat matematika.

“Apakah matematika penting?” kita mengajukan pertanyaan kepada Wija.
“Matematika itu penting,” jawab Wija dengan yakin.
“Apakah benar-benar penting?”

Wija mulai berpikir. Matematika memang penting tetapi tidak terlalu penting juga. Untuk menguasai koding, kita butuh berpikir matematika. Tetapi, koding tidak terlalu penting meski masih penting.

“Yang paling penting adalah ‘menghormati ibu’ yaitu akhlak,” kata Wija.

2. Tidak Penting

Kesimpulan Wija adalah matematika tidak terlalu penting atau, singkatnya, matematika tidak penting. Kita perlu waspada dengan istilah “tidak penting” di sini.

Yang paling penting adalah akhlak semisal “menghormati ibu.” Absolute. Mutlak bagi setiap manusia. Siapa pun Anda maka Anda wajib “menghormati ibu.” Bahkan ketika ibu berbuat salah, misal menyuruh Anda untuk curang, maka tetap saja Anda harus menghormati ibu. Anda bisa menolak usulan ibu dengan penuh hormat; dengan satu dan lain cara yang tetap menjadikan ibu selalu bahagia.

Kenyataannya, ibu justru selalu membimbing anak-anaknya untuk meniti jalan yang lurus. Ibu membimbing kita untuk berbuat baik, belajar, dan ibadah. Ibu melimpahkan kasih sayang kepada kita: hanya memberi tak harap kembali; bagai sang surya menyinari dunia.

Yang menarik, akhlak tetap penting di dunia fiksi misal dalam novel. Wija yang hidup di kisah fiksi tetap harus “menghormati ibu.” Sementara, formula matematika bisa berbeda di dunia fiksi. Alien bisa mengembangkan matematika yang berbeda dengan matematika manusia di bumi. Tetapi, alien tetap wajib “menghormati ibu.”

3. Penting Karena Tidak Penting

Matematika itu penting karena belajar matematika bisa menunjukkan bahwa matematika itu tidak terlalu penting.

Lebih tepatnya: matematika itu tidak penting tetapi belajar matematika sangat penting. Jadi kita perlu membedakan matematika dengan belajar matematika. Rumitnya, di jaman Pythagoras, kata matematika bermakna sebagai proses belajar. Sehingga ketika kita berkata matematika maka bermakna sebagai proses belajar matematika. Sedangkan proses belajar selalu penting bagi setiap manusia.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

4.1 Matematika Trump

Presiden Trump memiliki rumus matematika khusus untuk menaikkan tarif impor-ekspor US. Trump menetapkan tarif untuk Indonesia sangat tinggi 32% dan 64%. Kepada Cina, tarif Trump sangat tinggi sekali. Tarif ini menggoncang ekonomi dunia sehingga Trump dan konconya memperoleh untung besar.

Jadi, matematika penting bagi Trump?

Benar, matematika penting bagi Trump yang berniat mencari keuntungan pribadi dengan merugikan pihak lain. Bu Menteri Sri menganggap Trump tidak pakai ilmu ekonomi. Barangkali benar itu karena Trump pakai ilmu matematika.

Aset Finansial

Kita perlu membaca taktik Trump dari aset finansial dan perdagangan opsi (option). Tentu saja, matematika menjadi amat penting di sini.

“An option is a contract that allows the holder the right to buy or sell an underlying asset or financial instrument at a specified strike price on or before a specified date, depending on the form of the option.” (Wikipedia).

Konco-konco Trump untung besar dengan perdagangan opsi ini. Konco menetapkan:

Jual: Jumat Sore, 4 April 2025
Beli: Senin Sore, 7 April 2025.

Pasar saham di dunia anjlok runtuh serendah-rendahnya pada Senin sore itu. Karena Trump mengumumkan tarif tinggi terhadap ekspor impor. Tentu, Konco-konco sudah paham situasi ini jauh beberapa hari sebelumnya. Mereka meraup untung dari jatuhnya pasar saham dunia. Mereka untung 5 juta dolar atau 5 milyard dolar hanya dalam pergantian hari.

Episode kedua lebih ngeri. Konco-konco menetapkan perdagangan opsi:

Beli: 9 April 2025
Jual: 10 April 2025

Hanya dalam semalam mereka untung 8 juta dolar atau 8 milyard dolar atau lebih. Perdagangan opsi memungkinkan para Konco tetap mengeruk keuntungan ketika pasar saham sedang anjlok runtuh mau pun ketika melonjak maksimal.

Secara matematika, semua itu bisa kita lihat dengan jelas. Jadi, matematika penting untuk mengeruk keuntungan pribadi dan Konco. Ekonomi dunia goyang akibat tarif Trump, di sisi lain, konco-konconya menikmati profit membubung tinggi.

4.2 Matematika bukan Utama

Matematika tidak penting dalam arti matematika bukan yang utama. Sains dan teknologi juga tidak penting karena bukan yang utama. Lalu apa yang utama?

Yang utama adalah dumadi serasi diri.

“Menghormati ibu” adalah dumadi serasi diri dengan sesama manusia. “Menjaga lingkungan” adalah dumadi serasi diri dengan alam. “Berpikir kreatif” adalah dumadi serasi diri dengan diri sendiri. “Berserah kepada Tuhan” adalah dumadi serasi diri dengan Yang Esa. Apa itu serasi? Serasi adalah yang paling utama. Kita berhadapan dengan logika melingkar di sini; yang perlu kita selidiki dengan hermeneutika melingkar agar makin kaya akan makna.

4.3 Pendidikan Matematika

Matematika memang bukan utama tetapi pendidikan matematika adalah utama; pendidikan matematika adalah penting; belajar matematika adalah penting. Di sini kita perlu jeli membedakan matematika dengan pendidikan matematika. Paman APIQ mengembangkan pendidikan matematika kreatif. Paman APIQ melakukan hal penting dalam contoh ini berupa lebih dari 7000 video pendidikan matematika di youtube. Tentu saja, ketika mengembangkan pendidikan, Paman APIQ membutuhkan matematika itu sendiri. Jadi, matematika memiliki peran penting dalam konteks pendidikan.

Matematika sebagai obyek adalah tidak penting dalam dirinya sendiri. Pendidikan matematika sebagai proses adalah penting bahkan sangat penting. Proses belajar matematika adalah tindakan konkrit yang nyata. Sementara, teori matematika adalah formula abstrak berupa konsep-konsep.

“Origin: mid 16th century: plural of obsolete mathematic ‘mathematics’, from Old French mathematique, from Latin (ars) mathematica ‘mathematical (art)’, from Greek mathēmatikē (epistēmē), from the base of manthanein ‘learn’.”

Benar: anak TK butuh belajar matematika konkrit.
Salah: anak TK butuh teori matematika abstrak.

Orang dewasa, secara umum, mirip anak TK yaitu butuh belajar matematika konkrit meski tidak butuh teori matematika abstrak. Hanya orang dewasa tertentu yang butuh menguasai teori matematika abstrak.

Bagaimana menurut Anda?

5. Ringkasan

Dalam kehidupan sehari-hari, matematika adalah penting bagi sebagian orang tetapi tidak penting bagi sebagian orang yang lain. Belajar matematika adalah sangat penting; sementara, teori matematika tidak penting dalam arti bukan utama.

[1] Pertama, matematika adalah penting bagi Anda untuk mencapai tujuan Anda. Untuk jadi pegawai, Anda butuh lulus tes matematika; untuk mendapat gelar sarjana, Anda perlu mengolah data dengan matematika; agar US untung besar, Trump perlu hitungan matematika; untuk menang perang, panglima butuh taktik bersama matematika.

Ketika kita bertanya lebih jauh: apakah matematika benar-benar penting? Jawabannya: matematika tidak penting; dalam arti bukan utama.

[2] Kedua, matematika bukan utama tetapi yang utama adalah akhlak semisal “menghormati ibu.” Akhlak adalah serasi diri bersama orang lain; bersama alam; bersama diri sendiri; dan bersama Tuhan.

[3] Ketiga, pendidikan matematika adalah penting; pendidikan matematika adalah utama. Meski teori matematika bukan utama tetapi proses belajar matematika adalah utama. Proses belajar matematika adalah serasi secara nyata.