AI Bisa Jadi Guru Besar?

Tantangan dan Solusi Pendidikan bersama AI

AI menantang dunia pendidikan dengan serius. AI (akal imitasi / artificial intelligence) mampu menjawab semua pertanyaan dengan cepat dan meyakinkan.

“Mengapa kita harus belajar sejarah?” tanya siswa SD kepada ibunya. Ibu belum menjawab, siswa itu melanjutkan, “Semua tentang sejarah bisa kita tanyakan ke AI dan AI akan menjawab dengan cepat. Kita tidak perlu repot-repot belajar sejarah.”

Dalam kadar yang lebih sederhana, kita pernah mengalami dilema pendidikan yang sama tentang teknologi kalkulator.

Adi yang kelas 2 SD protes ke ayahnya, “Mengapa Adi harus belajar berhitung perkalian 7 x 3? Padahal pakai kalkulator, kita langsung tahu jawabannya.” Adi mengajukan keberatan yang tepat sasaran. Dunia pendidikan, umumnya, sepakat bahwa siswa perlu belajar berhitung perkalian 7 x 3 dengan pikiran mereka sendiri. Kalkulator dilarang untuk digunakan bagi siswa SD. Bagaimana dengan AI? Apakah AI perlu dilarang bagi siswa SD? Bagi siswa SMP-SMA dan mahasiswa? Bagi guru dan dosen? Bagi masyarakat luas? Jika AI harus digunakan untuk dunia pendidikan maka bagaimana batasan-batasan terbaiknya?

AI mengajukan tantangan lebih serius lagi karena AI sering halusinasi atau ngawur. Kalkulator yang selalu menjawab dengan benar perkalian 7 x 3 saja dilarang bagi siswa SD. Bagaimana kita bisa percaya kepada AI yang sering halusinasi?

1. Pendidikan dalam Sejarah Manusia
2. Teknologi adalah Kunci
3. Tantangan dan Solusi AI
4. Diskusi

Untuk menemukan solusi bagi tantangan AI, kita perlu meluaskan pandangan sepanjang sejarah umat manusia bahkan sepanjang sejarah semesta. Teknologi adalah kunci. Manusia hidup selalu bersama teknologi. Jadi, kita perlu merespon AI dengan tepat dan bijak. Karena AI adalah kulminasi teknologi.

Hanya manusia, hanya kita, yang hidup di bumi ini dengan mengembangkan narasi: fiksi mau pun nyata. AI menawarkan narasi-narasi yang memantik imajinasi. Apa narasi terbaik bagi AI?

Prolog

1. Pendidikan dalam Sejarah Manusia

1.1 Mesir Kuno
1.2 Persi Kuno
1.3 Cina Kuno
1.4 India Kuno
1.5 Yunani Kuno

1.6 Romawi
1.7 Arab
1.8 Nusantara
1.9 Mongol
1.10 Eropa

1.11 Revolusi Copernicus sampai Descartes
1.12 Renaisans sampai Modern
1.13 Empirisme Inggris
1.14 Idealisme Jerman
1.15 Romantisme Jerman

1.16 Fenomenologi
1.17 Filsafat Analitik
1.18 Filsafat Sains
1.19 Filsafat Kontinental
1.20 Eksistensialisme sampai Posmodern

2. Teknologi adalah Kunci

2.1 Teknologi Alami dan Optik
2.2 Teknologi Kimia dan Mekanika
2.3 Teknologi Listrik dan Magnet
2.4 Teknologi Nuklir dan Radioaktif
2.5 Teknologi Kuantum dan Gravitasi

2.6 Teknologi Informasi dan Sibernetika
2.7 Komputer dan Teknologi Cerdas
2.8 Akal Imitasi / Artificial Intelligence
2.9 Apa Makna Teknologi?

3. Tantangan dan Solusi AI

A. Narasi-Narasi AI
3.1 Narasi Optimis
3.2 Narasi Kritis
3.3 Narasi Alternatif

B. Prospek AI
3.4 AI Jadi Guru Besar?
3.5 AI Serba Tahu
3.6 AI Serba Cepat
3.7 AI Makin Sempurna
3.8 AI Berpadu dengan Manusia

B. Tantangan AI
3.9 Risiko AI
3.10 AI Tidak Memahami
3.11 Tak Terkendali

C. Solusi AI
3.12 Adopsi: Terima AI Sepenuhnya
3.13 Adaptasi: Terima AI dengan Penyesuaian
3.14 Reject: Tolak AI Sepenuhnya
3.15 Saring: Tolak AI kecuali Darurat
3.16 Dinamis: Fleksibel sesuai Konteks

Epilog

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Bangunan Vs Bangunlah: Negara Adil Makmur

Solusi bagi negara Indonesia agar manjadi negara adil makmur adalah sederhana: bangunan vs bangunlah.

Kita perlu membedakan dengan tegas antara bangunan dengan bangunlah. Negara yang ingin adil makmur harus fokus kepada “bangunlah”. Sejak perjuangan kemerdekaan, sekitar 100 tahun yang lalu, para pendiri bangsa sudah fokus tepat kepada “bangunlah”.

Bangunlah jiwanya
Bangunlah badannya
Untuk Indonesia Raya

Seiring perjalanan sejarah, Indonesia bergeser dari “bangunlah” menjadi fokus kepada “bangunan”. Hasilnya adalah puluhan juta rakyat jelata sengsara dalam kemiskinan. Laporan resmi BPS (Badan Pusat Statistik Indonesia) ada sekitar 27 juta jiwa orang Indonesia di bawah garis kemiskinan. OECD melaporkan lebih dari 50 juta jiwa rakyat Indonesia berada dalam kondisi miskin ekstrem. Baru-baru ini, ada laporan yang menyatakan hampir 200 juta jiwa rakyat Indonesia adalah miskin. Di sisi lain, segelintir orang Indonesia adalah kaya raya yang bisa hura-hura. Aturan resmi membolehkan pejabat menyewa kamar semalam dengan harga 9 juta rupiah. Pengusaha kaya bisa saja sewa kamar di atas 9 juta semalam.

1. MBG: Makan Bergizi Gratis
2. Pendidikan Gratis
3. Diskusi
3.1 Berpikir
3.2 Bahasa
3.3 Eksistensi

Di depan kuliah mahasiswa S3 (doktoral) ITB, saya menyatakan bahwa saya mendukung program makan siang gratis untuk siswa sejak era kampanye 2024. Lebih dari itu, saya mendukung makan gratis 3 kali sehari: makan siang, makan pagi, dan makan sore. Dan bukan hanya siswa yang makan gratis tetapi makan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia. Siapa pun presiden terpilih, makan gratis untuk rakyat adalah baik.

“Bagaimana dengan anggarannya, Pak?” seorang mahasiswa bertanya.
“Tidak ada APBN yang mampu membiayai anggaran makan gratis,” saya mengawali jawaban. Lalu saya melanjutkan, “Kecuali dengan sistem keuangan yang inovatif dan kreatif.”

1. MBG: Makan Bergizi Gratis

Berpikir kreatif dan inovatif adalah tugas semua orang. Tugas kita semua. Saya beruntung, dan berterima kasih kepada ITB, mendapat tugas menyusun kurikulum dan silabus kuliah “Kreativitas dan Inovasi” untuk SBM ITB pada awal tahun 2000-an. Dalam kuliah ini, saya berdiskusi dengan mahasiswa-mahasiswi yang sangat kreatif dan dari dosen-dosen tamu yang luar biasa. Teman-teman dosen di ITB memberi inspirasi yang luas sekali.

Saya terpikir agar kuliah “Kreativitas dan Inovasi” dapat dinikmati oleh seluruh mahasiswa. SBM dengan baik membuka kuliah “Kreativitas dan Inovasi” bagi seluruh mahasiswa ITB segala jurusan sebagai mata kuliah pilihan. Salut untuk SBM ITB.

Saya menilai MBG (makan bergizi gratis) adalah program yang kreatif untuk membangun badan generasi muda: bangunlah badannya untuk Indonesia Raya. Kita perlu mendukung MBG. Tetapi, saya siap kecewa. Jika MBG dijalankan dari bawah, dari kebutuhan nyata siswa dan kebutuhan rakyat, maka MBG akan sukses. Sebaliknya, jika MBG dijalankan dari atas, dari pusat, maka akan menghadapi problem yang luar biasa.

Kita tahu, dari berita, MBG dijalankan dari pusat. Kita tahu dari berita MBG meracuni ratusan siswa di Bogor. Kita tahu dari berita MBG meruntuhkan kantin sekolah dan warung sebelah.

Jadi solusinya bagaimana? Solusinya: jalankan MBG dari bawah; bangunlah pengawasan yang memadai; kembangkan anggaran dari uang-pokok berupa koin-pokok bukan rupiah; sehingga tidak mengganggu APBN mau pun valuta asing.

Setelah MBG sukses membangun badan (dan jiwa) para siswa Indonesia, lanjutkan makan gratis bagi seluruh rakyat Indonesia. Jika semua makanan gratis maka buat apa bekerja? Bekerja memang bukan untuk cari makan; bukan karena terpaksa untuk bertahan hidup; bukan terpaksa oleh keadaan. Rakyat dan pejabat tetap bekerja karena kerja adalah untuk menghasilkan karya sampai maha karya. Kerja adalah ungkapan amal kebaikan Anda kepada sesama dan kepada alam raya. Kerja adalah tugas kita sebagai manusia.

2. Pendidikan Gratis

Problem muncul karena kita salah fokus kepada “bangunan” bukan “bangunlah”. Bangunan setara dengan building; bangunlah setara dengan bildung. Meski kita butuh building tetapi kita lebih membutuhkan bildung.

“The word “building” traces back to Old English byldan, meaning “to construct a house,” and the related Middle English byldynge.

The word “Bildung” originates from the Old High German word “bildunga,” which referred to the act of creating or shaping objects, particularly pottery. It’s related to the German words for “image” (Bild) and “to form, shape, construct” (bilden). When applied to humans, it signifies a process of self-cultivation and development of character, often used in the context of education and philosophy.”

Bildung adalah “bangunlah” karakter jiwa raga dari putra-putri bangsa.

Untuk mengembangkan bildung: kita, yaitu negara, perlu menyelenggarakan pendidikan gratis bagi seluruh warga dari tingkat SD sampai sarjana/diploma bagi yang berminat. Pendidikan gratis dibiayai oleh rakyat melalui APBN.

“APBN dapat uang dari mana untuk pendidikan gratis itu?” tanya seorang anggota wag.
“APBN Indonesia sekarang sudah mampu untuk pendidikan gratis sampai sarjana,” jawab saya, “dengan syarat pendidikan berkualitas tanpa foya-foya.”

Jika pendidikan ingin foya-foya; jika guru, dosen, dan rektor ingin hura-hura; jika orang tua ingin gedung sekolah yang mewah maka APBN tidak pernah cukup. Berapa pun porsi pendidikan dari APBN tidak pernah cukup bila fokusnya bangunan (building). Kita perlu geser fokus menjadi bildung: bangunlah jiwanya, bangunlah badannya, untuk Indonesia Raya.

3. Diskusi

Untuk membangun Indonesia menjadi adil makmur sudah terbuka jalan yang jelas: fokus pada bildung bukan building; fokus kepada “bangunlah” bukan “bangunan.” Ketika bildung berkembang maka building akan mengikuti secara wajar.

Bagaimana menurut Anda?

Saya terpikir 3 ide untuk “bangunlah” bildung: berpikir; bahasa; dan eksis.

3.1 Berpikir

Bildung membutuhkan generasi muda, dan generasi tua, untuk mahir berpikir. Sayangnya kemampuan berpikir kita sudah digerus oleh teknologi. Anak-anak tidak mampu berpikir hitungan karena sudah tersedia kalkulator di setiap hp. Remaja tidak mampu berpikir karena kena bombardir media: reel, tiktok, wa, dan lain-lain. Orang dewasa tidak mampu berpikir karena kena racun hoaks atau fitnah; tanpa hoaks segalanya jadi hambar belaka.

Kemampuan berpikir apa yang perlu kita kembangkan? Kemampuan berpikir terbuka; berpikir futuristik; berpikir penuh peduli.

Berpikir matematika dan bahasa dasar adalah modal utama. Cukup yang dasar saja; tidak membebani; malah membantu siswa berpetualang dengan matematika dan bahasa. Tujuan bildung tahap ini adalah membekali siswa dan rakyat mampu berpikir matematis dan bahasa yang logis. Kemudian, rakyat mampu melihat masa depan berdasar matematika dan bahasa. Atau lebih tepatnya, dari masa depan melihat masa kini untuk ditarik menuju cita masa depan itu: berpikir futuristik.

3.2 Bahasa

Bahasa perlu pendidikan lanjutan. Bahasa adalah ungkapan kebenaran-realitas. Bahasa memengaruhi jiwa, emosi, dan bahkan ruhani setiap orang. Bahasa adalah anugerah dari Tuhan untuk manusia sehingga manusia bahagia tinggal di rumah-realitas yang berupa bahasa.

Dalam pengertian bahasa sebagai ungkapan kebenaran-realitas, posisi bahasa lebih lembut dari setiap disiplin; bahasa lebih lembut dari sains, teknologi, ekonomi, seni, dan lain-lain. Tetapi kelembutan bahasa bisa dipaksa oleh pihak tertentu menjadi “keras”: hanya ada satu makna bahasa paling benar; yaitu makna yang saya katakan saja; makna yang lain salah. Dominasi bahasa “keras” seperti ini perlu dihindari dengan bildung mengenalkan bahasa yang lembut itu.

Kita sering menemui bahasa lembut dalam bentuk puisi. Baik puisi karya sastrawan mau pun kitab suci.

Bildung membekali warga mahir membaca puisi dan menulis puisi. Bahkan, warga membaca setiap tulisan sebagai bait-bait puisi yang lembut; tulisan WA, berita, mau pun media sosial. Fenomena realitas nyata semisal terbitnya matahari pagi pun, kita baca sebagai puisi.

3.3 Eksistensi.

Setiap warga perlu dibekali dengan kemampuan untuk menjaga eksistensi diri dan masyarakat sekitar sebagai bildung.

Eksistensi paling dasar adalah menjalani hidup ini menuju kesempurnaan sampai wafat. Keperluan hidup cukup yang sedang-sedang saja; atau sedikit agak kurang; ikhlas untuk memberikan fasilitas kepada orang lain; terutama kepada mereka yang sedang dalam kesulitan. Foya-foya dalam hidup adalah sia-sia belaka. Setiap warga perlu waspada.

Eksistensi yang lebih tinggi adalah eksis untuk meraih anugerah tertinggi; berbagi anugerah untuk sesama; dan menjaga alam raya sebagai limpahan anugerah.

Bagaimana menurut Anda?

Berkurban untuk Cinta

Nabi Ibrahim adalah teladan cinta: cinta kepada manusia, cinta kepada keluarga, cinta kepada alam raya, dan tentu cinta kepada Tuhan Yang Esa.

Kita mengenang kisah Nabi Ibrahim satu kali dalam setahun; atau lebih sering lagi. Di musim haji di kota suci, umat manusia napak tilas meneladani perjalanan tokoh suci Sang Nabi. Di seluruh belahan dunia, orang-orang beribadah puasa, sholat, dan berkurban memberikan yang terbaik kepada rakyat jelata dan sesama.

 *Kisah Ibrahim*
A. Ujian Meningkat
B. Utamakan Tuhan
C. Tidak Mungkin
D. Interpretasi
E. Tanpa Interpretasi
F. Interpretasi Demokrasi

Berikut saya kutipkan tulisan saya yang sudah saya tulis dalam tema Agama Cinta.

 *Kisah Ibrahim*

Kita mengenal Nabi Ibrahim sebagai bapaknya para nabi. Karena, kedua putranya, Ismail dan Isaac, sama-sama menjadi nabi. Ibrahim juga sebagai bapak para agama karena semua agama – Islam, Kristen, dan Yahudi – bertemu kepada ajaran Ibrahim. Ditambah lagi, kisah Ibrahim diwarnai paradoks tragedi kemanusiaan.

Ibrahim adalah pejuang kemanusiaan. Ibrahim menghabiskan seluruh umurnya untuk membela kemanusiaan. Tentu saja, Ibrahim pejuang agama. Dia mengajak umat manusia untuk taat mengabdi kepada Tuhan.

Dengan seluruh kebaikan Ibrahim itu, Tuhan tidak memanjakannya. Justru, Tuhan memberi ujian berat kepada Ibrahim. Kelak, ujian berat ini justru mengungkap sosok hebat Ibrahim sepanjang sejarah. Pertama, Ibrahim ingin memiliki anak. Tetapi, Tuhan tidak mengaruniai anak kepada Ibrahim dan istrinya. Bahkan, sampai usia mereka lebih dari 80 tahun, mereka tetap tidak memiliki keturunan.

Kedua, pada usia Ibrahim yang sangat tua, Tuhan baru menganugerahkan seorang putra kepada Ibrahim. Apakah mudah bagi seorang bapak usia di atas 80 tahun mengasuh bayi? Putra Ibrahim tumbuh sebagai anak yang sehat, lucu, dan cerdas. Putra sebagai harapan untuk melanjutkan perjuangan masa depan. Putra adalah yang paling berharga dan paling dicinta oleh Ibrahim.

Ketiga, Tuhan meminta Ibrahim untuk mengorbankan yang paling dicintainya. Di dalam mimpi, Ibrahim melihat dirinya mengorbankan Putranya. Apakah, di dunia nyata, Ibrahim akan mengorbankan Putranya? Atau Ibrahim menolak perintah Tuhan, dengan cara, tidak mengorbankan Putra tercinta?

Kisah selanjutnya, Ibrahim memilih untuk mengorbankan Putra tercintanya. Ibrahim, kemudian, bersama Putranya, berjalan ke tempat yang jauh dari orang untuk melakukan pengorbanan. Ibrahim siap menghunuskan pedang ke leher Putranya. Saat itu, Tuhan mencegah Ibrahim. Ibrahim diperintahkan untuk menjaga Putranya. Tuhan menyuruh Ibrahim untuk berkorban berupa domba sebagai gantinya.

Apa pelajaran yang bisa kita peroleh?

A. Ujian Meningkat

Untuk bertumbuh, kita perlu ujian. Dan, ketika makin tinggi pertumbuhan maka makin tinggi pula ujiannya. Ibrahim muda diuji dengan hidup bersama masyarakat yang sulit. Ibrahim lulus. Ujian ditambah. Ibrahim tidak punya anak sampai tua. Ditambah lagi, harus mengorbankan putranya ketika putranya remaja.

Demikian juga dalam hidup kita. Ujian akan terus bertambah seiring dengan kehidupan kita yang makin maju. Sehingga, jika kita mendapatkan ujian yang berat, maka, itu tandanya hidup kita sedang meningkat. Karena itu, kita perlu bersiap dengan segala ujian. Serta, makin mendekatkan diri dengan Tuhan.

B. Utamakan Tuhan

Mengutamakan perintah Tuhan atau menjaga nyawa anak Anda?

Dalam kisahnya, Ibrahim mengutamakan perintah Tuhan. Yaitu, Ibrahim ikhlas mengorbankan putranya. Meski demikian, pada akhirnya, Tuhan tidak mengijinkan perngorbanan Putra Ibrahim. Tuhan menyuruh untuk berkorban domba. Jadi, ketika kita mengutamakan perintah Tuhan maka Tuhan akan menjaga kita sebagai umat manusia.

Kerena Tuhan Maha Benar maka setiap perintah Tuhan pasti juga benar. Sehingga, umat manusia perlu terus berusaha memahami ajaran Tuhan melalui kitab suci. Ketika terjadi dilema, “Bagaimana cara kita memilih keputusan?”

C. Tidak Mungkin

Tidak mungkin. Kita tidak mungkin mengambil kesimpulan dengan pasti benar. Segala pilihan kita, mungkin saja salah. Bahkan salah besar.

Salah satu interpretasi mengatakan bahwa kisah Ibrahim adalah situasi yang tidak mungkin untuk mengambil keputusan secara pasti benar.

Pertama, Ibrahim tidak mungkin membunuh putranya. Maksudnya, sebagai pejuang kemanusiaan, Ibrahim tidak sah membunuh putranya dengan alasan apa pun. Pihak lain, bisa saja, tidak setuju dengan Ibrahim. Istri Ibrahim dan masyarakat luas bisa menolak keputusan Ibrahim.

Kedua, Ibrahim tidak mungkin menolak perintah Tuhan. Sebagai kesatria ruhani, Ibrahim selalu mengikuti perintah Tuhan.

Dua pilihan di atas, sama-sama tidak mungkin dipilih. Bagaimana cara kita untuk memilihnya? Untuk memilihnya, kita benar-benar perlu mengkaji situasi detil di tempat dan waktu yang tepat. Tidak ada hukum yang berlaku universal dalam situasi dilema seperti itu. Perlu kajian mendalam dengan memanfaatkan seluruh sumber daya, termasuk suara hati dan suara mereka yang jauh di sana, kemudian seseorang mengambil keputusan. Bagaimana pun, keputusan tersebut tetap mengandung resiko besar. Kita, sebagai manusia, sering dalam dilema.

D. Interpretasi

Dalam dilema, kita melibatkan suatu interpretasi dalam satu dan lain bentuk.

Salah satu interpretasi menyatakan bahwa Ibrahim memiliki beragam pilihan dalam interpretasi terhadap mimpinya. Mimpi itu sendiri tidak secara langsung memerintahkan Ibrahim untuk mengorbankan putranya. Sedangkan interpretasi dari mimpi, pertama, merupakan perintah untuk mengorbankan putranya. Atau, interpretasi kedua, mimpi itu merupakan perintah untuk mengorbankan sesuatu paling berharga demi Tuhan.

Bagaimana jika Anda pada posisi Ibrahim? Apakah Anda akan memilih interpretasi pertama atau kedua? Sama-sama beratnya.

Ibrahim memilih interpretasi pertama, dan kemudian, Tuhan menyelamatkan Sang Putra. Jika Anda yang melakukannya, apakah Tuhan akan menyelamatkan putra Anda? Atau, ketika Tuhan memerintahkan Anda untuk membatalkan pengorbanan itu, apakah Anda mendengar perintah Tuhan?

Barangkali, sebagai manusia jaman ini, kita lebih aman memilih interpretasi kedua, yaitu, mengorbankan yang paling berharga demi Tuhan. Interpretasi jenis kedua ini saja sudah sangat berat.

Sekali lagi, kita memiliki sumber inspirasi yang tiada batas dengan mendalami ajaran-ajaran agama sebagai pencerahan.

E. Tanpa Interpretasi

Bisakah kita menjalankan perintah agama tanpa interpretasi? Bisakah kita menjalankan perintah sesuai perintah itu saja, murni, tanpa interpretasi sama sekali? Bukankah kita harus menghindari interpretasi pribadi yang bisa salah?

Tidak bisa. Anda tidak bisa menghindar dari interpretasi. Sebagai manusia, kita pasti terlibat interpretasi dalam satu dan lain cara. Klaim bahwa saya tanpa interpretasi adalah bermakna: hanya interpretasi saya saja yang sah, sementara interpretasi pihak lain salah. Tentu saja, resiko sombong bisa menjebak seseorang.

Mari kita cermati kisah Nabi Ibrahim lagi. Dalam mimpi, Ibrahim melihat dirinya mengorbankan Sang Putra kepada Tuhan. Pertimbangkan dua alternatif respon.

A. Tanpa-interpretasi: Ibrahim perlu mengorbankan Sang Putra.

B. Dengan-interpretasi: Ibrahim perlu mengorbankan yang paling berharga.

Orang bisa klaim bahwa pilihan A (tanpa-interpretasi) adalah lebih benar dari pilihan B (dengan-interpretasi). Atau, lebih tegas A benar dan B salah. Bagaimana pun, A itu sendiri sudah merupakan interpretasi; yaitu, megambil interpretasi sesuai yang terlihat dalam mimpi. Dengan demikian, pilihan A dan B adalah seimbang karena sama-sama melibatkan interpretasi pada analisis akhir.

Lebih menarik lagi, bukankah setiap mimpi selalu membutuhkan interpretasi? Bukankah mimpi adalah perlambang? Bukankah mimpi adalah petunjuk yang selalu perlu interpretasi?

Karena Anda melakukan interpretasi maka Anda wajib tanggung jawab terhadap interpretasi Anda. Realitasnya, Anda selalu melakukan interpretasi. Sehingga, Anda selalu memikul tanggung jawab. Bagaimana cara Anda mempelajari agama? Dengan cara membaca kitab suci. Membaca adalah sebentuk interpretasi; mendengarkan adalah sebentuk interpretasi; bahasa adalah sebentuk interpretasi. Konsekuensinya, manusia memang punya tanggung jawab.

F. Interpretasi Demokrasi

Tentu saja, kita bisa menduga bahwa Nabi Ibrahim sadar sedang menghadapi dilema: mengorbankan Sang Putra atau, alternatifnya, “meng-interpretasi” perintah Tuhan.

Kita analisis, sejatinya, akan lebih ringan bila membuat “interpretasi” bahwa Ibrahim perlu mengorbankan sesuatu yang paling berharga; misal domba, sapi, unta, atau lainnya. Tidak akan terjadi dilema pada situasi seperti ini; Sang Putra akan sejutu; ibunya pun akan setuju. Dilema selesai.

Tetapi, Ibrahim memilih interpretasi yang lebih sulit: Ibrahim perlu mengorbankan Sang Putra. Kemudian, Ibrahim mengambil langkah demokrasi yaitu mendengarkan suara pihak-pihak lain. Ibrahim bertanya kepada Sang Putra: bagaimana pendapat Sang Putra? Sang Putra setuju dengan ayahanda Ibrahim yang akan mengorbankan Sang Putra. Bagaimana pendapat sang ibu? Ibu setuju juga.

Bagaimana pendapat Tuhan? Ibrahim menunggu pendapat Tuhan. Sampai saat itu, Tuhan tidak mengirim pesan kepada Ibrahim. Bahkan, Tuhan mengirim pesan berupa mimpi dengan isi yang sama berulang beberapa malam. Ibrahim, dengan berat hati, berniat mengorbankan Sang Putra. Ketika pisau tajam siap menghunus leher Sang Putra, Tuhan tidak setuju; Tuhan melarang Ibrahim; Tuhan memerintahkan agar Ibrahim menggantinya dengan domba.

Tuhan menggunakan hak veto, hak untuk membatalkan, terhadap interpretasi Ibrahim.

Apakah Sang Putra juga bisa menggunakan hak veto? Apakah Sang Ibu juga bisa menggunakan hak veto? Ataukah, masyarakat luas juga bisa menggunakan hak veto? Dalam situasi kritis yang potensial merugikan pihak korban, kita bisa menggunakan hak veto. Demokrasi tidak hanya berurusan dengan suara mayoritas; demokrasi juga perlu peduli dengan hak veto pihak-pihak lemah; peduli dengan suara yang sayup tak terdengar.

Hikmah tambahan dari pilihan Nabi Ibrahim adalah Tuhan melarang manusia mengorbankan manusia lain. Manusia perlu untuk saling menjaga, saling melindungi, dan saling peduli. Sebelum era Nabi Ibrahim, banyak kepala suku yang mengorbankan seorang pemuda demi dewa mereka. Setelah era Nabi Ibrahim, pengorbanan anak manusia adalah dilarang; secara simbolik mau pun literal. Justru kita perlu menebar cinta kepada seluruh umat manusia.

Bagaimana pun, Anda masih bisa mengembangkan inspirasi dari kisah Nabi Ibrahim tanpa henti. Berikutnya, kita akan belajar hikmah dari kisah Nabi Yusuf.

Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Banyak yang bisa kita diskusikan lebih lanjut. Misal ada yang bilang bahwa Nabi Ibrahim tidak perlu bingung. Banyak orang menjual anak gadisnya untuk mendapat uang; banyak orang mengeksploitasi anaknya; banyak orang membunuh anaknya. Bagi orang-orang seperti itu, tidak ada masalah untuk mengorbankan seorang anak kan?

Benar juga situasi seperti itu. Dilema muncul karena kita peduli terhadap kebaikan, keadilan, dan kebenaran. Kita yang peduli dengan anak maka akan dilema jika harus menyakiti anak. Kita yang peduli keadilan maka akan dilema bila disodorkan tumpukan uang korupsi di tempat yang sunyi. Sementara, bagi koruptor banal, uang korupsi ambil saja; tidak ada dilema.

Jadi problemnya adalah karena ada rasa peduli?

Bebas Milih, Bebas Mikir, dan Bebas Rasa: Freedom oleh Kant

Selalu ada buku yang mempesona. Buku baru dari Kohl membahas tema freedom versi Kant dari perspektif yang segar.

Umumnya, manusia sadar bahwa kita bebas memilih. Anda bebas milih berbuat baik atau lainnya. Kohl lebih luas menyatakan, “Kita bebas mikir. Atau, kita bisa berpikir hanya karena kita bebas untuk mikir itu.” Dan terakhir, kita bebas untuk menikmati hidup dan setelah kehidupan kita.

1. Kehendak Bebas dan Tanggung Jawab Moral
2. Kebebasan Mikir dan Kajian Sains
3. Kebebasan Estetika untuk Cinta
4. Ringkasan
5. Diskusi

Saya menemukan ide sangat penting dari Kohl ada di awal bab X yang merangkum seluruh argumen; kemudian melanjutkan ke bab terakhir yaitu bab X. Kita akan membahas dengan mengutip ide paling penting itu.

1. Kehendak Bebas dan Tanggung Jawab Moral

For Kant the belief in free will is the metaphysical belief that we possess a supersensible causal power that is not determined by foreign causes. His transcendental idealism is a necessary but insufficient condition for justifying this belief: by restricting the scope of the deterministic causality of nature to sensible phenomena, Kant’s idealism makes ontological space for the existence of a supersensible free causality without showing that this space is (or really could be) filled. This raises the central question of how Kant seeks to justify the belief in free will.

“Bagi Kant, kepercayaan pada kehendak bebas adalah kepercayaan metafisik bahwa kita memiliki kekuatan kausal supraindrawi yang tidak ditentukan oleh sebab-sebab asing. Idealisme transendentalnya adalah syarat yang diperlukan tetapi tidak cukup untuk membenarkan kepercayaan ini: dengan membatasi ruang lingkup kausalitas deterministik alam pada fenomena indrawi, idealisme Kant membuat ruang ontologis bagi keberadaan kausalitas bebas supraindrawi tanpa menunjukkan bahwa ruang ini terisi (atau benar-benar dapat terisi). Hal ini menimbulkan pertanyaan utama tentang bagaimana Kant berusaha membenarkan kepercayaan pada kehendak bebas.”

Kehendak bebas (free will) itu valid meski tidak bisa dipahami. Hanya saja kita bisa memahami bahwa free will itu tidak bisa dipahami.

A highly distinctive feature of Kant’s view is that he does not try to construct a metaphysical theory for the metaphysical belief in free will: he does not give a theoretical account of how the causality of freedom operates, how it produces physical effects in the phenomenal world, or why free agents act and cause specific effects at particular places and times. Since the belief in freedom is theoretically incomprehensible to us, it is consigned to the normative standpoint from which we consider how we ought to act. This belief does not figure in the empirical standpoint which is focused on observing, explaining, and predicting the
behavior of phenomenal objects (including ourselves). From the normative practical standpoint, we can form a determinate representation of our supersensible (noumenal) causality because our pure self-consciousness as autonomous moral agents provides a positive and objective, though only practical (thus theoretically fruitless) content or meaning for the idea of an atemporal causality.

“Ciri khas pandangan Kant adalah bahwa ia tidak mencoba membangun teori metafisik untuk kepercayaan metafisik pada kehendak bebas: ia tidak memberikan penjelasan teoretis tentang bagaimana kausalitas kebebasan beroperasi, bagaimana ia menghasilkan efek fisik di dunia fenomenal, atau mengapa agen bebas bertindak dan menyebabkan efek tertentu di tempat dan waktu tertentu. Karena kepercayaan pada kebebasan secara teoritis tidak dapat dipahami oleh kita, maka ia dimasukkan ke dalam sudut pandang normatif yang darinya kita mempertimbangkan bagaimana kita seharusnya bertindak. Kepercayaan ini tidak termasuk dalam sudut pandang empiris yang difokuskan pada pengamatan, penjelasan, dan prediksi perilaku objek fenomenal (termasuk diri kita sendiri). Dari sudut pandang normatif-praktis, kita dapat membentuk representasi pasti dari kausalitas supersensible (noumenal) kita karena kesadaran diri kita yang murni sebagai agen moral yang otonom memberikan konten atau makna yang positif dan objektif, meskipun hanya praktis (dengan demikian secara teoritis tidak membuahkan hasil) untuk gagasan kausalitas atemporal.”

Secara moral, kita sadar bahwa kita tanggung jawab atas pilihan bebas kita. Pencuri dan koruptor wajib masuk penjara. Orang baik maka bahagia hidup dan matinya. Bagaimana pilihan bebas itu bisa terhubung dengan alam yang deterministik? Kant tidak menjelaskan hubungan ini karena memang tidak akan bisa dijelaskan oleh nalar manusia. Untuk apa membahas sesuatu yang tidak bisa dijelaskan? Agar kita bisa menjelaskan bahwa hubungan tersebut memang tidak bisa dijelaskan. Sains alam akan gagal menjelaskan kehendak bebas.

2. Kebebasan Mikir dan Kajian Sains

Because Kant’s doctrine seeks to vindicate the belief in a theoretically
inscrutable type of causality, it must provide reasons for rejecting naturalistic, compatibilist conceptions of free will which avoid the cost of theoretical incomprehensibility. Kant gives two arguments to support his stance that if (as a naturalistic worldview contends) there were merely the causality of nature this would eliminate the only kind of free will worth having. First, the naturalistic claim that all our acts of practical judgment are empirically conditioned is incompatible with the unconditional objective necessity of our moral judgments.

Second, the naturalistic claim that we are causally necessitated to make a particular choice on any given occasion is incompatible with the presumption that we are governed by rational, categorical moral oughts: a presumption which presupposes both the power to act from duty and the privative option to act contrary to duty.

“Karena doktrin Kant berusaha membenarkan kepercayaan pada jenis kausalitas yang secara teoritis tidak dapat dipahami, doktrin tersebut harus memberikan alasan untuk menolak konsepsi naturalistik; dan (menolak) kompatibilis tentang kehendak bebas yang menghindari biaya ketidakpahaman teoritis. Kant memberikan dua argumen untuk mendukung pendiriannya bahwa jika (seperti yang dikemukakan oleh pandangan dunia naturalistik) hanya ada kausalitas alam, maka ini akan menghilangkan satu-satunya jenis kehendak bebas yang layak dimiliki.

Pertama, klaim naturalistik bahwa semua tindakan penilaian praktis kita dikondisikan secara empiris tidak sesuai dengan keharusan objektif tanpa syarat dari penilaian moral kita.

Kedua, klaim naturalistik bahwa kita secara kausal diharuskan untuk membuat pilihan tertentu pada setiap kesempatan tidak sesuai dengan anggapan bahwa kita diatur oleh keharusan moral yang rasional dan kategoris: anggapan yang mengandaikan baik kekuatan untuk (a) bertindak berdasarkan kewajiban maupun pilihan privatif untuk (b) bertindak bertentangan dengan kewajiban.”

Sains Gagal Menjelaskan Kebebasan

Kant menolak klaim dari sains alam, atau naturalistik. Karena kebebasan tidak akan pernah bisa dijelaskan oleh sains. Peran sains adalah sekedar membantu untuk menjelaskan bahwa kebebasan tidak bisa dijelaskan oleh sains.

Freedom of will is not the only kind of freedom that plays a central role in Kant’s doctrine. In Kant’s considered view we possess a freedom of thought which yields a distinctive species of transcendental freedom even though it lacks the “true causality” to produce external objects as opposed to mere representations of existent objects. Our theoretical intellect is a source of autonomous cognitive laws and goals whose objective rational necessity is incompatible with the assumption that our theoretical representations are conditioned by foreign (natural or super-natural) causes. We must presuppose the objective rational necessity of our pure theoretical concepts (such as “causality”) and cognitive laws (such as the general causal principle) in our theoretical judgments, especially in judgments that seek to provide objective naturalistic explanations for sensible phenomena. Our empirical judgments about nature result from a sensibly affected but absolutely spontaneous (yet also non-voluntaristic) capacity for autonomous cognitive self-determination. Since our transcendental freedom of thought is a necessary condition for our actual objective cognition and knowledge of nature, we can know that our noumenal selves possess transcendental freedom of thought. This does not show, however, that our noumenal selves also possess the transcendental causality of a free will.

“Kebebasan berkehendak bukanlah satu-satunya jenis kebebasan yang memainkan peran utama dalam doktrin Kant. Dalam pandangan Kant, kita memiliki kebebasan berpikir yang menghasilkan jenis kebebasan transendental yang khas meskipun kebebasan tersebut tidak memiliki “kausalitas sejati” untuk menghasilkan objek eksternal yang bertentangan dengan sekadar representasi objek yang ada.

Intelek teoritis kita adalah sumber hukum dan tujuan kognitif otonom yang kebutuhan rasional objektifnya tidak sesuai dengan asumsi bahwa representasi teoritis kita dikondisikan oleh sebab-sebab asing (alami atau supranatural). Kita harus mengandaikan kebutuhan rasional objektif dari konsep-konsep teoritis murni kita (seperti “kausalitas”) dan hukum-hukum kognitif (seperti prinsip kausal umum) dalam penilaian teoritis kita, terutama dalam penilaian yang berusaha memberikan penjelasan naturalistik objektif untuk fenomena yang masuk akal.

Penilaian empiris kita tentang alam dihasilkan dari kapasitas yang dipengaruhi secara masuk akal, tetapi benar-benar spontan (namun juga non-voluntaristik), untuk penentuan nasib sendiri kognitif yang otonom. Karena kebebasan berpikir transendental kita merupakan syarat mutlak bagi kognisi objektif dan pengetahuan kita tentang alam, kita dapat mengetahui bahwa diri noumenal kita memiliki kebebasan berpikir transendental. Namun, hal ini tidak menunjukkan bahwa diri noumenal kita juga memiliki kausalitas transendental dari kehendak bebas.”

Kehendak Bebas Geser ke Mikir Bebas

Kehendak bebas didasarkan oleh kebebasan berpikir. Meski kehendak bebas tampak lebih “nyata” dari mikir bebas; tapi mikir bebas bisa lebih utama. Lagi pula, kita hanya bisa berpikir bila mikir itu bebas. Kebalikannya tidak bisa terjadi; karena bila mekanistik deterministik maka konsekuensinya adalah kita tidak bisa berpikir. Jadi dari berpikir bebas, sebagai dasar, kemudian menuju kehendak bebas.

Kant attempts to legitimize the belief in free will through a complex twopronged approach. In Kant’s view our ordinary (pre-philosophical) moral self-consciousness yields knowledge that we possess freedom of will: common agents possess certain knowledge of their moral duties and they (at least implicitly) recognize that they could not possess such normative-practical knowledge unless they had free will. This account of how our common moral self-consciousness justifies our belief in noumenal free will invites the objection that normative practical premises cannot sufficiently justify a determinate yet theoretically inscrutable metaphysical belief in a supersensible causality that produces sensible effects. This objection is fueled by a naturalistic view which insists that we must subject every item of our conscious awareness, including our representation of the moral law, to the physiological explanations of theoretical reason. Rather than allowing our pure moral self-consciousness to justify our belief in noumenal free will, naturalists seek to debunk the alleged purity and rational necessity of our moral self-awareness by viewing our moral representations as empirically conditioned figments of the brain. Kant defends the integrity of our moral consciousness and thereby the epistemic basis of the belief in free will against this naturalistic challenge by invoking our freedom of thought. Naturalistic cognizers cannot presume that every aspect of our conscious awareness must be explicable via natural causes because the objective validity of their naturalistic explanations requires an empirically unconditioned, hence naturalistically inexplicable theoretical consciousness of a priori necessary cognitive laws. Since naturalistic cognizers must presuppose their freedom of thought, they cannot coherently debunk the belief in free will. This argument does not yield a theoretical proof of free will. Rather, it serves as a defense of the epistemically prior purely moral proof.

“Kant mencoba melegitimasi kepercayaan pada kehendak bebas melalui pendekatan bercabang dua yang kompleks. Dalam pandangan Kant, (a) kesadaran diri moral kita yang biasa (pra-filosofis) menghasilkan pengetahuan bahwa kita memiliki kebebasan berkehendak: pelaku umum memiliki pengetahuan tertentu tentang tugas moral mereka dan mereka (setidaknya secara implisit) mengakui bahwa mereka tidak dapat memiliki pengetahuan normatif-praktis tersebut kecuali mereka memiliki kehendak bebas. Uraian tentang bagaimana kesadaran diri moral kita yang umum membenarkan kepercayaan kita pada kehendak bebas noumenal ini mengundang keberatan bahwa premis normatif-praktis tidak dapat secara memadai membenarkan kepercayaan metafisik yang pasti namun secara teoritis tidak dapat dipahami pada kausalitas supersensible yang menghasilkan efek yang masuk akal. Keberatan ini didorong oleh pandangan naturalistik yang menegaskan bahwa kita harus menundukkan setiap item kesadaran sadar kita, termasuk representasi kita tentang hukum moral, pada penjelasan fisiologis dari alasan teoritis.

Alih-alih membiarkan kesadaran moral murni kita membenarkan kepercayaan kita pada kehendak bebas noumenal, naturalis berusaha untuk menyanggah dugaan kemurnian dan kebutuhan rasional kesadaran moral kita dengan melihat representasi moral kita sebagai rekaan otak yang dikondisikan secara empiris.

Kant membela integritas kesadaran moral kita dan dengan demikian basis epistemik kepercayaan pada kehendak bebas terhadap tantangan naturalistik ini dengan (b) menyerukan kebebasan berpikir kita. Pengenal naturalistik tidak dapat berasumsi bahwa setiap aspek kesadaran kita harus dapat dijelaskan melalui sebab-sebab alami karena validitas objektif dari penjelasan naturalistik mereka memerlukan kesadaran teoretis yang tidak dikondisikan secara empiris, karenanya tidak dapat dijelaskan secara naturalistik dari hukum-hukum kognitif yang diperlukan secara apriori. Karena pengenal naturalistik harus mengandaikan kebebasan berpikir mereka, mereka tidak dapat secara koheren menyanggah kepercayaan pada kehendak bebas. Argumen ini tidak menghasilkan bukti teoritis kehendak bebas. Sebaliknya, ini berfungsi sebagai pembelaan terhadap bukti moral murni yang secara epistemik lebih dulu.”

Sains alam mengandalkan asumsi ada hukum universal yang tidak empiris; misal kausalitas. Karena kausalitas tidak empiris maka sains tidak bisa menjelaskan, atau membuktikan, kausalitas; justru sains membutuhkan kausalitas. Dan masih banyak teori-teori yang tidak bisa dijelaskan secara empiris; termasuk kehendak bebas tidak bisa dijelaskan oleh sains empiris. Kita membutuhkan rute lain untuk menjelaskan kehendak bebas: apakah akan bisa dijelaskan?

3. Kebebasan Estetika untuk Cinta

This concludes my reconstruction of Kant’s doctrine as an account of our moral freedom of will and our epistemic freedom of thought. There is, however, one further important angle to Kant’s views on freedom that a systematic interpretation cannot ignore. I have focused on the two distinctive species of transcendental freedom which play a central role, respectively, in Kant’s moral philosophy and epistemology. In both cases, the relevant kind of free agency is a form of autonomous self-determination where the subject acts (chooses or thinks) under
self-given rational laws. But Kant also brings up the idea of freedom in his aesthetics: he invokes the freedom of our imagination as enabling both our aesthetic production of beauty (in art) and our aesthetic experience of beauty (in art and nature). Can we fruitfully integrate Kant’s appeal to freedom of imagination with his views on freedom of will and freedom of thought? Or must we regard his appeal to aesthetic freedom of imagination as an aberration from his standard conception of freedom, a result which would disrupt the unity of his doctrine? The latter diagnosis may seem unavoidable in light of Kant’s insistence that freedom of imagination is a lawless freedom, namely, a freedom from the rational laws legislated by our higher intellectual faculties.

“Ini menyimpulkan rekonstruksi saya atas doktrin Kant sebagai penjelasan tentang kebebasan moral kehendak dan kebebasan epistemik berpikir kita. Namun, ada satu sudut pandang penting lebih lanjut tentang pandangan Kant tentang kebebasan yang tidak dapat diabaikan oleh interpretasi sistematis. Saya telah berfokus pada dua spesies kebebasan transendental yang berbeda yang masing-masing memainkan peran sentral dalam filsafat moral dan epistemologi Kant. Dalam kedua kasus tersebut, jenis kebebasan yang relevan adalah bentuk penentuan nasib sendiri yang otonom di mana subjek bertindak (memilih atau berpikir) di bawah hukum rasional yang diberikan sendiri.

Namun, Kant juga mengemukakan gagasan tentang kebebasan dalam estetikanya: ia menyerukan kebebasan imajinasi kita sebagai sesuatu yang memungkinkan produksi estetika keindahan (dalam seni) dan pengalaman estetika keindahan (dalam seni dan alam). Dapatkah kita secara berhasil mengintegrasikan seruan Kant tentang kebebasan imajinasi dengan pandangannya tentang kebebasan kehendak dan kebebasan berpikir? Atau haruskah kita menganggap seruannya terhadap kebebasan estetika imajinasi sebagai penyimpangan dari konsepsi standarnya tentang kebebasan, suatu hasil yang akan mengganggu kesatuan doktrinnya? Diagnosis terakhir mungkin tampak tak terelakkan mengingat desakan Kant bahwa kebebasan imajinasi adalah kebebasan tanpa hukum, yaitu, kebebasan dari hukum-hukum rasional yang ditetapkan oleh kemampuan intelektual kita yang lebih tinggi.”

Kebebasan ketiga adalah kebebasan estetika: kebebasan jatuh cinta; kebebasan menikmati keindahan; kebebasan rindu kepada yang merdu. Kebebasan penilaian estetika yang mengandalkan kebebasan imajinasi ini melampaui aturan rasional. Bisakah disatukan dengan kebebasan rasional?

In the concluding part and chapter of this book, I argue that despite this central difficulty we can find a place for aesthetic freedom of imagination in Kant’s systematic doctrine. If we take a certain (admittedly controversial) approach towards Kant’s aesthetics and if we allow ourselves some leeway in applying Kant’s strict definition of transcendental freedom as autonomy, then we can view freedom of imagination as a further (third) distinctive species of transcendental freedom whose lack of determination by intellectual laws uniquely captures the distinctive character of our aesthetic (as opposed to moral or epistemic) self-activity.

“Pada bagian dan bab penutup buku ini, saya berpendapat bahwa terlepas dari kesulitan utama ini, kita dapat menemukan tempat bagi kebebasan estetika imajinasi dalam doktrin sistematis Kant. Jika kita mengambil (a) pendekatan tertentu (yang diakui kontroversial) terhadap estetika Kant dan jika (b) kita memberi diri kita kelonggaran dalam menerapkan definisi ketat Kant tentang kebebasan transendental sebagai otonomi, maka kita dapat memandang kebebasan imajinasi sebagai spesies kebebasan transendental (ketiga) yang lebih jauh yang khas, (c) yang kurangnya penentuan oleh hukum intelektual secara unik menangkap karakter khas aktivitas diri estetika kita (sebagai lawan dari moral atau epistemik).”

Kita bisa menyimpulkan bahwa kebebasan estetika adalah selaras, dan memperdalam, dengan kebebasan moral dan intelektual. Bebas merasa.

But instead of demoting the powers of imagination as being merely analogous to genuine moral or epistemic freedom, we should rather say that the imagination genuinely exemplifies Kant’s conception of transcendental freedom in a highly distinctive manner that accords with the peculiar character of aesthetic as opposed to moral or epistemic activity. Consider here the merits of my key proposal (call it (P)) that the free imagination is loosely governed by indeterminate rational norms. On the one hand, (P) defuses the worry that the free imagination stands under no rules whatsoever and must thus be viewed as an arbitrary liberty of indifference whose products lack universal-intersubjective validity. This worry is clearly the central motive for Kant’s positive definition of freedom as a rulegoverned power. On the other hand, (P) also prevents an objectivist, rationalistic over-intellectualization of imaginative freedom: it avoids the implausible assimilation of free aesthetic production and experience to other (moral, epistemic) types of free agency which have a squarely cognitivist-intellectual character that requires rigid, determinate governance by objective rational laws. Since (P) accounts for both the universal validity and the irreducible subjectivity of our aesthetic representations, it yields a philosophical analysis of taste which (unlike purely subjectivizing or overly intellectualizing aesthetics) remains true to its authentic character.

“Namun, alih-alih merendahkan daya imajinasi sebagai sesuatu yang sekadar analog dengan kebebasan moral atau epistemik sejati, kita lebih baik mengatakan bahwa imajinasi benar-benar menggambarkan konsepsi Kant tentang kebebasan transendental dengan cara yang sangat khas yang sesuai dengan karakter khusus estetika yang bertentangan dengan aktivitas moral atau epistemik.

Pertimbangkan di sini manfaat dari usulan utama saya (sebut saja (P)) bahwa imajinasi bebas diatur secara longgar oleh norma-norma rasional yang tidak pasti. Di satu sisi, (P) meredakan kekhawatiran bahwa imajinasi bebas tidak berada di bawah aturan apa pun dan dengan demikian harus dipandang sebagai kebebasan sewenang-wenang yang tidak acuh yang produknya tidak memiliki validitas universal-intersubjektif. Kekhawatiran ini jelas merupakan motif utama definisi positif Kant tentang kebebasan sebagai kekuatan yang diatur oleh aturan.

Di sisi lain, (P) juga mencegah intelektualisasi berlebihan yang bersifat objektivis dan rasionalistik terhadap kebebasan imajinatif: ia menghindari asimilasi yang tidak masuk akal dari produksi dan pengalaman estetika bebas dengan jenis-jenis agensi bebas (moral, epistemik) lain yang memiliki karakter intelektual-kognitif yang mengharuskan tata kelola yang kaku dan pasti oleh hukum-hukum rasional yang objektif. Karena (P) memperhitungkan validitas universal dan subjektivitas yang tidak dapat direduksi dari representasi estetika kita, ia menghasilkan analisis filosofis tentang selera yang (tidak seperti estetika yang murni subjektif atau terlalu intelektual) tetap setia pada karakter autentiknya.”

Kebebasan rasa selaras dengan aturan rasional yang longgar dan tidak didominasi oleh aturan apa pun.

Admittedly, there is no way of getting around the fact that the imagination lacks autonomy in the precise sense that goes into Kant’s positive definiens. This is because the free imagination does not give its governing rules to itself but takes them from our higher intellectual faculties. For some, this might be enough to show that we cannot speak of genuine freedom here. However, we might also say that the free imagination has its own peculiar, sui generis form of autonomy, “the autonomy of taste” (KU, 5:282). Imaginative activity (in aesthetic production and experience) can be understood as a special form of autonomy for two reasons.

“Harus diakui, tidak ada cara untuk menghindari fakta bahwa imajinasi
tidak memiliki otonomi dalam pengertian yang tepat yang terkandung dalam definiens positif Kant. Ini karena imajinasi bebas tidak memberikan aturan yang mengaturnya kepada dirinya sendiri tetapi mengambilnya dari kemampuan intelektual kita yang lebih tinggi. Bagi sebagian orang, ini mungkin cukup untuk menunjukkan bahwa kita tidak dapat berbicara tentang kebebasan sejati di sini. Namun, kita juga dapat mengatakan bahwa imajinasi bebas memiliki bentuk otonominya sendiri yang unik dan sui generis, “otonomi rasa” (KU, 5:282). Aktivitas imajinatif (dalam produksi dan pengalaman estetika) dapat dipahami sebagai bentuk otonomi khusus karena dua alasan.”

First, the aesthetic imagination positively relates itself to, i.e., invites guidance and direction from norms of understanding and reason that are autonomous in the strict or primary sense. Although these rules do not arise from the imagination itself, they are still not “foreign” to the imagination since they originate in the free unified human mind (Gemüt) that includes the imagination as an integral part. Against this, one might insist that the rules governing the aesthetic imagination are detached from, hence foreign to, its own mode of operation. This is because, one might hold, the aesthetic value created by free imaginative activity is independent from the rules that direct such activity: the greatest expressions of moral or epistemic value result from our strict conformity to the autonomous laws governing our free will or understanding, whereas original beauty arises only when our free imagination does not fully conform to the rules that govern it.

However, if the imagination creates or appreciates something beautiful, then its activity does comply with the norms governing such creation or appreciation. To be sure, this sense of compliance is not the same as in moral or epistemic cases, but that is just because the corresponding type of rule-governedness is different: if the aesthetic imagination operates successfully, it satisfies the norms which direct it in the one and only, indeterminate sense that loose (as opposed to strict lawlike) norm-governedness requires (or enables). For instance (cf. Section X.3), the imagination successfully complies with reason’s vague directive to obtain a maximum of representational content if it fittingly combines and magnifies given sensible manifolds in a non-mundane, aesthetically pleasing manner. Moreover, the aesthetic value arising from free imaginative activity is essentially tied to the rules that govern such activity: since all beauty involves a “sensualizing of moral ideas” (KU, 5:356), and since (as we saw) moral ideas play a key role in guiding aesthetic creation and appreciation, the moral value contained in these ideas is integrally connected (though not identical) to the aesthetic value of beauty. Hence, the intellectual norms governing the free imagination are not foreign to the distinctive value it seeks to create via its aesthetic mode of operation.

“Pertama, imajinasi estetika berhubungan positif dengan, yaitu, mengundang bimbingan dan arahan dari norma-norma pemahaman dan nalar yang otonom dalam pengertian yang ketat atau utama. Meskipun aturan-aturan ini tidak muncul dari imajinasi itu sendiri, aturan-aturan tersebut tetap tidak “asing” bagi imajinasi karena aturan-aturan tersebut berasal dari pikiran manusia yang bebas dan terpadu (Gemüt) yang mencakup imajinasi sebagai bagian integral. Bertentangan dengan hal ini, seseorang mungkin bersikeras bahwa aturan-aturan yang mengatur imajinasi estetika terpisah dari, karenanya asing bagi, cara kerjanya sendiri. Hal ini karena, seseorang mungkin berpendapat, nilai estetika yang diciptakan oleh aktivitas imajinatif bebas tidak bergantung pada aturan-aturan yang mengarahkan aktivitas tersebut: ekspresi terbesar dari nilai moral atau epistemik dihasilkan dari kesesuaian kita yang ketat dengan hukum-hukum otonom yang mengatur kehendak atau pemahaman bebas kita, sedangkan keindahan asli hanya muncul ketika imajinasi bebas kita tidak sepenuhnya sesuai dengan aturan-aturan yang mengaturnya.

Namun, jika imajinasi menciptakan atau menghargai sesuatu yang indah, maka aktivitasnya mematuhi norma-norma yang mengatur penciptaan atau penghargaan tersebut. Yang pasti, rasa kepatuhan ini tidak sama dengan kasus moral atau epistemik, tetapi itu hanya karena jenis aturan yang diaturnya berbeda: jika imajinasi estetika beroperasi dengan sukses, ia memenuhi norma-norma yang mengarahkannya dalam satu-satunya pengertian yang tidak pasti yang diperlukan (atau dimungkinkan) oleh aturan yang longgar (berlawanan dengan aturan yang ketat seperti hukum). Misalnya (lih. Bagian X.3), imajinasi berhasil mematuhi arahan akal budi yang samar untuk memperoleh konten representasional yang maksimal jika ia menggabungkan dan memperbesar manifold yang masuk akal dengan cara yang tidak biasa dan menyenangkan secara estetika. Lebih jauh, nilai estetika yang muncul dari aktivitas imajinasi bebas pada dasarnya terikat pada aturan-aturan yang mengatur aktivitas tersebut: karena semua keindahan melibatkan “sensualisasi gagasan moral” (KU, 5:356), dan karena (seperti yang kita lihat) gagasan moral memainkan peran kunci dalam membimbing penciptaan dan apresiasi estetika, nilai moral yang terkandung dalam gagasan-gagasan ini terhubung secara integral (meskipun tidak identik) dengan nilai estetika keindahan. Oleh karena itu, norma-norma intelektual yang mengatur imajinasi bebas tidak asing dengan nilai khas yang ingin diciptakannya melalui cara operasi estetikanya.”

The second reason why the free imagination can be considered autonomous is that it allows rational directives to guide its activity while at the same time refusing to be dominated by them. Free imaginative activity develops the input it receives from intellectual rules in a way that is geared towards its non-moral, non-epistemic, specifically aesthetic telos. It thereby exemplifies the notion of self-determination that is central to Kant’s notion of autonomy. The free imagination determines itself by taking a cue from objective intellectual norms but then interpreting that cue in its own characteristic, subjectively playful manner. The special way in which the aesthetic imagination takes up discursive intellectual content is reflected in the special character of its products: unlike other (moral, epistemic) species of spontaneous activity, the imagination spontaneously determines itself to a symbolic sensible (rather than purely intellectual-conceptual) (re)presentation of the supersensible. This special kind of self-determination allows the imagination to make supersensible rational content amenable to the emotive, sensible side of human nature: to our faculty of feeling.

“Alasan kedua mengapa imajinasi bebas dapat dianggap otonom adalah karena ia membiarkan arahan rasional memandu aktivitasnya, sementara pada saat yang sama menolak untuk didominasi oleh arahan tersebut. Aktivitas imajinatif bebas mengembangkan masukan yang diterimanya dari aturan intelektual dengan cara yang diarahkan pada tujuan estetika yang non-moral, non-epistemik, dan spesifik. Dengan demikian, ia mencontohkan gagasan tentang penentuan nasib sendiri yang menjadi inti dari gagasan Kant tentang otonomi. Imajinasi bebas menentukan dirinya sendiri dengan mengambil isyarat dari norma intelektual objektif, tetapi kemudian menafsirkan isyarat itu dengan caranya sendiri yang khas dan subjektif. Cara khusus imajinasi estetika mengambil konten intelektual diskursif tercermin dalam karakter khusus produknya: tidak seperti spesies aktivitas spontan (moral, epistemik) lainnya, imajinasi secara spontan menentukan dirinya sendiri untuk (re)presentasi simbolis yang masuk akal (daripada murni intelektual-konseptual) dari yang supersensible. Jenis penentuan nasib sendiri yang khusus ini memungkinkan imajinasi untuk membuat konten rasional yang melampaui nalar dapat diterima oleh sisi emosional dan nalar dari sifat manusia: oleh kemampuan kita untuk merasakan.”

If this account (or something akin to it) is on the right track, we can conclude that freedom of imagination qualifies as a genuine species of transcendental freedom: the imagination exemplifies the only type of spontaneous self-determination that fits the aesthetic dimension of human life. My overall interpretation in this book thus establishes the (generic) idea of transcendental freedom as the cardinal point of all three major areas that constitute Kant’s systematic philosophy. Accordingly, Kant can view such freedom as the proper anchor of all meaningful human activity, in moral, epistemic, and aesthetic contexts.

“Jika penjelasan ini (atau sesuatu yang mirip dengannya) berada di jalur yang benar, kita dapat menyimpulkan bahwa kebebasan imajinasi memenuhi syarat sebagai spesies kebebasan transendental yang sejati: imajinasi mencontohkan satu-satunya jenis penentuan nasib sendiri secara spontan yang sesuai dengan dimensi estetika kehidupan manusia. Penafsiran saya secara keseluruhan dalam buku ini dengan demikian menetapkan gagasan (umum) tentang kebebasan transendental sebagai titik kardinal dari ketiga bidang utama yang membentuk filsafat sistematis Kant. Dengan demikian, Kant dapat memandang kebebasan tersebut sebagai jangkar yang tepat dari semua aktivitas manusia yang bermakna, dalam konteks moral, epistemik, dan estetika.”

4. Ringkasan

Mari kitra ringkas pandangan Kohl terhadap Kant.

Kohl meluaskan konteks freedom menjadi tiga: (a) moral; (b) epistemik; (c) estetika. Pandangan umum hanya menerima konteks tunggal bagi freedom: moral.

Makna freedom dalam konteks moral dan epistemik adalah setara: freedom adalah otonomi akal budi untuk (a) menetapkan aturan dan (b) menjalankan aturan. Karena akal yang membuat aturan sendiri kemudian menjalankan aturan itu maka akal adalah bebas.

Ketika akal melanggar aturan maka akal kehilangan kebebasan karena terikat kewajiban untuk menebus pelanggaran tersebut. Jika seseorang ingkar janji maka dia kehilangan kebebasan karena terikat kewajiban untuk menebus kesalahan ingkar janji itu. Tetapi bila seseorang memenuhi janji maka dia tetap bebas apakah berikutnya (a) tetap memenuhi janji atau (b) mengingkari.

Makna freedom dalam konteks estetika adalah unik karena menerapkan kebebasan imajinasi rasa. (a) Imajinasi tidak menetapkan aturan; tetapi imajinasi meminjam aturan intelektual dari moral dan epistemik secara longgar. (b) Imajinasi menjalankan aturan intelektual tetapi tidak sepenuhnya didominasi aturan intelektual tersebut. (c) Imajinasi adalah kebebasan rasa; kebebasan cinta; kebebasan rindu yang unik; karena berbeda dengan kebebasan moral mau pun kebebasan epistemik.

Kontribusi utama dari Kohl, menurut saya, adalah kebebasan epistemik. Akal menetapkan aturan secara bebas; misal aturan kausalitas. Kemudian, akal menerapkan kausalitas itu dengan bebas pada kasus-kasus partikular; misal sinar matahari itu menyebabkan suhu batu bertambah panas. Atau alternatifnya, akal menetapkan aturan korelasi. Kemudian menerapkan bahwa sinar matahari itu sekadar korelasi dengan suhu batu yang bertambah panas.

Kebebasan epistemik di atas menguatkan kebebasan moral. Karena pengetahuan kita adalah bebas maka pilihan sikap moral kita juga bebas. Pada gilirannya, kebebasan moral akan menguatkan kebebasan epistemik. Sikap moral yang baik akan menjamin kemampuan memahami dengan baik.

Bagaimana peran kebebasan rasa estetika?

5. Diskusi

Peran kebebasan rasa estetika adalah paling utama. Kebebasan rasa adalah lembut mempesona.

Kebebasan imajinasi membutuhkan aturan moral. Kita belajar moral dari ibu, keluarga, dan masyarakat luas. Sehingga, kebebasan imajinasi membutuhkan peran penting dari masyarakat luas. Kebebasan imajinasi membutuhkan aturan epistemik (aturan rasional). Aturan epistemik ini membutuhkan sintesa, dalam kadar tertentu, dengan alam raya. Sehingga, kebebasan imajinasi membutuhkan alam raya. Lengkap sudah, untuk meraih bebas imajinasi, bebas estetika, bebas rasa maka kita membutuhkan masyarakat luas dan alam raya.

Bagaimana pun, kebebasan estetika itu tidak didominasi oleh masyarakat mau pun oleh alam raya. Kebebasan estetika selaras dengan masyarakat dan alam raya kemudian menghadirkan keindahan cinta. Mengapa bisa selaras? Selaras adalah anugerah dari sumber anugerah. Kita pantas bersyukur atas semua anugerah.

Bagaimana menurut Anda?

Epilog 3

Setelah Epilog 2, berikut adalah Epilog 3.

1. Sejarah Obyektif: Tidak Lagi Penting
2. Kulminasi Ganda sampai Profetik
3. Tiga Pemikir Paling Sulit
4. Severino: Kebenaran Abadi bukan Ilusi
5. Kulminasi Teknologi AI: Hegel ke Pippin
6. Solusi dan Problem Budaya Futuristik
7. Filsafat Probabilitas AI Kuantum
8. Mengapa Matematika Tidak Penting
9. Era Prabowo: Indonesia (Tidak) Baik-Baik Saja
10. Jalan Hidup dan Mati Filosofis: Diogenes, Ghazali, West

11. Pilih Mati Ketimbang Khianati
12. Jebakan Pendidikan di Indonesia
13. Aturan Puasa: Tanpa Aturan
14. Boethius: Filsafat Menghadapi Mati
15. Efisiensi atau Berpikir
16. Filsafat Teknologi: Update Heidegger 2025
17. Kuliah Filsafat Teknologi di Indonesia
18. Filsafat Teknologi sebagai Way of Life
19. Filsafat Teknologi Kecerdasan Buatan
20. Gila Trump Menular

21. Bangunan Vs Bangunlah: Negara Adil Makmur
22. Pemotongan Anggaran: Tanpa Sarapan
23. Filsafat Teknologi: Kritik Akal Imitasi
24. Kesejukan yang Membakar Hutan
25. Pilih Qabil atau Habil
26. Pelajaran Koding untuk Siswa Berbahaya
27. Narasi AI bersama Agama
28. Teori Agama: Dari 7 Menjadi 10
29. Posisi AlQuran di depan AI
30. Akal Imitasi (AI): Telaah Pustaka

31. AI untuk Pendidikan: Mitos atau Fakta
32. AI Bisa Jadi Guru Besar
33. Mudah Membaca Buku Sulit dengan AI
34. Apakah AI Punya Lubang Hidung
35. AI sebagai Tuhan Baru
36. Berbahaya: Pelajaran Koding untuk Siswa
37. Demokrasi Indonesia 2025: Kopanarko
38. Hakimi Penjarah Rumah Sahroni
39. Aksi Demo 2025: Solusi Prabowo
40. Apa yang Disebut Berpikir?

41. Indonesia Merdeka 800 Tahun
42. Hakikat Manusia di Rumah Bahasa
43. Moralitas Agama: Kitab Suci atau Akal?
44. AI (LLM) Tidak Paham Bahasa
45. Rumah Paling Nyaman Bernama AI
46. Kopanarko: Solusi Indonesia Kocar-Kacir
47.
48.
49.
50.

Mengapa Alhazen Lebih Hebat dari Newton?

Bahkan lebih hebat dari Einstein?

Karena Alhazen lahir sebelum era Descartes. Sedangkan Newton lahir setelah Descartes.

Bahkan ketika Einstein membahas cahaya yang mirip dengan Alhazen maka teman-teman Einstein sudah terpengaruh oleh dualisme Descartes. Sehingga rumus Einstein e = mc^2 menjadi senjata bom atom yang berbahaya.

Memang apa masalahnya dengan Descartes? Tidak masalah dengan Descartes tetapi murid-murid Descartes memang bermasalah. Dualisme Descartes berhasil mendamaikan konflik sains dan agama di sekitar abad 17. Di abad 19, 20, dan 21, dualisme Descartes menjadi masalah besar.

Bagaimana menurut Anda?

1. Sains Cahaya vs Mekanika
2. Dualisme Cartesian (Descartes)
3. Kecepatan Cahaya Einstein
4. Positivisme Lingkaran Wina
5. Diskusi

Alhazen (970 – 1040) mengembangkan sains secara teoritis dan empiris. Jika Anda mengenal trigonometri yang canggih maka itulah keahlian Alhazen. Lebih dari itu, Alhazen menguji teori sains, misal tentang cahaya dan optik, melalui eksperimen. Alhazen adalah ilmuwan pertama yang mengenalkan metode ilmiah melalui perangkat eksperimen yang sistematis. Sebelum Alhazen, ilmuwan cenderung memanfaatkan uji koherensi logika sesuai ajaran Aristo; tanpa mengembangkan eksperimen empiris yang sistematis.

Alhazen pernah bekerja di perpustakaan Syam. Dia menerjemahkan ke bahasa Arab dari buku-buku bahasa Yunani atau Latin meliputi karya Plato, Aristo, Euclid, Galen, dan lain-lain. Lebih dari itu, Alhazen juga menulis buku karya orisinal yang jumlahnya puluhan sampai ratusan.

Gubernur Syam sangat puas dengan hasil kerja Alhazen dan memberi gaji bulanan sangat besar yaitu 100 dinar (barangkali sekitar 200 juta rupiah di jaman kita sekarang). Alhazen menolak gaji besar dan ia hanya mengambil 4 dinar saja; Alhazen merasa cukup dengan gaji yang sedikit saja.

“Mengapa begitu Alhazen?” gubernur heran.
Alhazen menjawab, “Biarlah segini saja sudah cukup buat saya. Bila Tuan terlalu banyak memberi gaji ke saya maka saya akan menjadi penjaga harta Tuan. Bila Tuan terlalu sedikit memberi gaji ke saya maka saya akan menanggung derita akibat ulah Tuan.”

1. Sains Cahaya vs Mekanika

Alhazen fokus mengkaji sains cahaya dan optik berbeda dengan Newton yang fokus utama adalah mekanika dan kalkulus; tentu Newton juga membahas cahaya dan optik melanjutkan Alhazen.

Riset cahaya dan optik adalah untuk memahami realitas. Tetapi, mekanika dan kalkulus adalah untuk mendominasi realitas; atau untuk rekayasa realitas. Sangat berbeda kan?

Ketika umat manusia fokus riset cahaya dan optik maka masyarakat makin memahami alam semesta dengan lebih baik. Sehingga manusia lebih bersyukur atas karunia cahaya dan manusia mengambil lebih banyak hikmah. Ilmuwan bisa menciptakan kacamata untuk membantu penglihatan bagi orang-orang yang membutuhkan. Ilmuwan bisa menciptakan teleskop untuk mengagumi keindahan semesta. Ilmuwan bisa menciptakan lensa/cermin pembakar untuk menghasilkan energi panas sekedar untuk penghangat ruangan atau untuk memasak.

Kajian optik di atas berbeda dengan kajian mekanika pasca Newton (1643 – 1727).

Dengan kajian mekanika maka manusia bisa mengendalikan alam bukan sekedar memahami alam. Dengan mekanika, manusia bisa membangun bendungan, jembatan, kereta api, mobil, tenaga listrik, senjata perang, dan lain-lain. Kajian mekanika memberi keuntungan kekuatan bagi pihak yang menguasainya; keuntungan finansial; dan keuntungan politik. Pandangan ini selaras dengan tujuan murid-murid Descartes.

2. Dualisme Cartesian (Descartes)

Descartes (1596 – 1650) membedakan materi dan jiwa: dualisme Descartes. Sains berfokus kepada kajian materi. Sedangkan agama mengkaji jiwa. Sehingga tidak perlu ada konflik antara sains dan agama; mereka memiliki wilayah kajian yang berbeda.

Konsekuensi lanjutan adalah sains bebas melakukan apa saja. Terjadilah dominasi terhadap alam mau pun dominasi terhadap bangsa lain; melalui kolonialisme atau kapitalisme misalnya. Umat manusia mengalami kemunduran peradaban di berbagai penjuru dunia. Tentu saja, ada pihak-pihak tertentu yang justru mengambil keuntungan besar dari kolonialisme dan kapitalisme. Kabarnya, awal abad 21 ini, Elon Musk rencana akan menciptakan koloni di planet Mars dengan proyek-proyek SpaceX.

3. Kecepatan Cahaya Einstein

Einstein mirip Alhazen: mengkaji sains cahaya. Einstein membuat postulat bahwa kecepatan maksimal adalah kecepatan cahaya dalam ruang hampa. Teori Einstein menghasilkan formula e = mc^2 yang menjadi dasar senjata bom atom. Setelah bom atom meledak di Nagasaki Hiroshima, Einstein menyesal seumur hidup. Tetapi Einstein tidak terlibat dalam peledakan bom atom kan?

Manusia memang sulit dipercaya meski bisa dipercaya.

Einstein bersama Russell mendorong gerakan anti-senjata nuklir; mendorong pemusnahan senjata nuklir sejak selesai perang dunia dua. Bagaimana pun, proyek pengembangan nuklir masih terjadi di berbagai penjuru dunia meski dengan alasan untuk kepentingan damai.

4. Positivisme Lingkaran Wina

Pada awal abad 20, Barat terjebak dalam positivisme Lingkaran Wina. Mengapa Alhazen tidak terjebak positivisme? Mengapa Alhazen bisa antisipasi deduksi-hipotesis mau pun falsifikasi Popper?

Alhazen berbeda dengan ilmuwan pasca Newton. Alhazen mengembangkan sains, filsafat, dan agama adalah untuk mengungkap kebenaran hikmah kebijaksanaan. Ilmuwan pasca Newton, apalagi ilmuwan adab 20, mengembangkan sains adalah untuk memperoleh keuntungan; finansial mau pun politis. Ketika sains terbukti pernah memberi keuntungan itu maka Lingkaran Wina menetapkan bahwa sains adalah kebenaran itu sendiri. Yang berbeda dengan sains adalah bukan kebenaran atau tidak bermakna.

Jika sains berbeda pendapat dengan ajaran tradisi maka mana yang lebih benar? Sains lebih benar menurut Lingkaran Wina.

Positivisme Lingkaran Wina bergerak lebih jauh: (a) kebenaran harus bisa diverifikasi oleh sains; (b) atau kebenaran harus bisa dianalisis logis berdasar definisi sains. Yang lebih heboh lagi adalah sisi penolakan oleh Positivisme. Bila suatau gagasan tidak memenuhi dua kriteria positivisme di atas maka tidak masuk akal; tidak bermakna; atau omong kosong.

Metafisika tidak memenuhi kriteria positivisme maka dianggap sebagai omong kosong. Tradisi, budaya, seni, agama, hikmah, tata-krama, dan lain-lain juga tidak memenuhi kriteria positivisme maka dianggap sebagai omong kosong.

Tentu saja, banyak pihak yang menolak positivisme Lingkaran Wina. Einstein menolak diajak gabung Lingkaran Wina. Husserl menolak Lingkaran Wina. Heidegger menyebut sains positivisme sebagai tidak otentik. Pada pertengahan abad 20, falsifikasi Popper meruntuhkan positivisme Lingkaran Wina. Disusul oleh revolusi pergeseran paradigma Kuhn maka positivisme Lingkaran Wina tersisa hanya puing-puing belaka.

Anehnya, ketika positivisme sains sudah runtuh, masih banyak ilmuwan yang mengira bahwa sains adalah kebenaran itu sendiri semacam Lingkaran Wina. Bagaimana bisa begitu? Mereka kurang belajar dari sejarah.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Descartes adalah penentu. Alhazen lebih hebat dari Newton karena Alhazen terbebas dari dualisme Descartes; sedangkan Newton terpengaruh dualisme Descartes. Bila demikian maka kita tidak bisa membandingkan Alhazen dengan Newton kan?

Tepat. Kita perlu memahami Alhazen-Newton dalam dinamika sejarah, sains, dan manusia. Jadi kita tidak bisa membandingkan mereka sebagaimana membandingkan angka-angka. Perbandingan mereka hanya untuk membantu kita agar mudah memahami mereka. Kemudian, kita mengambil pelajaran hikmah dari sejarah.

(a) Sejarah. Alhazen, Newton, dan Einstein hanya bisa kita pahami sesuai sejarah mereka. Bila dilepaskan dari sejarah, tokoh-tokoh itu menjadi kehilangan makna. Kita perlu mencermati hikmah dari sejarah mereka.

(b) Sains. Sejarah mendorong munculnya sains tertentu dan menyembunyikan jenis sains lain. Selanjutnya, sains itu sendiri ikut kontribusi kepada arah sejarah. Jadi terdapat hubungan timbal balik sejarah dan sains.

(c) Manusia. Faktor unik dari semua adalah manusia: Anda dan saya. Sejarah dan sains menjadi seru karena ada manusia yang terlibat. Tanpa manusia, sejarah dan sains akan tampak begitu-begitu saja. Burung akan membangun sarang yang seperti itu. Semut-semut akan merangkai benteng seperti itu. Burung-burung mendendangkan lagu yang seperti itu.

Manusia memang berbeda. Manusia akan mencipta lagu yang merdu: gembira atau sendu. Manusia mencipta rumah berbahan beton mau pun kayu. Manusia menciptakan kisah fiksi penuh atraksi. Manusia berpolitik dengan trik-trik licik. Sebagian manusia menjadi sempurna dengan akhlak mulia. Anda termasuk yang mana?

Dadu Milenium APIQ: Edu Kreatif

Saya mendapat pertanyaan, “Bagaimana cara mengajarkan matematika asyik pakai dadu APIQ?”

Saya jawab, “Mudah, mainkan saja bersama siswa sambil gembira. Bisa tebak-tebakan seperti sulap membaca angka dadu yang tersembunyi di bawah.”

1. Edukasi Matematika Asyik
2. Asal Mula Dadu
3. Judi Dadu
4. Mengapa Seru
5. Diskusi

Siswa TK dan SD mendadak jadi pintar matematika dengan memainkan dadu milenium. Seru banget kan?

1. Edukasi Matematika Asyik

Dadu Millennium Paman Apiq adalah sebuah produk permainan edukasi matematika yang dikembangkan oleh Paman Apiq, seorang kreator konten YouTube yang fokus pada pembelajaran matematika. Produk ini dirancang untuk membantu anak-anak belajar matematika dengan cara yang menyenangkan dan interaktif. 

Dadu Millennium Paman Apiq biasanya digunakan dalam konteks pembelajaran matematika, terutama untuk membantu anak-anak memahami konsep dasar dan menyelesaikan masalah matematika. Permainan ini dapat digunakan di rumah atau di kelas untuk menambah variasi pembelajaran dan membuat pelajaran matematika lebih menarik. 

Selain Dadu Millennium, Paman Apiq juga dikenal dengan berbagai macam konten edukasi matematika lainnya, seperti video-video tutorial, worksheet, dan berbagai permainan edukasi matematika lainnya. Jika Anda tertarik untuk mengetahui lebih lanjut tentang Dadu Millennium Paman Apiq atau konten edukasi matematika lainnya dari Paman Apiq, Anda bisa mengunjungi kanal YouTube-nya. 

2. Asal Mula Dadu

Dadu = Adadu = hitungan = matematika

Asal mula kata dadu adalah dari bahasa Arab “adadu” yang bermakna hitungan, angka, atau matematika. Jadi prinsip dari dadu adalah berhitung yaitu matematika. Sehingga, sangat tepat bila kita belajar matematika memakai dadu.

“possibly from Classical Arabic أَعْدَاد (ʔaʕdād, “numbers”), or from Latin datum.”

Dadu = datum

Dari bahasa Latin datum yang bermakna data atau info atau pengetahuan. Jadi, dadu memberi pengetahuan berupa data-data angka sehingga kita bisa melakukan perhitungan. Makna yang mirip dari bahasa Prancis “die” yang bermakna data. Atau variasi lain “dice”.

Dadu = dika

Yunani Kuno “dika” bermakna tepat, benar, atau adil.

3. Judi Dadu

Mengapa dadu sering dipakai untuk judi?

Karena dadu itu adil, sesuai ilmu, data-data bisa dipercaya, hitungan-hitungannya sesuai matematika. Orang judi tidak mau ditipu; maka mereka perlu dadu; meski penjudi sering jadi korban tipu.

Dadu bukan milik penjudi. Dadu itu justru miliknya matematika. Dadu itu miliknya petualangan anak-anak manusia.

4. Mengapa Seru

Mengapa belajar matematika pakai dadu itu seru?

Karena dadu memunculkan surprise, kejutan, seperti sulap. Ditambah lagi, titik-titik pada dadu mudah dihitung oleh anak TK dan SD. Anak TK juga bisa lansung hitung pada dadu misal 2 titik + 3 titik = 5 titik.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Pemiskinan Menuju Makmur: Negara Lintah Darat

Bagaimana cara mengentaskan kemiskinan di Indonesia? Mudah saja. Mengentaskan kemiskinan di dunia? Mudah juga. Bagaimana caranya? Biarkan saja orang miskin itu bekerja maka mereka jadi makmur dengan syarat negaranya memang adil; jadilah negara adil makmur. Beres semua urusan kemiskinan.

Bagaimana caranya menjadikan negara adil makmur? Mau cara yang mudah atau sulit?

Cara mudahnya adalah biarkan saja; negara adil makmur akan tetap adil makmur dalam rentang waktu puluhan tahun. Cara sulit adalah mengubah negara lintah darat untuk menjadi adil makmur. Apa pun usaha Anda maka lintah darat akan mengembalikan ke situasi negara lintah darat; negara yang menghisap darah rakyat jelata; atas nama demokrasi, atas nama hukum, atas nama agama, atas nama pembangunan, atau apa pun untuk menghisap darah rakyat semua.

Cara sulit itu adalah: konflik politik.

Benar, konflik politik adalah cara mengubah negara lintah darat menjadi negara adil makmur; dan sebaliknya, mengubah negara adil makmur menjadi lintah darat.

1. Contoh Nyata
2. Ekonomi Politik
3. Diskusi
3.1 Reformasi 98
3.2 Konflik 99
3.3 Solusi Adil Makmur

Kita akan coba diskusikan beberapa alternatif cara untuk mengubah Indonesia menuju adil makmur. Apakah Indonesia tidak adil makmur? Apakah Indonesia adalah lintah darat? Jika angka 100 adalah adil makmur; dan angka 1 adalah lintah darat; maka Indonesia, tampaknya, di bawah angka 50.

1. Contoh Nyata

Kita akan mengambil kisah nyata negara lintah darat dibanding adil makmur yang dipotret oleh Acemoglu, pemenang Nobel 2024 bidang ekonomi.

Acemoglu mengawali buku Why Nation Fail dengan kisah nyata sebuah kota yang terbelah utara dan selatan. Meski belahan kota ini mirip dalam banyak aspek tetapi kehidupan warga mereka berbeda secara ekstrem.

“KOTA NOGALES terbelah dua oleh pagar. Jika Anda berdiri di dekatnya dan melihat ke utara, Anda akan melihat Nogales, Arizona, yang terletak di Santa Cruz County. Pendapatan rata-rata rumah tangga di sana sekitar $30.000 setahun (sekitar 35 juta rupiah per bulan). Sebagian besar remaja masih sekolah, dan mayoritas orang dewasa adalah lulusan sekolah menengah atas. Terlepas dari semua argumen yang dibuat orang tentang betapa buruknya sistem perawatan kesehatan AS, penduduknya relatif sehat, dengan harapan hidup yang tinggi menurut standar global. Banyak penduduk berusia di atas enam puluh lima tahun dan memiliki akses ke Medicare. Itu hanyalah salah satu dari banyak layanan yang disediakan pemerintah yang dianggap remeh oleh sebagian besar orang, seperti listrik, telepon, sistem pembuangan limbah, kesehatan masyarakat, jaringan jalan yang menghubungkan mereka dengan kota-kota lain di daerah tersebut dan ke seluruh Amerika Serikat, dan, yang terakhir, hukum dan ketertiban. Warga Nogales, Arizona, dapat menjalankan aktivitas sehari-hari tanpa takut akan keselamatan atau nyawa mereka dan tidak terus-menerus takut akan pencurian, perampasan, atau hal-hal lain yang dapat membahayakan investasi mereka dalam bisnis dan rumah mereka. Yang sama pentingnya, warga Nogales, Arizona, menganggap bahwa, dengan segala inefisiensi dan korupsi yang terjadi, pemerintah adalah agen mereka. Mereka dapat memilih untuk mengganti wali kota, anggota kongres, dan senator mereka; mereka memilih dalam pemilihan presiden yang menentukan siapa yang akan memimpin negara mereka. Demokrasi adalah sifat alami bagi mereka.

Kehidupan di selatan pagar, hanya beberapa kaki jauhnya, agak berbeda.

Sementara penduduk Nogales, Sonora, tinggal di bagian Meksiko yang relatif makmur, pendapatan rata-rata rumah tangga di sana sekitar sepertiga dari pendapatan di Nogales, Arizona. Sebagian besar orang dewasa di Nogales, Sonora, tidak memiliki ijazah sekolah menengah atas, dan banyak remaja tidak bersekolah. Para ibu harus khawatir tentang tingginya angka kematian bayi. Kondisi kesehatan masyarakat yang buruk membuat tidak mengherankan bahwa penduduk Nogales, Sonora, tidak berumur panjang seperti tetangga mereka di utara. Mereka juga tidak memiliki akses ke banyak fasilitas umum. Jalan-jalan dalam kondisi buruk di selatan pagar. Hukum dan ketertiban dalam kondisi yang lebih buruk.

Kejahatan tinggi, dan membuka usaha adalah kegiatan yang berisiko. Anda tidak hanya berisiko dirampok, tetapi mendapatkan semua izin dan menyuap semua orang hanya untuk membuka usaha bukanlah usaha yang mudah. ​​Penduduk Nogales, Sonora, hidup dengan korupsi dan ketidakmampuan politisi setiap hari. Berbeda dengan tetangga mereka di utara, demokrasi merupakan pengalaman yang sangat baru bagi mereka. Hingga reformasi politik tahun 2000, Nogales, Sonora, seperti wilayah Meksiko lainnya, berada di bawah kendali korup Partai Revolusioner Institusional, atau Partido Revolucionario Institucional (PRI).

Bagaimana mungkin dua bagian dari kota yang pada dasarnya sama bisa begitu berbeda? Tidak ada perbedaan dalam geografi, iklim, atau jenis penyakit yang umum di daerah tersebut, karena kuman tidak menghadapi batasan apa pun untuk berpindah-pindah antara Amerika Serikat dan Meksiko. Tentu saja, kondisi kesehatan sangat berbeda, tetapi ini tidak ada hubungannya dengan lingkungan penyakit; ini karena orang-orang di selatan perbatasan hidup dengan kondisi sanitasi yang buruk dan tidak memiliki perawatan kesehatan yang layak.” (Acemoglu; 2012).

Tentu saja, ada penjelasan yang sangat sederhana dan jelas untuk perbedaan antara dua bagian Nogales yang mungkin sudah lama Anda duga: perbatasan yang membatasi kedua bagian tersebut. Nogales, Arizona, berada di Amerika Serikat. Penduduknya memiliki akses ke lembaga ekonomi Amerika Serikat, yang memungkinkan mereka memilih pekerjaan dengan bebas, memperoleh pendidikan dan keterampilan, serta mendorong pemberi kerja mereka untuk berinvestasi dalam teknologi terbaik, yang menghasilkan upah yang lebih tinggi bagi mereka. Mereka juga memiliki akses ke lembaga politik yang memungkinkan mereka untuk mengambil bagian dalam proses demokrasi, memilih wakil mereka, dan menggantinya jika mereka berperilaku buruk. Akibatnya, politisi menyediakan layanan dasar (mulai dari kesehatan masyarakat hingga jalan raya hingga hukum dan ketertiban) yang dituntut oleh warga.

Penduduk Nogales, Sonora, tidak seberuntung itu. Mereka hidup di dunia yang berbeda yang dibentuk oleh lembaga yang berbeda. Lembaga-lembaga yang berbeda ini menciptakan insentif yang sangat berbeda bagi penduduk kedua Nogalese dan bagi para pengusaha dan bisnis yang ingin berinvestasi di sana.

Insentif yang diciptakan oleh berbagai lembaga di Nogalese dan negara-negara tempat mereka berada merupakan alasan utama perbedaan kemakmuran ekonomi di kedua sisi perbatasan. Mengapa lembaga-lembaga Amerika Serikat jauh lebih kondusif bagi keberhasilan ekonomi daripada lembaga-lembaga di Meksiko atau, dalam hal ini, negara-negara Amerika Latin lainnya? Jawaban atas pertanyaan ini terletak pada cara masyarakat yang berbeda terbentuk selama periode kolonial awal. Perbedaan kelembagaan terjadi saat itu, dengan implikasi yang bertahan hingga saat ini. Untuk memahami perbedaan ini, kita harus mulai dari dasar koloni-koloni di Amerika Utara dan Amerika Latin.

Negara yang sukses, misal Nogales utara, adalah Negara inklusif; yaitu Negara yang terbuka dan membuka potensi warganya untuk maju. Negara yang gagal, misal Nogales selatan, adalah Negara ekstraktif; yaitu Negara yang menyedot dan menindas warga mereka. Institusi Negara ini membentuk putaran yang makin menguatkan seiring waktu; Negara sukses akan makin sukses; Negara miskin makin miskin. Jarang sekali, atau sulit sekali, terjadi perubahan mendadak.

Untuk bisa menjawab bagaimana posibilitas masa depan peradaban manusia, kita perlu mencermati ciri-ciri Negara inklusif yang sukses. Negara yang sukses adil makmur. Secara singkat kita akan memperhatikan tiga poin berikut.

(a) Kemakmuran dan kemiskinan ditentukan oleh insentif yang diciptakan oleh lembaga, dan politik menentukan lembaga apa yang dimiliki suatu negara. Lembaga ekonomi berperan secara konkret. Warga yang berbuat baik maka memperoleh keuntungan ekonomi. Warga yang berbuat buruk maka memperoleh kesulitan ekonomi. Konsekuensinya, warga bersemangat untuk berbuat baik dan memajukan kepentingan bersama. Tetapi lembaga ekonomi ini ditentukan oleh lembaga politik. Bila pemain politik jahat maka lembaga ekonomi jadi buruk. Agar lembaga ekonomi baik maka dibutuhkan lembaga politik yang baik juga. Bagaimana pun lembaga ekonomi dan politik memiliki relasi timbal balik.

(b) Lembaga berubah melalui konflik politik dan bagaimana masa lalu membentuk masa kini. Konflik politik justru menjadi harapan untuk perubahan. Tentu saja, perubahan ini bisa mengarah kepada lebih baik atau, sebaliknya, lebih buruk. Pengalaman masa lalu ikut menentukan dan wawasan masa depan memberi harapan.

(c) Lembaga yang mendorong kemakmuran menciptakan lingkaran umpan balik positif yang mencegah upaya elit untuk melemahkannya. Lembaga yang sukses, ekonomi atau politik, akan cenderung makin sukses seiring waktu bergulir. Warga secara umum berpendidikan cukup bagus sehingga bila ada pihak elit yang mengganggu lembaga maka warga akan berjuang untuk mencegah mereka dan berusaha memperbaiki lembaga tersebut.   


2. Ekonomi Politik

Bagaimana sistem ekonomi politik di Indonesia? Adil makmur atau lintah darat? Inklusif adalah adil makmur terbuka bagi setiap warga untuk berjuang menjadi orang sukses. Ekstraktif adalah lintah darat yaitu negara dan penguasa-pengusaha menghisap darah rakyat sampai rakyat jatuh miskin.

Sebagai ilustrasi, Finlandia adalah negara inklusif adil makmur dengan angka 90; Brunei adil makmur dengan nilai 81; Indonesia tidak adil makmur karena angka di bawah 50.

Di Finlandia, seorang ibu bekerja di kantin sekolah: menyiapkan makanan dan bersih-bersih serta pembukuan mendapat gaji 60 juta rupiah per bulan. Setelah potong pajak dan mempertimbangkan daya beli di Finlandia; barangkali gaji ibu itu setara dengan 20 juta rupiah bila di Indonesia; sebuah gaji yang besar. Suami dari ibu itu bekerja secara profesional gaji 30 juta rupiah per bulan; sudah potong pajak dan pertimbangan daya beli. Jadi mereka total penghasilan 50 juta per bulan. Gaji yang sangat besar untuk Indonesia atau di mana pun. Lebih dari itu, setiap warga bisa mendapat gaji yang mirip juga asal mereka mau bekerja.

Bagaimana situasi Indonesia? Berjubel pengangguran. Jutaan orang cari kerja, dengan gaji UMR yang hanya 3 juta rupiah per bulan saja, susah. Karena Indonesia bukan negara adil makmur; angka Indonesia di bawah 50. Sedangkan Finlandia adil makmur dengan angka 90. Tentu saja, di Finlandia ada orang yang sakit, cacat, atau lanjut usia. Mereka tidak bisa bekerja; mereka perlu ditolong. Ada juga orang yang malas tidak mau bekerja; mereka juga perlu ditolong. Hanya saja, sebagian besar orang mau bekerja sehingga memperoleh gaji yang memadai, lebih dari cukup, dan adil makmur.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Perlu konflik politik untuk mengubah negara lintah darat menjadi adil makmur. Indonesia pernah konflik politik dengan baik; tanpa pertumpahan darah. Kita perlu waspada bahwa konflik politik jangan sampai menjadi perang pertumpahan darah.

3.1 Reformasi 98

Reformasi 1998 adalah konflik politik damai tanpa pertumpahan darah. Terjadi kerusuhan di beberapa tempat tetapi itu ulah provokator. Sementara, reformasi 1998 berjalan dengan damai. Di satu sisi, mahasiswa dan tokoh reformasi mengajukan tuntutan politik damai. Di sisi lain, presiden Soeharto bersedia lengser dari kursi presiden dengan damai juga.

3.2 Konflik 99

1998 – 1999: presiden Habibie menjaga transisi reformasi damai.

1999 – 2001: konflik politik membuahkan presiden baru Gusdur; peluang mengubah negara lintah darat menjadi adil makmur.

2001 – 2004: konflik politik membuahkan Mega jadi presiden menggantikan Gusdur; peluang mengubah lintah darat menjadi negara adil makmur.

Tentu, hampir mustahil, hanya dalam waktu 6 tahun bisa mengubah negara lintah darat orba menjadi negara adil makmur reformasi. Jadi, di tahun 2004, Indonesia belum adil makmur; barangkali sedang dalam proses menuju adil makmur. Indonesia masih membutuhkan lebih banyak konflik politik bukan sekedar dinamika politik.

Sayangnya, 2004 sampai 2025, tidak pernah ada konflik politik sehingga kita masih belum adil makmur; angka masih di bawah 50.

Era SBY, Jokowi, dan Prabowo tidak mengalami konflik politik tetapi hanya dinamika politik.

2019 berpotensi terjadi konflik politik tetapi batal karena setelah Jokowi menang, Jokowi merangkul Prabowo jadi menteri. Bagaimana bisa ada konflik? Bahkan Rieke, politikus PDIP, pernah cerita bahwa Jokowi mengatakan tidak perlu bahas ideologi; yang penting kerja. Tanpa diskusi ideologi maka tidak ada konflik politik. Lintah darat tidak akan berubah jadi adil makmur.

2024 berpeluang terjadi konflik politik tetapi hanya dinamika politik. Apalagi Prabowo, di 2025, bersikap merangkul semua pihak untuk Persatuan Indonesia.

Apakah kasus dugaan ijazah palsu Jokowi bisa menjadi konflik politik? Sulit sekali. Tampaknya akan menjadi sekadar dinamika.

3.3 Solusi Menuju Adil Makmur

Konflik politik 1998 yang damai perlu diulang berkali-kali untuk mengubah lintah darat mejadi negara adil makmur Indonesia. Konflik memuncak 1999 dengan damai; dan konflik lagi 2001 dengan damai. Jadi, Indonesia cukup berpengalaman dengan baik menghadapi konflik politik secara damai.

Konflik politik terbaik adalah konflik intelektual penuh respek. Indonesia perlu menyuburkan pertumbuhan intelektual bagi seluruh warga; memberikan fasilitas gratis, sepenuhnya tanpa biaya, bagi setiap warga untuk menempuh pendidikan berkualitas sampai tingkat sarjana/diploma. Wajib belajar cukup sampai SMA saja. Tetapi beasiswa sampai sarjana bagi warga yang berminat.

Ketika generasi Indonesia cerdas secara intelektual dan moral (saling respek dengan hikmah kebijaksanaan) maka mereka menggulirkan konflik politik untuk mengubah lintah darat menjadi Indonesia adil makmur. Masih menunggu bertahun-tahun dong? Ya, hasilnya menunggu beberapa puluh tahun tetapi prosesnya mulai hari ini, di sini, oleh saya yang membaca ini, yang menyongsong masa depan: logika futuristik.

Bagaimana menurut Anda?

Sejarah Obyektif: Tidak Lagi Penting?

Apakah sejarah itu penting? Benar.
Apakah sejarah itu obyektif? Tidak.
Apakah Indonesia dijajah Belanda 350 tahun? Tidak.

“Salah tujuan tidak bisa diperbaiki dengan menambah kecepatan. Lalu?”

Menteri Budaya akan mengoreksi sejarah Indonesia. Pak Menteri yakin bahwa Indonesia tidak dijajah selama 350 tahun; barangkali hanya dijajah 150 tahun. Kemudian, anggota dewan yang terhormat mengingatkan agar koreksi sejarah itu bersifat obyektif sehingga tidak menimbulkan polemik.

1. Apa Makna Obyektif
2. Cara Membaca Sejarah
3. Posibilitas Sejarah
4. Diskusi
5. Ringkasan

Kita akan membahas apa makna-obyektif bagi sejarah; dan apakah obyektif itu penting? Kemudian, kita akan membahas posibilitas sejarah secara lebih luas.

1. Apa Makna Obyektif

Sejarah yang obyektif itu pasti mengandung kontradiksi. Jadi, sederhananya, kita akan gagal untuk menyusun sejarah yang obyektif. Atau, tidak pernah ada sejarah yang obyektif.

Apa gunanya jika sejarah tidak obyektif? Justru sangat berguna. Karena sejarah itu tidak obyektif maka Menbud wajib tanggung jawab atas revisi sejarah yang dilakukannya. Andai tidak ada revisi pun, Menbud tetap bertanggung jawab atas sejarah Indonesia. Demikian juga, setiap individu, termasuk kita, wajib tanggung jawab atas interpretasi sejarah yang kita pilih.

2. Cara Membaca Sejarah

Cara membaca sejarah terbaik adalah dengan menguatkan perspektif masa depan: sejarah futuristik. Saya telah menulis buku Trilogi Futuristik; silakan membacanya. Akan sangat menarik membaca sejarah Indonesia dengan kacamata trilogi Futuristik

3. Posibilitas Sejarah

Apa makna posibilitas? Mari kita ringkas makna posibilitas berdasar analisis eksistensial terhadap wujud konkret dari dasein.

Makna posibilitas adalah (a) selalu terkait dengan manfaat. Sesuatu yang tidak bermanfaat maka tidak memiliki posibilitas atau posibilitasnya tidak bermakna. Manfaat itu sendiri, bagi dasein, selalu terkait dengan cakrawala dunia dan proyek masa depan, masa lalu, serta masa kini.

Makna posibilitas adalah (b) gerak dari posibilitas satu ke posibilitas berikutnya tanpa henti.

Makna posibilitas adalah (c) sejarah masa depan yang melimpahkan dirinya ke masa lalu untuk menyusuri sejarah masa kini.

Makna posibilitas kematian adalah (d) posibilitas special yang tidak bisa diakses; berubah menjadi posibilitas yang bisa diakses melalui kematian.

Makna posibilitas adalah (e) anugerah tersembunyi yang melimpahkan keandalan.

Apakah posibilitas bersifat subyektif atau obyektif?

Analisis eksistensial menyodorkan tiga struktur posibilitas. Lapisan (a) presentasi atau vorhandenheit terdiri dari (a1) posibilitas obyektif dan (a2) posibilitas subyektif. Wujud dibatasi atau dipisahkan dari dunia konkret mau pun bentangan waktu. Sehingga menghasilkan wujud obyektif dan wujud subyektif; pada analisis akhir, menghasilkan jenis probabilitas obyektif dan probabilitas subyektif.

Lapisan (b) readiness atau zuhandenheit atau manfaat di mana wujud selalu bersama cakrawala dunia; bersama bentangan waktu masa depan, masa lalu, dan masa kini. Pada lapisan readiness ini tidak ada posibilitas obyektif mau pun subyektif. Dengan kata lain, lapisan readiness tidak bisa direduksi menjadi obyektif-subyektif.

Lapisan (c) keandalan atau Verlässlichkeit yang melimpahkan anugerah tersembunyi posibilitas.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

5. Ringkasan

Sejarah tidak pernah obyektif; tidak pernah pula subyektif. Sejarah itu lebih tinggi dari kategori obyektif-subyektif. Sejarah adalah dinamika realitas nyata yang terbentang sepanjang waktu: masa depan, masa lalu, dan masa kini.

Reduksi sejarah menjadi obyektif atau subyektif akan memicu kontradiksi tanpa henti; memicu polemik yang sulit dihadapi. Lebih bijak bila kita bersikap terbuka untuk dialog interpretasi terhadap sejarah.

Kulminasi Ganda sampai Profetik

Peradaban Barat mengalami kulminasi ganda: Plato sampai Hegel; dan Parmenides sampai Severino. Mereka perlu mencari solusi dari problem dua kulminasi ini. Sementara peradadaban Timur mengalami profetik dari ajaran para Nabi sampai kepada para wali. Para Nabi dan para wali saling menguatkan ajaran-ajaran mereka; demikianlah profetik. Sedangkan jalur kulminasi, pemikir masa kini mengkritik pemikir masa lalu; tiba gilirannya, pemikir masa kini juga menjadi sasaran kritik oleh pemikir masa depan. Mengapa demikian?

1. Plato sampai Hegel
2. Parmenides sampai Severino
3. Ibnu Arabi dan Ibnu Rusyd
4. Pragmatisme Profetik
5. Diskusi

Jalur kulminasi pertama adalah dari Plato (429 – 347 SM) sampai memuncak di Hegel (1770 – 1831). Perjalanan dimulai dari bumi; yaitu manusia yang mampu berpikir ingin menggapai langit melalui pikirannya. Seperti kita tahu bahwa pikiran manusia tidak sempurna; selalu ada kritik dari pemikiran yang lebih baru. Sampai tiba puncaknya di Hegel bahwa semua kritik, semua kontradiksi, dirangkul oleh spirit absolut yang terbang ke langit. Kita mencapai kulminasi bersama Hegel.

Kulminasi kedua mulai dari Parmenides (abad 6 SM) sampai berpuncak di Severino (1929 – 2020). Perjalanan dimulai dari langit; hanya ada realitas Esa yaitu Wujud sejati. Kemudian Wujud ini bermanifestasi, atau tajalli, dalam realitas bumi. Tentu saja, realitas bumi sering terjadi perubahan; datang dan pergi; terjadi saling kritik. Puncaknya, Severino menyatakan tidak ada yang datang mau pun pergi. Wujud adalah abadi. Datang dan pergi itu hanya ilusi; sekedar penampakan belaka.

Di Timur, termasuk Indonesia, kita mengenal para wali misal Walisongo. Dan masih banyak wali-wali lain yang ajaran mereka saling menguatkan. Ibnu Arabi bertanya: mengapa para filsuf saling mengkritik sedangkan para wali saling menguatkan? Para wali adalah penerus para Nabi: profetik.

1. Plato sampai Hegel

Dari Plato sampai Hegel terpisah jarak sekitar 2200 tahun. Umat manusia saling belajar, saling kritik secara rasional, untuk mencapai kulminasi. Ketika tiba di puncak kulminasi maka apa yang terjadi? Yang terjadi adalah kesadaran bahwa kulminasi rasional itu penting tetapi tidak cukup. Lalu, apa yang kita perlukan?

1.1 Kulminasi Hegel

SEP meringkas inti pemikiran Hegel dengan sangat baik:

“This epistemological account presented in the Phenomenology of how the very possibility of discursive/conceptual knowledge is based in an original identity of opposites or a subject-object unity/identity becomes metaphysical/ontological implications because of the conviction Hegel shares with the other post-Kantian idealists that knowledge is a real relation. By this he and his idealistic allies mean (a) that knowledge is a relation between real relata and (b) that knowledge is real only if the relata are real. This conviction puts constraints on how to conceive of this unity/identity when it comes to its content (in a metaphorically analogous way in which, say, in propositional logic a semantics puts constraints on the interpretation of its syntax). This unity/identity established as the basis of knowledge has to meet (at least) two conditions. First of all it has to be such that the subject-object split can be grounded in it and secondly it must allow for an interpretation according to which it is real or has being (Sein). These conditions function as constraints on how to conceive of subject-object-unity/identity because they specify what can count as an acceptable interpretation (a semantics) of an otherwise purely structural item (a syntactic feature). Without meeting these two conditions all we have by now (i.e., at the end of the Phenomenology) is a claim as to the grounding function of a unity/identity of subject and object structure (a syntactic item) that is still lacking an interpretation as to the content (the semantic element) of all the terms involved in that structure.

It is by providing an interpretation to the unity/identity structure that Hegel arrives at a defense of idealism in a non-oppositional sense. Put somewhat distant from his terminology but relying heavily on his own preliminary remarks on the question “With What must the Beginning of Science be made?” in the Science of Logic, his line of thought can be sketched roughly thus: the Phenomenology has demonstrated that knowledge can only be realized if it establishes a relation between real items. These items have to be structurally identical. Realized or “real” knowledge (wahres Wissen) in contradistinction to opinion/defective knowledge (what Hegel calls “false knowledge”) is a discursive/conceptual relation that can only be established by thinking. Hence if there is knowledge thinking must be real, must have being (Sein haben). Now, thinking is an objective, a real activity in the sense that it gives rise to determinations that constitute both the subject and the object. Because it is a discursive/conceptual activity its reality/objectivity implies that what is constituted by it, i.e., the subject and the object have to be conceived of as discursive/conceptual structures whose reality/being just consists in nothing else than their being thought—not their being the object of thought. Conceived of that way thinking not only fulfills the two conditions mentioned above (i.e., it grounds the subject-object divide and it is real, has being), it is at the same time the only candidate to satisfy them (because there is no other discursive/conceptual activity available). Therefore, in order to account for a discursive/conceptual model of reality one has to start from the identity of thinking and being or from the fact that only thinking is real.

From this argument as to the sole reality of thinking, it is easy to derive a new conception of idealism that is not subject to the objections mentioned above that Hegel raised against (what were, in his eyes) the one-sided attempts by his fellow post-Kantians, in particular Fichte and Schelling.”

“Pandangan epistemologis yang dikemukakan dalam Phenomenology menunjukkan bahwa kemungkinan pengetahuan diskursif atau konseptual bergantung pada adanya kesatuan antara subjek dan objek, atau identitas dari hal-hal yang tampaknya berlawanan. Pandangan ini lalu berkembang menjadi implikasi metafisis atau ontologis karena keyakinan Hegel—yang ia bagikan dengan para filsuf idealis pasca-Kant lainnya—bahwa pengetahuan adalah suatu relasi yang nyata.

Yang dimaksud dengan “relasi yang nyata” adalah dua hal:

  1. Pengetahuan adalah hubungan antara dua hal nyata.
  2. Pengetahuan hanya benar-benar ada jika hal-hal yang terlibat dalam hubungan itu juga nyata; termasuk hubungan itu sendiri harus nyata.

Keyakinan ini memberi batasan pada bagaimana kita bisa memahami kesatuan antara subjek dan objek, mirip seperti bagaimana dalam logika proposisional, makna (semantik) membatasi bagaimana simbol (sintaks) dapat ditafsirkan.

Kesatuan atau identitas subjek-objek yang menjadi dasar pengetahuan harus memenuhi dua syarat:

(1) Ia harus bisa ditafsirkan sebagai sesuatu yang nyata atau memiliki keberadaan (Sein).

(2) Ia harus dapat menjelaskan bagaimana perbedaan antara subjek dan objek bisa muncul darinya.

Kedua syarat ini menjadi batasan penting dalam memahami kesatuan subjek-objek karena keduanya menentukan apakah penafsiran tersebut dapat diterima. Jika kedua syarat ini tidak terpenuhi, maka yang kita miliki hanyalah sebuah klaim bahwa kesatuan itu menjadi dasar struktur pengetahuan, tanpa adanya isi atau makna yang menjelaskan bagaimana struktur tersebut bekerja.

Dengan memberikan penafsiran terhadap struktur kesatuan subjek-objek ini, Hegel sampai pada pembelaan terhadap idealisme dalam bentuk yang tidak bersifat oposisional (tidak memperlawankan subjek dan objek).

Meskipun agak berbeda dari istilah aslinya, dengan merujuk pada pendahuluan Hegel dalam Science of Logic (“Dengan Apa Ilmu Harus Dimulai?”), alur pemikirannya dapat diringkas sebagai berikut:

Phenomenology telah menunjukkan bahwa pengetahuan hanya bisa diwujudkan jika ada hubungan antara hal-hal yang nyata, dan hal-hal ini harus memiliki struktur yang sama atau identik. Pengetahuan yang sejati (wahres Wissen), berbeda dengan pendapat atau pengetahuan yang keliru (false knowledge), adalah hubungan diskursif/konseptual yang hanya bisa dibentuk melalui aktivitas berpikir.

Oleh karena itu, jika pengetahuan memang ada, maka berpikir haruslah sesuatu yang nyata—berpikir harus memiliki keberadaan (Sein haben).

Berpikir adalah aktivitas objektif yang nyata karena ia membentuk penentuan-penentuan (determinations) yang menjadi dasar bagi keberadaan subjek dan objek. Karena ia adalah aktivitas diskursif/konseptual, maka realitas dari subjek dan objek juga harus dipahami sebagai struktur diskursif/konseptual yang keberadaannya tidak lain adalah karena mereka dipikirkan—bukan sekadar menjadi objek dari pikiran.

Dengan cara memahami berpikir seperti ini, berpikir tidak hanya memenuhi dua syarat tadi (yakni, sebagai dasar perbedaan subjek-objek dan sebagai sesuatu yang nyata), tetapi juga menjadi satu-satunya hal yang bisa memenuhinya, karena tidak ada aktivitas diskursif/konseptual lain yang tersedia.

Oleh karena itu, untuk menjelaskan model realitas yang bersifat konseptual/diskursif, kita harus mulai dari identitas antara berpikir dan keberadaan—yaitu bahwa hanya berpikirlah yang benar-benar nyata.

Dari argumen ini mengenai kenyataan berpikir sebagai satu-satunya realitas, kita dapat menyusun suatu bentuk idealisme baru, yang tidak lagi rentan terhadap kritik yang sebelumnya Hegel tujukan kepada para idealis pasca-Kant lainnya, terutama Fichte dan Schelling, yang menurut Hegel masih satu sisi dan belum utuh.”

1.2 Kritik Kulminasi

Pippin menganalisis Hegel berdasar pemikiran Heidegger dalam buku The Culmination:

“Heidegger’s interpretation and critique of Hegel’s Science of Logic in his Identity and Difference was partly an attempt to explain why he thinks that project, which for many readers remains one of the most baffling and unusual texts in philosophy, actually successfully represents the core of the rationalist enterprise in philosophy and shows us its culmination. He means both that it is the most consistent and so successful realization of that “core”— a science of pure thinking that is a science of being— and by being that reveals what has always been “unthought,” what cannot be thought within that tradition, the meaning of Being, the most important issue in metaphysics and forever unavailable to any form of discursive rationality. One of the main issues was the idea of the finitude of pure thinking— or, in Hegel’s case, the denial of finitude for pure thinking (the beginning of the Logic is supposed to be presuppositionless). As emphasized before, throughout his various treatments Heidegger clearly does not mean by such an appeal to fi nitude and so to the limitations of pure thinking to open any doors to an empirical- psychological or neurological or historical materialist interpretation of that fi nitude. Th at is not the dependence and finitude he wants to illuminate. Heidegger clearly agrees with what Hegel would say: that even that sort of appeal must fall within Hegel’s attempted account of the conceptual moments of possible determinacy, cannot coherently be conceived “outside” it. (Materialism is a philosophical not an empirical claim; it is another moment of logos.) And they are all also simply further examples of the thoughtless assumption that the meaning of being is standing presence. Th is is the same claim Kant made about the pure concepts of understanding and the pure forms of intuition. Th ey are not subject to empirical disconfirmation, and our main contrast with Hegel was Heidegger’s Kant interpretation. Besides exploring the dimensions of any claim to articulate the role of pure thinking in the possible availability of beings, we did this in order to begin to discuss the issue always raised when he discusses German Idealism, finitude, and the priority of logic. Having seen the details of that interpretation, we can now raise further questions about Heidegger’s critique of Hegel.”

“Penafsiran dan kritik Heidegger terhadap karya Hegel Science of Logic, yang ia sampaikan dalam tulisannya Identity and Difference, sebagian merupakan upaya untuk menjelaskan mengapa ia berpandangan bahwa proyek Hegel tersebut—yang bagi banyak pembaca merupakan salah satu teks paling membingungkan dan tidak biasa dalam filsafat—sebenarnya justru secara berhasil mewakili inti dari proyek rasionalisme dalam filsafat, dan sekaligus menunjukkan titik puncaknya.

Menurut Heidegger, Science of Logic adalah bentuk realisasi yang paling konsisten dan berhasil dari inti proyek tersebut, yakni: sebuah ilmu tentang pemikiran murni yang sekaligus adalah ilmu tentang ada (being). Dan justru karena itulah, karya tersebut sekaligus juga memperlihatkan kepada kita apa yang selama ini belum pernah dipikirkan (yang “tak terpikirkan”) dalam tradisi itu—yakni makna Being itu sendiri, persoalan paling mendasar dalam metafisika, yang tetap tidak bisa dijangkau oleh bentuk rasionalitas diskursif apa pun.

Salah satu isu utama yang dibahas adalah soal keterbatasan (finitas) dari pemikiran murni—atau dalam kasus Hegel, penolakan terhadap keterbatasan tersebut. Hegel memulai Logic dengan klaim bahwa pemikirannya tidak memiliki prasangka atau asumsi awal (presuppositionless). Seperti yang telah disebutkan sebelumnya, Heidegger tidak bermaksud, melalui penekanannya pada keterbatasan pemikiran murni, untuk membuka ruang bagi pendekatan empiris seperti psikologi, neurologi, atau materialisme historis. Bukan jenis keterbatasan itu yang ingin ia soroti.

Heidegger justru setuju dengan Hegel bahwa pendekatan-pendekatan tersebut pun, jika mau dikaji secara filosofis, tetap harus berada dalam kerangka pemikiran konseptual yang dibangun Hegel. Pendekatan tersebut tidak bisa secara koheren dipahami sebagai sesuatu yang berada “di luar” kerangka itu. (Materialisme sendiri, dalam pandangan ini, bukan klaim empiris, melainkan klaim filosofis; ia hanyalah salah satu momen lain dari logos).

Menurut Heidegger, semua pendekatan yang disebutkan di atas hanya menunjukkan asumsi yang tidak dipertanyakan bahwa makna being adalah “kehadiran” atau “keberadaan yang berdiri tetap” (standing presence). Ini sama seperti yang dikritik oleh Kant terhadap konsep-konsep murni dari pemahaman dan bentuk-bentuk intuisi murni: mereka tidak tunduk pada penolakan melalui data empiris. Perbedaan utama antara Hegel dan Heidegger dalam hal ini terletak pada bagaimana Heidegger menafsirkan Kant.

Dalam upaya memahami bagaimana pemikiran murni berperan dalam membuat being dapat dipahami, Heidegger ingin memperjelas persoalan-persoalan yang selalu muncul ketika ia membahas Idealism Jerman, keterbatasan (finitas), dan prioritas logika. Setelah memahami rincian dari penafsiran Heidegger terhadap Hegel, kini kita bisa mengajukan pertanyaan-pertanyaan lebih lanjut mengenai kritik Heidegger terhadap Hegel.”


2. Parmenides sampai Severino

Parmenides adalah orang bijak yang sudah sangat tua ketika Socrates yang sangat muda menemuinya. Terbentang waktu sekitar 2500 tahun dari Parmenides sampai Severino. Sejatinya, Parmenides selalu bertahan di posisi kulminasi dengan keyakinan bahwa hanya Wujud Sejati Esa yang Maha Abadi. Tetapi Plato, dan Aristo, menunjukkan beragam keragaman nyata di bumi ini. Murid Parmenides tidak mudah merespon tantangan Plato. Sampai akhirnya, Severino menjawab semua problem Plato di abad 20 dengan tuntas. Apa yang ditemukan di puncak kulminasi? Kulminasi rasional memang tidak cukup meski kita membutuhkannya.


3. Ibnu Arabi dan Ibnu Rusyd

Ibnu Arabi muda (1165 – 1240) bertemu dengan Ibnu Rusyd tua (1126 – 1998) yang bijak dan sudah sangat terkenal. Ibnu Rusyd adalah teman dari ayahnya Ibnu Arabi. Ibnu Rusyd mendengar bahwa Ibnu Arabi muda telah mengalami pencerahan ruhani; sehingga telah menemukan ilmu yang sempurna.

Ibnu Rusyd dengan nada gemetar bertanya, “Apakah jalan rasional bisa mengantar manusia kepada kesempurnaan?”
Ibnu Arabi menjawab, “Tidak bisa.”

Ibnu Rusyd merasa makin berat beban yang ada dalam dirinya yang sudah tua itu. Ibnu Arabi mendekatinya dan memeluknya, “Bisa mengantar kepada kesempurnaan bagi orang-orang tertentu.” Ibnu Rusyd tersenyum bahagia.

Arabi menempuh jalur profetik dengan mengikuti jalur hikmah para nabi dan para wali. Jalur profetik bukan saling mengkritik tetapi saling menguatkan. Profetik adalah mengutamakan hikmah kebijaksanaan. Pancasila menempatkan hikmah kebijaksanaan sebagai pemimpin di sila 4. Profetik adalah membela rakyat, menguatkan rakyat jelata secara ekonomi politik, menguatkan bersama hikmah kebijaksanaan.


4. Pragmatisme Profetik

Profetik tidak pernah mencapai puncak kulminasi; atau profetik itu selalu kulminasi karena profetik terus-menerus bergerak melingkar. Pragmatisme profetik adalah salah satu pendekatan profetik yang bersifat pragmatis.


5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?