Saya sering membaca buku yang sulit sekali untuk dipahami. Wajar saja hal itu kadang terjadi. Saya mencoba mengulang sampai 3 kali; sampai 5 kali tetap saja sulit mengerti. Mengapa lanjut membaca? Karena buku itu, buku yang sulit banget itu, mengklaim sesuatu yang sangat penting. Apa benar?
Akhirnya, setelah berjuang berkali-kali; berhari-hari; kadang berbulan-bulan, saya bisa mengerti. Meski hanya sedikit mengerti. Saya berharap tidak salah mengerti.
1. Pengalaman
2. Kebenaran Abadi
2.1 Parmenides Kembali Abadi
2.2 Penampakan Proses Perubahan
2.3 Nihilisme dan Freedom
3. Sang Esa
4. Realitas Sejati
5. Diskusi
Saya akan mencoba mengingat beberapa buku sulit yang pernah saya pelajari; mencoba membandingkan dengan sejarah lain. Kemudian saya akan berbagi beberapa ide penting dari 3 pemikir paling sulit di dunia kala itu.
1. Pengalaman
Pengalaman saya pertama membaca buku sulit adalah sekitar 30 tahun lalu: The 7 Habits karya Stephen Covey. Meski sulit, buku Covey ini masih dalam tingkat menengah. Anda membaca 2 atau 3 kali akan memahaminya. Buku yang sulit lagi adalah karya Aristoteles misal Etika Nikomacian. Bagaimana pun, buku Aristoteles masih tingkat menengah juga dalam kesulitannya. Buku Plato lebih menarik karena banyak kisah-kisah.
Buku Ibnu Arabi juga sulit, Futuh maupun Fusus. Tetapi, Arabi menyediakan puisi dan kisah-kisah untuk memudahkan kita memahaminya. Buku Rumi cenderung lebih mudah bila kita membaca dengan hati yang ikhlas; bila membaca dengan buru-buru, buku Rumi seperti kencang berlari menjauhi.
Dalam sejarah, buku sulit dimulai oleh trilogi Kritik karya Kant (1724 – 1804). Karena Kant bukan membahas realitas yang ada tetapi membahas “kondisi” yang memungkinkan adanya realitas. Saya cenderung setuju dengan pandangan bahwa Kant adalah pelopor menulis buku sulit. Lebih parahnya, Hegel (1770 – 1831) melanjutkan menulis buku yang lebih sulit dari Kant itu sendiri. Karena Hegel membahas Kant, mengkritik Kant, dan merevisi pandangannya.
Buku matematika tingkat tinggi tentu juga sulit. Saya tidak memasukkan buku matematika sebagai buku sulit karena matematika menggunakan bahasa teknis yang berbeda yaitu berupa rumus-rumus angka. Demikian juga, saya tidak memasukkan buku rekayasa sebagai sulit.
Tiga pemikir sulit yang akan kita bahas adalah lebih sulit dari Hegel mau pun Kant. Mereka menggunakan bahasa sehari-hari yang mirip bahasa kita tetapi maknanya entah harus kita cari ada di mana.
2. Kebenaran Abadi
Wujud atau being adalah abadi. Karena Anda saat ini ada; Anda adalah wujud; maka Anda sejatinya selalu abadi. Anda tidak akan musnah; Anda tidak pernah musnah. Berbahagialah, bersyukurlah, karena kebahagiaan Anda adalah abadi. Itulah salah satu inti pemikiran Emanuelle Severino (1929 – 2020) yang amat sulit untuk kita pahami.
2.1 Parmenides Kembali Abadi
Parmenides (515 SM) adalah tokoh pertama yang menyatakan hanya ada satu realitas nyata yaitu wujud, being, atau eksistensi. Selain wujud adalah tidak ada atau hampa. Karena hampa maka kita tidak bisa memikirkannya. Bahkan pikiran kita tentang hampa itu sendiri adalah wujud yaitu wujud dalam pikiran. Sedangkan hampa adalah benar-benar tidak ada. Seluruhnya adalah wujud dan wujud adalah seluruhnya.
“In ‘Returning to Parmenides’ (1964) and in the ‘Postscript’ (1965),
Severino sets forth the most challenging implication of the originary structure of the truth of being: the eternity of all beings. Since becoming — the being-other of what is — contradicts the truth of being, every being must be eternal. Every being — this firewood, these ashes, this thought, this fear — is eternal; to be means to be eternal. The becoming of beings cannot appear; what experience attests to is the appearing and disappearing of the eternal beings.”
“Dalam ‘Returning to Parmenides’ (1964) dan dalam ‘Postscript’ (1965), Severino menegaskan implikasi yang paling menantang dari struktur-asal kebenaran wujud: keabadian semua wujud. Karena menjadi — wujud-yang lain dari wujud-apa-adanya — bertentangan dengan kebenaran wujud, setiap wujud pastilah abadi. Setiap wujud — kayu bakar ini, abu ini, pikiran ini, ketakutan ini — adalah abadi; ada wujud berarti ada abadi. Kejadian wujud tidak dapat muncul (dari ketiadaan); apa yang dibuktikan oleh pengalaman adalah tampak dan sembunyinya wujud abadi.”
(a) Wujud adalah abadi; wujud dari dulu sampai masa depan selamanya. Ketika Anda bahagia bersyukur saat ini maka, sejatinya, Anda bahagia dari dulu dan bahagia selamanya. Hanya saja, wujud setelah kematian adalah kebahagiaan hakiki: Joy sejati.
(b) Proses becoming adalah tidak mungkin; proses menjadi adalah tidak mungkin. Proses menjadi dipahami: bayi lahir adalah wujud; sebelum lahir adalah tidak-wujud. Bagaimana tidak-wujud bisa berubah jadi wujud? Tidak mungkin. Proses menjadi mati juga tidak mungkin: bayi hidup adalah wujud; bayi setelah mati adalah tidak-wujud. Bagaimana wujud berubah menjadi tidak-wujud? Tidak mungkin.
(c) Proses perubahan menjadi adalah penampakan saja.
2.2 Penampakan Proses Perubahan
“For indeed, appearing does not attest to the opposite of what is
demanded by the logos. The logos demands the immutability of being
— it demands, that is, that being not be nothing, and thus not issue from
and not return to nothingness — and appearing, in its truth, does not
attest that being does so. […] The becoming that appears is not the birth
and death of being, but rather its appearing and disappearing. Becoming is the process of the revelation of the immutable beings.”
“Sebab, sesungguhnya, kemunculan tidak membuktikan kebalikan dari apa yang dituntut oleh logos. Logos menuntut kekekalan keberadaan—ia menuntut, yaitu, bahwa keberadaan bukanlah ketiadaan, dan dengan demikian tidak berasal dari dan tidak kembali ke ketiadaan—dan kemunculan, dalam kebenarannya, tidak membuktikan bahwa keberadaan melakukan hal itu. […] Proses kejadian yang muncul bukanlah kelahiran dan kematian keberadaan, melainkan kemunculan dan ketersembunyian. Kejadian adalah proses pewahyuan keberadaan yang tidak berubah.”
(a) Wujud adalah abadi; tidak berubah.
(b) Tampak dan tersembunyi; bila Anda melihat wujud secara isolasi, secara terbatas, maka sebagian wujud adalah tampak; dan sebagian wujud lain adalah tersembunyi.
(c) Penampakan adalah proses terungkapnya wujud-yang-tampak terhadap seorang pengamat. Ada resiko bahwa penampakan adalah sekedar ilusi bila tidak bersumber dari wujud. Penampakan sejati besumber dari wujud abadi, tampak sebagai wujud terisolasi, terjadi penampakan wujud.
2.3 Nihilisme dan Freedom
Nihilisme telah melanda seluruh dunia menebarkan bahaya. Esensi nihilisme adalah hampa; kosong; ketiadaan. Segala sesuatu pernah tidak ada ketika belum lahir; kemudian menjadi ada untuk sementara; akhirnya kembali tidak ada ketika mati. Solusi bagi nihilisme adalah kebenaran abadi: seluruh wujud adalah abadi. Manusia, termasuk kita, adalah abadi.
Resiko dari nihilisme sangat bahaya: orang-orang bersaing untuk saling dominasi; terutama dominasi teknologi.
Apakah manusia punya kebebasan? Freedom? Free will?
Bagi Severino, pembahasan freedom mau pun determinisme adalah salah alamat. Karena mereka membahas freedom dan determinisme dalam kerangka nihilisme. Freedom adalah bebas menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Determinisme adalah sudah pasti menciptakan sesuatu dari ketiadaan. Pandangan nihilisme seperti itu adalah ilusi belaka. Karena freedom seperti itu adalah penampakan belaka. Sedangkan realitas sejati adalah kepastian yang abadi. Realitas itu bisa menampakkan diri melalui jalur freedom mau pun determinisme.
“If everything pre-exist (and is preserved) in the god, the act of untying from nothingness and from being on the part of the beings [their original readiness to being and not-being] is impossible; but this unlinking is the «evidence»; so the «evidence» of freedom requires the inexistence of god and of every immutable thing that predetermines and anticipates the concrete historical becoming of things. […]. Since what is still a nothing […] is predestined to the truth of the being, it is not a nothing, but instead it already is, and cannot come from nothingness; and since the being comes from nothingness, it does not come from the already existing predestination to the truth of the being, and therefore is not already captured by the truth of the being. If then an incontrovertible knowledge of the being as a being exists – and therefore of the totality of the being – , the being cannot come from nothingness; if the being comes from nothingness, an incontrovertible knowledge of the totality of the being cannot exist.
Severino, Destiny of the necessity (Destino della necessità), Adelphi, Milan 1980, pp. 35-47.”
“Jika segala sesuatu sudah ada sebelumnya (dan dilestarikan) dalam Tuhan, tindakan melepaskan diri dari ketiadaan dan dari keberadaan pada bagian dari makhluk [kesiapan asli mereka untuk ada dan tidak ada] adalah mustahil; tetapi pelepasan ini adalah «bukti»; jadi «bukti» kebebasan membutuhkan ketidakberadaan Tuhan dan setiap hal yang tidak berubah yang menentukan sebelumnya dan mengantisipasi keberadaan historis konkret dari segala sesuatu. […]. Karena apa yang masih berupa ketiadaan […] ditakdirkan untuk kebenaran keberadaan nantinya, itu bukanlah ketiadaan, tetapi sebaliknya itu sudah ada, dan tidak dapat datang dari ketiadaan; dan karena (jika) keberadaan datang dari ketiadaan, itu tidak datang dari predestinasi yang sudah ada untuk kebenaran keberadaan, dan karena itu tidak dirangkul oleh kebenaran keberadaan. Jika kemudian pengetahuan yang tidak dapat disangkal tentang keberadaan sebagai keberadaan ada – dan karena itu dari totalitas keberadaan -, keberadaan tidak dapat datang dari ketiadaan; jika keberadaan berasal dari ketiadaan, pengetahuan yang tak terbantahkan tentang totalitas keberadaan tidak akan ada.
Severino, Destiny of the necessity (Destino della necessità), Adelphi, Milan 1980, hlm. 35-47″
Severino tampak menganalisis segala sesuatu dia hadapkan langsung kepada Tuhan yang Maha Abadi dan Maha Esa. Beberapa alternatif atau revisi berikut adalah lebih baik.
(a) Di hadapan Tuhan maka kita berserah diri; tawakal. “Apa yang kamu minta wahai manusia?” Tuhan berfirman. “Kami tidak minta apa pun, Tuhan. Kami bersyukur dan ikhlas atas semua anugerah Mu,” jawab kita sebagai manusia.
Meski Tuhan memberi freedom kepada manusia, kita tidak menunjukkan freedom itu di hadapan Tuhan; kita justru ikhlas.
(b) Kepada Tuhan, kita mengabdi; kita beribadah. Lagi, meski Tuhan melimpahkan freedom kepada manusia maka freedom itu kita gunakan ikhlas ibadah.
(c) Kepada alam semesta, kita adalah wakil Tuhan; kita adalah pemimpin. Bagaimana cara memimpin alam semesta?
(c1) Memimpin dengan cara menyempurnakan akhlak mulia; akhlak mulia kepada sesama; sabar dan saling menasehati dalam kebenaran.
(c2) Memimpin dengan menebarkan kasih sayang kepada seluruh semesta.
Untuk menjadi pemimpin, akhlak mulia dan menebar kasih sayang, kita butuh menerapkan freedom dan beragam daya: daya karsa, rasa, cipta, karya, dan cinta. Freedom dan daya ini adalah nyata karena anugerah dari Tuhan Maha Abadi. Sebaliknya, jika freedom hanya penampakan maka itu adalah ilusi; karena tidak berdasar kepada anugerah Tuhan. Jadi, freedom sejati adalah anugerah dari Tuhan Maha Abadi.
3. Sang Esa
Problem umat manusia muncul karena manusia lupa kepada Yang Esa. Problem ekonomi, problem politik, problem teknologi dan lain-lain adalah dampak dari kita lupa kepada Esa. Itulah salah satu inti dari pemikiran Francois Laruelle (1937 – 2024) yang sulit dipahami.
Problem lanjutan: bagaimana cara memahami Yang Esa?
Osofi mengenalkan konsep dualitas-unilateral atau dwi-tunggal. Esa tetap Esa. Bukan membandingkan Esa-Lian tetapi Esa-dalam-Esa; One-in-One. Terjadi transformasi dari Esa sebagai obyek filosofi menjadi Vision-in-One.
Transformasi kedua adalah mengubah bahasa filosofi yang swa-referensi menjadi aksiomatis dan teorematis. Pernyataan tentang Yang Esa adalah aksiomatis dan teorematis yang menyempurna secara gradual; di satu sisi. Dan di sisi lain, terhubung kepada Sang Nyata membentuk eksistensi filosofi. Konsekuensinya, transformasi ini membentuk identitas dwi-tunggal. Apakah Yang Esa itu Identitas?
Dari One ke Vision-in-One
Yang Esa selalu hadir imanen; sehingga tidak bisa dipahami secara transenden saja. Kita perlu melangkah ke Vision-in-One.
“3.1.1. Immanence. The One is immanence and is not thinkable on the terrain of transcendence (ekstasis, scission, nothingness, objectivation, alterity, alienation, meta or epekeina). Corollary: the philosophies of immanence (Spinoza, Deleuze) posit immanence in a transcendent fashion. Even Henry posits in a quasi-transcendent fashion the unekstatic immanence he objectifies.”
“3.1.1. Imanensi. Yang Esa adalah imanensi dan tidak dapat dipikirkan di medan transendensi (ekstasis, pemisahan, ketiadaan, objektivasi, alteritas, alienasi, meta atau epekeina). Akibatnya: filsafat imanensi (Spinoza, Deleuze) menempatkan imanensi dalam cara yang transenden. Bahkan Henry menempatkan imanensi yang tidak ekstatik yang diobjektifkannya dalam cara yang hampir transenden.”
Alternatif nama dari Yang Esa: Identitas, Ego, dan Sang Nyata. Identitas bukan sifat dan bukan pelaku. Ego bukan subyek; subyek adalah kloning dari Ego. Sang Nyata adalah Nyata radikal; tidak ada yang setara dengan Sang Nyata.
4. Realitas Sejati
Ada komputer, ada meja, ada rumah, ada kamu. Tampaknya sudah jelas semua yang ada. Tapi apa makna-ada? Umat manusia mengalami beragam masalah besar karena lupa bertanya: apa makna-ada? Itulah salah satu inti pemikiran Heidegger yang sulit dipahami.
Segala sesuatu adalah ada atau being atau wujud. Being mana yang perlu kita pelajari? Mengapa tidak seluruh being? Apa bisa? Kita perlu memilih being paling spesial yaitu being yang mempertanyakan being; wujud yang mempertanyakan wujud; eksistensi yang mempertanyakan eksistensi; being-there; wujud-itu; dasein. Jadi, kita akan memulai kajian dari dasein.
Apa makna-ada? Makna-ada adalah dasein yaitu eksistensi yang mempertanyakan eksistensi. Untung saja, sebagian manusia adalah eksistensi yang mempertanyakan eksistensi. Sehingga, kita mulai mengkaji dari manusia otentik. Karakter utama dari dasein adalah being-in-the-world; wujud-dalam-dunia. Kita selalu berada dalam dunia.
Tuhan Maha Akhir
Dari kajian dasein muncul beragam problem yang sulit untuk ditangani: Only a God can cave us; Hanya Tuhan yang bisa selamatkan kita.
Kapan dan bagaimana laku manusia beresonansi dengan Tuhan secara kreatif? Pertanyaan eksak tentang resonansi adalah salah paham. Diam lebih baik dari hiruk-pikuk pencapaian tujuan perayaan agama.
However, it cannot ‘historically’ be said whether, when, and for which hearts be-ing positions itself between the alienated gods and the disturbed human beings and allows the sway of gods and the ownmost of man to resonate in a creative mutual beholding. Indeed, to cling to such questions means mis-cognizing already the fundamental knowing-awareness.
The name “gods” should be ‘said’ only in order to raise the silent reticence of the question-worthiness of gods to a foundational attitude. Whoever turns a deaf ear to this ‘saying’ nonetheless often attests [G249] to a more genuine questioning attitude than those who are concerned with “satisfying” “religious needs”. (Mindfulness, 219)
5. Diskusi
Bagaimana menurut Anda? Benar-benar sulitkan? Atau perlu diperpanjang contoh sulitnya?
Bagaimana urutan dari paling sulit di antara tiga pemikir? Saya mengurutkan paling sulit adalah Laruelle, kemudian Severino, dan akhirnya Heidegger.
Heidegger adalah paling mudah karena dia mulai membahas segala sesuatu yang dekat dengan manusia yaitu dasein. Heidegger sulit karena dia satu langkah lebih dalam dari pengalaman kita sehari-hari lalu lebih dalam lagi dan lagi; kadang melompat terbang tinggi.
Severino lebih sulit dari Heidegger karena Severino menolak pengalaman kita sehari-hari sebagai nyata apa-adanya; yang benar, pengalaman kita adalah penampakan dari wujud nyata; atau tersembunyinya dari wujud nyata.
Laruelle paling sulit karena membahas Esa dari Esa itu sendiri: Vision-in-One. Sementara, kita membahas segalanya dari perspektif manusia. Bagaimana kita bisa membahas yang Esa dari Esa?
Bagaimana menurut Anda?