Efisiensi atau Berpikir

Dikabarkan, dengan efisiensi berhasil menghemat anggaran 200 T rupiah; bahkan sampai 700 T rupiah. Untuk apa berpikir rumit? Bukankah efisiensi sudah memberi hasil dengan jelas?

Anak-anak tidak perlu sekolah SMA karena lulusannya tidak siap kerja; harus melanjutkan sekolah lagi; tidak efisien. Anak-anak cukup sekolah SMK karena lulusannya siap kerja; efisien. Bila ada yang minat lanjut kuliah silakan di berbagai perguruan tinggi.

Pilih efisien atau berpikir?

Jawabannya: pilih keduanya yaitu efisiensi sambil berpikir.

Politikus dan pejabat bisa saja memilih keduanya. Tetapi di banyak kasus, kita harus mengutamakan salah satu saja dan menempatkan lainnya di urutan kedua. Jadi, pilih efisiensi atau berpikir?

Utamakan berpikir dan tempatkan efisiensi pada urutan kedua atau lebih bawah lagi.

1. Teknologi
2. Tugas Manusia
3. Perang Kompetisi
4. Tangan Gaib
5. Diskusi

Bagi mereka yang tidak siap kompetisi maka mereka akan kalah. Bagi yang mengejar kompetisi maka mereka akan kalah semua kecuali yang sampai babak final; dan hanya 1 saja yang klaim jadi juara. Pada waktunya, juara itu akan kalah juga dalam kompetisi. Jadi, pada tahap akhir, semua pihak akan kalah dalam kompetisi. Bagaimana dengan kompetisi teknologi AI?

Sebaliknya, orang yang berpikir maka dia akan menang. Makin banyak orang berpikir maka makin banyak pemenang. Realitasnya, hanya sedikit orang yang bersedia berpikir karena berpikir itu memang berat.

1. Teknologi

Hakikat teknologi adalah framing yang bertujuan untuk mencapai efisiensi absolut. Orang yang mengutamakan teknologi adalah orang yang mengutamakan efisiensi. Kampus yang mengutamakan teknologi adalah mengutamakan efisiensi. Pendidikan yang mengutamakan teknologi adalah mengutamakan efisiensi. Apa masalahnya? Itu adalah masalah besar!

2. Tugas Manusia

Tugas manusia adalah untuk berpikir. Ketika Anda berpikir maka Anda menjadi manusia. Teknologi tidak bisa berpikir maka teknologi tidak jadi manusia. AI tidak bisa berpikir sampai saat ini maka AI tidak jadi manusia. Andai singa bisa berpikir, misal singa bernama Simba atau Mufasa, maka singa itu jadi manusia. Tetapi singa yang bisa berpikir baru ada dalam dongeng pemicu imajinasi.

Sudahkah Anda berpikir hari ini?

Tentu saja, makna berpikir bisa sangat luas. Aku berpikir maka saya ada.

3. Perang Kompetisi

Perang adalah bentuk kompetisi yang menuntut efisiensi tingkat tinggi. Dari pada ada resiko kalah dalam medan tempur, Amerika dan sekutu menjatuhkan bom atom ke Hiroshima Nagasaki. Bom atom adalah senjata efisien pemusnah massal. Sungguh ngeri dan memilukan. Tragedi kemanusiaan terbesar sepanjang sejarah.

4. Tangan Gaib

Ketika terjadi pasar bebas maka akan datang “tangan gaib” atau “invisible hand” yang mendorong sistem ekonomi politik adil makmur.

Pasar bebas terbuka luas saat ini; mengapa tidak terjadi adil makmur?

Karena pasar bebas berubah menjadi pasar kompetisi. Hanya penguasa besar yang akan menang; yang lain kalah semua. Yang kalah menjadi korban ketidak-adilan. Yang menang, akhirnya, seiring waktu akan kalah juga menjadi korban ketidak-adilan. Pasar bebas mendorong situasi tidak adil. Kapan datang tangan-gaib agar adil makmur?

Tangan-gaib akan datang ketika pasar-bebas mau berpikir; ketika pelaku pasar-bebas berpikir secara mendalam. Adil makmur terwujud bersama pasar-bebas yang mampu berpikir itu.

5. Diskusi

Bagaimana cara berpikir?

Cara berpikir adalah reflektif; memantul; bercermin. Cara berpikir adalah berpikir itu sendiri. Sampai titik tertentu, pikiran akan sadar bahwa berpikir adalah anugerah besar dari Sang Pemberi Anugerah.

Singkatnya: manusia harus berpikir dengan cara memikirkan cara berpikir itu sendiri; tidak ada formula pasti bagaimana cara berpikir yang tepat; formula mau pun konten dari berpikir justru harus dipikirkan oleh manusia itu sendiri.

A. Negara Efisien

Trump melakukan efisiensi besar-besaran dengan membatalkan beragam program bantuan pendidikan; menunjuk Elon Musk sebagai “menteri efisiensi” kabinet. Trump akan tampak menang dalam jangka pendek; dalam jangka panjang, Trump akan kalah. Untung saja, kali ini, Trump sudah periode 2 maka tidak akan diperpanjang masa jabatan. Jadi, Trump yakin akan menang.

Prabowo juga melakukan efisiensi besar-besaran terhadap APBN. Dalam jangka pendek, Prabowo akan menang. Kabarnya, Prabowo berhasil menyelamatkan anggaran sampai ratusan trilyun rupiah. Dalam jangka panjang? Kita semua akan mengalami kekalahan. Untungnya, Prabowo akan ikut pilpres 2029. Kita berharap Prabowo akan mengembangkan pemikiran jangka panjang demi rakyat Indonesia.

Jika efisiensi akan merugikan negara itu maka mengapa negara-negara itu melakukan efisiensi? Karena efisiensi menguntungkan dalam jangka pendek. Tipu muslihat efisiensi begitu menggoda dalam hati kita.

B. Pendidikan Efisien

Di Indonesia dan di belahan dunia, sistem pendidikan juga mengarah kepada efisiensi. Hanya pendidikan STEM yang boleh berkembang: sains, teknologi, engineering, math. Anak-anak muda berebut kursi universitas jurusan informatika dan kedokteran; sangat efisien.

Kabarnya, di Indonesia, sulit untuk membuka kampus baru berupa fakultas sosial, humaniora, sastra, budaya, ekonomi, agama, seni, dan lain-lain. Hanya diijinkan membuka kampus baru di bidang STEM. Sangat efisien.

C. Perusahaan Efisien

Perusahaan berlomba-lomba efisiensi dengan menerapkan teknologi termasuk AI (akal imitasi). Penggunaan AI yang luas akan meningkatkan efisiensi perusahaan berdampak PHK besar-besaran.

Tahun 2022, openAI meluncurkan AI berupa chatGPT-3 yang mendominasi pasar. Disusul pesaing-pesaing lain asal Amerika. Tahun 2025, Deepseek meluncurkan versi terbaru mengguncang dominasi pasar. Persaingan AI dari US lawan Tiongkok makin memanaskan bumi. Perang dagang, perang ekonomi, perang teknologi, perang politik dan perang jenis lain mudah terjadi. Berbahaya bagi seluruh bumi. Apa usulan solusi?

Selama semua pihak, semua orang, semua negara mengejar efisiensi maka hasilnya adalah perang.

Solusi: tinggalkan efisiensi dan memperkuat berpikir.

Salah satu fokus penting untuk dipikirkan adalah berpikir kreatif memperkaya diferensiasi berupa kekayaan lokal. Indonesia mengembangkan keunikan Indonesia; Tiongkok mengembangkan keunikan Tiongkok; US mengembangkan keunikan US. Mereka tidak perlu perang; tidak perlu kompetisi; tidak perlu efisiensi; masing-masing adalah unik. Mereka justru bisa saling membantu melalui diplomasi.

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Teknologi sebagai Way of Life

Bertahun-tahun saya heran. Saya mengajukan pertanyaan, “Mengapa beberapa filsuf hidup bahagia penuh makna? Sementara, beberapa filsuf lain hidup penuh derita sampai bunuh diri?”

Beberapa bulan lalu, filsuf etika asal Australia mati di jurang; diduga bunuh diri. Beberapa pekan sebelum kejadian, ia terlibat kasus asusila. Bagaimana hal itu bisa terjadi?

Saya menemukan jawaban bahkan jalan keluar: filsafat sebagai way of life.

Filsafat sebagai way of life adalah solusi dari pertanyaan-pertanyaan saya. Solusi ini tampak mudah saja. Tetapi, sekaligus, menjadi solusi paling sulit. Way of life menuntut kita untuk menjalankan ajaran filsafat secara nyata; bukan sekedar teori abstrak belaka.

Untung saja bulan Februari 2025 ini, kita memperoleh anugerah besar: terbit buku Filsafat sebagai Way of Life (FWL) karya Allahyarham Prof Jalaluddin Rakhmat. Sebuah buku yang penuh inspirasi dengan nilai intelektual spiritual yang sangat tinggi. Sebelum membaca FWL karya Prof Rakhmat (1949 – 2021), saya sudah membaca FWL karya Prof Hadot (1922 – 2010) dengan judul yang sama. Kedua tokoh ini menulis buku dengan judul yang sama tetapi pendekatan berbeda; saling melengkapi. Saat ini, saya ingin membaca filsafat teknologi dengan kaca mata FWL: filsafat teknologi sebagai way of life.

1. Way of Life
2. Filsafat Teknologi
3. Ghazali
4. Pemikiran Indonesia
5. Diskusi

Anda akan merasakan bahwa filsafat begitu mempesona dengan membaca FWL karya Prof Rakhmat ini. Filsafat menjadi ajaran hidup sehari-hari. Prof Rakhmat, atau Prof Jalal, memulai dengan kisah Diogenes yang ugal-ugalan sebagai tokoh filsafat kinisme. Bahkan, Kaisar Aleksander yang agung terpesona ingin menjadi Diogenes. Sebaliknya, Diogenes ingin menjadi Diogenes saja. Aleksander adalah orang terkaya di jamannya; Diogenes adalah orang termiskin di jaman yang sama. Mengapa Aleksander ingin jadi Diogenes?

1. Way of Life

Kata “way of life” bermakna “jalan hidup”; Filsafat sebagai Way of Life adalah filsafat sebagai jalan hidup. Orang tua kita dulu menyebutnya, “elmu iku laku.”

Ilmu menjadi bernilai karena jadi laku; jadi perilaku yang nyata. Filsafat menjadi bermakna bila sebagai way of life.

2. Filsafat Teknologi

Puncak dari filsafat adalah kajian metafisika; saat ini, puncak dari metafisika adalah teknologi. Jadi, puncak dari filsafat adalah teknologi. Dengan demikian, kita perlu menjadikan teknologi sebagai way of life? Bagaimana caranya?

Sayangnya, sering terjadi, teknologi menjadi penjara bagi manusia. Teknologi adalah framing yang mencengkeram manusia. AI (akal imitasi) menjadikan generasi muda malas berpikir. Para siswa berpikir pendek mengandalkan AI yang serba cepat. Banyak siswa SMA, saat ini, tidak bisa menghitung 4 x 7 hasilnya berapa.

Orang dewasa sama saja; dalam cengkeraman penjara teknologi; terutama teknologi angka berupa uang atau harta atau kuasa. Orang hidup hari demi hari dikendalikan oleh uang; dikendalikan oleh angka-angka belaka.

Kita perlu mengembalikan teknologi pada posisi yang tepat: teknologi sebagai way of life; teknologi iku laku. Bagaimana caranya? Cara pertama: bacalah buku FWL.

3. Ghazali

Prof Jalal membahas filsafat atau hikmah dari Al Ghazali dengan sangat indah.

Saya setuju bahwa Ghazali adalah pemikir besar yang luar biasa: hujatul Islam; Sang Pembela Islam. Cendekiawan membaca Ghazali akan mendapat inspirasi. Orang awam membaca Ghazali menjadikan hidup penuh arti. Siapa pun Anda bisa mendapat pelajaran berharga dari Ghazali.

Menariknya, Prof Jalal menyandingkan Ghazali dengan Martha Nussbaum (lahir 6 Mei 1947); pemikir Amerika yang memperoleh penghargaan internasional atas karya-karyanya. Mereka (Ghazali, Nussbaum, dan Prof Jalal) sering mengawali pembahasan dengan kisah inspiratif. Ghazali mengawali pembahasan dengan kisah sufi atau para sahabat Nabi. Nussbaum mengawali pembahasan dengan kisah mitologi dewa Yunani. Kisah-kisah ini menyentuh hati para pembaca. Laku paling utama adalah memberi maaf kepada semua; memberi maaf sebagai way of life bagi kita.

Sudahkah Anda memaafkan saudara-saudara? Sudahkah Anda memaafkan teman-teman? Sudahkah Anda memaafkan pasangan? Sudahkah Anda memaafkan orang tua? Sudahkah Anda memaafkan anak-anak? Sudahkah Anda memaafkan tetangga? Sudahkah Anda memaafkan semua?

4. Pemikiran Indonesia

Bagaimana perkembangan pemikiran di Indonesia saat ini? Buku FWL karya Prof Jalal adalah perkembangan mutakhir pemikiran Indonesia. Kini, tugas kita mengembangkan pemikiran Indonesia lebih jauh lagi.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Teknologi Kecerdasan Buatan

Saya menerima pesan WA dari Prof Dim tentang buku baru “Filsafat Kecerdasan Buatan” karya Martin Suryajaya dkk. “Buku yang sangat menarik dan sangat penting,” balas saya.

Saya langsung cari di internet info lengkap. Buku itu diterbitkan oleh UGM Press dan tersedia daftar isi lengkap secara online; makin membuat saya tertarik untuk membaca bukunya. Beberapa hari kemudian, Prof Dim mengirimkan buku cetak ke alamat saya. Terima kasih banyak Prof Dim atas kebaikan-kebaikannya. Allah membalas dengan kebaikan-kebaikan berlimpah.

1. Masa Depan Kecerdasan
2. Pemikir Terbuka
3. STEM
4. Skeptis
5. Diskusi

Ada lebih dari 10 nama pemikir tercantum sebagai penulis buku. Saya gembira: Indonesia memiliki pemikir-pemikir hebat yang menuangkan pemikiran dalam bentuk buku. Saya yakin masa depan Indonesia makin cemerlang bila generasi muda lebih banyak menulis seperti ini; Visi Futuristik.

1. Masa Depan Kecerdasan

Seluruh penulis sepakat bahwa kecerdasan buatan (KB) atau akal imitasi (AI) menawarkan masa depan yang terbuka luas. Saya setuju itu. Saya sedang menulis buku dengan tema 19 narasi AI yang membahas bentangan masa depan dunia bersama AI. Perkiraan, ITB Press akan menerbitkannya di bulan ini atau bulan depan. Semoga makin menambah meriah dunia intelektual Indonesia.

2. Pemikir Terbuka

Bagian pertama mebahas apa sejatinya AI, prospek AI, dan batasan-batasan AI. Bagian kedua membahas etika berkenaan AI. Dan bagian ketiga membahas kebijakan berkenaan AI. Tentu saja terjadi saling terkait antar semua bagian buku.

Yang paling menarik: semua penulis mengakhiri tulisan dengan kesimpulan atau penutup yang berupa pemikiran terbuka. Penulis mengajak kita untuk berpikir lebih jauh lagi.

3. STEM

Bab 2, Hizkia Polimpung (penulis) mengajak kita untuk berpikir lebih berani. Polimpung mengajak kita untuk mengembangkan sains sosial, humaniora, dan filsafat lebih serius; jangan jadi jargon belaka. Selama ini, pemikiran Indonesia didominasi oleh STEM (sains, teknologi, engineering, dan matematika). Kita perlu melangkah lebih luas dan lebih dalam dari sekedar STEM.

Saya sering cerita kepada generasi muda, dan para mahasiswa, bahwa bakat-bakat anak muda perlu tersebar ke berbagai bidang dengan merata. Saat ini, anak-anak berbakat Indonesia terlalu terkonsentrasi di fakultas kedokteran dan fakultas informatika. Kita butuh lebih banyak bakat anak Indonesia di bidang ekonomi, politik, hukum, edukasi, agama, filsafat, dan lain-lain. Penyebaran bakat akan memupuk kesuburan pemikiran dengan kualitas lebih tinggi.

4. Skeptis

Bab 1, Martin Suryajaya (penulis) membahas AI dengan perspektif filsafat analitis yang mendalam. Saya senang Martin merujuk ke banyak pemikir besar, di antaranya: Searle, Chalmers, Nagel, Sellars. Saya berharap rujukan ini berlanjut sampai ke John McDowell dan Chirimuuta.

Martin menunjukkan bahwa kita tidak bisa mengenali qualia dari orang lain. Qualia adalah pengalaman subyektif oleh seseorang misal Iwan melihat bunga merah secara langsung; atau Iwan merasa haus. Kita hanya “mengenali” qualia Iwan secara tidak langsung dari kata-kata Iwan atau perilaku Iwan.

Demikian juga dengan AI; andai AI memiliki qualia sebagai pengalaman subyektif AI. Kita tidak mampu mengenali qualia AI secara langsung. Konsekuensinya: kita tidak bisa membedakan qualia AI dengan qualia Iwan atau qualia orang lain. Kita agnostik terhadap qualia pihak lain atau orang lain.

Apa sikap terbaik dari situasi agnostik: kita tidak tahu, dan tidak bisa membedakan, qualia AI dengan qualia orang lain?

Sikap skeptis adalah sikap yang tepat. Skeptis adalah sikap berpikir terbuka dengan menunda keputusan akhir. Setiap keputusan terbuka terhadap peluang revisi yang lebih baik.

5. Diskusi

Bab-bab lain dari buku Filsafat Kecerdasan Buatan membahas AI dengan sangat menarik. Anda perlu membacanya langsung dan mendiskusikannya bersama teman-teman. Lebih seru lagi bila Anda membuat sintesa dengan buku-buku kami: Apakah Silikon Bisa Menangis?; Narasi AI; Logika Futuristik; atau lainnya.

Masing-masing bab dari buku Filsafat Kecerdasan Buatan ditulis oleh orang yang berbeda. Sehingga, terasa pembahasan masih di permukaan. Tugas kita adalah untuk mengkajinya lebih dalam.

Saya mencatat beberapa tema untuk kajian lebih dalam: skeptisme; filsafat analitik; filsafat Indonesia; kontinental; filsafat teknologi.

a. Skeptisme

Skeptis adalah sikap yang baik; dengan berpikir terbuka terhadap segala revisi. Hanya saja, saat ini, skeptis sering dianggap sebagai pesimis, negatif, atau buruk. Kita perlu mengembalikan makna skeptis sebagai positif. Saya kadang menyebutnya skepo: skeptis optimis.

Imam Ghazali terkenal sebagai pemikir skeptis. Ghazali meragukan kemampuan indera untuk mendapat kebenaran. Mata mudah tertipu misal oleh fatamorgana. Pikiran mudah tertipu misal sains Newton dikoreksi oleh Einstein. Matematika linier dikoreksi oleh matematika non-linier. Apa solusi dari kelemahan ini? Ghazali mengusulkan pembersihan hati nurani. Hati yang bersih akan terbuka untuk mendapat petunjuk kebenaran dari Allah. Bagaimana pun, petunjuk kebenaran itu sendiri terus-menerus menyempurna bagi umat manusia.

Descartes skeptis terhadap alam raya. Segala pengetahuan bisa diragukan; semua ilmu bisa salah. Apa solusinya? Cogito ergo sum: Aku berpikir maka saya ada. Solusi cogito Descartes ini menjadi landasan perkembangan sains modern sampai saat ini.

Pyrrho barangkali adalah tokoh pertama yang dikenal sebagai skeptis; hidup sejaman dengan Aristoteles. Segala pengetahuan menghadapi trilema yang tidak ada solusi. Sehingga, sikap paling baik adalah skeptis yaitu siap merevisi pandangan dengan yang lebih baik.

Kita perlu skeptis terhadap AI yaitu siap merevisi pandangan kita kepada AI.

b. Filsafat Analitik

Tradisi filsafat analitik berkembang terus sampai saat ini. Sesuai namanya, tradisi analitik melakukan analisis yang detil terhadap AI; mirip analisis mekanika quantum; berbeda dengan analisis gravitasi misal relativitas Einstein. Perkembangan mutakhir filsafat analitik menunjukkan interaksi makin kuat dengan tradisi lain. Misal John McDowell banyak mengkaji pemikiran Gadamer; dan Brandom mengkaji Hegel. Jadi, kita perlu meluaskan kajian tradisi analitik ini.

c. Filsafat Indonesia

Buku Filsafat Kecerdasan Buatan ini sudah berhasil menjadi bukti bahwa filsafat Indonesia terus berkembang sampai masa kini.

Bagaimana dengan sejarah filsafat Indonesia masa lalu? Apakah AI bisa berdialog dengan Dewa Ruci? Pertimbangkan filsafat Sunan Kalijaga yang mengisahkan Bima mencari makna suci air kehidupan dengan berguru kepada Dewa Ruci. Atau pertimbangkan karya sastra Kalijaga Serat Linglung yang membahas dialog Kalijaga dengan Nabi Khidir.

d. Kontinental

Filsafat yang berkembang di Jerman, Prancis, Itali, dan sekitarnya biasa disebut sebagai filsafat kontinental. Sejatinya, filsafat kontinental sudah lebih awal, dan lebih maju, dalam membahas filsafat teknologi. Kita mengenal filsafat teknologi dari beberapa tokoh: Heidegger, Ellul, Baudrillard, Simondon, Derrida, Stiegler, dan lain-lain. Bagaimana kajian AI dari perspektif kontinental?

e. Filsafat Teknologi

Banyak orang salah mengira. Mereka mengira filsafat teknologi adalah cabang dari filsafat yang khusus membahas teknologi. Atau, teknologi yang khusus membahas dari sudut pandang filosofi. Bukan begitu. Atau, pandangan seperti itu tidak lengkap atau tidak adil. Kita perlu menegaskan bahwa filsafat teknologi adalah kajian konkret yang unik. Meski interaksi dengan kajian filsafat dan kajian teknologi, tetapi, filsafat teknologi memiliki kajian yang mandiri dalam dirinya sendiri. Buku Filsafat Kecerdasan Buatan berhasil menunjukkan filsafat teknologi yang konkret ini. Kita perlu mendukung kajian filsafat teknologi untuk berkembang lebih maju.

Bagaimana menurut Anda?

Pemotongan Anggaran: Makan Siang Tanpa Sarapan

Efisiensi adalah salah arah. Efisiensi adalah sesat. Efisiensi adalah tipuan mesin-mesin industri.

Manusia adalah makhluk yang tidak efisien. Atau, Anda bisa jadi manusia karena tidak efisien. Hanya karena tidak efisien maka Anda bisa menjadi manusia sejati. Menolong tetangga adalah tidak efisien; mendengarkan curhatan istri adalah tidak efisien; bercanda dengan anggota keluarga adalah tidak efisien; membaca puisi adalah tidak efisien; olah raga juga tidak efisien. Begitulah, manusia memang tidak efisien.

Bagaimana dengan pemotongan anggaran demi efisiensi sebuah negara? Apakah karena efisien maka pejabat berubah tidak lagi jadi manusia? Apakah rakyat tidak lagi jadi manusia dampak efisiensi?

“Pemerintah mengalihkan hasil pemangkasan anggaran ke program-program unggulan dengan total hampir Rp 240 triliun. Program terbesar adalah ketahanan pangan (Rp 144,6 triliun), disusul MBG (Rp 71 triliun), renovasi sekolah (Rp 20 triliun), dan pemeriksaan kesehatan gratis (Rp 3,2 triliun). Program-program ini dirancang dengan pendekatan ganda: selain memberi manfaat langsung ke masyarakat, juga diharapkan menggerakkan ekonomi lokal melalui keterlibatan UMKM dalam rantai pasoknya. Dari penyediaan bahan makanan untuk MBG hingga material renovasi sekolah, UMKM ditempatkan sebagai mitra utama dalam implementasi program.”

1. Efisien vs Hemat
2. Energi Kekal bukan Imajinasi
3. Diskusi

Presiden Prabowo dikabarkan telah melakukan efisiensi. Bu Menteri mengumumkan pemotongan anggaran di berbagai tempat. Raja-raja kecil, diberitakan, melakukan perlawanan. Apa manfaat positif bagi rakyat?

1. Efisien vs Hemat

“Kita tidak perlu efisien tapi perlu hemat,” kata Iwan.
“Apa bedanya?” Prabu malah bertanya.

Hemat adalah memanfaatkan sumber daya secukupnya saja. Efisien adalah ingin mendapat hasil sebesar-besarnya dengan biaya sekecil-kecilnya.

“Berikan contoh nyata,” Prabu mengejar.
“Anda butuh berkunjung ke daerah menghabiskan bensin 50 liter pakai mobil mewah. Tapi hanya menghabiskan 20 liter pakai mobil biasa. Anda berlaku hemat bila memilih pakai mobil biasa yang 20 liter itu.”

“Apakah yang 50 liter pakai mobil mewah bisa efisien?”
“Bisa efisien. Karena mobil mewah itu adalah sponsor. Anda tidak perlu membayar. Sebagai raja Gemaripa Anda sudah promosi mobil mewah cukup sekedar memakainya. Pejabat-pejabat Anda, dan rekanan pengusaha, akan membeli mobil mewah yang sama.

Mobil mewah itu lebih efisien karena semua biaya ditanggung oleh kerajaan Anda; kemudian anggaran kerajaan Gemaripa itu diganti oleh pabrik mobil mewah. Hanya alam semesta yang rugi karena makin berat menerima polusi 50 liter bensin. Rakyat Gemaripa makin miskin karena gaji mereka, yang sudah kecil, disedot oleh mobil mewah itu,” Iwan menjelaskan.

Prabu mencoba mencerna penjelasan Iwan si cendekiawan.

2. Energi Kekal bukan Imajinasi

Postulat sains fisika dengan tegas menyatakan bahwa energi (dan massa) adalah kekal. Artinya, kita tidak bisa melakukan efisiensi energi; tetapi bisa melakukan penghematan energi.

Energi dan materi itu terbatas karena kita tidak bisa menciptakannya; mereka kekal. Sementara imajinasi, pengetahuan, nilai-nilai, apresiasi, karya seni adalah tak terbatas; bisa terus-menerus diciptakan yang baru. Jadi, kita perlu lebih fokus untuk mengembangkan produktivitas imajinasi dengan energi yang hemat; bukan efisiensi.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tidak efisien adalah boros. Tidak hemat adalah boros. Kita perlu menghindari boros. Kita perlu mencegah pemborosan dengan hemat energi bukan dengan efisiensi energi.

“Mengapa Anda membentuk kabinet yang kecil?” tanya Iwan.
“Karena saya ingin hemat dan fokus melayani rakyat Gemaripa,” jawab Prabu.
“Saya setuju,” balas Iwan.

Prabu melakukan penghematan besar-besaran dengan membentuk kabinet yang terdiri hanya 19 menteri padahal penduduk Gemaripa sekitar 300 juta jiwa. Nyaris tidak ada wakil menteri mau pun staf khusus. Kabinet yang kecil menjadikan Prabu lebih lincah mengabdi kepada rakyat.

“Bagaimana pendapatmu tentang Indonesia?” tanya Prabu.
“Aku masih mencermatinya,” Iwan tampak bingung.

“Bukankah MBG (makan bergizi gratis) adalah bagus?”
“Bagus. Tapi ada yang mengeluh: anaknya dapat makan siang gratis, bapaknya kena PHK, sekeluarga tidak bisa lagi makan.”

Uang Modern

Problem dari uang modern, uang masa kini, adalah: fleksibel, efisien, dan hegemoni.

Uang itu fleksibel karena uang bisa membeli apa saja. Atau, sebaliknya, segalanya bisa dibeli oleh uang. Anda butuh makan, mobil, rumah mewah atau apa saja maka bisa Anda beli asal ada uang.

Kedua, uang itu efisien yaitu uang itu menuntut kita untuk menghasilkan uang lebih besar lagi; secara absolut. Ketika Anda mendapat hadiah uang 2 juta atau 5 juta maka Anda akan memilih 5 juta karena lebih besar. Gaji, tunjangan, bonus dan lain-lain, kita memilih yang lebih besar. Uang adalah efisiensi absolut.

Ketiga, hegemoni segala sesuatu ditentukan oleh uang. Jabatan, sekolah, kesehatan, kesenangan, kecantikan, dan lain-lain ditentukan oleh uang. Orang yang memiliki uang banyak adalah sukses. Orang yang tidak punya uang adalah tidak sukses. Uang adalah segalanya.

Mengapa tiga hal itu jadi masalah? Mengapa uang yang fleksibel, efisien, dan hegemoni jadi masalah?

Semua itu jadi masalah karena semua itu hanya ilusi belaka.

Gila Trump Menular

Presiden US Trump sudah lama gila dan makin menular akhir-akhir ini. Elon Musk dan kawan-kawan bergabung dengan Trump. Di antaranya: Bezos (Amazon), Tim Cook (Apple), Zukerberg (Meta), Brin dan Pichai (Google), dan lain-lain

Kegilaan Trump:

“It’s not a complex thing to do,” Trump said again on Tuesday. “With the United States being in control of that piece of land — that fairly large piece of land — you’re going to have stability in the Middle East for the first time.”

“Ini bukan hal yang rumit untuk dilakukan,” kata Trump lagi pada hari Selasa. “Dengan Amerika Serikat yang memegang kendali atas sebidang tanah itu — sebidang tanah yang cukup luas itu — Anda akan merasakan stabilitas di Timur Tengah untuk pertama kalinya.”

Tanah yang cukup luas adalah Gaza.

[a] Trump ingin mencaplok Kanada; tentu Kanada marah. [b] Trump ingin mencaplok Green Land; sama juga, Green Land marah. Tujuan utama Trump makin terungkap: [c] ingin mencaplok Gaza; masyarakat dunia marah. Apakah Anda marah? Yang tidak marah, barangkali, sudah ketularan gila.

1. Semua Gila
2. Bertahap
3. Diskusi

Meski Trump gila tetapi dia cerdas. Hanya saja, gila mudah menular. Sementara, cerdas butuh program pendidikan agar bisa menular.

1. Semua Gila

Prinsip pertama: semua orang adalah gila kecuali yang waras.

Anda adalah orang gila. Saya, sama saja, adalah orang gila. Jadi Trump mewakili umat manusia yang memang gila. Tetapi, tugas kita adalah menjaga agar waras, agar tetap sehat, agar jiwa kita tetap sehat meski dikepung oleh situasi gila.

Respon paling mudah kepada Trump adalah kita ikut gila. Percayalah, orang tidak perlu melakukan apa pun sudah pasti akan jadi gila. Kita perlu sekolah agar waras. Kita perlu membaca agar waras. Kita perlu membuka hati agar waras. Kita perlu empati agar waras. Kita perlu berdoa di hening malam sunyi agar waras.

2. Bertahap

Trump mengajak manusia agar kembali gila secara bertahap.

Pertama, Trump ingin mencaplok Kanada. Secara geografis, Kanada memang dijepit oleh US dari selatan dan utara. Sementara, Kanada menginduk ke UK. Dengan mudah, Kanada bisa mengubah induk dari UK, yang jauh di Eropa, ke US yang memang berdampingan dengan mereka. Kanada menolak keras ide gila itu. Kanada adalah berdaulat penuh.

Kedua, Trump ingin mencaplok Green Land; lebih masuk akal. Green Land adalah wilayah kecil yang penduduk hanya ratusan ribu. Green Land menginduk ke Denmark dengan ikatan yang tipis. Green Land dengan mudah mengubah induk ke US. Green Land menolak. Green Land berdaulat.

Ketiga, Trump ingin mencaplok Gaza demi menciptakan perdamaian kawasan Timur Tengah. Israel menghabiskan uang jutaan dolar untuk menghancurkan Gaza berpuluh-puluh tahun. Ribuan warga Gaza menjadi korban meninggal; ribuan lainnya terpaksa mengungsi; dan beberapa yang menetap di Gaza berada dalam kesulitan.

Trump ingin mengamankan warga Gaza yang ada dengan memindahkan ke wilayah sekitar; atau ke Indonesia. Kemudian, Gaza yang kosong akan diratakan dengan tanah oleh Trump; lalu dibangun kota baru yang damai di bawah penjagaan US. Trump mimpi mendapat penghargaan Nobel perdamaian atas jasanya mewujudkan perdamaian Timur Tengah.

Ide gila Trump ini ditolak oleh warga Gaza, warga Palestina, dan warga dunia yang waras.

Tanah Gaza adalah milik warga Gaza sepenuhnya. Warga Gaza berhak penuh untuk hidup dan mati di Gaza; untuk berjuang dan istirahat di Gaza; untuk jatuh cinta dan patah hati di Gaza. Warga Gaza adalah tuan rumah di tanahnya sendiri. Warga Gaza berhak bertamu ke seluruh dunia. Warga Gaza berhak mengundang warga dunia bertamu ke rumah Gaza.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Meski ide Trump tampak gila, lambat laun, manusia di dunia bisa ketularan menjadi gila. Jika jumlah orang gila makin banyak, bisa jadi, orang waras yang menolak Trump justru dianggap sebagai gila.

Waras adalah manusia berkualitas. Perjuangan itu memang pantas.

Trump makin gila akhir 2025 sampai awal 2026: ia menyerang Venezuela dan menangkap presidennya: “Penculikan terhadap pemimpin otoriter Venezuela (Maduro) yang telah lama berkuasa—beserta istrinya—oleh Amerika Serikat (Trump) terjadi setelah berbulan-bulan meningkatnya ketegangan antara kedua negara, termasuk serangan Amerika Serikat terhadap kapal-kapal yang diduga terlibat dalam perdagangan narkotika serta pengerahan kapal-kapal militer AS di perairan dekat pesisir Venezuela.”

Filsafat Teknologi: Kritik Akal Imitasi

Pekan lalu, saya menerima kiriman tiga buku AI (akal imitasi / artificial intelligence) dari Prof Dim. Seluruh buku baru terbit, masih hangat, di akhir 2024 atau awal 2025. Terima kasih banyak Prof Dim.

“Buku Religion and Artificial Intelligence ini sangat bagus. Saya baca sekilas, pembahasannya mendalam dan luas,” ungkap Prof Dim.

Setelah saya membaca buku-buku itu, “Saya setuju bahwa buku-buku itu sangat kita perlukan. Kita perlu mengkajinya lebih mendalam.”

Saya sudah membaca bab 7 “Islam and Artificial Intelligence” versi digital beberapa bulan sebelumynya. Chaudhary, penulis, membahas teknologi dan filsafat Islam yang berkembang pesat sepanjang sejarah. Islam berhasil menempatkan teknologi pada posisi yang tepat sebagai teman manusia untuk memakmurkan alam dan mengabdi kepada Tuhan. Tidak ada masalah serius terhadap teknologi. Hanya saja, perkembangan AI memang luar biasa. Ada resiko pelanggaran global: tidak adil, merusak alam, mempertajam ketimpangan sosial, dan lain-lain. Sehingga, kita perlu membahas AI dengan baik.

Beth Singler melanjutkan dengan buku yang dia tulis sendiri dengan judul yang sama: Religion and Artificial Intelligence. Singler menunjukkan karakter niscaya ikatan agama dan AI. Respon agama terhadap AI ada tiga macam: rejection, adoption, dan adaptation.

Buku ketiga, saya sebut sebagai Kritik Akal Imitasi; meniru judul buku Kant yaitu Kritik Akal Murni yang terbit sekitar 300 tahun yang lalu. Judul asli buku itu adalah Inside AI karya Akli Adjaoute.

Kritik Akal Imitasi membahas AI secara lengkap serta batas-batas bagi AI. Pemahaman mendalam terhadap AI dan tidak melampaui batas itulah yang kita sebut sebagai Kritik Akal Imitasi. Mereka yang melampaui batas, misal menganggap AI memiliki kesadaran, perlu dikritik dengan keras. Karena AI memang tidak mungking memiliki kesadaran menurut penulis. Bahkan, AI tidak sanggup sekedar untuk memahami. AI adalah sekedar program komputer.

1. Kritik AI
2. Outside AI
3. Futuristik
4. Histori
5. Diskusi

Dari kacamata filsafat teknologi, kita perlu mengembangkan kritik terhadap AI. Dengan kritik, AI bisa berkembang pesat dan mencegah resiko-resiko yang mungkin bisa terjadi.

1. Kritik AI

Kita perlu melihat realitas AI sampai saat ini dan membedakan dengan sains fiksi. Realitas AI memang mempesona, mengagumkan, dan luar biasa. Di masa depan, kita menduga, AI akan berkembang makin hebat. Bagaimana pun, AI tetaplah sebuah teknologi. AI bukan robot mirip transformer; AI tidak memiliki kehendak; AI tidak memiliki kesadaran; AI tidak mirip dengan kecerdasan manusia.

Kita perlu mengembangkan: kritik inside AI.

2. Outside AI

Kita perlu melihat AI dari luar: outside AI. Dari luar, AI merusak lingkungan dengan menambah polusi udara; AI mengancam pekerja dengan PHK, pemecatan pekerja, di beberapa tempat; minimal, AI menutup banyak lowongan kerja; AI memperlebar kesenjangan sosial; AI memperbodoh para siswa dan umat manusia, dan lain-lain.

Adakah dampak positif AI dilihat dari luar? Tentu, AI menjadikan orang kaya makin kaya. AI menjadikan orang mabuk kepayang judi online terpesona impian kosong. AI menjadikan emak-emak kecanduan nikmatnya media sosial. AI menjadikan manusia menikmati hidup penuh manja.

3. Futuristik

Bagaimana masa depan AI?

Masa depan adalah posibilitas luas bagi AI; adalah bebas dan untuk membebaskan; masa depan menuntut komitmen tanggung jawab bagi setiap orang.

4. Histori

AI adalah produk dari histori dan membentuk histori. Bagaimana narasi histori AI?

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Filsafat Teknologi: Update Heideger 2025

Pemikiran Heidegger kontroversial dan kriptik; sulit dipahami. Analisis Heidegger terhadap teknologi tepat mengenai jantung esensi teknologi. Bagi Heidegger, esensi teknologi adalah gestell atau enframing; esensi teknologi tidak bersifat teknologis.

Saya heran mengapa entri Martin Heidegger di SEP diganti dengan baru? Padahal entri Heidegger yang lama sudah bagus. Saya cek entri yang baru memang bagus juga; membahas metafisika yang berpuncak pada teknologi dengan gamblang.

1. Only a God
2. Teknologi
3. Futuristik

Saya banyak membahas pemikiran Heidegger. Berikut beberapa catatan ringkas awal 2025.

1. Only a God

Heidegger menyatakan: “Hanya Tuhan Esa yang dapat selamatkan kita.”

Entri SEP lama memuat tema Tuhan pada subjudul khusus.

“Mengapa Heidegger yakin bahwa orang Jerman menikmati posisi penting dalam sejarah dunia ini? Dalam tulisan-tulisannya selanjutnya, Heidegger secara eksplisit berpendapat bahwa “[p]emikiran itu sendiri hanya dapat diubah oleh pemikiran yang memiliki asal-usul dan panggilan yang sama”, sehingga mode Eksistensi teknologis harus dilampaui melalui pemaknaan baru tradisi Eropa. Dalam proses ini, orang Jerman memiliki tempat khusus, karena “hubungan internal bahasa Jerman dengan bahasa Yunani dan dengan pemikiran mereka”. (Kutipan dari Hanya Tuhan yang Dapat Menyelamatkan Kita 113.)

Jadi, bahasa Jermanlah yang menghubungkan orang Jerman dengan cara istimewa, seperti yang dilihat Heidegger, dengan asal-usul pemikiran Eropa dan dengan pandangan dunia pra-teknologis yang di dalamnya melahirkan sebagai poiesis adalah dominan.

Ini menggambarkan poin umum bahwa, bagi Heidegger, Keberadaan terkait erat dengan bahasa. Bahasa adalah, seperti yang ia katakan dengan terkenal dalam Surat tentang Humanisme (217), “rumah Keberadaan”. Jadi melalui bahasa, Keberadaan terhubung dengan orang-orang tertentu.” (SEP lama, 2011)

Dalam kekecauan manusia, perang Rusia Ukraina, perang genosida Palestina oleh Israel, perang teknologi AI, krisis iklim, dan lain-lain, Heidegger yakin hanya Tuhan yang bisa selamatkan kita.

Untuk selamat, manusia perlu bahasa yang tepat. Jerman memiliki bahasa yang tepat karena terhubung dengan Eropa kuno. Tetapi kita tahu bahwa Tuhan berfirman berupa bahasa paling tepat yaitu kitab suci. Sudah waktunya, manusia untuk belajar bahasa yang tepat.

2. Teknologi

Teknologi adalah puncak dari metafisika atau filsafat. Entri SEP baru, versi 2025, membahas dengan jelas.

“Martin Heidegger (1889–1976) adalah tokoh utama dalam pengembangan Filsafat Eropa abad kedua puluh. Karya besarnya, Being and Time (1927), dan banyak esai serta ceramahnya, sangat memengaruhi gerakan-gerakan berikutnya dalam filsafat Eropa, termasuk filsafat politik Hannah Arendt, eksistensialisme Jean-Paul Sartre, feminisme Simone de Beauvoir, fenomenologi persepsi Maurice Merleau-Ponty, hermeneutika Hans-Georg Gadamer, dekonstruksi Jacques Derrida, pascastrukturalisme Michel Foucault, metafisika Gilles Deleuze, Mazhab Frankfurt, dan teoritikus kritis seperti Theodor Adorno, Herbert Marcuse, Jürgen Habermas, dan Georg Lukács.

Di luar Eropa, Being and Time telah memengaruhi gerakan-gerakan seperti Mazhab Kyoto di Jepang, dan filsuf Amerika Utara seperti Hubert Dreyfus, Richard Rorty, dan Charles Taylor. Pengaruhnya telah meluas jauh melampaui batas filsafat akademis, dan analisis eksistensialnya tentang keberadaan manusia telah mengilhami para ahli teori di berbagai bidang seperti teologi, antropologi, sosiologi, psikologi, estetika, kritik sastra, ilmu politik, manajemen strategis, dan ilmu kognitif.

Pertanyaan yang mendorong dalam karya Heidegger adalah “pertanyaan tentang keberadaan”—pertanyaan tentang makna atau rasa keberadaan—dan ia berpendapat bahwa pemahaman kita tentang keberadaan terstruktur secara temporal.”

“Dalam menganalisis “cara pengungkapan” teknologi, Heidegger berfokus pada

(a) suasana hati atau penyesuaian mendasar yang berlaku di dunia teknologi;

(b) karakteristik dasar entitas—cara mereka “hadir” atau menawarkan diri untuk kita pahami; dan

(c) cara entitas dikumpulkan dan diorganisasikan menjadi satu kesatuan.

Suasana zaman teknologi adalah suasana kebosanan yang mendalam (untuk tinjauan kritis klaim ini, lihat Beistegui 2003: 68 dst.). Ketika kita menyesuaikan diri dengan entitas karena kebosanan, mereka penting bagi kita hanya sejauh mereka meredakan kebosanan ini dengan menawarkan kita pengalihan sementara.[89]

Nama Heidegger untuk karakteristik ontologis dasar entitas (termasuk kita manusia) di zaman teknologi adalah Bestand, sering diterjemahkan sebagai “sumber daya” tetapi mungkin paling tepat diterjemahkan sebagai “stok”—seperti ketika kita berbicara tentang “stok” suku cadang yang dapat diganti yang disimpan dalam inventaris. Ketika sesuatu “dalam stok”, itu ada di tangan dan tersedia untuk dipilih. Potongan stok didefinisikan berdasarkan sifatnya yang dapat diganti dan saling menggantikan (lihat GA79: 36–37).

Sumber daya atau potongan stok dikumpulkan atau diorganisasikan, sebagai satu kesatuan utuh, dalam apa yang Heidegger sebut das Gestell (kadang-kadang ia menuliskannya dengan tanda hubung sebagai: Ge-Stell). Kata kerja dasar stellen berarti menempatkan, menyediakan, atau menempatkan. Ketika Heidegger menggunakan kata tersebut sebagai istilah ontologis, ia menjelaskan bahwa ia mengambil awalan Ge- sebagai ungkapan “pengumpulan, penyatuan, penyatuan semua cara penyediaan atau penempatan” (GA15: 366 / FS 60). Dan “pengertian penempatan di sini adalah menantang”—yaitu, memaksa atau memaksa alam untuk “menyerah” pada tuntutan tatanan teknologi (GA15: 366 / FS 60).

Mungkin tidak mengherankan, ‘Gestell’ terbukti menjadi kata yang sulit diterjemahkan. Selama bertahun-tahun, terjemahan defaultnya adalah “enframing”—menangkap gagasan bahwa di era teknologi, entitas ditetapkan dalam kerangka eksploitatif. Baru-baru ini, Kisiel berpendapat bahwa itu harus diterjemahkan sebagai “syn-thetic com-posit(ion)ing”, menjelaskan bahwa “kata sifat yang berakar dari bahasa Yunani ‘synthetic’ menambahkan nada artifaktualitas dan bahkan artifisialitas pada sintesis posisi dan posit” (Kisiel 2021: 710). Wrathall telah memilih “inventaris”, untuk menangkap gagasan inti bahwa, dalam teknologi, entitas “dikumpulkan” dan “dikonfigurasi ulang” sehingga mereka dapat “disimpan atau ditempatkan sedemikian rupa sehingga mereka siap dipanggil dan tersedia untuk digunakan, digabungkan, dan dikonfigurasi ulang dengan cara apa pun yang kita anggap sesuai” (Wrathall 2021g: 434). Namun ide dasarnya adalah bahwa teknologi menemukan entitas apa saja dengan memaksa mereka untuk mengambil bentuk yang memungkinkan semuanya dikumpulkan dan diurutkan dan diatur sesuai permintaan dengan cara yang memaksimalkan kegunaannya.” (SEP baru, 2025).

Mode dari teknologi adalah: membosankan; fokus angka; dan eksploitasi. Karena itu kita perlu membahas filsafat teknologi secara mendalam.

“Metafisika, menurut Heidegger, mencapai bentuk final dan sempurnanya di era teknologi.[93] Tidak akan ada gaya ontologis baru yang mencakup semuanya. Alasan untuk berpikir bahwa era teknologi adalah zaman metafisik terakhir tampaknya terletak pada kemampuan teknologi untuk menggabungkan dan “meningkatkan” praktik apa pun. Dengan kata lain, tidak ada praktik yang muncul yang dapat membawa kita melampaui tatanan teknologi, karena kebaikan apa pun yang mungkin kita putuskan untuk dikejar dapat disiapkan, dikomoditisasi, dan ditawarkan sebagai opsi yang tersedia melalui teknologi.[94] Satu-satunya jalan keluar dari teknologi mengharuskan kita terlebih dahulu menyelaraskan diri sedemikian rupa sehingga kita tidak menginginkan kebebasan tak terbatas dari konsumsi tanpa tujuan bagi diri kita sendiri.”

Solusi bagi teknologi: kita perlu diri selaras; menerima kebebasan dalam batas; dan tujuan masa depan luas.

3. Futuristik

Teknologi menindas manusia. Teknologi adalah puncak metafisika. Bahasa didominasi oleh bahasa metafisika. Jadi, lengkap sudah, dominasi metafisika terhadap manusia; atau manusia mengungkung diri dalam jebakan metafisika. Kita perlu mendobrak metafisika melalui pintu futuristik. Manusia tidak akan mampu mendobrak pintu futuristik kecuali Tuhan menyelamatkan kita.

Dalam tulisan sebelumnya, saya merumuskan konsep Tuhan versi Heidegger. Gadamer menyebut bahwa Heidegger adalah sang pencari Tuhan.

“Tuhan adalah yang paling jelas; Maha Dahir dan Maha Cahaya. Tetapi Tuhan adalah yang paling tersembunyi; Maha Batin dan Maha Akhir. Bagaimana kita bisa memahami konsep Ketuhanan? Bagaimana kita bisa tergetar oleh hadirnya Tuhan? Bagaimana kita bisa melihat ke mana pun hanya ada wajah Tuhan?” (Tuhan Versi Heidegger)

Bagaimana menurut Anda?

Kuliah Filsafat Teknologi di Indonesia

Kita membutuhkan filsafat teknologi. Para mahasiswa perlu belajar filsafat teknologi; baik mahasiswa S1, S2, S3, mau pun diploma. Bahkan, masyarakat umum juga perlu mengenal filsafat teknologi. Mengapa?

Kita butuh filsafat tekonologi beda dengan konsep teknologi; beda dengan etika teknologi; beda dengan filsafat spesialisasi teknologi. Karena hanya filsafat teknologi yang berhak membahas teknologi secara luas dan mendalam; secara kreatif dan kritis; secara santai dan serius; secara nyata dan fiksi; secara histori dan futuristik; dan lain-lain.

1. Teknologi Tiap Hari
2. Pertanyaan Fundamental
3. Menteri Pendidikan

Klise: kita hidup bersama teknologi setiap hari di era digital ini. Di jaman kuno pun, setiap manusia selalu hidup bersama teknologi sehingga dikenal sebagai homo faber: makhluk yang mengembangkan teknologi. Hanya saja, di jaman sekarang, penggunaan teknologi makin kuat; makin dahsyat. Perkembangan teknologi berupa AI (artificial intelligence / akal imitasi) adalah anugerah sekaligus bencana bagi manusia dan alam semesta.

1. Teknologi Tiap Hari

Nenek moyang kita mengenakan baju sesuai jamannya. Baju adalah teknologi yang kita pakai setiap hari. Leluhur kita mengendarai kereta kuda adalah teknologi. Kita membaca media sosial secara online adalah teknologi.

Tetapi media sosial adalah berbeda, mengapa?

Nenek moyang kita menciptakan teknologi baju dengan berinteraksi alamiah bersama alam; demikian juga, kereta kuda adalah interaksi alamiah. Tetapi media sosial adalah interaksi artifisial; interaksi manipulasi; interaksi tidak alamiah.

Masalah dari interaksi artifisial, misal media sosial atau judi online, adalah terjadi kecanduan akibat manipulasi oleh bandar untuk keuntungan bandar dan merugikan warga dunia.

2. Pertanyaan Fundamental

Apa hakikat teknologi?

Hakikat teknologi berbeda dengan penampakan teknologi. Hakikat teknologi tidak bersifat teknologis. Hakikat teknologi adalah enframing; pengemasan atau pencitraan.

Hakikat teknologi adalah alat. Gunakan alat untuk kebaikan dan cegah bahayanya. Memaknai hakikat teknologi sebagai alat adalah cara memaknai teknologi paling dasar, paling sederhana, atau paling banal. Kita butuh memaknai teknologi dengan lebih tinggi.

Apa hakikat teknologi judi online? Apa hakikat judol? Hakikat judol adalah media atau alat untuk berjudi. Judol lebih dari sekedar alat judi. Hakikat judol, judi online, adalah enframing: manipulasi kemasan untuk menjerat orang ketagihan judol sehingga mereka rugi finansial dan bandar untung besar dari judol.

Di sisi lebih besar, bandar judol sendiri terjerat oleh teknologi yang lebih besar, misal, teknologi finansial. Bandar terjebak, oleh enframing, godaan keuntungan uang besar; lalu dia membuat program judol untuk menjebak masyarakat. Bandar mau pun penjudi, sama-sama, terjebak oleh teknologi.

Apa perbedaan judol dengan judi biasa misal lempar dadu? Dalam judi lempar dadu, siapa pun bisa menang dan bisa kalah; secara alamiah. Karena lemparan dadu berperilaku secara alamiah. Dalam judol, perilaku dadu alamiah dimanipulasi oleh bandar sesuai kepentingan bandar. Bisa saja, setiap pemain judol pasti kalah dan bandar pasti menang; terutama dalam rentang waktu cukup panjang.

Adakah solusi? Kita perlu belajar filsafat teknologi.

3. Menteri Pendidikan

Di mana kita bisa belajar filsafat teknologi. Kita bisa belajar filsafat teknologi melalui kuliah filsafat teknologi. Jadi solusi sederhana adalah menteri pendidikan menetapkan mata kuliah filsafat teknologi sebagai mata kuliah wajib untuk mahasiswa S1, S2, S3, dan diploma.

Alternatif belajar filsafat teknologi adalah melalui buku-buku; baik buku cetak mau pun buku digital. Anda juga bisa belajar melalui video dan tulisan saya tersebar di berbagai media.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tantangan besar ada di depan kita. Teknologi lebih dari sekedar alat. Kita butuh memahami teknologi dari kaca mata filsafat teknologi.

Kesejukan yang Membakar Hutan

Musim dingin. Musim salju. Terjadi kebakaran hutan; kebakaran gedung-gedung; kebakaran rumah-rumah dan bangunan. Los Angeles terbakar membara seluas hampir setengah ibu kota provinsi di Jawa. Mengapa bisa terjadi kebakaran ketika musim dingin?

LA yang terbakar di bulan Januari 2025 adalah berbeda dengan LA tahun 2024; lebih beda lagi dengan LA tahun 2000 apalagi tahun 1700. LA tahun 2025 memang “berpotensi besar” untuk terbakar karena didukung oleh situasi bumi yang makin panas.

1 .Pendingin yang Memanas
2. Panas Luar Dalam
3. Etika Antientropi
4. Diskusi

LA yang musim dingin saja, terdapat salju di beberapa tempat, bisa terbakar maka bagaimana dengan Jakarta atau IKN yang panas dekat katulistiwa? Tentu saja, Jakarta resiko besar untuk terbakar. Demikian juga kota-kota lain di seluruh dunia menghadapi resiko terbakar yang makin besar.

Sesuai hukum sains fisika, energi di alam semesta adalah konstan; dalam jumlah yang tetap sama. Seharusnya, suhu bumi berada dalam rentang yang konstan; naik turun dengan batas-batas yang hampir tetap sama; seharusnya, tidak terjadi kebakaran hutan; tidak terjadi perang; tidak terjadi ledakan bom. Mengapa terjadi kebakaran? Mengapa terjadi perang?

Masih mengacu hukum sains fisika, entropi alam semesta selalu naik; kekacauan dunia makin kacau balau; kerusakan alam makin sering terjadi. Mengapa?

1 .Pendingin yang Memanas

Apakah Anda pernah berada dalam ruang yang dingin pakai AC? Barangkali naik kendaraan dengan pendingin AC?

AC adalah kesejukan yang membakar dunia.

AC bisa mendinginkan ruang Anda dengan cara memindahkan panas dalam ruang ke luar ruangan. Dalam ruang jadi dingin; luar ruang jadi panas. Total energi di sistem itu tetap konstan.

Di Bandung Utara terdapat kolam renang air hangat. Kabarnya, penghangat kolam renang adalah panas hasil dari AC hotel yang disalurkan menuju kolam renang. Anda bisa menikmati kolam renang air hangat ini dengan nikmat. Hanya 1 hotel itu saja dari ratusan hotel di Bandung yang seperti itu; setahu saya. Ratusan hotel yang lain membiarkan hasil panas dampak dari AC menguap di udara dan memanaskan bumi pertiwi.

Jadi, orang yang pakai AC adalah egois? Mereka membuat ruangan miliknya dingin tetapi tetangga sebelah menjadi panas? Apa alternatif selain AC?

Alternatif terbaik adalah dengan menanam pohon di dekat rumah; di beberapa tempat; dan menjadi paru-paru kota. Pohon menjadikan kota sejuk; terlindung dari panas matahari; mengubah CO2 menjadi O2 yang menyehatkan. Pohon menghasilkan bunga yang indah; pohon menghasilkan buah yang berkah; pohon menjaga bumi.

Bagaimana dengan AI? Teknologi AI ikut membakar bumi. AI butuh pendingin lebih besar dari AC hotel; lebih besar dari 100 hotel; bahkan lebih besar dari ribuan hotel.

2. Panas Luar Dalam

Bumi memang makin panas. Akhir 2024, panas bumi naik 1,5 derajat Celcius dari era pra industri; angka kenaikan yang berbahaya bagi alam semesta. Lebih bahaya lagi karena panas di alam luar itu juga dibarengi dengan panas di dalam dada; jiwa umat manusia makin panas. Apa ada solusi?

3. Etika Antientropi

Lakukan kebaikan dan cegah keburukan. Aturan etika, dan agama, yang jelas dan tegas. Semua masalah akan selesai dengan baik bila kita menjalankan aturan etika yang universal itu. Mengapa tidak dilakukan?

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Pilih Qabil atau Habil?

Qabil adalah manusia pertama yang melakukan pembunuhan terhadap manusia lainnya; yaitu terhadap Habil. Anda memihak Qabil atau Habil?

Sejak kecil, kita diajarkan untuk membela Habil; sang korban. Kita menolak Qabil; kita mengutuk Qabil; kita marah kepada Qabil sang pembunuh. Tetapi mengapa banyak orang meniru perilaku Qabil. Dalam Bibel, Qabil adalah Cain dan Habil adalah Abel.

1. Kisah Asli
2. Makna Futuristik
3. Memihak Korban
4. Diskusi
5. Penutup

Ketika umat manusia memilih jadi Habil maka berbagai problem sulit akan bisa kita selesaikan dengan baik. Bila US memihak Habil maka perang genosida terhadap Palestina bisa dihentikan; Israel damai dengan Palestina. Bila Rusia memihak Habil maka perang Rusia-Ukraina berakhir. Bila para pejabat dan pengusaha memilih Habil maka adil makmur bagai jamur tumbuh subur.

Mengapa justru nafsu Qabil (Cain) banyak menggoda?

1. Kisah Asli

Mari kita cermati redaksi kisah asli Qabil Habil dengan merujuk ke Bibel dan Quran.

Al Quran, Al Maidah 27 – 30:

“وَاتۡلُ عَلَيۡهِمۡ نَبَاَ ابۡنَىۡ اٰدَمَ بِالۡحَـقِّ‌ۘ اِذۡ قَرَّبَا قُرۡبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنۡ اَحَدِهِمَا وَلَمۡ يُتَقَبَّلۡ مِنَ الۡاٰخَرِؕ قَالَ لَاَقۡتُلَـنَّكَ‌ؕ قَالَ اِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللّٰهُ مِنَ الۡمُتَّقِيۡنَ

Dan ceritakanlah (Muhammad) yang sebenarnya kepada mereka tentang kisah kedua putra Adam, ketika keduanya mempersembahkan kurban, maka (kurban) salah seorang dari mereka berdua (Habil) diterima dan dari yang lain (Qabil) tidak diterima. Dia (Qabil) berkata, “Sungguh, aku pasti membunuhmu!” Dia (Habil) berkata, “Sesungguhnya Allah hanya menerima (amal) dari orang yang bertakwa.”

لَٮِٕنۡۢ بَسَطْتَّ اِلَىَّ يَدَكَ لِتَقۡتُلَنِىۡ مَاۤ اَنَا بِبَاسِطٍ يَّدِىَ اِلَيۡكَ لِاَقۡتُلَكَ‌ ۚ اِنِّىۡۤ اَخَافُ اللّٰهَ رَبَّ الۡعٰلَمِيۡنَ

“Sungguh, jika engkau (Qabil) menggerakkan tanganmu kepadaku untuk membunuhku, aku tidak akan menggerakkan tanganku kepadamu untuk membunuhmu. Aku takut kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”

اِنِّىۡۤ اُرِيۡدُ اَنۡ تَبُوۡٓءَ بِاِثۡمِىۡ وَ اِثۡمِكَ فَتَكُوۡنَ مِنۡ اَصۡحٰبِ النَّارِ‌ۚ وَذٰ لِكَ جَزٰٓؤُا الظّٰلِمِيۡنَ‌

“Sesungguhnya aku ingin agar engkau kembali dengan (membawa) dosa (membunuh)ku dan dosamu sendiri, maka engkau akan menjadi penghuni neraka; dan itulah balasan bagi orang yang zhalim.”

فَطَوَّعَتۡ لَهٗ نَفۡسُهٗ قَـتۡلَ اَخِيۡهِ فَقَتَلَهٗ فَاَصۡبَحَ مِنَ الۡخٰسِرِيۡنَ

Maka nafsu (Qabil) mendorongnya untuk membunuh saudaranya, kemudian dia pun (benar-benar) membunuhnya, maka jadilah dia termasuk orang yang rugi.”

Bersumber Wikipedia dari Genesis:

“Then the Lord said to Cain, “Where is your brother Abel?” He said, “I do not know; am I my brother’s keeper?”[iv] And the Lord said, “What have you done? Listen; your brother’s blood is crying out to me from the ground! And now you are cursed from the ground, which has opened its mouth to receive your brother’s blood from your hand.[v] When you till the ground, it will no longer yield to you its strength; you will be a fugitive and a wanderer on the earth.” Cain said to the Lord, “My punishment is greater than I can bear! Today you have driven me away from the soil, and I shall be hidden from your face; I shall be a fugitive and a wanderer on the earth, and anyone who meets me may kill me.” Then the Lord said to him, “Not so! Whoever kills Cain will suffer a sevenfold vengeance.” And the Lord put a mark on Cain, so that no one who came upon him would kill him.”

“Lalu Tuhan berfirman kepada Kain, “Di mana Habel, adikmu?” Jawabnya, “Aku tidak tahu; apakah aku penjaga adikku?”[iv] Dan Tuhan berfirman, “Apakah yang telah kaulakukan? Dengarlah, darah adikmu berseru kepada-Ku dari tanah! Dan sekarang, terkutuklah engkau, karena tanah telah mengangakan mulutnya untuk menerima darah adikmu dari tanganmu.[v] Ketika engkau mengolah tanah, tanah itu tidak akan lagi memberikan kekuatannya kepadamu; engkau akan menjadi pelarian dan pengembara di bumi.” Kain berkata kepada Tuhan, “Hukumanku lebih besar daripada yang dapat kutanggung! Hari ini Engkau telah mengusir aku dari tanah, dan aku akan tersembunyi dari hadapan-Mu; aku akan menjadi pelarian dan pengembara di bumi, dan siapa pun yang bertemu denganku akan membunuhku.” Lalu Tuhan berfirman kepadanya, “Tidak demikian! Siapa pun yang membunuh Kain akan mengalami pembalasan tujuh kali lipat.” Dan Tuhan memberi tanda pada Kain, sehingga tidak seorang pun yang bertemu dengannya akan membunuhnya.”

Kitab suci menceritakan Qabil dan Habil secara jelas dan mengutuk perilaku Qabil yang jahat.

2. Makna Futuristik

Mengapa persembahan kurban dari Qabil (Cain / Kain) ditolak?

Qabil marah karena persembahannya ditolak; kemudian, Qabil mengancam akan membunuh Habil (Abel).

Habil menjelaskan bahwa Tuhan hanya menerima persembahan kurban dari orang yang “benar-benar bertakwa” (muttaqin). Qabil memahami itu. Mereka sepakat: Habil adalah orang bertakwa sehingga diterima Tuhan; Qabil adalah bukan orang bertakwa sehingga tidak diterima.

Apa itu orang bertakwa? Makna orang bertakwa, dalam kisah di atas, adalah sudah jelas. Habil bertakwa dengan menjaga ternak domba agar domba berkembang dengan baik. Habil mengambil susu domba dan daging domba sekedar keperluan; dan agar populasi domba harmonis dengan alam sekitar; Habil memberikan yang terbaik kepada masyarakat.

Qabil hanya bertopeng saja; Qabil bisa mengaku memberi persembahan tetapi hanya topeng atau kedok belaka. Qabil eksploitasi bumi untuk nafsunya; menyisakan sisa-sisa, yang rusak, untuk alam dan masyarakat. Persembahan Qabil yang hanya topeng ini ditolak.

Tetapi kita butuh informasi lebih tegas: apa makna orang bertakwa? Makna-futuristik mempertegas makna orang bertakwa. Kisah selanjutnya mempertegas makna takwa ini.

Habil adalah orang bertakwa: Habil tidak menyerang Qabil meski Qabil menyerang Habil. Tentu, Habil bisa mempertahankan diri tetapi Habil tidak pernah menyerang.

Habil adalah solusi untuk semua problem kita di bumi ini. Jadilah bertakwa; jadilah Habil; jangan pernah menyerang siapa pun.

Andai Israel jadi Habil; tidak menyerang; maka tidak ada perang dengan Palestina. Andai US tidak menyerang maka tidak ada perang. Andai Hamas tidak menyerang maka tidak ada perang. Andai Rusia tidak menyerang maka tidak ada perang.

Tetapi banyak pihak tidak berpihak ke Habil. Mereka malah melakukan serangan. Mereka sepihak dengan Qabil yang terkutuk. Jika setiap pihak menjadi Qabil maka pasti terjadi perang karena saling serang. Anehnya, mereka sadar bahwa diri mereka salah. Tetapi mereka bertopeng tetap mengaku melakukan persembahan kepada Tuhan. Tentu ditolak.

Dalam dunia bisnis, perang dagang sering terjadi; mereka saling serang; mereka menjalankan bisnis bagai Qabil. Lihatlah persaingan teknologi AI (akal imitasi / artificial intelligence). Mereka sama-sama ingin mendominasi melalui kompetisi AI. Mengapa nafsu Qabil bisa menular jauh sampai masa kini?

3. Memihak Korban

Jelas kita harus memihak korban; kita harus memihak Habil; kita harus memihak orang yang bertakwa.

Cara mudah: bela dulu korban; kemudian berpikir untuk mencari solusi yang adil bagi banyak pihak.

Konflik pengusaha yang memecat buruh (PHK): kita memihak siapa? Bela dulu buruh, sang korban; kemudian cari solusi terbaik bagi buruh dan pengusaha.

Konflik antara pejabat dan rakyat: kita memihak yang mana? Bela dulu rakyat kecil; selamatkan hidup mereka; kemudian berpikir mencari solusi terbaik buat rakyat dan pejabat.

Konflik lulusan SMA tidak tertampung di universitas: memihak mana? Bela dulu lulusan SMA agar semua lulusan, yang minat, mendapat kursi universitas. Kemudian cari solusi terbaik bagi siswa dan universitas.

Menyalahkan korban adalah terlalu mudah. Lulusan SMA itu tidak mendapat kursi universitas karena tidak berprestasi. Rakyat Palestina menjadi korban karena tidak mengungsi. Buruh dipecat karena tidak profesional. Rakyat jelata jatuh miskin karena malas. Pembenaran selalu tersedia untuk menyalahkan korban. Tetapi, menyalahkan korban adalah jebakan logika bagi banyak orang. Kita justru perlu membela korban.

Makna pesan dari Habil jelas: kita perlu mempertimbangkan perspektif luas; Habil memahami mengapa persembahan Habil diterima dan mengapa persembahan Qabil tidak diterima. Kemudian, Habil menolak serangan agresif; kita tidak mendukung tindakan kekerasan; kita menolak berlaku agresif; meski pihak lain menyerang. Habil tetap menjadi orang bertakwa; kita tetap komitmen ikhlas di jalan takwa.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Tentu kita setuju: semua problem rumit di bumi bisa selesai, mengarah selesai, ketika semua pihak menjadi orang bertakwa, orang yang baik, dan tidak menyerang pihak lain.

Tetapi problem rumit makin rumit ketika banyak pihak meniru Qabil: mereka agresif menyerang pihak lain dengan topeng-topeng persembahan. Mereka adalah pengikut Qabil, orang zalim, orang tersesat, dan menyesatkan orang lain.

4.1 Siapa Menang?

Qabil atau Habil yang menang?

Dari penampakan mata, tampak, Qabil yang menang karena membunuh Habil. Bahkan, Habil tidak ingin menyerang Qabil. Jadi, Habil memang tidak ingin mengalahkan Qabil; Habil tidak ingin merugikan siapa pun.

Dalam perang Israel lawan Palestina, siapa yang menang?
Dalam perang Rusia Ukraina, siapa yang menang?
Dalam perang ekonomi, pengusaha besar lawan pedagang kecil, siapa yang menang?

4.2 Menang Sejati

Tetapi apa makna menang sejati? Habil yang menang sejati. Qabil, secara hakikat, adalah kalah. Qabil menderita di sisa umurnya; Qabil takut dibunuh orang sewaktu-waktu; Qabil tersiksa di neraka.

Habil istirahat dengan damai di alam kubur; pada waktunya, Habil hidup bahagia di surga. Umat manusia mengirimkan salam dan doa kepada Habil sebagai teladan manusia mulia.

Ada orang, misal Polan, mengatakan, “Biarlah saya kalah di di kehidupan nanti; yang penting saya menang berposta-pora di hari ini.”

Bagi Polan, menang adalah sukses berlimpah harta dan kuasa di dunia ini. Polan dalam hal ini masuk anggota Qabil. Polan merespon, “Biar saja saya jadi anggota Qabil, yang penting saya menikmati kesenangan dunia ini.”

Bisa saja Polan terus terang mengaku sebagai anggota Qabil. Tetapi, justru, ada Polan yang sembunyi-sembunyi memilih jadi Qabil, sementara, di depan umum, mengaku jadi Habil. Bagaimana pun, Polan tetap sadar bahwa dia adalah Qabil; terutama ketika dia dalam sunyi.

4.3 Perang

Perang masih terjadi di dunia. Apa solusi yang tersedia?

Perang tetap terjadi karena ada pihak Qabil; yang melakukan serangan atas dalih apa pun itu. Untuk mencegah Qabil menyerang maka kita perlu komitmen membela Habil secara pribadi, sosial, negara, planet bumi, sampai alam semesta. Lembaga negara perlu bersikap sebagai Habil yaitu menjaga keamanan seluruh warga dari serangan pihak luar maupun pihak dalam. Menjaga keamanan terbatas hanya untuk pertahanan; tidak boleh menyerang.

4.4 Tanpa Memihak

Bisakah tidak memihak Qabil mau pun Habil? Bukankah orang adil tidak memihak? Bukankah perlu bersikap ikhlas?

Dalam kasus ini, tidak memihak bermakna sebagai memihak Qabil. Jadi, sikap diam adalah sikap setuju terhadap Qabil. Kita harus mendukung Habil untuk membela kebenaran.

Setiap orang adalah Qabil dan Habil sekaligus. Hanya saja, Qabil lebih aktif dalam diri setiap orang dewasa. Ketika seseorang diam maka dia adalah Qabil; kecuali dia menolak Qabil. Hanya jika seseorang menolak Qabil maka dia menjadi Habil. Kita, sebagai manusia, menghadapi beragam masalah; dari satu masalah ke masalah berikutnya; Qabil aktif lebih awal; kemudian kita menolak Qabil agar diri kita menjadi Habil. Proses ini terjadi berulang terus-menerus.

Bisakah kita langsung jadi Habil? Tidak bisa. Habil hanya bisa hadir setelah Qabil hadir kemudian kita menolak Qabil. Memang berat tugas kita menjadi manusia.

Jadi, pertanyaan pilih Qabil atau Habil bisa kita sederhanakan menjadi hanya 1 pilihan saja:

a) Apakah Anda menolak Qabil?
b) Apakah Anda menolak kejahatan?
c) Apakah Anda menolak jadi agressor?

Jawabannya hanya 1 dengan tegas: “Ya, saya menolaknya.”

Jawaban ragu-ragu atau tidak menjawab sudah berkonsekuensi memilih Qabil. Apalagi, orang sengaja memilih Qabil.

4.5 Jam Rusak

Perhatikan jam dinding yang berputar menunjukkan waktu dengan tepat; simbol untuk Habil. Sewaktu-waktu, jam bisa rusak sehingga menunjuk waktu yang meleset; tidak tepat; simbol untuk Qabil.

Aslinya, jam dinding adalah meleset, menunjuk waktu yang tidak tepat. Kemudian, kita mengoreksi jarum jam dinding agar tepat dan mengganti batere dengan yang baru. Tiba-tiba, jam dinding bisa meleset lagi. Kita perlu terus-menerus menjaga jam dinding agar tidak meleset; agar tetap tepat. Kita perlu terus-menerus menjaga diri agar menjadi Habil agar tidak terpeleset jadi Qabil.

Jam dinding yang tepat menjadi berguna karena jam dinding tersebut, dalam banyak situasi, punya potensi bisa meleset. Jika setiap jarum jam selalu tepat maka apa gunanya jam dinding? Jika setiap jarum jam selalu meleset apa gunanya jam dinding? Jam dinding berguna karena dalam banyak keadaan jarum jam bisa meleset dan hanya pada kondisi tertentu saja bisa tepat. Ketepatan jarum jam dinding menjadi bernilai tinggi karena sewaktu-waktu ada resiko bisa meleset.

5. Penutup

Setiap manusia bisa menjadi baik yaitu menjadi Habil dengan cara menolak kejahatan; menolak Qabil. Proses untuk menjadi manusia baik adalah proses perjuangan terus-menerus tanpa henti.

Bagaimana menurut Anda?