Kontribusi Buku Visi Futuristik

Dalam buku Visi Futuristik saya menyebut 3 kontribusi penting adalah: sains huduri, simbolisme ontologi cahaya, dan simplifikasi logika.

Setelah membaca buku cetak Visi Futuristik, saya menambahkan 2 kontribusi penting lagi: [1] kerangka teori yang kokoh dan [2] studi kasus yang nyata konkret. Teori yang kokoh amat penting karena membahas asal mula seluruh realitas yang ada secara niscaya; berlanjut proses yang kita hadapi masa kini; dan akhir diri kita di masa depan seperti apa. Sedangkan studi kasus konkret melengkapi kajian dengan contoh-contoh nyata.

1. Teori yang Kokoh
2. Studi Kasus Nyata
3. Diskusi

Tulisan ini akan mendiskusikan sebagian kontribusi buku Visi Futuristik yang telah terbit Januari 2025.

1. Teori yang Kokoh

Sebagai buku ketiga dari trilogi Futuristik, buku Visi Futuristik ini bertugas menegaskan teori yang kokoh berupa ontologi cahaya sejati. Buku kesatu membahas solusi logika terhadap beragam problem yang “rumit”, sehingga berjudul Logika Futuristik (2023). Sedangkan buku kedua membahas tema-tema praktis dalam kehidupan kita sehari-hari sampai isu-isu sosial berjudul Pintu Anugerah (2024).

Makna ontologi cahaya sejati adalah cahaya sebagai simbol. Meski pun, kita bisa merapkan kajian ontologi cahaya terhadap cahaya fisika dari perspektif sains modern.

2. Studi Kasus Nyata

Beberapa studi kasus nyata: praktek aturan hukum; mengapa orang berbuat jahat; dan praktek konsep kebenaran.

Praktek hukum di jaman ini makin rumit karena peran uang makin besar. Hukum menjadi sarana bagi pihak-pihak kuat untuk mengeruk keuntungan besar secara finansial. Tentu saja, secara eksplisit, hukum adalah untuk menegakkan keadilan. Hanya saja, praktek hukum berupa praktek gelap.

Pengertian hukum di sini bermakna umum. Contoh aturan veto di PBB adalah hukum yang menguntungkan negara adi daya. Amerika sering menggunakan hak veto untuk mengamankan kepentingan Amerika di Israel dan Timur Tengah. Bagaimana negara adi daya bisa tega terhadap genosida di Gaza? Praktek hukum memang gelap. Semoga segera ada solusi terbaik buat Gaza Palestina.

Di negara kita: bagaimana MK menetapkan suatu keputusan? Mengubah batas usia calon presiden dan wakil; mengubah syarat pendaftaran gubernur dan lain-lain. Banyak sisi gelap. Apa solusi praktek gelap dari hukum? Solusi: membangun lembaga huku futuristik; sistem hukum yang komitmen mengembangkan masa depan terbaik untuk semua.

Studi kasus kedua: mengapa orang berbuat jahat; bahkan berulang kali?

Orang berbuat jahat karena mereka terjebak dalam WKR: wrong kind of reason. Agar kita lepas dari jebakan kejahatan maka kita perlu melampaui WKR sampai ke RKR: right kind of reason. RKR bisa kita kembangkan dengan menumbuhkan persepsi futuristik; persepsi yang melihat kebaikan masa depan sebagai kebaikan nyata; sehingga menarik realitas masa kini menuju kebaikan masa depan yang nyata. Buku Visi Futuristik membahas lebih detil proses RKR ini.

Studi kasus ketiga: praktek konsep kebenaran; apa makna-benar dalam realitas yang konkret?

Umumnya, kebenaran adalah pernyataan yang sesuai dengan realitas; kebenaran korespondensi. Kita membutuhkan teori kebenaran yang lebih konkret; yang mendorong kita untuk praktek kebenaran; dan meninggalkan kesalahan. Praktek kebenaran yang lebih konkret adalah keterbukaan, kebenaran futuristik, dan kebenaran absolut.

Keterbukaan adalah seseorang terbuka dirinya terhadap kebenaran yang nyata; tersingkap kebenaran yang nyata. Buku Visi Futuristik membahas kebenaran keterbukaan ini dengan memberi beberapa contoh kasus.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Saya senang dengan angka tahun terbit trilogi Futuristik yang urut: Logika Futuristik (2023); Pintu Anugerah (2024); Visi Futuristik (2025).

Presiden 3 Periode: Jokowi Vs Trump

Konstitusi membatasi presiden menjabat hanya 2 periode; maksimal. Presiden Jokowi pernah pro-kontra karena dicurigai tertarik untuk 3 periode. Tahun ini, 2024-2025, Trump bercanda ingin menjabat 3 periode. Perwakilan Partai Republik mulai bergerak mencari celah untuk 3 periode.

“Trump jokes about running for a third term.”

Mengapa berminat 3 periode? Mengapa dibatasi 2 periode? Mengapa?

1. Makin Lama Korupsi
2. Tongkat Estafet
3. Pak Nomo Penguasa
4. Diskusi

Putin beruntung karena bisa mengubah konstitusi sehingga dia 3 periode; dan 3 periode x 6 tahun = 18 tahun. Diduga, sebelum habis 18 tahun, Putin bisa mengubah konstitusi lagi agar lebih tepat bagi dirinya.

1. Makin Lama Korupsi

Argumen utama: makin lama presiden berkuasa maka makin kuat untuk korupsi.

Presiden Soeharto berkuasa 1960an. Banyak orang yakin, waktu itu, Soeharto adalah presiden yang baik bagi Indonesia. Soeharto berhasil menjadi bapak pembangunan Indonesia. Setelah berkuasa lebih dari 20 tahun, terjadi KKN: korupsi kolusi nepotisme oleh kroni-kroni Soeharto. Terpaksa, Soeharto lengser karena reformasi pada tahun 1998 setelah berkuasa 32 tahun. Berkuasa terlalu lama, mengubah seorang pejuang yang baik terjebak dalam pusaran politik dengan aroma korupsi.

2. Tongkat Estafet

Batasan 2 periode menjamin setiap presiden merencanakan pembangunan negara dengan bertahap melalui estafet presiden.

Presiden Jokowi dipaksa harus berpikir estafet, bertahap, untuk membangun IKN. Jika membangun IKN butuh waktu 10 tahun, misal, maka periode akhir jabatan Jokowi tidak cukup untuk menyelesaikannya. Jokowi perlu berpikir bahwa presiden pengganti komitmen melanjutkan IKN. Konsekuensinya, proyek IKN harus transparan. Siapa pun presiden pengganti, petahana atau pesaing, bisa melanjutkan estafet IKN. Apakah proyek IKN transparan? Kita butuh perjalanan waktu untuk menyaksikannya. Hanya saja, batasan 2 periode memaksa presiden harus siap melepaskan tongkat estafet.

3. Pak Nomo Penguasa

Pak Nomo bisa mengubah konstitusi. Pak Nomo bebas menetapkan aturan 2 periode atau 3 periode atau tanpa batas; semua sah sesuai konstitusi.

Mengapa Pak Nomo bisa mengubah konstitusi? Karena Pak Nomo adalah Pak Nomo.

Pelanggaran konstitusi adalah pelanggaran berat. Tetapi mengubah konstitusi adalah sah; bukan pelanggaran. Ketika Pak Nomo mendukung Putin mengubah konstitusi menjadi 3 periode maka sah, bagi Putin, untuk menjabat presiden 3 periode.

Andai waktu itu, Pak Nomo mendukung untuk amandemen UUD 45 agar presiden boleh 3 periode maka sah, bagi Jokowi atau SBY, untuk jadi presiden 3 periode. Tapi Pak Nomo tidak setuju dengan amandemen UUD 45 agar 3 periode itu.

4. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Mengapa Nomo bisa mengubah konstitusi? Bagaimana cara mengubahnya? Mengapa presiden boleh mengikuti konstitusi baru atau konstitusi lama?

Pesona Buku Visi Futuristik

Pekan lalu, saya menerima buku cetak Visi Futuristik dari penerbit sebagai sampel bukti bahwa buku telah diterbitkan. Buku sampel tersebut langsung habis “dipaksa” dibeli oleh teman-teman yang baik. Saya terpaksa menahan diri tidak membahas buku Visi Futuristik sementara waktu. Kemarin, Rabu 22 Januari 2025, saya menerima kiriman buku lebih banyak dari penerbit. Jadi, kita bisa membahas lagi buku Visi Futuristik versi cetak.

Memang mempesona buku cetak. Wajar, beberapa negara maju di Eropa mewajibkan kembali para siswa untuk membaca buku cetak. Tidak cukup hanya membaca buku digital. Daya pesona fenomena material memang spesial; beda dengan pesona digital.

1. Terjemah English Arab
2. Teori Praktis
3. Diskusi

Rujukan utama Visi Futuristik adalah buku Hikmah al-Isyraq (HI) karya Suhrawardi. Saya beruntung karena mendapatkan HI dalam dwi bahasa, yaitu, Arab-English. Dalam membaca ulang Visi Futuristik, saya mendapatkan pemahaman dan pembahasan ontologis yang teoritis kemudian bergerak sampai tataran praktis. Saya berharap pembaca akan memperoleh manfaat teoritis dan praktis.

1. Terjemah English Arab

Halaman kiri HI adalah teks dalam bahasa English; sementara halaman kanan adalah teks dalam bahasa Arab. Penerjemah, Hossein Ziai, memberi angka pada setiap paragraf yang memudahkan kita untuk menemukan keselarasan Arab dan English.

Dalam Visi Futuristik saya hanya mengutip teks English secara singkat dan mencantumkan nomor paragraf. Kemudian saya menerjemahkannya ke dalam bahasa Indonesia. Meski saya merasa paham maksud buku HI tetapi tetap sulit menemukan terjemahan dalam bahasa Indonesia yang tepat. Saya perhatikan, Ziai menerjemahkan dari Arab ke English secara fleksibel. Saya meniru fleksibilitas Ziai untuk mendapatkan terjemahan Indonesia yang pas; cukup membantu; meski ada beberapa masalah lagi.

Solusi untuk masalah ini, yang tepat buat saya, adalah saya bolak-balik merujuk teks Arab dan English kemudian menerjemahkan ke bahasa Indonesia. Solusi ini berhasil bagi saya. Teks English sulit, bagi saya, karena banyak memanfaatkan ungkapan negatif secara ganda misal “not… without…” Teks Arab sedikit menggunakan ungkapan negatif ganda. Dalam terjemahan bahasa Indonesia, saya membatasi penggunaan ungkapan negatif ganda.

Anak muda bertanya: mengapa tidak pakai translator semisal Google atau GPT? Saya menggunakan translator itu. Memang translator otomatis banyak membantu; hanya saja kita butuh kualitas yang lebih bermutu.

Sebagian besar teks Visi Futuristik adalah tulisan saya sendiri dengan mengambil inspirasi kreatif dari Maha Karya Suhrawardi.

2. Teori Praktis

Dari sisi konten, saya merasa surprise karena banyak aspek praktis dibahas dalam Visi Futuristik; perkembangan sains sepanjang sejarah, penerapan teknologi sehari-hari, sampai mengembangkan kehidupan akhlak dengan moral yang tinggi.

Tentu saja, konten utama buku Visi Futuristik adalah pembahasan ontologi yang bersifat teoritis. Saya mencoba membahas dari beragam sudut pandang para tokoh kemudian berusaha memberi contoh-contoh praktis dalam kehidupan – dan kematian.

Nama Einstein, sebagai salah satu tokoh, muncul kembali dalam Visi Futuristik. Sebelumnya, nama Einstein muncul cukup dominan dalam buku Futuristik 1 (Logika Futuristik, 2023) ketika membahas sains fisika. Masih di Futuristik 1, saya menyediakan satu bab khusus membahas filsafat sains versi Einstein. Dalam Futuristik 2 (Pintu Anugerah, 2024), saya membatasi mengutip nama tokoh untuk menjaga buku agar bersifat praktis. Dalam Futuristik 3 (Visi Futuristik, 2025), nama Einstein muncul ketika kita membahas bentuk ruang non-Euclidian. Sangat mempesona bahwa Suhrawardi mengembangkan konsep ruang non-Euclidian sekitar 1000 tahun yang lalu; selaras dengan pandangan Einstein.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Saya menduga bahwa masyarakat masa kini membutuhkan buku yang bersifat praktis ketimbang teoritis. Benarkah begitu?

Futuristik 1 membahas logika dari aspek teoritis yang dilengkapi berbagai macam contoh praktis.

Futuristik 2 membahas anugerah-anugerah futuristik secara praktis. Aspek teoritis hanya sekilas.

Futuristik 3 membahas visi futuristik berimbang antara aspek teoritis dan praktis. Lengkap sudah trilogi Futuristik; ketika tuntas maka bergegas.

Bagaimana menurut Anda?

Pagar Laut 30 KM

Prabu, baru resmi diangkat sebagai raja di Gemaripa beberapa saat, sudah menghadapi tugas berat. Salah satunya pagar sepanjang 30 km, secara misterius, ditemukan di pantai ujung barat pulau utama. Siapa pelakunya? Apa tujuannya? Apa hak mereka?

Prabu ingin memastikan bahwa seluruh kekayaan negara dipergunakan untuk kemakmuran rakyat seluas-luasnya dengan adil makmur. Warga Gemaripa mendukung raja baru sang Prabu.

Iwan, sang cendekiawan, mengkritisi bagaimana hak memasang pagar laut bisa dimiliki oleh pihak tertentu? Bukankah laut ada dalam penguasaan negara? Apakah ada sistem yang perlu diteliti?

1. Ekonomi Sosial
2. Distribusi
3. Diskusi

Iwan usul ke Prabu agar mencermati sistem pasar bebas sekarang ini. Bila pagar laut menguntungkan pihak tertentu secara ekonomi maka mereka akan memasang pagar laut itu. Tetapi bila pagar laut menguntungkan warga Gemaripa maka baik-baik saja. Iwan curiga ada pihak tertentu yang ambil keuntungan dari pagar laut 30 km yang misterius itu.

1. Ekonomi Sosial

Iwan tampak setuju dengan Foucault bahwa manusia adalah biopolitik atau biopower; manusia menjadi sempurna dengan cara berpartisipasi di dunia politik; praktis atau non-praktis. Prabu setuju saja dengan pandangan Iwan. Apa hubungannya dengan pagar laut?

Tesis Iwan sederhana: pagar laut 30 km itu terjadi karena ada pihak tertentu mengeruk keuntungan besar darinya; dan warga Gemaripa yang dirugikan secara langsung atau tidak, sadar atau tidak.

Sebut saja yang membangun pagar laut itu adalah Polan si orang besar. Tentu saja, Polan orang besar karena butuh kekuatan besar untuk bisa investasi membangun pagar laut sepanjang 30 km dilengkapi dengan beragam sertipikat legal.

Prabu bertanya: bagaimana bisa terbit sertipikat legal? “Ya, tidak tahu kok tanya saya,” jawab Iwan, “tanya saja kepada raja sebelum kamu yaitu raja Mulyana!” Kata Prabu, “Dia pasti jawab ndak tahu lah…” Mereka tertawa bersama.

Biopower atau biopolitik adalah situasi di mana setiap individu sadar bahwa dirinya harus mencari keuntungan sebesar-besarnya; karena banyak tekanan dari luar. Polan mungkin tidak berniat membangun pagar laut 30 km. Tetapi tekanan dari luar memaksa Polan. Jika Polan tidak membangun pagar laut maka orang lain akan membangunnya; orang lain itu yang akan untung. Jika Polan tidak untung maka Polan tidak bisa membayar setoran ke banyak pihak; ke pejabat, ke cukong, ke istri simpanan, dan lain-lain. Polan tertekan dan terpaksa membangun pagar laut penuh ceria.

Menariknya, awalnya, Polan merasa tertekan. Selanjutnya, Polan menikmati tekanan biopower itu. Polan menikmati pagar laut, menikmati setor ke pejabat, setor ke cukong, setor ke istri simpanan, dan lain-lain. Lebih parah lagi, awalnya, Polan merasa berdosa membangun pagar laut mau pun suap ke mana-mana. Seiring pengalaman, Polan merasa bangga berbagi rejeki ke banyak pihak. Lagi pula, Polan bisa mendirikan yayasan sosial.

Solusinya bagaimana? Iwan berpikir keras. Pertama, Prabu perlu menelusuri kasus pagar laut sampai tuntas. Kedua, Prabu perlu mengembangkan sistem sertipikat tanah terpadu yang aman. Ketiga, Prabu perlu menggeser sistem ekonomi dari mencari keuntungan pribadi menuju distribusi yang penuh arti.

2. Distribusi

Transaksi ekonomi wajar terjadi secara personal; jual beli satu orang dengan orang lain adalah sah. Tetapi transaksi personal perlu berada dalam wadah yang lebih besar: distribusi ekonomi; pemerataan ekonomi; adil makmur di bidang ekonomi.

Terdapat transaksi, di atas transaksi personal, yaitu transaksi antar kepala suku; bukan pejabat; kepala suku adalah orang bijak yang mirip ketua kelas atau ketua OSIS di SMP. Kepala suku jual beli dengan kepala suku lain atas keperluan warga sukunya; bukan keperluan kepala suku; bukan keperluan pejabat; bukan pula keperluan sang raja baru Prabu. Kemudian, kepala suku mendistribusikan hasil jual beli kepada warganya secara adil makmur.

Transaksi kepala suku memegang dua peran penting: [1] menjamin distribusi adil makmur bagi warga masing-masing suku; [2] menjaga distribusi adil antar suku-suku di sekitar dan meluas ke alam semesta. Peran raja Prabu menjadi besar untuk mewujudkan Gemaripa adil makmur. Di saat yang sama, raja Prabu perlu mendengarkan masukan dari Iwan sang cendekiawan.

Sayangnya, Iwan sudah makin tua. Sehingga, nasehat Iwan lebih lembut; buka perspektif luas; utamakan kehidupan warga minoritas; dan kuatkan sikap ikhlas. Beda dengan Iwan muda yang dulu; yang sering meneriakkan lagu BONGKAR karya musisi Indonesia; yang menuntut revolusi lebih dari sekedar reformasi.

Jadi, kita perlu jeli menangkap pesan-pesan tersembunyi sang cendekiawan tua itu.

3. Diskusi

Pagar laut 30 km pasti terjadi karena melanggar prinsip adil makmur; ada pihak tertentu mengeruk keuntungan besar. Prabu perlu bertindak cepat untuk melindungi kekayaan negara.

Bagaimana menurut Anda?

Racun Makan Siang

Prabu berhasil menjadi raja di negara Gemaripa setelah menyisihkan para kandidat lain yaitu para pangeran yang cemerlang. Rakyat memilih Prabu karena Prabu menjanjikan program makan siang gratis yang bergizi bila terpilih menjadi raja Gemaripa. Tentu saja rakyat gembira dengan program makan siang gratis itu. Rakyat sudah lama menderita kelaparan; lapar makanan nasi mau pun makanan ruhani yang bergizi.

Iwan, sang cendekiawan, menyambut baik program makan siang gratis dari Prabu sang raja baru. “Jangankan makan siang, gratis makan 3 kali tiap hari untuk seluruh penduduk saja, saya setuju,” ungkap Iwan.

Dengan program makan gratis, menurut Iwan, penduduk menjadi merasa aman. Rakyat bekerja bukan untuk makan tetapi untuk menghasilkan karya terbaik bagi masyarakat. Pada gilirannya, hasil karya rakyat ini berguna untuk mendanai makan gratis.

“Program makan gratis itu bisa bergizi tapi bisa beracun,” Iwan mengingatkan.

Racun makan siang bisa berupa racun material yang berbahaya bagi badan anak-anak bangsa; bisa juga racun ekonomi yang menghancurkan sistem ekonomi nasional; awalnya, menghancurkan warung-warung Tegal, rumah makan Padang, Soto Madura, dan lain-lain. Yang hancur paling awal, kena racun makan siang gratis, adalah pedagang kecil yang jualan di kantin sekolah. Siapa yang akan beli makanan di kantin sekolah bila makan siang gratis datang dari pusat Gemaripa?

Untungnya, Prabu memulai dengan program makan bergizi gratis khusus untuk siswa sekolah; bukan untuk seluruh warga. Dengan demikian, aparat negara Gemaripa bisa menjalankan program makan siang gratis secara bertahap.

Para siswa bergembira; Iwan merenung terpesona; bagaimana menurut Anda?

1. Anggaran Makan Siang Gratis
2. Uang Pokok
3. Diskusi

Iwan sadar bahwa problem dasar dari makan siang gratis adalah anggaran dari mana? Ekonomi nasional sudah sempoyongan akhir-akhir ini. Bagaimana APBN Gemaripa bila harus menanggung beban biaya makan siang? Iwan tentu paham bahwa semua warga Gemaripa selalu makan siang, tiap hari, baik dibiayai APBN mau pun kantong pribadi. Jadi tidak ada masalah dengan biaya. Bahkan, makan siang gratis bisa menjadi sarana eksperimen uang pokok; seharusnya.

1. Anggaran Makan Siang Gratis

Prabu menetapkan anggaran makan siang gratis adalah 10 ribu perak per porsi. Banyak pihak menganggap uang 10 ribu terlalu kecil untuk mendapatkan makan siang gratis. Dengan beragam efisiensi, 10 ribu perak harus bisa.

Ada sekitar 50 juta siswa di Gemaripa yang perlu makan siang tiap hari.

50 juta x 10 ribu = 500 milyar

Butuh anggaran 500 milyar perak tiap hari atau setara 12 T per bulan; atau sekitar 150 T per tahun untuk makan siang. Bila APBN Gemaripa sekitar 2000 T maka anggaran makan siang kisaran 8 sampai 10% dari APBN; sebuah persentase yang amat besar.

Tidak masalah. Demi makan siang gratis bagi seluruh warga, anggaran 10% naik sampai 30% pun tidak masalah. Dari hanya makan siang menjadi makan 3 kali tiap hari gratis juga baik-baik saja bagi Gemaripa.

2. Uang Pokok

Menurut Iwan lebih mudah bila Prabu mencetak uang baru yang beda dengan uang lama untuk membiayai makan gratis. Uang lama berupa uang “perak” sudah terlanjur digunakan secara internasional; misal 1 dolar setara dengan 15 ribu perak. Resiko adalah jika nilai tukar perak terhadap dolar menjadi anjlok akibat terbebani anggaran makan siang gratis. Tetapi, jika Prabu menerbitkan uang baru misal uang “logam” (bukan uang perak) maka tidak ada hubungannya dengan dolar mau pun perdagangan internasional. Sehingga dolar tidak mengganggu sistem ekonomi Gemaripa.

Uang “logam” adalah uang pokok yang hanya bisa dibelanjakan untuk makan siang dan kebutuhan pokok; tidak bisa untuk beli sepeda apalagi beli mobil mewah, rumah mewah, atau istana indah.

Skenario mudah adalah setiap siswa mendapat uang logam 50 ribu untuk dibelanjakan makan siang 5 hari di kantin sekolah. Aparat Gemaripa, ASN, menyediakan panduan standar gizi agar para pedagang di kantin sekolah menyediakan menu makan siang bergizi dengan paket harga 10 ribu logam. Siswa bergembira belanja makan siang gratis; pedagang kecil kantin sekolah terdorong maju dengan penjualan makin tinggi.

Prabu tidak perlu repot-repot membuka lowongan kerja baru untuk posisi ASN guna menangani program makan siang gratis. ASN yang sudah ada, di badan gizi nasional, sudah mampu menanganinya. Prabu cukup fokus memastikan makan siang yang disediakan oleh kantin sekolah memenuhi standar gizi dan pedagang kecil di kantin sekolah berputar roda ekonomi mereka.

Uang “logam” berbeda dengan uang “perak”. Sehingga, pencetakan uang logam oleh Bank Central Gemaripa tidak ada hubungannya dengan dolar; tidak ada hubungannya dengan ekonomi internasional. Uang logam hanya untuk transaksi makan siang gratis dan kebutuhan pokok yang terbatas. Sementara, untuk kebutuhan umum dan transaksi internasional, Gemaripa tetap menggunakan uang “perak” seperti biasa.

Setelah sukses dengan makan siang gratis, Prabu berencana meluaskan program makan 3 kali sehari gratis untuk seluruh warga Gemaripa; miskin, menengah atau pun kaya. Semua dibiayai oleh uang logam secara bertahap. Orang kaya diijinkan hibah bagian makan gratisnya kepada negara; agar dimanfaatkan untuk yang lebih memerlukan.

3. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

Secara teori, menurut Iwan, Gemaripa akan berhasil menyelenggarakan program makan gratis bergisi bagi seluruh warga. Butuh waktu untuk proses pelaksanaan. Barangkali makan siang gratis bisa berhasil di periode pertama pemerintahan Prabu. Sementara makan gratis 3 kali tiap hari butuh 2 periode pemerintahan baik oleh Prabu atau raja penerus setelah Prabu.

Tantangan ada para diri pribadi Prabu dan lembaga yang dibentuknya. Apakah Prabu komitmen untuk menyediakan makan siang gratis bagi seluruh warga? Atau Prabu hanya mencari keuntungan politis agar mendapat dukungan warga Gemaripa? APBN Gemaripa tetap menguntungkan elit belaka?

Tantangan lembaga lebih rumit lagi: apakah Prabu akan berhasil membentuk lembaga yang kuat? Meski Prabu berhasil membentuk kabinet yang besar tetapi apakah lembaga kabinet ini cukup kuat untuk menjalankan misi membela kesejahteraan warga Gemaripa?

Luar negeri bisa saja memberi tekanan sendiri kepada Gemaripa. Presiden US, misal Trump, bisa marah karena jaringan restoran US yang ada di Gemaripa menjadi sepi; atau warga Gemaripa menjadi punya harga diri tidak bisa dikibuli. Prabu cukup kuat untuk menghadapi tantangan luar negeri seperti ini.

Kita berharap Prabu akan berhasil menjalankan program makan bergizi gratis bagi seluruh warga Gemaripa. Prabu perlu mendengarkan suara cendekiawan semisal Iwan dan kawan-kawan. Kemudian, setelah Prabu sukses, negara lain bisa meniru program Prabu. Termasuk negara kita Indonesia, barangkali, bisa belajar banyak dari negara Gemaripa.

Bagaimana menurut Anda?

Ketika Tuntas Maka Bergegas

Saya bersyukur, alhamdulillah, telah tuntas cita-cita besar: menulis trilogi Futuristik yang terbit Rajab 1446 bertepatan Januari 2025 ini. Terima kasih kepada seluruh teman-teman dan saudara-saudara yang telah banyak membantu saya.

“Ketika tuntas maka bergegas.” Apa tugas berikutnya? Apa cita-cita besar selanjutnya? Apa impian besar yang terbayang?

Masih banyak tugas besar menanti: tugas futuristik.

Saya berencana melanjutkan menulis, mengajar, dan produksi konten. Terpikir tentang konten-konten yang ringan saja. Karena konten berat sudah dibahas dalam trilogi Futuristik.

[a] Konten Ringan

Berupa pengalaman hidup sehari-hari; kadang-kadang bahkan fiksi. Konten ringan berupa fiksi menjadi menarik karena kita bebas mengembangkan imajinasi. Misal Anda ingin kritik bupati, gubernur, atau presiden. Anda bisa pidana pencemaran nama baik. Tetapi bila berupa fiksi: raja muda sang penguasa dasa muka (sepuluh wajah) sangat licik; dia berjanji lalu ingkar; comot sana-sini. Karena fiksi bebas-bebas saja. Pembaca sadar bahwa fiksi itu adalah nyata.

[b] Konten Berat

Saya sudah menulis Principia Realita sekitar 300an halaman. Konten Principia ini sangat berat. Tampaknya, saya akan melanjutkan Principia sebagai background (atau foreground) petualangan pemikiran.

[c] Filsafat Teknologi

Saya ingin membahas filsafat teknologi secara ringan. Apa bisa? Indonesia terlambat dalam membahas filsafat teknologi. Dunia Barat, Inggris dan Amerika Serikat, juga terlambat. Jerman dan Prancis adalah negara yang terdepan membahas filsafat teknologi. Tetapi, mereka membahas dengan kadar yang berat. Bisakah kita membahas dengan ringan saja?

[d] Tuhan Futuristik

Pembahasan tentang Tuhan akan selalu menarik; apalagi Tuhan Futuristik. Nietzsche mengumumkan “Death of God” tetapi Niet adalah God-Thinker; Niet memikirkan Tuhan terus-menerus sepanjang hayat. Heidegger merahasiakan pembahasan Tuhan Maha Akhir; Heidegger adalah God-Seeker; sang pencari Tuhan selama hidupnya, menurut Gadamer, sang murid. Ghazali dengan tegas menyatakan kita perlu membersihkan diri untuk dekat dengan Tuhan. Ibnu Arabi mengungkap Tuhan dengan karakter paradoks yang bertabur pesona.

[e] Pendidikan Matematika

Matematika menjadi penting karena dasar dari semua pendidikan. Ketika pendidikan matematika bagus maka pendidikan secara umum akan bagus; harapan kita. Sebaliknya sering terjadi: ketika pendidikan matematika buruk maka kualitas seluruh pendidikan memang buruk. Tugas kita, dan tugas Paman APIQ, meningkatkan kualitas pendidikan.

Di depan mata, masih banyak tugas. Ketika tuntas maka bergegas.

Bagaimana menurut Anda?

Anak SMA tidak Bisa Berhitung

Anda gemas. Saya juga gemas. Siswa-siswa SMA tidak bisa berhitung dasar. Beberapa bulan lalu, tersebar video bahwa anak SMA/SMK tidak bisa berhitung 24 dibagi 4 hasilnya berapa. Beberapa hari lalu, Gubernur Jabar bertanya, “Setahun ada 12 bulan. Maka 2 tahun ada berapa bulan?”

Siswa-siswa SMA, dalam video itu, tidak bisa menjawab ada berapa bulan dalam 2 tahun.

Mengapa Indonesia separah itu?
Apakah negara lain sama parah?
Atau negara lain lebih parah?

Kita perlu menjawab beberapa pertanyaan itu. Kemudian, menyusun beberapa solusi serta menerapkan solusi yang terus direvisi.

Saya adalah pendidik matematika berpengalaman lebih dari 30 tahun. Saya bisa mengajari anak-anak SMA yang sulit berhitung, di atas, sampai bisa berhitung dalam 1 pertemuan belajar saja. Tetapi masalah berhitung, dan matematika, bukan masalah satu atau dua siswa saja. Kita menduga ada ribuan atau jutaan siswa Indonesia yang tidak mampu berhitung.

1. Belajar Berhitung
2. Hadiah Berhitung
3. Gangguan Kalkulator
4. Gangguan AI
5. Diskusi

Solusi paling mudah untuk berhitung adalah ajarkan siswa dengan alat peraga konkret. Peraga paling mudah, untuk di Indonesia, adalah uang; uang kertas atau uang logam.

Untuk 2 tahun ada berapa bulan: sediakan uang 12 ribu untuk tiap 1 tahun; tanyakan ada uang berapa ribu untuk 2 tahun? Anak akan menjawab 24 ribu. Ada berapa bulan dalam 2 tahun? Anak akan menjawab 24 bulan. (Selesai). Masih banyak proses-proses kreatif yang bisa kita kembangkan untuk memajukan pendidikan.

1. Belajar Berhitung

Problem belajar berhitung adalah problem serius. Sayangnya, banyak orang dewasa menganggap remeh problem berhitung semacam 2 + 3 hasilnya berapa. Bahkan, banyak guru yang menganggap remeh juga. Mengapa? Karena orang dewasa itu sudah paham berhitung. Bagi anak yang belum paham, berhitung adalah tugas sulit; baik siswa TK, SD, SMP, SMA bahkan mahasiswa perguruan tinggi.

Saya mengembangkan alat peraga berhitung ada puluhan sampai ratusan macam media; agar anak-anak bergembira kreatif dalam belajar berhitung dan matematika bersama paman APIQ.

2. Hadiah Berhitung

Hadiah adalah amat penting. Belajar berhitung perlu hadiah. Apa hadiah yang tepat?

Hadiah yang bagus adalah senyuman, tawa, dan rasa bahagia ketika belajar berhitung; menjelang dan setelah belajar berhitung. Hadiah paling bagus adalah anak paham berhitung itu sendiri. Anak merasa bangga dan bahagia karena paham berhitung. Tentu, kita bisa mengembangkan beragam jenis hadiah yang lebih variasi.

Sayangnya, hadiah yang mudah di atas sudah dirampas dari siswa. Banyak siswa stres lantaran belajar berhitung atau matematika. Hasil akhirnya, siswa tetap tidak paham matematika. Sungguh menyedihkan.

Problem lebih rumit ketika hadiah jangka panjang dirampas pula: berhitung tidak berguna untuk kerja mau pun untuk melanjutkan sekolah tingkat lebih tinggi. Untuk mendapat pekerjaan cukup menjalin relasi tertentu dengan penguasa atau pengusaha. Untuk melanjutkan sekolah cukup dengan jalur zonasi atau jalur mandiri atau lainnya. Lengkap sudah problem pendidikan kita.

3. Gangguan Kalkulator

Kita sadar bahwa kalkulator adalah gangguan besar dalam belajar berhitung. Sehingga, kita melarang anak kecil untuk menggunakan kalkulator. Bagaimana dengan gangguan internet dan AI?

4. Gangguan AI

Tentu saja gangguan AI (akal imitasi / artificial intelligence) sangat ngeri bagi negeri ini. Jika kalkulator menyebabkan siswa malas belajar berhitung maka AI menyebabkan siswa malas belajar segala hal. Karena AI bisa menjawab segala hal; andai jawaban AI benar bisa dipercaya. Sayangnya, jawaban AI sering halusinasi alias ngawur.

5. Diskusi

Banyak hal yang bisa kita kaji.

Bagaimana menurut Anda? Mari kita bahas sebagian di antaranya.

[a] Solusi Sederhana

Solusi paling sederhana adalah kita membekali siswa, guru, dan orang tua dengan kemampuan belajar matematika yang kreatif; misal Anda bisa belajar matematika kreatif melalui buku, web, dan video paman APIQ. Ketika para siswa menguasai cara belajar matematika kreatif maka mereka pasti mampu berhitung dengan tepat dan cepat. Jadi fenomena “siswa SMA tidak bisa berhitung” sudah selesai.

Tentu saja, muncul tantangan baru: bagaimana membekali para guru dengan kemampuan matematika kreatif? Selalu ada solusi untuk ini; untuk meningkatkan kemampuan para guru di seluruh Indonesia baik melalui buku, pelatihan tatap muka, mau pun pelatihan daring.

[b] Peta Masalah

Kita perlu solusi yang lebih fundamental.

Meski solusi sederhana berupa membekali siswa dengan kemampuan belajar matematika kreatif tampak bagus tetapi ada masalah lebih mendasar. Jika masalah mendasar belum terungkap, sehingga belum terselesaikan, maka masalah kesulitan berhitung bagi siswa akan muncul berulang dalam beberapa tahun ke depan.

Saya setuju dengan Acemoglu, pemenang Nobel ekonomi 2024, bahwa problem mendasar adalah problem lembaga: lembaga politik, ekonomi, dan sosial. Termasuk dalam problem lembaga adalah penetapan konstitusi, undang-undang, dan peraturan. Jadi, kita perlu peta masalah-masalah fundamental ini kemudian merumuskan solusi.

[c] Problem Alat: Kalkulator AI

Mengapa kalkulator membantu pedagang pasar tetapi mengganggu siswa belajar? Mengapa AI membantu programer menulis kode program tetapi mengganggu siswa belajar? Mengapa teknologi membantu orang-orang tertentu tetapi merugikan lebih banyak orang lain?

Kita bisa menjawab pertanyaan ini dengan meminjam konsep teknologi dari Simondon (1924 – 1989). Simondon membedakan individu (badan), unsur, dan rangkaian. Untuk bisa memanfaatkan teknologi, misal kalkulator atau AI, kita perlu memahami badan ditambah satu rangkaian lebih tinggi dan satu unsur lebih rendah.

Kalkulator membantu pedagang pasar karena pedagang memahami badan, rangkaian, dan unsur. Tetapi siswa tidak sama dengan pedagang.

Bagi pedagang,

badan: jual-beli dagangan
rangkaian:
komunikasi dengan pembeli dan distributor
unsur: kalkulator, warung, dan barang dagangan

Untuk bisa sukses, pedagang wajib sangat mahir menguasai badan “jual-beli dagangan.” Sedangkan untuk rangkaian dan unsur, pedagang cukup mahir dalam menggunakannya. Misal pedagang perlu mahir menggunakan kalkulator untuk penjumlahan harga-harga barang dagangan. Tetapi pedagang tidak perlu memahami proses kalkulator menghitung penjumlahan itu. Karena kalkulator adalah unsur bukan badan.

Bandingkan dengan siswa belajar berhitung,

badan: belajar berhitung perkalian
rangkaian: latihan dan komunikasi dengan guru
unsur: penjumlahan, menulis, membaca

Siswa perlu mahir “berhitung perkalian” dan menggunakan “penjumlahan.” Kalkulator mengganggu proses-proses itu. Dengan kalkulator, siswa gagal memahami “penjumlahan” dan akibatnya siswa gagal “perkalian.” Jadi, siswa harus dilarang menggunakan kalkulator. Sementara, pedagang boleh menggunakan kalkulator.

Apakah mahasiswa akuntasi boleh menggunakan kalkulator? Boleh. Karena bagi mahasiswa akuntasi, kalkulator adalah sekedar “unsur” sehingga hanya perlu mahir menggunakan kalkulator tanpa harus memahami proses hitungan kalkulator.

Apakah mahasiswa informatika boleh menulis kode program pakai AI? Tidak boleh. Karena menulis kode, dalam koding, adalah “badan” yang harus mahir dikuasai oleh mahasiswa informatika.

Apakah programer senior boleh menulis kode pakai AI? Boleh. Karena bagi programer senior, yang sudah lulus dari kuliah informatika, menulis kode adalah “unsur” yang hanya perlu mahir menggunakannya. Bagaimana pun, programer senior tetap perlu waspada karena AI sering halu alias ngawur.

Jadi, meski kalkulator AI adalah alat tetapi posisi alat ini bisa sebagai “badan” atau “unsur”. Karena posisi kalkulator AI bagi siswa sebagai “badan” dalam belajar maka AI sering merugikan proses belajar siswa dan mahasiswa. Sementara, bagi pedagang dan programer senior, kalkulator AI bisa menguntungkan.

Menganggap teknologi sebagai alat adalah cara pandang paling rendah dalam memaknai teknologi. Teknologi adalah “teman hati” bagi umat manusia untuk mendaki nilai-nilai lebih tinggi.

[d] Badan Pendidikan

Badan utama pendidikan bersifat dinamis. Yang semula “unsur” bisa berubah menjadi “badan” dalam proses pendidikan berikutnya. Hal ini berbeda dengan “badan” pedagang yang cenderung stabil. Kalkulator akan tetap menjadi “unsur” bagi pedagang dalam rentang waktu yang lama; mungkin bertahun-tahun.

Hari ini, siswa bisa belajar “tanaman” sebagai “badan.” Sedangkan pupuk sekedar sebagai “unsur” hari itu. Pertemuan berikutnya, belajar pupuk menjadi “badan” utama pembelajaran. Jadi, siswa tidak cukup hanya mengenal pupuk; tetapi siswa perlu mempelajari pupuk secara mendalam sebagai “badan” pembelajaran.

Konsekuensinya, kita perlu super hat-hati menggunakan teknologi dalam pendidikan semisal kalkulator atau AI. Karena ada resiko bahwa kalkulator, atau teknologi, menggantikan tugas belajar “badan” utama bagi siswa.

Alat peraga cenderung aman karena bertugas memudahkan pemahaman siswa. Anak SD belajar penjumlahan uang 5 ribu + uang 2 ribu hasilnya adalah uang 7 ribu. Kemudian, tanpa uang, dia paham 5 + 2 = 7. Alat peraga berupa lembaran uang adalah baik-baik saja. Berbeda halnya dengan kalkulator. Siswa SD tekan tombol kalkulator menjadi tahu 5 + 2 = 7. Tanpa kalkulator, siswa SD itu tidak bisa menghitung 5 + 2 hasilnya berapa. Alat peraga, misal lembaran uang, menguatkan pemahaman siswa. Tetapi kalkulator, atau teknologi, merusak pemahaman siswa.

[e] Pemiskinan Siswa

Orang miskin semakin miskin; itulah pemiskinan atau proletarisasi. Miskin bisa meluas ke miskin jiwa, miskin pikiran, dan miski ilmu. Kita perlu waspada terhadap resiko pemiskinan terhadap siswa.

Penggunaan kalkulator oleh siswa SD adalah pemiskinan pikiran. Siswa SD menjadi malas berhitung dasar. Penggunaan AI oleh siswa, mahasiswa, atau masyarakat umum adalah pemiskinan pikiran. Masyarakat jadi malas berpikir karena semua bisa tanya ke AI. Jadi, andai AI bisa memberi jawaban yang valid maka tetap terjadi resiko pemiskinan. Lebih bahaya lagi karena AI sering halusinasi.

Proses pemiskinan perlu dilawan dengan proses anti-pemiskinan yaitu proses pengayaan; agar siswa kaya pikiran, kaya ide, dan kaya jiwa. Di antaranya, siswa perlu berlatih menulis bebas mulai dari 3 paragraf sampai 3 halaman; atau, bila sampai 30 halaman bisa menjadi buku. Dampak penting dari latihan menulis adalah siswa menjadi terlatih berpikir panjang, berpikir banyak, dan berpikir sistematis. Dampak sampingan yang lebih penting lagi adalah siswa menjadi lebih mudah paham dalam membaca; membaca buku mau pun membaca situasi.

Mengapa minat membaca turun drastis akhir-akhir ini?

Karena siswa, dan masyarakat umum, memang sudah tidak mampu “membaca” lagi. Mereka hanya bisa menonton gosip, hoaks, atau fitnah serba instan di media yang memang instan. Hanya sedikit orang yang mampu membaca. Kita perlu membangkitkan kembali minat baca para siswa dan masyarakat. Dengan latihan menulis, minat baca siswa akan tumbuh subur.

Sistem pendidikan yang berkualitas membutuhkan solusi yang utuh komprehensif. Meski demikian, praktek solusi pendidikan bisa bertahap dan sesuai dengan situasi konkret masing-masing wilayah. Pendidikan perlu merangkul teknologi yang tepat; dan menolak sebagian besar teknologi – secara bijak. Tumbuh kembang siswa adalah paling utama.

Bagaimana menurut Anda?

Terbit Lengkap Trilogi Futuristik

Saya menerima dua eksemplar buku Visi Futuristik kemarin, Selasa 14 Januari 2025. Visi Futuristik adalah buku final dari trilogi Futuristik tulisan saya.

Membaca buku cetak memang mempesona. Saya sudah membaca Visi Futuristik di layar komputer barangkali puluhan kali. Baru kali ini membaca versi cetak: indah dan seru.

Secara prinsip, Visi Futuristik terdiri dari 8 wacana; kemudian, saya menambahkan wacana awal dan wacana lanjutan; bukan wacana akhir. Anda bisa menduga bahwa “wacana lanjutan” meski menjadi akhir wacana tetapi mengundang wacana untuk terus berlanjut. Saya membandingkan pemikiran Suhrawardi dengan Hegel, Zizek, McDowell, dan lain-lain.

Buku satu Logika Futuristik terbit 2023; buku dua Pintu Anugerah terbit 2024; dan buku tiga Visi Futuristik terbit 2025.

Wacana awal menegaskan bahwa Visi Futuristik mengambil inspirasi kreatif dari maha karya Suhrawardi yang ditulis sekitar 1000 tahun yang lampau; sekaligus Visi Futuristik adalah buku ketiga, buku final, dari trilogi Futuristik. Salah satu kontribusi penting Visi Futuristik adalah mengutamakan ilmu huduri lebih dari ilmu husuli.

Wacana 1.1 sampai 1.3 membahas logika dan wacana 2.1 sampai 2.5 membahas ontologi cahaya.

Pembahasan logika singkat saja karena buku satu, yaitu Logika Futuristik, sudah membahas lebih luas dan dalam. Pembahasan ontologi cahaya merupakan bagian terbesar dari Visi Futuristik. Saya menambahkan beragam kasus-kasus kontemporer: filsafat sains, filsafat teknologi, asal mula kejahatan, paradoks hukum, hirarki kebenaran, dan lain-lain. Berbagai macam kasus ini, kita selidiki secara ontologis kemudian kita mengajukan beberapa alternatif solusi.

Wacana lanjutan sengaja memancing diskusi lebih lanjut. Setelah menekankan kontribusi Visi Futuristik (sains huduri, simbolisasi cahaya, simplifikasi logika), kita membahas perbandingan dengan pemikir lain termasuk Ghazali, Ibnu Arabi, Mulla Sadra, Popper, Zizek, dan McDowell. Anda boleh beda pendapat dengan saya dalam perbandingan pemikira para tokoh ini. Justru keragaman pemikirann ini perlu kita tumbuh-suburkan.

Di bagian akhir, saya mengusulkan prospek dari Visi Futuristik. Masa depan cemerlang adalah masa depan seluruh umat manusia. Sebagian orang khilaf merusak masa depan. Di saat yang sama, kerusakan ini justru menjadi peluang untuk perbaikan agar lebih cemerlang masa depan. Sejatinya, masa depan umat manusia adalah menuju realitas cahaya sejati yang bertabur pesona.

Selamat membaca…!

Bagaimana menurut Anda?

Ide Orisinal AI: dari mana?

AI memunculkan ide-ide cemerlang; mampu menjawab segala pertanyaan dengan cepat dan tepat; mampu membuat gambar yang indah; mampu menyusun musik yang merdu. Dari mana ide orisinal AI ini muncul?

AI (akal imitasi / artificial intelligence) memang mempesona terutama sejak sukses chatGPT akhir 2022. AI menjadi mampu bicara dalam bahasa manusia; termasuk bicara dalam bahasa Indonesia. Menjadi makin menarik, AI bisa bercakap-cakap dalam bahasa daerah: Jawa, Sunda, Batak, dan lain-lain.

1. Khatir Ghazali
2. Intuisi Kant
3. Transduksi Simondon
4. Esa Laruelle
5. Diskusi

Untuk membahas asal mula ide orisinal yang dihasilkan oleh AI, kita akan meminjam beragam teori sepanjang sejarah. Ghazali (1058 – 1111) merumuskan konsep khatir atau ide murni dengan tiga klasifikasi. Kant (1724 – 1804) mengajukan formula intuisi dari yang murni sampai empiris. Simondon (1924 – 1989) mengajukan konsep transduksi untuk menggambarkan teknologi makin konkret. Laruelle (1937 – 2024) mengajukan konsep Yang Esa sebagai sumber paling Nyata dari seluruh realitas; termasuk realitas AI.

Jika AI mampu menghasilkan ide orisinal maka apakah berbahaya bagi manusia? Atau, justru makin bermanfaat? Atau, AI sebenarnya tidak pernah menghasilkan ide orisinal?

1. Khatir Ghazali

Ghazali menyebut bahwa manusia memiliki ide dari beragam sumber: dirinya sendiri, alam, setan, malaikat, dan Allah.

Ide yang bersumber, dalam ukuran tertentu, dari diri manusia sendiri disebut waham atau imajinasi. Waham adalah baik-baik saja bisa berupa ide positif atau ide negatif. Ide bersumber dari setan disebut waswas yang bersifat negatif: iri dengki, marah, curiga, dan lain-lain. Ide yang bersumber dari malaikat disebut sebagai ilham yang bersifat positif: ramah, akhlak mulia, ibadah, dan lain-lain. Ide yang bersumber dari Allah disebut sebagai khatir: qalbi, aqli, dan rabbani.

Dari mana AI memperoleh ide? Bila dari manusia, AI memiliki waham (imajinasi); bila dari setan, AI memiliki waswas; bila dari malaikat, AI memiliki ilham; bila dari Allah, AI memiliki khatir.

Kita akan fokus membahas khatir dan mencoba mencermati ide orisinal AI.

[a] Khatir qalbi, khatir hati, atau persepsi hati adalah ide yang diterima oleh manusia melalui hati. Anda suka mangga; saya suka jeruk. Anda suka lukisan; saya suka sastra. Khatir qalbi masing-masing orang bisa berbeda-beda. Khatir qalbi baik-baik saja tetapi konsekuensinya bisa bermanfaat atau berbahaya. Karena suka duren lalu seseorang makan duren kebanyakan sampai akhirnya kena serangan jantung. Khatir qalbi berupa suka duren, sejatinya, baik-baik saja.

Apakah AI memiliki khatir qalbi? Apakah AI suka duren? “Sebagai AI saya tidak memiliki kapasitas rasa suka,” jawab Gemini AI.

Jadi, AI tidak memiliki khatir qalbi. Sumber ide orisinal AI bukan dari khatir qalbi.

[b] Khatir aqli, persepsi akal, adalah ide yang diterima manusia melalui akal. Manusia memahami logika matematika melalui akal; manusia memahami aturan sosial melalui akal. Kemudian, manusia mengembangkan beragam budaya dengan berbekal akal dan kerja sama antar umat dan interaksi dengan alam raya.

Apakah AI memunculkan ide melalui akal? AI tidak memiliki akal; jadi AI tidak bisa mengembangkan ide orisinal berupa khatir aqli.

[c] Khatir rabbani, persepsi futuristik menjaga masa depan semesta. Khatir rabbani mengutamakan pertumbuhan masa depan yang baik dan komitmen mencapai akhiran yang baik; bersifat futuristik.

Anda punya anak? Anda mendidik anak dengan pendidikan terbaik adalah contoh khatir rabbani. Bupati yang menyelenggarakan pembinaan olahraga untuk menjaga kesehatan warga adalah contoh khatir rabbani. Anda berdoa di malam sunyi memohon kebaikan untuk masa depan seluruh negeri adalah contoh, lagi, khatir rabbani. Anda mengembangkan banyak ide orisinal dengan khatir rabbani atau persepsi futuristik ini.

Apakah AI memiliki persepsi futuristik atau khatir rabbani? Tidak. Jadi, AI menghasilkan ide orisinal tidak bersumber dari khatir rabbani.

Kesimpulan sementara: AI tidak memiliki ide orisinal karena AI tidak menunjukkan bahwa AI memiliki khatir; baik qalbi, aqli, mau pun rabbani. Ide orisinal AI hanya tampak orisinal tetapi sejatinya tidak orisinal. AI bisa merespon prompt secara wajar sebagai teknologi. Respon AI ini bukan orisinal meski manusia bisa menduga, dan memaknai, sebagai orisinal.

2. Intuisi Kant

Kant menyatakan bahwa intuisi tentang ruang dan waktu adalah intuisi paling murni. Ketika Anda melihat suatu obyek, pohon atau meja atau apa pun, maka obyek tersebut pasti berada dalam ruang dan waktu tertentu. Seluruh fenomena hanya bisa eksis dalam ruang dan waktu. Tanpa ruang-waktu, tidak ada fenomena apa pun.

Apakah AI memiliki intuisi murni tentang ruang dan waktu? Apakah AI memahami suatu fenomena dalam ruang waktu? Tidak. AI tidak memiliki intuisi murni. AI tidak memahami fenomena dalam ruang-waktu.

Di sini, kita menggunakan istilah intuisi secara longgar.

[a] Intuisi aksioma; manusia memiliki intuisi tentang aksioma sebagai pijakan pasti. Misal manusia memahami aksioma penjumlahan bilangan bulat 2 + 1 hasilnya adalah 3. Meski ada ribuan berita di media sosial mengatakan 2 + 1 = 5 maka kita tetap yakin bahwa 2 + 1 = 3.

Apakah AI memiliki intuisi aksioma? Tidak. Bila tersedia data lebih banyak mengatakan 2 + 1 = 5 maka AI akan merespon 2 + 1 dengan hasil 5.

[b] Intuisi antisipasi; manusia siap antisipasi sesuatu. Anda pasti antisipasi bahwa ada hari esok; Anda antisipasi detik ini berlalu berlanjut dengan detik berikutnya; Anda antisipasi bila membuka mata maka akan melihat sesuatu. Dan masih banyak antisipasi lainnya.

Apakah AI memiliki intuisi antisipasi? Tidak. AI tidak melakukan antisipasi. Bahkan, jika Anda tidak bertanya kepada AI maka AI tidak akan antisipasi memberi jawaban.

[c] Intuisi pengalaman berproses; manusia memiliki intuisi bahwa kita mengalami sesuatu melalui proses. Kita berproses dari bayi, kanak-kanak, remaja, dan tua. Kita sadar matahari terbit pagi, bumi menjadi terang, makin siang sinar matahari makin terang. Ada hubungan kausalitas dari banyak kejadian.

Apakah AI memiliki intuisi untuk mengalami sesuatu melalui proses? Tidak. AI tidak memiliki intuisi bahwa dia mengalami proses dari produksi sampai, nantinya, akan musnah.

[d] Intuisi empiris; manusia mengamati banyak fenomena secara empiris. Intuisi empiris paling dasar adalah non-kontradiksi. Fenomena empiris tidak bisa kontradiksi. Ketika Anda melihat matahari besinar maka, saat itu, tidak mungkin matahari tidak bersinar. Pernyataan yang mengandung kontradiksi harus ditolak.

Apakah AI memiliki intuisi empiris? Tidak. AI tidak memiliki intuisi prinsip non-kontradiksi.

Kesimpulan sementara: AI tidak memiliki intuisi murni atau lainnya. Dengan demikian, AI tidak memiliki ide orisinal. Sementara, manusia mengembangkan ide orisinal dengan memanfaatkan beragam intuisi.

3. Transduksi Simondon

Transduksi adalah proses menjadi lebih konkret sebagai suatu individu. Transduksi adalah proses yang terjadi pada transindividuasi. Anda lahir sebagai bayi, nyaris mirip dengan semua bayi lain, sama-sama bersih. Bayi belum “konkret”. Bayi itu, kelak, menjadi dewasa. Sebagian manusia dewasa menjadi petani, pedagang, pegawai, seniman, pejabat, dan lain-lain. Di antara sesama pegawai pun berbeda-beda: ada pegawai disiplin, pegawai apa adanya, pegawai ambisi, dan lain-lain. Manusia dewasa adalah “konkret” yang berbeda dengan ketika bayi. Ketika lahir, semua manusia adalah mirip. Ketika mati, setiap manusia berbeda-beda secara konkret.

Bandingkan dengan kucing yang lahir sebagai bayi kucing. Kemudian kucing hidup di alam raya sampai tua dan mati sebagai kucing lagi. Kucing tua tidak jauh berbeda dengan kucing bayi; mereka sama-sama kucing. Kucing tidak mengalami transduksi; kucing tidak mengalami proses menjadi lebih konkret. Tentu saja, dalam kadar tertentu, kucing tua berbeda dengan kucing bayi. Tetapi perbedaan sedikit ini tidak memadai disebut transduksi.

Dalam proses transduksi, manusia menghasilkan beragam ide orisinal. Petani menghasilkan ide orisinal untuk merawat sawah. Seniman menghasilkan ide orisinal berupa maha karya seni. Pegawai menghasilkan ide orisinal berupa sistem kerja efektif dan lain-lain.

Apakah AI mengalami proses transduksi? Tidak. AI tidak transduksi sehingga tidak memunculkan ide orisinal. AI itu sendiri adalah hasil dari transduksi komputer biasa menjadi AI. Komputer biasa berbeda dengan AI. Pelaku transduksi ini bukan AI tetapi justru manusia bersama konteks histori budaya.

Kesimpulan sementara: AI tidak memiliki ide orisinal tetapi AI adalah hasil dari transduksi; AI adalah produk dari ide orisinal.

4. Esa Laruelle

Sulit sekali memahami Laruelle yang mengembangkan konsep tentang Yang Esa. Di satu sisi, konsep Yang Esa memang sulit dipahami. Di sisi lain, Laruelle berputar-putar dulu sebelum menjelaskan konsepnya sendiri. Berputar-putar itu sendiri makin mempersulit. Karena, dalam berputar-putar, Laruelle menjelaskan konsep-konsep dari pemikir besar: Heidegger, Simondon, Deleuze, Spinoza, dan lain-lain. Kemudian, dia mengkritiknya. Putaran ini tidak memudahkan, justru mempersulit meski penting juga. Di sini, kita akan membahas Yang Esa singkat saja.

Yang Esa adalah Yang Maha Nyata. Yang Esa hanya bisa dipahami melalui Yang Esa itu sendiri yaitu visi-dalam-Esa. Yang Esa adalah imanen radikal; tersembunyi dalam dirinya sendiri. Memahami Yang Esa dari jauh, secara transenden, akan berakibat kesalahan atau halusinasi. Manusia, diri kita, perlu selaras bersama Yang Esa untuk menggapai visi-dalam-Esa. Seluruh realitas alam semesta bersumber dari Yang Esa. Hanya dengan selaras visi-dalam-Esa, kita bisa memahami realitas. Kemudian, manusia bisa memunculkan ide-ide orisinal.

Apakah AI memahami realitas dengan cara selaras visi-dalam-Esa? Apakah AI memahami fenomena dengan imanen: menyatu selaras dengan fenomena? Ataukah, AI memahami dari jarak jauh? Benar bahwa AI memahami fenemona dari jarak jauh. Sehingga AI tidak memiliki ide orisinal tetapi sering halusinasi.

Bagaimana pun, AI adalah realitas yang bersumber dari Yang Maha Nyata yaitu Yang Esa itu sendiri. Sehingga untuk memahami AI, kita perlu selaras dengan visi-dalam-Esa.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

AI tidak memiliki ide orisinal sampai saat ini. Tetapi, AI terus berkembang. Apakah di masa depan, AI akan mampu menghasilkan ide-ide orisinal?

Bagaimana dengan manusia: apakah manusia memiliki ide orisinal?

Benar. Manusia selalu memiliki ide orisinal. Bahkan setiap ide dari manusia adalah selalu orisinal. Konsekuensinya, manusia harus tanggung jawab terhadap ide-idenya; terutama bila diungkapkan dalam beragam bentuk.

Ketika seorang bocah belajar penjumlahan bilangan asli 2 + 1 = 3, dia mengembangkan ide orisinal. Bocah memahami penjumlahan melalui khatir, intuisi, dan transduksi. Meski pun jawaban 2 + 1 = 3 tampak mirip dengan jawaban orang-orang lain, bahkan sama persis dengan orang lain, tetapi itu adalah ide orisinal bocah tersebut. Bocah tersebut bisa berpikir melalui proses perhitungan atau mengingat memori atau contek catatan; semua tetap orisinal.

Masih banyak tema yang perlu kita kaji. Bagaimana pendapat Anda?

Makin Kaya dengan AI

Atau makin miskin? Banyak orang makin kaya dengan memanfaatkan AI. Di sisi lain, banyak orang juga makin miskin dampak dari AI. Apa pilihan yang tepat terhadap AI (akal imitasi / artificial intelligence)?

Udin adalah sarjana informatika yang baru lulus dari institut terbaik di negerinya berbincang dengan ayahnya.

Ayah: Kerjaan kamu banyak coding?
Udin: Betul. Tiap hari.
Ayah: Bagaimana cara kamu coding?
Udin: Suruh AI bikin code. Lalu, tinggal aku periksa.
Ayah: Mudah banget dong?
Udin: Ya, perusahaan rekomendasi seperti itu dan menyediakan dana.

Coding (koding) adalah menulis code (kode) pada komputer agar komputer mengerjakan tugas yang diperlukan. Dulu, programer harus menulis kode huruf demi huruf, baris demi baris, secara manual. Sekarang, programer bisa menyuruh AI untuk menuliskan code yang diinginkan secara cepat. Bayangkan Anda perlu coding yang terdiri 1000 baris. Berapa lama waktu yang Anda butuhkan? Barangkali 2 jam atau 3 jam untuk menulisnya. Belum lagi, kita mudah tipo, mudah salah ketik. Kita perlu memeriksa ulang tulisan code itu. Total, dari pagi sampai sore, kita baru bisa menyelesaikan coding yang 1000 baris itu.

Bagaimana dengan coding pakai AI? Anda bisa menyelesaikan coding itu hanya dalam 10 menit berbantuan AI. Tulis prompt yang tepat untuk AI maka AI menyelesaikan semuanya.

1. Coding AI
2. Verifikasi
3. Cara AI Belajar
4. Proletarisasi
5. Diskusi

Google mengakui bahwa 25% code mereka dihasilkan oleh AI yang diperiksa oleh programer manusia.

“We’re also using AI internally to improve our coding processes, which is boosting productivity and efficiency,” Pichai said.

“Today, more than a quarter of all new code at Google is generated by AI, then reviewed and accepted by engineers. This helps our engineers do more and move faster.”

“Kami juga menggunakan AI secara internal untuk meningkatkan proses koding kami, yang meningkatkan produktivitas dan efisiensi,” kata Pichai (CEO Google).

“Saat ini, lebih dari seperempat dari semua kode baru di Google dibuat oleh AI, kemudian ditinjau dan diterima oleh para teknisi. Ini membantu para teknisi kami melakukan lebih banyak hal dan bergerak lebih cepat.”

Teknisi adalah ahli teknik atau insinyur atau tukang insinyur. Di Google, teknisi mendapat banyak kemudahan dari AI.

1. Coding AI

Coding dengan bantuan AI jelas lebih produktif. Bagaimana dengan kualitas code nya?

Udin: Aku sering menemukan code yang salah atau buruk.
Ayah: Lalu?
Udin: Aku suruh AI untuk memperbaikinya.
Ayah: Hasilnya?
Udin: AI berhasil memperbaikinya.
Ayah: Apa ada masalah?
Udin: Jika buru-buru bisa saja cukup dengan code kualitas buruk.

Code kualitas buruk berfungsi dengan benar dan baik. Hanya kualitasnya saja berbeda dengan code buatan manusia yang pakar dalam coding. Udin khawatir bahwa kualitas code makin buruk karena AI.

2. Verifikasi

Tugas manusia fokus untuk verifikasi: [1] code benar; [2] code kualitas baik.

Untuk mampu verifikasi, kita perlu mamahami konteks kode, memahami kualitas code, dan kemudian logika code.

Verifikasi logika code, agar code dijamin benar, kita perlu berpikir sebagai programer. Maksudnya, setiap programer mampu melakukan tugas ini. Atau sebaliknya, programer yang tidak mampu melakukan verifikasi logika code maka tidak layak dianggap sebagai programer.

Awalnya, AI barangkali salah dalam menghasilkan code; secara logika. Dengan latihan, AI akan mampu menghasilkan code dengan logika yang benar; tentu dengan cepat.

Verifikasi kualitas code hanya bisa dilakukan oleh programer berpengalaman saja. Awalnya, AI tidak akan mampu verifikasi kualitas code. Setelah banyak belajar, apakah AI akan mampu verifikasi kualitas code?

Kita sulit menjawab verifikasi kualitas ini. Karena kualitas mengandung sisi relatif terhadap beragam alternatif. Programer senior pun menghadapi beragam kesulitan. Hanya saja, intuisi berdasar pengalaman akan memudahkan programer senior. Apakah AI yang “berpengalaman” akan memiliki semacam intuisi programer senior? Mungkin AI tidak akan mampu. Tetapi, AI akan memiliki semacam “intuisi” sendiri untuk mendapatkan code berkualitas. Pengamat dari luar, yang bukan programer senior, akan menilai code dari AI sama berkualitasnya dengan code dari programer senior.

Verifikasi konteks code hanya bisa dilakukan oleh manusia: programer bersama tim mereka, pelanggan, masyarakat sekitar, dan situasi budaya secara luas. AI tidak akan pernah mampu verifikasi konteks code; sejauh AI berkembang dengan skenario saat ini.

Mengapa AI tidak mampu verifikasi konteks code?

Karena AI bekerja dan belajar berdasar data digital. Sementara, konteks code lebih dari data digital; meliputi konteks budaya secara luas. Setiap konteks budaya yang dibuat versi digital maka masih tersedia konteks budaya lain yang tidak digital. Jadi, verifikasi konteks code pasti membutuhkan manusia. AI membutuhkan manusia.

3. Cara AI Belajar

AI belajar dari data yang jumlahnya besar; LLM: large language model. AI model ini disebut sebagai generative AI atau genAI atau GAI. ChatGPT, Gemini, dan Meta adalah beberapa contoh AI generatif.

AI generatif memang penting karena berbeda dengan AI generasi sebelumnya. AI generatif mampu “generate” atau menghasilkan ide-ide baru yang berbeda dari bahan ajar mereka. Jadi, AI menjadi mirip dengan manusia yang kreatif.

Karena AI kreatif maka AI mungkin saja salah; bahkan AI sering halusinasi. Dengan banyak berlatih, maka AI menjadi jarang salah atau AI hampir selalu benar. Problem selesai. Apakah terjamin?

Problem lain muncul: jika AI belajar dari data maka apa yang terjadi jika AI sudah belajar dari seluruh data?

Atau, jika seluruh data baru hanya dihasilkan oleh AI maka AI belajar dari data hasil AI saja, apa yang akan terjadi?

4. Proletarisasi

Berikutnya, kita akan mencermati konteks proletarisasi: pemiskinan. AI berdampak memiskinkan banyak orang dan memiskinkan bumi. Banyak orang menjadi pengangguran dampak AI, banyak orang sulit wirausaha dampak AI, pencemaran lingkungan dampak AI.

Di sisi lain, terjadi plutonisasi: orang super kaya menjadi makin super kaya karena AI; negara super power menjadi makin berkuasa dampak dari AI. Istilah plutonisasi bisa kita sandingkan dengan istilah plutokrasi: kekuasaan politik yang dikuasai oleh pihak super kaya.

Makin kaya bersama AI: plutonisasi. Makin miskin bersama AI: proletarisasi. Proses ini beriringan. Karena hampir seluruh penduduk dunia makin miskin, misal 5 milyar penduduk bumi, maka kekayaan orang miskin ini pindah kepada segelintir pihak super kaya; misal 5 orang super kaya. Misal setiap 1 orang miskin menyumbang 1 dolar maka 1 orang kaya menguasai 1 milyar dolar dari orang-orang miskin. Angka 1 milyar dolar memang sangat besar; demikianlah plutonisasi.

Saya tidak merasa kehilangan 1 dolar!?

Barangkali Anda tidak termasuk proletarisasi mau pun plutonisasi; Anda termasuk satu dari 3 milyar penduduk bumi yang bukan mereka. Atau, Anda tidak sadar menyumbang 1 dolar? Bukankah Anda pakai WA yang ada Meta AI? Bukankah Anda memakai google yang ada Gemini AI? Bukankah Anda pakai chatGPT atau Grok?

Jika harta Anda berkurang 1 dolar per bulan, atau 15 ribu rupiah per bulan, mungkin Anda memang tidak sadar. Hanya terasa mengapa situasi ekonomi menjadi makin sulit hari-hari ini.

Proletarisasi perlu dilawan; plutonisasi juga perlu dilawan. Setiap penduduk bumi berhak hidup layak dan bahagia di bumi ini. Penambahan kekayaan berlebih kepada super kaya juga tidak ada gunanya.

Apa sikap terbaik kita? Sikap yang mudah: ambil yang baik dan tinggalkan yang buruk. Tetapi tidak mudah lagi karena apa yang baik, dan apa yang buruk, tidak sejelas yang dikira.

Ada yang berpandangan bahwa AI hanya alat; pakailah alat sesuai fungsinya; selesai semua urusan. Benar bahwa AI memang alat; teknologi juga alat. Memandang AI sebagai hanya “alat” adalah cara pandang paling dasar; atau, paling lemah. Jadi, kita perlu mempertimbangkan AI dalam konteks histori lebih luas; termasuk pengaruh AI terhadap proletarisasi dan plutonisasi secara timbal balik.

5. Diskusi

Bagaimana menurut Anda?

a) AI Generatif atau LLM

LLM atau AI generatif sangat penting bagi manusia karena AI generatif tampak kreatif mirip manusia; bisa berbincang-bincang dengan bahasa alami manusia.

AI generatif gagal menjawab soal matematika. Saya sering bertanya ke AI tentang triple Pythagoras. Mereka menjawab dengan salah; chatGPT, Gemini, Meta, atau lainnya. Tetapi, AI bisa menulis code seperti kita bahas di atas. Akhirnya AI mampu menjawab soal matematika apa pun dengan menjalankan code komputer. Hal ini, pencapaian yang luar biasa. Apakah AI memahami code tersebut? Apakah LLM telah menulis code dengan interpretasi yang tepat? Apakah semua problem bisa diselesaikan dengan menulis code?

Yang paling istimewa dari LLM bukan kemampuan coding tetapi kemampuan bahasa alamiah manusia. Jadi, kita perlu mengkaji lebih jauh lagi. Dampak positif apa yang bisa diberikan oleh AI kepada alam semesta? Dampak negatif apa yang bisa dicegah oleh AI secara luas? Kita meluaskan perspektif dampak AI ke seluruh semesta. Perspektif sempit tidak lagi cukup: keuntungan finansial apa yang bisa dihasilkan AI kepada para investor? Jika kita berminat mempersempit perspektif maka perlu fokus kepada pihak lemah: keuntungan apa yang bisa diberikan oleh AI kepada orang-orang miskin di belahan dunia?

Kita berharap AI akan berhasil memberi kebaikan kepada seluruh alam semesta termasuk kepada manusia. Jika LLM gagal maka kita bisa mengembangkan model AI yang lain.

b) Proletarisasi

Tema pemiskinan, atau proletarisasi, perlu terus menyebar ke seluruh penjuru bersama AI. Proletarisasi menjadi tersembunyi karena berhubungan dengan AI secara tidak langsung. Hubungan langsung dengan AI adalah plutonisasi; menjadikan segelintir orang super kaya makin super kaya. Di sekitarnya, ada orang-orang kelas menengah yang ikut menikmati ledakan kekayaan itu. Wajar, bila mereka mendukung pengembangan AI. Lebih rumit lagi, proletarisasi dan plutonisasi tampak aman dari aspek legal; mereka tidak menunjukkan tanda pelanggaran legal mau pun moral. Tantangan kita adalah agar bisa memahami situasi ini lebih jernih.

Proletarisasi terjadi pada pengetahuan manusia; manusia makin bodoh dampak dari AI. Proletarisasi terjadi pada alam raya: hutan gundul, tanah longsor, atmosfir kotor, racun karbon bertebaran di mana-mana, satwa langka terancam punah, dan lain-lain.

Bagaimana AI bisa berperan aktif melawan proletarisasi dan plutonisasi?

c) AI Futuristik

Bagamana masa depan AI? Tepatnya, bagaimana masa depan AI yang baik bagi manusia dan seluruh alam raya?

Kita mengkaji AI secara kritis adalah untuk menemukan solusi.

Bagaimana menurut Anda?