Tugas Mendikbud Nadiem yang Luar Biasa

Sudah pasti tugas seorang menteri besar luar biasa. Apalagi menteri pendidikan yang termuda dan berpengalaman melejitkan gojek sampai menjadi decacorn terbesar Indonesia. Besar pula harapan rakyat Indonesia ke menteri kita.

Berikut saya rangkum 3 tugas mendikbud yang luar biasa. Barangkali bisa jadi tugas utama mungkin bukan paling penting, bukan tersulit, bukan pula terhebat. Tapi tugas utama yang luar biasa.

  1. Menjamin setiap warga yang semangat belajar maka sukses. Seperti tugas utopis? Tidak juga. Ini tugas yang sudah dijalankan kementerian saat ini hanya perlu sentuhan digital. Perlu agar setiap warga tahu kesempatan ini sehingga warga dapat memanfaatkan dengan baik.

    Sudah sebagus itukah kondisi pendidikan kita? Ya, memang sudah bagus dan perlu ditingkatkan. Penduduk miskin bisa sekolah dengan gratis dari SD, SMP, SMA. Bahkan sampai kuliah juga tersedia beasiswa bidik misi. Jadi setiap orang bisa sekolah setinggi-tingginya tanpa dihantui mahalnya biaya.

    Bagaimana dengan kelas menengah? Tidak termasuk penduduk miskin tapi masih keberatan bila harus membayar biaya kuliah yang mahal. Pemerintah menyediakan beasiswa prestasi semisal beasiswa unggulan yang terbuka untuk semua kalangan tidak harus mempersyaratkan dari keluarga kurang mampu.

    Ditambah lagi masih banyak beasiswa dari swasta dan LPDP untuk program pasca sarjana.

    Lalu, apa masalahnya? Masalahnya adalah banyak penduduk yang tidak tahu informasi tentang beasiswa ini dan tidak tahu bagaimana cara memperoleh beasiswa tersebut.

    Tugas mendikbud adalah mensosialisasikan sedemikian hingga setiap warga jadi tahu bahwa tersedia program beasiswa yang berlimpah untuk semua. Warga hanya perlu gigih, semangat, dan disiplin mengikuti pendidikan maka biaya sudah terjamin. Dengan pengalaman Pak Menteri yang berhasil mengantarkan gojek sebagai start up nasional bahkan internasional tampaknya tugas ini tidak terlalu sulit. Tentu media digital akan berperan besar dalam tugas ini – sesuai harapan kita.

  2. Mendorong warga yang malas belajar mau belajar. Banyak yang mengatakan bahwa siswa-siswa kita malas belajar. Apa lagi orang dewasa: buat apa belajar?

    Di sini memang tidak mudah memotivasi orang malas menjadi semangat. Tetapi malas bisa saja disebabkan oleh kondisi yang tidak menguntungkan – tidak ada kesempatan, tidak ada media yang tepat, tidak ada fasilitas memadai, tidak ada metodologi yang menarik, dan lainnya.

    Pengalaman saya mengajar matematika menunjukkan bahwa orang yang malas bisa berubah menjadi semangat belajar bila menemukan metode yang menarik misal metode belajar matematika apiq yang asyik. Saya mengembangkan metode matematika yang mudah, mengagetkan, dan memunculkan rasa penasaran.

    Metode apiq yang asyik ini saya kemas dalam bentuk ragam trik dan game matematika. Terbukti berhasil mengubah yang malas belajar menjadi semangat belajar, mengantar yang rajin belajar menjadi berprestasi.

    Dengan pengalaman Pak Menteri di bisnis digital gojek saya yakin Pak Menteri akan berhasil menciptakan beragam terobosan untuk mendorong masyarakat semangat belajar. Lagi-lagi media digital akan berperan besar di sini.

    Kita bisa berasumsi bahwa semangat belajar masyarakat bisa naik turun. Maka tugas mendikbud memotivasi warga adalah tugas terus menerus tanpa henti.

  3. Menjamin kesejahteraan yang berprestasi. Ujung-ujungnya adalah urusan uang. Setelah semua berjuang bagaimana kesejahteraan seluruh aparat dan tenaga pendidikan?

    Teknologi digital akan berperan lebih penting lagi di sini. Kita dengan mudah merekam jejak digital. Siapa orang yang berprestasi maka dapat reward yang tinggi dalam kesejahteraan. Mereka yang tidak berprestasi maka disiapkan program-program pengembangan.

    Teknologi digital memungkinkan sistem merekam prestasi seseorang secara otomatis (log system) tanpa harus orang tersebut membuat laporan. Mudah tanpa beban administrasi. Big data ( data sains) memudahkan pak Menteri untuk menilai prestasi dari seluruh anggota secara adil. Dan kabar baiknya, menteri kita sangat berpengalaman dalam hal ini.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: