Membangun Negeri Kuatkan Wong Cilik

Saya apresiasi pemerintahan Jokowi. Juga pemerintahan SBY. Bahkan Megawati, Gusdur, dan Habibie.

Akses pendidikan bagi rakyat kecil kian terbuka. Sekolah SD, SMP, dan SMA / sederajat gratis untuk semua kalangan. Bulan Februari 2020 akan dibuka pendaftaran kuliah gratis untuk 400 ribu calon mahasiswa baru. Dengan program KIP Kuliah sebagai lanjutan program bidik misi.

Beasiswa program pasca sarjana dan penelitian berlimpah melalui LPDP. Mereka yang tidak masuk golongan rakyat kecil tersedia beasiswa unggulan – syaratnya harus unggul atau berprestasi.

Program beasiswa untuk rakyat kecil adalah tepat. Seperti laporan OECD, saat ini sedang terjadi ketimpangan besar antara si kaya dengan si miskin. Bahkan ketimpangan terbesar untuk 30 tahun terakhir. Ketimpangan tidak hanya merugikan wong cilik saja. Tapi merugikan seluruh lapisan masyarakat sosial. Beasiswa untuk wong cilik kita harapkan dapat mengurangi ketimpangan di Indonesia.

Hanya satu masalahnya: banyak orang tidak tahu.

Banyak wong cilik tidak tahu bahwa sekolah itu gratis. Bukan salahnya wong cilik. Misalnya di SD memang tidak ada kewajiban bayar SPP. Tapi iuran pentas seni, beli LKS, olah raga, les tambahan dan lain-lain masih memberatkan rakyat kecil. Rakyat kecil masih punya alasan, “Sekolah itu mahal. Apalagi kuliah. Kami tidak punya biaya.”

Maka saya sering menuliskan hanya ada satu tugas utama mendikbud: promo bahwa sekolah itu gratis – dari SD, SMP, SMA, S1, S2, S3.

Promosi. Betul hanya promosi. Karena program sekolah gratis itu sudah ada saat ini.

Saat semua orang kecil tahu bahwa sekolah itu gratis maka pungutan liar dapat kita cegah lebih mudah. Pungli dalam bentuk apa pun bisa kita lawan, “Mas Menteri sudah menyatakan sekolah gratis 100%.” Yang masih nekad narik pungli bisa kita laporkan melalui media online.

Rakyat kecil bisa sekolah setinggi langit.

Generasi muda Indonesia makin cemerlang.

Ayo kita bangun negeri ini!

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: