Kurikulum Nadiem Vs Epistemic Knowledge

Seperti apa bentuk kurikulum baru Mendikbud Mas Nadiem? Akankah lebih bagus buat negeri ini? Akankah ada porsi untuk “epistemic knowledge?”

Saya berharap epistemik dapat porsi besar.

Epistemik adalah siswa menguasai ilmu secara mendalam, mahir, dan tuntas, layakya seorang praktisi.

Epistemik menuntut sebuah kurikulum yang fokus dan mendalam. Epistemik tidak akan bisa berjalan dengan konten yang meluas, banyak materi, dan gemuk.

Seorang siswa yang menguasai epistemik “bahasa Indonesia,” misalnya, mampu menulis kalimat aktif dengan tepat. Dapat memberikan contoh kalimat aktif dengan mudah. Layaknya seorang guru bahasa Indonesia yang dengan reflek mencontohkan beragam kalimat aktif.

Seorang siswa yang menguasai epistemik “perkalian,” misalnya, dapat menghitung perkalian cepat dengan mudah. Siswa menghitung bahkan seakan hafal – padahal paham secara mendalam. Siswa paham cara berhitung cepat perkalian mana yang bisa diselesaikan hanya dengan pikiran. Dan tahu jenis berhitung mana yang sebaiknya diselesaikan dengan bantuan kalkulator atau mesin.

Keluhan kurikulum selama ini adalah tidak cukup waktu untuk mengajar materi sesuai kurikulum. Sehingga beberapa materi bahkan tidak sempat diajarkan di kelas. Atau diajarkan dengan ngebut saja.

Tentu pengajaran yang ngebut tidak cocok untuk epistemik. Epistemik perlu waktu. Siswa perlu belajar secara mendalam. Siswa perlu mengalami prosesnya. Siswa perlu memikirkan ilmunya.

Mas Menteri Nadiem yang fokus kepada literasi dan numerasi tampaknya punya peluang bagus untuk memasukkan epistemik ke dalam kurikulum. Jangan sampai kurikulum kita mengulang kurikulum Amerika jaman baheula, “Kurikulum seluas samudera tapi kedalaman satu mili.”

Sebagai catatan, berikut, saya kutipkan beberapa pengertian “epistemic knowledge.”

Awalnya digunakan sebagai penguasaan sains yang mendalam. “Epistemic knowledge refers to the nature of that knowledge, an understanding of the nature and origin of knowledge in science, and reflects students’ capacity to think and engage in reasoned discourse as scientists do.”

Lalu berkembang lebih umum sebagai penguasaan ilmu dan praktik layaknya seorang praktisi.

“Epistemic knowledge involves knowing
how to think and act like a practitioner.
It shows the relevance and purpose in
students’ learning and helps deepen their
understanding.”

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: