Computational Thinking Nadiem Vs Procedural Knowledge

Mas Menteri Nadiem mencanangkan computational thinking (dan compassion) masuk kurikulum. Ide bagus. Tapi apa bisa?

Pertanyaan ini mirip, “Bagaimana cara memasukkan jerapah ke dalam kulkas?”
“Buka kulkas lalu masukkan jerapahnya,” jawaban singkat.
“Bagaimana cara memasukkan gajah ke dalam kulkas?” pertanyaan berikutnya.
“Buka kulkas lalu masukkan gajahnya,” adalah jawaban yang salah.

Jawaban yang benar adalah, “Buka kulkas keluarkan jerapahnya lalu masukkan gajahnya.”

Kurikulum kita saat ini bagaikan kulkas yang berisi jerapah. Bahkan banyak jerapah. Maka sebelum memasukkan computational thinking pastikan Anda sudah mengeluarkan semua jerapahnya.

Menurut saya, Mas Nadiem sudah berniat mengeluarkan semua jerapah itu dengan fokus kepada numerasi dan literasi. Bila benar ini terjadi maka saya setuju. Berharap banyak pendidikan Indonesia segera maju.

Apa itu berpikir komputasi?

Berpikir komputasi (Computational Thinking) adalah sebuah metoda pemecahan masalah dengan mengaplikasikan/melibatkan teknik yang digunakan oleh software engineer dalam menulis program.

Tapi harapan saya akan ada jerapah dikeluarkan dari kulkas buru-buru pupus.

“Ketua Bebras Indonesia, Inggriani Liem, menyebutkan bahwa Computational Thinking merupakan aktivitas ekstra kulikuler yang mengedukasi anak untuk memiliki kemampuan problem solving dalam era digital.”

Menempatkan berpikri komputasi sebagai ekstra bermakna memasukkan gajah ke dalam kulkas yang sudah penuh sesak oleh jerapah.

Kita bisa membanding komputasi dengan ide procedural knowlegde yang diusung OECD sebagai salah satu pengetahuan wajib 2030.

“Procedural knowledge is the
understanding of how a task is performed,
and how to work and learn through
structured processes. It is particularly
useful for solving complex problems.”

Menurut saya konsep procedural knowledge lebih tepat dan komprehensif. Sementara komputasi lebih menarik dan fokus. Saya mendukung keduanya dengan satu syarat: keluarkan dulu jerapahnya dari kulkas.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: