Nasib Guru Vs Corona

Guru tidak bisa mengajar sejak Maret 2020. Sudah 3 bulan lebih. Tetap tidak bisa mengajar maka tidak dapat uang. Sekolah pun tidak dapat uang. Siswa tidak masuk sekolah maka tidak bayar uang bulanan. Karena orang tua siswa tidak kerja selama ada corona. Tidak punya uang untuk bayar sekolah.

Itu nasib guru honorer. Guru yang mendapat honor bila mengajar. Tidak mengajar maka tidak dapat honor.

Guru terbang mirip juga. Tidak ada jam terbang mengajar maka tidak ada uang bayaran.

Guru les piano, les renang, les bahasa, dan lain-lain mirip semua.

Guru PNS bernasib beda. Ada gaji tetap. Mereka bisa libur tidak mengajar. Transfer gaji tetap datang. Lengkap dengan THR. Dan sebentar lagi mendapat transfer gaji ke 13.

Sementara Pramono Anung, Sekretaris Kabinet, menyatakan kita kelebihan ASN sebanyak 50%. Yang mana gaji mereka terlalu besar, 50% ASN harusnya tidak ada. Bagaimana gaji tetap bisa mengalir plus THR? Kita negara kaya. Kita punya pajak. Plus penghasilan negara bukan pajak. Rakyat membayar pajak dan mengikhlaskan kekayaan negara dikelola.

Kembali ke guru yang tidak dapat uang karena tidak bisa mengajar.

Apa yang harus dilakukan oleh guru honorer dalam masa pandemi seperti ini?

Hanya satu: berjuang!

Plus: sabar, ikhlas, pantang menyerah.

Saya sendiri sebelum masa pandemi telah berjuang dengan memasyarakatkan program edutuber nasional. Salah satu tujuannya adalah menambah pendapatan guru melalui youtube. Di masa pandemi, guru tetap bisa mengajar melalui youtube. Bahkan penghasilan dalam bentuk dolar.

Tapi usaha saya itu baru beberapa bulan sudah datang pandemi. Padahal untuk menghasilkan dolar butuh waktu lebih lama dari itu. Barangkali bisa 1 atau 2 tahun.

Untungnya kita memiliki menteri pendidikan yang sangat kreatif dan milenial. Mas Nadiem terbukti berhasil membuat inovasi besar dengan mengembangkan gojek. Maka kita berharap Mas Nadiem juga akan menghasilkan inovasi besar sebagai menteri pendidikan. Menyelamatkan para guru honorer. Menyelamatkan pendidikan Indonesia dari serangan pandemi.

Apakah Anda yakin?

Tentu saja, yakin kepada pertolongan Tuhan. Pasti itu.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: