Mempercepat vs Memperlambat Corona

Mudah saja mempercepat penyebaran corona. Tapi bagaimana cara memperlambatnya?

Saya menemukan, secara natural, kita mempercepat penyebaran corona. Tapi itu tidak masalah. Asalkan kita menemukan cara memperlambatnya pula. Bahkan mempercepat dalam kadar tertentu tetap tidak bahaya. Asyik dong… boleh kumpul-kumpul lagi? Tunggu dulu!

Grafik di atas menunjukkan bahwa kasus di Indonesia tidak akan selesai. Karena R = 1,16 tentu saja total kasus tumbuh eksponensial (batang warna biru). Lebih dari 250 ribu orang terjangkit di 60 hari ke depan.

Total kasus aktif mencapai lebih dari 148 ribu orang. Jumlah meninggal tentu saja juga banyak. Tetapi yang sembuh lebih banyak lagi.

Reproduksi R = 1,16 ini didukung oleh sikap masyarakat, khususnya kasus aktif, yang memberi percepatan penyebaran sebesar 1,8125. Dipadukan dengan nilai R maka 1 orang positif menulari lebih dari 2 orang berikutnya (2,1).

Untung saja kasus yang sembuh mencapai 12% dan semoga meningkat lagi.

Berikut ini dua cara memperlambat corona.

Grafik kedua ini menunjukkan setelah 60 hari kasus mulai mereda. Total aktif mulai turun dari 97 ribuan menjadi 89 ribuan. Tentu saja R mulai turun di bawah 1.

Kita bisa memperlambat kasus corona dengan cara menurunkan angka percepatan 10 poin menjadi 1,8115. Meski hanya turun sedikit percepatan ini dalam jangka panjang dampaknya bisa meredakan pandemi.

Kita perlu mengidentifikasi perilaku-perilaku apa saja yang bisa memperlambat penyebaran. Lalu memasyarakatkannya.

Cara kedua, memperlambat corona, adalah dengan meningkatkan jumlah orang yang sembuh. Tentu saja vaksin sangat diharapkan.

Rate sembuh meningkat 13 poin menjadi 12,013% berhasil meredakan corona dalam 60 hari ke depan. Kasus aktif mulai turun dan R menuju di bawah 1.

Terapi yang tepat, racikan obat yang tepat, dan kesehatan yang kuat banyak membantu dalam hal ini. Dukungan kepada para tenaga kerja dan penelitian serius bidang kesehatan menjadi sangat krusial.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: