Ketimpangan APBN 2020

Sudah timpang makin timpang. Dengan pandemi maka nilai ketimpangan APBN 2020 makin timpang. Tanpa pandemi sudah timpang apalagi sekarang.

Nilai ketimpangan Indonesia n = 2,23 beresiko makin timpang. Rasio Gini yang sedikit menanjak dari G = 0,380 menjadi G = 0,381 perlu diwaspadai.

G = 0,380 setara dengan nilai ketimpangan n = 2,22. Ini lebih dari timpang kuadrat (n = 2 adalah timpang kuadrat).

Akan lebih baik target pembangunan di atas digeser rasio Gini menjadi 0,370 – 0,375, misalnya.

  1. Klasifikasi rasio Gini

Rasional klasifikasi indeks Gini tidak mudah kita pahami. Maka saya mengusulkan klasifikasi ketimpangan berdasar nilai ketimpangan n. Di mana kita mudah menghitung n dengan,

Bila ingin mendapatkan nilai Gini dari n juga mudah,

2. Klasifikasi berdasar nilai ketimpangan = n

Nilai ketimpangan n = 2 adalah batas antara baik dan buruk. Di atas 2 maka ketimpangan bernilai lebih tajam dari kurva Lorenz kuadrat dan tergolong buruk. Sementara nilai ketimpangan di bawah 2 bersesuaian dengan ketimpangan lebih landai, lebih rendah dari kurva Lorenz kuadrat.

Batas n = 2 ini berhubungan dengan indeks Gini,

G = (2 – 1)/(2 + 1) = 1/3 = 0,333

3. Nilai ketimpangan beragam

Nilai n = 2 membagi jadi dua kelas baik dan buruk. Barangkali kita butuh lebih dari sekedar 2 kelas saja. Maka kita bisa menyusun klasifikasi yang lebih beragam berdasar nilai ketimpangan n.

n = 1 – 1,5 : nilai ketimpangan sangat baik
n = 1,5 – 1,8 : nilai ketimpangan baik
n = 1,8 – 2,2 : nilai ketimpangan sedang
n = 2,2 – 3 : nilai ketimpangan buruk
n = 3 – 20 : nilai ketimpangan buruk sekali

Secara teoritis nilai n minimal adalah 1 di mana hanya ada 1 kelas kekayaan atau pendapatan. Yang berarti semua orang memiliki kekayaan dengan jumlah yang sama persis.

Sedangkan nilai maksimal n tak terbatas bisa sampai berapa pun asal lebih dari 1, secara teoritis. Tetapi secara praktis n = 19 sudah sangat besar yang bersesuaian dengan kurva Lorenz pangkat 19 dan G = 0,9.

Nilai ketimpangan n = 1 – 1,5 : sangat bagus

Nilai ketimpangan n = 1 adalah sempurna semua orang memiliki penghasilan sama persis. Sedangkan nilai n = 1,5 bersesuai dengan kurva Lorenz pangkat 1,5.

Kita bisa menganalisis, lebih mudah, dengan membagi menjadi 4 kelas masing-masing 25% populasi.

Dengan memisalkan 25% kelas termiskin mendapat income atau konsumsi sebesar 1 bagian maka income seluruh populasi adalah 4^n. Sehingga pendapatan atau konsumsi 25% penduduk termiskin adalah 1/4^n dibagi dengan 25% penduduk.

Yaitu 1/(4^n) : 25% = 4^(1-n)

n = 1 (setara G = 0)

Maka 4^(1-1) = 4^0 = 1 = 100%
Bermakna 25% penduduk termiskin mendapat income 100% dari rata-rata income seluruh penduduk. Tentu saja ini sangat bagus. Ini kondisi sempurna tanpa ketimpangan.

n = 1,5 (setara G = 0,20)

Maka 4^(1-1,5) = 4^(-0,5) = 1/2 = 50%
Bermakna 25% penduduk termiskin mendapat konsumsi 50% dari rata-rata konsumsi seluruh penduduk. Masih sangat baik.

Nilai ketimpangan n = 1,5 – 1,8 : bagus

n = 1,8 (setara G = 0,28)

Maka 4^(1-1,8) = 4^(-0,8) = 0,33 = 33%
Bermakna 25% penduduk termiskin mendapat konsumsi 33% dari rata-rata konsumsi seluruh populasi. Tidak buruk. Cukup bagus.

Jadi untuk kelompok bagus ini, kelas termiskin mendapat konsumsi 33% – 50% dari rata-rata konsumsi populasi. Misal untuk Indonesia dengan income per kapita sekitar 60 juta rupiah per orang per tahun maka kelompok termiskin mendapat income per kapita,

22 juta sampai 30 juta rupiah per orang per tahun.

Cukup bagus kan?

Nilai ketimpangan n = 1,8 – 2,2 : sedang

n = 2,2 (setara G = 0,375)

Maka 4^(1-2,2) = 4^(-1,2) = 19%

Bermakna 25% penduduk termiskin memperoleh konsumsi 19% dari rata-rata konsumsi seluruh populasi. Tidak bagus tapi tidak terlalu buruk juga maka kita sebut sebagai sedang.

Jadi kelompok “sedang” ini penduduk miskin mendapat konsumsi 19% – 33% dari rata-rata konsumsi seluruh populasi.

Untuk kasus Indonesia setara antara 12 juta – 22 juta rupiah per orang per tahun. Memang tidak terlalu bagus tapi juga tidak buruk amat. Maka ini memang kelompok “sedang”.

Nilai ketimpangan n = 2,2 – 3 : buruk

n = 3 (setara G = 0,50)

Maka 4^(1-3) = 4^(-2) = 1/16 = 6,25%

Bermakna penduduk termiskin memperoleh konsumsi 6,25% dari rata-rata konsumsi seluruh populasi. Tampak tidak bagus. Memang buruk.

Jadi pada kelompok “buruk” penduduk miskin mendapat konsumsi kisaran 6,25% – 19% dari rata-rata konsumsi. Untuk kasus Indonesia mendapat sekitar 3,75 juta – 12 juta per orang per tahun. Tidak bagus. Memang buruk.

Garis kemiskinan di Indonesia adalah 0,4 juta x 12 bulan = 4,8 juta atau sekitar 5 juta. Sebagian dari kelompok termiskin ini benar-benar di bawah garis kemiskinan Indonesia.

Nilai ketimpangan n = 3 – 19 : sangat buruk

Karena n lebih dari 3 (setara dengan G lebih dari 0,5) sudah jelas sangat buruk. Penduduk termiskin memperoleh kurang dari 6,25% dari rata-rata konsumsi populasi.

Untuk kasus Indonesia bermakna kurang dari 3,75 juta per orang per tahun. Memang buruk. Di bawah garis kemiskinan.

5. Kasus Indonesia n = 2,22 (G = 0,38) dan income per kapita 60 juta rupiah

Dengan cara yang sama kita bisa mencoba menganalisis kondisi Indonesia. Nilai ketimpangan 2,22 memang buruk tapi income per kapita 60 juta rupiah adalah menengah atas.

Maka 4^(1-2,22) = 18%

Maka penduduk termiskin mendapat konsumsi 18% dari rata-rata konsumsi populasi.

Setara dengan 18% x 60 juta = 10,8 juta rupiah per orang per tahun. Bisa kita bulatkan 11 juta rupiah per tahun atau setara 900 ribu per bulan.

Bermakna 25% penduduk termiskin memperoleh pendapatan 900 ribu per bulan per orang. Buruk tapi tidak buruk amat. Buruk biasa saja. Masih di atas garis kemiskinan nasional yang sekitar 400 ribu rupiah itu.

Penutup

Klasifikasi menggunakan nilai ketimpangan n dapat kita analisis dengan konsekuensi yang lebih jelas.

APBN akan lebih bagus memasang target nilai ketimpangan n di bawah 2,2 (setara G di bawah 0,375) agar pemerataan lebih terwujud. Target ini juga tidak telalu jauh dari target APBN 2020 di mana G = 0,375 – 0,380.

Dengan metode perhitungan dan kendali yang tepat kita berharap bisa mewujudkan masyarakat yang lebih adil dan makmur.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: