Solusi Jebakan Optimis

Optimis bisa menjebak Anda ke jurang kehancuran. Bila Anda seorang pemimpin maka optimis bisa membawa rakyat Anda terjerumus dalam derita. Solusinya? Hindari jebakan optimisme.

Orang sering meremehkan pesimisme dan terlalu mengandalkan optimisme. Itu bahaya!

Padahal kita bisa memanfaatkan sikap pesimis untuk kemajuan bersama. Dan untuk menghindari jebakan optimisme.

Untuk membahas lebih lanjut saya membagi situasi menjadi 4 kuadran.

1.Kuadran Optimis Positif

Kuadran paling sempurna. Sepakat semua orang. Yang terbaik adalah bersikap optimis dan positif. Orang-orang semangat ada di sini. Pemimpin besar dunia adalah orang yang semangat. Soekarno membakar semangat rakyat Indonesia untuk merebut kemerdekaan.

Pemimpin dalam skala kecil pun perlu optimis dan positif. Seorang tukang becak yang optimis dapat menyekolahkan anaknya sampai lulus sarjana. Berhasil mengentaskan kemiskinan keluarga besar. Mengangkat nama baik keluarga. Berdampak positif.

2.Kuadran Optimis Negatif

Sulit dipercaya, orang optimis akhirnya gagal total. Rugi uang, waktu, dan segalanya.

Seorang broker datang menawari investasi. Profit menjanjikan. Dikelola profesional. Aman. Tuan Optimis sepakat untuk investasi senilai 30 juta rupiah. Bulan pertama bagi hasil 3 juta rupiah. Luar biasa.

Bulan kedua bagi hasil 3 juta rupiah lagi. Makin hebat. Bertambahlah orang-orang ikut investasi. Bagi hasil menggiurkan. Bulan ketiga untung makin besar. Bulan keempat hancur lebur. Si broker adalah penipu.

Apakah Anda pernah menemukan kisah penipuan semacam di atas? Pernahkah optimis mengikuti peta online sampai nyasar ke jalan buntu? Pernahkah percaya kepada seseorang yang akhirnya dia berkhianat?

Jika sikap optimis negatif: ceroboh ini hanya terjadi pada seorang pribadi barangkali dampaknya ringan. Tetapi bila terjadi terhadap seorang pemimpin negara maka bisa bahaya. Seorang menteri pun berbahaya.

Menghadapi pandemi, sifat ceroboh pemimpin sangat merugikan seluruh warga. Covid tidak akan bisa masuk negara kita. Warga negara akan sembuh dengan sendirinya. Kita punya semua penangkal covid.

3.Kuadran Pesimis Negatif

Barangkali semua sepakat ini adalah kuadran terburuk. Sudah pesimis negatif pula. Hidup merana.

Tidak punya harapan melunasi hutang. Dikejar-kejar penagih. Stress. Terjun dari lantai tiga.

Kesepian di ruang isolasi covid. Frustasi. Menerobos dari jendela lantai lima sempat melayang beberapa saat.

Merana, sedih, menderita, frustasi, sakit-sakitan, komplikasi, dan lain-lain berkumpul di kuadran ini. Maka bagaimana pun kita harus menghindar dari kuadran pesimis negatif. Harus mencegah masyarakat luas tidak terjerumus di dalamnya.

4.Kuadran Pesimis Positif

Ini kuadran paling penting: pesimis positif. Apalagi dalam situasi genting seperti pandemi maka kita butuh pemimpin yang bersikap pesimis positif: waspada.

Pemimpin pesimis, dia khawatir rakyat akan terserang covid. Maka menyusun rencana untuk mencegahnya. Plan A itu, dirasa kurang sempurna, maka pemimpin membuat plan B yang lebih bagus lagi.

Karena kondisi ekonomi makin sulit maka pemimpin menyiapkan program melindungi rakyat. Dia pesimis bahwa aparatnya tidak akan menyalurkan bantuan dengan cepat efektif. Maka pemimpin menyusun strategi untuk mencari terobosan. Lagi, pemimpin itu pesimis terobosan A akan berhasil maka dia menyusun strategi XYZ.

Dan seterusnya, pemimpin berhasil menjaga negara dari dampak pandemi mau pun ekonomi. Tetap terdampak tetapi minimal saja.

Diskusi

Mana yang terbaik dari 4 kuadran di atas?

Jelas kuadran 2 dan 3 kita tolak. Berdampak negatif. Baik pesimis atau pun optimis.

Pilihan kita tinggal kuadran 1 dan 4 saja. Berdampak positif baik optimis mau pun pesimis. Kita memerlukan kuadran kanan ini. Hanya saja kita perlu pintar-pintar memilih mana yang lebih tepatnya sesuai situasi dan kondisi.

Jika kondisi aman, normal, damai maka kita perlu bersikap optimis positif. Kita juga membutuhkan pemimpin optimis positif. Bergerak cepat maju dengan inovasi-inovasi berani. Sukses.

Tetapi jika situasi sedang genting maka sikap optimis positif ini, tanpa sadar, bisa tergeser menjadi optimis negatif: ceroboh.

Pada situasi genting kita perlu bersikap pesimis positif.

Pernikahan Optimis Pesimis

Bagaimana pasangan keluarga yang harmonis? Dari beberapa penelitian menunjukkan bahwa sikap optimis pesimis bersikap relatif permanen. Seorang optimis akan tetap optimis dalam rentang waktu yang cukup lama. Begitu juga orang pesimis.

Untuk berubah dari pesimis ke optimis atau sebaliknya butuh usaha besar. Bahkan bisa gagal. Maka bagaimana pasangan suami isteri yang ideal?

Pasangan Optimis Pesimis

Pasangan ini terbukti harmonis. Berhasil membangun rumah tangga yang bahagia. Ketika kita bertanya kepada orang yang optimis mereka sepakat, “Karena ada yang optimis pasti bisa bahagia.” Ketika kita bertanya kepada orang pesimis mereka juga sepakat, “Karena ada yang pesimis maka mereka selamat.”

Pasangan Pesimis Pesimis

Sepakat lagi: pasangan pesimis-pesimis, sebagian besar, gagal membangun rumah tangga ideal. Survey juga mengkonfirmasi.

Pasangan Optimis Optimis

Terjadi respon yang berbeda di sini.

Orang optimis yakin pasangan optimis-optimis akan berhasil membangun rumah tangga ideal. Pasangan ini akan saling mendukung.

Orang pesimis merespon bahwa pasangan optimis-optimis akan gagal membangun rumah tangga ideal. Mereka akan terjerumus karena angan-angan.

Anda optimis atau pesimis?

Orang optimis menjawab, “Betul, saya optimis.”
Orang pesimis menjawab,”Tidak, saya tidak pesimis. Saya realisitis.”

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: