Bencana Pendidikan

Bencana kesehatan merembet ke bencana pendidikan. Sebelumnya sudah merembet ke bencana ekonomi. Seharusnya kita bisa mencegah bencana pendidikan. Berbagai macam terobosan pendidikan bisa kita munculkan.

Saya setuju dengan Salman Khan, “… digital faculty won’t ever be an ideal alternative for in-person faculty, …”

Belajar online (PJJ) tidak akan pernah bisa menggantikan belajar tatap muka. Saya juga senang bahwa kemetrian sudah merespon keluhan tentang PJJ. Saya sendiri mengusulkan “belajar tatap muka bukan sekolah tatap muka.”

Bagaimana pun di sini saya akan mencoba diskusi sedikit lebih dalam peluang belajar online sebagai penyelamat dari bencana pendidikan.

1.Perbedaan belajar online sinkron vs asinkron

Umumnya orang berpikir belajar online adalah proses belajar sinkron. Di mana guru mengajar di jam belajar dan siswa mendengar, menonton, belajar, dan aktivitas penunjang di saat yang sama. Itu adalah tipe belajar sinkron.

Sebaliknya, tipe belajar asinkron (tidak sinkron, tidak bersamaan) adalah belajar online dengan waktu yang berbeda. Misal belajar melalui media video rekaman youtube. Saya sudah merekam video bulan Juni dan saya upload di youtube. Tetapi siswa mempelajarai video saya di bulan Agustus.

2.Manfaatkan sinkron dan asinkron

Kita perlu memanfaat dua mode belajar online di atas: sinkron dan asinkron. Tetapi karena banyak guru yang mengira belajar online harus sinkron maka ini menjadi tugas yang berat. Akibatnya belajar online justru tidak berlangsung. Guru cukup memberikan tugas, soal, atau pekerjaan rumah untuk siswa. Guru tidak mengajar sama sekali, atau sedikit sekali.

Itulah keluhan siswa dan orang tua.

Guru akan lebih mudah mengajar dengan mode asinkron seperti yang saya lakukan melalui youtube.

3.Manfaatkan belajar sinkron untuk interaksi sosial

Tujuan utama belajar online mode sinkron adalah untuk interaksi antar siswa dan guru. Sedangkan materi belajar cukup sedikit saja. Mode sinkron bisa dilakukan dengan Zoom, WA, FB, youtube live, dan lain-lain.

Guru bisa memberi materi pengantar sekitar 5 menit di awal sambil menyapa para siswa. Lalu memberi soal latihan sederhana yang tujuannya untuk menjalin interaksi. Barangkali mode sinkron cukup hanya 30 – 45 menit per hari.

Untuk pendalaman materi manfaatkan asinkron.

4.Manfaatkan asinkron untuk pendalaman materi

Guru bisa lebih leluasa ekplorasi dengan mode belajar online asinkron. Membuat video dengan beragam gaya. Bisa juga dengan merekam audio tanpa gambar. Penggunaan tulisan berupa file word, ppt, pdf, dan lain-lain. Bahkan game digital juga bisa kita buat untuk proses belajar asinkron lebih kreatif.

Mode asinkron ini juga memberi keleluasaan guru bebas kapan saja menyiapkan materinya. Tidak terikat waktu belajar.

Lebih menarik lagi, mode asinkron memungkinkan guru memanfaatkan materi ajar dari guru lain. Misal MGMP bisa sharing suatu materi unggulan lalu dimanfaatkan oleh semua guru di kabupaten bersangkutan.

Lebih luas lagi, guru bisa memanfaatkan sumber belajar di luar. Misal memanfaatkan video pembelajaran matematika kreatif dari canel youtuber paman apiq.

5.Membuat video belajar bukan membuat movie

Kesalahan besar para pendidik adalah memposisikan diri sebagai bintang film ketika hendak mengajar di depan kamera.

Itu tugas yang sangat berat. Pun tidak masuk akal. Bayangkan membuat sebuah movie barangkali perlu waktu 1 tahun atau 2 tahun. Tetapi guru harus mengajar tiap hari. Mana bisa waktu 1 tahun dimampatkan jadi 1 hari?

Maka kita perlu metode membuat video pembelajaran yang bisa dilakukan tiap hari. Saya sudah mengembangkan metode itu dengan program “edutuber nasional.” Hanya dengan bekal HP biasa maka guru bisa memproduksi video pembelajaran setiap saat.

Dalam hal ini saya tidak sepakat dengan Salman Khan, “…that some academics are replicating their lectures in YouTube video kind, and this has been extremely time consuming and depleting for them.”

Dia menyatakan bahwa membuat video banyak menghabiskan waktu. Tapi saya sudah menunjukkan membuat video justru menghemat banyak waktu. Bila kita tahu caranya.

Sedikit ilustrasi barangkali menjadi lebih jelas. Mendorong sepeda motor dari rumah ke sekolah adalah tugas melelahkan. Apalagi jaraknya lebih dari 3 km. Mungkin perlu waktu 30 menit plus mandi keringat.

Kasus akan berbeda bila kita tidak mendorong sepeda motor dengan tenaga kita. Tapi kita mengendarai motor tersebut. Dengan santai kita berkendara. Mudah saja. Barangkali 5 menit sudah tiba ke tujuan sambil penuh senyuman.

Demikian juga membuat video pembelajaran di youtube memang susah bila Anda “mendorongnya.” Tapi menjadi sangat mudah bila Anda “mengendarainya.” Tentu saja kita perlu belajar untuk “mengendarainya.”

Semoga berbagai usaha kita berhasil mencegah bencana pendidikan.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: