Ramalan Covid Indonesia

Apakah berdosa percaya ramalan?

Percaya itu hanya kepada Tuhan!

Bagaimana pun manusia belajar dari pengalaman. Mengantisipasi masa depan. Merencanakan yang terbaik. Mencegah hal-hal terburuk agar tidak terjadi.

A.Puncak pandemi Juli 2021

Berbulan-bulan lalu saya memprediksi bahwa puncak pandemi akan terjadi di bulan Juli – Agustus 2021 di Indonesia. Hal ini dengan asumsi terbentuk HI – herd immunity.

Grafik di atas saya buat bulan Juli 2020 yang memprediksi puncak pandemi akan terjadi sekitar Juli – Agustus 2021, tahun depan. Bila Januari berhasil produksi massal vaksin yang efektif maka grafik bisa bergeser.

Beberapa hari ini beberapa media memberitakan bahwa para pakar memprediksi puncak pandemi juga Juli 2021. Kok bisa ya?

B.Mencapai 176 ribu kasus pada 1 September 2020

Saya menhitung akan ada 176 ribu kasus pada 1 September 2020. Saya menyebut situasi ini dengan skenario buruk. Tampak hari ini benar-benar akan mencapai 176 ribu kasus ya?

Sepekan lalu saya optimis. Kasus positif baru 150 ribuan. Asumsi 2 ribu nambah tiap hari maka tidak akan mencapai 170 ribu di 1 September 2020.

Tetapi beberapa hari terakhir ini, kasus per hari bisa 3 ribuan. Mendadak di 31 Agustus sudah mencapai 174 ribu kasus. Maka 1 September 2020, kemungkinan besar, menembus 176 ribu kasus atau lebih.

Lengkap dengan prediksi yang masih aktif dirawat atau isolasi sebanyak 41.843 orang di 1 September. Catatan resmi 31 Agustus terdapat 41.120 kasus aktif. Mirip juga ya?

C.Solusi vaksin vs harapan palsu

Dalam model yang saya buat, vaksin berperan penting sebagai solusi pandemi. Tetapi selama vaksin belum ditemukan maka vaksin bisa menjadi sumber harapan palsu.

Kita perlu menempatkan vaksin sebagai harapan utama. Di saat yang sama kita menerapkan solusi manajemen prilaku dan inovasi meningkatkan angka kesembuhan.

Semoga pandemi segera dapat di atasi.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: