UU Ciptaker vs Demo Posmodern

UU Ciptaker, yang baru disahkan DPR dan pemerintah, akan merusak HAM dan demokrasi. Begitulah sedikit ungkapan Fahri Hamzah yang saya lihat di video media sosial. Bagaimana pemerintah dan DPR bisa sepakat untuk merusak HAM dan demokrasi?

Maka wajar saja bila hari ini dikabarkan akan ada demonstrasi besar-besaran menentang UU Ciptaker yang dimotori mahasiswa seluruh Indonesia.

Saya coba menganalisis sedikit ungkapan bahwa “UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi” dengan kaca mata era posmodern. Saya akan sedikit meluaskan kaca mata posmodern meliputi filsafat continental (identik dengan posmo itu sendiri), filsafat analytic, dan filsafat pragmatis.

A)Continental main bahasa bablas

Ciri utama posmo adalah language game – main bahasa – yang bablas lewat batas. Language game sendiri dirumuskan oleh Ludwig Wittgenstein untuk memahami makna bahasa dengan benar. Untuk kepentingan analisis makna.

35. Portrait of Wittgenstein.jpg
Wittgenstein

Di tangan tokoh posmo semisal Derrida atau Lyotard maka language game menjadi senjata mematikan makna. Bahkan mematikan penulis.

Jadi, ungkapan “UU Ciptaker merusak Ham dan demokrasi” bisa dimaksudkan benar-benar bermakna merusak seperti itu. Tapi bisa juga itu bermakna metafora, sesuai istilah Pak Bambang di bukunya Postmodern.

Makna metaforanya bisa saja Ciptaker merusak HAM dengan kondisi saat ini untuk kemudian dibangun HAM yang lebih bagus. Merusak demokrasi juga bermakna menghancurkan demokrasi saat ini untuk kemudian mereformasinya menjadi demokrasi yang lebih bagus.

Maka ungkapan Fahri Hamzah, dari kaca mata posmo, benar-benar tidak bermakna. Makna sudah mati. Bisa bermakna merusak tapi bisa juga sebaliknya.

2)Analytic main bahasa beneran

Sekarang kita analisis dengan gaya filsafat analytic yang dipelopori oleh Bertrand Russel termasuk murid terbaiknya Ludwig Wittgenstein sang penemu language game itu.

Ungkapan “UU Ciptaker merusak Ham dan demokrasi” perlu diverifikasi kebenarannya. Tetapi kita tidak punya data untuk verifikasi. UU baru disahkan dan belum punya dampak apa pun. Bila demikian maka ungkapan di atas TIDAK BERMAKNA dan harus ditolak.

Kita masih bisa melangkah lebih jauh dengan silogisme ke masa depan.

[UU Ciptaker] maka ada [Perilaku Tertentu] maka ada [Merusak HAM Demokrasi]

Bila benar dengan UU Ciptaker menyebabkan perilaku tertentu seperti di atas, misal terjadi penindasan kepada buruh, pembatasan hak-hak warga, merugikan negara, dan lain-lain maka ungkapan di atas menjadi benar. Maksudnya UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi jadi benar adanya.

Masalahnya apakah bisa dipastikan bahwa UU Ciptaker menyebabkan perilaku tertentu itu? Tidak bisa dipastikan. Hanya bersifat kemungkinan.

Karena hanya mungkin dan tidak pasti maka ungkapan di atas TIDAK SAH.

Sebaliknya, ungkapan “UU Ciptaker memperkuat demokrasi” juga tidak bisa dibuktikan, tidak bisa diverifikasi.

3)Pragmatisme instrumentalis main bahasa

Filsafat pragmatisme terus berkembang sampai sekarang. Dipelopori William James sampai Bernstein yang menggemakan paham fallibisme.

Pragmatisme memandang bahwa bahasa adalah sekedar alat, instumen, untuk mencapai suatu tujuan pragmatis tertentu.

Apa tujuan dari ungkapan “UU Ciptaker merusak HAM dan demokrasi”?

Barangkali tujuannya agar rakyat dan pejabat waspada. Agar lebih hati-hati menjaga HAM dan demokrasi. Agar kita semua bersatu menuju Indonesia maju berdemokrasi adil dan makmur. Sebuah tujuan yang mulia.

Bisakah tujuannya berbeda dari itu? Bisa jadi. Mungkin saja tujuan pragmatisnya adalah untuk menyatakan bahwa DPR dan pemerintah sudah melakukan kesalahan besar. Mereka harus bertanggung jawab. Kalau perlu mereka harus diganti.

Bisa juga tujuannya lain lagi. Pernyataan itu mengingatkan ada perbedaan persepsi antara pemerintah, DPR, dan rakyat. Maka diperlukan dialog yang demokratis untuk mencapai kehidupan berbangsa adil makmur menjunjung HAM.

Tujuan manakah yang paling nyata?

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: