Pandemi Berakhir Juli 2021

Pertanyaan mendasar: kapan pandemi berakhir?

Pandemi berakhir, di Indonesia, pada bulan Juli 2021. Sayangnya akhir pandemi ini tidak kembali normal. Kita akan kembali ke normal yang tidak normal.

Berikut beberapa analisis saya berdasarkan data resmi Indonesia, WHO, dan pendekatan nilai reproduksi covid-19 yang saya kembangkan.

Idul Fitri Mei 2021

Tolok ukur penting ke depan adalah event lebaran 13 Mei 2021. Rakyat Indonesia akan mudik. Tahun kedua lebaran dalam suasana pandemi. Rakyat akan kumpul-kumpul dalam jumlah besar. Disusul acara hajatan, nikahan, dan sebagainya.

Bagaimana pun prokes, prosedur kesehatan, harus secara ketat diterapkan sepanjang lebaran 2021.

Jika setelah lebaran, sampai akhir Mei 2021, terjadi lonjakan kasus covid-19 maka pandemi tidak jadi berakhir di Juli 2021. Sementara, kita berharap, tidak terjadi lonjakan kasus di akhir Mei maka benar-benar pandemi bisa berakhir di Juli 2021.

Peran Mendikbud Mas Nadiem

Untuk mengakhiri pandemi di Juli 2021 peran besar ada di tangan mas menteri Nadiem, tentu perlu didukung presiden. Mas Nadiem perlu menginstruksikan sekolah dan kampus agar kembali membuka kelas tatap muka dengan standar prokes, mulai Juli 2021. Atau disesuaikan dengan semester baru terdekat.

Tidak cukup Mas Menteri memberi ijin saja. Di sini diperlukan komando lebih tegas. Menteri memerintahkan lembaga pendidikan untuk membuka kelas tatap muka dengan standar prokes. Tentu tetap ada persyaratan untuk mendapatkan ijin. Hanya yang lolos persyaratan yang diijinkan. Bagi yang tidak lolos maka akan dibantu oleh kementrian untuk memenuhi beragam persyaratan.

Sebelum pelaksanaan kelas tatap muka maka perlu dibuat simulasi dan strategi yang rapi. Misal jumlah siswa di dalam kelas dibatasi sekitar 5 sampai 10 orang. Lama belajar di kelas 1 sampai 2 jam tiap hari. Dalam seminggu, belajar 2 sampai 4 hari saja. Dan tentu saja kombinasi dengan belajar online tetap dijalankan.

Nilai Reproduksi R

Bulan Februari ini kita mencatat penurunan jumlah kasus baru dibanding bulan Januari. Di Indonesia, sekitar 9 atau 10 ribu orang kasus baru. Sementara beberapa minggu lalu sempat mencapai 15 ribu orang kasus baru dan tampak terus menanjak. Data global di dunia, menunjukkan pola yang mirip. Bulan Februari penambahan kasus baru di kisaran 400 ribu orang. Sebelumnya, pernah lebih dari 700 ribu orang kasus baru dalam sehari.

Analisis nilai R menunjukkan bahwa nilai R sempat turun menuju di bawah 1. Tanda kasus mereda. Lalu naik lagi di atas 1, kasus bertambah lagi. Untuk kemudian turun ke bawah 1 lagi. Saya kira pola ini akan berulang beberapa kali. Akibatnya pandemi berakhir. Kembali normal tapi tidak normal seperti yang dulu.

Prediksi saya, penambahan kasus baru di Indonesia akan berkisar antara 5 ribu sampai 15 ribu per hari. Akan lebih sering dekat-dekat di angka 10 ribuan. Barangkali itu kondisi kesetimbangan dinamis akhir dari pandemi.

Normal tidak Normal

Masyarakat akan kembali hidup normal tidak normal. Kegiatan ekonomi kembali normal. Kegiatan sosial akan kembali normal. Kegiatan keagamaan akan kembali normal. Tetapi akan tetap tidak normal dalam arti sebagian besar masyarakat akan disiplin pakai masker, jaga jarak, rajin cuci tangan.

Sebagian yang lain akan lebih berani tidak pakai masker. Mereka itu yang berpeluang besar berkontribusi ke angka penambahan kasus baru sekitar 10 ribu per harinya.

Vaksin untuk HI

Peran vaksin sangat diharapkan untuk membentuk herd immunity (HI), kekebalan bersama. Tetapi kita tahu proses vaksinasi perlu waktu bertahun-tahun lamanya. Bisa lebih dari 5 tahun di Indonesia. Belum lagi efektivitas (efikasi) vaksin hanya sedikit di atas 50%. Sehingga kita tidak bisa hanya mengandalkan kepada vaksin.

HI secara alami tampak perlu waktu lebih lama lagi. Jika 1 hari ada penambahan kasus sekitar 10 ribu orang maka dalam 1 tahun akan ada 3 jutaan orang imun baru, kebal. Untuk mencapai HI dari penduduk 270 juta jiwa barangkali perlu waktu 60 tahun atau lebih. Karena periode kebal terbatas maka orang yang kebal bisa rawan kembali. Artinya HI alamiah tampaknya tidak pernah terjadi.

Solusi: Normal Tak Normal

Solusi yang tersedia bagi kita tampaknya adalah solusi kesetimbangan dinamis: Normal Tak Normal.

Dilihat dari luar tampak sudah stabil. Dilihat dari dalam terus menerus ada penambahan kasus baru. Di saat yang sama ada yang sembuh dan meninggal. Angka-angka ini hampir seimbang.

Di lihat dari luar, kehidupan tampak kembali normal, dan seharusnya normal. Dilihat dari dalam, harus tetap ketat prokes bagi yang berminat. Yang tidak ketat prokes resiko tertular covid.

Mirip dengan kasus HIV-AIDS, seperti sudah normal tapi tidak normal. Maka solusinya memang normal tak normal.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: