Power Manusia – Kekuatan Nyata

Melengkapi kehendak bebas manusia yang benar-benar bebas, hana mempunyai power yang benar-benar nyata. Sehingga manusia, hana, mampu mengejar cita-cita tertingginya. Karena power ini bersifat lebih nyata maka power manusia terbatas namun tetap tak terhingga banyaknya.

Dengan berkembangnya era digital maka power manusia menjadi lebih besar lagi. Jika abad 20, umat manusia membanggakan diri berhasil menjelajah ke bulan, maka awal abad 21 ini, umat manusia boleh bangga berhasil menjelajah ke planet Mars. Power manusia benar-benar makin besar. Tetapi perlu kita ingat, benar bahwa power makin besar, di saat yang sama, power besar tidak selalu berarti benar. Ada resiko perusakan alam bahkan penindasan di mana-mana oleh power manusia.

Image result for human change

Di bagian ini, kita akan membahas power manusia yang makin besar itu dan berharap, dengan struktur dan arah yang tepat, bertambah besarnya power tersebut ke arah yang benar. Di awal, kita membahas beragam teori power manusia. Lalu lanjut ke langkah praktis pengembangan power. Dan bagian akhir, kita refleksi lebih mendalam tentang power manusia.

Teori Power Manusia

Dari jaman kuno sampai jaman digital ini, semua orang sepakat bahwa power terhebat dari manusia adalah pikirannya. Kita sudah akrab dengan definisi bahwa manusia adalah binatang yang berpikir. Maka kemampuan berpikir ini yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Sekaligus, kekuatan berpikir ini menjadi keunggulan unik dari hana, manusia sejati.

Era digital menunjukkan fenomena baru tentang kemampuan berpikir manusia. Hana, manusia sejati, bisa menyuruh orang lain untuk berpikir kemudian hasil pikirannya dimanfaatkan olehnya. Atau bahkan, hana bisa memanfaatkan pikiran orang lain yang sudah tersedia di internet. Orang-orang ini saling bertukar pikiran, di internet, meskipun mereka terpisah jarak ribuan kilometer dan terpisah waktu bertahun-tahun.

Masih di era digital, manusia bisa menyuruh komputer untuk berpikir kemudian hasil pemikiran komputer ini digunakan oleh manusia. Komputer, dan perangkat digital lainnya, kini dilengkapi dengan sistem cerdas. Bahkan kecerdasan buatan, artificial intelligence, kini bisa berpikir lebih cerdas dari manusia itu sendiri dalam banyak aspek. Maka, apakah benar keunggulan manusia adalah kemampuan berpikir?

Manusia Rasional Aristoteles

Kita banyak berhutang jasa kepada Aristoteles, pemikir abad 4 SM. Karya-karya Aristoteles mencerahkan pemikiran manusia pada jamannya sampai saat ini. Aristo meletakkan prinsip-prinsip logika rasional yang kokoh dan terus berkembang. Sebut saja, misalnya, prinsip non-kontradiksi dan silogisme begitu mendasar, menjadi kekuatan analisis rasional umat manusia.

Kita ambil contoh kekuatan prinsip non-kontradiksi. Sebuah negara yang tidak memenuhi syarat sebagai negara maju maka negara tersebut tidak bisa disebut sebagai negara maju. Negara tersebut bukan negara maju. Syarat negara maju adalah pendapatan per kapita 12 000 dolar (PPP). Karena pendapatan per kapita Indonesia tidak mencapai 12 000 dolar maka kesimpulannya Indonesia bukan negara maju. Klaim bahwa Indonesia adalah negara maju akan berkontradiksi dengan pendapatan per kapita yang di bawah 12 000 dolar itu. Kesimpulan yang sah: Indonesia bukan negara maju.

Contoh lebih jelas adalah kasus alibi di bidang hukum. Tuan Dumadi didakwa mencuri uang di Jakarta pada hari Senin. Tuan Dumadi bisa membuktikan bahwa sepanjang hari Senin itu ia berada di Surabaya. Terjadi kontradiksi. Tidak mungkin di waktu yang sama berada di Jakarta sekaligus di Surabaya. Maka Tuan Dumadi selamat dari dakwaan. Tuan Dumadi bukan pencuri uang tersebut. Tuan Dumadi selamat karena prinsip logika non-kontradiksi.

Di era digital, kekuatan prinsip non-kontradiksi makin penting. Apakah Tuan Dumadi adalah calon pembeli yang baik buat saya? Sulit bagi saya menentukan pembeli yang baik, hanya secara online. Lebih mudah bagi saya melihat ciri-ciri pembeli yang buruk. Misalnya, ciri pembeli buruk adalah, pembeli yang menuntut agar harga diturunkan dengan kualitas dinaikkan. Ketika Tuan Dumadi termasuk dalam kriteria pembeli yang buruk ini maka terjadi kontradiksi jika ia adalah pembeli yang baik. Saya menyimpulkan dia calon pembeli yang tidak baik, dia calon pembeli yang buruk.

Masih di era digital, orang-orang yang punya kekuatan nyata, profesional, makin mudah bertumbuh. Pada gilirannya, orang tersebut akan mendapat job terlalu banyak. Lebih banyak pekerjaan yang harus dikerjakan dari waktu yang tersedia. Maka bagaimana kita bisa menentukan pekerjaan terpenting yang harus diutamakan? Terjadi kontradiksi jika semua pekerjaan diterima. Tetapi semua pekerjaan sama pentingnya. Solusinya adalah hindari kontradiksi dengan memilih pekerjaan-pekerjaan yang kurang penting, sisihkan pekerjaan-pekerjaan kurang penting ini. Delegasikan atau outsourcing. Maka kita cukup fokus pada pekerjaan-pekerjaan yang tersisa, yang paling penting saja.

Pemikiran rasional makin matang dalam bentuk sains dan teknologi. Manusia mampu menerbangkan besi yang ukurannya sebesar lapangan tenis, yaitu pesawat terbang. Mampu memindahkan ratusan orang, terbang, lintas negara menempuh jarak ribuan kilometer. Pada abad 20, berhasil mengantarkan astronot mendarat di bulan. Dan pada abad 21 ini, manusia berhasil menjelajahi planet Mars dengan teknologi.

Masih banyak yang bisa kita kaji mengenai kekuatan rasional manusia sejati, hana. Perkembangan sains dan teknologi mutakhir yang begitu fenomenal didasarkan pada pemanfaatan kekuatan rasional. Apakah kekuatan rasional benar-benar kekuatan paling fundamental dari hana? Banyak kritik dan penyempurnaan dari konsep hana sebagai mahkluk rasional.

Manusia Pencerahan Suhrawardi

Kritik terhadap pemikiran Aristo langsung muncul pada masa berikutnya. Berkembanglah pemikiran neo-Platonisme yang merupakan sintesa dari pemikiran Aristo dengan pemikiran Plato, gurunya Aristo. Penyempurnaan makin kuat oleh Ibnu Sina, pemikir abad 11, yang memberikan kedudukan sejajar pemikiran irfan dengan pemikiran rasional. Barangkali Suhrawardi, pemikir abad 12, adalah yang paling berhasil dengan merumuskan iluminasi atau pencerahan.

Suhrawardi keberatan dengan definisi bahwa manusia adalah binatang rasional, binatang yang berpikir. Karena definisi semacam itu mendefinisikan manusia dengan sesuatu yang sama-sama tidak jelas yaitu binatang dan rasional. Apa itu binatang? Kita tidak tahu pasti apa itu binatang. Barangkali kita bisa mendefinisikan binatang adalah tumbuhan yang bergerak bebas. Kita menemui kesulitan yang sama. Kita tidak tahu apa itu tumbuhan. Dan begitu seterusnya, tetap tidak jelas, tanpa henti. Maka kita tidak bisa mendefinisikan manusia sebagai binatang rasional. Belum lagi, kita juga masih bisa mempertanyakan apa itu rasional.

Suhrawardi menawarkan pendekatan iluminasi, pencerahan, untuk bisa mengetahui hakekat segala sesuatu, misal manusia sejati. Subyek bisa mengenali obyek dengan cara subyek dan obyek saling berhadapan dan ada cahaya yang menerangi subyek dan obyek sedemikian sehingga subyek mampu melihat obyek dengan langsung. Pengetahuan melalui pencerahan, cahaya yang menerangi, ini dikenal sebagai pengetahuan dengan kehadiran, knowledge by presence. Berbeda dengan pengetahuan melalui representasi.

Karena sifat pengetahuan ini melalui kehadiran langsung maka tidak mudah bagi kita merumuskan pengetahuan ini dengan cara tidak langsung, representasi. Jadi, pertanyaan apakah hana, manusia sejati, itu? Tidak bisa kita jawab dengan kata-kata. Menjelaskan hana dengan kata-kata maka, sama artinya, mengubah pengetahuan sejati, yang melalui kehadiran langsung, menjadi pengetahuan bentuk tidak langsung. Pasti tidak akurat.

Setelah menunggu sekitar 500 tahun, hadirlah pemikir besar dari Persia yaitu Sadra. Konsisten dengan jalur iluminasi Suhrawardi dan sintesa dengan konsep ketunggalan wujud Ibnu Arabi, Sadra menyatakan bahwa manusia sejati, hana, adalah wujud yang terus menerus bergerak menuju kesempurnaan. Dengan cara ini, Sadra menyelesaikan banyak masalah. Konsep manusia sebagai binatang rasional bisa diterima sebagai salah satu mode dari wujud. Meski demikian, binatang rasional tersebut tidak statis. Melainkan selalu dinamis menyempurnakan diri, menuju wujud yang lebih sempurna. Di saat yang sama, wujud yang lebih sempurna ini tidak menolak wujud yang kurang sempurna. Wujud yang lebih sempurna meliputi, memuat, wujud-wujud yang kurang sempurna. Hana terus-menerus berevolusi, melibatkan badan manusia, rasionalitas, dan pencerahan.

Kekuatan utama manusia bukan sekedar rasional. Manusia sejati adalah wujud, hana, yang terus-menerus bergerak. Saya menyebut gerak sejati ini sebagai maga. Maka kajian kita tidak terbatas hanya rasional. Kita bisa memperluas, misalnya, badan kita juga merupakan mode dari wujud kita. Badan kita, sel-sel otak kita, memiliki kekuatan yang khas, yang perlu kita elaborasi lebih mendalam.

Kekuatan Fisikal Manusia

Sadra mengakui kekuatan awal manusia bersifat fisikal, yaitu tubuh manusia, khususnya ketika janin, pertemuan sel sperma dengan sel telur. Tubuh ini, seiring waktu, ber-evolusi memiliki kekuatan tubuh yang lebih kuat, kekuatan mengindera, sampai kepada kekuatan yang lebih tinggi semisal kekuatan rasional aktif. Russell, pemikir abad 20, tampak sepakat dengan proses evolusi kekuatan manusia. Meski manusia mempunyai kekuatan rasional bawaan, semisal logika non-kontradiksi, tetapi kekuatan rasional ini berkembang secara evolusi seiring dengan pengalaman manusia.

Saya kira Ponty, pemikir abad 20, adalah filosof yang paling berhasil menempatkan kekuatan fisik, badan manusia, dalam pembahasan filsafat. Ponty menyatakan bahwa setiap kesadaran adalah kesadaran persepsi. Pada gilirannya, persepsi, memberikan posisi penting kepada indera fisik manusia. Konsep keutamaan persepsi ini menguatkan bahwa badan manusia adalah satu kesatuan utuh dari manusia, hana, itu sendiri. Badan adalah manifestasi dari hana.

Keutamaan persepsi, dan fisik manusia, ini terus berkembang, salah satunya di bidang olahraga. Tentu saja, para atlet dan pelatih menaruh perhatian ekstra kepada fisik, merawat dan melatihnya dengan baik. Badan yang dilatih dengan baik menunjukkan kekuatan-kekuatan unik melampaui kekuatan badan orang pada umumnya. Atlet renang mampu renang ratusan meter tanpa sedikitpun merasa lelah. Sementara, orang biasa, sudah merasa lelah renang hanya 20 meter. Bahkan banyak orang yang tidak bisa renang sama sekali. Atlet renang adalah orang yang mampu menyempurnakan hana dalam aspek renangnya.

Keterampilan bermain alat musik lebih menarik. Pemusik gitar, misalnya, tangan kiri dan kanannya dengan ringan memainkan gitar. Bahkan tanpa melirik ke gitarnya secara langsung. Sementara, orang yang tidak terlatih main gitar, bahkan tidak mampu memetik gitar meskipun dengan seksama menatap gitarnya. Dan masih banyak contoh-contoh lain yang melukiskan kekuatan nyata dari badan manusia.

Ponty mengklaim bahwa badan manusia tidak berada dalam-dunia. Tetapi badan kita bertindak pada-dunia atau tinggal pada-dunia. Secara eksistensial, bukan badan kita ditambahkan kepada dunia yang sudah ada sebelumnya. Badan kita eksis bersama-sama dengan dunia ini. Badan kita beda dengan benda-benda lain di alam ini. Badan adalah satu kesatuan utuh dari hana.

Dengan sudut pandang ini maka kita perlu lebih menghargai badan kita. Di mana badan kita, termasuk sel-sel otak, mempunyai kedudukan sama penting dengan pikiran kita. Baik badan mau pun pikiran adalah manifestasi dari hana, manusia sejati. Perkembangan lebih lanjut, kekuatan fisikal dan kekuatan rasional manusia berpadu dalam kekuatan digital. Bukan hanya kekuatan satu orang, kekuatan digital merupakan gabungan kekuatan dari banyak orang. Kekuatan digital akan menjadi peluang dan masalah baru bagi hana. Di saat yang sama, kekuatan digital terus berkembang eksponensial.

Kekuatan Digital

Tak pernah terbayangkan ada kekuatan baru yaitu kekuatan digital. Apakah Plato dan Aristo pernah membayangkan suatu saat akan ada teknologi komputer? Apakah Ibnu Sina pernah terbayang bakal ada internet? Apakah Descartes sempat terbesit suatu saat akan ada media sosial? Sulit untuk menjawabnya dengan afirmasi. Tetapi, saya kira pemikir-pemikir jaman dulu pernah membayangkan bahwa manusia bakal bisa terbang ke bulan, dengan analogi burung terbang. Sedangkan teknologi digital sepertinya tidak ada analoginya di jaman dahulu.

Wajar bagi umat manusia kesulitan menghadapi dunia digital. Inovasi-inovasi digital muncul tiap saat. Berbeda jauh dengan versi sebelumnya. Bahkan membuat usang setiap teknologi versi sebelumnya. Terbentuklah generasi baru, generasi digital. Mereka yang lahir setelah tahun 2000 nyaris tidak pernah ada masalah dengan teknologi dan media digital. Sementara, generasi yang lebih tua, sebagian besar gagap terhadap teknologi digital. Umat manusia bagai terbelah menjadi dua generasi yang berbeda.

Kekuatan digital harus kita bedakan dengan sekedar teknologi karya manusia di era-era sebelumnya. Teknologi digital, pertama, bersifat lembut masuk ke ruang terdalam hana. Kekuatan digital mempengaruhi jiwa manusia, bahkan bisa mengendalikan. Seperti membaca novel yang provokatif, pembaca bisa terpengaruh. Novel digital, lebih kuat dari buku novel, mempengaruhi lalu mengendalikan pembaca.

Kedua, kekuatan digital mulai mengendalikan kekuatan fisikal. Awalnya, teknologi digital mampu mengendalikan, dan menggerakkan, mesin-mesin di pabrik. Tapi saat ini, kekuatan digital mampu menggerakkan manusia bahkan kelompok masyarakat.

Ketiga, kekuatan digital punya strategi. Teknologi digital tidak monoton. Algoritma digital punya tujuan mengambil keuntungan tertentu. Tentu ada resiko pihak-pihak tertentu bisa mengalami kerugian. Lebih hebat lagi, teknologi digital mampu mengubah strategi menyesuaikan situasi.

Keempat, kekuatan digital mampu berpikir, lebih cepat dan lebih besar dari kemampuan manusia. Dengan tersebarnya data secara online maka teknologi digital mampu mengolahnya dengan cepat lalu menentukan aksi. Bahkan kekuatan digital mampu mengumpulkan data yang belum tersedia. Menjebak pengguna untuk memberikan data-data rahasia untuk diolah.

Kelima, kekuatan digital mempunyai nyawa ganda. Kehidupan ganda. Duplikasi berkali-kali. Tidak pernah mati. Seandainya teknologi digital di Amerika hancur maka teknologi digital di Asia masih hidup. Semua data yang hancur di Amerika tetap aman ada di Asia dan dengan mudah dipulihkan lagi. Jika di Asia hancur, masih ada di Eropa. Jika semua benua hancur, masih ada data tersimpan aman di luar angkasa. Kekuatan digital punya kekuatan abadi, dibanding masa hidup manusia.

Masih banyak kekuatan dunia digital yang bisa kita kaji. Namun dari beberapa yang sudah kita sebutkan di atas sudah jelas kiranya, kekuatan digital, benar-benar luar biasa. Maka manusia perlu berhati-hati memanfaatkan kekuatan digital agar memberi kebaikan bagi semua. Pertanyaan mendasar bagi hana adalah apakah kekuatan digital tersebut, benar-benar, bisa dimanfaatkan oleh manusia atau manusia yang dimanfaatkan oleh kekuatan digital?

Barangkali kita bisa mendiskusikan pertanyaan tersebut lebih mendalam di bagian lain. Di bagian ini, kita fokus agar manusia tidak dimanfaatkan oleh kekuatan digital semata. Tapi manusia, seharusnya, bisa memanfaatkan kekuatan digital tersebut. Sehingga kekuatan digital menjadi manifestasi dari kekuatan hana, manusia sejati. Hal ini tentu bisa terjadi. Awal perkembangan teknologi digital, memang, untuk memberi manfaat kepada manusia.

Kekuatan digital bisa menjadi perpanjangan dari kekuatan rasional dan kekuatan fisikal manusia. Berbagai tugas besar menghitung rumus matematika dengan mudah kita pecahkan dengan program komputer. Selanjutnya, teknologi digital, kita rancang untuk menerjemahkan bahasa manusia dari satu jenis bahasa ke bahasa lain secara cepat. Proses analisis yang melibatkan banyak data statistik lebih mudah kita lakukan dengan teknologi digital. Dan masih banyak contoh lainnya.

Kekuatan fisikal manusia terbantu dengan kekuatan digital. Telinga manusia hanya mampu mendengar suara dengan jelas pada jarak 10an meter. Teknologi digital membantu telinga manusia mampu mendengar suara temannya pada jarak ribuan kilometer, melalui perangkat telekomunikasi digital. Mata manusia mampu melihat pada jarak dan ukuran yang tebatas. Lagi-lagi, teknologi digital membantu mata manusia mampu melihat pada jarak jauh dan pada ukuran sangat kecil. Kamera digital yang dilengkapi dengan artificial intelligence memberi manfaat besar. Lebih lengkap cara praktis memanfaatkan kekuatan digital, kita bahas di bagian bawah.

Tentu saja ada kelemahan dari teknologi digital, sejauh sampai masa kini. Teknologi digital tidak mempunyai kehendak bebas, sedangkan manusia memilikinya. Ke depan, teknologi digital mengarah untuk memiliki kehendak misalnya dengan strong artificial intelligence. Kita belum tahu apakah proyek itu akan berhasil. Dan satu lagi yang unik milik manusia sejati, hana, adalah kekuatan cinta. Saya tidak yakin teknologi digital akan berhasil memiliki rasa cinta. Bagian selanjutnya, kita akan membahas kekuatan cinta.

Kekuatan Cinta

Anda pernah jatuh cinta? Berbunga-bunga. Segalanya indah. Penuh daya kekuatan. Segala rintangan tak ada arti. Kekuatan cinta benar-benar nyata.

Cinta adalah fenomena unik hana, manusia sejati. Barangkali cinta suami istri, sepasang kekasih, adalah cinta dengan kekuatan paling besar. Cinta seorang ibu kepada anaknya tidak diragukan lagi sangat besar. Dalam banyak kasus, cinta anak kepada orang tuanya sama besar. Cinta menyatukan seluruh anggota keluarga. Cinta hobi, cinta negeri, cinta sesama, cinta agama, cinta semesta, dan masih banyak lagi cinta.

Kita perlu menyelidiki bagaimana cinta bisa membangkitkan kekuatan begitu besarnya.

Rumi, pemikir abad 13, justru menyatakan bahwa hakikat segala sesuatu adalah cinta itu sendiri. Manusia sejati, hana, adalah manifestasi cinta. Gunung yang sejuk, laut yang luas, pelangi warna-warni adalah manifestasi cinta. Ke mana pun, kita menghadapkan wajah, maka hanya wajah cinta yang ada.

Berikut sedikit kutipan dari Rumi,

“You cannot hide love
Love will get on its way
To the heart of someone you love
Far or near, it goes home
To where it belongs
To the heart of lovers.”

“Kamu tidak bisa menyembunyikan cinta
Cinta akan menemukan jalan
Merasuk ke hati seseorang yang kau cinta
Jauh atau dekat, ia pasti pulang
Ke tempat asal
Ke hati sang pecinta”

Cinta adalah eksistensi hana itu sendiri. Manusia hadir di dunia ini buah cinta antara ibu dan bapaknya. Mengapa ibu dan bapak saling jatuh cinta? Cinta karena cinta. Cinta tidak membutuhkan alasan mengapa. Cinta tidak butuh landasan. Kita hanya bisa sedikit melukiskan cinta. Rasa saling cinta dari ibu dan bapak adalah untuk menjaga eksistensi hana. Pada waktunya, ibu dan bapak akan meninggal dunia. Eksistensi dua orang hana, ibu dan bapak, terhenti. Maka, sebelum eksistensi terhenti, ibu dan bapak saling cinta untuk membuahkan eksistensi hana baru, seorang atau beberapa orang anak. Kekuatan cinta adalah kekuatan hana.

Kita, sebagai hana, pada gilirannya juga akan meninggal dunia. Maka kita pun jatuh cinta kepada pasangan. Kita, dengan cinta, mewariskan eksistensi hana kepada generasi berikutnya, anak dan cucu. Begitu seterusnya. Eksistensi hana terus terjaga oleh cinta. Cinta menjaga manusia. Manusia menjaga cinta.

Bergson, pemikir abad 20, menyatakan adanya kekuatan vital yang menggerakkan manusia untuk terus berkembang yaitu elan vital. Manusia berkembang secara kreatif dengan elan vital, yang bermanifestasi dalam bentuk cinta. Elan vital mendorong manusia ber-evolusi ribuan tahun lalu. Dan manusia akan terus ber-evolusi ke masa depan dengan kekuatan elan vital yang mampu mendobrak berbagai kesulitan.

Darwin, pemikir abad 19, menyatakan bahwa manusia ber-evolusi melalui seleksi alam – dan mutasi acak. Penjelasan evolusi ini konsisten dengan proses mekanis teori fisika dan matematika. Sementara, Bergson menganggap gerak mekanis semacam itu tidak memadai menjelaskan proses evolusi manusia yang penuh kreatifvitas. Maka elan vital adalah penggerak utama kreativitas manusia sepanjang sejarah evolusi manusia. Dalam kehidupan sehari-hari manifestasi elan vital kita kenal sebagai cinta. Dan cinta ini yang membimbing manusia lolos dari seleksi alam – dan mutasi acak – dengan cara kreatif.

Barangkali kita bisa meringkaskan bahwa kekuatan paling fundamental dari hana adalah cinta. Tetapi kekuatan cinta, seperti kekuatan manusia yang lain, bisa salah arah. Penipuan berkedok cinta, penindasan karena cinta, kehancuran karena cinta, dan lain-lain. Maka di bagian bawah kita akan membahas beberapa langkah praktis mengembangkan kekuatan cinta. Sebelum itu, kita akan membahas salah satu kekuatan cinta yang fenomenal: cinta kepada agama.

Kekuatan Agama

Agama mencerahkan umat manusia sejak ribuan tahun yang lalu. Lebih dari itu, agama memberikan kekuatan besar kepada manusia: kekuatan cinta agama. Orang yang cinta kepada agamanya maka rela mengorbankan apa saja demi perjuangan agama. Rela mengorbankan hartanya, rela mengorbankan waktunya, bahkan rela mengorbankan hidupnya.

Pada tahap awal-awal, kekuatan agama mencerahkan umat manusia. Bimbingan agama memberi arah kepada manusia bagaimana harus bersikap, berpikir, dan bertindak praktis. Bahkan agama, memberikan bimbingan dalam rentang waktu abadi: sejak sebelum ada manusia sampai setelah manusia tidak ada di dunia ini, dari masa awal sampai masa akhir atau meliputi seluruh masa atau melebihinya. Pada tahap selanjutnya, kekuatan agama makin berperan dalam banyak hal.

Kekuatan agama, terbukti, mendorong kemajuan peradaban manusia. Perkembangan pelayaran, salah satunya, didorong oleh semangat untuk menyebarkan agama. Penyelidikan alam semesta, astronomi, juga didorong oleh kepentingan ajaran agama. Para pedagang berlayar ke luar negeri sambil menyebarkan agama. Pedagang itu hidup di negara baru demi menyebarkan agama. Kekuatan agama memang luar biasa terhadap manusia.

Lebih dari sekedar cinta kepada agama, kekuatan agama juga memberikan keyakinan pasti kepada manusia. Agama menumbuhkan iman, kepada banyak hal. Tentu mudah bagi hana, manusia sejati, untuk meyakini sesuatu yang ada di depan matanya. Tetapi untuk meyakini sesuatu yang jauh di masa lampau, atau jauh di masa depan, hana butuh bimbingan. Agama memberikan bimbingan kepada manusia untuk meyakini masa lalu dan masa depan dengan kokoh.

Kierkegaard, pemikir abad 19, barangkali adalah yang yang paling berhasil menyodorkan tema keyakinan ke pembahasan filsafat. Semua pengetahuan manusia, teoritis mau pun empiris, pada analisis akhir akan mengandalkan kepada keyakinan. Sehingga keyakinan adalah tumpuan utama, paling dasar, dari setiap pengetahuan manusia.

Air mendidih adalah panas. Mengapa? Karena air mendidih terjadi pada temperatur 100 derajat celcius. Mengapa? Karena penelitian menujukkan hal itu. Mengapa? Karena penelitian itu sudah teruji. Mengapa? Pertanyaan mengapa atau pertanyaan jenis lainnya bisa terus kita ajukan, tanpa pernah berhenti. Setiap jawaban masih bisa terus kita pertanyakan. Sampai jawaban akhir: karena saya meyakininya. Keyakinan ini menjadi landasan dasar yang tidak perlu dipertanyakan lebih jauh.

Apakah keyakinan pasti dijamin benar? Tentu saja keyakinan bisa benar, bisa juga salah. Begitu juga sains, bisa benar dan bisa salah. Dalam sudut pandang positif, pengetahuan yang salah akan disisihkan dari sains. Maka sains yang terpilih berupa pengetahuan-pengetahuan yang bernilai benar, sesuai konteks saat itu. Demikian halnya dengan keyakinan, keyakinan yang salah akan disisihkan. Maka keyakinan akan tersusun oleh keyakinan-keyakinan yang benar, sesuai konteks. Dengan nada optimis kita dapat menyatakan bahwa keyakinan adalah kebenaran dan kebenaran adalah keyakinan.

Dengan keyakinan yang kuat ini maka manusia, hana, memiliki kekuatan yang lebih besar lagi. Orang, yang yakin, mampu menyelesaikan beragam tugas besar dengan baik. Orang, yang yakin, mampu melewati beragam kesulitan. Keyakinan mampu mengalahkan segala rintangan.

Dalam keyakinan agama, kita menemukan beragam keyakinan terhadap peristiwa yang tampak di luar nalar manusia. Misalnya, kita sudah akrab dengan kisah Nabi Musa yang bisa membelah lautan dengan tongkatnya. Barangkali kita akan membahas kekuatan-kekuatan, yang tampak supra-natural, itu dalam pembahasan kekuatan spiritual.

Kekuatan Spiritual

Kita akan mencoba sedikit membahas peristiwa bahwa Nabi Musa bisa membelah lautan dengan tongkatnya. Tentu saja ini kekuatan yang luar biasa. Kekuatan ini bisa kita sebut sebagai kekuatan spiritual. Kita masih bisa menemukan lebih banyak contoh lagi tentang kekuatan-kekuatan spiritual. Beberapa contoh kekuatan spiritual bersifat ke dalam diri pelaku misal subyek mampu memahami pengetahuan yang sulit dipahami orang lain. Sementara, contoh yang lain, kekuatan spiritual ini berdampak nyata di dunia luar. Misalnya, peristiwa yang melibatkan kekuatan spiritual, perjumpaan Sunan Kalijaga dengan Sunan Bonang pada kali pertama, terjadi pada abad 15 Masehi.

Waktu itu, Lokajaya adalah lelaki gagah berani yang menjadi pimpinan perampok di hutan tanah Jawa. Lokajaya terkenal sakti dan ditakuti oleh perampok-perampok lainnya. Di saat yang sama, Lokajaya, meski sebagai perampok, adalah seorang pemuda yang baik hati.

Hari itu, Lokajaya melihat seorang lelaki tua melintas di dalam hutan. Lelaki tua itu berjalan perlahan dengan bantuan tongkat. Yang menarik, bagi Lokajaya, tongkat lelaki tua itu terbuat dari emas. Sebagai perampok, Lokajaya segera menghadang lelaki tua itu. Dan memaksa agar menyerahkan tongkat emasnya kepada Lokajaya.

Lelaki tua menjawab bahwa tongkat itu sedang dipakainya, “Jika kamu memerlukan emas ambil itu yang di sebelah sana.” Sambil menunjuk ke arah yang jauh agak ke atas. Lokajaya menengok ke arah yang ditunjukkan tersebut. Lokajaya melihat pohon jambe, mirip pohon kelapa. Tampak bersinar. Batang pohon jambe, beserta buah dan bunganya berubah menjadi emas yang berkilau. Lokajaya mendekati pohon jambe, yang berubah jadi emas, memegang dan meraba untuk memastikan.

Lokajaya terpesona, membatalkan niat untuk merampok lelaki tua itu. Lokajaya justru berlutut, meminta maaf, meminta kesediaan untuk menerima dirinya dijadikan murid oleh lelaki tua. Kisah selanjutnya bisa kita baca di berbagai macam sumber. Lelaki tua itu adalah Sunan Bonang, tokoh senior Walisongo. Dan Lokajaya kelak menjadi tokoh besar anggota Walisongo yang dikenal sebagai Sunan Kalijaga.

Kita akan fokus mengkaji kekuatan spiritual Sunan Bonang yang mampu mengubah pohon jambe menjadi pohon emas itu. Luar biasa.

Pertama, kekuatan spiritual bersifat unik. Hanya Sunan Bonang saja yang mampu mengubah pohon jambe menjadi emas. Tidak ada kejadian seperti itu sebelumnya atau pun sesudahnya. Demikian juga dengan tongkat Nabi Musa yang bisa membelah lautan, unik. Tidak ada kejadian seperti itu baik sebelum mau pun sesudahnya.

Kedua, kekuatan spiritual tidak diulangi. Sunan Bonang tidak mengulangi lagi mengubah pohon-pohon jambe yang lain menjadi emas. Demikian juga Nabi Musa tidak mengulang lagi membelah lautan berkali-kali dengan tongkatnya. Kekuatan spiritual terjadi satu kali itu saja, sesuai konteks yang tepat dan tidak pernah diulangi.

Ketiga, kekuatan spiritual tidak direncanakan. Sunan Bonang tidak menyusun rencana awal bahwa bila sewaktu-waktu ada perampok maka ia akan mengubah pohon jambe jadi emas. Kekuatan spiritual itu hadir ketika dibutuhkan. Nabi Musa juga tidak merencanakan bahwa nanti bila tiba di pantai akan memukulkan tongkat ke laut untuk membelahnya. Nabi Musa, ketika itu baru menerima petunjuk, kemudian memukulkan tongkatnya ke laut.

Dengan memahami tiga karakteristik kekuatan spiritual di atas, kita mampu menyadari bahwa pendekatan rasional sains tidak akan berhasil memverifikasi eksistensi kekuatan spiritual. Karakter sains ilmiah justru berkebalikan dengan yang di atas. Karakters sains adalah berlaku umum, bisa diulangi secara konsisten, dan bisa direncanakan dengan layak. Tetapi kita, manusia sejati, mampu memahami eksistensi kekuatan spiritual. Bahkan sebagai hana, kita, berpotensi untuk mengembangkan kekuatan spiritual. Secara ringkas, kita akan membahasnya di bagian bawah.

Kekuatan Terbatas

Kekuatan manusia tampak seperti tak terbatas. Dari kekuatan rasional, fisikal, digital, sampai spiritual. Bahkan bisa kita tambahkan lagi kekuatan dari luar yang bisa dikendalikan manusia. Misal kekuatan senjata api, kekuatan nuklir, kekuatan energi listrik, dan masih banyak lagi yang lain. Meski jumlah dan jenis kekuatan ini tak terbatas, atau tak terhingga, tetapi letak kekuatan manusia justru pada keterbatasan itu sendiri. Kekuatan menjadi berarti bila ukurannya terbatas, arahnya tepat, dan tersedia pada waktu dan tempat yang tepat. Kekuatan yang berlebihan bisa merusak. Dan kekuatan yang terlalu kecil menjadi tak berarti.

Di bagian ini, kita lebih fokus kepada kekuatan manusia sebagai pendukung elemen fundamental dari struktur manusia yang dinamis. Sehingga kita akan membatasi kepada jenis-jenis kekuatan manusia yang lebih bersifat internal. Meski demikian, kekuatan fundamental hana, tetap bergradasi aneka ragam lapisan.

Kekuatan terluar: fisikal, persepsi, bahasa, digital.
Kekuatan tengah: imajinasi, logika, rasional, emosi, digital.
Kekuatan terdalam: intelek, spiritual, keyakinan, cinta, kehendak, digital.

Saya memasukkan kekuatan digital ada di semua lapisan karena kekuatan digital benar-benar bisa merembes ke seluruh lapisan kehidupan manusia. Dari tiga lapisan di atas kita masih bisa terus mengembangkan menjadi lebih banyak lapisan lagi. Manifestasi dari masing-masing kekuatan bisa saja dalam bentuk yang berbeda-beda.

Kekuatan bahasa menjadi salah satu kekuatan khas manusia sejati, hana. Apalagi bahasa tingkat tinggi seperti teori matematika, filsafat, dan sastra. Makhluk lain, semisal binatang, mempunyai kemampuan komunikasi. Tapi tampaknya komunikasi mereka berbeda dengan komunikasi bahasa manusiawi. Di bab-bab berikutnya kita akan membahas lebih detil dari kekuatan bahasa ini.

Beberapa kekuatan penting fundamental, yang mendorong manusia untuk terus bergerak maju, belum sempat kita elaborasi lebih jauh. Kekuatan persepsi, misalnya, bagaimana manusia mempersepsi dunia luar dan dirinya sendiri. Kekuatan imajinasi, tentu saja krusial, untuk berbagai macam proses kreatif manusia. Kekuatan emosi semisal semangat, amarah, malas, atau hasrat terhadap makanan, hobi, hubungan badan, dan lain-lain masih banyak yang bisa dikaji.

Namun kita perlu memilih ke bagian paling penting berikutnya, yang perlu kita bahas secara khusus, adalah will to power: kehendak untuk berkuasa.

Will to Power

Hakekat terdalam dari hana, manusia sejati, adalah will to power, kehendak untuk berkuasa. Kekuatan ini mendorong manusia untuk terus bergerak maju. Apa pun rintangan dapat dilewati manusia dengan menerapkan kekuatan will to power. Manusia-manusia besar sepanjang sejarah adalah mereka yang mampu berkuasa, mereka yang mampu berjuang, mereka yang mampu menaklukkan, mereka yang mampu memimpin, dan mereka yang mampu menjadi nomor satu.

Pembahasan will to power bisa saja sangat panjang. Kita akan mencoba membahas bagian-bagian intinya. Will to power, kehendak untuk berkuasa, merupakan gabungan dua elemen fundamental hana, manusia sejati. Di satu sisi kita bisa memandangnya sebagai kehendak, will. Di sisi lain, kita bisa memandangnya sebagai kekuatan hana, power.

Nietzsche, pemikir abad 19, adalah yang paling berhasil merumuskan will to power di kancah filsafat. Gaya tulisannya yang begitu dinamis memberi pengaruh besar kepada pembacanya. Tulisannya pun dipenuhi power. Seakan-akan, tulisan Nietzsche itu ingin menguasai para pembacanya. Nietzsche menyatakan bahwa will to power adalah satu-satunya realitas sejati manusia. Kehendak untuk berkuasa adalah jati diri manusia. Sedangkan kehendak yang lain, tata krama, aturan hukum, atau lainnya adalah sekedar topeng bagi manusia. Menjadi penguasa dunia adalah jati diri manusia.

Bahkan makhluk lain, semisal binatang atau tumbuhan pun, juga ingin berkuasa. Mereka ingin mendominasi dunia. Virus, covid-19 misalnya, juga ingin menguasai dunia. Pandemi covid-19 terbukti berhasil mendominasi dunia sepanjang tahun 2019-2020, ada kemungkinan lebih lama lagi. Sehingga will to power adalah realitas sejati dari seluruh alam semesta. Khususnya pada diri manusia, will to power dapat teraktualisasi secara sempurna.

Tentu saja banyak pemikir dunia yang tidak setuju dengan konsep will to power. Nyatanya, konsep will to power ini tidak terlalu banyak mendapat sambutan dari masyarakat dunia di masa Nietzsche dan setelahnya. Baru, pada akhir abad 20, postmodernisme mengangkat kembali konsep-konsep dari Nietzshce ini.

Kita bisa membahas konsep ini sebagai power of will, kekuatan dari kehendak. Dengan cara ini, kita lebih terbuka dengan beragam kekuatan kehendak yang lain. Tidak hanya membatasi ke will to power. Berikut ini beberapa kekuatan kehendak.

Will to live, kehendak untuk hidup adalah kekuatan penggerak manusia untuk terus berkembang. Schopenhauer, pemikir abad 19, mengajukan konsep will to live sebagai hakikat paling fundamental dari manusia sejati, hana. Konsep ini merupakan solusi dari antinomi Kant yang telah sekian lama menghantui para pemikir dunia. Realitas paling dalam dari manusia dan alam semesta adalah kehendak untuk hidup. Maka orang yang mampu mengenali dan mengatur kehendaknya akan meraih sukses dan bahagia di dunia ini. Nietzsche sendiri mengakui bahwa dirinya sangat terinspirasi oleh karya-karya Schopenhauer.

Di masa yang hampir bersamaan, Darwin, pemikir abad 19, mempublikasikan teori evolusi melalui proses seleksi alam, dan kemudian mutasi acak. Bukan makhluk yang kuat yang akan berhasil lolos dari seleksi alam tetapi mereka yang paling mahir beradaptasi adalah yang paling berhasil. Mereka yang punya kekuatan kehendak untuk hidup, beradaptasi, maka akan ber-evolusi menjadi lestari. Mereka yang gagal ber-evolusi akan punah dari dunia ini. Teori evolusi dan konsep will to live ini tampak seiring sejalan.

Will to meaning, kehendak-menciptakan-makna adalah hakekat terpenting dari kemanusiaan. Viktor Frankl, pemikir abad 20, mengajukan formula kehendak-menciptakan-makna ketika menjadi tahanan di kamp konsentrasi Nazi. Dalam situasi apa pun, manusia selalu punya kekuatan untuk menciptakan maknanya sendiri. Banyak orang yang sakit, menderita, dan sampai meninggal selama dalam tahanan. Sangat berat, menjalani kehidupan dalam tahanan kamp konsentrasi. Tetapi Frankl adalah salah seorang tahanan yang kuat. Meski dalam kesulitan juga, Frankl tetap menyempatkan diri untuk membantu teman-temannya yang sama-sama tahanan.

Bagaimana Frankl bisa begitu kuat menghadapi kesulitan yang begitu berat? Kehendak-menciptakan-makna.

Dalam kondisi kurang makan, beban kerja berlebih dalam tahanan itu, Frankl menciptakan makna-makna khusus yang bernilai tinggi. Dia menciptakan makna bahwa kesulitan-kesulitan ini mematangkan jiwanya menjadi lebih sempurna. Bahkan dia, dari berbagai kesulitan, merumuskan secara detil apa makna dari masing-masing kejadian. Frankl senantiasa menguatkan diri, mencari cara, bagaimana caranya agar dapat membantu sesama teman. Kegiatan membantu, adalah kegiatan yang penuh makna, yang menguatkan hana. Dunia bisa saja berlangsung tidak sesuai harapan kita, atau bisa juga sesuai harapan kita. Tetapi kekuatan menciptakan makna dari setiap kejadian ada dalam diri kita, ada dalam hana. Kita selalu mampu menciptakan makna.

Will to pleasure, kehendak-untuk-senang merupakan kekuatan manusia yang tampaknya mudah dipahami. Dalam kehidupan sehari-hari kita memang mencari kesenangan, kenikmatan. Makanan dan minuman, kita memilih yang nikmat. Kasur, kita memilih yang nyaman. Rumah, kita memilih yang bersih. Semua hal, kita mengejar kenikmatan.

Sigmund Freud, pemikir abad 20, adalah tokoh yang berhasil meletakkan tema kenikmatan dalam pembahasan filsafat – dan psikologi. Freud melangkah lebih jauh dengan mengidentifikasi: kesenangan paling fundamental bagi manusia. Freud menemukan kesenangan tertinggi adalah hasrat hubungan badan, hubungan sexual. Kesenangan yang lain, misal kenikmatan makan, adalah turunan atau cabang dari kenikmatan hubungan badan. Bahkan semua aturan hukum atau moral, pada analisis akhir, adalah untuk meraih kenikmatan hubungan badan pula.

Karena setiap orang bisa berkaca kepada diri sendiri tentang ide Freud ini maka ide ini mudah dipahami. Pada gilirannya, ide ini pun banyak disetujui orang. Tentu saja, banyak juga orang yang menolak ide Freud. Salah satunya adalah Frankl di atas, yang merumuskan kehendak-menciptakan-makna. Hubungan badan hanyalah kebutuhan dasar manusia. Tetapi, memiliki makna dalam hidup adalah kebutuhan tingkat tinggi manusia, yang lebih sempurna. Meski demikian, kita, sebagai hana, memang memiliki itu semua: kekuatan dari kehendak. Sehingga kita harus pandai-pandai mengatur semuanya. (Barangkali kita bisa mempertimbangkan hirarki kebutuhan manusia oleh Maslow sebagai pembanding.)

Will to truth, kehendak-menemukan-kebenaran jelas ada pada diri manusia. Manusia bergerak maju karena dorongan untuk menemukan kebenaran. Kajian, penelitian, simulasi dan sebagainya adalah salah satu bentuk proses manusia, hana, untuk menemukan kebenaran. Bahkan menjalani hidup sehari-hari, penuh dengan naik turunnya kesulitan, juga merupakan proses manusia mencari kebenaran. Tampaknya, kehendak mencari kebenaran adalah penggerak utama manusia untuk terus maju.

Meski kita bisa saja sepakat bahwa kekuatan utama manusia untuk maju adalah kehendak menemukan kebenaran, tetapi bentuk dan hasil akhir dari kebeneran bisa beragam. Barangkali ada yang memilih kebenaran hakiki dalam sains, agama, filsafat, seni, dan lain-lain. Diskusi kita di sini, juga bermaksud untuk menemukan kebenaran sebagai tujuan utamanya. Bagi Nietzsche, dan murid-muridnya, will to power itu sendiri adalah kebenaran paling hakiki.

Heidegger, pemikir abad 20, membaca Nietzsche dengan cara yang berbeda dengan orang pada umumnya. Jika banyak orang membaca will to power sebagai kehendak untuk berkuasa, kehendak untuk menang, dan kehendak untuk mendominasi, Heidegger membaca will to power sebagai kehendak untuk mampu mengatasi segala rintangan. Manusia sejati, hana, selalu punya kemampuan mengatasi berbagai rintangan untuk meraih cita-citanya. Kehendak ini tidak harus mendominasi orang lain, tidak harus mengeksploitasi orang lain. Yang jelas, will to power, selalu membantu manusia menembus segala kesulitan. Manusia sejati adalah mereka yang mengejar cita-cita tinggi.

Keutuhan Manusia

Manusia adalah satu kesatuan utuh. Ketika kita mengkaji power maka terhubung dengan kehendak. Karena power dan kehendak, hakikatnya adalah satu, yaitu hana itu sendiri. Karakter paling fundamental dari hana adalah maga, gerak eksistensial. Karena hana atau maga adalah tunggal maka akan lebih mudah dan jelas bila kita membahasnya elemen demi elemen yang menyusun strktur fundamental hana yaitu kehendak, power, sains, dan sign. Bagaimana pun empat elemen tersebut tetap merupakan satu kesatuan dari hana.

Gerak manusia sejati mengikuti pola hana – maga – bataga. Hana adalah eksistensi manusia sejati. Sulit bagi kita untuk melukiskan hana. Karena begitu kita memotret hana maka citra hasil potret kita sudah ketinggalan jaman disebabkan oleh hana yang terus-menerus bergerak, maga. Alternatifnya, kita bisa merekam hana sebagai video, gambar bergerak. Sama saja. Ketika kita melihat hasil rekaman video maka hana, manusia sejati sudah bergerak lagi. Maka pilihan kita adalah mengkaji struktur hana yang terus-menerus bergerak itu. Struktur fundamental hana terdiri dari empat elemen di atas: kehendak, power, sains, dan sign. Hana juga eksis dalam struktur sosial dan universal. Masing-masing struktur akan kita bahas pada bagian tersendiri.

Langkah Praktis Mengembangkan Power

Berikut ini kita akan menjelaskan beberapa langkah praktis mengembangkan power manusia yang jumlahnya tak terhingga itu. Kita, di sini, hanya akan memilih beberapa power yang paling penting: rasional, digital, fisikal, cinta, dan will to power. Meskipun semua power sama-sama penting.

Mengembangkan Kekuatan Rasional

Lanjut ke Sains – Memahami dan Mengembangkan
Kembali ke Struktur Manusia Dinamis

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: