Tugas Pemimpin Hanya Satu

Tidak banyak, hanya satu. Tapi bisa diuraikan menjadi banyak cara, banyak target, dan banyak wacana. Tetap saja, tugas pemimpin hanya satu: memberikan hasil yang tepat dengan cara yang benar.

Berlaku bagi Anda pemimpin perusahaan, sekolah, wilayah, keluarga, atau bahkan bagi kita pemimpin terhadap diri sendiri. Karena hanya satu tugas pemimpin maka godaannya lebih banyak. Godaan ini mengaburkan tugas yang satu itu. Menjauhkan, bahkan melupakan.

The 5 Types of Leaders

Menyelesaikan Pekerjaan

Bukan tugas seorang pemimpin untuk menyelesaikan suatu pekerjaan. Pekerjaan membuat aplikasi online bukanlah tugas seorang pemimpin perusahaan dagang, misalnya. Aplikasi tersebut butuh modal, waktu, dan kreativitas. Penuh rintangan, dan akhirnya berhasil diciptakan aplikasi yang keren.

Tugas pemimpin memastikan bahwa aplikasi tersebut memberi hasil yang sesuai, misal meningkatkan penjualan. Bila semua pemakai puas dengan aplikasi tetapi tidak ada peningkatan penjualan maka pemimpin masih gagal. Dan caranya, prosesnya, pun harus benar.

Seorang presiden, gubernur, walikota atau pejabat lainnya bisa saja meresmikan banyak proyek pembangungan. Meresmikan gedung UMKM, bendungan, jalan tol, pasar baru, dan sebagainya. Semua itu bukan tugas pemimpin. Tugas pemimpin masih menunggu: apakah peresmian bendungan memberikan hasil yang diharapkan, misalnya menaikkan pendapatan petani termiskin dua kali lipat?

Peresmian proyek bisa dilakukan oleh siapa pun. Tetapi memberikan hasil yang nyata dengan cara yang benar hanya bisa dilakukan oleh pemimpin sejati. Pemimpin yang sibuk tidak menjamin menjadi pemimpin yang baik. Pemimpin yang memberi hasil tepat adalah pemimpin yang baik. Sibuk atau tidak sibuk bisa saja terjadi.

Sebagai pemimpin pribadi, hasil apa yang sudah kita berikan? Hasil apa yang akan kita berikan? Pastikan dengan proses yang benar pula.

Variasi

Kita butuh ukuran hasil yang tepat. Sehingga semua pihak bisa dengan mudah menentukan apakah hasil yang diberikan oleh seorang pemimpin sudah sesuai atau tidak. Tanpa ukuran, dan proses, yang tepat maka akan terjadi variasi tiada henti. Pemimpin akan gagal dalam kondisi ini. Kita perlu adil dalam menilai hasil kepemimpinan.

Hasil yang diinginkan adalah meningkatkan penjualan 7% (y-o-y) yang diukur oleh auditor independent, yang sudah disepakati. Ukuran ini sudah cukup jelas. Bila laporan penjualan menunjukkan 8% maka kita apresiasi pemimpin sudah berhasil, asumsi proses sudah benar. Bila laporan penjualan justru terjadi penurunan 2% maka pemimpin itu gagal. Tidak peduli apakah pemimpin tersebut sibuk atau tidak, tugas pemimpin memang fokus kepada hasil.

Tanpa ukuran yang jelas, pihak tertentu bisa berselisih. Misal cara mengukur penjualan atau auditor bisa saja berbeda. Ketika laporan menunjukkan penjualan turun 2%, ada pihak lain yang klaim penjualan justru naik 9%. Varaiasi semacam ini harus dihindari sejak awal.

Kita bisa baca menkeu menargetkan rasio ketimpangan di tahun 2020 adalah turun ke 0,380 dari tahun sebelumnya G = 0,381. Yang terjadi justru pada tahun 2020 rasio ketimpangan meningkat jadi G = 0,385. Ukuran tersebut didasarkan pada laporan BPS.

Meski menkeu gagal mencapai hasil barangkali kita bisa maklum karena kondisi sedang pandemi. Tetapi kita sulit paham karena terjadi korupsi di mensos. Dengan korupsi ini sulit diharapkan akan bisa mengurangi kesenjangan ekonomi rakyat.

Penjelasan vs Alasan

Tugas pemimpin memang berat: memberikan hasil. Bila mencapai hasil yang diharapkan maka tugas berikutnya adalah memberi penjelasan bahwa semua proses sudah benar. Tetapi bila gagal mencapai hasil maka tugas berikutnya menjadi lebih berat: penjelasan atau alasan.

Korupsi bisa menjadi alasan gagalnya mencapai hasil. Tetapi alasan sekedar alasan, tidak bisa menjadi pembenaran. Beda hal dengan pandemi, misalnya. Pandemi bisa dijelaskan, sebagai penjelasan. Jika semua proses sudah tepat, seharusnya sukses mencapai hasil, karena ada pandemi jadi gagal. Hal semacam pandemi bisa kita terima sebagai penjelasan.

Karena beratnya tugas pemimpin maka seluruh pemangku kepentingan perlu saling mendukung untuk suksesnya pemimpin. Mari kita ambil peran untuk mendukung pemimpin yang baik demi kebaikan kita bersama.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: