Normal Gak Normal

“Closing schools is more stressful for children and families than keeping them open.”

Sudah saatnya kita kembali membuka sekolah tatap muka. Siswa bergembira. Guru-guru bersuka ria. Orang tua ikut bahagia.

Pandemi segera sirna. Tapi tak pernah kembali seperti sedia kala. Kita kembali normal yang tidak normal. Kita berada pada situasi normal tak normal. Normal gak normal.

Kegiatan masyarakat kembali normal. Ditambah tetap dengan standar prosedur kesehatan yang konsisten. Longgar sedikit, kasus covid bisa melonjak lagi. Dengan disiplin prokes, secara bertahap covid akan terjepit.

Grafik Merah Stabil

Grafik merah mulai stabil agak turun. Grafik merah yang sedikit banyak bisa menggambarkan kondisi sulit dalam pandemi mulai melandai di dunia. Di Indonesia, kasus harian juga mulai turun. Meski demikian grafik hijau belum membaik. Sehingga dalam waktu satu tahun ini, kita belum terbebas dari pandemi. Barangkali memang tidak akan pernah terbebas dari pandemi. Namun kita, sebagai umat manusia, sudah bisa mulai kembali hidup normal, yaitu normal gak normal.

Bisnis vs Sekolah

Bisnis harus jalan, dan memang tetap jalan, meski dengan beragam kesulitan. Bisnis penting bagi kehidupan umat manusia dan sifatnya urgen, mendesak, sehingga tidak bisa ditunda. Berbeda dengan pendidikan, meski penting, bisa ditunda. Pendidikan, dalam bentuk sekolah tatap muka, sudah saatnya untuk kembali berjalan normal, yaitu normal gak normal.

Penutupan sekolah tentu saja tidak masalah untuk saat ini, karena memang bisa ditunda. Berapa kerugian pendidikan akibat penutupan sekolah? Berapa juta siswa Indonesia yang tidak bisa belajar karena tidak ada kelas tatap muka? Berapa mahasiswa yang tidak bisa penelitian karena kampus terbatas? Semua kerugian pendidikan tampak seperti tidak ada. Tapi siapa yang berani melakukan asesmen nasional dengan jujur terhadap kualitas pendidikan semasa pandemi? Kabarnya, rencana asesmen nasional diundur pelaksanaannya. Padahal asesmen itu penting sekali buat Indonesia.

Menteri Penting

Peran menteri pendidikan saat ini benar-benar penting. Tentu saja menteri bisa menginstruksikan agar sekolah tidak buka kelas tatap muka demi menjaga kesehatan. Bagi yang berminat buka kelas, sekolah tersebut bisa mengajukan izin. Kondisi seperti ini perlu didorong untuk lebih maju lagi: menteri memerintahkan seluruh sekolah (dan universitas) membuka kembali kelas tatap muka dengan standar prosedur kesehatan.

Bagi sekolah yang belum memenuhi syarat untuk membuka kelas tatap muka maka kementerian akan membantu agar sekolah tersebut mampu memenuhi persyaratan.

Semester Pendek

Barangkali waktu yang paling tepat untuk membuka kelas tatap muka adalah semester baru terdekat. Sekitar Juli atau Agustus 2021. Ada kesempatan menarik yaitu berbagai universitas dapat membuka kuliah tatap muka lebih awal dalam bentuk semester pendek.

Semester pendek ini sekaligus bisa kita jadikan sebagai model, percontohan, untuk sekolah-sekolah di seluruh Indonesia. Semester pendek, yang biasanya berlangsung 2 bulan, bisa dimulai habis lebaran. Sekitar akhir Mei atau awal Juni sudah bisa dimulai. Kita berharap semester pendek ini berjalan dengan lancar. Dengan demikian, semester baru sudah bisa dimulai dengan normal, yaitu normal gak normal, sesuai jadwal seperti biasanya.

Pandemi Indonesia

Kondisi pandemi di Indonesia memang belum sepenuhnya mereda. Analisis saya menunjukkan nilai Reproduksi R berkisar sedikit di bawah 1 dan kadang naik lagi sedikit di atas 1. Kondisi R yang naik turun di sekitar 1 ini menunjukkan bahwa pandemi di Indonesia mulai mencapai kondisi kesetimbangan dinamis. Situasi stabil dengan adanya penambahan kasus pada jumlah tertentu seimbang dengan jumlah orang yang sembuh.

Untuk mencapai pandemi selesai total perlu waktu sekitar 10 bulan ke depan dengan syarat nilai R stabil di 0,8. Syarat ini sulit dipenuhi bahkan dengan bantuan vaksin pun. Tetapi peran perilaku masyarakat sangat berperan besar untuk mencegah lonjakan kasus baru. Disiplin prokes adalah kuncinya. Target kita untuk sementara cukuplah kestabilan dinamis, normal gak normal. Dan sekolah bisa kembali dibuka dengan kelas tatap muka.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: