Kosmologi: Mahana – Kosmos – Hana

Kosmologi penuh misteri. Makin misterius makin menarik bagi kita untuk menyelidikinya. Masalahnya, makin dalam kita mengkaji konsmologi maka hasilnya makin diliputi misteri.

Cosmology Diploma Course - Centre of Excellence

1. Eksistensi Kosmologi
2. Kosmologi Ilmiah
3. CCC: Conformal Cyclic Cosmology
4. Kosmologi Umum

Misteri ini bisa kita pahami, tetap dipenuhi tanda tanya, lantaran kosmologi membahas masa lalu, jauh di masa lalu. Dan membahas masa depan, jauh di depan. Secara ilmiah, kita tidak bisa mengetahui masa lalu dan masa depan. Apalagi yang begitu jauh.

1. Eksistensi Kosmologi

Terdapat banyak pendekatan untuk memahami kosmologi. Saya menggunakan pendekatan eksistensial dengan menggunakan istilah hana sebagai padanan wujud, being, atau eksistensi. Dalam banyak kasus, hana merujuk kepada eksistensi manusia atau manusia sejati secara eksistensial. Sementara eksistensi mutlak bisa kita sebut sebagai maha-hana = mahana. Secara spiritual, mahana bisa kita artikan sebagai Tuhan.

Kita memandang dunia, termasuk kosmomologi, selalu dalam ruang-dan-waktu. Para saintis, sejak Newton atau Galileo, memandang ruang dan waktu ada secara obyektif. Pandangan saintis ini mulai bergeser sejak Einstein merumuskan relativitas. Ruang dan waktu tidak se-obyektif yang dikira selama ini. Ruang dan waktu bersifat relatif terhadap kerangka acuan pengamat. Sementara, filsuf semisal Immanuel Kant, memandang ruang dan waktu sebagai intuisi paling murni dari manusia, pengalaman subyektif manusia. Sadra, pemikir abad 17, menyatakan ruang dan waktu eksis secara obyektif tetapi merupakan turunan dari gerak eksistensial, gerak substansial.

Maka kosmologi secara ruang bisa saja berbeda dengan kosmologi secara waktu. Kosmologi secara ruang adalah,

mahana – hana – kosmos

Hana, secara ruang, berada di tengah-tengah antara mahana dan kosmos. Hana memiliki sifat perpaduan antara mahana dan kosmos. Hana, manusia sejati, punya peran mewakili mahana untuk memakmurkan kosmos. Di saat yang sama, hana, manusia sejati mewakili seluruh kosmos untuk menghadap kembali ke mahana.

Kosmologi secara waktu adalah,

mahana – kosmos – hana

Hana, secara waktu, adalah yang hadir terakhir. Awal penciptaan alam semesta adalah hadirnya eksistensi kosmos. Kemudian, seiring waktu, kosmos ber-evolusi dari materi elementer – mineral – tumbuhan – hewan – dan puncaknya hadir manusia, hana. Perjalanan ini baru satu arah, dari sumber mahana ke kosmos lalu ke hana. Arah selanjutnya adalah kebalikannya. Karena kosmos telah eksis secara sempurna maka hana melanjutkan evolusi dengan menjelajahi kosmos menuju sang mahana.

1.1 Mengapa Hana

Mengapa kita perlu membahas hana sebagai landasan paling awal?

Karena hana adalah yang paling mewakili karakter kosmologi: selalu berubah. Kosmos setiap saat selalu berubah. Realitas selalu bergerak. Umat manusia, dan seluruh mahkluk hidup, senantiasa berubah. Bahkan gedung-gedung dan gunung-gunung juga terus bergerak bersama bumi mengitari matahari. Sesuai teori Big Bang, alam raya ini pun terus bergerak makin membesar.

Hana, manusia sejati, adalah yang paling cepat dalam gerak perubahan. Detik ini, kita bisa memikirkan kosmologi. Detik berikutnya, kita bisa memikirkan ekonomi. Secara fisik, hana terbiasa berpindah dengan cepat dari satu lokasi ke lokasi lain, misal dengan kendaraan mobil. Karena itu, kita sah memilih hana sebagai pusat kajian kita tentang kosmologi.

Secara epistemologi, hana adalah yang paling dekat, yaitu diri kita sendiri, manusia sejati. Sehingga, kita lebih mudah mempelajari hana dengan cara refleksi diri. Dan, hana memiliki karakter unik: punya badan dan pikiran. Badan manusia yang tersusun oleh materi fisik barangkali mirip dengan materi di alam raya. Tetapi pikiran manusia, yang kemudian berkembang menjadi kebudayaan, tampak khas hanya ada pada hana.

Heidegger (1889 – 1976) memulai kajian ontologinya juga berpijak pada kajian manusia sejati: dasein. Karena, manusia adalah “being” yang senantiasa peduli terhadap eksistensi dirinya. Manusia senantiasa mengantisipasi masa depan, berbekal masa lalu, untuk kemudian menjalani proses masa kini. Manusia bisa saja tenggelam dalam samudera kosmologi. Mereka terbawa arus entah ke mana. Tetapi di antara mereka, tetap ada yang menjadi manusia otentik: selalu peduli dengan eksistensi dirinya. Manusia otentik bertanya, “Apa makna menjadi being?”

Descartes (1596 – 1650) berfokus kepada kajian pikiran manusia: cogito.

1.2 Mahana: Ontological-Gap

Analisis sederhana menunjukkan bahwa diri kita, hana, lahir karena ada ibu dan bapak. Mundur lagi, ibu dan bapak lahir karena ada nenek dan kakek. Dan, kita bisa mundur terus ke masa lalu sambil bertanya, “Siapakah, atau apakah, yang paling awal?”

Realitas fundamental paling awal, atau realitas primordial, adalah mahana. Secara spiritual, kita bisa mengatakan bahwa mahana adalah Tuhan Yang Maha Awal. Para saintis, barangkali, mengidentifikasi mahana sebagai “hampa quantum” yang lebih awal dari Big Bang. Orang lain bisa juga mengidentifikasi mahana sebagai “Prinsip Primordial.”

“Tetapi, apa sebenarnya mahana itu?”

Mahana adalah ontological-gap sehingga kita tidak bisa merumuskannya secara ontologis (metafisis). Selalu ada “gap” antara rumusan ontologi kita dengan mahana. Semua ide, semua konsep, semua ukuran tidak akan mampu membatasi mahana: selalu ada ontological-gap.

Epistemological-gap.

Hermeneutical-gap.


1.3 Luma dan Tata

2. Kosmologi Ilmiah

Berbagai macam teori kosmologi ilmiah sudah dikembangkan. Salah satu paling favorit adalah teori big bang. Sekitar 14 milyard tahun yang lalu tidak ada apa-apa di alam semesta ini. Yang ada hanya hampa quantum. Meski hampa, hampa quantum ini, tidak benar-benar hampa. Kehampaan ini, sejatinya merupakan lautan energi yang tersembunyi dalam samudera hampa quantum. Sedikit gangguan saja akan mengakibatkan ledakan besar, big bang.

Big bang ini terjadi sekitar 13,8 milyard tahun lalu yang kemudian terus mengembang sampai saat ini. Sejak big bang itu, kosmos terus ber-evolusi sampai terbentuk alam semesta seperti sekarang ini. Ada apa sebelum big bang? Tidak ada apa-apa. Tidak ada ruang. Tidak ada waktu. Hanya ada kehampaan, hampa quantum.

Bagaimana dengan masa depan? Alam semesta, sampai saat ini, terus berkembang. Jika “berkembangnya” alam ini terus menerus terjadi maka alam semesta akan menjadi begitu longgar. Ruang menjadi terlalu besar dengan materi yang konstan. Termasuk badan kita, badan manusia, menjadi terlalu longgar berubah jadi benda cair atau gas. Maka alam semesta akan hancur pada waktunya. Alam semesta akan berakhir. Skenario yang berbeda bisa dikembangkan. Alam semesta terus mengembang sampai ukuran tertentu lalu berbalik arak mengkerut, mengecil. Proses yang mengecil terus-menerus menyebabkan alam semesta makin terjepit dengan massa jenis begitu mampat. Alam semesta juga hancur, pada akhirnya.

3. CCC: Conformal Cyclic Cosmology

Perkembangan menarik dari kosmologi ilmiah adalah CCC. Di mana alam semesta berkembang lalu hancur, berkembang lagi, hancur lagi, berulang secara siklis tanpa batas akhir.

Teori big bang dirumuskan berdasar data pengamatan yang menunjukkan bahwa alam semesta saat ini sedang mengembang. Maka bila kita hitung balik, alam semesta adalah mengkerut. Dan diperoleh hasil perhitungan, pada waktu 13,8 milyard tahun yang lalu, radius alam semesta adalah 0 meter. Waktu itulah dianggap sebagai peristiwa big bang. Tidak ada apa pun sebelum big bang.

Hasil pengamatan kontemporer menunjukkan data adanya “jejak cahaya” sebelum waktu big bang (data dan interpretasi masih diperdebatkan). Maka peniliti menyimpulkan sudah ada alam semesta sebelum big bang. Karena itu, teori big bang mulai mendapat tantangan yang serius. Penrose, pemikir abad 21, mengusulkan teori baru sebagai pengganti teori big bang yaitu teori CCC. Dalam teori baru ini, peristiwa big bang merupakan satu bagian dari siklus alam semesta. Masih ada banyak siklus lainnya, tanpa batas.

4. Kosmologi Umum

Bisa kita lihat, kosmologi ilmiah berfokus kepada kosmos. Mereka tidak membahas hana, manusia sejati. Apalagi membahas mahana, tentu tidak. Meski hanya fokus kepada kosmos – materi dan energi – kosmologi tetap penuh misteri. Bagaimana bila kita kembangkan lebih luas: mahana – kosmos – hana? Tentu makin seru.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: