Mudik Normal Gak Normal

Mudik dilarang di tahun 2021 ini, dari 6 April sampai 17 April, kabarnya.

Teman-teman pekerja dan pengusaha di bidang transportasi bis, angkutan umum, pesawat, dan lain-lain harus berpikir keras menyiasati larangan mudik, yang tentu sulit. Sementara yang BUMN semisal Kereta Api atau Garuda, juga sulit, tapi bisa berharap ada bantuan dari pemerintah, barangkali.

Saya sendiri memandang situasi pandemi saat ini adalah normal gak normal. Kita perlu kembali beraktivitas normal dengan cara tidak normal.

Kasus Dunia Menanjak Lagi

Setelah sempat menurun di bulan Februari, kasus baru di dunia kembali menanjak. Di bulan April kembali ada 600 ribu kasus baru per hari. Mendekati puncak yang hampir 800 ribu per hari di bulan Januari 2021.

Beberapa negara penyumbang kenaikan kasus baru ini di antaranya Prancis, India, Iran, dan Jerman. Prancis di atas 50 ribu per hari.

Sementara Iran di atas 20 ribu kasus baru per hari.

Indonesia Baik

Kondisi pandemi di Indonesia tampak lebih baik relatif terhadap negara-negara yang sedang menanjak di atas.

Meski tampak membaik, standar prokes harus terus kita jalankan. Sedikit lengah kasus dapat melonjak sewaktu-waktu. Barangkali kita bisa belajar dari pengalaman negara tetangga, Malaysia.

Sepanjang Juni – Juli – Agustus 2021, tampaknya Malaysia sudah berhasil menangani pandemi covid. Nyaris tidak ada kasus baru. Paling hanya 1 atau 2 orang terinfeksi untuk kemudian sembuh dalam beberapa hari. Bulan September ada sedikit lonjakan. Tampaknya tidak bisa dihentikan, lonjakan tersebut, sampai memuncak di Januari 2021 dengan 6 ribuan kasus baru per hari. Hingga April, saat ini, pandemi di Malaysia belum tampak ada tanda-tanda akan usai. Penambahan kasus harian hampir 2 ribu orang.

Larangan Mudik Tepat?

Tepat, dilarang mudik bila tujuannya mencegah penambahan kasus baru. Tidak tepat bila dilihat dari beberapa pihak yang terdampak negatif larangan mudik. Misal dari perusahaan otobis, bisa kesulitan secara keuangan dengan adanya larangan mudik ini. Tetapi barangkali akan ada solusi terbaik untuk itu semua.

Saya kira pemerintah sudah tepat dengan menerapkan “pembatasan mikro,” tidak lagi pembatasan berskala besar. Kita perlu melindungi masyarakat dengan tepat sasaran. Karena pandemi sudah berlangsung lebih dari setahun maka banyak pengalaman dari sisi masyarakat mau pun pemerintah. Masing-masing dari kita dapat beradaptasi sesuai standar prosedur kesehatan.

Larangan mudik apakah termasuk berskala mikro atau berskala besar?

Tampaknya sulit untuk mengatakan sebagai skala mikro. Larangan mudik berlaku di berbagai pulau di nusantara. Berlaku di Jawa, Sumatera, Sulawesi dan lain sebagainya. Berbagai macam resiko perlu kita timbang ulang.

Solusinya adalah: normal tidak normal. Semua pihak beraktivitas secara normal dengan mematuhi prokes. Titik yang rawan perlu pengawasan lebih ketat atau dihentikan sementara secara mikro. Normal sih, tapi tetap tidak normal.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: