Balasan Kebaikan

“Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.” (QS 55 : 60)

Guru ngajinya saya menceritakan, “Itu adalah ayat yang paling indah.” Setiap ayat suci memang indah. Kita sebagai manusia mempunyai pengalaman masing-masing. Ada kalanya, ayat-ayat tertentu begitu mengena ke dalam hati seseorang. Ayat suci itu begitu istimewa. Saya setuju dengan guru saya. Ayat suci paling indah adalah, “Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan.”

Setiap kita berbuat kebaikan maka, pasti, mendapat kebaikan. Bahkan balasan kebaikan itu lebih besar dari kebaikan pertama yang kita perbuat. Karena kita mendapat balasan kebaikan maka kita melakukan kebaikan lagi. Dan, pasti, kita mendapat balasan kebaikan lagi yang lebih besar. Maka alam semesta ini bertabur, dipenuhi, kebaikan demi kebaikan.

Hidup yang bertabur kebaikan tentu menjadi indah. Bila demikian, mengapa ada orang yang berbuat jahat? Mengapa ada orang yang menderita? Mengapa ada orang yang tidak bahagia?

Prestasi Kebaikan

Tujuan kita berpuasa adalah untuk menjadi orang yang bertakwa, orang yang berprestasi. Salah satu wujud nyata dari takwa adalah amal kebaikan. Yang dijamin langsung oleh Allah dibalas dengan kebaikan lagi, yang lebih besar. Balasan ini langsung terjadi di dunia dan berlanjut di akhirat. Semoga kita termasuk orang-orang yang berbuat kebaikan.

“Barang siapa berbuat kebaikan maka untuk dirinya.”

Kebaikan, amal sholeh, bisa berupa kebaikan personal atau sosial. Kebaikan personal jelas untuk diri kita sendiri. Bahkan kebaikan sosial juga untuk diri kita sendiri yang berdampak luas menjadi kebaikan untuk orang lain.

Di bulan suci, misalnya, kita memperbanyak mengkaji kitab suci. Ini sejenis kebaikan personal. Berdampak baik kepada diri kita sendiri yang membaca AlQuran. Menariknya, membaca AlQuran, meski tidak paham bahasa Arab, tetap merupakan suatu kebaikan. Bahkan lantunan ayat suci ini membawa kebaikan kepada alam sekitarnya. Memperoleh percikan berkah kitab suci. Apalagi bila kita membaca kitab suci sambil mendalami maknanya, dalam bahasa Arab dan terjemahnya, maka itu menjadi kebaikan yang beripat ganda.

Membayar zakat dan berbagi sedekah adalah kebaikan sosial. Kita perlu meningkatkan kepedulian sosial di bulan suci untuk dilanjutkan di bulan-bulan berikutnya. Berbagi sedekah, tampaknya, membuat harta kita berkurang. Berpindah menjadi milik orang lain, penerima sedekah. Sehingga kebajikan sosial ini berdampak positif bagi orang lain dan menuntut pengorbanan dari diri kita.

Apa nilai kebaikan dari suatu pengorbanan?

Dari sudut pandang materi, tampaknya, pengorbanan itu merugikan diri kita sendiri. Bila kita kaji lebih jauh, kita akan memperoleh pemahaman lebih mendalam.


Memaknai Kebaikan
Godaan Nafsu
Kebaikan Abadi

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: