Ekonomi Serakah

“Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudaranya setan dan setan itu ingkar kepada Tuhannya.” (QS 17:27)

Pandemi telah meluluh-lantakkan ekonomi nasional, bahkan ekonomi dunia. Solusi untuk memperbaiki ekonomi belum ditemukan sampai saat ini. Lebih sulit lagi, umat manusia belum menemukan solusi untuk pandemi. Sehingga harapan perbaikan ekonomi, tampak, sulit digapai.

Saya sendirinya merumuskan solusinya adalah puasa: manusia mengendalikan diri, untuk kemudian menjadi orang bertakwa meraih prestasi.

BI Revisi Keatas Pertumbuhan Ekonomi Global di 2020 jadi -3,8% |  Infobanknews

Ekonomi Konsumsi

Bu Menteri, beberapa hari lalu, menyerukan agar masyarakat lebih banyak berbelanja. Masyarakat perlu meningkatkan konsumsi. Pada gilirannya, konsumsi yang tinggi akan menggerakkan roda ekonomi nasional. Di sisi lain, pertanyaan dari rakyat, “Untuk belanja pakai uang apa?” Pertanyaan sederhana, sulit jawabannya! Jika rakyat kecil tidak punya uang untuk belanja, maka, bagaimana bisa meningkatkan belanja.

Tetapi, saya kira, Bu Menteri benar dengan sarannya. Teori ekonomi saat ini, diukur pertumbuhannya, berdasar tingkat konsumsi. Makin besar konsumsi maka makin sehat ekonomi nasional suatu negara. Lagi pula, lebih mudah mengukur nilai konsumsi, dibanding mengukur nilai produksi, misalnya.

Sementara itu, pertanyaan wong cilik yang menyatakan tidak bisa belanja karena tidak punya uang juga benar adanya. Pemerintah sudah mencoba bagi-bagi uang berupa bantuan langsung tunai dan sebagainya. Tentu saja, hanya sebagian kecil wong cilik yang menerima bantuan ini. Akibatnya, tidak cukup untuk menggerakkan roda ekonomi.

Sulit bagi saya, pada awalnya, memahami bagaimana konsumsi menjadi andalan untuk meningkatkan ekonomi nasional. Dari kecil kita menerima ajaran, “Hemat pangkal kaya.” Sebaliknya berlaku, “Boros pangkal miskin.” Bagaimana pun, ekonom aliran Keynesian mempercayai peningkatan konsumsi adalah solusi ekonomi makro. Saya, akhirnya, bisa memahami argumen Keynesian, yang sudah berhasil menyelamatkan ekonomi Barat sejak krisis ekonomi 1930an. Dan berhasil memantapkan dominasi ekonomi Barat atas ekonomi dunia sampai akhir-akhir ini. Apakah itu semua kabar baik?

Mubazir

Meningkatkan konsumsi, tentu saja, mudah terjebak kepada perilaku mubazir, boros. Konsumsi makanan berlebih, konsumsi kuota terlalu banyak, konsumsi energi tingkat tinggi, dan lain sebagainya.

Lagi pula, kitab suci mengecam perilaku boros sebagai saudaranya setan yang ingkar kepada Tuhan. Kecaman yang sangat keras kepada pihak-pihak mubazir.

“Bermegah-megahan telah membuat kalian lalai. Hingga kalian masuk liang kubur.”

Dampak susulan dari boros, berlebihan, lebih parah lagi: lalai. Manusia lalai, terlena, dengan kenikmatan dunia. Lupa bahwa dunia ini hanya sementara. Ada kehidupan yang lebih hakiki. “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari yang awal (dunia).”

Resiko-resiko, selanjutnya, hidup hedonis: mengejar kenikmatan nafsu badani. Tidak sensitif terhadap penderitaan rakyat kecil. Korupsi, demi kenikmatan duniawi, terjadi di kalangan pejabat-konglomerat. Bahkan, korupsi, sampai menular ke petugas KPK segala. Ada kasus pencurian emas, barang bukti, sampai suap dari pejabat terkait.

Kita perlu kembali kepada puasa: menahan diri dari hal-hal yang halal. Makan, minum, dan berbagai hal yang halal dijauhi oleh orang yang berpuasa. Apalagi hal-hal haram maka pasti dijauhi lebih tegas lagi. Sikap mengendalikan diri ini bertujuan untuk membangun hidup bersama yang bermartabat, membangun masyarakat yang bertakwa, masyarakat yang meraih prestasi. Hidup jauh dari serakah, hidup penuh berkah.

Mikro Global

Teori ekonomi Keynesian, yang mengutamakan konsumsi atau agregat permintaan, sudah mendapat kritik sejak awal. Salah satunya dari para pendukung “Real Business Cycle”. Di mana, ekonomi perlu mempertimbangkan kasus real dari perputaran suatu usaha.

Pada akhirnya berkembang teori ekonomi “dynamic stochastic general equilibrium” yang mempertimbangkan segala aspek ekonomi. Termasuk di dalamnya mempertimbangkan kepentingan bisnis real, tingkat konsumsi, bahkan menggunakan model dinamis serta pendekatan stokastik. Juga mengkaji hubungan ekonomi mikro dengan makro. Intinya, ini adalah model ekonomi paling lengkap nan canggih. Kita bisa mengembangkan model dinamis-stokastik ini dengan bantuan komputer – dan matematika.

Semua berharap, teori ekonomi dinamis yang canggih ini akan bisa menyelesaikan masalah. Nyatanya tidak begitu. Banyak kegagalan di sana-sini. Salah satunya, pendekatan ini terlalu “kaku” karena menggunakan komputer dan matematika. Maka para ekonom lebih suka menggunakan pendekatan “spekulatif” para pakar ekonomi. Di sisi yang paling sulit, bagi teori dinamis, adalah tidak mampu memprediksi perilaku manusia. Secara teori, kita memprediksi bahwa manusia akan memilih profit yang lebih besar. Nyatanya, manusia kadang meninggalkan profit demi suatu kenikmatan. Manusiawi kan? Benar-benar sulit diprediksi.

Jalan Takwa

Solusi takwa, kembali, menjadi harapan kita bersama. Puasa mengendalikan diri dari hal-hal yang halal, sudah pasti menjauhi yang haram, apalagi korupsi. Fokus memberi kontribusi, mengukir prestasi, itulah makna takwa sejati. Kita memulai dari masing-masing pribadi, lanjut saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, kemudian menyusun, atau memperbaiki, struktur sosial yang adil dan transparan.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: