Takwa Berpasangan

“Dan dari segala sesuatu, Kami ciptakan berpasang-pasangan, agar kamu semua merenung.” (QS 51 : 49)

Udin, laki-laki biasa yang bertubuh pendek dan kulit gelap, duduk santai di teras rumah sore itu bersama istrinya, yang cantik sekali, kembang desa. Sambil menikmati suasana Bandung yang begitu indah, Udin memandangi istrinya berulang kali.

“Kenapa sih Mas, memandangi Neng seperti itu?” tanya sang istri.
“Mas ini sangat bahagia, punya istri Neng,” jawab Udin.
“Memang kenapa?”
“Neng dari hari ke hari kok makin cantik aja.”
“Kita berdua, nanti, juga masuk surga kok Mas.”
“Kok Neng yakin?”
“Ya, Mas masuk surga karena bersyukur dapat istri saya. Dan saya masuk surga karena bersabar dapat suami Mas.”

Pasangan Jiwa (Soulmate)

Sabar dan Syukur

Alam semesta ini diciptakan Tuhan dalam bentuk berpasang-pasang. Ada laki dan perempuan. Ada siang dan malam. Ada besar dan kecil. Ada bahagia dan derita. Ada kaya dan miskin. Agar kita merenungi itu semua. Berpikir, berdzikir.

Imam Al Ghazali adalah tokoh besar yang berhasil merumuskan pasangan-pasangan karakter manusia dengan baik untuk mencapai kesempurnaan. Di era kontemporer ini, abad 20 dan abad 21, Derrida adalah tokoh paling semangat untuk menyadarkan kita bahwa realitas memang berpasang-pasangan. Derrida mengembangkan konsep dekonstruksi yang senantiasa menuntut kita untuk menghormati “yang lain.”

Berbicara tentang karakter manusia, sabar adalah karakter paling penting. Sabar adalah tetap konsisten, kuat, teguh dalam menjalani proses sampai mencapai tujuan. Tugas yang berat, dengan hasil yang hebat.

Meski kita tahu sabar adalah kunci sukses, itu semua hanya mudah diucapkan, sulit dijalankan. Karena kita hanya bertumpu kepada satu kaki: sabar saja. Kita perlu menemukan pasangan dari sabar yaitu syukur. Jika kita umpamakan sabar adalah kaki kanan maka syukur adalah kaki kirinya. Betapa indahnya kita bisa bertumpu dengan dua kaki. Berjalan lebih mudah dengan dua kaki. Bahkan kita bisa berlari dengan dua kaki.

Sabar terasa berat karena kita membayangkan cobaan demi cobaan yang selalu datang. Sekarang, di saat yang sama, bersyukurlah, betapa banyak karunia Allah yang sudah kita terima. Betapa indahnya kehidupan ini. Betapa besar pahala orang yang bersyukur dan bersabar.

“Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang bersabar.”
“Sungguh bila kamu bersyukur, maka Kami tambahkan nikmat kepadamu.”

Zuhud dan Fakir

Zuhud sering dimaknai sebagai hidup sederhana, tidak tertarik kepada kenikmatan dunia. Tentu sulit sekali menjalani hidup di jaman ini bila harus bersikap zuhud. Konsumerisme terus dipromosikan. Kehidupan mewah penuh daya pesona. Hasrat untuk komsumsi tak pernah bisa berhenti. Makin banyak konsumsi, makin ketagihan untuk konsumsi lagi. Bahkan ada yang nekat sampai korupsi. Ya, Allah, lindungi kami.

Lagi-lagi, bersikap zuhud memang berat, bila kita hanya bertumpu kepada satu kaki. Kita perlu menemukan pasangannya yang tepat yaitu fakir, sebagai kaki kedua. Namun kita perlu, lebih dulu, mendefinisikan atau memaknai apa itu zuhud dan fakir.

Zuhud adalah sikap seseorang yang tidak terpikat oleh dunia. Dengan pengetian ini, sejatinya, zuhud tidak berhubungan dengan kaya-miskin. Orang yang kaya bisa zuhud asalkan dia tidak terpikat, tidak terikat, oleh kekayaannya itu. Sulit. Orang miskin bisa juga tidak zuhud bila dia terus-menerus mengejar harta, terpikat oleh harta. Sebaliknya, kaya atau miskin, sama-sama bisa zuhud asalkan mereka tidak terikat oleh harta sama sekali.

Fakir adalah sikap seseorang yang sangat membutuhkan. Umumnya, orang fakir adalah orang yang membutuhkan makanan, tempat tinggal layak, sarana kesehatan, dan bantuan pendidikan. Orang kaya raya yang merasa masih membutuhkan tambahan harta maka, sejatinya, dia adalah fakir. Sementara, orang miskin yang merasa cukup, tidak membutuhkan tambahan harta, dia malah tidak fakir terhadap harta.

Untuk menjalani hidup yang unggul kita perlu mengarahkan zuhud dan fakir dengan tepat. Zuhud kepada dunia. Kita sama sekali tidak terikat oleh dunia. Fakir kepada Allah semata. Kita hanya membutuhkan Allah saja. Jangan dibalik arahnya. Zuhud kepada Allah, tidak terikat kepada Allah, tentu salah. Fakir kepada dunia, merasa membutuhkan kepada dunia, tentu salah juga.

Mari kita mantapkan zuhud kepada dunia, tidak terikat kepada dunia. Dunia adalah sekedar fasilitas bagi kita untuk beramal sholeh. Dunia adalah fasilitas bagi kita untuk saling tolong-menolong. Jangan penuhi hati dengan dunia. Cukup tempatkan dunia seisinya di salah satu sudut hati saja. Gunakan dia ketika kita hendak membantu sesama.

Fakir kepada Allah, membutuhkan 100% Allah semata. Kita membutuhkan pertolongan Allah. Kita membutuhkan rahmat dan berkah dari Allah.

Takwa dan Tawakkal

Takwa adalah proses kita, sebagai wakil Tuhan, mengelola alam semesta ini agar menjadi lebih baik. Tentu dengan menjaga dari beragam kerusakan dan menjalankan perintah Allah. Tugas yang sangat berat kan? Tentu, takwa adalah tugas kemanusiaan yang perlu kita jalankan dengan profesionalisme.

Tawakkal adalah sikap kita mempercayakan sepenuhnya kepada Allah, berserah diri. Allah Maha Kuasa. Allah Maha Berilmu. Allah Maha Bijaksana. Allah pasti memutuskan, mengatur, dan memberikan yang terbaik kepada seluruh alam semesta.

Pasangan yang sangat tepat: takwa dan tawakkal. Kepada alam semesta, kita memandangnya sebagai media untuk bertakwa. Kepada Allah, kita sepenuhnya berserah diri.

Fisikal dan Digital

Kita masuk ke era digital. Banyak orang terjebak dalam dunia digital. Mereka menghabiskan waktu berjam-jam tiap hari menatap layar digital. Hidupnya terkungkung dalam matriks teknologi digital yang serba online. Di sisi lain, dunia digital sangat berguna untuk memajukan kemanusiaan. Kita bisa berdagang, bisnis, dan belajar di dunia digital. Kita butuh pengimbang dunia digital, yaitu dunia fisikal yang nyata ada di depan kita.

Kita perlu menjaga keseimbangan yang sehat dengan memanfaatkan dunia digital dan dunia fisikal dengan bijak.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: