Gelombang Sekularisasi

“Ingatlah, kamu adalah orang-orang yang diajak untuk menginfakkan (hartamu) di jalan Allah. Lalu di antara kamu ada orang yang kikir, dan barangsiapa kikir maka sesungguhnya dia kikir terhadap dirinya sendiri. Dan Allah-lah Yang Mahakaya dan kamulah yang membutuhkan (karunia-Nya). Dan jika kamu berpaling (dari jalan yang benar) Dia akan menggantikan (kamu) dengan kaum yang lain, dan mereka tidak akan (durhaka) seperti kamu (ini).” (QS 47 : 38)

Tegas sekali: tugas kita adalah berinfak, menolong orang-orang yang kesulitan. Dan, nyatanya, tidak sedikit orang yang kikir. Termasuk yang manakah diri kita?

Amal Spesial Hanya untuk Orang Kaya, Amal Apakah Itu? - Hadila

Menjelang idul fitri kita pasti berbagi kekayaan dengan membayar zakat fitrah. Ditambah lagi dengan berbagi zakat harta dan infak sedekah lainnya. Bahkan, kadang, kita membaca berita ada orang kaya yang berbagi sedekah dengan mengumpulkan ribuan orang miskin datang ke rumah orang kaya itu. Saya sendiri mengusulkan agar orang kaya itu yang datang ke rumah orang miskin untuk membagikan sedekahnya. Atau orang kaya itu bisa membentuk panitia atau membayar orang untuk membagikan sedekahnya. Bukan mengumpulkan calon penerima sedekah.

Mendatangi rumah orang miskin banyak manfaatnya. Kita jadi tahu potret realitas kehidupan orang miskin sebenarnya. Kita bisa lebih mudah memahami kesulitan orang miskin. Dan, di masa pandemi ini, kita mencegah terjadinya kerumunan.

Amal Sekular

Untuk menjadi dermawan tidak ada syarat orang tersebut beragama atau sekular atau atheis. Setiap orang bisa jadi dermawan. Setiap orang bisa berinfak untuk menolong orang miskin. “Maka berlomba-lombalah dalam kebaikan.”

Biden, presiden USA, negara sekular terbesar di dunia, menetapkan tambahan pajak bagi orang kaya. Orang USA yang berpenghasilan di atas 1 juta dollar kena pajak tambahan, dampak pandemi. Trilyunan dolar yang terkumpul dari pajak ini digunakan untuk membantu orang “miskin” di USA. Barangkali trilyunan dolar ini termasuk “infak” terbesar di dunia.

Sebaik-baiknya amal Biden, dia kan hidup sekular di negara sekular. Maka amalnya tidak akan diterima, beberapa orang bisa berpandangan begitu. Meski pemimpin dari negara sekular, Biden sendiri adalah orang yang beragama. Maka dia yakin, beriman, terhadap kehidupan yang transenden nan suci. Dengan demikian kita tidak bisa menghakimi Biden dengan sudut pandang yang salah. Sebaliknya, kita bisa melihat seberapa baik kebijakan Biden bagi rakyat “miskin” yang tengah kena dampak pandemi. Apalagi, bila dilihat dari kacamata sekular, pembelaan Biden kepada orang “miskin” adalah baik.

Dalam catatan sejarah, kita punya banyak contoh-contoh pemimpin yang luar biasa. Misalnya, Umar bin Abdul Azis adalah raja yang adil. Dia, Umar, malam itu sedang menganalisis laporan keuangan kerajaan. Tiba-tiba pintu ruang kerjanya diketuk dari luar oleh anaknya. Umar mematikan lampu lalu membuka pintu.

“Mengapa ayah mematikan lampunya?” tanya anaknya.
“Kamu akan berbicara dengan ayah tentang urusan apa?” jawab Umar.
“Apa hubungannya dengan lampu?”
“Lampu ini dibiayai oleh uang negara. Jika kamu berbicara urusan keluarga kita maka tidak berhak menggunakan fasilitas negara.”

Umar, tercatat dalam sejarah, sebagai raja atau khalifah terbaik. Umar berhasil membawa kemakmuran bagi seluruh rakyat. Umar membela hak-hak orang-orang miskin. Umar berhasil menyatukan umat yang sebelumnya banyak silang pendapat. Umar menjabat sebagai raja bukan karena warisan dari ayahnya. Umar dipilih oleh mayoritas wakil rakyat waktu itu. Dan Umar berpesan agar jabatan raja berikutnya jangan diwariskan ke anaknya. Benar saja, raja berikutnya bukanlah anak Umar. Padahal, waktu itu, sistem monarki turun-temurun banyak terjadi.

Di era kontemporer, kita punya contoh M Yunus dengan program Grameen Bank. Yunus berhasil meraih Nobel perdamaian atas prestasinya mengentaskan kemiskinan di Bangladesh. Terbukti membela orang-orang miskin, bahkan yang paling miskin.

Amal kebaikan, apalagi yang berdampak sosial, menjadi medan kompetisi bagi kemanusiaan. Siapa pun berhak beramal demi kemanusiaan yang adil beradab. Orang beragama boleh beramal. Orang ateis juga boleh. Tentu saja, orang sekular juga boleh beramal.

Lonjakan Sekularisasi

Membaca sejarah sekularisasi tentu banyak versi. Comte meyakini bahwa masyarakat sekular yang mendasarkan keyakinan kepada sains adalah bentuk masyarakat paling matang. Sehingga masyarakat akan bergerak menuju masyarakat sekular di seluruh belahan dunia.

Sementara Marx, tokoh sosialis yang dekat dengan ateis, menyatakan bahwa masyarakat akan menuju ke masyarakat kapitalis. Kemudian, kapitalis ini, secara alami, membangkitkan kesadaran proletar untuk menuntut revolusi. Pada akhirnya, masyarakat akan matang sebagai masyarakat komunis.

Tampaknya, gelombang sekularisasi ini tak bisa dibentung lagi. Masyarakat akan bergerak menjadi masyarakat sekular di seluruh dunia. Benarkah demikian?

Taylor mencatat fenomena yang berbeda dalam bukunya “A Secular Age” yang terbit pada tahun 2007 lalu. Meski terjadi penambahan sekularisasi di berbagai wilayah, di saat yang sama, terjadi re-konversi besar-besaran di tempat berbeda. Banyak orang, atau masyarakat, yang kembali menjadi pemeluk agama yang taat. Yang dulu tidak beragama menjadi beragama. Yang dulu tidak rajin ibadah menjadi taat ibadah. Dari pandangan Taylor ini, kita justru bisa optimis bahwa masyarakat kontemporer, bisa jadi, makin religius.

Membaca sejarah masa lalu saja kita bisa banyak versi yang berbeda. Maka, wajar saja, bila memprediksi masa depan akan memberikan hasil lebih beragam. Apalagi kita hendak memprediksi sesuatu yang erat kaitannya dengan perilaku manusia, makin sulit diprediksi. Sejauh ini, kita tidak bisa mengkonfirmasi kebenaran determinisme sejarah. Ada banyak kemungkinan berkembangnya arah sejarah.

Masyarakat Takwa

Saya mengusulkan revisi makna konsep takwa. Yang pada gilirannya, dengan makna baru takwa ini, kita berjuang membentuk masyarakat takwa.

Takwa bermakna sebagai proses meraih prestasi dan memberi kontribusi di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah Tuhan dan menjauhi laranganNya.

Pengendalian diri, melalui puasa misalnya, adalah salah satu cara untuk menjadi takwa. Buah takwa paling sederhana adalah berbagi untuk sesama. Dimulai dengan takwa pribadi berlanjut menjadi takwa secara sosial bersama-sama.

Bagaimana menurutu Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: