Prospek Sekularisasi

“Pernahkah kamu perhatikan benih yang kamu tanam? Kamukah yang menumbuhkannya ataukah Kami yang menumbuhkan? Sekiranya Kami kehendaki, niscaya Kami hancurkan sampai lumat; maka kamu akan heran tercengang, (sambil berkata), “Sungguh, kami benar-benar menderita kerugian, bahkan kami tidak mendapat hasil apa pun.” Pernahkah kamu memperhatikan air yang kamu minum?” (QS 56 : 63 – 68)

Manusia mudah terkecoh, mudah tertipu, oleh ilusi yang diciptakan sendiri. Ketika kita menanam benih, lalu tumbuh. Kita terbiasa berpikir bahwa diri kita yang menanam yang membuat benih itu tumbuh. Benarkah kita yang membuat tumbuh? Bukan. Benih itu sendiri yang punya kekuatan untuk tumbuh. Tuhan yang telah menciptakan benih itu lengkap dengan hukum alamnya.

Siapa Menanam Kejujuran Ia akan Menuai Kepercayaan - Semua Halaman -  Intisari

Ketika sepasang kekasih menikah, bisakah mereka membuat anak? Tidak. Meski pun banyak orang yang mengatakan bisa membuat anak. Yang mereka lakukan hanya itu-itu saja. Tuhan yang menciptakan sel telur, menciptakan sel sperma, dan mempertemukan mereka. Lalu Tuhan pula yang menciptakan janin sampai menjadi bayi dan dewasa.

Manusia, benar-benar mudah, menipu diri sendiri.

Sepatutnyalah kita lebih banyak memuji keagungan Tuhan.

Sukses Sekularisasi

Negara-negara Barat berhasil meraih kemajuan besar dengan program sekularisasi, memisahkan urusan agama dengan urusan negara. Sebelum ada program sekularisasi, di Barat, sering terjadi pertikaian atas nama agama. Karena masing-masing pihak mengaku punya pembenaran berdasar agamanya maka pertikaian ini sering memakan korban. Penderitaan besar menimpa masyarakat Barat dalam rentang ratusan tahun.

Benarkah sekularisasi menyebabkan negara-negara menjadi lebih maju?

Beberapa negara Islam mencoba menerapkan program sekularisasi. Tampaknya, mereka tidak berhasil maju. Kita bisa mencoba mengkaji kasus negara Mesir dan Turki. Masa lalu Mesir dan Turki lebih gemilang dibanding dengan masa sekularisasi.

Dengan demikian tidak ada jaminan bahwa sekularisasi akan berbuah sukses. Khusus di negara dengan penduduk mayoritas muslim, beragama Islam, sekularisasi mengalami banyak kesulitan. Barangkali karena Islam tidak mengenal pemisahan kehidupan dunia dan akhirat, fisikal dan spiritual. Islam memandang kehidupan dunia demikian penting sebagai medan beramal yang bernilai spiritual dan ukhrawi.

Definisi Sekularisasi

Para ahli berbeda pendapat tentang definisi sekularisasi. Charles Taylor mencoba mendefinisikan sekularisasi dengan beberapa pendekatan. Pertama, sekularisasi adalah pemisahan agama dari urusan negara. Semua kepentingan umum, terbebas dari simbol-simbol dan klaim agama apapun. Urusan negara, urusan umum, adalah urusan manusia dengan manusia.

Kedua, sekularisasi adalah pembatasan ritual-ritual agama. Apalagi di tempat umum, dilarang pelaksanaan ritual agama apapun. Tentu saja simbol-simbol agama juga disembunyikan dari ruang publik.

Ketiga, sekularisasi adalah alternatif keyakinan dari beragam keyakinan. Sekularisasi adalah pilihan hidup di antara beragam pilihan hidup lainnya. Orang sekular meyakini kehidupan ini bersifat imanen, hanya ada alam ini saja. Sementara orang yang tidak sekular, orang beragama, meyakini kehidupan imanen dan transenden. Ada alam lain, yang bersifat transenden, bukan hanya alam materi kasat mata ini.

Dengan ragam pemahaman sekularisasi seperti di atas, memang, ada konsekuensi wajar bahwa manusia bertanggung jawab penuh atas hidupnya. Sehingga masyarakat berpikir cerdas untuk menemukan solusi terbaik memajukan kehidupan sosial. Masyarakat menyelesaikan berbagai macam masalah dengan prosedur demokrasi. Tidak ada orang yang berhak mengklaim paling benar. Semua ide diuji oleh akal sehat dan hukum positif. Konsekuensi sekularisasi ini, secara logis, mendorong kemajuan kemanusiaan.

Sekular vs Agama

Paham sekular dalam bentuk paling kuat barangkali berupa ateis, tidak mengakui adanya Tuhan. Tetapi, secara umum, sekularisasi tidak bertentangan dengan agama. Contoh nyata bisa kita lihat di berbagai tempat. Di mana, di negara-negara sekular, terdapat banyak penduduk yang beragama. Di USA banyak orang beragama. Bahkan di Prancis, yang begitu kuat sekularisasinya, berlimpah orang beragama. Dan di negara komunis, yang sering bersifat ateis, misal di Rusia dan Cina, pemeluk agama makin berkembang terus.

Tentu saja banyak perbedaan antara pemeluk agama dan penganut sekularisme. Bahkan sering terjadi benturan wacana.

Kaum sekular dengan mudah menuduh kaum beragama sebagai kekanak-kanakan. Tidak berani mengahadapi realitas dunia. Bersembunyi di balik nama Tuhan. Sedangkan kaum sekular adalah manusia dewasa matang yang berani menghadapi dunia atas nama dirinya sendiri.

Sebaliknya, kaum beragama bisa menuduh kaum sekular adalah kaum yang tersesat. Mereka, kaum sekular, tidak memahami kebenaran sejati. Mereka terperosok di pojok dunia. Rugi di dunia, juga rugi di akhirat.

Di era digital, yang makin mudah berkomunikasi, tiba saatnya untuk menjalin dialog yang lebih produktif bagi kedua pihak. Bagaimana pun, apapun posisi kita, kita sama-sama hidup di bumi yang sama. Yang perlu kita jaga bersama-sama.

Program Takwa

Solusi terbaik, menurut saya, adalah program takwa. Dalam makna, yang sering saya tuliskan. Takwa adalah proses memberi kontribusi, meraih prestasi, di jalur ilahi dengan cara melaksanakan perintah Tuhan dan menjauhi larangan Tuhan.

Indonesia bukan negara sekular, pun bukan negara agama. Indonesia adalah negara Pancasila, negara yang berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Program sekularisasi Indonesia, bila hendak dijalankan, akan terlalu mahal ongkos sosialnya. Cak Nur pernah mengkaji pengalaman ini pada tahun 1970an. Sedangkan program negara agama, bila hendak dijalankan, juga akan menuntut ongkos sosial yang tidak kalah mahal. Berbagai komponen masyarakat akan terus berjuang untuk mengembalikan Indonesia menjadi negara Pancasila.

Program takwa menjadi pilihan terbaik dan bersesuaian dengan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: