Petaka Sekularisasi

“Tetapi boleh jadi kamu tidak menyenangi sesuatu, padahal itu baik bagimu, dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu tidak baik bagimu. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS 2 : 216)

Hal unik dalam diri kita adalah kemampuan menciptakan makna. Manusia mampu berimajinasi. Kita mampu menjadikan kejadian biasa, terasa, lebih bermakna. Lebih membahagiakan. Kedipan mata seorang kekasih terasa lebih membahagiakan dari bumi seisinya.

Interpretasi bisa berjalan dua arah: positif atau negatif. Pandemi boleh jadi membuat orang makin menderita, kehilangan pekerjaan, sampai kehilangan anggota keluarganya. Di saat yang sama, pandemi bisa menjadi medan inovasi. Berlomba-lomba melahirkan inovasi bidang kesehatan, bisnis, dan edukasi.

Bilangan posotf (+) dan negatif (-) | Samudra Kehidupan

Sekularisasi, tentu saja, bermakna positif dan negatif. Makna positif sekularisasi adalah keberhasilannya mendorong peradaban Barat makin maju. Makna negatif sekularisasi, di antaranya, menjadikan manusia lepas kendali. Pada tulisan ini, saya akan mencoba membahas beberapa sisi negatif dari sekularisasi. Sementara bagi yang tertarik diskusi sisi positif sekularisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan saya lainnya.

Manusia Hermeneutik

Filsafat kontemporer, awal abad 21 ini, sebagian besar membahas hermeneutik. Filsafat tentang seni menafsirkan. Segala pengetahuan manusia berkaitan, bahkan berdasarkan, interpretasi. Pengetahuan subyektif, misal Anda suka rasa pedas, tentu merupakan intepretasi. Bahkan pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, juga berdasarkan suatu interpretasi. Dengan demikian, filsafat mengajak kita untuk lebih terbuka dengan beragam interpretasi dan saling menghormati.

Barangkali ada yang bertanya, bagaimana pengetahuan obyektif, misal 12 + 1 = 13, adalah interpretasi. Pernyataan 12 + 1 = 13 bernilai benar bila kita interpretasikan linear seperti bilangan asli pada umumnya. Tetapi bila kita menginterpretasikan sistem bilangan pada jam dinding maka tidak ada angka 13. Sehingga, pada interpretasi jam dinding, yang benar adalah 12 + 1 = 1. Dalam disiplin matematika, aljabar abstrak, kita mengenal teori seperti di atas adalah sebagai sistem aksiomatik.

Vattimo menyarankan kita lebih terbuka dengan pandangan banyak pihak. Kita hanya bisa menafsirkan sesuatu secara lemah belaka, “weak thought.” Penafsiran kita pun erat kaitannya dengan pengalaman kita sebagai individu. Maka orang lain juga menafsirkan berdasarkan pengalaman mereka. Sehingga nilai kebenaran terkait dengan cakrawala pikiran masing-masing subyek. Meski demikian, kita tetap harus bertanggung jawab terhadap semua penafsiran kita. Bertanggung jawab adalah hak setiap manusia – dan kewajiban pula.

Kitab suci, sejak ribuan tahun yang lalu, mengingatkan kita agar lebih hati-hati. Boleh jadi apa yang kita sangka buruk, sejatinya, adalah baik. Dan mungkin saja yang kita sangka baik, sejatinya, adalah buruk. Hanya Tuhan Yang Maha Tahu. Manusia sekedar mengintrepretasikan belaka. Bisa benar bisa salah. Sekularisasi adalah sebentuk penafsiran manusia.

Melampaui Batas

Kelemahan sekularisasi adalah tidak ada batas yang jelas. Batas-batas hanya hasil pikiran, tepatnya hasil interpretasi, mereka belaka. Padahal melampaui batas adalah sumber petaka kemanusiaan: petaka sekularisasi.

Berapa batas konsumsi makan seseorang tiap hari? Paham sekular tidak bisa menetapkan batas yang pasti. Sebagai akibatnya banyak orang sekular bisa kelebihan berat badan. Kesehatan memburuk. Penyakit darah tinggi, jantung, kanker, dan lain-lain bisa mengancam. Di belahan dunia lain, banyak orang kelaparan. Tidak cukup tersedia makanan untuk sehari-hari.

Hubungan cinta antar anak manusia, paham sekular juga tidak bisa menentukan batas dengan jelas. Asal mereka suka sama suka, silakan saja. Pandangan semacam itu tampak sulit dibantah. Sampai akhirnya ada lonjakan penyakit kelamin berbahaya. Apalagi HIV AIDS pernah melanda. Semua itu sekedar teguran bagi umat manusia.

Waktu kerja pun tanpa batas. Ketika seseorang terpesona dalam berkarya maka ia bisa bekerja tanpa henti 24 jam, 48 jam, dan seterusnya. Baru sadar ketika kesehatan menegurnya. Sudah terlambat untuk memperbaikinya.

“Berlebih-lebihan membuat kalian jadi lalai. Sampai kalian masuk ke liang kubur.”

Taruhan Peradaban

Paham sekular juga tidak bisa memastikan masa depan peradaban manusia. Jangankan masa depan dalam jangka panjang, manusia juga tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi 1 hari besok.

Taruhan dan judi adalah hal yang biasa dalam pandangan sekular.

Pertumbuhan ekonomi sekular di berbagai tempat, salah satunya, ditopang oleh bisnis judi semisal kasino. Sejauh bisnis tersebut adalah legal maka sah-sah saja dijalankan. Padahal judi bisa memorak-porandakan generasi masa depan. Dalam jangka pendek, bisnis judi bagai katalisator pertumbuhan ekonomi. Dalam jangka panjang, tidak ada kepastian. Lebih banyak keraguan.

Bagi kebanyakan masyarakat, judi berbahaya, misal togel. Masyarakat hanya berangan-angan menang judi, yang tidak pernah terjadi, secara statistik kecil sekali kemungkinannya. Malas kerja, apalagi berkarya. Mereka frustasi. Kembali tenggelam dalam jurang judi.

Bagi bandar, yang mengambil keuntungan dari judi, adalah prospek bisnis. Bandar sadar betul, judi adalah “zero sum game”. Kemenangan segelintir orang dalam judi menyebabkan kerugian lebih banyak pada pihak lain. Totalnya adalah nol, tidak ada penambahan nilai. Bila kita memperhitungkan biaya operasional judi maka totalnya justru negatif.

Dunia sekular berjalan dalam taruhan besar – yang sudah terbukti lebih banyak kalah.

“Dengan minuman keras dan judi itu, setan hanyalah bermaksud menimbulkan permusuhan dan kebencian di antara kamu, dan menghalang-halangi kamu dari mengingat Allah dan melaksanakan shalat, maka tidakkah kamu mau berhenti?” (QS 5 : 91)

Gelap Masa Depan dan Masa Lalu

Kita, manusia, tidak tahu masa lalu dan masa depan. Kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun yang lalu. Pun kita tidak tahu apa yang terjadi sejuta tahun ke depan. Bahkan pengetahuan kita tentang obyek di depan kita adalah sekedar interpretasi, dari sudut pandang hermeneutik.

Istri cantik yang ada di depan mata kita “hanyalah” interpretasi. Pertama, cantik itu persepsi subyektif. Bagi kita cantik. Bagi orang lain bisa beda. Bagi anak-anak saya, misalnya, istri saya itu bukan cantik tapi super cantik, karena ibu mereka.

Kedua, apa yang saya lihat dari istri saya adalah interpretasi dari kombinasi jutaan cahaya yang menimpa mata saya, lalu dikirim ke sistem syaraf. Dari itu semua, saya mempersepsi ada istri saya di depan saya. Meski, secara obyektif, ada istri saya di depan mata, tetapi pengetahuan saya terdiri dari beragam interpretasi.

Bila kita meluaskan prespektif mengarah pada kejadian sejuta tahun yang lalu maka gelap. Gelap gulita. Kita memang bisa menyusun pengetahuan spekulatif tentang masa lalu itu. Jelas pengetahuan itu akan tersusun interpretasi di atas interpretasi, tanpa batas yang pasti. Padahal sejuta tahun lalu “pasti” ada sesuatu secara obyektif, konsekuensi logika.

Pengetahuan kita tentang masa depan lebih tidak pasti lagi, karena berupa prediksi. Suatu prediksi yang didasarkan atas interpretasi, makin tidak pasti. Sehingga pengetahuan kita tentang kejadian sejuta tahun di masa depan adalah gelap. Pengetahuan yang merupakan campuran interpretasi dan prediksi, pasti tidak pasti.

Orang-orang sekular benar-benar berada dalam kegelapan masa lalu dan masa depan.

Evolusi

Perubahan adalah karakter sejati alam semesta. Juga karakter manusia. Kita perlu terus evolusi. Sekularisasi juga perlu evolusi.

Maka saya mengusulkan program takwa sebagai alternatif membangun peradaban manusia.

Program takwa atau takwaisasi adalah memaknai takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan. Lebih lengkap konsep takwaisasi silakan merujuk ke tulisan-tulisan dan video-video saya.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: