Candu Agama Ortodoks

“Dan aku mengikuti agama nenek moyangku: Ibrahim, Ishak dan Yakub. Tidak pantas bagi kami (para nabi) mempersekutukan sesuatu apa pun dengan Allah. Itu adalah dari karunia Allah kepada kami dan kepada manusia (semuanya); tetapi kebanyakan manusia tidak bersyukur.” (QS 12 : 38)

Wajar saja, kita mengikuti agama orang tua kita. Dan itu realitas yang sering kita jumpai. Ayah dan ibu adalah orang yang mencintai dan meyayangi kita. Maka secara naluriah, kita juga menyayangi ayah dan ibu kita. Salah satu bentuknya berupa mengikuti ajaran dan agama ayah ibu kita. Nabi Yusuf adalah contoh sempurna, bagi manusia, yang mengikuti ajaran nenek moyang dengan baik. Dan Nabi Yusuf mengambil sikap penuh tanggung jawab menjaga ajaran agama yang lurus.

Misteri Struktur Kuno Miniatur Alam Semesta

Meski demikian, ada hal-hal yang tidak pantas kita lakukan. Misalnya, melanggar ajaran agama. Itu merupakan pelanggaran individu. Maka orang tersebut harus bertanggung jawab terhadap sikap yang dia pilih. Dia tidak sah bila berdalih, “Kami mengikuti ajaran bapak-bapak kami.”

Dalih-dalih itu, secara bertahap, berubah menjadi candu. Dalih yang menimbulkan kecanduan. Marx, tampaknya, menyerang cara berpikir agama seperti itu. Agama adalah candu, kata Marx. Barangkali, Nietzsche, yang paling keras menyerang agama, “Tuhan telah mati.” Apakah serangan-serangan semacam itu tepat sasaran?

Rujukan Masa Lalu

Saya mendefinisikan cara berpikir yang hanya mengikuti masa lalu, tanpa mengambil tanggung jawab, adalah cara berpikir ortodoks. Pemikiran semacam ini bisa terjadi di bidang ekonomi, politik, budaya, dan termasuk agama. Sehingga pengertian ini bergantung kepada perilaku pemikiran orang per orang bukan harus merupakan ajaran suatu madzab tertentu.

Marx mengkritik agama sebagai candu dengan alasan pemeluk agama, waktu itu, tidak bertanggung jawab terhadap api revolusi. Mereka hanya mengikuti ajaran nenek moyang. Seharusnya, menurut Marx, mereka sadar dan bangkit untuk berjuang. Yang terjadi, mereka justru sudah nikmat dengan candu-candu itu.

Kita, di Indonesia, perlu membangkitkan semangat agama yang dinamis.

Baru-baru ini, Gus Miftah menjadi sorotan lantaran mendapat tuduhan sebagai kafir. Saya lihat, Gus Miftah berhasil menunjukkan sikap dinamis dalam beragama. Dia menunjukkan bahwa banyak tokoh agama di masa lalu, dan masa sekarang, yang juga berkunjung ke gereja. Dan Gus Miftah mengambil tanggung jawab atas tindakannya bahwa itu untuk membangun kesatuan hidup berbangsa.

Sementara, pihak yang mengkritisi juga bisa mengambil sikap yang dinamis. Mereka menunjukkan bahwa para tokoh agama terdahulu melarang kita, muslim, untuk masuk gereja. Maka mereka menyimpulkan bahwa tindakan Gus Miftah adalah salah.

Dua pandangan beragama di atas, Gus Miftah dan pengkritik, sama-sama dinamis. Maka bisa terjadi dialog yang juga dinamis. Hasil dialog itu bisa saja sepakat untuk tetap berbeda atau bisa juga ada titik temu. Tidak ada masalah dengan hasil akhir. Yang penting justru proses dialog yang berlangsung dengan damai dan saling respek.

Yang bisa menjadi masalah adalah klaim berdasar masa lalu, itu adalah candu.

Misal pihak pengkritik bisa menyatakan, “Nabi melarang muslim masuk gereja. Bukan saya yang melarang. Tapi Nabi yang melarang. Jelas-jelas itu larangan Nabi. Saya, dan kita semua, harus mematuhi Nabi.”

Klaim bahwa Nabi melarang muslim masuk gereja bisa jadi benar adanya – dalam konteks yang tepat. Tetapi klaim bahwa Nabi menyatakan Gus Miftah bersalah tentu sulit dibuktikan. Di sini, kita perlu mengambil sikap dinamis sehingga secara sosial kita bisa tumbuh hidup bersama. Bermasyarakat dengan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Paling Benar

Lanjutan dari cara berpikir ortodoks adalah sikap merasa paling benar. Sebuah konsekuensi yang wajar karena mereka mendasarkan pikiran kepada kebenaran masa lalu, puluhan bahkan ribuan tahun yang lalu. Ajaran nenek moyang yang dianggap sudah benar 100% – tanpa harus mengkaji konsteks.

Sikap merasa paling benar, sejatinya, sah-sah saja. Bahkan itu sikap yang diperlukan. Yang menjadi masalah adalah efeknya: menganggap yang lain salah. Karena ajaran saya yang paling benar maka ajaran orang lain adalah salah. Sikap ini bahaya dalam bermasyarakat. Lebih bahaya lagi ketika membalik logika berpikirnya. Karena orang lain salah maka saya adalah benar. Akibatnya, anggota masyarakat terpancing untuk mencari-cari kesalahan pihak lain agar diri mereka merasa benar. Kita perlu mencegah perilaku semacam itu.

Jaminan Masa Depan

Kekuatan berpikir ortodoks berikutnya adalah adanya jaminan masa depan yang indah. Jika masa depan indah itu tidak terjadi di alam dunia ini maka akan terjadi di alam akhirat nanti.

Kita memang harus mencari masa depan yang lebih baik. Kita investasi di bidang ekonomi, pendidikan, dan kesehatan untuk mempersiapkan masa depan yang cerah. Kita perlu semacam jaminan agar berhasil meraih masa depan yang lebih baik. Karena “Dan sungguh akhirat itu lebih baik bagimu dari dunia.”

Masalah baru timbul, ketika jaminan masa depan ini menyebabkan kita melupakan tanggung jawab masa kini. Biarlah orang kafir menguasai ekonomi tapi mereka nanti akan masuk neraka, sedangkan kita akan masuk surga. Biarlah orang kafir menguasai teknologi, politik, budaya, dan semuanya. Mereka akan masuk neraka. Hanya kita yang masuk surga. Pandangan semacam ini benar-benar jadi masalah yang nyata.

Kehidupan ekonomi, politik, budaya, dan lainnya adalah tanggung jawab kita. Kita bertugas untuk berpartisipasi memperbaiki situasi untuk menjadikannya lebih baik. Memang sulit tetapi, bersama-sama, kita bisa.

Solusi

Di bagian ini, kita melihat ada masalah dengan cara berpikir ortodoks. Sebelumnya, kita juga mengenal resiko cara berpikir sekular. Selanjutnya, kita perlu merumuskan solusinya yaitu: takwaisasi.

Kita perlu memaknai ulang takwa sebagai proses meraih prestasi, memberi kontribusi, di jalan ilahi; dengan cara menjalankan perintah dan menjauhi larangan.

Meraih prestasi adalah tanggung jawab kita. Baik sebagai seorang pribadi ataupun secara bersama-sama secara sosial. Dalam prosesnya, kita perlu mengembangkan sikap saling membantu dalam kebaikan, saling mencegah dalam keburukan, dan saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran.

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: