Takwa Virtual dan Aktual

“Daging (hewan kurban) dan darahnya itu sekali-kali tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kamu. Demikianlah Dia menundukkannya untukmu agar kamu mengagungkan Allah atas petunjuk yang Dia berikan kepadamu. Dan sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.”

Kita hidup di jaman digital. Kita akrab dengan dunia virtual. Bahkan bisnis virtual, saat ini, bisa lebih menguntungkan dari bisnis riil. Dalam hal takwa, kita juga perlu mempertimbangkan pentingnya takwa virtual, sebagai pasangan dari takwa aktual.

Ketika berbagi makanan untuk fakir miskin, misalnya, maka makanan tersebut adalah bentuk takwa aktual. Bentuk takwa yang benar-benar nyata. Makanan ini, bersifat aktual, penuh manfaat bagi fakir miskin. Tetapi bukan makanan ini yang bernilai tinggi. Yang bernilai tinggi adalah ketakwaan kita dalam proses berbagi itu. Dengan kata lain, takwa virtualnya adalah yang paling bernilai tinggi. Baik berupa niat, tulus, ikhlas, atau pun hanya mengharap ridha Allah semata.

Pada tulisan ini, kita akan mendiskusikan pasangan-pasangan takwa: personal-sosial, pemerintahan-legal, dan virtual-aktual.

Pasangan Tak Hingga

Analisis berpasangan membantu kita melihat realitas dengan lebih mudah – dibanding hanya satu sudut pandang saja. Kita perlu mempertimbangkan pro dan kontranya. “Segala sesuatu diciptakan dalam bentuk berpasang-pasangan.” Saya kira, Derrida adalah tokoh paling semangat untuk menganalisis pasangan “the others” untuk menemukan keadilan.

Di sini, kita memasangkan takwa virtual dengan takwa aktual dengan maksud yang sama, agar lebih mudah memahami. Meskipun, kenyataannya, takwa itu tunggal. Misalnya, kita berbagi zakat adalah aktivitas takwa yang tunggal. Kita dapat menganalisis bahwa zakat itu, misal berupa uang, adalah aspek takwa aktual. Sementara niat tulus sang pemberi zakat adalah aspek takwa virtual.

Dengan adanya pasangan virtual dan aktual maka kita bisa menghasilkan sudut pandang dalam jumlah tak terbatas.

Dampak Sosial

Kita bisa melihat dampak tindakan takwa secara personal dan sosial. Membaca buku, mengkaji kitab suci, berdzikir, dan lain-lain berdampak positif secara personal. Menjadikan pikiran lebih cerdas, damai di hati, secara pribadi. Sementara takwa berupa berbagi makanan, menciptakan lapangan kerja, dan berkreasi berdampak positif secara sosial. Orang lain merasakan manfaat nyata dari tindakan takwa kita.

Kedua jenis takwa ini, personal dan sosial, sama-sama kita perlukan. Takwa personal, misal mengkaji kitab suci, menguatkan kita untuk bisa bertakwa secara sosial. Kita jadi punya ide untuk menciptakan lapangan kerja setelah membaca kitab suci yang menekankan nilai penting dalam tolong-menolong. Sementara, pengalaman nyata kita menciptakan lapangan kerja, memberikan kita pengalaman penuh makna. Ketika kita membaca kitab suci menjadi lebih tersentuh karena banyak pengalaman nyata di lapangan. Takwa sosial menguatkan takwa personal, dan sebaliknya.

Problem muncul bila hanya satu jenis takwa saja yang dominan. Hanya rajin membaca kitab suci tapi tidak pernah beraksi. Atau hanya rajin menciptakan lapangan kerja tanpa pernah mengkaji kitab suci. Sekali lagi, kita memerlukan kedua-duanya.

Pemerintah Legal

Bentuk takwa sosial yang penting, di antaranya, adalah bidang pemerintahan dan hukum legal. Kita perlu, bersama-sama, menciptakan pemerintahan yang adil, transparan, dan membela rakyat. Dari sisi hukum, kita perlu menciptakan sistem hukum yang adil untuk semua warga dan pelaku hukum yang berkomitmen tinggi menegakkan keadilan.

Dengan demikian, pejabat pemerintah dan segenap aparatur negara yang menjalankan tugas dengan baik, maka, mereka adalah orang-orang yang bertakwa – mendapat pahala berlimpah di sisi Tuhan. Kita perlu mendukung program-program pemerintah guna memajukan kehidupan bersama.

Sementara pejabat yang korupsi adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Hukuman yang berat pantas bagi pelaku korupsi. Mereka sudah makan anggaran APBN tetapi malah merugikan rakyat dengan perilaku korupsi yang merusak.

Sistem hukum, di satu sisi, sangat penting untuk bersifat adil. Sementara pelaku hukum, yudikatif, perlu komitmen tinggi untuk membela keadilan. Bagaimana pun idealnya aturan hukum, pada tataran implementasi, tetap bergantung sikap para pelaku hukumnya. Membaca hukum adalah tugas kritikal yang rawan akan penyelewengan. Maka pelaku hukum yang adil sudah bertindak takwa dan mendapat pahala di sisi Tuhan yang berlimpah. Sementara, mafia hukum adalah musuh negeri – di dunia ini dan akhirat nanti. Perlu ditumpas dari muka bumi.

Takwa Virtual

Kita, saat ini, menjadi lebih mudah untuk bertindak takwa. Dengan kemajuan media digital, kita bisa berbuat takwa kapan saja, di mana saja, dalam bentuk takwa digital – takwa virtual.

Membuat konten digital yang bermanfaat melalui handphone, misal konten edukasi, adalah termasuk tindakan takwa virtual. Jika setiap orang, tiap hari membuat satu konten positif bermanfaat saja, maka kita akan mempunyai lebih dari 100 juta konten positif tiap hari. Pemilik hanphone di Indonesia lebih dari 100 juta jiwa. Luar biasa…!

Bagaimana menurut Anda?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: