Covid Tidak Masalah Tapi Pandemi

Covid-19 tidak masalah. Virus, sejatinya, memang tidak masalah. Sedangkan pandemi memang masalah – bahkan masalah besar bagi umat manusia.

Virus covid sudah ada puluhan tahun yang lalu. Di tubuh binatang. Kelelawar dan trenggiling. Mereka baik-baik saja. Memang baik-baik saja.

Begitu covid berpindah ke tubuh manusia maka mutasinya jadi bahaya. Parahnya, sampai sekarang, kita tidak tahu bagaimana covid bisa masuk ke tubuh manusia. Dugaan kuat, karena manusia memangsa kelelawar maka covid masuk ke tubuh manusia. Ada pula yang menduga dari rekayasa laboratorium yang bocor ke tubuh manusia.

Covid-19: Mengapa virus corona sangat mematikan? - BBC News Indonesia

Di dalam tubuh manusia, covid dengan cepat mereplikasi diri menjadi ribuan bahkan jutaan. Lebih dari itu, covid bermutasi lagi sehingga lebih cerdik terhadap segala halangan.

Covid Tidak Masalah

Saya kembali menekankah bahwa covid itu sendiri tidak masalah. Mereka, virus corona, adalah penghuni alam – sebagaimana kita manusia.

Awal corona, covid-19, menyebar di Wuhan Cina, mereka bisa mengendalikan pandemi dalam 2 sampai 3 bulan saja. Dengan sabar, umat manusia di dunia, seharusnya juga bisa mengendalikan corona ini dalam 2 sampai 3 bulan saja. Nyatanya, manusia tidak sabar, pandemi tetap bergejolak bahkan sampai sekarang – setahun lebih.

Covid mengingatkan manusia untuk lebih sabar. Agar mengurangi bepergian. Mengurangi pemborosan energi yang memuntahkan karbon dioksida dan zat-zat beracun ke alam. Agar manusia menjaga jarak satu sama lain. Agar umat manusia lebih mendekat dengan keluarga inti masing-masing. Bukankah itu peringatan yang bagus?

Lebih dari itu, covid melindungi manusia dari kerusakan lingkungan, pemanasan global, dan perubahan iklim. Gaya hidup manusia yang normal, seperti sekarang ini, akan menghancurkan bumi dalam 20 atau 30 tahun ke depan. Jika iklim sudah rusak, manusia tidak akan mampu memperbaikinya. Kita tidak bisa kembali ke masa-masa bumi yang indah. Corona mengirim pesan begitu kuat demi umat manusia. Tetapi bisakah manusia bersabar?

Tampaknya manusia tetap ingin hidup normal – yang membahayakan umat manusia dan alam semesta. Corona tetap sabar, tetap memberi peringatan dengan caranya sendiri.

Dengan mengubah perilaku kita jadi lebih ramah lingkungan, dekat dengan keluarga, konsumsi sekedarnya saja, maka kita akan mampu mengatasi pandemi ini – dan mencegah kerusakan alam semesta.

Vaksin Berjasa

Kemajuan sains teknologi memang luar biasa. Hanya dalam beberapa bulan, umat manusia berhasil menciptakan vaksin untuk covid. Biasanya, diperlukan waktu 2 tahun untuk bisa menciptakan vaksin baru.

Saya membuat model untuk mengendalikan pandemi covid. Dalam model ini, ada dua cara mengendalikan pandemi: manajemen perilaku dan mempercepat kesembuhan. Vaksin terbukti berjasa terhadap dua cara di atas. Vaksin memperkuat perilaku manusia menjadi lebih kuat terhadap serangan corona. Di saat yang sama, vaksin juga mempercepat kesembuhan bagi yang terinfeksi – gejala lebih ringan dan lebih cepat sembuh.

Jangkauan vaksin tampak menjadi masalah. Negara kaya, misal US, sudah vaksinasi hampir 200 juta penduduknya. Sementara negara berkembang, misal Indonesia, baru bisa vaksinasi sekitar 5% dari jumlah penduduk. Negara miskin, apa lagi yang sedang terjadi perang, tampak kesulitan sekali untuk vaksinasi. Padahal, vaksinasi hanya efektif jika seluruh penduduk dunia, target sekitar 70%, tervaksin sepenuhnya. Jika ada sebagian penduduk dunia yang tidak tervaksin maka pandemi mudah, sewaktu-waktu, meledak lagi.

Vaksin Paling Hebat

Vaksin covid memberi pelajaran penting bagi umat manusia secara khusus – beda dengan vaksin-vaksin yang lain.

Pertama, vaksin covid tidak menjadikan manusia kebal. Mereka yang sudah vaksinasi tetap bisa terserang covid. Kita bisa mengkonfirmasi sejak dalam tahap pengujian mau pun realitas di lapangan banyak orang sudah vaksin, dua kali atau satu kali, tetap terinfeksi corona. Maka, meski sudah vaksinasi, setiap orang tetap harus ketat menjaga prokes.

Kedua, vaksin covid tidak menjamin serangan covid menjadi ringan – nyatanya banyak orang yang sudah vaksinasi lalu terinfeksi corona dan meninggal dunia, di antaranya para nakes. Sehingga, kita perlu memandang vaksin hanya sebagai perlindungan tambahan. Sementara sikap taat prokes harus selalu dijaga.

Pelajaran terhebat dari vaksin covid ini, dua hal di atas, mengajarkan manusia untuk tetap hidup penuh rasa sabar. Ramah terhadap alam sekitar. Manusia menjaga alam dan alam menjaga manusia. Hidup lebih hemat energi. Tidak hura-hura. Konsumsi hanya sekedarnya – penuh respek dan tanggung jawab. Dan, tentu saja, lebih dengan dengan keluarga inti.

Apa lagi yang bisa kita harapkan dari covid?

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: