DoAI: Future Democration of Artificial Intelligence

Demokrasi adalah bentuk sistem politik dan pemerintahan terburuk menurut para pemikir kuno, termasuk Aristoteles. Akibat demokrasi, Plato kehilangan gurunya yaitu Socrates. Suara terbanyak memutuskan bahwa Socrates harus menjalani hukuman mati. Padahal banyak bukti menunjukkan bahwa Socrates tidak salah. Sejarah mencatat bahwa Socrates adalah salah satu orang paling bijak sepanjang jaman.

Sementara, di era kontemporer sekarang ini, demokrasi adalah sistem politik yang paling baik. Demokrasi adalah harapan umat manusia untuk membangun peradaban. Meski banyak kecurangan dalam demokrasi, kita berharap demokrasi masih bisa terus berkembang lebih baik.

Novel Artificial Intelligence Terpanjang Pertama Diterbitkan | Republika  Online

Bagaimana bisa pandangan terhadap demokrasi begitu tajam berlawanan? Pemikir kuno menganggap demokrasi adalah sistem politik terburuk. Sedangkan, pemikir masa kini, memandang demokrasi adalah sistem politik yang terbaik. Kita akan mencoba membahasnya dengan mempertimbangan perkembangan AI (artificial intelligence), blockchain, dan media digital.

1. Politik Manusia Bahagia
2. Moral sebagai Diskriminan
3. Hakikat Teknologi
4. Gelombang Demokrasi
5. Artificial Intelligence
6. Demoriskrasi
7. Politik Godel Incomplete

Kita perlu komitmen bahwa politik adalah untuk menjadikan umat manusia berhasil meraih bahagia sejati. Baik bagi pelaku politik praktis atau pun rakyat jelata. Jika politik, justru, menyebabkan manusia menderita maka kita sudah salah arah. Kita perlu untuk kembali meniti arah yang tepat.

Etika dan moral adalah penunjuk arah politik. Hanya dengan moral tinggi, politik mampu menjalankan peran kemanusiaan. Sementara, hakikat teknologi adalah memperbesar kemanusiaan – di jalan lurus atau menyimpang. Sehingga, kita perlu benar-benar memanfaatkan teknologi untuk politik demokrasi yang luhur.

Gelombang naik-turun demokrasi adalah hal yang wajar dalam politik. Demokrasi pernah jaya di antaranya: di Athena kuno, di awal kejayaan Islam, parlemen Inggris, revolusi Prancis, dan dunia kontemporer saat ini. Sementara, di sebagian besar masa-masa lainnya, demokrasi sedang surut. Bahkan di saat ini, negara-negara yang mengaku demokratis, sebagian besar, masih cacat atau menyimpang.

Kemajuan teknologi, semisal AI, menjadi harapan agar demokrasi lebih sehat. Kita bisa memanfaatkan AI untuk ikut memikirkan demokrasi dengan “jujur” tanpa pengaruh kepentingan. Tetapi, saat ini, AI dan teknologi digital justru dikuasai korporasi. Sehingga, memunculkan korporatokrasi – kekuasaan politik yang dikendalikan oleh korporasi.

Saya merumuskan demoriskrasi sebagai solusi: gabungan demokrasi dan aristokrasi dilengkapi teknologi cerdas semisal AI.

Bagaimana pun, teorema Godel membuktikan bahwa setiap sistem formal pasti tidak lengkap. Sedangkan, teorema Emak Godel membuktikan bahwa setiap sistem konsep pasti tidak lengkap. Dengan demikian, apa pun solusi yang kita usulkan pasti juga tidak lengkap. Karakter tidak lengkap, seperti ini, bukanlah suatu cacat. Hal itu justru memberi tantangan bagi manusia untuk memberikan solusi terbaik di setiap tempat dan setiap saat.

1. Politik Manusia Bahagia
2. Moral sebagai Diskriminan
3. Hakikat Teknologi
4. Gelombang Demokrasi
5. Artificial Intelligence

Kemajuan teknologi, semisal AI, menjadi harapan agar demokrasi lebih sehat. Kita bisa memanfaatkan AI untuk ikut memikirkan demokrasi dengan “jujur” tanpa pengaruh kepentingan. Tetapi, saat ini, AI dan teknologi digital justru dikuasai korporasi. Sehingga, memunculkan korporatokrasi – kekuasaan politik yang dikendalikan oleh korporasi.

Pertama, kita perlu menetapkan aturan bagaimana “manajemen data” khususnya bagi perusahaan besar. Barangkali, masing-masing perusahaan tetap sebagai pihak yang paling berhak memiliki “data” digital. Di saat yang sama, perusahaan berkewajiban menyediakan data yang diperlukan oleh negara untuk menegakkan demokrasi.

Kedua, negara merancang AI yang dikhususkan untuk membantu membangun demokrasi yang adil jujur.


6. Demoriskrasi

Saya merumuskan demoriskrasi sebagai solusi: gabungan demokrasi dan aristokrasi dilengkapi teknologi cerdas semisal AI.


7. Politik Godel Incomplete

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

2 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: