Sinar Kapitalisme Memudar

Sinar kapitalisme memudar saat ini, di sini, dan di berbagai belahan bumi. Kapitalisme, yang awalnya, menjanjikan bahagia sejati bagi umat bumi, pada akhirnya, menjebak diri sendiri. Fokus kapitalisme kepada harta pribadi, atau kapital, tampak begitu menggoda. Sebagaimana umumnya godaan, kapitalisme adalah kenikmatan sesaat.

Tetapi, apa alternatif dari kapitalisme? Adakah yang lebih dari dari kapitalisme? Apakah feasible?

Arti Kapitalis dan Kapitalisme: Definisi, Sistem Ekonomi, dan Contoh  Halaman all - Kompas.com

Karl Marx (1818 – 1883), barangkali, adalah pemikir pertama yang mengkritisi kapitalisme dengan tajam. Kapitalisme akan membentuk kontradiksi diri sehingga hancur. Awalnya, kapitalisme mengantar segelintir orang, para kapitalis, menjadi kaya raya. Sementara, sebagian besar orang tetap miskin, atau makin miskin, proletar. Tiba saatnya, kaum proletar ini sadar diri, bersatu, untuk kemudian, menggulingkan para kapitalis dan membentuk sistem yang adil.

Analisis Marx banyak benarnya dalam hal kritik terhadap kapitalisme. Tetapi banyak salahnya dalam hal akan terbentuknya sistem yang adil. Uni Soviet, yang menerapkan Marxisme, hancur menjelang akhir abad lalu. Cina melakukan banyak perombakan terhadap ide Marx untuk bisa bertahan sampai sekarang, dan berkembang.

1. Kekuatan Kapitalisme
2. Alternatif Kapitalisme
3. Sosialisme
4. Transisi Sosialisme
5. Sofialisme ke Porsialisme

Pada tulisan ini, kita akan membahas beragam alternatif terhadap kapitalisme. Kemudian mencoba mengkaji prospek dari beberapa alternatif. Di antaranya sosialisme, sofialisme, dan porsionalisme.

1. Kekuatan Kapitalisme

Kapitalisme berkembang pesat bukan karena kapitalisme itu sendiri. Kapitalisme mendapat dukungan kuat dari demokrasi liberal, di saat yang sama, sains dan teknologi sedang meroket. Dengan lingkungan yang tepat itu, kapitalisme menguasai dunia.

Pertama, kapitalisme memberi insentif terbesar kepada setiap orang. Anda yang berhasil mengembangkan bisnis maka keuntungan bisnis itu menjadi milik Anda 100%. Anda juga bisa tidak perlu bekerja tetapi menghasilkan keuntungan yang besar: biarkan uang Anda yang berkerja untuk diri Anda. Bahkan hasil dari “uang bekerja untuk Anda” itu bisa lebih besar dari hasil kerja keras Anda 24 jam per hari. Dengan demikian, memungkinkan terjadinya penumpukan kekayaan dalam jumlah besar pada individu melalui “uang bekerja menghasilkan uang.”

Larry Page suka mencari informasi di internet pada tahun 1990an. Tetapi mencari informasi di internet bisa membuat frustasi. Terlalu banyak informasi, tidak ada jaminan informasi tersebut adalah yang dia butuhkan. Kemudian, Page mencoba membuat mesin pencari yang dia beri nama Google. Terbukti, Google bisa mencari informasi di internet dengan cepat dan efektif. Cerita selanjutnya, seperti kita tahu, Google menjadi raksasa bisnis di dunia. Page berhak 100% memiliki kekayaan dari Google secara individu. (Tentu saja, Page membentuk tim bersama individu-individu lain).

Kedua, kapitalisme, dengan pasar bebasnya, menghasilkan informasi dengan sangat cepat. Anda menjual sepatu harga 50 ribu rupiah tidak laku. Kemudian, Anda menurunkan harga menjad 40 ribu rupiah, ternyata, sepatu laku keras. Selanjutnya, Anda tinggal melakukan inovasi untuk menjamin bahwa harga jual 40 ribu itu masih bisa memberi keuntungan. Dan, Anda berhasil melakukannya. Anda menjadi kaya raya sebagai produsen sepatu.

Bandingkan, misalnya, pemerintah mewajibkan setiap remaja membeli sepatu dengan harga 50 ribu rupiah. Harga ini, sebenarnya, terlalu mahal. Penduduk remaja tidak berminat membeli sepatu itu. Kemudian, pemerintah “memaksa” dengan beragam cara, termasuk ancaman bagi yang tidak beli sepatu. Memang pabrik sepatu berhasil meraup keuntungan. Tetapi, bayangkan pemborosan yang terjadi di mana-mana, termasuk, potensi korupsi di birokrasi. Akibatnya, bisnis sepatu tidak berkembang.

Ketiga, lompatan kemajuan tak terduga. Mas Nadiem, yang sekarang menteri pendidikan, adalah pebisnis digital yang sukses. Awalnya, Nadiem tidak punya rencana mendirikan bisnis Gojek. Nadiem bekerja di Jakarta sekitar tahun 2000an. Seperti kita tahu, Jakarta adalah salah satu kota termacet di dunia, waktu itu, sebelum pandemi. Ketika Nadiem hendak bepergian dari satu tempat ke tempat lain pakai mobil maka pasti terjebak macet bisa lebih 3 jam. Nadiem memilih naik ojek, angkutan umum berupa motor roda dua, sehingga tidak terjebak macet.

Masalah dari ojek adalah “freedom”. Tukang ojek bebas sesuka hatinya mau masuk kerja atau tidak. Nadiem menghadapi kesulitan: ojek terlihat ada banyak di jalanan ketika tidak dibutuhkan, tetapi, menjadi tidak ada ketika ojek dibutuhkan. Nadiem terbesit membuat bisnis ojek yang profesional: selalu ada ketika dibutuhkan. Bisnis ini bernama Gojek, seperti kita tahu, menjadi kisah sukses bisnis digital yang luar biasa. Kekayaan Nadiem melebihi 4 trilyun rupiah ketika gabung dengan Tokopedia. Dan, berhasil mengantarkan Nadiem menjadi menteri di kabinet Jokowi.

Masih banyak, keunggulan kapitalisme yang bisa kita bahas. Dengan tiga keunggulan di atas saja, kita memang perlu mempertimbangkan kapitalisme dengan serius. Di sisi lain, kapitalisme menimbulkan masalah yang lebih serius: ketimpangan sosial, keserakahan, perusakan lingkungan, perang memperebutkan keuntungan, dan lain-lain. Kapitalisme tidak akan mampu mengatasi masalah yang ditimbulkannya. Karena, kapitalisme hanya sistem ekonomi atau sistem bisnis. Sinar kapitalisme mulai memudar. Kita perlu alternatif lain untuk terus bersinar.

2. Alternatif Kapitalisme

Apa alternatif dari kapitalisme? Dan, apakah alternatif itu lebih baik? Apakah alternatif itu sudah pernah diterapkan?

Terdapat banyak alternatif. Kita akan membahas beberapa di antaranya.

3. Sosialisme
4. Transisi Sosialisme
5. Sofialisme ke Porsialisme

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: