Wong Jawani: 5 Kunci Menjadi Manusia Sejarah

Kita mengenal banyak orang-orang hebat mengukir sejarah. Hart menulis buku tentang 100 tokoh yang paling berpengaruh sepanjang sejarah, waktu itu, sampai abad 20.

Nabi Muhammad adalah tokoh paling berpengaruh di sepanjang sejarah. Nabi membimbing umat manusia menelusuri jalan cahaya terang benderang. Berikutnya, Isaac Newton menerangi sains dunia dengan pendekatan formula matematis. Dengan cara ini, kekuatan sains makin kokoh. Dan, Nabi Isa membimbing jutaan sampai milyaran umat manusia mendalami kehidupan spiritual. Masih banyak contoh-contoh manusia hebat lainnya.

Mereka manusia sejarah. Mereka mengukir sejarah. Sejatinya, Anda juga manusia sejarah. Anda bisa mengukir sejarah. Anda pasti mengukir sejarah. Kita, memang manusia bersejarah.

Pertanyaannya: apa sejarah yang akan Anda ukir?

Tulisan ini akan membahas manusia sejarah. Saya memilih istilah “wong jawani” atau “jawani” untuk menggambarkan manusia sejarah yang mampu memilih dengan bebas arah sejarah yang hendak dia tulis. Sementara, orang pada umumnya, akan tetap mengukir sejarah – baik dengan pilihan bebas atau tidak.

1. Luma dan Tata
2. Dinamika
3. Salah dan Koreksi
4. Waktu Sejarah
5. Sejarah Baru

Secara istilah, wong jawani berasal dari bahasa Jawa. Wong adalah manusia. Lebih tepatnya, wong adalah manusia ontologis yang berpadanan dengan “dasein” dari Heidegger. Sedangkan, jawani adalah peduli secara otentik atau peduli sejati. Sehingga gabungan wong jawani bermakna dasein otentik. Jika dasein adalah genus dan jawani adalah diferensia, maka, jawani adalah diferensia akhir atau diferensia real sesuai konsep Mulla Sadra. Akibatnya, term jawani sudah meliputi makna wong itu sendiri dengan basit.

1. Luma dan Tata

Kunci ke-1 adalah kita perlu mengalami sebagai “luma.” Yaitu, diri kita adalah anugerah yang luar biasa besar, berlimpah. Alam sekitar kita begitu luas tanpa batas. Orang-orang di sekitar kita adalah manusia-manusia pilihan untuk bersama-sama tumbuh kembang melampaui segala rintangan. Kita adalah luma yang terus-menerus mendobrak semua realitas.

Di saat yang sama, kita adalah “tata.” Kita menjadi realita karena ter-tata. Badan kita tertata dengan baik. Mata, telinga, paru-paru, jantung, dan seluruh organ tubuh kita tertata dengan baik. Alam semesta – matahari, bumi, bulan, dan seluruh galaksi – tertata dengan rapi berputar setiap hari. Semua menjadi nyata karena tertata.

Diri kita dan alam raya adalah luma dan tata.

Luma dan tata, kita singkat sebagai tataluma, selalu menjadi realita. Pilihan ada di tangan kita. Apakah menjadi tataluma sekedarnya saja? Yaitu tataluma rajawa, tidak otentik. Atau, Anda memilih tataluma jawani? Yaitu tataluma otentik.

2. Dinamika

Kunci ke-2 adalah dinamika. Segala sesuatu bergerak. Jiwa kita selalu berubah. Semuanya bergerak penuh dinamika. Tidak ada yang tidak bergerak di alam raya ini.

Bahkan, gerak dinamika ini bukan hanya gerak permukaan aksidental. Gerak dinamika ini adalah gerakan substansial – gerak hakiki. Karena itu, wong jawani selalu bergerak secara hakiki. Gerak jasmani dan ruhani.

Gerak hakiki adalah gerak perubahan menuju yang lebih sempurna. Sejatinya, semua gerak selalu menuju lebih sempurna. Tetapi, kadang ada gerak ke arah yang salah, atau pada ukuran yang salah. Pada kunci ke-2 ini, kita akan mengkaji gerak sejati. Kunci ke-1, luma dan tata, adalah landasan untuk menjadi jawani. Sedangkan kunci ke-2 adalah proses wong jawani untuk mengukir, dan diukir oleh, sejarah.

3. Salah dan Koreksi

Wong jawani mengakui dirinya bersalah – baik secara teori mau pun praktis. Karenanya, jawani melanjutkan dengan tindakan koreksi. Orang yang merasa tidak pernah bersalah, justru, dia tidak jawani. Akibatnya, dia tidak perlu melakukan koreksi diri. Kunci ke-3 untuk menjadi jawani adalah menyadari salah diri, untuk kemudian, melakukan koreksi.

4. Waktu Sejarah

Waktu adalah segalanya. Kunci ke-4 adalah waktu sejarah. Secara umum, waktu, kita pahami sebagai sesuatu yang temporal. Yaitu, ada masa lalu, masa kini, dan masa depan. Dengan demikian, ada perubahan di setiap saat. Pun, kita bisa mengukur suatu waktu yang dibutuhkan.

Selanjutnya, kita bisa mengukur waktu untuk terus-menerus ditambahkan. Misal, 1 jam ditambah menjadi 2 jam. Atau, 3 tahun ditambah menjadi 4 tahun. Dengan demikian kita memiliki durasi waktu. Uniknya, setiap durasi adalah berbeda.

Totalitas waktu temporal dan durasi membentuk waktu historal atau waktu sejarah. Wong jawani memanfaatkan dengan baik sifat waktu sejarah yang unik akumulatif ini. Jawani secara dinamis menyongsong masa-depan dengan mewarisi masa-lalu dan menggerakkan masa kini. Pada waktunya, jawani adalah sejarah itu sendiri.

5. Sejarah Baru

Setiap sejarah adalah sejarah baru. Meski, orang mengatakan bahwa sejarah selalu berulang, tetapi, jawani mengulang sejarah dengan gagah berani menjadi sejarah yang diperbarui. Kunci ke-5 adalah sejarah baru.

Diterbitkan oleh Paman APiQ

Lahir di Tulungagung. Hobi: baca filsafat, berlatih silat, nonton srimulat. Karena Srimulat jarang pentas, diganti dengan baca. Karena berlatih silat berbahaya, diganti badminton. Karena baca filsafat tidak ada masalah, ya lanjut saja. Menyelesaikan pendidikan tinggi di ITB (Institut Teknologi Bandung). Kini bersama keluarga tinggal di Bandung.

Ikuti Percakapan

1 Komentar

Tinggalkan komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: